← Pegang Duniaku Dulu

Chapter Thirty One

Gorden Terbalik

POV: Salman

Rapat direksi hari Kamis berlangsung di lantai dua puluh sembilan, di ruang rapat dengan meja oval yang terlalu panjang dan kursi kulit yang terlalu empuk.

Aku tenggelam sedikit di kursi itu. Masih. Tiga tahun di Tokyo nggak mengubah fakta bahwa kursi direksi didesain untuk orang yang lebih berat dariku.

Dua belas orang di meja. Pak Wiryo di ujung. Direktur keuangan, direktur pemberitaan, direktur SDM, Pak Bambang sebagai kepala divisi teknik, dan beberapa orang yang aku belum hafal namanya. Aku di kursi paling ujung, dekat pintu, dengan map biru dan laptop dan satu gelas kopi yang diantar staf finance tadi pagi tanpa aku minta.

Gelas kopi ketiga hari ini. Dari tiga orang berbeda.

Diana sudah memasukkan mereka ke klasemen.

Agenda keempat: Laporan Kinerja Triwulan Divisi Teknik.

Pak Bambang berdiri. Menyalakan proyektor. Slide-nya rapi. Font-nya Calibri. Raka sudah mengajarinya.

“Triwulan ini,” kata Pak Bambang, “divisi teknik mencatat nol insiden siaran mati, peningkatan kualitas audio Sapa Pagi dan Wajah Malam berdasarkan survei penonton, serta keberhasilan migrasi sistem master control ke konsol baru dengan catu daya terpisah.”

Slide berikutnya. Grafik batang. Garis naik.

“Seluruh pencapaian ini,” lanjut Pak Bambang, “merupakan hasil kepemimpinan kepala divisi dan koordinasi yang baik di seluruh tim teknis.”

Kepala divisi. Itu Pak Bambang.

Pak Wiryo mengangguk. Direktur keuangan mencatat sesuatu. Seseorang bilang bagus, Pak Bambang.

Tiga tahun lalu, aku akan diam.

Tiga tahun lalu, aku akan duduk di kursi yang terlalu empuk ini, menatap gelas kopi, dan membiarkan kepemimpinan kepala divisi lewat. Karena itu bukan urusanku. Karena aku cuma teknisi. Karena kalau aku bicara, semua orang akan menoleh, dan menoleh itu artinya dilihat, dan dilihat itu artinya bisa disebut cuma.

Aku mengangkat tangan.

Ruang rapat diam. Dua belas kepala menoleh ke kursi paling ujung.

“Maaf, Pak Bambang,” kataku. “Boleh saya tambahkan sedikit?”

Pak Bambang menatapku. Sesuatu lewat di wajahnya. Bukan marah. Lebih seperti orang yang sudah menduga ini akan terjadi, dan sedikit lega bahwa ini akhirnya terjadi.

“Silakan, Man.”

Aku berdiri.

Aku nggak bawa slide. Aku cuma bawa nama.

“Migrasi konsol baru dikerjakan selama empat bulan oleh Raka Aditya, Senior Audio Engineer,” kataku. “Dia kerja lembur tiga puluh dua malam. Dia bikin dokumentasi seratus sembilan halaman. Font-nya Calibri.”

Seseorang di meja tertawa kecil.

“Peningkatan kualitas audio Sapa Pagi itu karena Raka belajar dynamic processing sendiri, lewat kursus online yang dia bayar pakai gaji sendiri, karena selama tiga tahun dia sadar suara presenter pagi kadang terdengar capek dan nggak ada yang ngajarin dia cara benerinnya.”

Aku menatap Pak Wiryo.

“Nol insiden siaran mati itu karena Mas Gilang dari bagian teknik ngecek panel daya tiap Senin pagi jam lima, sebelum siaran, tanpa diminta, sejak relai yang terbakar tiga tahun lalu. Dan karena Pak Darto, OB lantai empat belas, yang bersihin debu dari ventilasi konsol tiap pagi pakai kemoceng, karena dia baca di internet debu bisa bikin elektronik panas.”

Ruang rapat sunyi.

“Saya baru pulang sebelas hari, Pak,” kataku. “Saya nggak ikut kerja apa pun di triwulan ini. Tapi saya ikut baca laporannya. Dan saya nggak nemu satu nama pun.”

Aku duduk.

Pak Bambang berdiri di depan proyektor. Lama. Lalu dia menatap slide-nya sendiri, grafik batang yang naik, kepemimpinan kepala divisi.

“Mas Salman benar,” katanya pelan. “Saya revisi laporannya.”

Pak Wiryo menatapku dari ujung meja. Tersenyum. Senyum yang sama dengan yang dia berikan waktu aku bilang soal kenop channel tujuh dari tutup pulpen.

“Saya mau nama-nama itu di laporan revisi,” kata Pak Wiryo. “Dengan rekomendasi penghargaan kuartal ini. Semuanya. Termasuk Pak Darto.”

Lalu, tepat di detik itu, sesuatu bunyi.

Dari laptopku.

Chaiyya Chaiyya. Keras. Penuh. Versi asli, bukan delapan bit. Dengan gendang dan suara kereta dan paduan suara.

Alarm.

Alarm yang aku pasang di laptop untuk mengingatkan jadwal pengecekan mic Wajah Malam jam dua siang. Aku lupa mematikan speaker. Aku lupa aku di ruang rapat direksi.

Dua belas kepala menoleh lagi.

Aku menatap laptopku. Lagu terus berputar. Paduan suara mulai masuk.

Aku menekan tombol mute. Meleset. Volumenya naik.

Direktur keuangan menutup mulut. Bahunya bergetar. Direktur SDM pura-pura batuk. Pak Bambang menatap langit-langit dengan sangat serius.

Aku akhirnya menutup laptop. Lagu berhenti.

Hening.

“Maaf,” kataku. “Itu alarm.”

“Alarm apa, Mas?” tanya Pak Wiryo. Suaranya sedikit bergetar.

“Pengecekan mic Wajah Malam, Pak. Jam dua.”

Pak Wiryo menatap jam dinding. Jam dua lewat satu menit.

“Ya sudah,” katanya. “Silakan. Jangan sampai mic Mbak Yura berdengung gara-gara rapat kita.”

Aku berdiri. Membungkuk. Sembilan puluh derajat. Kebiasaan.

Ke dua belas direktur.

Lalu aku keluar, dan di koridor, sebelum pintu menutup, aku mendengar ruang rapat direksi TRAC Tower meledak tertawa.


Raka menangis di toilet.

Aku tahu karena Pak Darto yang memberi tahu. Raka masuk toilet lantai empat belas jam tiga sore, sesudah Pak Bambang mengirim email revisi laporan ke seluruh divisi, dengan nama Raka di baris pertama. Raka belum keluar sampai jam tiga lewat dua puluh.

Aku mengetuk pintu bilik.

“Rak.”

“Bentar, Mas.”

“Nggak usah buru-buru.”

“Aku nggak nangis, Mas.”

“Oke.”

“Aku cuma lagi... membersihkan saluran air mata. Pakai air mata.”

“Itu namanya nangis, Rak.”

Hening. Lalu suara isak kecil.

“Mas nggak perlu nyebut namaku di depan direksi.”

“Perlu.”

“Kenapa?”

Aku menyandarkan punggung ke pintu bilik.

“Soalnya tiga tahun lalu, waktu konsol mati, kamu yang angkat mixer bareng aku. Kamu yang buka laci kedua. Terus Pak Bambang bilang tim teknis, terus aku bilang ke kamu dua orang juga tim.” Aku diam sebentar. “Aku salah, Rak. Dua orang itu bukan tim. Dua orang itu Salman dan Raka. Punya nama.”

Bilik itu sunyi lama.

Lalu pintunya terbuka. Raka keluar. Matanya merah. Kemejanya dikancing dengan benar, semua lubang.

Dia menatapku. Lalu dia membuka HP. Mengetuk layar. Menyodorkannya padaku.

Slide.

Latar belakang biru tua. Huruf putih. Calibri.

ANALISIS KEMUNGKINAN MAS SALMAN NGAJAK MBAK YURA KENCAN
(Volume 1)

“Rak.”

“Aku bikin dari Senin, Mas. Sebagai bentuk terima kasih.”

“Ini bukan terima kasih. Ini gangguan.”

“Ada tiga belas slide,” kata Raka, mengusap mata. “Slide tujuh soal hujan di minimarket Mampang. Mas kasirnya temenku. Dia kirim foto.”

Aku menatap Raka.

Raka menatapku.

“Hapus,” kataku.

“Volume dua udah setengah jadi, Mas.”


Yura cemburu hari Jumat.

Aku tahu karena aku mendengar sepatu haknya di koridor lantai empat belas jam sepuluh pagi, dan ritmenya salah. Bukan tujuh senti yang tenang seperti biasa. Lebih cepat. Lebih keras. Seperti orang yang berjalan ke tempat yang dia nggak mau akui dia sedang tuju.

Dia masuk ruang kontrol.

Di meja di depanku ada empat gelas kopi.

Satu dari staf finance. Satu dari staf marketing. Satu dari produser magang TRAC Prime yang aku nggak tahu namanya. Satu dari seseorang yang menaruhnya di meja waktu aku ke toilet, dengan sticky note berbentuk hati yang tulisannya cuma semangat, Pak Kepala!

Aku nggak minum kopi. Aku minum teh. Aku sudah bilang ke staf finance itu kemarin. Dia bilang besok saya bawain teh, Mas. Hari ini dia bawa kopi lagi, jaga-jaga.

Yura berdiri di depan meja. Menatap empat gelas kopi. Menatap sticky note berbentuk hati.

Lalu menatapku.

Dia memakai blus putih dengan kerah tinggi dan celana kain biru tua. Rambut dikuncir. Rapi. Presenter berita. Tapi pipinya sedikit merah, dan bukan karena blush on.

“Pagi,” kataku.

“Pagi.” Dia mengambil gelas kopi dengan sticky note hati. Mengangkatnya. Membaca tulisan di sticky note itu. “Semangat, Pak Kepala.” Dia menaruhnya kembali. Pelan. Terlalu pelan. “Ini dari siapa?”

“Aku nggak tahu. Ditaruh waktu aku ke toilet.”

“Hm.”

Dia menatap tiga gelas lainnya. Lalu duduk di kursi Raka, yang kosong karena Raka sedang di studio enam. Menyilangkan kaki. Menyilangkan tangan. Menatap monitor yang mati.

Aku menunggu.

Satu menit. Dua.

“Yur.”

“Hm.”

“Kamu kenapa?”

Dia nggak menjawab. Dia menatap monitor yang mati dengan intensitas orang yang sedang membaca berita gempa.

Lalu dia berbalik ke arahku. Menatapku tepat di mata.

“Aku cemburu,” katanya. “Udah. Aku bilang. Puas?”

Ruang kontrol sunyi.

Aku menatapnya. Pipinya merah. Dagunya terangkat sedikit, seperti menantang. Tapi tangannya, yang terlipat di dada, mencengkeram lengan blusnya sendiri sampai kainnya kusut.

Tiga tahun lalu, aku akan bilang ini cuma kopi, Yur. Atau aku akan mengalihkan ke Wati. Atau menunjuk kucing. Aku akan membuat lelucon, dan dia akan tertawa, dan kalimat aku cemburu akan lewat, seperti mobil yang lewat di lampu hijau.

Aku membuka laci meja.

Mengeluarkan voice recorder kecil. Yang aku pakai untuk merekam suara dunia, dulu, sebelum Tokyo. Yang ikut ke Tokyo dan merekam salju dan kereta dan Fumiko-baachan yang mengomel. Aku menekan tombol merah. Lampu kecil menyala.

Aku meletakkannya di meja, di antara kami.

“Belum,” kataku.

Yura menatap recorder itu.

“Ulangin pelan-pelan,” kataku. Serius. “Aku mau rekam.”

Yura membuka mulut. Menutupnya.

“Kamu gila,” katanya.

“Itu bukan yang tadi. Yang tadi aku cemburu. Ulangin.”

“Man...”

“Pelan-pelan. Biar gain-nya pas.”

Yura menatapku. Lama. Lalu menatap recorder dengan lampu merah kecil yang menyala.

Lalu dia mencondongkan badan ke depan. Pelan. Sampai wajahnya dekat dengan recorder. Dan dekat denganku. Satu jengkal.

Dia menatapku, bukan recorder-nya.

“Aku,” katanya. Pelan. Sangat pelan. Suaranya rendah, serak sedikit di ujung, suara yang bukan suara presenter berita dan bukan suara teman di malming. Suara yang aku belum pernah dengar dari dia. “Cemburu.”

Jeda.

“Sama empat gelas kopi,” lanjutnya. Lebih pelan. “Yang dikasih orang-orang yang nggak tahu kamu nggak minum kopi.”

Jeda.

“Aku tahu kamu minum teh. Manis. Tiga sendok gula. Aku tahu dari tiga tahun lalu. Aku yang pertama tahu.”

Dia mengulurkan tangan. Melewati recorder. Ke kerah kemejaku. Merapikannya. Seperti di rooftop.

“Udah kerekam, Pak Kepala?”

Aku nggak bisa menjawab.

Jari-jarinya di kerahku. Recorder di antara kami, lampu merahnya berkedip. Di monitor gain di layar laptopku, aku bisa melihat bentuk gelombang suaranya. Rendah. Hangat. Penuh di frekuensi tengah.

Suara yang bagus. Suara yang sangat, sangat bagus.

Aku menekan tombol stop.

“Udah,” kataku. Serak.

Yura melepaskan kerahku. Berdiri. Merapikan blusnya. Mengambil gelas kopi dengan sticky note hati, dan membuangnya ke tempat sampah di pojok ruang kontrol tanpa melihat.

“Bagus,” katanya. “Simpan baik-baik.”

Lalu dia keluar.

Ritme sepatunya di koridor kembali normal. Tujuh senti. Tenang. Seperti orang yang baru memenangkan sesuatu.

Aku duduk di ruang kontrol dengan recorder di tangan.

Aku memutarnya lagi. Pakai headphone. Volume pelan.

Aku. Cemburu.

Aku memutarnya tiga kali.

Lalu aku menyimpannya di folder di laptopku. Folder yang aku buat bertahun-tahun lalu, sebelum Tokyo, sebelum TIGA METER, waktu aku masih menyimpan suara-suara yang aku suka.

Folder itu namanya YANG ASLI.


Sabtu pagi, aku mengantar teh ke meja Yura.

Lantai redaksi jam delapan pagi. Hampir kosong. Yura nggak ada di mejanya. Siarannya baru nanti malam.

Aku menaruh gelas teh di mejanya. Teh manis. Tiga sendok gula. Di gelas kertas dengan tutup plastik.

Dan sticky note kuning.

Aku menggambar Wati. Dengan mata anime. Dengan bulu mata, seperti stiker yang baru. Wati sedang menyipitkan mata, seperti orang yang curiga.

Di bawahnya, aku menulis:

Wati cemburu juga. Sama empat gelas kopi. Tapi Wati nggak minum kopi. Wati minum listrik. — S.

Aku sudah tiga tahun nggak menggambar Wati di sticky note.

Ternyata tanganku masih ingat.

Aku menempelkan sticky note itu di tutup gelas teh. Lalu pergi, sebelum ada yang melihat.

Jam sembilan, Yura mengirim pesan.

Bukan teks. Foto.

Foto sticky note itu. Ditempel di layar komputernya. Di tengah. Menutupi sebagian rundown berita.

Di bawahnya, satu kalimat.

Yura: malam ini kamu kosong?

Aku: kosong. kenapa?

Yura: gorden

Aku: gorden?

Yura: apartemenku belum punya gorden
Yura: tiga tahun
Yura: aku nunggu yang masang

Aku menatap pesan itu lama.

Lalu aku membalas.

Aku: jam tujuh. aku bawa bor.


Apartemen Yura di lantai dua puluh dua.

Satu kamar. Ruang tengah yang menyatu dengan dapur. Sofa abu-abu. Rak buku yang penuh buku jurnalistik dan, di rak paling bawah, sembilan belas DVD anime yang aku tahu semuanya dari spreadsheet. Karpet bulu putih. Satu tanaman monstera yang daunnya terlalu besar untuk potnya.

Dan jendela.

Jendela besar dari lantai sampai langit-langit. Lebar tiga meter. Tanpa gorden.

Di luar, lampu Jakarta. Gedung-gedung Senopati, SCBD di kejauhan, lampu merah di puncak menara-menara. Semua menatap ke dalam.

“Tiga tahun,” kata Yura, berdiri di sebelahku, menatap jendela itu. “Tiap malam, lampu kota yang lihat aku tidur.”

“Kenapa nggak pasang dari dulu?”

Dia nggak menjawab.

Aku menatapnya. Dia sudah ganti baju. Bukan blus kerah tinggi. Hoodie ungu. Penguin ninja dengan sumpit. Hoodie yang dia pinjam tiga tahun lalu, sebelum aku pergi, dan nggak pernah dikembalikan. Lengannya digulung. Di bawah hoodie, celana pendek katun abu-abu. Kakinya telanjang di atas karpet bulu putih. Rambut digerai, masih sedikit basah.

Aku menatap hoodie ungu itu.

“Itu hoodie-ku,” kataku.

“Bukan,” kata Yura. “Ini hoodie-ku sekarang. Tiga tahun. Udah lewat masa kedaluwarsa peminjaman.”

“Ada masa kedaluwarsanya?”

“Ada. Aku yang bikin aturannya.” Dia mengambil kardus gorden dari sofa. Gorden yang dia beli tadi siang di toko furnitur di Kemang, warna krem, tebal, dengan rel dan bracket dan sekantong sekrup kecil. “Pasang, Pak Kepala.”


Aku bukan tukang.

Aku teknisi audio. Aku bisa menyolder kabel XLR dengan mata tertutup. Aku bisa mengganti baterai Wati di depan warung dalam dua jam. Tapi aku nggak pernah memasang gorden.

Dan memasang gorden, ternyata, adalah musuh alami teknisi audio.

Aku naik ke tangga lipat aluminium yang Yura pinjam dari satpam apartemen. Bor di tangan. Pensil di mulut. Bracket di saku hoodie kucing pemadam kebakaran.

Yura memegang tangga dari bawah.

Bukan memegang tangganya. Memegang betisku.

Dua tangan. Di belakang betisku. Di atas celana jeans. Hangat.

Aku menatap ke bawah.

“Yur.”

“Biar kamu nggak jatuh,” katanya. Menatap ke atas. Wajahnya serius. Terlalu serius. “Ini SOP keselamatan.”

“SOP-nya pegang tangga.”

“Tangganya stabil. Kamu yang nggak stabil.”

Aku menatap dinding. Menandai titik bor dengan pensil. Tanganku sedikit gemetar. Titiknya miring.

Aku mengebor. Debu beton beterbangan. Masuk ke mataku. Aku mengerjap.

Di bawah, tangan Yura di betisku bergerak. Sedikit. Ibu jarinya. Lingkaran kecil.

Aku mengebor lubang kedua. Meleset dua senti dari yang pertama.

“Man, itu miring.”

“Aku tahu.”

“Kenapa miring?”

“Soalnya SOP keselamatannya mengganggu konsentrasi.”

Yura tertawa. Dari hidung dulu. Aku merasakan getarnya lewat tangannya di betisku.

Tangannya nggak pindah.

Butuh satu jam lima belas menit untuk memasang tiga bracket dan satu rel. Lubang ketiga harus dibor ulang dua kali. Satu sekrup jatuh ke balik sofa dan nggak pernah ditemukan. Bor kehabisan baterai di tengah lubang keempat, dan aku harus mengecasnya pakai charger HP Yura dengan adaptor yang aku rakit dari kabel di jok Wati.

Akhirnya rel terpasang. Agak miring. Kalau dilihat dari sudut tertentu, rel itu naik dua derajat ke kanan, seperti orang yang memiringkan kepala.

Aku menggantungkan gordennya. Kain krem tebal. Kait-kait kecil di bagian atas yang harus dimasukkan satu per satu ke rel.

Aku menariknya ke tengah.

Gordennya menutup.

Lampu kota hilang. Ruang tengah tiba-tiba jadi lebih kecil, lebih hangat, lebih tertutup. Cuma lampu meja di sudut, kuning, dan bau debu beton, dan bau sampo Yura yang masih basah.

Aku turun dari tangga.

Yura menatap gorden itu. Lama.

“Man,” katanya.

“Hm?”

“Itu kebalik.”

Aku menatap gordennya. Sisi yang menghadap ke dalam ruangan adalah sisi dengan lapisan putih polos, dengan label kecil bertuliskan 100% polyester, made in China, jangan diputihkan. Sisi krem yang cantik, dengan tekstur tenun dan jahitan rapi, menghadap ke jendela. Ke lampu kota.

Aku memasangnya terbalik.

“Aku bisa betulin,” kataku. “Lepas kaitnya, balik, pasang lagi. Setengah jam.”

Aku melangkah ke tangga.

Yura menahan tanganku.

“Jangan,” katanya.

“Tapi itu terbalik.”

“Biarin.”

“Labelnya kelihatan, Yur. Jangan diputihkan.”

“Biarin.” Dia menatap gorden itu. Label kecil itu. Lalu menatapku. “Biar tiap malam aku lihat label itu, aku inget kamu yang masang. Salah.”

Dia nggak melepaskan tanganku.

“Tiga tahun aku nungguin orang yang masang,” katanya. Pelan. “Aku nggak nunggu gorden yang bener. Aku nunggu kamu.”


Kami makan mi instan.

Bukan restoran. Bukan pesan antar. Mi instan rebus, dua bungkus, di panci kecil di dapur Yura yang jelas jarang dipakai karena kompornya masih ada stiker pelindung di pinggirnya.

Yura mengeluarkan sesuatu dari freezer. Kantong plastik. Bakso beku. Lima belas butir.

“Dari Bu Nur,” katanya. “Bulan lalu. Aku simpan.”

“Kamu simpan bakso Ibu sebulan?”

“Aku simpan buat kalau kamu pulang.”

Aku memasukkan bakso beku ke panci. Lima belas. Semua. Kuah mi instan berubah jadi kaldu yang lebih dalam, lebih gurih, dengan bau yang langsung membuat dapur kecil itu terasa seperti dapur warung di Depok.

Kami makan di sofa. Dari mangkuk yang sama, karena Yura cuma punya satu mangkuk besar. Dua sendok. Gorden terbalik di depan kami, label jangan diputihkan menghadap kami seperti penonton.

Yura duduk di sebelahku. Kakinya di atas sofa, dilipat. Lututnya menyentuh pahaku.

Dia menyuapi aku bakso. Aku nggak bilang aku bisa makan sendiri.

Aku menyuapi dia mi. Dia membuka mulut tanpa diminta.

Kuah menetes di dagunya. Aku menyekanya pakai jempol.

Lalu aku berhenti.

Karena aku sadar apa yang baru aku lakukan. Jempol. Dagu. Seperti dia di malming tiga tahun lalu, dengan sambal, di depan semua orang.

Yura juga sadar.

Dia menatapku. Jempolku masih di dagunya.

Lalu dia memiringkan kepala. Sedikit. Sampai jempolku bergeser dari dagunya ke sudut bibirnya.

“Mau dijilat juga?” tanyanya. Pelan. Datar. Matanya nggak berkedip.

Aku menarik tanganku begitu cepat sampai sendok di tangan kiriku jatuh ke karpet bulu putih.

Yura tertawa. Langsung pecah. Kepala jatuh ke sandaran sofa. Kakinya menendang-nendang udara.

“Kamu,” katanya, di sela tawa, “tiga tahun di Tokyo, belajar S2, jadi kepala audio, ngomong di depan direksi, dan kamu masih jatuhin sendok.”

“Sendoknya licin.”

“Sendoknya kering, Man.”

Aku memungut sendok dari karpet. Ada bulu karpet putih yang menempel. Aku menatapnya. Lalu menatap Yura, yang masih tertawa, dengan rambut berantakan di sandaran sofa, dengan hoodie ungu yang lengannya melorot dari bahu kiri, memperlihatkan tulang selangka dan tali tank top hitam di bawahnya.

Aku menatap tulang selangka itu satu detik terlalu lama.

Yura berhenti tertawa.

Dia melihat ke mana aku menatap.

Dia nggak menarik hoodie-nya ke atas.

Ruang tengah tiba-tiba sangat sunyi. Lampu meja kuning. Gorden terbalik. AC yang berdengung pelan. Kami berdua di sofa, mangkuk mi di antara kami, dan jarak antara wajahnya dan wajahku nggak lebih dari dua jengkal.

Lalu satu jengkal.

Aku nggak tahu siapa yang mendekat. Mungkin dia. Mungkin aku. Mungkin dua-duanya, sedikit-sedikit, seperti dua fader yang digeser pelan dari dua sisi menuju titik tengah.

Aku bisa mencium bau sampo bunga. Bau kuah bakso. Bau debu beton yang masih menempel di hoodie-ku.

Aku bisa melihat bulu matanya. Panjang. Bergetar sedikit.

Aku bisa merasakan napasnya. Di bibirku.

Setengah jengkal.

Lalu aku berhenti.

Yura membuka mata. Dia sudah menutupnya. Aku nggak sadar kapan.

“Man?”

“Yur,” kataku. Suaraku bukan suaraku. Serak. Rendah. “Kalau aku cium kamu sekarang...”

“Hm?”

“...itu karena gorden.”

Yura menatapku.

“Karena gorden, dan mi, dan hoodie yang melorot, dan lampu meja yang kuning,” kataku. “Dan itu semua bagus. Itu semua bagus banget. Tapi aku nggak mau ciuman pertama kita gara-gara gorden yang aku pasang kebalik.”

Hening.

Lalu Yura menghembuskan napas. Panjang. Di bibirku. Dan aku merasakan seluruh tubuhku menegang, dari leher sampai ujung kaki, seperti senar gitar yang distem terlalu tinggi.

“Kamu,” katanya. Pelan. “Kamu tahu nggak betapa nyebelinnya kamu sekarang?”

“Tahu.”

“Aku udah nggak sopan dari hari pertama kamu pulang.”

“Aku tahu.”

“Aku udah pegang betismu satu jam.”

“Aku tahu. Aku hitung. Satu jam lima belas menit.”

Dia menatapku. Matanya berkilat. Sesuatu di antara marah dan geli dan sesuatu yang lain, yang lebih gelap dan lebih hangat dan membuat leherku panas.

“Terus kapan?” tanyanya. “Ciuman pertama yang bukan gara-gara gorden.”

Aku menarik napas.

“Sabtu depan,” kataku. “Aku jemput jam enam. Aku bawa Wati. Kita ke bioskop. Terus makan bakso. Terus aku antar pulang. Dan aku bakal bilang dari awal, biar kamu nggak bingung, itu kencan.”

“Kencan.”

“Kencan.”

“Pakai kata kencan?”

“Pakai kata kencan. Di awal. Biar resmi.”

Yura menatapku lama. Lalu dia mundur. Pelan. Menyandarkan punggung ke sofa. Menarik hoodie ungunya ke bahu. Mengambil mangkuk mi dari antara kami dan memeluknya di pangkuan.

“Oke,” katanya. “Sabtu depan.”

“Oke.”

“Tapi Man.”

“Hm?”

Dia menyendok satu bakso. Mengunyahnya pelan. Menatap gorden terbalik.

“Kalau Sabtu depan kamu nunda lagi,” katanya, “aku yang cium kamu. Di mana pun. Di depan siapa pun. Aku nggak peduli kamu udah latihan berapa kali.”

Aku menelan ludah.

“Itu ancaman?”

“Itu janji,” kata Yura. “Aku presenter berita. Aku nggak pernah bohong di depan kamera.”

“Ini bukan di depan kamera.”

Yura menoleh ke gorden. Ke label kecil. Jangan diputihkan.

“Gorden ini saksinya,” katanya.


Aku pulang jam sebelas.

Di lobby apartemen, satpam yang meminjamkan tangga menatapku. Menatap bor di tanganku. Menatap debu beton di hoodie-ku.

“Udah selesai, Mas? Gordennya?”

“Udah, Pak.”

“Lurus?”

“Nggak.”

Satpam itu mengangguk pelan, seperti mengerti sesuatu.

Di parkiran, aku duduk di atas Wati. Mesin mati.

Aku mengeluarkan HP. Membuka grup RUANG TUNGGU FC.

Ada pesan dari Diana. Dikirim jam sepuluh lewat empat puluh tujuh. Lima belas menit lalu.

Diana: Pengumuman.
Diana: Klasemen baru dibuka.
Diana: “Klasemen Kecemburuan Paling Jujur.”
Diana: Peringkat satu: Yura Kirana. Kategori: empat gelas kopi.
Diana: Sumber: Raka. Yang dapat dari Pak Darto. Yang dapat dari kuping sendiri waktu ngepel koridor.
Diana: Kutipan lengkap tersedia dalam bentuk audio. Juri belum mendengarkan. Juri akan mendengarkan.

Dino: AUDIO??????
Dino: MAN LO REKAM???
Dino: KIRIM

Erga: Jangan dikirim, Man.
Erga: Itu privasi.
Erga: Tapi kalau mau dikirim ke aku aja.

Aku menatap grup itu.

Lalu aku menulis satu pesan. Pendek.

Aku: nggak dikirim. itu masuk folder yang asli.

Aku mematikan HP. Menyalakan Wati.

Di lantai dua puluh dua, di belakangku, ada jendela dengan gorden krem yang terpasang terbalik.

Aku menengadah sebentar sebelum melaju.

Lampu di jendela itu masih menyala. Dan di balik gorden, ada bayangan seseorang. Berdiri. Diam. Menatap ke bawah, ke parkiran, ke motor putih kecil bermata anime.

Aku menekan klakson.

Chaiyya Chaiyya.

Bayangan itu mengangkat tangan.