Chapter Forty Two
Epilog — Ibu Nggak Bingung Lagi
POV: Salman
Satu tahun kemudian, Wati Ni sampai di Depok.
Dikirim dari Koenji lewat kargo laut. Enam minggu di kontainer. Dibungkus plastik gelembung tiga lapis oleh kakek pemilik toko kaset bekas, yang menulis di atas bungkusnya dengan spidol hitam, dalam bahasa Jepang dan bahasa Inggris yang patah-patah: HATI-HATI. INI ADIK.
Fumiko-baachan yang membayar ongkos kirimnya. Aku tahu karena dia mengirim fotokopi kuitansinya ke warung Ibu, dalam amplop yang sama dengan tiga bungkus bumbu ramen dan satu surat berbahasa Jepang yang diterjemahkan Ardi lewat WhatsApp:
Anak itu bilang adiknya kesepian. Saya nggak tahu sepeda bisa kesepian. Tapi saya nggak mau ambil risiko.
Wati Ni sekarang diparkir di bawah terpal biru di samping warung. Di sebelah Wati.
Dua motor putih. Satu bulat besar, satu bulat kecil. Dua stiker mata anime. Yang besar punya bulu mata. Yang kecil mengelupas di pojok, seperti kelopak mata yang mengantuk.
Ibu memanaskan dua-duanya setiap Jumat sekarang. Biar nggak pikun, kata Ibu. Yang kecil juga. Yang kecil lebih gampang pikun, soalnya dia jauh dari rumah.
Hari Minggu. Jam sebelas siang.
Warung Bakso Bu Nur. Papan namanya masih luntur. Bak o Bu Nu. Ibu masih menolak mengecatnya. Pelanggan yang beneran pelanggan nggak perlu baca papan nama.
Warung penuh. Lima meja kayu panjang. Kipas angin berderit di langit-langit. TV kecil di sudut memutar siaran ulang Wajah Malam tanpa suara, karena Ibu bilang wajah Yura lebih cantik kalau nggak ada suara bapak-bapak narasumber yang mengganggu.
Hari ini warung tutup untuk umum.
Tulisan di kertas karton di pintu, dengan spidol merah, tulisan tangan Ibu: TUTUP. ACARA KELUARGA. BESOK BUKA LAGI. YANG MAU NGUTANG TETAP BOLEH, KETUK PINTU BELAKANG.
Di dalam, meja paling dalam, dekat dapur, sudah disiapkan sejak jam sepuluh.
Dua mangkuk. Bakso urat. Mi kuning. Sawi. Kuah bening. Dan di samping masing-masing mangkuk, satu cawan kecil berisi sambal.
Merah muda pucat. Hampir oranye.
Level satu.
Ibu Ratna Wirawan datang jam sebelas lewat sepuluh.
Dengan Cynthia.
Bukan pertama kalinya Ibu Ratna ke Depok. Sejak Anime Night, setahun lalu, Cynthia membawanya ke warung ini empat kali. Ibu Ratna selalu duduk di meja paling dalam. Selalu memakai kacamata hitam. Selalu memesan bakso tanpa sambal.
Selalu nggak tertawa.
Hari ini dia nggak memakai kacamata hitam.
Dia memakai kebaya rumah warna biru muda. Rambut disanggul sederhana. Wajah dengan riasan tipis. Lebih tipis dari empat kunjungan sebelumnya.
Dia berdiri di ambang pintu warung. Menatap meja paling dalam. Menatap dua mangkuk. Menatap cawan kecil berisi sambal merah muda pucat.
Lalu dia menatapku.
Aku di balik etalase. Dengan celemek Ibu. Dengan centong di tangan. Karena Ibu bilang hari ini kamu yang layanin, Ibu mau duduk.
“Mas Salman,” kata Ibu Ratna.
“Bu Ratna.”
“Ini kamu yang siapin?”
Aku mengangguk.
Dia menatap sambal itu lagi. Lama.
“Cynthia bilang,” katanya pelan, “waktu Anime Night, ada yang nyiapin meja paling dalam buat saya. Sebelum saya dateng. Terus orangnya pergi.”
Aku diam.
“Itu juga kamu?”
“Itu Ibu,” kataku. Menunjuk Ibu, yang sudah duduk di meja sebelah dengan teh manis dan wajah orang yang pura-pura nggak mendengar. “Saya cuma bantu angkat kursi.”
Ibu Ratna menatap Ibu. Ibu mengangkat gelas teh manisnya, sedikit, seperti bersulang.
Ibu Ratna nggak tersenyum. Tapi dia duduk.
Di meja paling dalam. Di bangku plastik hijau. Cynthia duduk di seberangnya. Dengan kaus putih dan celana jeans dan sandal jepit biru, yang sudah tipis di bagian tumit karena setahun dipakai hampir setiap akhir pekan.
Ibu Ratna menatap mangkuknya.
“Ini level satu?” tanyanya.
“Level satu, Bu,” kataku dari balik etalase.
“Buat anak kecil?”
“Sama orang yang baru putus,” kata Ibu. Dari meja sebelah. Santai. Mengaduk teh manis. “Bu Ratna udah putus sama sesuatu. Anak Ibu yang bilang.”
Ibu Ratna menatap Ibu.
“Putus sama apa?”
“Sama takut,” kata Ibu. “Dua puluh tahun lebih. Itu putus paling lama yang pernah Ibu dengar.”
Ibu Ratna diam.
Lalu dia mengambil cawan sambal. Pelan. Dengan dua jari yang lentik, kuku yang dicat warna nude, cincin di jari manis yang sudah longgar.
Dia menuangkan sambal itu ke mangkuknya. Semuanya. Seluruh cawan.
Cynthia menatap ibunya. Mulutnya sedikit terbuka.
Ibu Ratna mengaduk. Kuah bening berubah sedikit kemerahan. Pelan-pelan.
Lalu dia menyendok. Satu suap. Bakso, mi, kuah.
Dan memasukkannya ke mulut.
Dia mengunyah.
Satu detik.
Dua.
Lalu dia berhenti.
Matanya berair.
“Ini pedes,” katanya.
“Itu level satu, Bu,” kataku.
“Saya tahu ini level satu.” Ibu Ratna mengusap matanya dengan ujung jari. Hati-hati, supaya riasan nggak luntur. “Saya nggak pernah makan pedes. Dua puluh tiga tahun. Sejak ada foto saya makan di pinggir jalan dengan bibir bengkak karena sambal, di majalah. Kepala berita: Ratna Wirawan, Dulu Bintang, Sekarang Makan Seblak.”
Dia menyuap lagi.
Matanya makin berair. Hidungnya mulai merah dari ujung. Napasnya sedikit tersengal.
Cynthia menatap ibunya. Tangannya di atas meja. Mengepal.
Ibu Ratna menyuap lagi.
Dan lagi.
Di suapan kelima, sesuatu berubah di wajahnya.
Dimulai dari hidung. Dengusan kecil. Seperti orang yang mencoba menahan bersin. Lalu dari dada. Seperti batuk yang ditahan.
Lalu pecah.
Ibu Ratna Wirawan tertawa.
Di warung bakso di Depok. Dengan mata berair karena pedas. Dengan hidung merah. Dengan riasan yang mulai luntur di bawah mata. Tawa yang nggak dilatih. Tawa yang jelek, terlalu keras, nggak berbentuk.
Tangannya naik. Ke mulut. Refleks. Untuk menutupnya.
Lalu tangannya berhenti. Di udara. Setengah jalan.
Dia menatap Cynthia.
Cynthia menatap ibunya. Matanya basah. Bukan karena pedas.
Lalu Cynthia mengangkat tangannya sendiri. Dan, pelan, menurunkan tangan ibunya. Dari udara. Ke meja. Menggenggamnya di sana.
Ibu Ratna terus tertawa.
Dengan mulut terbuka. Kepala sedikit mendongak. Air mata dari pedas dan dari sesuatu yang lain mengalir di pipinya, membawa sedikit maskara.
Dan Cynthia ikut tertawa. Dengan mulut terbuka. Kepala mendongak. Tangan menggenggam tangan ibunya di atas meja kayu yang lengket bekas kuah.
Dua perempuan. Ibu dan anak. Tertawa di warung bakso di Depok, tanpa menutup mulut.
Ibu, di meja sebelah, menaruh gelas teh manisnya. Tersenyum. Lebar. Nakal.
“Nah,” kata Ibu. “Itu baru Bu Ratna.”
Jam dua belas, sisanya datang.
Dino duluan, dengan dua kotak martabak dari Kedai Ruang Tunggu dan celemek DOYAN yang dia pakai ke mana-mana sekarang, termasuk ke kondangan dan ke kantor polisi waktu memperpanjang SIM.
Erga dan Diana. Diana dengan perut yang sedikit membuncit di bawah kemeja longgar. Lima bulan. Erga membawakan tas Diana, kursi lipat Diana, bantal punggung Diana, dan termos air hangat Diana. Diana membawa buku catatan batik.
“Juri hadir,” kata Diana, duduk di kursi lipatnya sendiri, karena bangku plastik warung nggak ergonomis untuk ibu hamil. “Juri siap menilai.”
“Menilai apa, Di?” tanya Dino.
Diana menatap Dino. Menatapku di balik etalase. Lalu menutup buku catatannya.
“Rahasia,” katanya.
Raka datang dengan laptop. Pak Darto datang dengan kemeja batik baru, bukan pinjaman, yang dia beli sendiri pakai bonus penghargaan karyawan berprestasi. Pak Jono dan istrinya. Mas Ujang. Mas Gilang. Bahkan Pak Wiryo, dengan kemeja polo dan topi golf, yang turun dari mobil di mulut gang dan berjalan kaki ke warung karena mobilnya nggak muat masuk gang.
Dan Yura.
Yura datang terakhir.
Dia turun dari ojek online di depan warung. Dia nggak bawa mobil. Sopirnya cuti. Dia bilang dia mau naik ojek, karena dia sudah lupa rasanya naik motor yang bukan Wati, dan dia mau tahu apakah masih sama.
“Sama?” tanyaku waktu dia masuk.
“Nggak,” katanya. “Abangnya nggak nyanyi. Nggak ada klakson Bollywood. Nggak ada yang ngerem karena kucing.” Dia tersenyum. “Membosankan.”
Kaus putih. Celana kain krem. Rambut digerai, dengan jepit perak kecil di sisi kiri.
Di telinga kiri, di balik jepit, earbud.
Setahun. Dia memakainya setahun. Setiap hari. Di siaran, di bawah rambut, di sebelah earpiece IFB. Di tidur. Di kencan. Di Tokyo, waktu kami kembali sebentar di musim semi untuk sidang Ardi dan melihat Wati Ni dibungkus plastik gelembung.
Isinya masih rekaman duniaku. Dan satu file tiga detik yang dia tambahkan sendiri.
Dia duduk di meja panjang di tengah warung. Di sebelah Cynthia, yang sudah pindah dari meja paling dalam. Ibu Ratna masih di sana, sendirian, menghabiskan mangkuk kedua. Dengan sambal level satu. Lalu level dua.
“Pesan apa, Mbak?” tanyaku dari balik etalase. Dengan centong.
Yura menatapku. Curiga. Karena aku memanggilnya Mbak.
“Level tujuh,” katanya.
“Level sembilan,” kataku.
“Aku cuma bisa tujuh, Man. Kamu tahu.”
“Level sembilan,” kataku. “Hari ini spesial. Sambalnya Ibu bikin dari jam lima pagi.”
Yura menatapku lama.
Lalu menatap Ibu. Ibu sedang menatap langit-langit warung dengan sangat serius.
Lalu menatap Dino. Dino sedang menatap martabaknya dengan sangat serius.
Lalu menatap Diana. Diana sedang memegang buku catatan batik di depan wajahnya.
Lalu menatap Raka. Raka menutup laptopnya dengan sangat cepat.
“Kalian semua aneh,” kata Yura.
“Level sembilan, Mbak,” kataku.
“...Oke. Level sembilan.”
Aku menyiapkan mangkuknya sendiri.
Di dapur. Ibu menjaga pintu dapur dengan centong, seperti satpam, supaya nggak ada yang masuk.
Bakso urat. Tiga butir. Mi kuning. Sawi. Kuah kaldu sapi yang Ibu masak sejak subuh.
Dan di dasar mangkuk, di bawah mi, di bawah bakso, di bawah semuanya, aku menaruh sesuatu.
Kecil. Bundar. Perak. Dengan satu batu kecil berwarna kuning. Bukan berlian. Batu sitrin, kuning seperti stabilo, kuning seperti daun ginkgo di bangku foto ketiga. Aku memesannya di toko perhiasan kecil di Koenji, waktu kembali di musim semi, dari ibu-ibu berkacamata bulat yang dulu menyewakan kimono. Dia bilang dia punya adik yang membuat perhiasan. Dia bilang untuk perempuan yang di bawah pohon ginkgo itu, kan?
Cincin itu dibungkus plastik bening kecil. Diikat karet merah. Seperti sambal.
Aku menuang kuah. Menyendokkan sambal level sembilan di atasnya. Banyak. Merah tua. Berminyak.
Cincin itu hilang di bawah semuanya.
Aku membawa mangkuk itu ke meja. Menaruhnya di depan Yura.
Lalu aku duduk di seberangnya. Dan menunggu.
Seluruh warung menunggu.
Yura menyendok.
Suap pertama. Bakso. Kuah. Mi.
Matanya langsung berair.
“Man,” katanya. “Ini sembilan.”
“Iya.”
“Aku nggak bisa sembilan.”
“Kamu bisa. Kamu udah latihan empat tahun. Dari level tiga.”
Dia menyuap lagi. Air mata jatuh. Hidungnya merah.
Di sebelahnya, Cynthia menyodorkan tisu. Tanpa bilang apa-apa. Tanpa melihat. Matanya juga berair. Bukan karena pedas.
Yura menyuap lagi. Dan lagi. Menangis. Tertawa. Dari hidung dulu. Lalu pecah. Sambil menyuap. Sambil menangis karena pedas.
“Kenapa kalian semua ngelihatin aku?” katanya di tengah tangis. “Ini level sembilan. Aku lagi menderita. Ini bukan tontonan.”
Nggak ada yang menjawab.
Dino berhenti mengunyah martabak. Diana menurunkan buku catatan batik dari depan wajahnya, sedikit, sampai matanya kelihatan. Raka membuka laptop lagi, pelan, dan memutarnya supaya kameranya menghadap ke meja. Pak Darto memeluk kemoceng yang entah kenapa dia bawa ke Depok.
Yura menyuap. Mi habis. Bakso habis. Tinggal kuah.
Dia mengangkat mangkuk. Mau meminum kuahnya, karena di warung ini, mubazir itu dosa.
Lalu dia berhenti.
Dia melihat sesuatu di dasar mangkuk.
Plastik bening kecil. Diikat karet merah. Di bawah kuah yang merah tua.
“Man,” katanya. “Ada sambal yang belum dibuka.”
“Itu bukan sambal.”
Yura menatapku. Lalu menatap dasar mangkuk lagi.
Dia mengambil plastik kecil itu. Dengan sendok. Pelan. Menaruhnya di atas tisu yang diberikan Cynthia.
Membuka karet merahnya.
Membuka plastiknya.
Dan menatap apa yang ada di dalamnya.
Warung itu sunyi.
Bahkan kipas angin di langit-langit seperti berhenti berderit.
Yura menatap cincin itu. Perak. Batu kuning kecil. Di atas tisu yang basah kena kuah level sembilan.
Dia nggak bergerak.
Air matanya, yang tadinya dari pedas, terus jatuh. Tapi sekarang aku tahu itu bukan dari pedas lagi. Aku mendengar perbedaannya. Napas orang yang kepedasan, pendek dan tinggi. Napas orang yang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk dadanya, panjang dan dalam dan bergetar.
Napas Yura yang kedua.
Aku berdiri. Dari bangku. Memutari meja. Berdiri di sampingnya.
Lalu aku berlutut. Di lantai warung. Di lantai keramik putih yang retak di beberapa tempat dan selalu lengket bekas kuah.
Supaya mataku sejajar dengan matanya.
Seperti dia bilang di catatannya. Dia nunduk biar sejajar mataku. Tiap kali.
“Yur,” kataku.
Dia menatapku. Air mata. Hidung merah. Bibir yang bengkak sedikit dari level sembilan.
“Lima tahun lalu kamu rekam suaraku di lift,” kataku. “Empat tahun lalu kamu jilat sambal dari jempolmu di depan semua orang. Tiga tahun kamu pegang duniaku tanpa lagu. Setahun lalu kamu tanya boleh aku jadi duniamu? di depan satu tower.”
Aku menarik napas.
“Aku nggak punya pidato,” kataku. “Aku udah latihan empat puluh tiga kali. Semuanya hilang waktu kamu lihat cincinnya.”
Yura tertawa. Di tengah tangis. Dari hidung.
“Jadi aku bilang yang aku inget aja,” kataku. Seperti Erga di pelaminan. “Aku nggak mau kamu jago nunggu. Aku mau kamu jago dibonceng. Seumur hidup. Di jok belakang Wati. Atau Wati Ni. Atau motor apa pun yang punya mata.”
Aku mengambil cincin itu dari tisu. Mengangkatnya.
“Mau nggak, Yur?”
Yura menatap cincin itu.
Lalu menatapku.
Lalu, pelan, dia mengangkat tangan kanannya. Ke meja. Ke permukaan kayu yang lengket.
Dan mengetuk. Dua kali.
Tok. Tok.
Dua bip.
Iya.
Aku tertawa. Di lantai warung. Dengan lutut di keramik yang lengket.
Aku memasangkan cincin itu di jari manis kirinya. Pas. Aku sudah mengukur jarinya diam-diam, enam bulan lalu, waktu dia tidur di bahuku di bioskop, pakai benang jahit yang aku pinjam dari Ibu.
Yura menatap cincin di jarinya. Batu kuning kecil. Seperti stabilo. Seperti ginkgo.
Lalu dia menatapku.
Dan dia menciumku. Duluan. Tentu saja duluan. Dengan bibir yang pedas karena level sembilan, yang membuat bibirku ikut terbakar.
Warung Bakso Bu Nur meledak.
Dino berdiri di atas bangku plastik dan bangku itu patah. Erga menangis sambil memegang termos air hangat Diana. Pak Darto mengangkat kemoceng. Pak Jono memukul meja. Istri Pak Jono menangis ke kerudung bunga-bunga. Raka mengangkat laptopnya di atas kepala seperti piala. Mas Ujang dan Mas Gilang bersorak. Pak Wiryo melepas topi golfnya dan bertepuk tangan dengan topi itu.
Cynthia, di sebelah Yura, menangis dan tertawa sekaligus. Mulut terbuka. Tanpa ditutup.
Di meja paling dalam, Ibu Ratna Wirawan bertepuk tangan. Pelan. Dengan mata berair karena level dua.
Diana membuka buku catatan batik. Menulis. Menutupnya. Mengangkat tangan.
“Lima kata,” katanya.
Satu jari. “Lamaran.”
Dua jari. “Paling.”
Tiga jari. “Pedas.”
Empat jari. “Sepanjang.”
Lima jari. “Sejarah.”
Dia menurunkan tangan.
“Nilai juri,” katanya. “Sepuluh.” Dia diam sebentar. “Itu skala juri. Bukan skala orang lain.”
Dan Ibu.
Ibu berdiri di pintu dapur. Dengan centong di tangan. Dengan celemek yang tadi dia pinjamkan padaku dan sekarang sudah dia ambil lagi.
Ibu menatap Yura. Yang masih di kursinya, dengan cincin di jari dan bibir merah karena sambal dan air mata di pipi.
Ibu menatapku. Yang masih berlutut di lantai, karena Yura belum melepaskan kerah hoodie-ku.
Ibu menatap Cynthia. Yang tertawa tanpa menutup mulut, di sebelah Yura, dengan tangan di bahu sahabatnya.
Lalu Ibu tersenyum.
“Dulu,” kata Ibu. Ke seluruh warung. “Yang satu ngikat celemek. Yang satu jatuhin mangkuk. Ibu bingung.”
Seluruh warung diam. Mendengarkan.
“Terus yang satu pergi. Terus yang satu nunggu. Terus yang pergi nangis di lift. Terus yang nunggu tiap bulan ke sini, makan bakso level tiga sampai level lima, jongkok di depan Wati, bilang kita senasib.” Ibu mengaduk sesuatu yang nggak ada di tangannya. “Ibu tetap bingung.”
Ibu menatap Yura. Lama.
“Sekarang,” kata Ibu, “Ibu nggak bingung lagi.”
Sore itu, jam empat, aku mengantar Yura pulang.
Bukan pakai Wati.
Pakai Wati Ni.
Sepeda listrik kecil. Putih. Dengan keranjang di depan. Terlalu kecil untuk dua orang dewasa. Yura duduk di jok belakang yang sebenarnya rak barang, dengan kaki terangkat supaya nggak menyentuh aspal, dengan tangan melingkar di pinggangku.
Helm putih berstiker kelinci kuning. Kaca terbuka.
Wati mengikuti di belakang kami. Didorong Dino, yang bersikeras ikut sebagai pengawal, dengan celemek DOYAN berkibar.
Di lampu merah pertama di Margonda, motor-motor lain menoleh. Seorang abang ojek tertawa. Seorang ibu-ibu dengan anak kecil di jok depan menunjuk stiker mata anime di Wati Ni, dan anak kecil itu melambai.
Wati Ni nggak punya klakson Bollywood. Klaksonnya cuma ting ting biasa, bel sepeda.
Aku menekannya.
Ting ting.
Anak kecil itu tertawa.
Di belakang kami, Dino menekan klakson Wati.
Chaiyya Chaiyya. Delapan bit. Cempreng. Bangga.
Kakak dan adik. Bel sepeda dan Bollywood. Di lampu merah Margonda.
Di jok belakang, Yura tertawa. Dari hidung dulu. Lalu pecah. Kepalanya di punggungku.
“Man,” katanya. Di tengah tawa.
“Hm?”
“Kamu inget waktu aku tidur di bahumu? Di ruang kontrol? Empat tahun lalu?”
“Inget.”
Tangannya di pinggangku mengencang.
“Kamu bilang,” katanya, “bahu ini milik negara. Lagi dipinjam BPJS.”
Aku tertawa.
“Aku daftar antrean waktu itu,” katanya. “Antrean nomor satu.”
“Aku inget.”
“Udah dipanggil?”
Aku menatap lampu merah. Hitungan mundur. Lima. Empat. Tiga.
Lalu aku menoleh. Ke belakang. Lewat bahu. Ke wajahnya, di dalam helm putih, dengan kaca terbuka, dengan cincin di jari yang memegang pinggangku, dengan earbud di telinga kiri yang memutar duniaku.
“Yur,” kataku.
“Hm?”
“Aku bangga jalan di sebelahmu.”
Lampu hijau.
Yura nggak menjawab.
Tapi dia memasukkan tangannya ke saku depan hoodie-ku. Hoodie kucing samurai. Saku besar yang menyambung dari kiri ke kanan.
Di dalam saku, tanganku sudah menunggu.
Aku menggenggam tangannya.
Dan Wati Ni melaju. Pelan. Bel sepeda berbunyi ting ting. Di belakang kami, Wati menjawab dengan Bollywood. Di jok belakang, seseorang tertawa dari hidung dulu, lalu pecah.
Dan di telinga kirinya, kecil, samar, nyaris tenggelam di angin sore Depok, ada suara.
Dunia.
Ibu memanggil Salmaaan. Pak Darto bilang pagi, Mas. Dino tertawa. Diana bilang najis. Wati berdengung.
Dan satu file tiga detik. Di ujung. Yang selalu diputar terakhir.
Bukan suaraku.
Suaranya sendiri.
Aku sayang kamu, Man.
Yang dia rekam supaya duniaku nggak pernah sepi lagi.
TAMAT
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Joget Sendirian Itu Capek
- 25 Konsol Mati
- 26 Pergi Aja, Man
- 27 Pegang Duniaku Dulu
- 28 Tiga Surat
- 29 Kepala Audio yang Baru
- 30 Klasemen Korban Salman
- 31 Gorden Terbalik
- 32 Ini Kencan
- 33 Satu Lagu, Dua Earbud
- 34 Lima Kata di Pelaminan
- 35 Yura Mundur
- 36 Bip, Bip… Bip
- 37 Lift Nomor Empat, Lagi
- 38 Satu Tower Lihat, Lagi
- 39 Pacar Kepala Audio
- 40 Bangku di Foto Ketiga
- 41 Duniamu Udah Pulang
- 42 Epilog — Ibu Nggak Bingung Lagi reading