← Pegang Duniaku Dulu

Chapter Twenty Six

Pergi Aja, Man

POV: Cynthia

Sticky note bergambar Wati berhenti datang sejak gala.

Aku baru menyadarinya hari Kamis. Sembilan hari sesudah gala. Pagi itu, jam tujuh lewat lima, aku masuk ke ruang ganti lantai tujuh dan menemukan mangkuk bakso di mejaku, seperti biasa. Plastik bening. Kuah di kantong terpisah, diikat karet merah. Sambal di plastik kecil yang ujungnya dipelintir.

Tapi nggak ada kertas kuning di atasnya.

Nggak ada gambar Wati dengan mata anime, tersenyum, atau mengantuk, atau memakai topi ulang tahun. Nggak ada tulisan tangan Salman yang miring ke kanan seperti orang yang sedang berlari. Wati kangen. Yang punya Wati nggak bilang apa-apa, dia cuek. Sambalnya dikit aja, kamu siaran. Hari ini Wati mogok di lampu merah, tapi dia minta maaf.

Aku membuka laci mejaku. Di dalamnya, di kotak sepatu bekas, ada empat puluh tiga sticky note kuning. Aku menghitungnya. Empat puluh tiga, sejak bulan Maret.

Sticky note terakhir bertanggal sehari sebelum gala.

Besok kamu cantik. Aku tahu soalnya kamu selalu cantik. Ini bukan dari anime.

Aku menatap kertas itu lama. Lalu menatap mangkuk bakso tanpa kertas.

Lalu aku menutup laci, duduk di depan cermin, dan membiarkan penata rias memoles wajahku sampai nggak ada lagi yang bisa membaca apa-apa dari sana.


Aku tahu ada yang salah.

Aku bukan orang bodoh. Aku cuma orang yang sangat, sangat jago pura-pura nggak tahu.

Sesudah gala, Salman masih membalas chat-ku. Tapi lebih pendek. Iya. Oke. Hati-hati. Dulu dia membalas Wati udah dicas? dengan udah, yang punya Wati yang belum. Sekarang dia membalas dengan udah.

Dia masih mengirim bakso. Dia masih mengatur mic-ku. Dia masih ada.

Tapi dia ada seperti lampu yang dimatikan setengah. Masih menyala. Tapi redup.

Dan aku pura-pura nggak sadar.

Aku pura-pura nggak sadar waktu dia joget sendirian di kantin dan semua orang tertawa dan laki-laki berpomade di meja sebelah bilang pantes Mbak Cynthia bilang cuma teknisi. Aku pura-pura nggak sadar waktu Yura berdiri dan berjalan ke tengah kantin. Aku pura-pura nggak sadar waktu Yura menggandeng tangannya, jari-jari bertaut, dan membawanya keluar kantin, melewati mejaku.

Sendokku berhenti di udara.

Erga, di sebelahku, menatap sendok itu. Lalu menatapku. Lalu, tanpa bilang apa-apa, mengambil sendok itu dari tanganku, pelan, dan menaruhnya di mangkuk.

“Cyn,” katanya pelan. “Kamu nggak apa-apa?”

“Aku nggak apa-apa,” kataku.

Mas Teddy, di seberang, sedang membicarakan konsep segmen ErCyn bulan depan. Dua staf kreatif mengangguk-angguk. Nggak ada yang melihat sendokku.

Cuma Erga.

Dan Yura, yang nggak menoleh waktu melewati mejaku, tapi aku tahu dia tahu.

Lalu malming. Sendok yang diangkat ke mulut Salman. Jempol yang menyeka sambal. Jempol yang kemudian dibawa Yura ke bibirnya sendiri. Sayang. Level sembilan.

Aku lari ke toilet.

Kamu malu jalan sama dia. Aku bangga.

Kalimat itu menempel di kepalaku seperti stiker yang lemnya terlalu kuat. Aku mencoba mengelupasnya. Aku mencoba menjelaskannya ke diriku sendiri. Yura nggak tahu. Yura nggak ngerti. Yura nggak punya ibu yang kariernya hancur karena satu foto di pinggir jalan. Yura nggak tumbuh dengan kamera selalu nyala di setiap sarapan.

Tapi Yura tahu sesuatu yang aku pura-pura nggak tahu.

Dia tahu soal kantin. Dia tahu kenapa Salman joget sendirian.

Dan kalau Yura tahu kenapa, berarti seseorang memberi tahu dia sesuatu soal gala.

Soal kalimat yang aku ucapkan di tenda rooftop, ke Mbak Vina, waktu Salman sudah pergi ke ruang kontrol dan nggak mungkin mendengar.

Nggak mungkin mendengar.

Aku menyimpan pikiran itu di tempat yang paling gelap di kepalaku, dan aku nggak membukanya.


Selasa pagi, konsol mati.

Aku nggak tahu itu waktu kejadian. Yang aku tahu, aku membuka mulut untuk mengucapkan selamat pagi, Indonesia, dan earpiece-ku tiba-tiba hening. Bukan hening biasa. Hening yang mati. Nggak ada dengung. Nggak ada suara Mas Herman. Nggak ada napas siapa pun di jalur itu.

Aku tetap tersenyum. Aku tetap bicara. Itu yang kamu lakukan kalau kamera nyala.

Dua menit kemudian, earpiece-ku hidup lagi. Bukan suara Mas Herman. Suara dengung dari pemancar yang beda, sedikit berdesis, sedikit kasar.

Dan selama dua jam, aku siaran dengan suara yang aku dengar di monitor studio: kasar, capek, nggak rata.

Aku bisa mendengar diriku sendiri capek.

Selama delapan bulan, aku nggak pernah mendengar diriku capek di siaran. Aku pikir itu karena aku jago. Karena aku latihan napas tiap pagi. Karena profesional.

Selasa itu, aku mendengar napasku sendiri, pendek-pendek, dan suaraku turun di ujung kalimat, dan getar kecil di vokal panjang yang biasanya nggak ada.

Dan di segmen penutup, di kata semangat, suaraku pecah.

Waktu iklan pertama masuk, aku menunduk dan menutup mata.

Erga menepuk bahuku. “Gila,” katanya. “Tadi konsolnya mati total. Katanya master control pakai mixer dari gudang. Dua jam manual.”

Aku membuka mata.

“Siapa?” tanyaku.

“Tim teknis,” kata Erga. “Pak Bambang bilang tim teknis.”

Aku tahu siapa tim teknis.

Dan aku tahu, sekarang, dengan cara yang nggak bisa aku pura-pura nggak tahu lagi, kenapa selama delapan bulan suaraku nggak pernah terdengar capek di siaran. Aku sudah tahu sejak hari pertama nebeng Wati, dulu sekali. Kompresor. Dia memasang kompresor diam-diam di mic-ku. Setiap pagi.

Selasa itu, dia nggak sempat.

Selasa itu, dua juta orang mendengar aku capek, dan dia dengar paling jelas.

Aku pergi ke ruang ganti, mengunci pintu, dan duduk di lantai.

Aku nggak naik ke lantai empat belas.

Aku bisa. Lift ada di ujung koridor. Empat belas lantai. Dua menit. Aku bisa masuk ruang kontrol dan bilang makasih. Aku bisa bawa teh.

Tapi ruang kontrol penuh orang pagi itu. Pak Bambang. Mas Gilang. Kru yang naik untuk menepuk punggung tim teknis.

Dan kalau Cynthia Larasati Wirawan naik ke ruang kontrol membawa teh untuk teknisi, di depan semua orang, sehari sesudah satu kantin menertawakan cuma teknisi...

Aku nggak naik.

Sore harinya, Dino cerita di grup. Bukan soal konsol. Soal hal lain.

Dino: guys
Dino: tadi gue ke lt 14 nganter nasi padang buat salman
Dino: yura tidur di bahunya
Dino: di ruang kontrol
Dino: pintunya kebuka
Dino: pak darto ngepel jinjit2 kayak ninja
Dino: semua fader monitornya diturunin ke nol biar yura ga bangun
Dino: gue terharu tapi gue juga laper jadi gue makan nasi padangnya salman

Diana: Dino.
Diana: Kamu makan nasi padang orang lain.
Diana: Dan kamu juga bocorin hal yang bukan urusanmu.
Diana: Dua dosa dalam satu pesan.

Dino: maaf
Dino: nasi padangnya enak

Aku menatap pesan itu lama.

Pintunya kebuka.

Aku nggak pernah tidur di bahu Salman di tempat yang pintunya kebuka. Delapan bulan. Basement. Bioskop gelap. Atas Wati dengan helm dan masker. Zona D, blind spot CCTV.

Aku memilih semua tempat itu.

Yura memilih ruang kontrol dengan pintu terbuka.


Kamis malam, jam sembilan, Salman mengirim chat.

Salman: cyn
Salman: bisa ketemu
Salman: b2 zona c

Zona C. Bukan Zona D.

Zona C nggak blind spot. Zona C ada CCTV-nya. Zona C tempat aku pertama kali memeluknya dari belakang di atas Wati dan bilang aku nambah terus, Man.

Aku turun.

Basement B2 jam sembilan lewat dua puluh malam. Lampu neon yang satu berkedip, seperti selalu. Bau oli dan beton basah. Tiga mobil direksi, satu motor ojek kantor, dan Wati.

Salman duduk di jok Wati. Mesin mati. Hoodie hitam polos. Nggak ada gambar.

Aku nggak pernah lihat dia pakai hoodie tanpa gambar.

“Hai,” kataku.

“Hai.”

Aku berdiri di depannya. Tiga meter. Kebiasaan. Lalu aku sadar, dan melangkah lebih dekat. Satu meter.

“Kamu kenapa pakai hoodie polos?”

“Yang lain lagi dicuci.” Dia tersenyum sedikit. “Yang ungu dipinjam.”

Aku tahu siapa yang meminjam yang ungu.

Dia membuka jok Wati. Mengeluarkan map biru. Menyerahkannya padaku.

Aku membaca judulnya di bawah lampu neon yang berkedip. Logo TRAC Group. Logo dengan huruf Jepang. Program Beasiswa Ikatan Dinas TRAC Group — Broadcast Engineering. Tokyo.

Aku membaca halaman pertama. Lalu halaman kedua. Lalu kembali ke halaman pertama, karena halaman kedua nggak masuk ke kepalaku.

“Tokyo,” kataku.

“Tiga tahun,” kata Salman. “Dua tahun S2. Satu tahun magang. Berangkat bulan depan.”

“Kamu... dapat ini karena konsol?”

“Karena Raka kirim dua puluh tiga slide ke Pak Wiryo. Pakai Comic Sans.”

Aku tertawa. Satu detik. Lalu tawaku berhenti, karena aku sadar aku nggak tahu harus merasa apa.

“Kamu orang pertama yang aku kasih tahu,” kata Salman.

Dan di dadaku, sesuatu menghangat. Bangga. Aku yang pertama. Di antara semua orang, termasuk perempuan yang tidur di bahunya dengan pintu terbuka, aku yang pertama.

Lalu dia bicara lagi.

“Cyn,” katanya. “Kita udahan aja, ya.”

Lampu neon berkedip.

“Apa?”

Dia menatapku. Bukan wajah cuek. Bukan wajah absurd. Wajah yang tenang, terlalu tenang, seperti permukaan air yang di bawahnya ada sesuatu yang sangat dalam.

“Biar kamu nggak capek jaga jarak,” katanya.

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.

“Delapan bulan, Cyn. Kamu jalan tiga meter di depan aku di lobby. Kamu cek CCTV sebelum pegang tanganku. Kamu pakai helm kaca gelap. Kamu...” Dia berhenti. Menelan sesuatu. “Kamu capek. Aku dengar. Tiap pagi, aku dengar kamu capek. Aku pasang kompresor biar orang lain nggak dengar. Tapi aku dengar.”

“Man...”

“Aku nggak marah,” katanya. “Beneran. Aku ngerti kenapa. Ibumu. Kamera. Aku ngerti.”

“Terus kenapa...”

“Karena aku nggak mau jadi alasan kamu capek.” Dia tersenyum. Senyum yang paling sedih yang pernah aku lihat di wajah siapa pun. “Tiga tahun di Tokyo. Kamu nggak perlu jaga jarak lima ribu kilometer. Itu udah jaraknya sendiri.”

Aku seharusnya bilang jangan.

Aku seharusnya bilang aku nggak capek. Bohong, tapi bohong yang baik. Aku seharusnya bilang aku bakal jalan di sebelahmu mulai besok. Aku seharusnya memeluknya di Zona C yang ada CCTV-nya, dan membiarkan satpam di ruang monitor melihat.

Aku seharusnya.

Yang keluar dari mulutku adalah:

“Pergi aja, Man.”

Salman menatapku.

“Pergi aja,” ulangku. Suaraku stabil. Suara presenter. “Itu bagus buat kamu. Tokyo. S2. Kamu pantes dapat itu. Kamu pantes dapat lebih dari ruang kontrol lantai empat belas.”

Semua kalimat itu benar.

Dan di bawah semua kalimat itu, di tempat yang paling jujur dan paling jelek di dadaku, ada satu perasaan yang muncul pelan-pelan, seperti gelembung udara naik dari dasar kolam.

Lega.

Lega karena nggak perlu lagi mengecek CCTV. Lega karena nggak perlu lagi memakai helm kaca gelap. Lega karena akun gosip nggak akan punya foto baru. Lega karena Ibu nggak akan menelepon dengan suara yang pelan dan dingin, Kemarin kamu difoto di mana?

Lega karena masalahnya selesai sendiri. Tanpa aku harus memilih.

Salman melihatnya.

Aku tahu dia melihatnya. Dia orang yang bisa mendengar napas capek lewat mic lapel. Dia pasti bisa melihat lega di wajah yang jaraknya cuma satu meter.

Dia nggak bilang apa-apa soal itu.

Dia cuma mengangguk pelan.

“Nggak apa-apa,” katanya.


HP-nya berdering.

Di tengah semua itu. Di basement Zona C, di bawah lampu neon yang berkedip, di antara dua orang yang baru saja selesai.

Salman melihat layar. Lalu, karena dia Salman, dia mengangkatnya.

“Halo, Din.”

“MAN!” Suara Dino, keras, dari speaker yang entah kenapa menyala. “MAN, MARTABAK TELUR ITU PAKE DAUN BAWANG BERAPA BATANG? GUE LAGI BIKIN SENDIRI BUAT KONTEN. GUE UDAH MASUKIN LIMA, KOK RASANYA KAYAK LAPANGAN BOLA.”

Salman menatap HP-nya.

Aku menatap Salman.

“Dua batang, Din,” kata Salman, dengan suara yang sangat tenang dan sangat serius. “Yang satu buat cadangan.”

“CADANGAN BUAT APA?”

“Buat kalau yang pertama nggak cukup berani.”

Dino diam. “…Man, lo ngomongin martabak atau apa?”

“Martabak, Din.”

“OKE. MAKASIH. LO DI MANA? KOK GEMA?”

“Basement.”

“NGAPAIN DI BASEMENT JAM SEGINI?”

Salman menatapku.

“Ngembaliin helm,” katanya.

Dia menutup telepon.

Aku tertawa. Aku nggak mau tertawa. Tapi tawa itu keluar, dari tempat yang sama dengan tangis, dan untuk beberapa detik aku nggak tahu yang mana yang keluar. Salman tersenyum. Kami berdua di basement, tertawa karena Dino dan daun bawang, sementara sesuatu yang besar baru saja berakhir di antara kami.

Itu Salman. Itu selalu Salman. Bahkan waktu dunia runtuh, ada daun bawang.

Lalu tawaku habis.

Dan aku melangkah maju. Satu meter jadi nol.

Aku memeluknya.

Dia duduk di jok Wati, jadi kepalaku sejajar dengan kepalanya. Aku melingkarkan tangan di lehernya. Wajahku di bahunya, di hoodie hitam polos yang bau kaldu dan lavender murah. Dia memelukku balik. Pelan. Tangannya di punggungku, nggak bergerak, seperti orang yang memegang sesuatu yang dia tahu akan diambil.

Kamera CCTV di sudut Zona C merekam semua ini.

Aku nggak peduli. Untuk pertama kalinya, aku nggak peduli.

Aku nggak tahu itu pelukan terakhir.

Aku pikir itu pelukan sampai jumpa. Pelukan kita masih bisa ketemu besok, di malming, di lantai empat belas. Aku pikir masih ada waktu satu bulan sebelum dia berangkat. Aku pikir masih ada banyak pelukan.

Salman melepaskan pelukan duluan.

“Hoodie Anya,” katanya. “Yang kamu culik. Simpan aja.”

“Man...”

“Dia udah betah di bawah bantalmu.” Dia tersenyum. “Anya nggak suka pindah-pindah.”

Dia menyalakan Wati. Lampu depan menyala. Stiker mata anime berbinar di bawah neon yang berkedip.

Dia nggak menawariku helm. Helm merah muda berstiker kelinci tetap di dalam jok.

Wati melaju pelan menuju jalur keluar. Aku berdiri di Zona C, melihat lampu belakangnya mengecil. Di tikungan, Wati berhenti sebentar, seperti biasa, karena ada kucing.

Lalu jalan lagi. Dan hilang.


Aku naik lift ke lobby.

Lift nomor empat. Sendirian. Dinding cermin di tiga sisi.

Lantai B2. B1. Lobby.

Di antara B1 dan lobby, aku melihat wajahku sendiri di cermin. Tiga Cynthia. Dari depan, kiri, kanan. Semua dengan makeup yang masih utuh dari siaran pagi, karena aku nggak sempat menghapusnya.

Dan di ketiga wajah itu, aku melihatnya.

Lega.

Masih ada. Masih menempel di sudut bibir, di bahu yang lebih turun, di napas yang lebih panjang dari biasanya.

Aku lega dia pergi.

Lift berhenti di lobby. Pintunya terbuka. Pak Jono di pos satpam melambai. Lobby kosong. Layar LED raksasa memutar promo Sapa Pagi dengan wajahku, tersenyum, sepuluh meter tingginya.

Aku nggak keluar.

Aku menekan tombol tutup. Pintu lift menutup lagi.

Lalu aku duduk di lantai lift nomor empat, di antara tiga cermin, dan aku menangis. Bukan karena dia pergi. Bukan karena kami selesai.

Karena aku lega.

Karena laki-laki yang memasang kompresor di mic-ku setiap pagi selama delapan bulan, supaya dunia nggak dengar aku capek, baru saja bilang biar kamu nggak capek jaga jarak, dan bagian paling jujur dari diriku menjawab iya, terima kasih.

Aku menangis sampai lift itu dipanggil seseorang dari lantai sembilan belas.

Waktu pintu terbuka, aku sudah berdiri. Makeup sudah dirapikan pakai tisu. Senyum sudah dipasang.

Orang dari lantai sembilan belas itu masuk. Mengangguk sopan. “Malam, Mbak Cynthia.”

“Malam.”

Kamera selalu nyala.

Bahkan di lift. Bahkan sendirian. Bahkan waktu yang menonton cuma diriku sendiri, di tiga cermin, dan aku nggak suka sama sekali apa yang aku lihat.