Chapter Twenty

Kota Festival Lentera

POV: Kael

Festival Lentera Solmere diadakan sekali setahun, di malam ketika dua bulan Velmora berada di posisi paling berdekatan, dan menurut legenda, roh-roh leluhur turun ke bumi untuk melihat apakah keturunan mereka hidup bahagia.

Kata Nina, legendanya tidak terlalu penting. Yang penting adalah ada tiga ratus kedai makanan di sepanjang jalan utama kota.

Bram sudah menghilang ke dalam kerumunan sejak matahari terbenam, membawa kantong koin hadiah turnamen bagiannya dan tatapan seorang pria yang punya misi suci. Tobias pergi ke perpustakaan kota, yang tetap buka saat festival. Mira dan Cedric, entah bagaimana, berakhir di kedai permainan lempar pisau, dan menurut laporan terakhir Nina, Mira sudah memenangkan tujuh boneka beruang dan Cedric belum satu pun.

Aku berdiri di depan air mancur di alun-alun kota, memakai kemeja putih bersih yang dipinjamkan Garrick dan jaket cokelat yang untungnya tidak berbau kambing, dan menunggu.

Jantungku berdebar lebih keras daripada di final melawan Leviathan.

Di kehidupanku yang dulu, aku pernah pergi kencan dua kali. Yang pertama dengan teman kuliah, di kafe yang terlalu mahal, dan ia pulang lebih awal karena aku terus mengecek ponsel untuk melihat apakah build sudah selesai. Yang kedua dengan kenalan dari aplikasi kencan, dan ia membatalkan lima menit sebelum bertemu karena ada urusan mendadak. Aku makan malam sendirian di restoran itu, karena sudah memesan meja.

Bug report masa lalu: Riwayat kencan: buruk. Root cause: aku.

“Kael.”

Aku menoleh.

Aurelia berdiri di bawah lentera merah yang tergantung di pinggir alun-alun.

Ia tidak memakai gaun pesta. Ia tidak memakai seragam. Ia memakai pakaian rakyat biasa Solmere: blus putih berlengan longgar, rok panjang berwarna hijau tua sampai mata kaki, dan selendang tipis berwarna krem yang dililitkan di bahunya. Rambutnya dikepang satu, perak dan hitam terjalin, jatuh di bahu kanannya. Tanpa perhiasan. Tanpa jepit bulan sabit.

Ia tampak seperti gadis biasa yang datang ke festival dengan seseorang.

Ia tampak seperti gadis paling cantik di seluruh Velmora.

“Aku pinjam bajunya dari pelayan penginapan,” katanya, menyentuh ujung selendangnya dengan canggung. “Supaya nggak dikenali.”

Rambut perak dengan ujung hitam, mata emas, wajah yang membuat penyair menulis bahwa matahari ragu untuk terbit. Ia pasti dikenali oleh siapa pun yang pernah melihat turnamen.

“Penyamarannya sempurna,” kataku.

Ia menyipitkan mata. “Kamu bohong.”

“Sedikit.”

Ia tersenyum. Kecil. Lalu mengulurkan tangannya, telapak menghadap ke atas, ragu-ragu, seperti tidak yakin apakah ini boleh.

Aku menggenggamnya.

Kali ini, tangannya tidak dingin.


Kami berjalan menyusuri jalan utama Solmere, di bawah ribuan lentera.

Lentera-lentera itu tergantung di mana-mana. Di tiang-tiang, di atap-atap, di tali-tali yang direntangkan dari satu sisi jalan ke sisi lain, membentuk langit-langit cahaya yang berwarna-warni. Merah, kuning, biru, hijau, ungu. Beberapa berbentuk ikan. Beberapa berbentuk burung. Satu berbentuk naga raksasa, dibawa oleh dua puluh orang sambil menari di tengah jalan.

Udara berbau gula bakar, daging panggang, dan dupa melati.

Aurelia berhenti di setiap kedai. Ia belum pernah ke festival rakyat. Ia mengatakannya dengan nada biasa, seperti menyebutkan fakta cuaca, tapi matanya bersinar setiap kali melihat sesuatu yang baru. Permen kapas berwarna merah muda. Ikan bakar yang ditusuk bambu. Kue beras berisi kacang manis. Boneka kertas yang bisa bergerak sendiri ditiup angin.

“Di Valemont,” katanya, menggigit kue beras dengan sangat hati-hati, “festival hanya untuk bangsawan. Di aula kastil. Musiknya kuartet gesek. Makanannya disajikan di piring perak, dan kami tidak boleh makan sambil berjalan.”

“Di sini kamu boleh makan sambil berjalan.”

“Aku tahu.” Ia menggigit lagi, lebih besar. Kacang manis menempel di sudut bibirnya. “Ini luar biasa.”

Aku mengulurkan tangan dan menyeka kacang di sudut bibirnya dengan ibu jari.

Lalu aku membeku, karena aku baru sadar apa yang kulakukan.

Aurelia juga membeku. Matanya melebar.

Kami berdiri di tengah jalan festival, di bawah lentera ikan berwarna jingga, dengan ibu jariku masih menempel di sudut bibirnya.

“Ada kacang,” kataku, dengan suara yang terdengar seperti tikus tercekik.

“Aku... terima kasih,” katanya, dengan suara yang terdengar sama.

Aku menarik tanganku. Ia menunduk ke kue berasnya. Telinganya merah. Telingaku pasti lebih merah lagi.

Di belakang kami, seorang nenek penjual kue beras terkekeh. “Anak muda zaman sekarang,” katanya kepada nenek penjual teh di sebelahnya. “Lambat sekali.”

“Waktu kita dulu,” jawab nenek penjual teh, “kacangnya langsung dicium.”

Aurelia tersedak kue berasnya.

Aku menariknya pergi dari situ secepat mungkin.


Di ujung jalan festival ada kedai permainan menangkap ikan. Kolam dangkal berisi ikan-ikan mas kecil berwarna emas dan merah, dan pemain diberi jaring kecil dari kertas tipis. Kalau berhasil menangkap ikan sebelum kertasnya robek, ikannya boleh dibawa pulang.

Aurelia memandangi kolam itu lama.

“Mau coba?” tanyaku.

“Aku nggak pernah bisa menangkap apa pun yang hidup,” katanya pelan. “Di Valemont, aku cuma diajari menebas.”

Ia mencoba. Kertasnya robek dalam dua detik. Ikan itu berenang pergi.

Ia mencoba lagi. Robek lagi.

Di percobaan ketiga, ia menggigit bibir, terlalu berkonsentrasi, dan jaring kertasnya robek bahkan sebelum menyentuh air.

Penjaga kedai, pria tua bertopi jerami, menahan tawa.

“Biar aku,” kataku.

Aku mengambil jaring kertas. Aku tidak memanggil soul weapon. Aku hanya memikirkan Shinobu dan Insect Breathing-nya. Gerakan seringan kupu-kupu. Sentuhan yang begitu ringan sampai tidak terasa.

Aku tidak benar-benar meng-copy. Aku hanya mengingat. Tapi ternyata, setelah limiter lepas, mengingat saja sudah membuat tanganku bergerak berbeda.

Jaring kertas itu meluncur di bawah permukaan air, ringan, cepat, dan mengangkat seekor ikan mas merah kecil tanpa membuat kertasnya robek sedikit pun.

Penjaga kedai berhenti menahan tawa. Ia menatapku.

Aku memasukkan ikan itu ke kantong air bening yang diberikan penjaga, lalu menyerahkannya ke Aurelia.

Ia memegang kantong itu dengan dua tangan, hati-hati sekali, seperti memegang sesuatu yang sangat berharga. Ikan mas merah itu berenang berputar-putar di dalamnya.

“Ini pertama kalinya,” katanya pelan, “ada yang memberiku sesuatu yang hidup.”

Ia menatap ikan itu lama. Lalu menatapku. Dan matanya, di bawah cahaya lentera, basah.

“Aku akan menamainya,” katanya.

“Siapa?”

Ia berpikir. “Kael Kecil.”

“Jangan.”

“Kael Kecil,” ulangnya dengan tegas, dan tersenyum. “Dia merah dan bingung, sama sepertimu.”


Lalu lentera-lentera mulai padam.

Bukan semua sekaligus. Satu per satu. Dimulai dari ujung jalan, di dekat gerbang kota, lalu menjalar ke arah kami seperti gelombang. Lentera merah menjadi hitam. Lentera kuning menjadi hitam. Lentera naga yang dibawa dua puluh orang padam, dan para pembawanya berhenti menari, bingung.

Tidak, bukan padam. Lentera-lentera itu masih menyala. Tapi apinya berubah warna. Hitam. Api hitam yang tidak memberikan cahaya, hanya bayangan.

Bau dupa melati berubah menjadi bau kertas terbakar.

Aku mengenali bau itu.

Aku mengenali bau itu dari lembah di Hutan Thornwood, dari leher babi hutan raksasa dengan cap terbakar di kulitnya.

“Kael,” bisik Aurelia, tangannya mencengkeram tanganku.

Di atap-atap rumah di sepanjang jalan, sosok-sosok muncul. Puluhan. Berjubah abu-abu gelap, bertudung, wajah tertutup topeng putih polos tanpa mata. Di dada setiap jubah, tersulam satu lambang: lingkaran kosong, dibelah satu garis lurus dari atas ke bawah.

[Warning: Hostile entities detected]

[Faction: Unknown]

Dari bayangan api hitam di lentera-lentera, sesuatu keluar. Serigala. Serigala yang terbuat dari asap hitam pekat, mata merah menyala, ukurannya sebesar kuda. Sepuluh. Dua puluh. Melompat turun dari lentera ke jalan festival yang penuh orang.

Jeritan pertama terdengar.

Lalu seluruh jalan festival berubah menjadi kekacauan.

“Weapon Summon,” kataku dan Aurelia bersamaan.


Aku tidak sempat memikirkan apa pun. Aku hanya bergerak.

Tiga serigala asap menerjang sekelompok anak-anak yang membeku di depan kedai permen kapas. Aku menarik napas, dan pedangku berubah biru.

[Copy: Kamado Tanjiro — Water Breathing]

“Tenth Form,” kataku. “Seisei Ruten!”

Constant Flux.

Air mengalir dari bilahku, lalu memanjang, membentuk naga air. Bukan ilusi kecil seperti dulu. Naga air sungguhan, panjang, berliku. Ia meliuk di udara mengikuti setiap tebasanku, dan semakin banyak aku menebas, semakin besar dan kuat ia tumbuh. Satu serigala. Dua. Tiga. Naga air itu menelan mereka satu per satu, dan asap hitam mereka menguap seperti kabut pagi di bawah matahari.

Anak-anak itu berlari ke pelukan orang tua mereka.

Lebih banyak serigala. Mereka datang dari segala arah, dari setiap lentera yang berapi hitam. Jalan festival dipenuhi orang yang berlari, berteriak, terjatuh.

Aku butuh sesuatu yang bisa menyerang ke banyak arah sekaligus. Tanpa mengenai warga.

Aku memikirkan seorang perempuan berambut merah menyala, berbaju zirah, dengan mata cokelat yang galak dan hati yang lembut. Ksatria peri. Yang bisa memanggil ratusan zirah dan ratusan pedang, dan mengendalikan semuanya seperti seorang dirigen memimpin orkestra. Erza Scarlet.

[Copy: Erza Scarlet — The Knight]

[Copy Complete]

Pedangku tidak berubah. Pedangku berlipat ganda.

Di sekelilingku, di udara, satu demi satu, pedang-pedang muncul. Sepuluh. Dua puluh. Lima puluh. Pedang-pedang berbilah perak terang, melayang dalam lingkaran besar di sekitar tubuhku, ujungnya mengarah keluar seperti jari-jari roda raksasa.

“Heaven’s Wheel,” kataku. “Circle Sword!”

Lima puluh pedang berputar. Lalu melesat keluar, ke segala arah, masing-masing menemukan satu serigala asap, menembus tubuhnya, dan menghilang bersama asapnya. Tidak satu pun mengenai warga yang berlari. Tidak satu pun mengenai lentera atau kedai.

Jalan di sekitarku bersih dalam lima detik.

Tapi di ujung jalan, lebih banyak lentera berubah hitam. Lebih banyak serigala keluar.

Dan sosok-sosok bertopeng di atap-atap mulai bergerak. Tidak ke arah warga. Tidak ke arahku.

Ke arah Aurelia.


Aurelia bertarung di sisi lain jalan, di depan kedai menangkap ikan, melindungi pria tua bertopi jerami dan tiga keluarga yang bersembunyi di belakang kedai itu. Eclipse Blade-nya membelah serigala-serigala asap dengan tebasan cahaya dan bayangan. Satu. Dua. Lima. Sepuluh.

Kantong air berisi Kael Kecil diikat di pinggangnya dengan selendang krem.

Tapi serigala-serigala itu terus datang. Lima belas. Dua puluh. Mengepungnya. Dan di belakangnya, di balik dinding kedai, aku mendengar tangisan anak kecil.

Aurelia berhenti menebas. Ia berdiri tegak di tengah kepungan, pedang terangkat lurus ke langit.

Aku tahu apa yang akan ia lakukan.

“Aurelia, jangan!”

Ia tidak mendengarku. Atau ia mendengarku dan memutuskan untuk tidak mendengarkan.

“Spirit Call,” katanya. “Eclipse Lioness.”

Langit di atas jalan festival terbelah.

Cahaya dan bayangan meledak dari pedangnya, naik tinggi, membentuk sosok raksasa. Singa betina bersayap. Separuh tubuhnya putih menyilaukan seperti matahari tengah hari. Separuh lagi hitam pekat seperti malam tanpa bintang. Sayapnya terbentang, lebar sekali, menutupi seluruh jalan. Ia mengaum, dan kali ini aumannya terdengar. Seperti dua lonceng raksasa dibunyikan bersamaan, satu tinggi dan satu rendah.

Serigala-serigala asap di sekitarnya hancur dalam sekejap, terbakar cahaya dan ditelan bayangan.

Lentera-lentera berapi hitam di sepanjang jalan bergetar, lalu padam. Api normal kembali menyala di beberapa di antaranya. Merah. Kuning. Hangat.

Sosok-sosok bertopeng di atap berhenti bergerak. Mereka menatap Eclipse Lioness.

Dan aku mendengar salah satu dari mereka berbisik, cukup keras untuk terbawa angin sampai ke telingaku:

“Wadahnya sudah terbuka.”

Eclipse Lioness menghilang.

Aurelia berlutut.

Ia batuk. Bukan batuk kecil seperti di cangkir teh. Bukan batuk kering seperti di arena melawan Ravel. Batuk yang dalam dan basah, yang membuat seluruh tubuhnya tersentak, dan setiap kali batuk, darah keluar dari mulutnya. Merah gelap. Banyak. Menetes ke batu jalan festival, ke rok hijau tuanya, ke kantong air berisi Kael Kecil.

“Aurelia!”

Aku berlari.

Di depanku, di antara aku dan dia, sosok bertopeng melompat turun dari atap.

Bukan sosok bertopeng biasa. Yang ini lebih tinggi. Jubahnya hitam, bukan abu-abu. Topengnya putih, tapi dengan satu garis merah melintang dari dahi ke dagu, persis seperti lambang di dada mereka. Di tangannya ada pedang lebar berwarna kelabu abu, dan di belakangnya, samar-samar, bayangan serigala raksasa yang terbuat dari abu.

[Enemy: Hollow General — Sable]

[Threat Level: S]

“Rank F yang tak terukur,” katanya. Suaranya datar, seperti abu yang tertiup angin. “Kami sudah lama mengawasimu. Sejak hutan itu.”

“Minggir,” kataku.

“Tidak.” Ia mengangkat pedang abunya. “Wadah generasi ini sudah terbuka. Kami datang untuk mengambilnya.”

Ia menghilang dalam pusaran abu.

Lalu muncul lagi.

Di belakang Aurelia.

Ia menarik Aurelia berdiri dengan satu tangan, mencengkeram lengannya. Aurelia terlalu lemah untuk melawan. Darah masih menetes dari dagunya. Mata emasnya setengah terpejam. Eclipse Blade di tangannya meredup, lalu padam.

“Kael,” bisiknya. Lemah. Hampir tidak terdengar di tengah jeritan dan api.

Sable melompat. Tinggi. Ke atap kedai terdekat, menyeret Aurelia bersamanya. Lalu ke atap berikutnya. Lalu berikutnya. Ke arah menara lonceng kota di ujung alun-alun, tempat api hitam paling pekat berkobar, membakar puncak menara seperti obor raksasa.

Di setiap atap yang mereka lewati, api hitam menyembur, membakar genteng dan kayu.

Aku berlari mengejar. Melompat ke atap. Tapi mereka terlalu cepat, dan jaraknya terlalu jauh, dan setiap atap yang mereka lewati berubah menjadi dinding api hitam yang menghalangi jalanku.

Seratus meter. Dua ratus. Tiga ratus.

Mereka sampai di puncak menara lonceng.

Sable berdiri di sana, di tengah kobaran api hitam, memegang Aurelia yang tergantung lemas di lengannya seperti boneka. Di bawahnya, seluruh kota Solmere terbakar dalam bayangan.

Aku berhenti di atap terakhir, terengah. Masih tiga ratus meter dari menara. Masih ada lautan api hitam di antara kami.

Terlalu jauh. Terlalu jauh untuk Water Breathing. Terlalu jauh untuk Sonic Leap. Terlalu jauh untuk apa pun.

Di puncak menara, Sable mengangkat pedang abunya tinggi-tinggi. Lingkaran sihir hitam mulai menyala di bawah kakinya. Lingkaran kosong, dibelah satu garis lurus.

Aku memejamkan mata.

Aku memikirkan seorang anak laki-laki berambut kuning, penakut, cengeng, yang selalu menangis dan berteriak dan lari dari setiap pertarungan. Yang hanya bisa satu jurus. Hanya satu. Jurus pertama dari Thunder Breathing, yang ia latih ribuan, puluhan ribu kali, sampai jurus itu menjadi lebih cepat dari petir itu sendiri.

Yang, saat ia pingsan karena ketakutan, tubuhnya bergerak sendiri untuk melindungi orang yang ia sayangi.

Aku membuka mata.

Jendela biru di depanku berkedip, dan untuk pertama kalinya, aku tidak menunggunya selesai memuat.

[Copy: Agatsuma Zenitsu —