Chapter Thirteen
Lobby, Jam Sembilan Malam
POV: Yura
Namanya Rendy Sasongko.
Aku pertama kali bertemu dia tiga minggu lalu, di ruang rapat lantai dua puluh dua. Dia produser dari Lentera Sinema, production house yang akan bekerja sama dengan TRAC untuk program bincang-bincang malam yang baru. Judul sementaranya Wajah Malam. Format: wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh publik, satu jam, tayang Jumat jam sepuluh.
Dan mereka sedang mencari host.
Namaku ada di daftar pendek. Bersama dua nama lain.
Waktu rapat pertama, Rendy duduk di seberang meja, tersenyum ramah, dan bilang dia sudah lama mengagumi caraku membawakan TRAC Malam. “Mbak Yura itu tenang,” katanya. “Penonton suka orang yang tenang. Bikin percaya.”
Aku berterima kasih. Aku tersenyum. Aku profesional.
Rapat kedua, dia minta nomor pribadiku. Untuk koordinasi, katanya. Produser eksekutif TRAC ada di ruangan itu dan mengangguk, jadi aku memberikannya.
Lalu pesan-pesan itu mulai datang.
Awalnya biasa. Mbak, besok rapat jam 10 ya. Mbak, ini referensi format dari Korea. Mbak, gimana pendapatnya soal daftar narasumber?
Lalu jam pengirimannya mulai bergeser.
Jam sembilan malam. Jam sepuluh. Jam sebelas.
Mbak Yura belum tidur?
Tadi di TRAC Malam blazernya bagus, Mbak.
Mbak, saya penasaran, Mbak kalau di luar kerjaan orangnya gimana sih? Pasti beda ya sama di layar.
Mbak Yura itu kalau senyum di layar kayak lagi nyimpen rahasia. Saya suka.
Aku membalas yang soal kerjaan. Yang lain aku biarkan. Aku nggak memblokir, karena dia produser Wajah Malam dan memblokir produser program yang sedang kamu incar itu kayak membakar jembatan sebelum menyeberang. Aku nggak melapor, karena belum ada yang bisa dilaporkan. Cuma pesan. Cuma pujian. Cuma pertanyaan.
Aku sudah terbiasa.
Itu kalimat yang selalu aku ucapkan.
Dan malam itu, aku belajar bahwa terbiasa itu bukan perisai. Itu cuma pintu yang kamu biarkan terbuka sedikit, karena kamu terlalu capek untuk menutupnya.
TRAC Malam selesai jam delapan.
Aku membaca dua belas berita. Satu di antaranya soal seorang anak di Lampung yang naik perahu tiga jam ke sekolah setiap hari. Aku membacanya dengan suara tenang, seperti biasa, tapi waktu kamera berpindah ke video liputannya, aku harus menarik napas pelan supaya mataku nggak berkaca-kaca.
Sesudah siaran, aku menghapus riasan di ruang rias, mengganti blazer dengan kardigan krem, dan memeriksa HP.
Tiga pesan dari Rendy.
Mbak, saya di TRAC malam ini. Abis rapat sama tim kreatif.
Mbak masih di kantor? Saya mau bahas soal casting host. Penting.
Saya tunggu di lobby ya Mbak. Jam 9.
Aku menatap pesan-pesan itu lama.
Penting. Casting host.
Aku memikirkan Wajah Malam. Satu jam setiap Jumat. Wawancara mendalam. Bukan lagi membaca teleprompter yang ditulis orang lain, tapi bertanya, mendengar, menggali. Itu yang selalu aku mau sejak kuliah jurnalistik. Itu alasan aku masuk TV.
Aku membalas: Baik, Pak. Saya ke lobby.
Aku mengirim pesan ke sopirku untuk menjemput jam setengah sepuluh.
Lalu aku turun.
Lobby TRAC Tower jam sembilan malam itu tempat yang aneh.
Siang hari, lobby ini penuh. Orang-orang berkemeja, berblazer, bergerak cepat ke lift dengan kopi di tangan. Malam hari, lobby ini setengah kosong. Lampu-lampunya diredupkan jadi kuning hangat. Layar LED raksasa di dinding masih memutar promo-promo program TRAC, termasuk wajahku sendiri, tersenyum tenang dengan tulisan TRAC MALAM — Berita yang Membuatmu Paham.
Ada beberapa orang. Dua kru outside broadcast yang baru pulang liputan, duduk di sofa dengan tas peralatan besar di kaki. Seorang petugas kebersihan malam mengepel lantai dekat pintu putar. Tiga anak magang di dekat resepsionis, menunggu ojek. Pak Slamet, satpam malam, di pos dekat pintu masuk, dua puluh meter dari lift.
Rendy berdiri di dekat pilar besar di tengah lobby.
Kemeja hitam. Jam tangan besar. Rambut disisir ke belakang dengan pomade. Dia tersenyum waktu melihatku keluar dari lift.
“Mbak Yura. Akhirnya.”
“Malam, Pak. Soal casting host?”
“Iya, iya. Duduk dulu, Mbak.” Dia menunjuk sofa di belakang pilar. Sofa yang tersembunyi dari pandangan pos satpam.
“Di sini aja, Pak. Saya nggak lama. Sopir saya jemput setengah sepuluh.”
Senyumnya nggak berubah. Tapi matanya berubah. Sedikit. Kayak orang yang rencananya ditolak di langkah pertama dan sedang menyusun langkah kedua.
“Oke, oke. Di sini aja.” Dia melangkah lebih dekat. Satu langkah. Dua langkah. Sekarang jarak kami mungkin setengah meter. Terlalu dekat untuk orang yang mau membahas casting. “Jadi gini, Mbak. Tim saya udah diskusi. Mbak Yura kandidat terkuat. Tapi ada dua nama lain yang juga bagus. Dan keputusan akhirnya...” Dia tersenyum. “Ada di saya.”
“Baik, Pak.”
“Saya mau Mbak yang jadi host. Sungguh. Tapi Mbak harus ngerti, host Wajah Malam itu bukan cuma soal baca prompter. Ini soal chemistry. Soal kedekatan. Host sama produser harus klop. Harus saling kenal. Luar dalam.”
Luar dalam.
Perutku mengencang.
“Saya rasa kita bisa saling kenal lewat rapat-rapat kerja, Pak.”
“Rapat itu formal, Mbak. Kaku.” Dia melangkah lagi. Sekarang aku bisa mencium parfumnya. Kayu dan sesuatu yang manis, terlalu banyak. “Gimana kalau kita bahas lebih lanjut di tempat yang lebih privat? Saya nginep di hotel dekat sini malam ini. Ada lounge-nya. Atau...” Dia memiringkan kepala. “Di kamar juga bisa. Lebih tenang. Nggak ada yang ganggu.”
Aku menatapnya.
Wajahku tenang. Senyumku nggak berubah. Tapi tanganku, di balik lengan kardigan, sudah dingin sampai ke ujung jari.
“Saya nggak bisa, Pak,” kataku. Suaraku keluar tenang, jernih, suara anchor. “Kalau ada yang perlu dibahas soal program, saya lebih nyaman di kantor. Dengan tim.”
“Mbak Yura.” Dia tertawa kecil. Tawa yang bilang kamu lucu, kamu belum ngerti. “Badan secantik ini sayang kalau cuma buat baca berita. Mbak bisa dapat lebih. Saya bisa kasih lebih. Asal Mbak juga mau kasih sedikit.”
Aku berbalik.
Aku nggak bilang apa-apa. Aku cuma berbalik, mau berjalan ke arah pos satpam, ke arah cahaya, ke arah orang-orang.
Dan dia menangkap pergelangan tanganku.
Nggak keras. Nggak kasar. Cuma genggaman yang cukup kuat untuk menahanku. Jari-jarinya melingkar di pergelangan tangan kiriku, hangat dan lembap dan salah.
“Mbak, jangan buru-buru gitu dong. Kita belum selesai ngomong.”
Aku menatap tangannya di pergelanganku.
Lalu aku menatap sekeliling lobby.
Dua kru outside broadcast di sofa, sibuk dengan HP masing-masing. Petugas kebersihan di dekat pintu putar, punggungnya menghadap kami. Tiga anak magang di dekat resepsionis, salah satunya menoleh ke arah kami, lalu buru-buru membuang muka, seperti menyaksikan sesuatu yang bukan urusannya. Pak Slamet di pos, dua puluh meter jauhnya, matanya di layar CCTV yang menghadap ke parkiran.
Nggak ada yang melihat.
Atau semua orang melihat, tapi nggak ada yang mau melihat.
Dan di detik itu, aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebagai anchor TRAC Malam. Sesuatu yang sangat kecil dan sangat dingin.
Aku sendirian.
Di gedung tiga puluh lantai yang menampilkan wajahku di layar raksasa, di tengah lobby dengan wajahku sendiri tersenyum tenang dari dinding, aku sendirian.
Lalu pintu tangga darurat di sudut lobby terbuka.
Aku nggak langsung menoleh. Aku dengar dulu.
Langkah kaki. Santai. Sedikit diseret. Sepatu kets yang solnya sudah tipis. Lalu suara yang samar, keluar dari speaker kecil, kecil sekali, seperti speaker HP yang volumenya dinaikkan pelan-pelan.
Gendang.
Sitar.
Chaiyya Chaiyya.
Volumenya naik. Dan naik. Dan naik. Dari volume HP biasa jadi volume speaker bluetooth, lalu jadi volume yang membuat dua kru di sofa mengangkat kepala, petugas kebersihan berhenti mengepel, tiga anak magang menoleh, dan Pak Slamet di pos berdiri dari kursinya.
Lalu suara manusia.
Fals.
Sangat fals.
Rendy menoleh. Genggamannya di pergelanganku melonggar, karena kaget.
Salman berjalan melintasi lobby.
Hoodie warna merah menyala, bergambar seekor ayam jago yang memakai mahkota dan jubah raja, berdiri di atas tumpukan koin emas. Helm Wati menggantung di siku kirinya. Di tangan kanannya, speaker bluetooth kecil berbentuk kaleng, yang aku nggak tahu dari mana dia dapat, memutar Chaiyya Chaiyya dengan volume maksimal.
Dan dia menyanyi.
Bukan bersenandung. Menyanyi. Dengan satu tangan terangkat ke udara, kepala mendongak ke langit-langit lobby, mulut terbuka lebar, suara yang pecah di setiap nada tinggi seperti piring yang dilempar ke lantai satu per satu. Dia berjalan lurus ke arah kami, dengan langkah yang sedikit menari, kiri, kanan, kiri, kanan, seperti Shah Rukh Khan di atas gerbong kereta, kalau Shah Rukh Khan pakai hoodie ayam jago dan nggak bisa nyanyi.
Seluruh lobby menatapnya.
Dua kru outside broadcast berdiri dari sofa. Petugas kebersihan memegang gagang pel dengan mulut terbuka. Tiga anak magang mengeluarkan HP dan mulai merekam. Pak Slamet berjalan keluar dari pos, wajahnya bingung, lalu, karena Pak Slamet ternyata penggemar film India, wajahnya pelan-pelan berubah jadi senyum lebar, dan kepalanya mulai bergoyang ke kiri dan kanan.
Rendy melepas pergelangan tanganku sepenuhnya.
Dia mundur selangkah. Menatap Salman seperti menatap makhluk luar angkasa yang tiba-tiba mendarat di lobby. Lalu menatap orang-orang yang sekarang menatap ke arah kami. Semua orang. Semua mata di lobby itu sekarang terarah ke satu titik, ke pilar besar di tengah lobby, ke Salman, ke Rendy, ke aku.
Salman berhenti tepat di depan kami.
Lagunya masih berputar. Dia menyanyikan satu baris terakhir, panjang, fals, sampai suaranya habis, dengan tangan masih terangkat ke langit-langit.
Lalu dia menekan tombol di speaker.
Musiknya berhenti.
Lobby itu tiba-tiba sangat sunyi. Sunyi yang lain dari sebelumnya. Bukan sunyi orang-orang yang pura-pura nggak lihat. Sunyi orang-orang yang sekarang melihat dengan sangat jelas dan menunggu apa yang terjadi berikutnya.
Salman menurunkan tangannya. Menoleh ke Rendy.
Wajahnya datar. Seperti biasa.
Tapi suaranya nggak.
Suaranya tenang, jelas, dan keras. Cukup keras untuk sampai ke pos satpam dua puluh meter jauhnya. Cukup keras untuk sampai ke dua kru di sofa, ke petugas kebersihan, ke tiga anak magang yang masih merekam.
“Selamat malam, Pak,” katanya. “Tadi Bapak ngomong apa ke Mbak Yura?”
Rendy membuka mulut. Menutupnya lagi.
“Ulang dong, Pak,” lanjut Salman, masih tenang. “Biar semua dengar.”
Aku belum pernah melihat seseorang kehilangan kata-kata secepat itu.
Rendy Sasongko, produser Lentera Sinema, yang tiga minggu ini mengirimiku pesan jam sebelas malam dengan kalimat-kalimat yang rapi dan manis dan menjijikkan, berdiri di tengah lobby TRAC Tower dengan wajah yang pelan-pelan berubah warna. Dari kecokelatan ke pucat ke merah.
“Saya... saya cuma ngobrol soal kerjaan,” katanya akhirnya. Suaranya kecil. “Soal program.”
“Oh, soal program.” Salman mengangguk serius. “Program apa, Pak?”
“Wajah Malam. Program baru. Mbak Yura kandidat host.”
“Oh, bagus.” Salman mengangguk lagi. “Terus tadi saya dengar Bapak bilang mau bahas di hotel. Di kamar.” Dia memiringkan kepala. “Program Wajah Malam syutingnya di kamar hotel, Pak?”
Salah satu kru outside broadcast di sofa tersedak.
“Bukan, bukan gitu—”
“Soalnya saya teknisi audio, Pak,” lanjut Salman, nggak berubah nada sedikit pun. “Kalau syutingnya di kamar hotel, saya harus siapin mic-nya dari sekarang. Kamar hotel itu akustiknya jelek. Banyak pantulan. Karpetnya nyerap frekuensi tinggi. Nanti suara Bapak jadi kedengaran kayak orang ngomong di dalam lemari.” Dia diam sebentar. “Atau kayak orang yang ngomong sesuatu yang nggak berani dia ulang di lobby.”
Hening.
Lalu, dari arah tiga anak magang di dekat resepsionis, terdengar suara. Pelan. Satu suara.
“Ih.”
Lalu suara lain. Dari arah sofa. “Gila sih.”
Lalu Pak Slamet, yang sekarang sudah berdiri sepuluh meter dari kami dengan tangan di pinggang dan pentungan di sabuk, berdeham keras.
Rendy menatap sekeliling. Ke anak magang yang masih merekam. Ke kru yang berdiri dengan tangan terlipat. Ke Pak Slamet. Ke petugas kebersihan yang sekarang memegang gagang pel seperti memegang tombak.
Ke layar LED raksasa di dinding, yang sedang memutar promo TRAC Malam, dengan wajahku yang tersenyum tenang dan tulisan Berita yang Membuatmu Paham.
“Saya... saya ada urusan,” gumamnya.
Dan dia pergi.
Dia berjalan cepat ke arah pintu putar, nggak menoleh, tangan di saku. Pintu putar berputar. Dia keluar. Dan dia sempat tersandung di anak tangga terakhir di luar pintu, satu detik limbung, sebelum menghilang di kegelapan trotoar.
Petugas kebersihan bersiul pelan. Pak Slamet menggeleng-gelengkan kepala. Tiga anak magang bertepuk tangan, ragu-ragu, lalu lebih keras.
Dan aku berdiri di samping pilar besar di tengah lobby, tangan kiriku masih di udara, di posisi tempat Rendy tadi menggenggamnya.
Gemetar.
Salman berbalik ke arahku.
Wajahnya masih datar. Tapi matanya nggak. Matanya menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki, cepat, seperti teknisi yang mengecek setiap channel setelah ada lonjakan listrik. Lalu berhenti di pergelangan tangan kiriku.
“Kamu oke?”
Dua kata itu lagi.
Kamu oke?
Dan kali ini aku nggak bisa menjawab oke. Kali ini aku nggak bisa bilang sekarang oke. Karena aku nggak oke. Tanganku gemetar. Lututku lemas. Ada sesuatu yang panas dan basah mulai naik ke belakang mataku, dan aku sudah dua tahun membaca berita tanpa sekali pun menangis di depan kamera, dan sekarang aku hampir menangis di lobby TRAC Tower di depan tiga anak magang yang memegang HP.
“Aku...” Suaraku pecah.
Salman melangkah ke samping. Bukan mendekat. Ke samping. Berdiri di antara aku dan anak-anak magang itu, memunggungi mereka, sehingga badannya, badan berhoodie ayam jago itu, menutupi wajahku dari kamera-kamera HP mereka.
“Nggak usah dijawab,” katanya pelan. Sekarang suaranya pelan. Cuma untukku. “Tarik napas dulu.”
Aku menarik napas.
“Lagi.”
Aku menarik napas lagi.
“Satu lagi. Yang panjang. Kayak mau baca berita panjang.”
Aku menarik napas panjang. Lalu mengeluarkannya pelan-pelan. Dan di napas ketiga itu, panas di belakang mataku turun sedikit. Lututku berhenti lemas.
“Bagus,” katanya.
Aku menatapnya. Dia berdiri di depanku dengan hoodie ayam jago bermahkota, speaker kaleng di tangan, helm Wati di siku, wajah datar.
“Man,” bisikku. “Kamu... nyanyi Chaiyya Chaiyya. Di lobby. Buat...”
“Itu lagu perang,” katanya serius.
“Itu bukan lagu perang. Itu lagu cinta di atas kereta.”
“Di tanganku, itu lagu perang.”
Dan aku tertawa.
Aku nggak tahu dari mana tawa itu datang. Mungkin dari tempat yang sama dengan air mata tadi, dari tempat yang sama dengan gemetar di tanganku. Tawa yang keluar pecah, basah, setengah isak, seperti tubuhku nggak bisa memutuskan mau menangis atau tertawa dan akhirnya memilih dua-duanya sekaligus.
Aku tertawa sampai harus memegang lengan hoodie-nya supaya nggak jatuh. Aku tertawa sampai air mata yang tadi aku tahan akhirnya keluar, tapi sekarang air mata itu nggak terasa seperti kekalahan. Terasa seperti sesuatu yang dilepaskan.
Salman berdiri diam. Membiarkan aku memegang lengan hoodie-nya. Badannya masih menutupi wajahku dari anak-anak magang di belakang.
Pak Slamet menghampiri kami beberapa menit kemudian.
“Mbak Yura nggak apa-apa?” tanyanya. Wajahnya khawatir. “Maaf, Mbak, saya tadi nggak lihat. Saya lagi pantau parkiran.”
“Nggak apa-apa, Pak,” jawabku. Kali ini aku bisa menjawabnya. “Makasih.”
“Mas Salman, orang tadi itu siapa? Perlu saya catat?”
“Rendy Sasongko, Pak. Produser Lentera Sinema.” Salman menyebutkannya tanpa ragu. “Bapak catat aja. Besok saya ke HR.”
“Ke HR?” Aku menatapnya. “Man, nggak usah. Nanti ribet. Dia produser Wajah Malam, kalau aku lapor, programnya bisa—”
“Programnya bisa apa?” Salman menatapku. “Programnya bisa nggak jadi? Kamu bisa nggak jadi host?”
Aku diam.
“Yura.” Dia memanggil namaku. Bukan Mbak Yura. Yura. “Program yang host-nya harus kasih sedikit ke produsernya itu bukan program. Itu jebakan yang pakai lampu studio.”
Aku nggak bisa menjawab.
“Dan kamu nggak perlu ribet,” lanjutnya. Dia mengangkat tangan kiri, menunjuk telinganya. Earbud putih di telinga kiri. “Aku yang lapor. Aku punya rekamannya.”
Aku menatap earbud itu.
“Kamu... rekam?”
“TWS ini ada mic-nya. Aku nyalain voice recorder di HP waktu aku lihat dia megang tanganmu dari tangga darurat. Dua menit empat puluh detik. Dari badan secantik ini sampai dia kesandung di pintu putar.” Dia mengangkat bahu. “Kualitasnya jelek. Tapi cukup.”
“Kamu lihat dari tangga darurat?”
“Aku mau ke parkiran. Lewat lobby. Pintu tangga darurat ada kacanya.” Dia diam sebentar. “Aku lihat kamu berbalik. Terus aku lihat tangannya. Terus aku lihat semua orang di lobby pura-pura sibuk.”
Dia menatap ke sekeliling lobby. Ke sofa, ke resepsionis, ke pintu putar.
“Orang kayak dia itu butuh sepi,” katanya pelan. “Bukan sepi beneran. Sepi yang pura-pura. Lobby yang penuh orang tapi semua orang nunduk. Kalau lobby-nya rame, kalau semua orang noleh, dia nggak bisa ngapa-ngapain.” Dia mengangkat speaker kaleng di tangannya. “Jadi aku bikin rame.”
Aku menatapnya.
Aku menatap laki-laki berhoodie ayam jago bermahkota ini, yang barusan menyanyi fals di tengah lobby TRAC Tower dengan speaker kaleng, di depan tiga anak magang yang merekam, di depan satpam dan petugas kebersihan dan kru liputan, dengan sengaja mempermalukan dirinya sendiri, supaya semua orang menoleh.
Supaya aku nggak sendirian.
“Speaker-nya,” kataku pelan. “Dari mana?”
“Jok Wati.”
“Wati punya speaker?”
“Wati punya segalanya.” Dia memasukkan speaker itu ke saku hoodie. “Speaker, sandal, jas hujan, sambal, buku mewarnai. Wati itu motor yang siap menghadapi kiamat.”
Aku tertawa lagi. Pelan. Kali ini tanpa air mata.
Sopirku datang jam setengah sepuluh.
Salman mengantarku sampai pintu putar. Dia nggak keluar. Dia berdiri di dalam lobby, di balik kaca, dengan helm Wati di siku dan tangan di saku hoodie.
Sebelum aku melangkah masuk ke pintu putar, aku berhenti.
“Man.”
“Hm.”
“Tadi, waktu kamu nanya dia... kamu manggil aku Mbak Yura.”
Dia mengangguk.
“Kamu nggak pernah manggil aku Mbak.”
Salman menatapku lama. Lampu lobby yang kuning hangat menyorot sebagian wajahnya.
“Di depan dia, kamu harus jadi Mbak Yura,” katanya. “Anchor TRAC Malam. Orang yang wajahnya ada di layar sepuluh meter itu. Orang yang nggak bisa dia panggil sembarangan, nggak bisa dia tarik tangannya, nggak bisa dia ajak ke kamar hotel.” Dia diam sebentar. “Biar dia tahu dia lagi ngomong sama siapa.”
“Terus sekarang?”
“Sekarang nggak ada dia.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Sekarang kamu Yura.”
Aku menatapnya lama.
Lalu aku masuk ke pintu putar. Pintunya berputar pelan. Aku keluar ke trotoar, ke udara malam Jakarta yang lembap dan bau knalpot. Sopirku membukakan pintu mobil.
Sebelum masuk, aku menoleh ke belakang.
Lewat kaca pintu putar, aku melihat Salman. Dia sudah berbalik, berjalan ke arah tangga darurat yang menuju basement, ke tempat Wati diparkir. Di tengah jalan, Pak Slamet menghentikannya, bicara sesuatu dengan wajah bersemangat, lalu menirukan gerakan tangan Shah Rukh Khan. Salman mengangguk serius, lalu menirukan gerakan yang sama. Mereka berdua berdiri di tengah lobby, satpam berumur lima puluh dan teknisi berhoodie ayam jago, saling memperagakan joget Bollywood.
Aku tersenyum.
Lalu aku masuk mobil, duduk di jok belakang, dan memegang pergelangan tangan kiriku. Tempat jari-jari Rendy tadi melingkar. Masih terasa sedikit dingin.
Tapi waktu aku memejamkan mata, yang aku ingat bukan jari-jari itu.
Yang aku ingat adalah Chaiyya Chaiyya yang dinyanyikan fals sekeras-kerasnya di tengah lobby yang sunyi. Hoodie ayam jago bermahkota yang berdiri di depanku, menutupi wajahku dari kamera. Suara yang bilang tarik napas dulu.
Dan satu kalimat yang dia ucapkan sambil menunjuk pintu putar, yang terus berputar di kepalaku sepanjang jalan pulang seperti lagu yang nggak mau berhenti.
Sekarang kamu Yura.
Di jok belakang mobil yang gelap, di jalan Gatot Subroto yang mulai lengang, sambil memandangi lampu-lampu kota yang lewat di jendela, aku menyadari sesuatu.
Aku nggak terbiasa.
Aku nggak pernah terbiasa.
Aku cuma nggak pernah punya orang yang mau menyanyi fals di lobby buat aku.
Dan sekarang, setelah punya, aku nggak tahu gimana caranya kembali ke lobby yang sunyi itu, tanpa berharap pintu tangga darurat terbuka lagi.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam reading
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Joget Sendirian Itu Capek
- 25 Konsol Mati
- 26 Pergi Aja, Man
- 27 Pegang Duniaku Dulu
- 28 Tiga Surat
- 29 Kepala Audio yang Baru
- 30 Klasemen Korban Salman
- 31 Gorden Terbalik
- 32 Ini Kencan
- 33 Satu Lagu, Dua Earbud
- 34 Lima Kata di Pelaminan
- 35 Yura Mundur
- 36 Bip, Bip… Bip
- 37 Lift Nomor Empat, Lagi
- 38 Satu Tower Lihat, Lagi
- 39 Pacar Kepala Audio
- 40 Bangku di Foto Ketiga
- 41 Duniamu Udah Pulang
- 42 Epilog — Ibu Nggak Bingung Lagi