Chapter Twenty Seven
Pegang Duniaku Dulu
POV: Yura
Raka nggak bisa bohong, bagian dua.
Jumat sore, jam empat, dia datang ke mejaku di lantai redaksi dengan laptop di pelukan dan wajah orang yang membawa kabar dari medan perang.
“Mbak,” katanya. “Aku mau minta tolong.”
“Kalau slide, aku nggak mau lihat Comic Sans lagi.”
“Bukan, Mbak.” Dia menaruh laptop di mejaku. Membukanya. Bukan slide. Spreadsheet. Judulnya SERAH TERIMA MASTER CONTROL — DRAFT. Kolom-kolomnya rapi: Peralatan. Lokasi. Kebiasaan aneh. Siapa yang harus ditelepon kalau mati.
Di baris paling atas: Mixer analog 12ch (gudang → meja). Kenop ch.7 = tutup pulpen biru. JANGAN DIGANTI. Mixer ini nggak suka diganti.
Aku menatap tulisan itu. Lalu menatap Raka.
“Serah terima apa?”
Raka menelan ludah. “Mas Salman berangkat ke Tokyo, Mbak. Bulan depan. Tiga tahun. Beasiswa dari kantor.” Dia diam sebentar. “Dia nyuruh aku bikin daftar ini. Dia bilang aku yang pegang master control selama dia pergi. Aku nggak siap, Mbak. Aku bahkan belum hafal kebiasaan anehnya Mas Herman...”
Aku nggak mendengar sisanya.
Tokyo. Tiga tahun. Bulan depan.
“Cynthia tahu?” tanyaku.
Raka menunduk. “Mas Salman bilang ke Mbak Cynthia duluan. Kemarin malam. Di basement.” Dia berhenti. Lalu, pelan sekali: “Pak Jono bilang di CCTV Zona C, mereka pelukan. Terus Mas Salman pergi sendiri. Terus Mbak Cynthia naik lift nomor empat dan... nggak keluar-keluar, Mbak. Lima belas menit.”
Aku menutup laptop Raka. Pelan.
“Makasih, Rak,” kataku. “Aku tolong apa?”
“Mbak bujuk Mas Salman supaya ngajarin aku bikin bakso sendiri,” kata Raka. “Soalnya dia bilang kalau aku capek di ruang kontrol, aku harus makan bakso. Tapi Bu Nur di Depok, Mbak. Jauh.”
Aku menatapnya.
“Nanti aku bujuk,” kataku.
Jam sepuluh malam, aku sampai di Depok.
Aku nggak bilang ke siapa-siapa. Aku nggak bilang ke sopirku tujuan aslinya sampai kami sudah di tol. Aku mampir di martabak pinggir jalan di Margonda dan membeli satu martabak manis keju cokelat, ukuran besar, karena aku nggak tahu harus membawa apa ke rumah orang yang baru putus jam sepuluh malam.
Warung Bakso Bu Nur sudah tutup. Kursi-kursi plastik sudah ditumpuk. Lampu di dalam sudah mati, kecuali satu lampu kuning di dapur.
Dan di depan warung, di bangku plastik biru di bawah atap seng, Salman duduk sendirian.
Wati di sebelahnya. Mesin mati. Hoodie hitam polos.
Dia menatap jalan. Nggak memakai earbud. Dua-duanya. Aku nggak pernah lihat Salman tanpa earbud kiri.
Aku turun dari mobil. Menyuruh sopirku menunggu di mulut gang. Lalu berjalan ke warung dengan sepatu hak tujuh senti yang tenggelam sedikit di tanah becek bekas hujan sore.
Salman menoleh. Melihatku. Nggak kaget. Seperti orang yang sudah terlalu capek untuk kaget.
“Yur.”
“Hai.”
Aku duduk di bangku di sebelahnya. Bangku plastik itu terlalu kecil untuk dua orang dewasa, jadi bahu kami bersentuhan. Aku membuka kotak martabak. Menaruhnya di pangkuanku, di antara kami.
“Aku nggak mau ngomong apa-apa,” kataku. “Aku mau duduk aja di sini sama kamu sampai martabaknya abis.”
Salman menatap martabak. Lalu menatapku.
“Kamu tahu dari Raka,” katanya.
“Raka nggak bisa bohong.”
“Raka nggak pernah bisa bohong. Itu kenapa aku suka dia.” Salman mengambil satu potong martabak. Menatapnya. “Keju cokelat. Kamu nggak tahu aku suka yang mana, ya?”
“Kamu suka yang mana?”
“Kacang wijen. Tapi keju cokelat juga nggak apa...”
Dia berhenti. Di tengah kata. Aku melihat bibirnya membeku di huruf a.
Lalu dia menggigit martabak, dan nggak menyelesaikan kalimatnya.
Kami makan dalam diam.
Satu potong. Dua potong. Jangkrik di semak-semak sebelah warung. Motor lewat sesekali di jalan depan. Dari dapur, suara radio kecil memutar dangdut pelan, dan suara Bu Nur ikut bersenandung, fals.
Di potong ketiga, aku menyandarkan kepalaku ke bahunya.
Dia nggak bergerak. Dia nggak membeku juga. Dia cuma membiarkannya. Seperti di ruang kontrol. Seperti bahu itu memang sudah tahu bentuk kepalaku.
Dari dalam warung, suara Bu Nur berhenti bersenandung.
Lalu pintu dapur terbuka sedikit. Bu Nur mengintip. Daster batik, rambut digulung handuk, tangan memegang centong.
Dia menatap kami. Menatap kepalaku di bahu anaknya. Menatap martabak keju cokelat.
“Ya Allah,” katanya. “Ibu bingung lagi.”
“Bu,” kata Salman tanpa menoleh.
“Kemarin yang satu. Sekarang yang satu lagi. Kalian ini gantian jaga malam atau gimana?”
“Bu.”
“Ibu tidur.” Bu Nur menutup pintu. Lalu membukanya lagi, sedikit. “Nak Yura, di dalam ada bakso sisa. Kalau martabaknya abis, ambil aja. Jangan sungkan. Anak Ibu ini kalau sedih makannya banyak tapi pura-pura nggak lapar.”
Pintu menutup.
Aku tertawa di bahu Salman. Dari hidung dulu. Aku merasakan dia tersenyum, dari cara pipinya bergerak di atas kepalaku.
“Yur,” katanya pelan.
“Hm?”
“Aku sama Cynthia udah selesai.”
Aku nggak bergerak.
“Kami pacaran,” lanjutnya. “Diam-diam. Delapan bulan. Kemarin malam udah selesai.” Dia diam sebentar. “Aku nggak pernah bilang ke siapa-siapa. Kamu orang pertama yang aku kasih tahu soal ini.”
“Aku tahu,” kataku.
Dia menoleh sedikit.
“Aku udah tahu dari helm pink,” kataku. “Helm merah muda yang ada stiker kelincinya. Yang selalu di jok Wati. Yang kamu kasih ke aku waktu aku nebeng. Itu bukan helm cadangan. Itu helm dia.” Aku menghela napas. “Ukurannya pas di kepala Cynthia. Di kepalaku agak sempit.”
Salman diam lama.
“Kamu tahu dari kemarin-kemarin,” katanya. “Terus kamu tetap gandeng tanganku di kantin.”
“Iya.”
“Terus kamu tetap...” Dia berhenti. “Jempol. Sambal.”
“Iya.”
“Yur, itu...”
“Aku nggak minta kamu balas, Man.” Aku mengangkat kepala dari bahunya. Menatapnya. Lampu kuning dari dapur jatuh di setengah wajahnya. “Aku nggak pernah minta. Aku cuma nggak mau kamu joget sendirian sementara dia makan di meja sebelah pura-pura nggak kenal kamu.”
Salman menatapku.
“Malam ini aku nggak mau ngomong apa-apa,” kataku. “Aku udah bilang. Aku cuma mau duduk sampai martabaknya abis.”
Aku mengambil potongan terakhir martabak. Menggigitnya setengah. Menyodorkan setengahnya lagi ke mulut Salman.
Dia membukanya. Tanpa Yur, aku bisa makan sendiri.
“Tapi minggu depan,” kataku, sementara dia mengunyah, “aku mau ngomong banyak.”
Aku berdiri. Menepuk remah martabak dari rokku.
“Siapin telinga kiri.”
Kamis berikutnya, jam sebelas malam, rooftop lantai tiga puluh.
Tempat gala. Tenda-tendanya sudah dibongkar. Panggungnya sudah dibongkar. Yang tersisa cuma lantai beton, pagar besi setinggi dada, beberapa kursi plastik yang lupa diangkut, dan lampu-lampu Jakarta di bawah, sejauh mata bisa lihat.
Salman sudah di sana waktu aku sampai. Dia selalu sampai lebih dulu. Dia berdiri di pagar, memakai hoodie hijau tua kucing samurai. Hoodie bergambar lagi. Earbud kiri kembali di telinganya.
Tiga hari lagi dia berangkat.
Aku berjalan ke pagar dan berdiri di sebelahnya. Bukan tiga meter. Bukan satu meter. Bahu ke bahu.
“Kamu bilang mau ngomong banyak,” kata Salman.
“Iya.”
“Aku udah siapin telinga kiri.”
Dia menunjuk earbud di telinga kirinya. Bercanda. Tapi aku nggak tertawa.
Aku menatap earbud itu. Putih. Kecil. Selalu di telinga kiri, sejak hari pertama aku kenal dia di lift nomor empat.
“Satu buat dengar dunia, satu buat lagu,” kataku. “Kamu selalu bilang gitu.”
“Iya.”
“Dulu kamu pinjemin Cynthia earbud yang buat lagu. Di rooftop ini. Aku tahu.” Aku menatapnya. “Dino nggak bisa jaga mulut, dan Cynthia nggak bisa jaga muka waktu dia cerita.”
Salman diam.
“Aku nggak minta yang buat lagu,” kataku. “Lagu itu punya dia. Biar.”
Aku mengulurkan tangan. Telapak terbuka. Di depan dadanya.
“Aku minta yang satu lagi.” Aku menatap telinga kanannya. Yang kosong. Yang selalu kosong. “Yang buat dengar dunia.”
Angin rooftop bertiup. Rambutku berantakan. Aku nggak merapikannya.
“Boleh aku jadi dunianya?”
Salman menatap tanganku. Lalu menatapku. Lampu Jakarta di belakangnya, oranye dan putih dan merah, seperti seseorang menumpahkan semua lampu di dunia ke satu kota.
Aku nggak menurunkan tangan.
“Aku suka kamu, Man,” kataku. Suaraku nggak gemetar. Aku presenter berita. Suaraku nggak pernah gemetar di kalimat yang aku latih. Dan aku sudah melatih kalimat ini tujuh hari. Di cermin. Di mobil. Di bawah shower. “Bukan suka kayak fans. Bukan suka karena kamu nolong aku di lobby. Bukan karena kamu baik ke semua orang, meskipun kamu emang baik ke semua orang, kadang sampai nyebelin.”
Salman nggak bergerak.
“Aku suka kamu karena kamu nggak pernah pura-pura,” lanjutku. “Kamu aneh karena kamu aneh. Kamu baik karena kamu baik. Bahkan waktu kamu joget sendirian di kantin buat bersihin nama orang lain, kamu nggak pura-pura bahagia. Kamu pura-pura aneh. Itu beda. Dan aku lihat bedanya.”
Aku melangkah lebih dekat. Tanganku masih terulur.
“Dan aku nggak suka kamu kayak anak SMA, Man. Aku dua puluh enam. Aku tahu apa yang aku mau.” Aku menatapnya, langsung, tanpa berkedip. “Aku mau kamu. Kamu yang pagi-pagi bau kaldu. Kamu yang malam-malam nyanyi fals. Kamu yang tidur di jok Wati di basement kalau lembur. Kamu yang nggak bisa bales genggamanku tapi juga nggak bisa lepasin. Aku mau semuanya.”
Salman menelan ludah. Aku melihat jakunnya. Naik. Turun.
“Itu aku ngomong banyak,” kataku. “Udah. Sekarang kamu.”
Lama.
Lama sekali.
Angin. Klakson jauh di bawah. Suara pesawat yang lewat di atas, menuju Soekarno-Hatta.
Lalu Salman mengangkat tangannya. Ke telinga kirinya.
Dan melepas earbud itu.
Dia nggak menaruhnya di tanganku.
Dia mengangkatnya, dengan dua jari, pelan, ke telingaku. Telinga kiriku. Aku merasakan ujung jarinya menyentuh rambutku, menyisirnya sedikit ke belakang, lalu menyentuh daun telingaku. Dingin, lalu hangat.
Dia memasang earbud itu di telingaku.
Lalu dia mengeluarkan HP dari saku hoodie. Mengetuk layar. Dan di telinga kiriku, ada suara.
Bukan lagu.
Suara rekaman. Suara jalanan Jakarta. Klakson. Pedagang. Angin. Adzan dari jauh. Tawa anak kecil. Suara Wati yang berdengung. Suara Bu Nur memanggil Salmaaan, baksonya! Suara Pak Darto bilang pagi, Mas. Suara malming, gelas berdenting, Dino tertawa, Diana bilang najis.
Rekaman dunia.
“Itu dunia,” kata Salman. Suaranya pelan, tapi aku bisa mendengarnya jelas, dari telinga kanan, sementara telinga kiriku penuh dengan Jakarta. “Yang aku dengar lewat telinga kanan. Telinga kanan nggak bisa aku copot, Yur. Jadi aku rekam isinya. Tiga tahun terakhir. Tiap ada suara yang bagus, aku rekam. Sekarang semuanya ada di earbud yang biasanya buat lagu.”
Dia menutup jari-jariku, yang masih terulur, dengan tangannya. Menggenggamnya sebentar. Lalu melepaskan.
“Pegang duniaku dulu,” katanya.
Aku nggak bisa bicara.
“Di sana aku nggak butuh earbud,” lanjutnya. “Di Tokyo aku mau dengar dunia yang baru. Dua telinga buat dunia. Biar aku belajar dengar hal-hal yang nggak aku rekam.”
“Man...”
“Kamu nanya boleh nggak kamu jadi dunianya.” Salman menatapku. Matanya basah sedikit di ujung, tapi dia tersenyum. “Aku nggak bisa jawab sekarang, Yur. Bukan karena jawabannya nggak. Karena orang yang jawab sekarang itu orang yang baru dua minggu lalu dengar dirinya dibilang cuma teknisi dan bilang nggak apa-apa. Orang itu nggak boleh jawab pertanyaan sepenting ini.”
Dia menarik napas.
“Tanya lagi tiga tahun lagi,” katanya. “Aku mau jawab pakai versi aku yang bisa jawab dengan bener.”
Aku menatapnya. Earbud di telinga kiriku masih memutar suara Jakarta. Bu Nur memanggil lagi. Salmaaan.
“Tiga tahun,” kataku.
“Tiga tahun.”
“Kamu kejam.”
“Ada lagi yang lebih kejam,” kata Salman. Dia menggaruk tengkuknya, kebiasaan waktu dia mau bilang sesuatu yang dia tahu nggak disukai. “Selama tiga tahun, aku nggak mau ada kontak. Nggak chat. Nggak telepon. Nggak video call. Aku udah bilang ke Ibu, ke Dino, ke semua.”
“Apa?”
“Satu surat setahun,” katanya. “Dari aku. Tanggal aku berangkat. Itu aja.”
“Man, itu...”
“Aku tahu.” Dia menatap lampu kota. “Tapi kalau aku bisa chat kamu tiap malam, aku nggak bakal belajar sendiri. Aku bakal nyari kamu tiap kali ada yang sakit. Tiap kali aku mau bilang nggak apa-apa, aku bakal chat kamu, dan kamu bakal bilang itu apa-apa, dan aku bakal ngerasa lebih baik, dan aku nggak pernah belajar bilang itu sendiri.”
Aku diam.
Aku benci itu masuk akal.
“Satu surat setahun,” ulangku.
“Satu surat. Satu foto.”
“Nggak ada alamat pengirim, pasti.”
Salman tersenyum. “Kamu kenal aku.”
Aku melangkah maju. Tanganku naik ke kerah hoodie-nya. Kerah yang selalu sedikit miring karena dia memakainya terburu-buru. Aku merapikannya. Pelan. Jari-jariku menyentuh lehernya, di samping, di tempat yang bisa merasakan nadinya.
Cepat. Nadinya cepat sekali.
“Oke,” kataku. “Tiga tahun. Satu surat setahun. Nggak ada kontak.”
“Makasih, Yur.”
“Tapi aku juga punya syarat.”
Dia menatapku.
Aku masih memegang kerahnya. Aku menariknya sedikit. Sedikit sekali. Cukup sampai dia harus menunduk dua senti.
“Kalau kamu pulang,” kataku, pelan, dekat, “dan aku masih di sini, aku nggak bakal sopan lagi.”
Salman membeku.
“Kamu sekarang sopan?” katanya. Suaranya serak.
“Ini versi sopanku, Man.” Aku melepaskan kerahnya. Menepuknya sekali, rapi. “Kamu belum lihat versi yang satu lagi.”
Aku berbalik dan berjalan ke pintu rooftop.
Di belakangku, aku mendengar Salman menghembuskan napas. Panjang. Seperti orang yang baru keluar dari air sesudah menyelam terlalu lama.
Aku nggak menoleh.
Tapi di dalam lift, sendirian, aku bersandar ke dinding dan memegang earbud di telinga kiriku dengan dua tangan, seperti memegang sesuatu yang hidup.
Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 3. Minggu pagi. Jam tujuh lewat lima belas.
Penerbangannya jam sepuluh lewat empat puluh. Tokyo, Haneda.
Circle datang lengkap. Kecuali satu.
Dino membawa kantong termos berisi bakso beku dari Bu Nur, “buat bekal di pesawat”. Petugas check-in menatap kantong itu, menatap Dino, menatap Salman, lalu menjelaskan dengan sangat sabar bahwa daging olahan nggak boleh masuk Jepang. Dino berdebat. Dino kalah. Dino memakan dua bakso beku langsung di depan konter check-in sebagai protes.
“Masih beku, Din,” kata Erga.
“Ini bentuk perlawanan,” kata Dino, mengunyah es.
Erga membawa spanduk kain. Panjang dua meter. Tulisannya dicat tangan, huruf besar, warna merah: SELAMAT JALAN SALMAN, SEMOGA SUKSES DI TOKIO.
“Tokio,” kata Diana. “Pakai i.”
“Itu ejaan lama,” kata Erga.
“Itu ejaan salah.”
“Itu ejaan lama yang salah. Ada nilai sejarahnya.”
Diana membuka buku catatan batik. “Klasemen Hoodie Keberangkatan,” katanya, ke seluruh area check-in. Beberapa penumpang menoleh. “Hoodie yang dipakai Salman Haikal pada hari keberangkatannya ke Tokio, eh, Tokyo.” Dia menatap Erga tajam. “Hoodie kuning stabilo bergambar karakter anime berteriak tolong saya. Hoodie nomor tujuh. Juri memberi nilai sembilan koma lima. Juri tidak menjelaskan alasannya karena juri sedang emosional.”
Salman menatap hoodie-nya. Hoodie nomor tujuh. Yang dia pakai di gala. Aku tahu dia memilihnya dengan sengaja. Untuk menutup sesuatu.
“Juri emosional?” tanya Dino, mulut penuh es bakso.
“Juri kelilipan,” kata Diana. Dia menutup buku catatannya terlalu keras.
Cynthia nggak datang.
Aku tahu kenapa. Minggu pagi, ada Sapa Pagi Edisi Akhir Pekan. Jam enam sampai jam delapan. Dia on air.
Bandara penuh kamera. Penumpang. Wartawan yang menunggu artis pulang dari konser. Akun gosip yang hafal wajah presenter TRAC.
Dia bisa datang jam delapan lewat. Masih ada waktu. Aku tahu dia tahu masih ada waktu.
Dia nggak datang.
Jam delapan kurang lima, kami duduk di kafe dekat pintu keberangkatan. Salman memegang HP di bawah meja. Aku duduk di sebelahnya. Aku nggak sengaja melihat layarnya.
Sapa Pagi Edisi Akhir Pekan. Live streaming dari aplikasi TRAC.
Cynthia di layar. Segmen penutup. Tersenyum ke kamera.
Salman menatapnya. Volumenya kecil. Aku cuma bisa mendengar samar.
“...terima kasih sudah menemani akhir pekan Anda. Sampai jumpa minggu depan, dan untuk siapa pun yang hari ini sedang memulai perjalanan baru...”
Suaranya pecah.
Di baru. Pecah, kecil, jelas. Tanpa kompresor. Teknisi baru di master control hari Minggu nggak tahu harus memasang apa di mic itu, karena nggak ada yang pernah memberi tahu dia.
Cynthia berhenti sebentar. Lalu tersenyum lagi. “...semoga perjalanannya baik.”
Salman menatap layar itu.
Satu detik. Dua detik.
Lalu dia menekan tombol samping HP. Layarnya mati. Hitam.
Dia memasukkan HP ke saku hoodie nomor tujuh. Dan menatap meja.
Aku nggak bilang apa-apa. Aku cuma meletakkan tanganku di atas tangannya, di bawah meja. Dia nggak membalas genggamanku.
Tapi dia membalikkan tangannya.
Telapak ke atas.
Supaya aku bisa menggenggamnya dengan benar.
Jam sembilan, panggilan boarding pertama.
Antrean imigrasi di ujung koridor, di balik garis kuning yang nggak boleh dilewati pengantar.
Dino memeluk Salman paling lama. Satu menit penuh. Menangis ke bahu hoodie nomor tujuh. “Malming gue jaga, Man. Meja enam orang. Gue jaga.” Erga menepuk punggungnya. Diana menjabat tangannya, formal, lalu menariknya ke pelukan cepat yang hampir seperti tabrakan, lalu mundur dan pura-pura membaca papan jadwal penerbangan.
Lalu giliranku.
Aku berdiri di depannya. Di depan garis kuning.
Aku sudah merencanakan ini. Aku sudah memutuskan, di mobil tadi pagi, bahwa aku akan memeluknya duluan. Karena aku Yura. Karena aku selalu duluan. Gandeng tangan duluan. Suap duluan. Bilang suka duluan.
Aku mengangkat tangan.
Dan sebelum tanganku sampai, Salman yang memelukku.
Duluan.
Dia menarikku ke dadanya. Dua tangan. Satu di punggungku, satu di belakang kepalaku, jari-jarinya di rambutku. Erat. Bukan pelukan sopan. Bukan pelukan teman. Pelukan orang yang menyimpan sesuatu selama berminggu-minggu dan akhirnya membiarkannya keluar.
Aku membeku.
Aku. Membeku. Untuk pertama kalinya, aku yang membeku.
Lalu aku memeluknya balik. Wajahku di hoodie nomor tujuh. Bau kaldu. Lavender murah. Dan bau bandara, kopi dan karpet dan AC.
“Aku belum pernah meluk duluan,” katanya di atas kepalaku. Pelan. “Selama ini. Ke siapa pun.”
“Kenapa sekarang?”
“Soalnya kamu selalu duluan,” katanya. “Aku mau sekali-kali kamu yang kaget.”
Aku tertawa di dadanya. Dari hidung dulu. Lalu pecah, dan basah.
Waktu dia melepaskan pelukan, aku nggak membiarkannya mundur.
Aku menahan kerah hoodie-nya. Berjinjit.
Dan aku mencium pipinya.
Bukan kecupan cepat. Bukan cium pipi sopan yang dilakukan orang ke tante di lebaran. Aku menahannya. Satu detik. Dua detik. Tiga. Bibirku di pipinya, di bawah tulang pipi, dekat sekali dengan sudut bibirnya. Cukup dekat sampai aku bisa merasakan napasnya berhenti.
Dino, di belakang, mengeluarkan suara seperti panci presto.
Aku menarik diri. Sedikit. Masih dekat. Masih memegang kerahnya.
“Yang ini di pipi,” bisikku. “Sisanya nunggu kamu pulang.”
Telinga Salman merah. Bukan merah biasa. Merah seperti lampu tally kamera yang menyala. Dari cuping sampai ujung atas, lalu turun ke leher, lalu masuk ke dalam kerah hoodie.
Dia nggak membeku. Dia nggak mengalihkan pembicaraan ke Wati. Dia nggak bilang Wati, tadi kamu lihat?
Dia menatapku. Lama.
“Makasih,” katanya. Suaranya hampir nggak ada. “Yang barusan juga.”
Lalu dia mengangkat ransel ke bahu, dan berjalan melewati garis kuning.
Antrean imigrasi panjang. Zig-zag di antara tali pembatas. Salman berdiri di ujung, di belakang keluarga dengan tiga anak kecil yang semuanya memakai topi Doraemon.
Dia menoleh.
Satu.
Aku melambai.
Antrean maju. Dia sampai di tikungan zig-zag pertama.
Dia menoleh lagi.
Dua.
Aku nggak melambai. Aku cuma berdiri. Tanganku di saku. Menggenggam kotak kecil earbud yang aku bawa ke mana-mana sejak Kamis malam.
Antrean maju. Tikungan kedua. Petugas imigrasi di depan, di balik kaca. Salman menyerahkan paspor.
Sebelum masuk ke balik dinding, dia menoleh sekali lagi.
Tiga.
Aku menghitung. Aku akan selalu menghitung.
“Aku bangga, Man,” kataku. Pelan. Ke punggungnya, yang sudah hilang di balik dinding. Ke hoodie kuning stabilo yang berteriak tolong saya. Ke laki-laki yang memeluk duluan untuk pertama kalinya.
Dia nggak dengar.
Nggak apa-apa.
Eh. Bukan.
Itu apa-apa.
Aku akan bilang lagi tiga tahun lagi. Waktu dia bisa dengar.
Di parkiran, Dino menangis di kap mobil Erga. Diana menepuk punggungnya dengan ritme yang terlalu teratur, seperti metronom. Erga melipat spanduk TOKIO dengan sangat hati-hati, seperti bendera.
Aku berdiri di samping mobilku.
Aku mengeluarkan kotak kecil dari saku. Membukanya. Earbud kiri, putih, kecil.
Aku memasangnya di telinga kiriku.
Aku nggak memutar apa-apa. Nggak ada lagu. Nggak ada rekaman dunia.
Cuma hening, di satu telinga.
Dan di telinga yang satu lagi, suara bandara. Pesawat yang lepas landas. Pengumuman boarding. Dino yang mengisak. Diana yang bilang Dino, ingusmu kena kap mobil Erga. Erga yang bilang nggak apa-apa, itu ingus perpisahan, ada nilai sejarahnya.
Jam sepuluh lewat empat puluh dua, di atas kepala kami, satu pesawat naik ke langit. Putih. Ekornya merah.
Aku nggak tahu itu pesawatnya atau bukan.
Aku menatapnya sampai hilang.
Lalu aku mulai menghitung.
Satu hari.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Joget Sendirian Itu Capek
- 25 Konsol Mati
- 26 Pergi Aja, Man
- 27 Pegang Duniaku Dulu reading
- 28 Tiga Surat
- 29 Kepala Audio yang Baru
- 30 Klasemen Korban Salman
- 31 Gorden Terbalik
- 32 Ini Kencan
- 33 Satu Lagu, Dua Earbud
- 34 Lima Kata di Pelaminan
- 35 Yura Mundur
- 36 Bip, Bip… Bip
- 37 Lift Nomor Empat, Lagi
- 38 Satu Tower Lihat, Lagi
- 39 Pacar Kepala Audio
- 40 Bangku di Foto Ketiga
- 41 Duniamu Udah Pulang
- 42 Epilog — Ibu Nggak Bingung Lagi