← Pegang Duniaku Dulu

Chapter Twenty Nine

Kepala Audio yang Baru

POV: Yura

Email internal itu datang hari Jumat, jam empat sore, ke seluruh karyawan TRAC Tower.

Kepada seluruh keluarga besar TRAC,

Dengan bangga kami umumkan bahwa terhitung Senin depan, posisi Kepala Audio (Head of Broadcast Audio) TRAC akan dijabat oleh Salman Haikal, S.T., M.Eng., lulusan program beasiswa ikatan dinas TRAC Group di Tokyo.

Mohon dukungan dan sambutan hangat dari kita semua.

— Direktur Program, Wiryo Santoso

Aku membaca email itu di mejaku di lantai redaksi. Lalu membacanya lagi. Lalu membaca bagian M.Eng. sebelas kali, karena aku nggak bisa membayangkan Salman dengan gelar di belakang namanya, seperti nggak bisa membayangkan Si Oren memakai dasi.

Di sekitarku, lantai redaksi berdengung.

“Salman? Salman yang hoodie?”

“Yang dulu joget di kantin?”

“Kepala Audio? Dia lompat berapa level itu?”

“Katanya pulang dari Jepang. Tiga tahun.”

“Masih aneh nggak ya?”

Aku menutup laptop. Berdiri. Berjalan ke toilet, mengunci bilik, duduk di atas tutup kloset, dan menatap pintu.

Senin.

Tiga hari lagi.

Aku sudah menghitung mundur dari sembilan puluh satu. Tapi menghitung mundur dari angka besar itu beda dengan menghitung mundur dari tiga. Sembilan puluh satu itu janji. Tiga itu ancaman.

Aku mengeluarkan HP. Membuka catatan.

Bukan Yang Aku Lihat. Catatan baru. Yang aku buat tiga minggu lalu, waktu sisa hari tinggal dua puluh satu.

Judulnya Pidato.

Selamat datang kembali, Pak Kepala. Saya mewakili seluruh lantai redaksi menyampaikan selamat atas jabatan barunya. Kami bangga. Tiga tahun bukan waktu yang singkat, dan kami...

Aku membacanya. Satu paragraf. Elegan. Tenang. Profesional. Sedikit lucu di kalimat ketiga. Cukup hangat, nggak terlalu hangat. Suara presenter berita Wajah Malam yang menyambut narasumber.

Aku sudah melatihnya empat puluh dua kali. Di cermin. Di mobil. Di bawah shower. Di depan Si Oren di malming, yang menatapku seperti aku gila.

Rencanaku sederhana. Aku akan menyambutnya dengan elegan. Sebagai teman. Aku nggak akan berlari. Aku nggak akan menangis. Aku nggak akan menunjukkan bahwa selama tiga tahun aku tidur dengan earbud di telinga kiri dan menghitung hari di kalender yang aku coret pakai stabilo kuning.

Aku akan membiarkan dia yang mendekat.

Kali ini, aku nggak mau duluan.


Senin, jam tujuh lewat lima puluh pagi.

Aku sampai di lobby jam tujuh lewat tiga puluh. Siaranku jam sembilan malam. Aku nggak punya alasan apa pun untuk di kantor jam tujuh lewat tiga puluh pagi, kecuali rapat redaksi jam sebelas yang bisa aku ikuti dari Zoom.

Aku bilang ke diriku sendiri aku datang untuk sarapan di kantin.

Aku nggak ke kantin.

Aku berdiri di dekat pilar marmer di sisi kiri lobby, di belakang tanaman pot besar yang daunnya menutupi setengah badanku, memegang gelas kopi yang sudah dingin dari tadi, dan menatap pintu putar.

Lobby ramai. Jam masuk. Orang-orang berkemeja dan berblazer mengalir dari pintu putar ke lift. Pak Jono di pos satpam. Layar LED raksasa di dinding memutar promo Wajah Malam dengan wajahku sendiri, tersenyum tenang, sepuluh meter tingginya.

Wajah di layar itu tenang.

Wajah di balik tanaman pot ini sudah mengecek bedak di kamera HP tujuh kali.

Jam tujuh lewat lima puluh dua, pintu putar berputar.

Dan aku hampir nggak mengenalinya.


Dia lebih tinggi.

Nggak mungkin. Orang dewasa nggak tambah tinggi. Tapi dia berdiri lebih tegak. Bahunya nggak lagi sedikit turun ke depan, seperti dulu, seperti orang yang selalu siap minta maaf karena ada di ruangan. Bahunya lurus. Dadanya terbuka.

Rambutnya pendek. Dipangkas rapi di samping, sedikit lebih panjang di atas, disisir ke belakang dengan jari, bukan sisir. Dulu rambutnya selalu kelihatan seperti baru bangun tidur dan memutuskan nggak peduli.

Wajahnya lebih tirus. Garis rahangnya lebih jelas. Kulitnya sedikit lebih terang, bukan lagi gosong kena matahari Jakarta di atas Wati.

Blazer abu-abu arang. Kemeja putih, kancing teratas terbuka. Celana bahan hitam. Sepatu kulit cokelat.

Dan di balik blazer itu, di atas kemeja putih, ada hoodie.

Hoodie tipis. Abu-abu muda. Dengan gambar kecil di dada kiri, seukuran telapak tangan: seekor kucing yang memakai helm pemadam kebakaran, berdiri di atas mangkuk ramen, memegang selang air. Tulisan Jepang di bawahnya.

Hoodie anime. Edisi terbatas Jepang, pasti, karena aku belum pernah lihat gambar itu di mana pun. Dipakai di balik blazer, seperti orang yang menyelipkan rahasia.

Dia masih Salman.

Dia masih Salman, dan dia juga orang yang sama sekali baru, dan aku nggak tahu harus melihat yang mana dulu.

Dua perempuan dari divisi marketing yang baru keluar dari pintu putar di belakangnya berhenti berjalan. Saling menatap. Berbisik. Aku bisa membaca bibir mereka dari balik tanaman pot.

Siapa itu?

Tiga tahun lalu, perempuan-perempuan yang sama berbisik di lift soal hoodie kucing samurai. Dia kenapa sih?

Sekarang mereka berbisik siapa itu dengan nada yang sama sekali berbeda.

Pak Jono di pos satpam menatap Salman. Menyipitkan mata. Lalu berdiri dari kursinya, begitu cepat sampai kursinya terguling.

“MAS SALMAN?”

Salman menoleh ke pos satpam. Tersenyum.

Senyumnya masih sama. Lebar, sedikit miring ke kiri, sampai ke mata.

Lalu dia melakukan sesuatu yang membuat seluruh lobby berhenti.

Dia membungkuk.

Ke Pak Jono. Sembilan puluh derajat. Pinggang lurus, tangan di samping, kepala turun. Seperti di film Jepang.

“Ohayō gozaimasu, Pak Jono,” katanya. “Saya pulang.”

Pak Jono menatapnya. Lalu, bingung, panik, dan terharu sekaligus, Pak Jono ikut membungkuk. Sembilan puluh derajat. Topi satpamnya jatuh.

Kucing putih di pos satpam menatap mereka berdua dengan wajah datar.

Salman menegakkan badan. Lalu menatap kucing itu. Dan membungkuk lagi, sedikit, tiga puluh derajat.

“Halo, teman,” katanya ke kucing itu.

Aku menutup mulut dengan tangan. Di balik tanaman pot. Karena aku tertawa, dan tawaku keluar dari hidung dulu, dan aku nggak mau dia mendengar.

Dia masih Salman.


Lalu aku melihat Cynthia.

Dia baru turun dari lift, dari arah studio. Siaran Sapa Pagi baru selesai. Masih dengan makeup siaran, blazer krem, rambut ditata sempurna. Dia sedang membaca sesuatu di HP sambil berjalan ke pintu putar.

Lalu dia mengangkat kepala.

Dan berhenti.

Tiga meter dari Salman. Tepat tiga meter. Aku bisa mengukurnya dari ubin marmer.

Salman melihatnya. Senyumnya nggak berubah. Hangat. Sopan. Seperti senyum yang dia berikan ke Pak Jono, ke kucing, ke semua orang.

“Halo, Cyn,” katanya.

Cuma itu.

Bukan Cynthia. Bukan apa-apa yang lain. Halo, Cyn, dengan nada yang sama dengan halo, teman ke kucing putih di pos satpam.

Cynthia membeku. Aku melihat tangannya yang memegang HP. Jari-jarinya memutih di ujung.

Lalu dia tersenyum. Senyum kamera. Sempurna.

“Selamat datang kembali, Man,” katanya. “Selamat buat jabatannya.”

“Makasih.” Salman mengangguk. “Sapa Pagi tadi bagus. Suaramu jernih.”

Cynthia menatapnya. Sesuatu lewat di wajahnya. Cepat. Seperti bayangan burung di atas air. Aku tahu apa itu. Aku tahu karena aku juga sudah dengar tiga tahun Sapa Pagi tanpa kompresor diam-diam, tiga tahun suara Cynthia yang kadang capek dan nggak ada yang menyembunyikannya.

Hari ini suaranya jernih karena Raka sudah belajar. Bukan karena Salman.

Dan Salman tahu bedanya. Dengan telinga itu, dia pasti tahu.

“Makasih,” kata Cynthia.

Dia berjalan melewati Salman. Ke pintu putar. Nggak menoleh. Langkahnya sempurna, ritme sepatu hak yang teratur.

Sampai dia keluar pintu putar. Lalu, di trotoar, di balik kaca, dia berhenti. Dan menunduk. Lama.

Salman nggak melihat. Dia sudah berjalan ke arah lift.

Tapi aku melihat.

Dan aku merasakan sesuatu di dadaku, kecil dan tajam, yang namanya mungkin bersalah, dan aku menyimpannya untuk nanti, karena sekarang ada hal lain yang lebih mendesak.

Salman berjalan ke lift.

Lift ada di sisi kiri lobby.

Pilar marmer dengan tanaman pot besar juga ada di sisi kiri lobby.

Dia akan lewat tepat di depanku.


Aku keluar dari balik tanaman.

Aku nggak memutuskannya. Kakiku yang memutuskan. Seperti waktu di kantin, tiga tahun lalu, waktu aku berdiri dan berjalan ke tengah lantai tanpa berpikir.

Aku berdiri di jalurnya. Gelas kopi dingin di tangan kiri. Tangan kanan di samping. Punggung lurus. Dagu sedikit diangkat. Senyum Wajah Malam.

Salman melihatku.

Dan berhenti.

Satu meter. Lalu dia melangkah lagi, setengah langkah. Setengah meter.

Dia menatapku. Matanya. Matanya masih sama. Cokelat gelap, sedikit sipit di ujung kalau tersenyum. Tapi dia nggak tersenyum sekarang. Dia cuma menatap, seperti orang yang melihat sesuatu yang sudah dia gambar di kepalanya ratusan kali dan baru sekarang melihat versi aslinya.

Aku menarik napas. Pidato. Empat puluh dua kali latihan.

“Selamat datang kembali, Pak Kepala,” kataku. Suaraku stabil. Bagus. “Saya mewakili seluruh lantai redaksi menyampaikan selamat atas...”

Dia memotong rambut.

Itu yang aku pikirkan. Di tengah kalimat kedua. Dia memotong rambut. Dan ada bekas cukuran di belakang telinganya, garis tipis yang rapi, dan lehernya kelihatan sekarang, leher yang dulu tertutup rambut yang terlalu panjang, dan di bagian belakang lehernya, di bawah garis rambut...

“...atas jabatan barunya, kami...”

...merah.

Leher belakangnya mulai merah.

Persis di bawah garis rambut. Persis seperti yang aku tulis di catatan Yang Aku Lihat, jam satu pagi, setahun lalu.

“...kami bangga, tiga tahun bukan...”

Aku berhenti.

Kalimat ketiga hilang. Yang lucu. Yang sudah aku latih empat puluh dua kali. Hilang. Seperti seseorang mencabut kabelnya dari kepalaku.

Aku menatapnya. Dia menatapku.

“Kamu potong rambut,” kataku.

Suara presenter berita sudah pergi. Yang keluar adalah suara yang aku nggak kenal. Pecah. Pelan. Hampir nggak ada.

Salman diam satu detik.

Lalu dia tersenyum. Miring ke kiri. Sampai ke mata.

“Kamu pegang duniaku?” tanyanya.

Aku nggak bisa menjawab.

Aku merasakan mataku panas. Aku merasakan daguku mulai bergetar. Di tengah lobby. Jam tujuh lewat lima puluh tiga. Di depan Pak Jono, kucing putih, dua perempuan marketing, dan layar LED raksasa yang memutar wajahku sendiri, tersenyum tenang, sepuluh meter tingginya.

Kamera selalu nyala.

Itu bukan kalimatku. Itu kalimat Cynthia. Tapi di detik itu aku mengerti kenapa dia takut.

Aku berbalik.

Aku kabur.

Aku nggak tahu mau ke mana. Lift penuh. Pintu putar di belakangnya. Jadi aku berjalan cepat ke kanan, ke pintu tangga darurat di sudut lobby, yang selalu sepi karena nggak ada orang waras yang naik tangga di gedung tiga puluh lantai.

Aku mendorong pintunya.

Dan sebelum pintu itu menutup, ada tangan yang menahannya.

Lalu tangan itu memegang pergelangan tanganku.

Nggak keras. Pelan. Jari-jari yang kasar di ujung, bekas kenop. Melingkar di pergelangan tanganku, di atas jam tangan, di tempat nadi.

Dia memegang. Bukan aku yang memegang.

Dia.

“Yur,” katanya. “Jangan kabur. Aku baru pulang. Kakiku masih jet lag.”


Tangga darurat sepi. Lampu neon putih. Dinding beton dicat abu-abu. Bau debu dan cat lama. Gema langkah kaki dari lantai-lantai atas, jauh.

Aku duduk di anak tangga ketiga. Bukan karena mau duduk. Karena lututku nggak mau berdiri lagi.

Dan aku menangis.

Bukan menangis presenter berita. Bukan menangis yang bisa dihentikan dalam tiga detik. Menangis yang jelek. Yang aku simpan tiga tahun. Yang tumpah sekaligus, seperti bendungan yang ditabrak truk.

Salman berdiri di depanku sebentar. Lalu dia duduk.

Bukan di sebelahku. Di anak tangga kedua. Satu anak tangga di bawahku.

Supaya matanya sejajar dengan mataku.

Aku menatapnya lewat air mata. Dan aku ingat, aku menulis ini juga. Di catatan. Dia nunduk kalau ngomong sama orang yang lebih pendek. Biar matanya sejajar.

Tiga tahun di Tokyo, dan dia masih melakukannya.

Dia mengangkat lengannya. Lengan hoodie abu-abu muda yang keluar sedikit dari lengan blazer. Dan dengan ujung lengan hoodie itu, dia menyeka air mataku. Pelan. Kiri. Lalu kanan.

Seperti orang menyeka embun dari kaca.

“Kamu nggak bawa tisu?” tanyaku. Suaraku masih pecah.

“Bawa. Di saku blazer.” Dia menyeka lagi. “Tapi aku mau pakai yang ini.”

“Kenapa?”

“Soalnya kamu nyiumin hoodie aku di toilet dulu,” katanya. Serius. “Ada staf finance yang lapor ke Dino. Dino lapor ke aku. Waktu itu juga. Sebelum aku berangkat.”

Aku berhenti menangis.

Sepenuhnya. Seperti keran yang diputar.

“Dino,” kataku.

“Dino nggak bisa jaga mulut.”

“Kamu tahu dari tiga tahun lalu?”

“Aku tahu dari tiga tahun lalu.”

“Dan kamu nggak bilang apa-apa?”

“Aku nggak boleh kontak, Yur. Aturanku sendiri.” Dia tersenyum. “Tapi aku inget. Tiap kali aku nyuci hoodie di laundry koin di Koenji, aku inget. Bau kaldu, kenapa aku suka.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

“Aku mau mati,” kataku dari balik tangan.

“Jangan. Aku baru pulang.”

“Aku mau mati sebentar aja.”

“Lima menit?”

“Sepuluh.”

“Oke. Aku tunggu.”

Dia benar-benar menunggu. Duduk di anak tangga kedua, diam, sementara aku menutup wajah dan merasakan seluruh wajahku terbakar dari dalam.

Lalu, karena aku Yura, dan aku nggak bisa diam terlalu lama dalam posisi kalah, aku menurunkan tangan.

Menatapnya.

Dari dekat. Dari jarak satu anak tangga.

Lalu aku mengangkat tangan. Pelan. Dan menyentuh leher belakangnya. Di bawah garis rambut yang baru dicukur. Di tempat yang merah.

Kulitnya panas.

Salman membeku.

“Leher belakangmu,” kataku, pelan, “masih merah kalau kamu malu.”

Dia nggak bergerak. Aku melihat jakunnya. Naik. Turun.

“Itu juga ada di catatanku,” kataku. “Aku punya catatan, Man. Isinya semua hal yang aku lihat dari kamu. Biar aku nggak lupa selama tiga tahun.”

“Catatan apa aja?”

“Banyak.” Jempolku bergerak sedikit, di kulitnya yang panas. “Sebagian nggak boleh dibaca orang. Termasuk kamu.”

“Kenapa nggak boleh?”

Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya pagi itu, senyum yang aku kenal. Senyumku sendiri. Miring. Sedikit nakal.

“Soalnya aku nulisnya jam satu pagi,” kataku. “Dan aku udah janji bakal nggak sopan waktu kamu pulang.”

Aku menarik tanganku.

Dia menghembuskan napas. Panjang. Seperti di rooftop, tiga tahun lalu.

Lalu dia tertawa. Pelan. Menunduk. Menggaruk tengkuk, di tempat yang barusan aku sentuh, dan wajahnya merah sampai ke telinga, dan dia nggak berusaha menyembunyikannya.

“Tiga tahun,” katanya. “Kamu masih ketawa dari hidung?”

Aku membuka mulut untuk menjawab. Tapi pertanyaannya terlalu bodoh, dan dia menanyakannya dengan wajah terlalu serius, dengan leher terlalu merah, dan aku sudah terlalu lama menunggu untuk mendengar suara bodoh itu menanyakan hal-hal bodoh.

Jadi aku tertawa.

Dari hidung dulu.

Lalu pecah.

Di tangga darurat. Dengan makeup yang luntur. Dengan pidato empat puluh dua kali latihan yang hilang di kalimat kedua. Dengan kepala audio baru yang memakai hoodie kucing pemadam kebakaran di balik blazer abu-abu arang.

Salman menatapku tertawa. Dan dia tersenyum. Senyum yang bukan senyum ke Pak Jono. Bukan senyum ke kucing. Bukan senyum ke Cynthia.

Senyum yang aku belum pernah lihat. Yang pelan-pelan, dari dalam, seperti lampu yang dinyalakan pakai dimmer.

“Masih,” katanya. Lebih ke dirinya sendiri. “Masih dari hidung.”


Waktu kami keluar dari tangga darurat, sepuluh menit kemudian, lobby sudah sepi.

Hampir sepi.

Pak Jono masih di pos satpam, memasang lagi topinya yang tadi jatuh. Dia menatap kami. Menatap makeup-ku yang luntur. Menatap leher Salman yang masih merah.

Lalu dia membungkuk. Sembilan puluh derajat. Ke kami berdua.

Topinya jatuh lagi.

“Pak Jono,” kata Salman, “nggak usah bungkuk terus. Nanti punggungnya.”

“Saya latihan, Mas,” kata Pak Jono dari posisi membungkuk. “Biar sopan sama kepala audio.”

Kami naik lift bersama. Lift nomor dua. Yang sempit. Berdua.

Di dalam lift, aku berdiri di sebelahnya. Bahu kami nggak bersentuhan. Tapi jaraknya cuma lima senti, dan aku bisa merasakan kehangatan lewat blazernya.

Aku memasukkan tangan ke saku blazerku. Menyentuh kotak kecil di dalamnya.

Earbud kiri.

Aku bisa mengembalikannya sekarang. Di lift ini. Tinggal mengeluarkan kotak itu, membukanya, menyerahkannya. Duniamu, Man. Udah pulang.

Aku nggak mengeluarkannya.

Karena kalau aku kembalikan, janji itu selesai. Pegang duniaku dulu. Tanya lagi tiga tahun lagi. Tiga tahun sudah lewat. Kalau aku kembalikan earbud ini, artinya aku harus bertanya. Dan kalau aku bertanya, dia harus menjawab.

Dan aku belum siap mendengar jawabannya.

Bukan karena aku takut jawabannya nggak. Aku tahu, dari leher yang merah dan lengan hoodie yang menyeka air mata, jawabannya kemungkinan besar bukan nggak.

Aku takut karena kalau jawabannya iya, aku nggak tahu harus bagaimana lagi. Tiga tahun aku jago menunggu. Aku nggak tahu apakah aku jago mendapat.

Lift berhenti di lantai empat belas. Pintunya terbuka.

Salman keluar. Lalu menoleh.

“Yur.”

“Hm?”

“Kotak di saku blazermu,” katanya. “Jangan dibalikin dulu.”

Aku membeku.

“Aku belum siap ditanya,” katanya. Telinganya merah lagi. “Aku udah belajar banyak di Tokyo. Tapi aku belum belajar jawab pertanyaan itu sambil lihat mukamu dari dekat. Butuh latihan.”

Pintu lift mulai menutup.

“Berapa kali latihan?” tanyaku cepat.

Salman tersenyum.

“Kamu berapa kali latihan pidato tadi?”

“...Empat puluh dua.”

“Aku empat puluh tiga,” katanya. “Biar menang satu.”

Pintu lift menutup.

Aku berdiri sendirian di lift yang sekarang bergerak ke atas, ke lantai redaksi, dan aku menyandarkan punggung ke dinding, dan aku menutup mata, dan aku tersenyum seperti orang bodoh.

Tanganku di saku blazer. Menggenggam kotak kecil.

Di telinga kiriku, nggak ada apa-apa.

Tapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, hening itu nggak terasa kosong.