← Pegang Duniaku Dulu

Chapter Thirty

Klasemen Korban Salman

POV: Salman

Pak Darto masih meniup alas itu.

Aku tahu dari Raka, lewat email pertama yang aku kirim ke kantor sesudah mendarat. Bukan email pribadi. Email kerja. Mohon daftar inventaris master control per hari ini. Raka membalas dengan dua puluh tiga lampiran dan satu kalimat di paling bawah, dalam huruf kecil, seperti orang yang berbisik di akhir rapat.

P.S. Pak Darto masih niup alasnya tiap pagi, Mas. Jam 6.15. Tiga tahun nggak pernah bolos.

Jadi hari kedua sesudah pulang, Selasa, aku datang ke lantai empat belas jam enam lewat sepuluh.

Master control masih gelap. Cuma lampu indikator konsol yang berkedip, dan konsol itu baru. Bukan konsol lama yang mati. Konsol baru, lebih besar, dengan catu daya terpisah. Aku tahu karena Pak Bambang mengirimkan foto-fotonya ke email TRAC-ku setiap tiga bulan selama tiga tahun, tanpa kalimat apa pun, cuma foto, seperti orang yang minta maaf dengan cara memperlihatkan bahwa dia sudah memperbaikinya.

Rak akrilik masih di tempat yang sama. Dua puluh satu figure. Raka membersihkannya. Aku bisa lihat dari tidak adanya debu di kepala Zoro.

Dan di tengah, alas paling tinggi, kosong.

Kertas yang ditempel di sana sudah menguning. Selotipnya sudah diganti, tiga kali, dari bekas lem yang berlapis di pinggirnya. Tintanya sudah sedikit pudar, tapi tulisan Pak Darto yang besar-besar dan miring-miring masih terbaca.

LAGI TUGAS JAGA DI TOKYO.

Aku berdiri di depannya lama.

Jam enam lewat lima belas, pintu terbuka.

Pak Darto masuk. Seragam OB biru. Ember di tangan kiri. Kemoceng di tangan kanan. Dia berjalan langsung ke rak akrilik, tanpa menyalakan lampu, karena dia sudah hafal jalannya, dan dia membungkuk sedikit ke depan alas kosong, dan meniup.

Fuuuh.

Debu yang nggak ada beterbangan ke udara yang gelap.

“Pagi, Darto-san,” kataku.

Pak Darto melompat. Kemocengnya jatuh. Dia berbalik.

Dia melihatku. Di bawah lampu indikator konsol yang berkedip hijau dan merah. Lama.

“Mas...”

“Saya pulang, Pak.”

Pak Darto nggak bergerak. Lalu wajahnya mulai bergetar. Mulai dari dagu. Naik ke bibir. Ke pipi.

“Darto-san itu apa, Mas?” tanyanya. Suaranya sudah pecah.

“Panggilan hormat, Pak. Di Jepang. Kayak Pak tapi lebih sopan.”

“Saya OB, Mas.”

“Iya. OB yang niup alas kosong tiga tahun tiap pagi. Itu orang yang harus dipanggil pakai -san.”

Pak Darto menangis.

Pak Darto selalu menangis. Mas Ujang dulu bilang Pak Darto nangis rata-rata satu kali seminggu. Tapi aku belum pernah melihatnya menangis seperti ini, berdiri di depan rak akrilik dengan ember di tangan dan kemoceng di lantai, bahu bergetar, tanpa suara, seperti orang yang menahan napas selama tiga tahun dan baru boleh melepaskannya.

Aku mengeluarkan sesuatu dari tas.

Figure. Kecil. Sepuluh senti. Kucing yang memakai helm pemadam kebakaran, berdiri di atas mangkuk ramen, memegang selang air. Sama dengan gambar di hoodie-ku. Aku membelinya di toko kecil di Nakano, di lantai tiga gedung tua yang penuh toko figure, dari bapak-bapak tua yang bilang hanya ada lima puluh di seluruh Jepang.

Aku menaruhnya di alas paling tinggi. Di tengah. Di depan kertas yang menguning.

Lalu aku melepas kertas itu pelan-pelan. Melipatnya. Memasukkannya ke saku blazer.

Aku mengambil sticky note kuning dari laci. Menulis dengan spidol hitam. Menempelnya di bawah figure kucing pemadam kebakaran.

SUDAH PULANG.

Pak Darto menatap tulisan itu. Lalu menatapku.

“Mas,” katanya, menghapus hidung dengan punggung tangan. “Aturannya masih sama?”

“Aturan apa, Pak?”

“Boleh lihat, nggak boleh pegang.”

Aku menatap figure itu. Kucing pemadam kebakaran. Yang hanya ada lima puluh di seluruh Jepang.

“Bapak boleh pegang,” kataku. “Bapak boleh tiup juga. Kalau Bapak masih mau.”

Pak Darto mengambil kemocengnya dari lantai. Lalu, pelan, dengan dua tangan, dia membungkuk ke figure itu.

Fuuuh.

“Selamat datang, Mas Kucing,” bisiknya.


Sabtu siang, aku ke Depok.

Ibu sudah ketemu aku hari Minggu, di bandara. Ibu menunggu di pintu kedatangan dengan daster batik dan jilbab cokelat dan rantang berisi bakso. Sebelum aku sempat menaruh koper, Ibu sudah membuka rantang itu dan menyuapiku satu bakso, di depan pintu kedatangan internasional, di depan petugas bandara dan puluhan penumpang yang baru turun dari Tokyo. Petugas bandara menegur. Ibu menyuapi petugas bandara juga. Petugas itu diam, mengunyah, lalu mengangguk dan pergi.

Aku nggak tahu Dino belajar makan bakso sebagai bentuk perlawanan dari siapa. Sekarang aku tahu.

Hari ini aku ke Depok bukan untuk Ibu.

Aku ke Depok untuk Wati.

Terpal biru di samping warung masih ada. Lebih pudar. Ada tambalan di satu sisi, ditempel pakai lakban cokelat. Ibu bilang ada kucing yang tidur di atasnya setiap malam sampai terpalnya bolong.

Aku membuka terpal itu.

Wati di bawahnya. Putih. Bulat. Mungil. Kayak marshmallow beroda. Bersih. Berkilat. Ibu mengelapnya setiap Jumat, sesudah memanaskannya. Bannya masih keras. Joknya masih empuk. Stiker mata anime di atas lampu depannya mengelupas di pojok kiri, sedikit, seperti kelopak mata yang mengantuk.

Aku jongkok di depan Wati.

“Wat,” kataku.

Wati diam.

“Aku pulang.”

Wati diam.

Aku memasukkan kunci. Memutarnya. Lampu indikator di dasbor menyala. Baterai: empat puluh satu persen. Ibu nggak pernah mengecasnya penuh, kata Ibu, karena Ibu takut nanti Wati kekenyangan terus nggak mau jalan.

Aku nggak menyalakan mesinnya dulu.

Aku membuka tas. Mengeluarkan baterai baru yang aku pesan dari distributor di Cikarang dua minggu sebelum pulang, yang sudah dikirim ke warung Ibu dan disimpan di bawah kasur Ibu karena Ibu bilang barang mahal harus disimpen di tempat yang paling aman.

Dua jam aku mengganti baterai Wati. Di depan warung. Dengan obeng dan kunci L dan senter HP. Dua pelanggan warung menonton sambil makan bakso. Satu bapak-bapak bertanya apakah aku bisa servis motor bebek juga.

“Bisa, Pak,” kataku. “Tapi motor bebek nggak punya mata.”

Bapak itu menatap Wati. Menatap stiker mata anime. Lalu mengangguk pelan, seperti mengerti sesuatu yang dalam.

Waktu selesai, aku mengganti stiker mata animenya juga. Stiker baru, dari Tokyo, yang aku beli di toko yang sama dengan figure kucing pemadam kebakaran. Mata yang lebih besar. Lebih berbinar. Dengan bulu mata.

Aku memutar kunci. Menekan tombol starter.

Wati berdengung.

Pelan. Halus. Seperti napas orang yang baru bangun dari tidur panjang.

Aku menekan klakson.

Chaiyya Chaiyya. Delapan bit. Cempreng. Bangga.

Dua pelanggan warung bertepuk tangan. Bapak motor bebek mengangkat jempol. Dan dari pintu dapur, Ibu keluar, centong di tangan, dan menatap Wati yang menyala, dan menatapku yang duduk di atasnya.

Ibu nggak bilang apa-apa.

Ibu cuma berjalan ke Wati dan menepuk joknya. Dua kali. Seperti menepuk punggung cucu.

“Wati,” kata Ibu. “Anak Ibu pulang.”

Lalu Ibu menatapku.

“Nak Yura tiap bulan ke sini,” kata Ibu. Santai. Seperti membicarakan cuaca. “Makan bakso. Level lima sekarang. Dari level tiga.”

Aku diam.

“Dia nggak pernah nanya alamat,” lanjut Ibu. “Satu kali pun. Dia cuma duduk. Makan. Ngobrol soal harga daging.” Ibu mengaduk sesuatu yang nggak ada di tangannya. “Terus sebelum pulang, dia selalu buka terpal Wati. Jongkok di depannya. Ngomong.”

“Ngomong apa, Bu?”

“Ibu nggak dengar. Ibu nggak nguping.” Ibu berbalik ke dapur. Lalu berhenti. “Tapi sekali, Ibu dengar dia bilang kita senasib, Wat.”

Pintu dapur menutup.

Aku duduk di atas Wati, mesin menyala, dan aku nggak bergerak selama lama sekali.


Malming jam tujuh.

Aku datang jam tujuh lewat lima belas, karena Wati mampir ke SPKLU di Mampang dan ternyata antrean SPKLU sekarang panjang, ada empat motor listrik lain, dan salah satunya punya stiker mata anime juga, dan pemiliknya bilang dia beli stiker itu karena lihat video viral tiga tahun lalu soal goddess TRAC naik motor listrik bermata.

Aku nggak bilang apa-apa ke dia. Aku cuma membungkuk sedikit. Dia membungkuk balik, bingung.

Kedai Ruang Tunggu masih sama. Rak buku. Lampu kuning. Pak Hendro di balik meja kasir, rambutnya lebih putih. Foto-foto di dinding, ditambah beberapa yang baru: foto Erga berlutut dengan toples srikaya, foto Diana dengan cincin lengket, dan tiga kartu pos dari Koenji yang ditempel berjejer. Salam buat semua.

Meja pojok. Kertas RESERVED — RUANG TUNGGU FC.

Mereka sudah lengkap.

Dino yang pertama melihatku. Dia sedang memegang martabak. Martabak itu jatuh ke meja. Lalu Dino berdiri, begitu cepat sampai kursinya terguling, persis seperti Pak Jono, dan dia berlari, dan dia menabrakku.

Bukan memeluk. Menabrak. Seperti truk.

Aku mundur dua langkah dan menabrak pintu kafe.

Dino memelukku. Erat. Wajahnya di bahuku. Badannya bergetar.

“Man,” katanya. “Man. Man. Man.”

“Halo, Din.”

“Gue jaga, Man. Meja enam orang. Tiga tahun. Gue jaga.”

“Aku tahu. Raka cerita.”

“Kadang cuma gue sendiri. Kadang sama Yura. Kadang sama Si Oren doang. Gue tetep pesen enam. Terus lima, abis surat lo. Tapi tetep.”

“Aku tahu.”

Dino nggak melepaskan pelukan. Satu menit. Dua menit. Pak Hendro di balik meja kasir mulai menghitung dengan jari. Tiga menit.

“Din,” kata Diana dari meja pojok. “Kamu udah meluk tiga menit. Itu lebih lama dari pelukan Erga waktu aku terima lamarannya.”

“Itu beda,” kata Dino ke bahuku. “Itu cuma lamaran. Ini Salman.”

Erga, di sebelah Diana, mengangguk serius. “Dia benar, sayang. Ini Salman.”

Diana menatap Erga. Menulis sesuatu di buku catatan batik. Lalu menatapku dari ujung kepala sampai kaki.

Dino akhirnya melepaskan pelukan. Matanya merah. Hidungnya meler. Bahu blazerku basah.

Aku berjalan ke meja pojok.

Yura duduk di sana. Di kursi yang dulu Dino bilang selalu dia duduki selama tiga tahun. Kursiku.

Dia nggak berdiri. Dia cuma menatapku, menopang dagu dengan satu tangan, dan tersenyum. Senyum yang miring. Senyum yang dia tunjukkan di tangga darurat, sesudah berhenti menangis.

Lalu dia menepuk kursi kosong di sebelahnya.

Satu-satunya kursi kosong.

Cynthia duduk di seberang. Kemeja putih, celana jeans, rambut digerai. Cantik. Selalu cantik. Dia tersenyum padaku. Senyum sopan. Senyum halo, Man.

“Halo, Cyn,” kataku.

“Halo.”

Aku duduk di sebelah Yura.

Diana mengetuk meja dengan pulpen. Tiga kali. Seperti hakim.

“Sebelum kita mulai,” katanya, “aku harus membuat pengumuman resmi.”

Dia membuka buku catatan batik. Bukan halaman Klasemen Hoodie Salman Haikal. Halaman baru. Judulnya ditulis dengan tinta merah, digarisbawahi dua kali.

“Klasemen Korban Kegantengan,” baca Diana. “Edisi revisi.”

Erga menutup wajah dengan tangan.

“Selama empat tahun,” lanjut Diana, “klasemen ini dipimpin oleh Erga Mahendra, dengan empat puluh tujuh korban terkonfirmasi, termasuk staf katering, petugas parkir, dua mahasiswi magang, dan satu ibu-ibu arisan yang salah masuk lift.” Dia menatap Erga. “Termasuk aku. Korban terakhir. Klasemen sempat ditutup karena tidak ada korban yang tersisa.”

“Sayang,” kata Erga dari balik tangan.

“Namun.” Diana mengangkat pulpen. “Sejak Senin pagi, juri menerima laporan baru. Banyak laporan baru.”

Dia membalik halaman.

“Senin, jam tujuh lewat lima puluh dua. Dua staf marketing berhenti berjalan di lobby dan berbisik siapa itu. Senin, jam sebelas. Tiga staf finance mengantar kopi ke lantai empat belas tanpa diminta. Senin, jam dua siang. Seorang produser TRAC Prime bernama Adrian bertanya ke Raka apakah kepala audio yang baru sudah ada yang punya.” Diana mengangkat kepala. “Untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain, juri tidak tahu. Juri tidak mau tahu.”

Dino tertawa sampai tersedak.

“Selasa sampai hari ini. Juri menerima tujuh belas laporan lain yang tidak akan juri bacakan karena juri punya batas kesopanan.” Diana menutup buku catatan. “Klasemen Korban Kegantengan resmi dibuka kembali. Pemimpin klasemen yang baru...”

Dia menunjukku dengan pulpen.

“...Salman Haikal. Dua puluh tiga korban dalam enam hari. Rekor.”

Erga menurunkan tangan dari wajahnya. Dia menatapku. Matanya berbinar, basah sedikit, seperti orang yang baru dibebaskan dari penjara.

“Akhirnya,” kata Erga. Dia meraih tanganku di atas meja. Menjabatnya erat. “Akhirnya ada yang gantiin aku, Man. Selamat datang di neraka.”

“Ini neraka?”

“Kamu bakal dapet bekal anonim tiap hari. Kamu bakal dikejar staf katering. Kamu bakal nggak bisa makan siang di kantin tanpa ada yang minta foto.” Erga menepuk tanganku. “Aku doain kamu kuat.”

“Lima kata,” kata Diana. Dia mengangkat tangan ke arahku. “Ganteng.” Satu jari. “Sekarang.” Dua jari. “Tetap.” Tiga jari. “Aneh.” Empat jari. Lalu dia menatapku lama, dari rambut yang dipangkas sampai hoodie kucing pemadam kebakaran di balik blazer.

“Bagus,” katanya. Lima jari.

Aku tertawa.

Di sebelahku, Yura juga tertawa. Dari hidung dulu. Bahunya menyentuh bahuku waktu dia tertawa, dan dia nggak menariknya.

Di seberang, Cynthia tertawa juga. Pelan. Sopan.

Dengan tangan menutup mulut.


Jam delapan, Dino bertanya.

Kami sudah makan lima mangkuk. Pak Hendro menambah satu lagi tanpa diminta, dan menaruhnya di depanku, dan menepuk bahuku dua kali tanpa bilang apa-apa. Martabak Dino sudah habis dua kotak. Erga dan Diana sedang berdebat soal warna undangan pernikahan mereka, yang ternyata akan disebar bulan depan. Si Oren tidur di pangkuan Yura.

Dino meletakkan sendok. Menatapku.

“Man,” katanya. “Lo kangen nggak?”

Meja pojok jadi sedikit lebih sunyi.

“Sama kita,” lanjut Dino. “Selama tiga tahun. Lo nggak kontak sama sekali. Gue tahu itu aturan lo. Gue hormatin. Tapi kadang gue mikir, mungkin lo nggak kangen. Mungkin lo seneng di sana. Mungkin malming ini...” Dia menatap meja. Kertas RESERVED. Mangkuk-mangkuk. “...mungkin malming ini cuma penting buat gue doang.”

Tiga tahun lalu, aku akan bilang nggak apa-apa, Din. Aku akan menepuk bahunya, bercanda soal martabak, dan membiarkan pertanyaan itu lewat.

Tiga tahun lalu, aku nggak punya kata lain.

Aku teringat lab Profesor Takeda. Ruang anechoic. Ruang tanpa gema, di mana aku pertama kali mendengar jantungku sendiri dan menyadari jantung itu agak fals. Aku teringat Profesor Takeda menatapku di bulan kedelapan belas, waktu aku bilang nggak apa-apa, Sensei untuk kesekian kalinya soal jadwal lab yang diubah tanpa pemberitahuan, padahal itu membuatku tidur di lab tiga malam.

Salman-kun, katanya waktu itu. In audio, silence is a choice. Not a default. You choose to mute. The world does not mute you.

Diam itu pilihan. Bukan bawaan pabrik.

Aku menatap Dino.

“Din,” kataku. “Kamu jaga meja enam orang tiga tahun.”

“Iya.”

“Kadang sendirian. Kadang cuma sama Si Oren.”

“Iya.”

“Itu apa-apa buat aku.”

Dino menatapku.

“Itu apa-apa buat aku, Din,” ulangku. Lebih pelan. “Itu penting. Itu bikin aku nangis di kamar kosku di Koenji waktu Raka cerita lewat email kerja. Aku nangis sampai tetangga sebelahku ngetuk dinding. Aku kangen. Tiap malming. Tiap Sabtu jam tujuh waktu Jakarta, jam sembilan waktu Tokyo, aku duduk di kedai ramen Fumiko-baachan dan pesan bakso yang nggak ada di menunya. Fumiko-baachan nggak ngerti. Aku tetap pesan.”

Hening.

Dino menatapku. Wajahnya mulai bergetar. Dagu dulu. Naik ke bibir.

“Lo... lo nggak pernah ngomong kayak gitu, Man,” katanya.

“Aku belajar,” kataku. “Di Tokyo. Butuh tiga tahun.”

Dino menangis lagi. Untuk kedua kalinya malam itu. Dia menangis ke martabak kotak ketiga yang baru dia buka, dan Diana menyodorkan tisu tanpa melihat, dan Erga menepuk punggungnya, dan Pak Hendro mengantar mangkuk ketujuh yang nggak dipesan siapa-siapa.

Di sebelahku, aku merasakan sesuatu. Di bawah meja.

Tangan Yura. Di pahaku. Di atas celana bahan hitam. Bukan menggenggam. Cuma diletakkan. Diam. Hangat.

Lalu jarinya bergerak. Sedikit. Ibu jarinya, menggambar lingkaran kecil.

Aku membeku.

Yura nggak melihatku. Dia menatap Dino, menyodorkan tisu kedua, dengan wajah yang sangat tenang dan sangat sopan dan sangat presenter berita. Seolah tangannya di bawah meja bukan miliknya.

Lingkaran kecil. Satu. Dua. Tiga.

Aku menatap mangkuk ketujuh. Menghitung bakso di dalamnya. Lima. Enam. Telingaku panas.

Di seberang, Cynthia menatap mangkuknya sendiri. Dia nggak bisa lihat apa yang terjadi di bawah meja.

Tapi aku melihat dia berhenti makan.


Malming selesai jam sepuluh.

Cynthia pulang pertama. Dia memeluk Dino, menepuk bahu Erga, tersenyum ke Diana. Lalu dia berdiri di depanku. Satu meter.

“Selamat datang kembali, Man,” katanya. Lagi. Seperti di lobby. Seperti dia nggak tahu kalimat lain.

“Makasih, Cyn.”

Dia menatapku. Ada sesuatu di matanya yang ingin keluar. Aku mendengarnya, dengan cara aku mendengar napas capek lewat mic lapel. Ada kalimat di balik giginya.

Dia nggak mengucapkannya.

Dia tersenyum, dan pulang.

Erga dan Diana pulang berdua, dengan Diana yang menyetir karena Erga terlalu emosional untuk mengemudi sesudah melihat Dino nangis dua kali. Dino pulang dengan ojek, membawa tiga kotak martabak sisa.

Tinggal aku dan Yura di depan Kedai Ruang Tunggu.

“Sopirmu?” tanyaku.

“Aku suruh pulang,” kata Yura. “Jam delapan tadi.”

“Kenapa?”

Dia menatap Wati yang diparkir di depan kedai. Menatap stiker mata anime yang baru, dengan bulu mata.

“Soalnya aku mau dibonceng,” katanya. “Udah tiga tahun aku nggak dibonceng.”

Aku membuka jok Wati.

Di dalamnya, dua helm. Helm merah muda berstiker kelinci, yang lama, yang selama tiga tahun terlipat di jok di bawah terpal biru. Dan helm baru. Putih, kecil, berstiker kelinci kuning. Yang aku beli di Koenji di bulan kedua puluh, di toko helm sepeda, tanpa menjelaskan ke siapa pun untuk siapa.

Aku mengeluarkan yang putih. Menyerahkannya ke Yura.

Yura menatap helm itu. Menatap stiker kelinci kuning.

“Ini baru,” katanya.

“Dari Tokyo.”

“Kelincinya kuning.”

“Yang pink udah ada pemiliknya,” kataku. “Yang ini belum pernah dipakai siapa-siapa. Ukurannya aku kira-kira. Kepala kamu sedikit lebih kecil dari Cynthia. Kamu pernah bilang yang pink agak sempit.”

Yura nggak bilang apa-apa.

Dia memakai helm itu. Memasang tali dagunya. Lalu membuka kaca helmnya, sepenuhnya, ke atas.

Pas.


Hujan turun di Mampang.

Bukan gerimis. Hujan Jakarta yang langsung, tanpa basa-basi, seperti seseorang membalik ember raksasa di atas kota. Dalam sepuluh detik, kami basah. Dalam dua puluh detik, aku nggak bisa melihat jalan.

Aku membelokkan Wati ke minimarket di pinggir jalan. Yang punya atap kecil di depan, dan parkiran sempit, dan lampu putih yang terlalu terang.

Kami berteduh di bawah atap. Wati di sebelah kami, menetes.

Baterai: dua belas persen.

“Wati capek,” kataku. “Dia baru bangun setelah tiga tahun. Terus langsung disuruh hujan-hujanan.”

“Dia butuh dicas?”

“Butuh.”

Yura menatap ke dalam minimarket. Lalu tersenyum.

Lima menit kemudian, Wati dicas di stopkontak di sebelah kulkas es krim, di dalam minimarket, dengan kabel ekstensi yang dipinjamkan mas kasir yang ternyata menonton Wajah Malam setiap Jumat dan langsung mengenali Yura meskipun rambutnya basah dan makeup-nya luntur.

“Mbak Yura, ya?” katanya, memegang kabel. “Yang di TV?”

“Iya, Mas.”

Mas kasir menatapku. Blazer basah. Hoodie kucing pemadam kebakaran yang basah. Rambut yang menempel di dahi.

“Ini... siapa, Mbak?”

Yura menatapku. Lama. Hujan menderu di atap seng minimarket.

“Ini yang punya motor,” katanya.

Mas kasir mengangguk, puas dengan jawaban itu, dan kembali ke kasir.

Kami berdiri di luar, di bawah atap, sementara Wati makan listrik di sebelah es krim.

Yura menggigil.

Aku melepas blazer. Basah, tapi lebih tebal dari kemeja tipisnya. Aku menyampirkannya ke bahunya.

Dia menatap blazer itu. Lalu menatapku. Lalu, tanpa peringatan, dia keluar dari bawah atap.

Ke parkiran. Ke tengah hujan.

“Yur!”

Dia nggak berhenti. Dia berjalan ke tengah parkiran yang kosong, blazerku di bahunya, hujan menghantam wajahnya, dan dia berbalik menghadapku.

Lalu dia mengangkat tangan.

Dan menari.

Bukan joget Bollywood. Bukan tari tradisional. Sesuatu di antara keduanya. Pelan. Tangan yang melengkung di atas kepala. Kaki yang berputar di genangan air. Blazerku melayang di bahunya seperti selendang yang terlalu berat. Rambutnya basah, menempel di pipi, di leher.

Dia menari di bawah hujan, di parkiran minimarket di Mampang, jam sepuluh lewat dua puluh malam.

“Nyanyi, Man!” teriaknya. “Yang fals!”

Aku menatapnya.

Lalu aku menyanyi.

Tujhe Dekha To. Fals. Keras. Di bawah atap minimarket. Suaraku pecah di nada tinggi pertama, seperti biasa, dengan sengaja. Mas kasir menoleh dari balik kaca. Seorang bapak ojek yang berteduh di ujung atap menoleh.

Yura tertawa. Dari hidung dulu. Lalu pecah. Di tengah hujan.

Dia menari mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Sampai ke tepi atap. Hujan memisahkan kami, satu garis air yang jatuh dari ujung seng.

Dia mengulurkan tangan. Melewati garis air itu.

Aku berhenti menyanyi.

“Yur, aku basah.”

“Kamu udah basah,” katanya. “Aku juga. Kita impas.”

Aku menatap tangannya. Basah. Jari-jarinya mengerut sedikit karena air.

Lalu aku menggenggamnya.

Aku. Yang menggenggam.

Dia menarikku keluar dari bawah atap. Ke hujan. Air menghantam kepalaku, bahuku, punggungku. Hoodie kucing pemadam kebakaran langsung menempel di badan. Kemeja di bawahnya juga.

Yura nggak melepaskan tanganku.

Kami berdiri di tengah parkiran. Hujan. Lampu minimarket yang terlalu terang. Bapak ojek di ujung atap yang bertepuk tangan pelan, ragu, seperti nggak yakin apakah ini pertunjukan.

Yura mendekat. Sampai blazerku di bahunya menyentuh dadaku.

Dia mengangkat tangan yang bebas. Ke wajahku. Ke bibirku.

Dengan ibu jari, dia menyeka air hujan dari bibir bawahku. Pelan. Seperti waktu dia menyeka sambal, tiga tahun lalu, di malming, di depan semua orang.

Tapi kali ini dia nggak membawa jempolnya ke bibirnya sendiri.

Kali ini dia membiarkannya di sana. Di bibirku. Satu detik. Dua detik.

“Man,” katanya. Pelan. Di bawah suara hujan, tapi aku dengar, karena aku selalu dengar dia. “Kamu udah latihan berapa kali?”

Aku tahu maksudnya. Empat puluh tiga kali. Latihan menjawab.

“Belum ada,” kataku. Suaraku serak. “Baru pulang enam hari.”

“Ini bisa jadi latihan pertama.”

Hujan.

Aku menatap matanya. Basah. Bulu matanya menggumpal karena air. Ada maskara yang mulai luntur di bawah mata kirinya, satu garis hitam tipis, dan aku ingin menyekanya, dan aku ingin melakukan banyak hal lain, dan semua hal itu antre di kepalaku seperti mobil di lampu merah Mampang.

Aku menangkap tangannya. Yang di bibirku. Pelan. Menurunkannya.

Lalu aku menciumnya.

Bukan di bibir.

Di jari-jarinya. Di ujung ibu jarinya, yang tadi menyeka hujan dari bibirku. Pelan. Sebentar.

Yura membeku.

“Latihan pertama,” kataku. Aku masih memegang tangannya. “Yang beneran nanti, Yur. Jangan di parkiran minimarket. Jangan pas Wati lagi dicas di sebelah es krim.”

Yura menatap jempolnya. Menatapku.

Lalu dia tertawa. Pecah. Langsung pecah, tanpa dari hidung dulu. Di bawah hujan. Kepala mendongak. Air masuk ke mulutnya dan dia tetap tertawa.

“Kamu,” katanya, di sela tawa. “Kamu belajar ini di Tokyo?”

“Belajar apa?”

“Bikin aku kayak gini.”

Aku nggak tahu jawabannya. Jadi aku cuma berdiri di tengah hujan, memegang tangannya, dan merasakan telingaku panas meskipun seluruh badanku dingin.

Dari dalam minimarket, mas kasir mengetuk kaca. Menunjuk Wati.

Dia mengangkat jari. Membentuk angka dengan tangan.

Seratus persen.


Aku mengantarnya ke Senopati jam sebelas lewat lima belas.

Hujan sudah reda. Gerimis tipis. Jalanan berkilat. Yura di jok belakang, helm putih berstiker kelinci kuning, kaca terbuka. Tangannya di pinggangku. Bukan di saku hoodie. Di pinggangku. Di atas kemeja yang basah, di kulit yang dingin, dan jari-jarinya hangat.

Di lampu merah Mampang, bapak ojek berkumis tebal ada di sana. Lebih tua. Kumisnya sudah putih sebagian.

Dia melihat Wati. Melihat stiker mata anime.

Lalu dia melihatku.

Dan dia berdiri dari jok motornya, di tengah lampu merah, dan berjoget. Pinggul ke kiri, ke kanan. Tangan di udara.

Aku menekan klakson. Chaiyya Chaiyya.

Bapak ojek itu berjoget lebih keras.

Lalu dia melihat Yura di jok belakang. Berhenti berjoget. Menyipitkan mata. Menatapku. Menatap Yura lagi.

Dia mengangkat jempol. Pelan. Dengan wajah orang yang menyetujui sesuatu yang sudah lama dia tunggu.

Lampu hijau.

Di belakangku, Yura menyandarkan kepala ke punggungku. Helm putihnya mengetuk punggungku pelan.

“Man,” katanya.

“Hm?”

“Klasemen korban kegantengan,” katanya. “Diana bilang dua puluh tiga.”

“Iya.”

“Salah,” kata Yura. “Dua puluh empat.”

“Siapa yang keduapuluh empat?”

Dia nggak menjawab.

Tapi tangannya di pinggangku bergerak. Sedikit. Ibu jarinya. Menggambar lingkaran kecil.

Satu. Dua. Tiga.

Aku hampir menabrak trotoar.