← Pegang Duniaku Dulu

Chapter Forty One

Duniamu Udah Pulang

POV: Salman

Kedai Ruang Tunggu punya papan nama baru.

Bukan papan nama yang menggantikan yang lama. Papan nama lama masih di atas pintu, kayu cokelat dengan huruf putih yang mulai mengelupas, KEDAI RUANG TUNGGU, yang dipasang Pak Hendro dua puluh dua tahun lalu. Dino nggak mau menggantinya. Itu warisan, katanya. Warisan nggak boleh diganti. Kayak kenop tutup pulpen.

Papan nama baru ditempel di bawahnya. Kecil. Akrilik. Tulisannya dicetak di tukang stiker di Mampang.

Dikelola oleh: Dino Prasetyo (Doyan)

Pemilik: Pak Hendro (sedang di Purwokerto, jagain cucu)

Menu baru: Bakso Level Shonen • Martabak Ninja • Es Teh Isekai

Malming Ruang Tunggu FC: tiap 2 minggu, Sabtu, jam 7. Meja pojok. JANGAN DIDUDUKIN.

Aku berdiri di depan papan nama itu jam enam lewat empat puluh lima, Sabtu malam, dua minggu sesudah kami pulang dari Tokyo.

Wati di belakangku. Dicas penuh. Stiker mata anime dengan bulu mata berbinar di bawah lampu kedai.

Dan di jok belakang Wati, menunggu, seseorang dengan helm putih berstiker kelinci kuning, kaca terbuka, yang belum turun.

“Kenapa belum turun?” tanyaku.

Yura menatap papan nama itu.

“Jangan didudukin,” katanya. “Dia tulis pakai huruf kapital.”

“Dino serius soal meja itu.”

“Dino nggak pernah serius soal apa pun.”

“Dino serius soal tiga hal,” kataku. “Makanan, malming, sama meja pojok.”

Yura tersenyum. Dia turun dari Wati. Melepas helm. Rambutnya berantakan. Dia nggak merapikannya.

Lalu dia menatapku.

“Sebelum masuk,” katanya. “Ada yang mau aku kasih.”


Tapi aku duluan.

Itu yang aku putuskan di Tokyo, di bangku di bawah pohon ginkgo, waktu dia menyelipkan daun kuning di balik telinga kirinya sendiri dan bilang ini level kita.

Aku duluan. Sekali-kali.

“Bentar,” kataku. “Aku dulu.”

Yura menatapku. Curiga.

Aku mengangkat tangan. Ke telinga kiriku.

Earbud. Yang dia pasangkan di lobby TRAC Tower, di depan pintu putar, di depan satu tower, waktu dia bertanya boleh aku jadi duniamu?

Aku sudah memakainya sejak hari itu. Tiga minggu. Ke kantor. Ke Tokyo. Di pesawat. Di bangku ginkgo. Tanpa lagu. Seperti dia memakainya tiga tahun.

Sekarang aku tahu rasanya.

Rasanya bukan seperti memakai earbud. Rasanya seperti memakai seseorang.

Aku melepasnya.

Lalu aku mengangkatnya. Dengan dua jari. Pelan. Ke telinga kirinya. Menyisir rambutnya ke belakang dengan ujung jari, persis seperti di rooftop tiga tahun lalu. Menyentuh daun telinganya. Dingin, lalu hangat.

Aku memasangnya.

Yura membeku.

“Man,” katanya. “Itu duniamu. Aku udah balikin.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa...”

“Soalnya aku udah nggak butuh,” kataku.

Dia menatapku.

“Lima tahun aku pakai earbud di telinga kiri,” kataku. “Buat lagu. Soalnya dunia terlalu berisik, dan aku butuh sesuatu buat nyeimbangin. Telinga kanan buat dunia. Telinga kiri buat lagu. Biar aku nggak tenggelam.”

Aku menyentuh telinga kiriku. Yang sekarang kosong.

“Di Tokyo, dua telinga buat dunia,” kataku. “Aku belajar dengar semuanya. Yang berisik juga. Yang sakit juga. Nggak ada lagu yang nyeimbangin. Aku harus belajar nyeimbangin sendiri.”

Yura nggak bergerak.

“Sekarang,” kataku, “aku udah bisa dengar dunia pakai dua telinga tanpa tenggelam.”

Aku menunduk. Supaya mataku sejajar dengan matanya.

“Jadi earbud itu buat kamu,” kataku. “Sekarang kamu yang dengar dunia. Duniaku. Yang aku rekam lima tahun. Yang Ibu manggil Salmaaan. Yang Pak Darto bilang pagi, Mas. Yang Wati berdengung.”

Aku tersenyum.

“Aku cukup dengar kamu.”


Yura nggak bicara.

Dia berdiri di depan Kedai Ruang Tunggu, di bawah papan nama baru yang bilang JANGAN DIDUDUKIN, dengan earbud di telinga kiri dan rambut berantakan dan matanya mulai basah.

Lalu dia mengangkat tangan. Ke telinga kirinya. Menyentuh earbud itu.

“Ini curang,” katanya. Suaranya pecah.

“Kenapa curang?”

“Soalnya aku juga mau kasih sesuatu,” katanya. “Aku udah siapin dari Tokyo. Aku mau duluan. Kamu nyerobot.”

“Sekali-kali.”

“Kamu udah nyerobot di bandara. Meluk duluan.”

“Itu tiga tahun lalu.”

“Kamu nyerobot di lift. Cium duluan.”

“Itu...”

“Kamu nyerobot di bangku ginkgo. Berdiri duluan.”

Aku tertawa.

“Oke,” kataku. “Sekarang giliranmu. Kasih apa?”

Yura menatapku. Lalu dia mengeluarkan HP dari tas. Membuka sesuatu. Menyodorkannya padaku.

Catatan. Yang Aku Lihat.

Baris paling bawah. Baris yang dia tulis di pesawat, katanya, di atas Laut Cina Selatan, jam tiga pagi, waktu aku tidur di bahunya.

— Dia jongkok di sebelahku di pinggir sungai. Kembang apinya nggak jatuh.

— Permintaannya terkabul.

— Permintaanku juga.

— Aku nggak mau nunggu lagi.

Di bawahnya, satu baris lagi. Tanggalnya hari ini. Jam enam lewat tiga puluh. Lima belas menit lalu. Di atas Wati.

— Catatan ini aku tutup. Sisanya nggak perlu dicatat. Soalnya aku udah nggak takut lupa. Dia ada di sebelahku tiap hari.

Aku membaca baris itu.

Lalu aku menatap Yura.

“Kamu tutup?” tanyaku.

“Aku tutup,” katanya. “Aku kasih ke kamu. Semuanya. Dua ratus empat baris.”

“Dua ratus empat?”

“Ada yang baru. Di Tokyo.” Dia tersenyum. Miring. “Banyak yang kayak baris tiga puluh delapan.”

Telingaku panas. Leher belakangku panas.

Dia melihatnya. Dia selalu melihatnya.

“Merah,” katanya. Pelan. Puas.


Meja pojok sudah penuh waktu kami masuk.

Dino di kursi yang dulu kursi Pak Hendro, karena sekarang dia pengelola dan pengelola harus duduk di dekat dapur. Celemek bertuliskan DOYAN di atas kaus. Erga dan Diana di sisi kiri, berdampingan, Diana dengan cincin yang sudah nggak lengket dan Erga dengan aroma sabun bayi yang bisa tercium dari pintu. Cynthia di sisi kanan, dengan kemeja putih dan rambut digerai dan sandal jepit biru di kakinya.

Sandal jepit biru. Di malming. Di depan semua orang.

Pak Jono dan istrinya di meja sebelah. Diundang Dino. Biar Pak Jono denger lagi, kata Dino.

Pak Darto di meja di belakangnya, dengan Mas Ujang. Botol air mineral berisi mawar kering dari pernikahan Diana di tengah meja mereka, seperti vas.

Raka di dekat rak buku. Dengan laptop. Tentu saja dengan laptop.

Dan di kursi kosong yang tersisa, kursi di sebelah Yura, kursiku, Si Oren tidur.

Aku berdiri di depan kursi itu. Menatap Si Oren.

“Ren,” kataku. “Itu kursiku.”

Si Oren membuka satu mata. Menatapku. Menutupnya lagi.

“Dia udah di situ dari jam lima, Man,” kata Dino. “Gue udah coba pake ikan teri. Dia makan terinya, terus tidur lagi.”

Aku menatap Si Oren lebih lama.

Lalu aku mengangkatnya. Pelan. Dengan dua tangan. Seperti mengangkat figure edisi terbatas dari alasnya.

Si Oren nggak protes. Dia menggeliat sedikit. Lalu, waktu aku duduk, dia naik ke pangkuanku. Melingkar. Tidur lagi.

Yura, di sebelahku, menatap Si Oren di pangkuanku.

Lalu dia mengulurkan tangan. Dan menggaruk telinga Si Oren. Pelan.

Si Oren mendengkur.

“Dia suka kamu,” kataku.

“Dia suka pangkuanmu,” kata Yura. “Kita punya selera yang sama.”

Diana mengetuk meja dengan pulpen. Tiga kali.


“Sebelum kita mulai,” kata Diana, “aku harus membacakan pengumuman terakhir.”

Dia membuka buku catatan batik. Halaman yang ditandai pembatas berbentuk tengkorak.

“Klasemen Hoodie Salman Haikal,” bacanya. “Edisi penutup. Juri memutuskan menutup klasemen ini malam ini, karena hoodie Salman Haikal sudah nggak memalukan lagi. Hoodie Salman Haikal sekarang dipakai di balik blazer kepala divisi. Dan itu, menurut juri, adalah kekalahan terbesar dalam sejarah klasemen.”

Erga mengangguk khidmat.

“Peringkat lima,” kata Diana. “Kucing pemadam kebakaran. Hoodie pertama sesudah pulang dari Tokyo. Edisi terbatas Jepang. Juri nggak bisa memberi nilai tinggi karena juri harus mengakui gambarnya lucu.”

“Peringkat empat: rubah berkacamata. Dipakai di kencan pertama. Juri tidak hadir di kencan pertama. Juri menilai berdasarkan laporan Raka. Juri curiga laporan Raka bias.”

Raka mengangkat tangan dari dekat rak buku. “Bias positif, Mbak.”

“Peringkat tiga: kucing samurai. Hoodie yang menyebar ke seluruh divisi marketing. Juri menghormati dampak sosialnya. Juri juga ingin tahu kenapa hoodie ini dipakai di hari Cynthia siaran pengakuan.”

Cynthia, di ujung meja, tersenyum.

“Peringkat dua,” kata Diana. “Hoodie nomor tujuh.”

Aku menatap Diana.

“Kuning stabilo. Karakter anime yang berteriak tolong saya.” Diana menatapku. “Dipakai di gala. Dipakai di bandara. Dipakai di hari Salman Haikal ditanya boleh aku jadi duniamu? di depan pintu putar. Dipotong jadi jubah untuk Kapten Kaldu.” Dia diam sebentar. “Hoodie ini dinyatakan pensiun dari klasemen dan dipindahkan ke Hall of Fame.”

“Hall of Fame di mana, Di?” tanya Dino.

“Gantungan baju di belakang pintu kamar Salman,” kata Diana. “Juri sudah konfirmasi ke Bu Nur.”

Dia membalik halaman.

“Peringkat satu,” katanya. Suaranya berubah. Sedikit lebih pelan. “Bukan hoodie yang dipakai Salman.”

Meja pojok hening.

“Juri membuat keputusan kontroversial,” lanjut Diana. “Hoodie yang menang adalah hoodie yang dipinjam tiga tahun lalu dari jok Wati di basement B2. Belum dicuci. Yang dipakai ke lantai redaksi di atas kemeja putih dan rok pensil. Yang diciumi di toilet sampai staf finance lapor ke Dino.” Dia menatap Yura. “Yang dipakai tiap kali surat dari Koenji datang. Duduk di lantai. Di depan jendela tanpa gorden. Tiga tahun.”

Yura menutup mulut dengan tangan.

“Peringkat satu,” kata Diana. “Hoodie ungu. Penguin ninja dengan sumpit. Dipakai Yura Kirana. Tiga tahun. Di apartemen yang nggak ada siapa-siapa.”

Hening.

Lalu Dino bertepuk tangan. Keras. Erga ikut. Pak Jono di meja sebelah ikut, meskipun dia nggak tahu soal hoodie apa. Pak Darto ikut. Cynthia ikut, dari ujung meja, keras, dengan senyum yang nggak ditutup.

Yura menangis. Di sebelahku. Tangannya di mulut.

“Alasan juri,” kata Diana, di tengah tepuk tangan. “Lima kata.”

Dia mengangkat tangan.

Satu jari. “Hoodie.”

Dua jari. “Yang.”

Tiga jari. “Paling.”

Empat jari. “Lama.”

Lima jari. “Ditunggu.”

Diana menurunkan tangan. Menutup buku catatan.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun malming, Diana menambahkan kata keenam.

“Pulang,” katanya.

Hening.

“Itu enam kata, sayang,” kata Erga pelan.

“Aku tahu,” kata Diana. Datar. “Juri boleh melanggar aturannya sendiri satu kali seumur hidup. Juri memakainya malam ini.”


Jam delapan, Dino minta aku menyanyi.

“Satu lagu aja, Man,” katanya. Dari kursi pengelola, dengan celemek DOYAN, dengan sendok di tangan. “Penutup klasemen. Penutup... penutup semuanya.”

Aku menatap Yura.

Yura menatapku. Lalu dia mengeluarkan HP. Membuka folder.

Lift 4.

Satu file. Satu menit empat puluh detik.

“Bareng?” bisiknya.

Aku mengerti.

Aku mengangguk.

Aku berdiri. Si Oren, di pangkuanku, protes. Lalu, alih-alih kabur seperti biasa, dia melompat ke pangkuan Yura. Dan tidur lagi.

Aku berdiri di depan meja pojok. Bukan di atas kursi. Bukan di panggung. Di lantai kedai, di depan rak buku, di bawah lampu kuning.

Raka menatapku dari dekat rak. Lalu dia menutup laptop. Pelan. Dan mematikan speaker kedai yang memutar musik latar.

Hening.

Yura mengetuk layar HP-nya.

Dan dari speaker HP-nya, kecil, sedikit berdesis, rekaman berumur lima tahun mulai berputar.

Suara laki-laki. Menyanyi di dalam gelap. Pelan. Bersih. Tujhe Dekha To.

Suaraku. Lima tahun lalu. Di lift nomor empat. Sebelum fals.

Aku mendengarkannya. Satu detik. Dua detik. Mendengar diriku yang dulu, yang belum tahu soal Tokyo, belum tahu soal TIGA METER, belum tahu soal cuma teknisi. Yang menyanyi dengan suara asli karena dia pikir suara yang bagus bisa menenangkan orang yang takut.

Lalu aku membuka mulut.

Dan aku menyanyi bersamanya.


Dua suara.

Satu dari HP. Kecil. Berdesis. Lima tahun lalu. Di gelap. Di depan enam orang asing.

Satu dari aku. Di sini. Sekarang. Di bawah lampu kuning. Di depan enam orang yang bukan orang asing lagi.

Nadanya sama. Napasnya hampir sama. Tapi ada yang beda, dan aku bisa mendengarnya, karena aku teknisi audio dan aku bisa mendengar segalanya.

Suara yang lima tahun lalu sedikit gemetar di frekuensi tengah. Seperti orang yang nggak yakin.

Suara yang sekarang nggak.

Di detik ke-seratus, di rekaman, ada suara isak kecil. Seseorang di lift yang takut. Cynthia, mungkin. Atau Dino.

Lalu, di detik ke-seratus satu, suara di rekaman berhenti.

Dan berganti jadi fals.

Keras. Ancur. Seperti panci jatuh.

Di rekaman, Dino tertawa.

Dan aku, di sini, sekarang, nggak berhenti.

Aku nggak ikut fals. Aku terus menyanyi pakai suara asli, di atas suaraku sendiri lima tahun lalu yang fals, di atas tawa Dino lima tahun lalu, sampai rekamannya habis di detik ke-seratus empat, dan yang tersisa cuma aku.

Suara asli. Sendirian. Sampai akhir lagu.

Sampai bagian reff. Yang tinggi. Yang lima tahun lalu aku tinggalkan.

Aku naik.

Suaraku nggak pecah.


Kedai Ruang Tunggu sunyi.

Lalu aku mendengar Dino.

Bukan tertawa. Menangis. Dari kursi pengelola. Dengan celemek DOYAN. Dengan sendok di tangan. Menangis seperti di bandara tiga tahun lalu, seperti di malming reuni, seperti di pernikahan Diana. Keras. Tanpa malu.

“Detik seratus empat,” katanya. “Itu gue. Yang ketawa. Gue nggak tahu ada yang rekam.”

Erga merangkulnya.

Diana menatap meja. Bahunya bergetar. Tangannya mencengkeram buku catatan batik.

Pak Jono berdiri dari kursinya. Topinya di dada. Istrinya menangis ke kerudung bunga-bunga.

Pak Darto memeluk botol air mineral berisi mawar kering.

Raka, di dekat rak buku, sudah membuka laptopnya lagi. Bukan untuk slide. Dia cuma menatap layar kosong, dan air matanya jatuh ke keyboard.

Cynthia.

Di ujung meja. Dengan sandal jepit biru.

Dia menatapku.

Dia nggak menangis. Dia tersenyum. Pelan. Dengan mata yang basah tapi nggak tumpah.

Lalu dia mengangkat tangan. Pelan.

Dan mengetuk meja. Dua kali.

Tok. Tok.

Seperti dua bip.

Iya.


Si Oren nggak kabur.

Aku melihatnya. Di pangkuan Yura. Matanya terbuka. Menatapku. Telinganya tegak.

Lima tahun Si Oren kabur setiap kali aku menyanyi. Ke rumah tetangga. Lewat celah pagar. Diana pernah memasukkannya ke klasemen. Klasemen Kecepatan Si Oren Kabur Saat Salman Nyanyi. Rekor: empat koma dua detik.

Malam ini, Si Oren nggak kabur.

Dia menatapku. Lalu mendengkur. Keras. Di pangkuan Yura.

Lalu dia melompat turun. Berjalan ke arahku. Pelan. Dengan ekor tegak.

Dan duduk di atas sepatuku.

Melingkar. Di kakiku. Dan tidur.

Aku menatap kucing oranye di atas sepatuku.

“Kamu juga, Ren,” kataku.


Yura berdiri.

Dia berjalan ke arahku. Dengan earbud di telinga kiri. Dengan rambut yang masih berantakan dari helm. Dengan mata merah dan senyum yang miring.

Dia berhenti di depanku. Hati-hati, karena ada Si Oren di sepatuku.

Dia mengangkat tangan. Ke kerah hoodie-ku. Hoodie biru tua. Rubah berkacamata.

Dia nggak menarik talinya.

Dia cuma memegang kerahnya. Merapikannya. Seperti di rooftop. Seperti di bandara.

“Itu suara asli,” katanya. Pelan.

“Iya.”

“Lima tahun lalu, kamu berhenti di detik seratus satu.”

“Iya.”

“Malam ini kamu nggak berhenti.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Aku menatapnya.

“Soalnya lima tahun lalu, suara yang bagus bikin orang takut,” kataku. “Malam ini, nggak ada yang takut.”

Yura menatapku lama.

Lalu dia menciumku.

Di Kedai Ruang Tunggu. Di depan meja pojok. Di depan Dino yang menangis, Erga yang merangkul, Diana yang menggenggam buku catatan, Cynthia dengan sandal jepit biru, Pak Jono dan istrinya, Pak Darto dan Mas Ujang dan botol mawar kering, Raka dan laptopnya yang basah.

Di depan Si Oren, yang tidur di atas sepatuku.

Pelan. Hangat. Nggak lama.

Ciuman orang yang nggak perlu buru-buru, karena besok masih ada. Dan lusa. Dan malming berikutnya, dua minggu lagi, di meja pojok yang JANGAN DIDUDUKIN.

Waktu dia menarik diri, meja pojok meledak.

Dino berdiri di atas kursi pengelola. Erga bersiul. Pak Jono memukul meja. Raka menutup laptop dengan bunyi yang terlalu keras.

Dan Diana, di tengah semua itu, membuka buku catatan batik. Menulis satu kata. Menutupnya.

“Najis,” katanya.

Lalu dia tersenyum.

Lebar. Di depan semua orang. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun malming, senyum Diana Puspitasari lebih dari dua milimeter.

Erga menatap istrinya. Lalu menangis lagi.


Malam itu, jam dua belas, aku sampai di Depok.

Ibu sudah tidur. Dapur sudah gelap. Masih bau kaldu, seperti selalu.

Aku nggak langsung masuk kamar. Aku duduk di bangku plastik biru di depan warung, di bawah atap seng. Di bangku yang sama dengan malam waktu Yura datang membawa martabak keju cokelat dan bilang aku nggak mau ngomong apa-apa.

Wati di sebelahku. Mesin mati. Dicas di stopkontak warung.

Aku mengeluarkan HP. Membuka spreadsheet. Kurikulum Anime.

Baris empat puluh. Sendirian juga bisa. — C.

Baris empat puluh satu. Ditonton bareng.

Aku menggulir ke bawah.

Baris empat puluh dua. Kosong.

Aku menatapnya.

Lalu aku mengetik.

Baris 42 — Buat Wati dan Wati Ni.

Judul: belum ada.

Genre: keluarga.

Kenapa harus ditonton: soalnya mereka kakak beradik yang belum pernah ketemu. Suatu hari nanti, Wati Ni dikirim dari Koenji. Kalau ongkos kirimnya udah cukup. Sementara, mereka nonton anime yang sama dari dua kota. Kayak orang yang megang dunia satu sama lain dari jauh.

Aku menyimpannya.

Lalu aku menatap Wati.

“Wat,” kataku. “Kamu punya adik.”

Lampu depan Wati berkedip sekali. Mungkin karena tegangan.

Mungkin karena dia bilang aku tahu.

Aku menyandarkan kepala ke tiang warung. Menatap langit Depok yang nggak ada bintangnya karena polusi.

Telinga kiriku kosong. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, nggak ada earbud di sana.

Tapi aku bisa mendengar semuanya.

Jangkrik di semak-semak. Motor lewat di jalan depan. Radio kecil di rumah tetangga memutar dangdut. Dengung Wati yang dicas.

Dan dari HP-ku, getar pesan.

Yura: udah sampe?
Aku: udah
Yura: aku lagi dengerin duniamu
Yura: ibumu manggil salmaaan
Yura: pak darto bilang pagi mas
Yura: dino ketawa
Yura: diana bilang najis
Aku: itu rekaman lama
Yura: aku tahu
Yura: tapi sekarang ada yang baru
Yura: aku tambahin
Aku: tambahin apa?

Titik-titik mengetik. Lama.

Lalu sebuah file audio. Durasi tiga detik.

Aku memutarnya.

Suara Yura. Rendah. Hangat. Penuh di frekuensi tengah. Dekat sekali dengan mic. Seperti dia berbisik di telingaku.

Aku sayang kamu, Man.

Tiga detik.

Aku memutarnya lagi.

Lalu aku menyimpannya. Di folder di laptopku. Folder yang aku buat bertahun-tahun lalu, sebelum Tokyo, sebelum TIGA METER, waktu aku masih menyimpan suara-suara yang aku suka.

YANG ASLI.

Lalu aku mengetik balasan. Sesuatu yang nggak pernah aku ketik ke siapa pun. Bukan dari anime. Bukan perbandingan bakso level sembilan. Bukan nggak apa-apa.

Aku: aku juga sayang kamu, yur

Kirim.

Punyaku. Orisinal.

Titik-titik mengetik. Muncul. Hilang. Muncul. Hilang.

Yura: 🙈
Yura: aku tutup muka pakai hoodie ungu
Yura: jangan tanya kenapa

Aku: nggak nanya

Yura: tidur man
Yura: besok sarapan bakso
Yura: aku tunggu di lobby jam 7.10
Yura: aku turun 5 menit lebih awal biar bisa lihat kamu dateng

Aku: aku dateng 1 menit lebih awal
Aku: biar kamu nggak nunggu lama

Yura: aku jago nunggu

Aku: aku tahu
Aku: tapi kamu nggak perlu lagi

Aku mematikan HP.

Masuk ke kamar. Tiga kali tiga meter. Kasur busa di lantai. Peta Kalimantan di langit-langit. Foto Bapak di dinding.

Di belakang pintu kamar, di gantungan baju, ada hoodie kuning stabilo. Nomor tujuh. Yang berteriak tolong saya. Hall of Fame, kata Diana.

Aku berbaring.

Lalu aku bersenandung. Pelan. Ke langit-langit yang ada peta Kalimantannya.

Tujhe Dekha To. Suara asli.

Dari kamar sebelah, lewat dinding tipis, aku mendengar Ibu ikut bersenandung.

Fals.

Supaya aku tahu dia dengar.