← Pegang Duniaku Dulu

Chapter Forty

Bangku di Foto Ketiga

POV: Yura

Koenji bau kopi dan hujan.

Itu yang pertama aku catat, di catatan Yang Aku Lihat, yang sekarang punya bab baru. Bab yang judulnya aku tulis di pesawat, di atas Laut Cina Selatan, jam tiga pagi, sementara laki-laki di sebelahku tidur dengan mulut sedikit terbuka dan kepala di bahuku.

Yang Aku Lihat — Tokyo.

— Koenji bau kopi dan hujan. Dan sedikit kaldu. Mungkin itu dari dia.

Kami sampai hari Selasa siang. Cuti seminggu. Cuti pertamaku dalam empat tahun. Cuti pertamanya sejak pulang. Pak Wiryo menandatangani formulir cutinya tanpa membaca alasannya. Pemred menandatangani formulir cutiku sambil bilang bawa oleh-oleh buat redaksi, jangan cuma buat Dino.

Salman menyeret koper kecil di jalan sempit Koenji. Jalan yang lebarnya cuma cukup untuk satu mobil, dengan toko-toko kecil di kiri-kanan. Toko kaset bekas. Toko baju bekas. Kedai kopi dengan lima kursi. Tiang listrik dengan kabel yang kusut seperti rambut orang bangun tidur.

“Itu,” katanya. Menunjuk ke atas.

Lantai dua. Di atas toko kaset bekas. Jendela kecil dengan tirai putih yang sudah menguning.

“Kamar kosku,” katanya. “Tiga tahun. Enam tatami. Kamar mandinya sebesar lemari.”

“Kamu masih sewa?”

“Nggak. Udah ada mahasiswa lain.” Dia menatap jendela itu lama. “Tapi pemiliknya bilang aku boleh mampir. Dia nyimpen sesuatu buat aku.”

“Apa?”

Salman tersenyum. “Nanti.”

Dia menarik tanganku. Melewati toko kaset bekas. Ke gang di sebelahnya. Gang yang lebih sempit lagi, dengan pot-pot tanaman di depan setiap pintu dan sepeda-sepeda yang diparkir rapat.

Dan di ujung gang, di depan sebuah kedai kecil dengan tirai kain biru tua bertuliskan huruf Jepang, ada sepeda listrik.

Putih. Bulat. Kecil. Keranjang di depan. Dan di atas lampu depannya, stiker mata anime. Sedikit mengelupas di pojok, seperti kelopak mata yang mengantuk.

Aku berhenti berjalan.

“Wati Ni,” kataku.

Salman nggak menjawab. Dia cuma menatap sepeda itu dengan wajah orang yang bertemu teman lama.

Aku jongkok di depannya. Di depan Wati Ni. Seperti aku jongkok di depan Wati di bawah terpal biru, di samping warung Ibu, setiap bulan selama tiga tahun.

“Halo, Wati Ni,” kataku. “Aku kakak iparmu.”

Di belakangku, aku mendengar Salman tersedak.

“Kakak ipar?” katanya.

Aku nggak menoleh. Aku mengelus lampu depan Wati Ni.

“Kakakmu di Depok,” kataku ke sepeda itu. “Namanya Wati. Dia kangen kamu. Dia nggak tahu kamu ada. Tapi dia kangen.”

“Yur.”

“Hm?”

“Kamu barusan bilang kakak ipar.”

Aku berdiri. Berbalik. Menatapnya.

Telinganya merah. Leher belakangnya, aku bisa membayangkannya, merah.

“Iya,” kataku. “Kenapa? Salah?”

Dia membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

Lalu tirai kain biru tua di kedai itu tersibak, dan seorang nenek kecil keluar.


Fumiko-baachan delapan puluh empat tahun. Tingginya mungkin seratus empat puluh senti. Rambutnya putih, diikat sanggul kecil di atas kepala. Celemek bermotif ikan. Tangan yang keriput dan berbintik-bintik, memegang sendok sayur kayu.

Dia melihat Salman.

Dan dia memukul lengan Salman dengan sendok sayur itu. Keras.

“SARUMAN!”

Salman membungkuk. Sembilan puluh derajat. “Obāchan, tadaima.”

Fumiko-baachan memukul punggungnya yang membungkuk. Dengan sendok sayur. Lagi. Lalu lagi. Lalu dia menarik kerah hoodie Salman sampai Salman menegakkan badan, dan dia memeluknya. Di pinggang, karena dia cuma sampai pinggang. Wajahnya di perut Salman.

Dia mengomel. Dalam bahasa Jepang. Cepat. Panjang. Aku nggak mengerti satu kata pun. Tapi aku mengerti nadanya. Nada yang sama dengan Bu Nur waktu mengomel ke Salman soal makan yang nggak teratur. Nada orang yang marah karena terlalu sayang.

“Dia bilang apa?” tanyaku.

“Dia bilang aku kurus,” kata Salman. Masih dipeluk di pinggang. “Dia bilang Jakarta nggak kasih aku makan. Dia bilang aku pergi tanpa pamit yang bener. Dia bilang...” Dia berhenti. “Dia bilang dia nyimpen kursiku.”

Fumiko-baachan melepaskan pelukan. Lalu menoleh. Ke aku.

Dia menatapku dari bawah. Dari ujung sepatu sampai rambut. Lama. Sendok sayur masih di tangannya.

Lalu dia bicara. Ke Salman. Satu kalimat. Pendek.

Salman menatap nenek itu. Lalu menatapku. Wajahnya merah sampai dahi.

“Dia bilang apa?” tanyaku.

“Nggak bilang apa-apa.”

“Man.”

Salman menggaruk tengkuk.

“Dia bilang,” katanya pelan, “kamu terlalu cantik buat anak ini.”

Fumiko-baachan mengangguk keras. Seperti setuju dengan terjemahannya sendiri. Lalu dia menunjukku dengan sendok sayur, dan bicara lagi. Lebih panjang.

“Dia bilang apa lagi?”

Salman menutup wajah dengan tangan.

“Dia bilang,” katanya dari balik tangan, “tapi anak ini makan ramen saya tiga mangkuk tiap Sabtu malam selama tiga tahun sambil pesan bakso yang nggak ada di menu, dan dia selalu duduk di kursi dekat jendela sambil megang HP yang nggak pernah dia pakai buat nelepon, dan saya tanya kenapa, dan dia bilang dia lagi nunggu orang yang lagi megang dunianya. Jadi kamu pasti orang itu. Masuk. Makan. Kamu kurus juga.”

Aku menatap Fumiko-baachan.

Fumiko-baachan menatapku. Lalu menarik tanganku. Dengan tangannya yang keriput dan kecil dan sangat kuat. Ke dalam kedai.


Kedainya delapan kursi. Konter kayu panjang. Dinding yang penuh foto-foto pelanggan yang sudah menguning. Panci besar yang mengepul di belakang konter.

Fumiko-baachan mendudukkanku di kursi paling ujung. Dekat jendela.

Lalu dia menunjuk kursi di sebelahku. Dan bicara ke Salman.

“Dia bilang itu kursiku,” kata Salman. “Tiga tahun. Dia nggak kasih ke pelanggan lain kalau Sabtu malam.”

Salman duduk di sebelahku.

Dua mangkuk ramen datang lima menit kemudian. Kuah cokelat keruh. Mi kuning. Irisan daging. Telur setengah matang. Daun bawang. Dan, di pinggir mangkuk Salman, ada sesuatu yang bukan bagian dari ramen.

Bakso.

Tiga butir. Bulat. Kecil. Nggak sempurna. Seperti dibuat oleh orang yang belajar dari foto.

Salman menatap bakso itu.

“Obāchan,” katanya. Suaranya aneh.

Fumiko-baachan, di balik konter, mengangkat dagu. Dan bicara. Pendek.

Salman menunduk. Menatap mangkuknya. Lama.

“Dia bilang apa?” bisikku.

Salman nggak langsung menjawab.

“Dia bilang,” katanya, pelan, “sesudah aku pulang ke Jakarta, dia nyari resep bakso di internet. Dia bikin tiap Sabtu. Buat kursi kosong. Biar kalau aku balik, dia udah bisa.”

Aku menatap tiga bakso kecil yang nggak sempurna itu.

Lalu aku menatap Fumiko-baachan, yang sudah berbalik ke panci dan pura-pura sangat sibuk mengaduk kuah.

Lalu aku menatap Salman. Matanya basah.

Aku mengambil sendoknya. Menyendok satu bakso. Meniupnya. Pelan.

Menyodorkannya ke mulutnya.

“Aaa,” kataku.

Dia membuka mulut.

Dia mengunyah. Pelan. Lalu dia tertawa. Kecil. Di tengah air mata.

“Asin,” katanya. “Kebanyakan garam. Kayak bakso level satu yang dibikin orang yang belum pernah ke Depok.”

“Enak?”

“Enak banget.”

Di balik konter, Fumiko-baachan memukul panci dengan sendok sayur. Sekali. Keras. Seperti orang yang bilang tentu saja enak.


Ardi datang jam tujuh malam.

Laki-laki muda, dua puluh empat, kurus, kacamata tebal, jaket bertuliskan nama kampus yang sama dengan kampus Salman. Dia masuk kedai, melihat Salman, dan berhenti di ambang pintu seperti orang yang melihat hantu.

“Mas Salman?”

“Halo, Di.”

Ardi menabraknya. Seperti Dino. Seperti truk.

Dia memeluk Salman di kursi kedai ramen, dan Salman hampir jatuh, dan Fumiko-baachan memukul Ardi dengan sendok sayur karena jangan ribut di kedai.

Ardi duduk di kursi sebelahku. Dia memperkenalkan diri. Mahasiswa S2. Teknik Sipil. Dari Makassar. Tahun ketiga.

“Mbak Yura, ya?” katanya. “Yang di Wajah Malam?”

“Iya.”

“Saya nonton tiap Jumat. Lewat VPN. Di kamar.” Dia menatapku, lalu menatap Salman, lalu menatapku lagi. Wajahnya pelan-pelan berubah, seperti orang yang menyambungkan titik-titik. “Mbak... Mbak yang...”

“Yang apa?”

Ardi menatap Salman. Salman menggeleng pelan. Ardi nggak peduli.

“Dua tahun lalu, Mbak,” kata Ardi. “Saya mau berhenti kuliah. Saya nggak bisa bahasa Jepang dengan baik. Profesor saya galak. Saya nggak punya teman. Saya kangen ibu saya di Makassar. Saya udah beli tiket pulang. Pesawat jam delapan pagi.”

Aku menatapnya.

“Jam dua pagi malam sebelumnya,” kata Ardi, “saya duduk di taman deket stasiun. Sendirian. Nangis. Terus Mas Salman lewat. Bawa Wati Ni. Dia lihat saya. Dia berhenti.”

Salman menatap mangkuknya.

“Dia nggak nanya kenapa saya nangis,” kata Ardi. “Dia cuma duduk di sebelah saya. Terus dia nyalain speaker kecil dari tasnya. Terus dia nyanyi lagu India.” Ardi tertawa. “Fals, Mbak. Fals banget. Kayak kucing kejepit pintu. Jam dua pagi. Di taman. Di Tokyo. Ada polisi lewat, nanya apa ada masalah, Mas Salman bungkuk dan bilang sumimasen, kami cuma rindu kampung.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Saya ketawa sampai nggak bisa berhenti, Mbak,” kata Ardi. “Terus pagi-pagi, saya nggak jadi pulang. Tiketnya hangus. Sekarang saya tahun ketiga. Bulan depan sidang.”

Dia menatap Salman.

“Mas nggak pernah cerita ke siapa-siapa, ya?”

Salman menggaruk tengkuk.

“Itu bukan cerita aku, Di,” katanya. “Itu cerita kamu.”

Ardi menatapnya lama. Lalu menatapku.

“Mbak,” katanya. “Jaga Mas Salman, ya. Dia nggak bisa jaga dirinya sendiri. Dia cuma bisa jaga orang lain.”

Aku menatap Salman. Telinganya merah.

“Aku tahu,” kataku. “Aku udah lihat.”


Profesor Takeda menemuinya hari Kamis.

Di lab. Di kampus. Gedung kaca dan beton di pinggir kota, dengan lorong panjang yang sunyi dan pintu-pintu berat dengan tulisan DO NOT ENTER — ANECHOIC CHAMBER.

Aku menunggu di bangku lorong. Salman masuk ke ruang profesor. Pintunya nggak tertutup rapat. Aku bisa mendengar suara mereka. Bahasa Inggris dengan aksen Jepang dari Profesor Takeda. Bahasa Inggris dengan aksen Depok dari Salman.

Aku nggak bermaksud menguping. Aku reporter. Reporter nggak bisa nggak menguping.

“...the position is permanent, Salman-kun. Research lead. Your own lab. TRAC Group has already agreed to extend the cooperation. You would still be their employee. On secondment.”

Hening.

“You do not have to answer today.”

“Thank you, Sensei.”

Lalu mereka bicara soal hal lain. Soal tesis. Soal mixer analog yang terlalu sederhana. Soal Fumiko-baachan, yang ternyata juga langganan Profesor Takeda.

Aku duduk di bangku lorong. Menatap pintu anechoic chamber.

Posisi tetap. Lab sendiri. Tokyo.

Aku menghitung. Bukan hari. Bukan tahun. Aku menghitung hal-hal yang aku punya sekarang. Gorden terbalik. Sandal kuning. Helm putih berstiker kelinci kuning. Baris empat puluh satu.

Lalu aku menghitung hal yang lain. Tiga tahun di lantai apartemen. Earbud tanpa lagu. Catatan jam satu pagi.

Aku tahu caranya menunggu. Aku jago.

Salman keluar dari ruang profesor dua puluh menit kemudian. Dia melihatku di bangku. Dia tahu aku dengar. Aku melihatnya di wajahnya.

Dia duduk di sebelahku. Di bangku lorong. Di depan pintu anechoic chamber.

“Kamu dengar,” katanya.

“Aku reporter.”

“Iya.”

Kami diam.

Lalu aku bicara. Pelan. Aku sudah memikirkannya dua puluh menit. Aku sudah punya pidato. Tapi pidatonya pendek, karena aku sudah belajar bahwa pidato panjang selalu runtuh di kalimat kedua.

“Pergi kalau kamu mau, Man,” kataku. “Aku bisa nunggu lagi.”

Salman menoleh.

“Aku jago nunggu,” kataku. Aku tersenyum. Kecil. “Kamu sendiri yang bilang. Tiga tahun. Satu surat setahun. Aku bisa. Kali ini aku bisa nunggu sambil tahu jawabannya.”

Salman menatapku lama.

Lalu dia mengambil tanganku. Menggenggamnya. Dia yang menggenggam.

“Aku nggak mau kamu jago nunggu,” katanya.

Aku menatapnya.

“Aku mau kamu jago dibonceng,” katanya.

Hening.

Lalu aku tertawa. Dari hidung. Lalu pecah. Di lorong kampus Jepang yang sunyi. Seorang mahasiswa yang lewat menoleh. Salman membungkuk ke mahasiswa itu, minta maaf. Mahasiswa itu membungkuk balik, bingung.

“Kamu tolak?” tanyaku di sela tawa.

“Aku udah bilang ke Sensei,” katanya. “Barusan. Di dalam. Thank you, Sensei. But my world is in Jakarta. On the back seat of a scooter named Wati.”

“Kamu bilang my world?”

“Aku bilang my world.”

“Ke profesormu?”

“Dia ketawa,” kata Salman. “Terus dia bungkuk. Terus dia bilang I know. Fumiko-san told me.”


Jumat malam, kami pakai kimono.

Bukan yukata. Ini musim gugur. Terlalu dingin untuk yukata. Kimono sewaan dari toko kecil di dekat stasiun, yang pemiliknya, seorang ibu-ibu dengan kacamata bulat, memakaikannya padaku selama empat puluh menit sambil bicara dalam bahasa Jepang yang nggak aku mengerti dan sesekali menepuk pipiku.

Kimonoku warna biru tua dengan motif daun ginkgo kuning. Obi emas. Rambut disanggul dengan tusuk konde bunga kecil.

Salman pakai kimono pria. Abu-abu gelap. Polos.

Polos. Nggak ada gambar.

“Kamu nggak pakai yang ada gambarnya?” tanyaku di depan toko.

“Nggak ada kimono pria yang ada gambar kucing samurainya,” katanya. “Aku udah tanya.”

“Kamu tanya?”

“Aku tanya tiga toko.”

Kami nggak pergi ke festival. Nggak ada festival di malam musim gugur hari Jumat di Koenji. Yang ada cuma sungai kecil di pinggir kota, dengan jalan setapak di sampingnya, dan lampu jalan kuning, dan pohon-pohon yang daunnya mulai berguguran.

Salman membawa sesuatu dari minimarket. Bungkus plastik kecil.

Kembang api tangan. Senkō hanabi. Kembang api kecil, tipis, seperti tusuk lidi, yang ujungnya dinyalakan dan menghasilkan percikan cahaya kecil-kecil seperti bunga yang mekar dan layu dalam satu menit.

Kami jongkok di pinggir sungai. Di jalan setapak. Di bawah lampu jalan kuning.

Salman menyalakan satu. Menyerahkannya padaku.

Percikan kecil. Oranye. Seperti bintang yang jatuh dalam ukuran yang sangat kecil.

“Ini apa namanya?” tanyaku.

“Senkō hanabi,” katanya. “Kembang api yang paling kecil. Orang Jepang bilang, kalau bola apinya nggak jatuh sampai habis, permintaanmu bakal terkabul.”

Aku menatap bola api kecil di ujung lidi. Oranye. Bergetar.

“Kamu pernah nyalain sendiri?” tanyaku.

“Tiga kali,” katanya. “Tiap musim panas. Di sini. Sendirian.”

“Permintaanmu apa?”

Dia nggak menjawab.

Bola api di ujung lidiku bergetar. Bergetar. Bergetar.

Lalu jatuh.

Ke tanah. Padam.

“Yah,” kataku.

“Nggak apa...” Salman berhenti. Tertawa. “Bukan. Itu apa-apa. Kamu belum minta apa-apa, terus jatuh. Curang.”

Dia menyalakan satu lagi. Untuk dirinya sendiri.

Kami jongkok di sana. Di pinggir sungai. Kimono biru tua dan kimono abu-abu gelap. Bahu bersentuhan. Menatap bola api kecil di ujung lidi Salman.

Bergetar. Bergetar.

Nggak jatuh.

Bola api itu padam pelan. Sampai habis. Di ujung lidi. Nggak jatuh sama sekali.

Salman menatap lidi yang sudah hitam.

“Tiga musim panas,” katanya, pelan. “Tiga kali aku nyalain. Tiga kali jatuh.”

Aku menatapnya.

“Ini pertama kalinya nggak jatuh,” katanya.

“Permintaanmu apa, Man?”

Dia menoleh. Menatapku. Di bawah lampu jalan kuning. Dengan kimono abu-abu gelap yang membuatnya kelihatan seperti orang lain, dan juga persis seperti dirinya sendiri.

“Sama tiap tahun,” katanya. “Aku minta, tahun depan ada yang jongkok di sebelahku.”


Kotak sepatu ada di kamar kos lamanya.

Pemiliknya, seorang kakek pendiam yang mengelola toko kaset bekas di lantai bawah, menyerahkannya ke Salman hari Sabtu pagi. Kotak sepatu biasa. Kardus cokelat. Diikat tali rafia merah.

“Dia nyimpen,” kata Salman. “Waktu aku pindah, aku titip. Aku bilang nanti aku ambil.”

“Isinya apa?”

Salman nggak menjawab. Dia cuma memegang kotak itu. Lama. Seperti orang yang memegang sesuatu yang berat padahal kardusnya ringan.

“Nanti,” katanya. “Di bangku.”


Bangku itu di taman kecil, sepuluh menit jalan kaki dari kamar kos.

Taman kecil. Ayunan berkarat. Perosotan biru. Dua bangku kayu. Dan pohon-pohon ginkgo, tinggi, berderet di sepanjang pagar.

Daunnya kuning semua.

Kuning seperti kipas kecil. Kuning seperti stabilo. Kuning seperti hoodie nomor tujuh. Kuning yang terlalu terang untuk pagi musim gugur yang abu-abu.

Dan daun-daun itu jatuh. Pelan. Satu-satu. Menutupi tanah. Menutupi jalan setapak. Menutupi sebagian bangku kayu di bawah pohon yang paling besar.

Aku berhenti di pintu taman.

Aku tahu bangku itu. Aku tahu dari foto. Foto yang datang di surat ketiga. Amplop cokelat tanpa alamat pengirim. Bangku kosong di bawah pohon ginkgo.

Aku foto bangku kosong karena kamu belum duduk di sini.

Aku berjalan ke bangku itu. Pelan. Daun ginkgo berderak di bawah sandal kuning.

Aku duduk.

Di bangku dari foto ketiga.

Salman berdiri di depanku. Kotak sepatu di tangannya. Dia menatapku. Duduk. Di bangku yang dia foto kosong.

“Kamu duduk,” katanya. Suaranya bergetar.

“Aku duduk,” kataku.

Dia duduk di sebelahku. Menaruh kotak sepatu di pangkuanku.

“Buka,” katanya.

Aku menarik tali rafia merah. Membuka tutup kardus.

Surat.

Penuh. Kotak sepatu itu penuh surat. Amplop putih biasa, yang dibeli di minimarket, ditumpuk rapi, diikat per tahun dengan karet gelang. Tiga ikat.

Di setiap amplop, tulisan tangan yang miring ke kanan, seperti orang yang sedang berlari.

Yur.

Aku mengambil satu ikat. Melepas karetnya. Menghitung.

Sebelas.

Ikat kedua. Sebelas.

Ikat ketiga. Sebelas.

“Tiga puluh tiga,” kataku.

“Satu tiap bulan,” kata Salman. Dia menatap pohon ginkgo. Bukan aku. “Tiap bulan yang bukan bulan surat. Aku nulis. Aku nggak kirim.”

Aku menatapnya.

“Kenapa nggak dikirim?”

“Soalnya kalau aku kirim tiap bulan, aku nggak belajar sendiri,” katanya. “Aku cuma ganti dari chat ke surat. Masih nyari kamu tiap kali ada yang sakit. Jadi aku tulis. Terus aku simpan. Biar aku tahu aku bisa nulis ke kamu tanpa butuh kamu baca.”

Aku membuka satu amplop. Yang paling atas dari ikat pertama. Bulan kedua.

Yur,

Tadi aku lihat orang ketawa dari hidung di kereta. Perempuan. Umurnya mungkin lima puluh. Dia lagi baca manga. Dia ketawa dari hidung dulu, terus pecah, terus dia nutup mulut karena kereta Jepang harus sunyi.

Aku turun di stasiun yang salah.

Aku jalan kaki dua kilometer balik ke Koenji.

Nggak apa-apa. Aku cuma mau bilang itu ke seseorang.

— S.

Aku menatap surat itu.

Lalu aku membuka satu lagi. Acak. Ikat kedua. Bulan ketujuh tahun kedua.

Yur,

Aku nyanyi pakai suara asli hari ini. Di kamar mandi. Air shower nyala biar tetangga nggak dengar.

Suaranya nggak pecah di bagian reff.

Aku mau kamu dengar. Tapi kamu nggak di sini. Jadi aku rekam. Di HP. Terus aku hapus. Soalnya aku mau kamu dengar yang asli, bukan rekaman.

— S.

Aku membuka satu lagi. Dan satu lagi. Dan satu lagi.

Soal salju pertama. Soal Fumiko-baachan yang memukulnya dengan sendok sayur karena dia makan terlalu cepat. Soal Profesor Takeda. Soal Ardi di taman jam dua pagi. Soal tiket pesawat pulang yang dia beli di bulan kedua puluh delapan, lalu dia batalkan, lalu dia beli lagi, lalu dia batalkan, karena dia belum siap.

Soal helm putih berstiker kelinci kuning yang dia beli di bulan kedua puluh, tanpa menjelaskan ke siapa pun untuk siapa.

Soal bangku ini. Bulan ketiga puluh. Aku foto bangku ini kosong. Mau aku kirim di surat tahun depan. Biar kamu tahu ada tempat yang nunggu kamu duduk.

Aku nggak bisa membaca lagi.

Karena mataku penuh. Dan tanganku gemetar. Dan surat-surat itu basah di pangkuanku, di kimono biru tua bermotif daun ginkgo, di bangku dari foto ketiga.

Daun ginkgo jatuh. Di bahuku. Di rambutku. Di kotak sepatu.

“Man,” kataku. Suaraku nggak ada.

“Hm?”

“Kamu juga nunggu.”

Dia menatapku. Akhirnya. Matanya basah.

“Aku juga nunggu, Yur,” katanya. “Aku cuma nggak pernah bilang. Soalnya itu aturanku sendiri.”


Aku menaruh kotak sepatu di bangku. Di sebelahku. Hati-hati. Seperti menaruh sesuatu yang hidup.

Lalu aku berdiri. Di depannya. Di bawah pohon ginkgo.

Dia mendongak. Menatapku dari bangku.

Aku mengangkat tangan. Ke wajahnya. Ke pipinya. Ke rahangnya yang lebih jelas sekarang. Ke leher belakangnya, di bawah garis rambut, yang merah.

Lalu aku menunduk.

Supaya mataku sejajar dengan matanya. Seperti dia selalu menunduk untukku.

“Ini bangku di foto,” bisikku.

“Iya.”

“Aku duduk di sini.”

“Iya.”

“Dan kamu nggak duduk sendirian lagi.”

Dia menatapku.

Aku menciumnya.


Pelan dulu.

Seperti di lobby apartemen. Seperti dia memutar kenop gain setengah milimeter. Bibirku di bibirnya. Ringan. Asin. Dari air mataku atau air matanya. Aku nggak tahu.

Lalu dia berdiri. Dari bangku. Tanpa melepaskan ciuman. Tangannya di pinggangku, di atas obi emas, menarikku berdiri juga, dan sekarang kami berdua berdiri di bawah pohon ginkgo dan dia lebih tinggi dan dia menunduk dan aku berjinjit dan...

Nggak pelan lagi.

Tangannya naik. Ke belakang kepalaku. Ke sanggul yang dipasang ibu-ibu berkacamata bulat selama empat puluh menit. Jari-jarinya masuk ke rambutku. Tusuk konde bunga kecil jatuh ke daun ginkgo di tanah.

Aku nggak peduli.

Tanganku di kerah kimononya. Mencengkeram. Menarik. Seperti tali hoodie. Seperti di rooftop. Seperti di lobby. Seperti semuanya.

Dan dia menciumku seperti orang yang menulis tiga puluh tiga surat dan nggak mengirimnya. Seperti orang yang menyalakan kembang api tangan tiga musim panas dan melihatnya jatuh tiga kali. Seperti orang yang memotret bangku kosong karena belum ada yang duduk di sana.

Dalam. Lama. Basah oleh air mata dan napas yang nggak beraturan.

Aku membuka bibirku. Sedikit. Dan dia mengerti.

Daun ginkgo jatuh di sekeliling kami. Kuning. Seperti stabilo. Seperti hoodie. Seperti seluruh dunia berubah warna jadi satu warna yang sama.

Aku nggak tahu berapa lama.

Aku nggak menghitung.

Dia juga nggak.


Waktu kami akhirnya berhenti, napasku berantakan. Sanggulku berantakan. Kimono biru tua di bahu sedikit melorot. Bibirku terasa bengkak.

Dia menempelkan dahinya ke dahiku. Napasnya juga berantakan.

“Yur,” bisiknya.

“Hm?”

“Kata anime,” bisiknya, “cium kening itu level tiga dari sepuluh.”

Aku tahu kalimat itu. Aku pernah dengar Dino menceritakannya di grup, bertahun-tahun lalu, sebagai lelucon. Salman punya skala ciuman dari anime. Kening level tiga. Aku tahu dari mana kalimat itu berasal. Aku tahu siapa yang pertama dengar.

Aku menatapnya.

“Ini level sepuluh?” tanyaku. Pelan.

Salman menatapku lama. Dahinya masih di dahiku.

Lalu dia menggeleng.

“Bukan,” katanya. “Itu skala orang lain.”

Dia mengangkat tangan. Memungut daun ginkgo dari rambutku. Satu. Menatapnya. Menyelipkannya di balik telingaku. Telinga kiri. Di tempat earbud dulu tinggal.

“Ini level kita,” katanya. “Nggak pakai skala orang lain.”

Aku tertawa. Dari hidung dulu. Lalu pecah. Di bawah pohon ginkgo. Di bangku dari foto ketiga.

Dan dia tertawa juga. Pelan. Dengan dahi masih di dahiku.

Di bangku di belakang kami, kotak sepatu berisi tiga puluh tiga surat menunggu dengan sabar, seperti selalu.