← Pegang Duniaku Dulu

Chapter Thirty Two

Ini Kencan

POV: Yura

Sabtu itu malming.

Aku baru sadar hari Rabu, waktu Diana mengirim pengingat di grup seperti biasa, dua minggu sekali, jam sembilan pagi, dengan format yang nggak pernah berubah selama lima tahun.

Diana: Malming. Sabtu. Jam 7. Meja pojok. Hadir atau beri alasan tertulis.

Aku menatap pesan itu. Lalu menatap kalender di HP, di mana aku sudah menulis SABTU — JAM 6 — KENCAN (dia yang bilang kencan) dengan tiga emoji yang aku nggak akan pernah akui pernah aku pakai.

Lalu aku mengetik. Alasan tertulis.

Aku: Aku nggak bisa datang Sabtu ini.
Aku: Ada kencan.

Grup sunyi selama empat menit.

Lalu:

Dino: KENCAN????
Dino: SAMA SIAPA????
Dino: YUR JAWAB
Dino: YUR

Erga: Din, kamu tahu sama siapa.

Dino: GUE TAHU TAPI GUE MAU DENGER

Diana: Alasan tertulis diterima.
Diana: Salman juga nggak hadir, aku asumsikan.

Salman: nggak hadir. kencan.

Dino: AAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Diana: Dispensasi diberikan untuk dua anggota.
Diana: Dengan syarat laporan lengkap hari Senin.
Diana: Lisan. Tertulis. Dan kalau ada, foto.
Diana: Juri akan menilai.

Cynthia: 👍

Aku menatap jempol kecil itu lama. Satu emoji. Dari Cynthia. Tanpa kata-kata.

Lalu aku menutup grup dan menaruh HP di meja dengan layar menghadap ke bawah.


Sabtu, jam lima sore, aku sudah ganti baju empat kali.

Dress hitam: terlalu serius, kayak mau ke pemakaman yang mewah. Blus putih dengan rok: terlalu kantor, kayak mau wawancara narasumber. Jeans dan kaus: terlalu santai, kayak nggak peduli. Dress merah: terlalu... merah.

Aku berdiri di depan cermin dengan dress merah. Selutut. Tali tipis di bahu. Pas di pinggang. Aku membelinya dua tahun lalu untuk acara penghargaan jurnalistik dan nggak pernah memakainya karena di detik terakhir aku merasa terlalu berani.

Aku menatap pantulanku.

Lalu aku ingat janjiku di rooftop. Aku nggak bakal sopan lagi.

Aku memakai dress merah.

Dengan cardigan rajut krem di atasnya, karena dibonceng Wati malam-malam di Jakarta itu dingin. Dan sepatu hak tali tujuh senti yang bagus untuk berdiri di depan kamera dan sangat buruk untuk hal lain.

Jam enam kurang lima, aku turun ke lobby apartemen.

Jam enam tepat, Wati masuk ke drop-off.


Dia memakai hoodie.

Bukan di balik blazer. Hoodie saja. Biru tua, dengan gambar di dada: seekor rubah yang memakai kacamata baca dan memegang buku tebal, duduk di atas tumpukan buku lain. Di bawahnya, celana jeans gelap. Sepatu kets putih. Rambut yang dipangkas rapi, disisir ke belakang dengan jari.

Dia turun dari Wati. Melihatku.

Dan dia berhenti.

Lama.

Matanya turun. Dari wajahku. Ke tali tipis di bahu, yang kelihatan di bawah cardigan yang sengaja nggak aku kancingkan. Ke pinggang. Ke rok selutut. Ke kaki. Ke sepatu hak tali. Lalu naik lagi, pelan-pelan, sampai ke wajahku.

Telinganya merah. Dari cuping, naik ke atas.

Lalu leher belakangnya. Aku nggak bisa melihatnya dari sini, tapi aku tahu. Aku punya catatan.

“Halo,” kataku.

Dia menelan ludah. Aku melihat jakunnya. Naik. Turun.

“Ini kencan,” katanya.

Aku menatapnya.

“Aku bilang di depan,” lanjutnya. Suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya. “Biar kamu nggak bingung. Ini kencan. Bukan malming. Bukan nganter pulang. Bukan masang gorden. Kencan. Bioskop anime, terus bakso, terus Wati. Wati udah dicas penuh, dia semangat.”

Wati, di belakangnya, berkedip lampu depannya sekali. Mungkin karena tegangan.

“Oke,” kataku.

“Oke,” kata Salman. Lalu, setelah jeda: “Kamu pakai merah.”

“Iya.”

“Aku nggak siap merah.”

“Aku tahu,” kataku. “Itu kenapa aku pakai.”


Bioskopnya di Blok M.

Film anime yang baru tayang. Tentang dua orang yang bertukar surat lewat kotak pos tua di stasiun kecil di pedesaan, dan mereka nggak pernah bertemu, dan mereka nggak tahu bahwa mereka hidup di dua tahun yang berbeda. Salman yang memilih. Dia bilang dia sudah menunggu film ini sejak pengumumannya di Tokyo, dua tahun lalu.

Aku curiga dia memilihnya karena alasan lain.

Kursi kami di baris F, tengah. Bioskop setengah penuh. Kebanyakan pasangan muda dan mahasiswa dengan merchandise anime.

Lampu meredup.

Aku menyandarkan kepala ke bahunya di menit kesebelas.

Dia nggak membeku. Dia menggeser sedikit, ke bawah, supaya bahunya sejajar dengan kepalaku. Lalu diam.

Di menit kedua puluh tiga, ada adegan di mana tokoh perempuannya menemukan surat pertama di kotak pos. Dia membacanya di bawah hujan. Tintanya luntur.

Aku merasakan sesuatu di tanganku.

Salman. Mengambil tanganku dari pangkuanku. Pelan. Dan memasukkannya ke saku depan hoodie-nya. Saku besar di perut, yang menyambung dari kiri ke kanan.

Di dalam saku, tangannya sudah menunggu.

Dia menggenggam tanganku. Di dalam saku. Jari-jarinya di antara jari-jariku.

Dia yang menggenggam.

Aku menatap layar. Aku nggak melihat apa pun di layar. Tokoh-tokohnya bergerak, bicara, menangis. Aku nggak tahu apa yang mereka katakan. Yang aku tahu cuma tangan di dalam saku, hangat, kasar di ujung jari, ibu jarinya bergerak pelan di punggung tanganku.

Di menit keempat puluh, aku memiringkan kepala. Dari bahunya ke lehernya. Bibirku dekat dengan telinganya.

“Man,” bisikku.

“Hm.”

“Kamu tahu film ini soal apa?”

“Surat,” bisiknya balik. “Dua orang yang cuma bisa saling kirim surat.”

“Kamu sengaja milih ini.”

Dia diam.

“Tiga surat,” bisikku. Lebih pelan. Bibirku menyentuh daun telinganya. Sengaja. Sedikit. “Satu tahun satu. Nggak ada alamat pengirim. Aku nggak bisa bales.”

Tangannya di dalam saku mengencang.

“Kamu tahu apa yang aku lakuin tiap kali surat dateng?” bisikku.

“Apa?”

“Aku pakai hoodie ungu. Duduk di lantai. Pasang earbud kirimu.” Aku berhenti. Lalu, lebih pelan lagi, sampai hampir cuma napas: “Terus aku baca suratnya sambil bayangin suaramu. Di telingaku. Dari dekat. Kayak sekarang.”

Salman berhenti bernapas.

Aku bisa merasakannya. Dadanya, yang tadi naik turun pelan di bawah pipiku, berhenti. Satu detik. Dua. Tiga.

Lalu dia menghembuskan napas. Panjang. Gemetar.

“Yur,” bisiknya. “Ini bioskop.”

“Aku tahu.”

“Ada mahasiswa di sebelah.”

Aku melirik. Mahasiswa di sebelah kiri Salman, cowok dengan kaus anime, sedang menatap layar dengan mulut terbuka, makan popcorn tanpa berkedip. Dia nggak peduli.

“Dia lagi nangis,” bisikku. “Liat. Tokohnya baru tahu suratnya dari masa depan.”

Salman menoleh ke layar. Lalu ke mahasiswa itu. Mahasiswa itu memang menangis. Ingus di popcorn.

“Oke,” bisik Salman.

“Oke apa?”

“Oke, kamu boleh terus,” katanya. “Tapi pelan-pelan. Aku masih mau nonton endingnya.”

Aku tertawa di lehernya. Dari hidung. Pelan, supaya nggak kedengaran. Aku merasakan dia tersenyum, dari cara otot di lehernya bergerak di bawah bibirku.

Aku nggak bilang apa-apa lagi sepanjang film.

Tapi aku juga nggak memindahkan bibirku dari lehernya.

Dan dia nggak memintaku memindahkannya.


Waktu keluar dari bioskop, kakiku sakit.

Sepatu hak tali tujuh senti. Dua jam duduk, lalu berjalan dari teater ke parkiran di mal yang lantainya marmer licin. Talinya menggesek pergelangan kaki kanan. Kulitnya lecet. Merah. Ada sedikit darah di tali.

Aku nggak bilang apa-apa. Aku presenter berita. Aku sudah berdiri tiga jam di sepatu yang lebih jelek dari ini. Aku jalan biasa.

Salman berhenti di tengah lobby mal.

“Duduk,” katanya.

“Apa?”

“Duduk.” Dia menunjuk bangku di depan toko jam tangan. “Kaki kananmu lecet.”

“Aku nggak...”

“Kamu jalan dengan berat ke kiri tujuh persen lebih dari biasanya. Ritme sepatumu salah sejak keluar teater. Dan tadi di eskalator kamu narik napas pendek dua kali.”

Aku menatapnya.

“Kamu ngitung ritme sepatuku?”

“Aku selalu ngitung ritme sepatumu,” katanya. Serius. “Sejak tiga tahun lalu. Aku bisa tahu kamu dateng dari ujung koridor lantai empat belas. Tujuh senti. Pelan. Kayak orang yang dunianya biasanya nunggu dia.”

Aku duduk.

Bukan karena kakiku sakit. Karena lututku tiba-tiba nggak bisa menahan.

Salman berjongkok di depanku. Di lobby mal. Di depan toko jam tangan. Orang-orang lewat dan menoleh. Satu kelompok anak SMA berhenti dan berbisik, dan aku mendengar salah satunya bilang itu Mbak Yura yang di TV, kan?

Salman membuka tali sepatuku. Pelan. Menurunkan sepatu itu dari kakiku.

Lalu dia membuka ransel kecil yang dia bawa. Mengeluarkan sesuatu.

Sandal jepit.

Kuning. Baru. Masih ada label harganya di bawah. Ukuran tiga puluh tujuh.

“Kamu bawa sandal,” kataku.

“Aku beli tadi siang. Di Ace Hardware.”

“Kenapa?”

“Soalnya aku tahu kamu bakal pakai sepatu yang bagus,” katanya. Dia memasangkan sandal itu ke kaki kananku. Lalu ke kaki kiriku. “Dan sepatu yang bagus selalu jahat.”

Aku menatap sandal kuning di kakiku. Di bawah dress merah. Di lobby mal.

Aku tahu soal sandal jepit biru.

Semua orang di circle tahu. Malming hampir empat tahun lalu, di bulan-bulan waktu Cynthia masih pakai hak sebelas senti ke mana-mana. Kakinya lecet, dan dia menyembunyikan tumitnya di bawah meja. Salman yang keluar sebentar ke Wati dan kembali dengan sandal jepit biru, dan menaruhnya di bawah meja tanpa bilang apa-apa. Baru dipake ke masjid sekali.

Sandal biru itu punya Cynthia.

Sandal kuning ini baru. Masih ada labelnya. Belum pernah dipakai ke mana pun.

Salman berdiri. Memasukkan sepatu hak taliku ke ransel. Lalu menatapku.

“Ini bukan sandal yang sama,” katanya. Pelan. Seperti dia membaca pikiranku. “Aku nggak mau ngasih kamu sandal yang sama. Kamu bukan yang sama.”

Aku nggak bisa bicara.

Jadi aku berdiri. Dengan sandal kuning dan dress merah. Dan aku mengambil tangannya, dan aku memasukkannya ke saku cardigan-ku. Saku kecil. Terlalu kecil untuk dua tangan.

Kami berjalan ke parkiran dengan dua tangan yang berdesakan di saku cardigan yang terlalu kecil.

Anak-anak SMA di belakang kami memotret.

Aku nggak peduli.


Baksonya di gerobak di pinggir jalan Melawai.

Bukan restoran. Gerobak. Dengan bangku plastik merah dan meja lipat yang goyang dan bapak-bapak penjual yang menyendok kuah dengan gerakan yang sudah dia lakukan sejuta kali.

Salman memesan level sembilan. Bapak penjual nggak punya level. Dia cuma punya sambal di toples dan sendok.

“Sembilan sendok, Pak,” kata Salman.

Bapak itu menatapnya. “Mas yakin?”

“Yakin.”

“Mbaknya?”

Aku menatap Salman. Lalu menatap toples sambal. Merah tua. Berminyak.

“Lima,” kataku.

Salman menoleh. “Lima?”

“Aku latihan,” kataku. “Tiga tahun. Tiap bulan di warung Ibumu. Dari level tiga. Sekarang lima.”

Salman menatapku lama. Sesuatu lewat di wajahnya. Bukan kaget. Lebih dalam dari itu.

“Ibu cerita,” katanya pelan. “Kamu tiap bulan ke sana.”

“Ibu cerita?”

“Ibu juga cerita kamu jongkok di depan Wati.” Dia tersenyum. “Kita senasib, Wat.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

“Bu Nur nggak bisa jaga mulut,” kataku dari balik tangan.

“Nggak ada yang bisa jaga mulut di hidupku,” kata Salman. “Raka, Dino, Ibu. Aku dikelilingi orang yang bocor. Kayak tinggal di bawah gorden terbalik.”

Aku tertawa. Langsung pecah.

Bakso datang. Dua mangkuk. Asap mengepul dari kuahnya.

Aku mengangkat sendok. Menyendok kuah. Lalu menatapnya. Panas. Terlalu panas.

Salman mengambil sendokku dari tanganku.

Dia meniupnya. Pelan. Hati-hati. Bibirnya mengerucut sedikit, napasnya membuat permukaan kuah di sendok bergetar. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu dia menyentuh ujung sendok dengan bibir bawahnya. Mengecek. Seperti mengecek suhu susu bayi.

Lalu dia menyodorkannya ke mulutku.

“Aaa,” katanya. Datar. Serius. “Buka.”

Aku menatapnya.

Itu kalimatku. Dari malming tiga tahun lalu. Waktu aku mengambil sendoknya dan menyuapinya di depan semua orang.

Dia mengembalikannya.

Aku membuka mulut.

Kuah level lima. Pedas. Gurih. Hangat, karena sudah ditiup. Dan di ujung sendok, di tempat bibirnya tadi menyentuh, ada sesuatu yang aku nggak bisa rasakan dengan lidah tapi bisa rasakan dengan sesuatu yang lain.

Bapak penjual bakso menatap kami. Lalu menatap ke jalan. Lalu bersiul pelan, lagu dangdut, sambil menyendok kuah untuk pelanggan lain dengan gerakan yang tiba-tiba lebih bersemangat.


Kami lewat Mampang jam sepuluh.

Lampu merah. Sembilan puluh detik.

Bapak ojek berkumis putih ada di sana. Dia selalu ada di sana. Aku mulai curiga dia tinggal di lampu merah itu.

Dia melihat Wati. Dia melihatku di jok belakang. Dress merah. Cardigan krem. Sandal kuning. Helm putih berstiker kelinci kuning, kaca terbuka.

Dia nggak langsung berjoget.

Dia berdiri dari joknya. Melepas helmnya. Menaruhnya di dada. Seperti orang yang sedang hormat bendera.

Lalu dia membungkuk.

Sembilan puluh derajat.

Ke kami.

Salman menatapnya. Lalu, di atas Wati, di tengah lampu merah, dia membungkuk balik. Sedikit, karena dia masih memegang setang.

Bapak ojek menegakkan badan. Lalu dia berjoget. Lebih keras dari yang pernah aku lihat. Pinggul. Tangan. Kaki menghentak aspal. Pengemudi mobil di sebelahnya membuka jendela dan merekam.

Salman menekan klakson. Chaiyya Chaiyya.

Dan aku, di jok belakang, dengan tangan melingkar di pinggangnya, tertawa sampai air mataku keluar.

“Man,” kataku di sela tawa. “Dia belajar bungkuk dari siapa?”

“Dari video,” kata Salman. “Ada yang upload video aku bungkuk ke Pak Jono di lobby. Viral. Dua juta views.”

“Dua juta?”

“Raka yang upload.”


Jam sepuluh lewat tiga puluh, Wati masuk ke drop-off apartemenku.

Senopati. Lobby kaca. Lampu kuning. Satpam yang meminjamkan tangga duduk di posnya, membaca koran.

Aku turun dari Wati. Melepas helm. Menyerahkannya.

Salman menerimanya. Menaruhnya di jok. Lalu turun juga, dan berdiri di depanku.

Di depan lobby apartemen.

Aku tahu tempat ini. Aku tahu persis. Tiga tahun lalu, lebih sedikit, aku berdiri di sini, di titik ini, sesudah nebeng Wati pertama kali. Aku bilang ke dia Cynthia lihat. Aku bilang aku cuma bilang. Lalu aku berbalik dan masuk lobby dengan senyum yang nggak sampai ke mata.

Sekarang aku berdiri di titik yang sama.

Dengan dress merah. Sandal kuning. Dan laki-laki yang sama, yang bukan laki-laki yang sama.

“Makasih,” kataku. “Kencannya.”

“Makasih udah mau,” katanya.

Kami berdiri.

Satpam di pos melipat korannya. Pelan. Lalu membukanya lagi dan menutupi wajahnya dengan koran itu, sepenuhnya, seperti orang yang memberi privasi dengan cara paling jelas yang mungkin.

Aku menarik napas.

Aku sudah merencanakan ini juga. Tentu saja. Aku Yura. Aku punya pidato untuk semuanya.

“Man,” kataku. “Aku mau bilang sesuatu dulu. Soal malam ini. Soal kenapa aku pakai merah. Aku beli dress ini dua tahun lalu buat acara penghargaan, tapi aku nggak jadi pakai soalnya aku ngerasa terlalu berani, dan tadi aku berdiri di depan cermin dan aku inget janjiku di rooftop, terus aku mikir, kalau aku nggak berani sekarang, kapan lagi, terus...”

“Yur.”

“...terus aku ganti baju empat kali, dan yang merah ini yang keempat, dan aku hampir ganti lagi jadi yang hitam, tapi...”

“Yur.”

“...tapi aku mikir kamu bakal...”

“Boleh?”

Aku berhenti.

Salman berdiri di depanku. Satu langkah. Kurang. Matanya nggak menatap mataku.

Matanya menatap bibirku.

“Boleh?” ulangnya. Pelan. Suaranya rendah. Serak. Suara yang aku dengar di ruang kontrol waktu dia menekan tombol stop di recorder.

Aku menatapnya.

Aku punya catatan yang isinya seratus dua puluh tiga hal yang aku lihat dari dia. Aku punya pidato empat puluh dua kali latihan. Aku punya dress merah dan tiga tahun menunggu dan janji untuk nggak sopan.

Dan dia cuma bertanya boleh.

“Dari tadi kamu nanya terus,” kataku. Suaraku pecah. “Iya.”

Dia menciumku.


Pelan.

Itu yang pertama aku rasakan. Pelan. Bibirnya di bibirku, ringan, hampir nggak menyentuh. Seperti orang yang memutar kenop gain setengah milimeter, mengecek, mendengar, sebelum memutar lagi.

Hangat. Sedikit asin dari kuah bakso. Sedikit pedas dari sambal sembilan sendok.

Tangannya naik ke wajahku. Jari-jarinya. Kasar di ujung, bekas kenop. Menyentuh pipiku. Bukan menyeka sambal. Bukan menyeka air mata. Menyentuh.

Sengaja.

Aku menulis itu di catatan. Aku pengin tahu rasanya kalau jari-jari itu nyentuh pipiku. Bukan nyeka sambal. Nyentuh.

Sekarang aku tahu.

Rasanya seperti tiga tahun.

Dia menarik diri. Sedikit. Satu senti. Napasnya di bibirku.

“Kencan pertama,” katanya. Pelan. Gemetar. “Aku catat.”

Aku menatapnya.

Lalu aku mengangkat tangan. Ke tali hoodie-nya. Yang kiri, yang selalu lebih panjang dari yang kanan, bahkan sesudah tiga tahun di Tokyo.

Aku menariknya.

“Talinya kepanjangan, Man,” bisikku. “Kayak minta ditarik.”

Dan aku menciumnya balik.

Bukan pelan.

Aku menarik tali hoodie itu sampai dia menunduk dua senti, seperti di rooftop, tapi kali ini aku nggak berhenti di dua senti. Aku menciumnya seperti orang yang menunggu tiga tahun dan menulis catatan jam satu pagi dan tidur dengan earbud di telinga dan memakan bakso level lima supaya bisa duduk di warung ibunya tanpa harus bertanya apa-apa.

Tangannya pindah. Dari pipiku ke belakang kepalaku. Jari-jarinya di rambutku. Tangan yang satu lagi di pinggangku, di atas dress merah, di bawah cardigan yang melorot dari satu bahu.

Dia menarikku lebih dekat.

Dia. Yang menarik.

Aku merasakan detak jantungnya di dadaku. Cepat. Nggak rata. Fals.

Lalu ada suara.

Chaiyya Chaiyya. Delapan bit. Cempreng.

Kami berdua berhenti. Menoleh.

Wati. Klaksonnya bunyi sendiri.

Salman menatap Wati. Aku menatap Wati. Satpam di pos menurunkan korannya sedikit, mengintip dari atasnya, lalu menaikkannya lagi.

Lalu aku melihat apa yang terjadi. Tadi, waktu Salman menarikku lebih dekat, sikutnya menekan setang Wati. Tepat di tombol klakson.

“Wati,” kata Salman. Serak. “Itu nggak sopan.”

Lampu depan Wati berkedip sekali. Stiker mata anime dengan bulu mata berbinar di bawah lampu lobby.

Seperti orang yang mengedipkan mata.

Aku tertawa. Di dada Salman. Dengan bibir yang masih basah dan napas yang belum kembali dan tali hoodie yang masih aku genggam.

“Wati yang ngitung,” kataku.

“Ngitung apa?”

“Durasi.” Aku menatapnya. “Kayak Pak Hendro ngitung pelukan Dino.”

Salman menatapku. Wajahnya merah. Seluruhnya. Bukan cuma telinga. Bukan cuma leher. Seluruh wajahnya, dari dahi sampai dagu, merah seperti lampu tally kamera yang menyala.

Dan dia nggak berusaha menyembunyikannya.

“Berapa lama?” tanyanya.

“Nggak tahu,” kataku. “Aku nggak ngitung. Pertama kalinya dalam hidupku aku nggak ngitung.”


Aku masuk lobby dengan sandal kuning, dress merah, cardigan yang melorot, dan sepatu hak tali di tangan kiri.

Satpam di pos menurunkan korannya. Menatapku. Lalu menatap Wati yang melaju keluar dari drop-off, pelan, dengan pengendara yang sesekali menoleh ke belakang.

Satu.

Dua.

Tiga.

Satpam itu mengangkat jempol ke arahku. Pelan. Dengan wajah orang yang menyetujui sesuatu.

Aku naik lift ke lantai dua puluh dua. Masuk apartemen. Nggak menyalakan lampu.

Gorden krem terbalik. Label kecil menghadap ke dalam. Jangan diputihkan.

Aku menyandarkan punggung ke pintu. Merosot pelan sampai duduk di lantai. Menyentuh bibirku dengan jari.

Lalu aku membuka HP. Membuka catatan Yang Aku Lihat.

Aku menulis.

— Dia nanya “boleh?” dua kali. Padahal aku udah nggak sopan dari hari pertama dia pulang.

— Jari-jarinya di pipiku rasanya kayak tiga tahun.

— Jantungnya fals. Beneran. Aku dengar.

— Wati ikut.

Aku berhenti. Menatap layar.

Lalu aku menambahkan satu baris lagi, dan aku nggak menambahkan catatan (jangan dibaca) di bawahnya, karena untuk pertama kalinya, aku mau dia membacanya suatu hari nanti.

— Aku mau lagi.

HP-ku bergetar.

Grup RUANG TUNGGU FC.

Diana: Reminder: laporan lengkap hari Senin.
Diana: Juri sudah siap.

Dino: UDAH SELESAI BELUM KENCANNYA
Dino: GIMANA
Dino: YUR
Dino: MAN
Dino: KALIAN BERDUA KOK GAK BALES

Erga: Din. Mereka nggak bales karena mereka lagi nggak megang HP.

Dino: OHHHHHHHHHH
Dino: OHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH

Satu pesan lagi masuk. Bukan di grup. Pribadi.

Salman: udah sampe rumah
Salman: wati masih malu
Salman: dia nggak mau dicas. mukanya ditutup tisu

Aku tertawa di lantai apartemen. Dari hidung. Lalu pecah.

Aku: bilang ke wati
Aku: besok-besok jangan klakson di tengah
Aku: kalau mau ngitung, ngitung dalam hati

Titik-titik mengetik. Lama.

Salman: wati bilang dia nggak ngitung
Salman: dia bilang dia tepuk tangan

Aku menutup wajah dengan tangan.

Di balik gorden yang terbalik, lampu kota menatap jendela yang sekarang nggak bisa mereka lihat lagi.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku nggak butuh mereka melihat.