← Pegang Duniaku Dulu

Chapter Thirty Seven

Lift Nomor Empat, Lagi

POV: Salman

Jam sembilan lewat dua puluh lima, aku berdiri di depan lift lantai empat belas dan menekan tombol naik.

Aku nggak tahu kenapa naik.

Aku tahu, sebenarnya. Aku cuma belum mau mengakuinya ke diriku sendiri. Lantai dua puluh tiga. Lantai redaksi. Meja Yura. Dia mungkin nggak ada di sana. Siarannya jam sembilan malam. Dia mungkin di apartemennya, di balik gorden yang terbalik, menatap label jangan diputihkan.

Tapi aku tetap menekan tombol naik.

Setengah jam lalu, di studio tujuh, aku memeluk Cynthia. Pelukan terakhir. Pelukan teman. Aku merasakan sesuatu di dadaku waktu dia bilang telat, tapi aku turun. Bukan sakit. Bukan rindu. Sesuatu seperti pintu yang akhirnya ditutup pelan, tanpa dibanting, oleh orang yang dulu membukanya.

Lalu aku naik ke master control. Duduk. Menatap konsol.

Raka masuk lima menit kemudian. Dia berdiri di ambang pintu. Lalu dia bilang, pelan, dengan suara orang yang nggak bisa bohong dan sudah berhenti mencoba:

“Mas. Mbak Cynthia nelpon Mbak Yura dari ruang ganti. Aku dengar. Pintunya kebuka. Mbak Cynthia bilang Zona C, B2, sekarang.”

Aku menatap Raka.

“Terus?”

“Terus aku nggak tahu, Mas. Aku nggak ngikutin. Aku nggak mau jadi orang yang ngikutin.” Raka menelan ludah. “Tapi slide sebelas di Volume 2, Mas. Judulnya Kemungkinan Mbak Cynthia Melakukan Hal Baik. Aku kasih persentase tinggi.”

Aku berdiri.

Aku nggak turun ke B2. Aku nggak tahu apa yang terjadi di sana, dan itu bukan percakapanku. Itu milik mereka berdua. Dua perempuan yang lima tahun lalu berpegangan tangan di lift yang gelap.

Tapi aku juga nggak bisa duduk.

Jadi aku berdiri di depan lift lantai empat belas. Menekan tombol naik. Menunggu.

Lift nomor empat datang.

Pintunya terbuka.

Dan Yura ada di dalamnya.


Rambutnya lepas. Kuncirnya hilang entah di mana. Matanya sembab, merah, seperti orang yang menangis semalam dan menangis lagi sepuluh menit lalu. Makeup-nya tipis, luntur di bawah mata. Blus putih. Rok pensil hitam. Sepatu hak tujuh senti.

Napasnya terengah. Seperti orang yang baru berlari.

Dia menatapku. Aku menatapnya.

Jari telunjuknya masih menempel di panel tombol. Di tombol nomor empat belas. Yang menyala.

Dia menekan lantai empat belas.

Dan aku, di lantai empat belas, menekan tombol naik, untuk pergi ke lantai dua puluh tiga.

Kami berdua menuju ke tempat satu sama lain. Dan bertemu di tengah.

“Man,” katanya.

Aku masuk ke lift. Pintu menutup di belakangku.

Aku menekan tombol dua puluh tiga, karena itu satu-satunya tombol yang terpikir olehku. Lift mulai naik.

Lima belas. Enam belas.

Yura menatapku. Dia membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

“Aku mau nanya,” katanya.

Tujuh belas. Delapan belas.

“Aku mau nanya sesuatu,” katanya lagi. Suaranya gemetar. “Yang kamu bilang di rooftop. Yang kamu bilang nggak bakal kamu jawab kalau aku nggak nanya. Aku udah ngomong sama Cynthia. Dia bilang...”

Sembilan belas. Dua puluh.

“...dia bilang aku udah siap dari tiga tahun lalu, aku cuma nggak tahu caranya dapat, dan dia bilang jangan ulangi salahnya, dan aku lari dari Zona C ke sini, dan aku mau...”

Dua puluh satu. Dua puluh dua.

“...aku mau nanya, Man, boleh aku...”

Lift bergetar.

Satu kali. Keras. Seperti ditabrak sesuatu dari samping.

Lalu berhenti.

Lalu lampunya mati.


Gelap.

Total. Lift nomor empat nggak punya jendela. Dinding cermin di tiga sisi, sekarang hitam. Panel tombol, hitam. Cuma ada satu cahaya: lampu darurat kecil di sudut atas, kuning redup, seukuran kotak korek api, yang menyala sedetik kemudian dan membuat semuanya kelihatan seperti foto lama.

Aku mendengar Yura menarik napas. Pendek.

“Man.”

“Aku di sini.”

“Lift-nya...”

“Macet.”

“Di lantai berapa?”

Aku menatap panel di atas pintu. Angkanya mati. Tapi aku menghitung. Aku selalu menghitung. Dua puluh satu. Dua puluh dua. Lalu getaran.

“Antara dua puluh dua dan dua puluh tiga,” kataku.

Yura diam.

Lalu dia tertawa. Pelan. Dari hidung. Lalu pecah, sedikit, seperti tawa orang yang nggak percaya.

“Lift nomor empat,” katanya. “Antara dua puluh dua dan dua puluh tiga.”

“Iya.”

“Lagi.”

“Iya.”

Interkom di panel tombol berbunyi. Bunyi statis, keras, seperti radio tua yang dinyalakan tiba-tiba.

“HALO? HALO, LIFT EMPAT? ADA ORANG?”

Pak Jono. Suaranya dua kali lebih keras dari biasanya, karena dia selalu mengira interkom butuh diteriaki supaya sampai.

“Ada, Pak,” kataku. Ke arah panel. “Dua orang.”

“MAS SALMAN?”

“Iya, Pak.”

“TENANG, MAS! TENANG! JANGAN PANIK!” Suara statis. Lalu suara Pak Jono yang lebih jauh, bicara ke orang lain: “...lift empat, Pak, macet, ada Mas Salman...” Lalu kembali ke interkom: “MAS, SAMA SIAPA?”

Aku menatap Yura. Di cahaya kuning redup. Dia menatapku balik.

“Sama Mbak Yura, Pak.”

Statis. Panjang.

“...MBAK YURA?”

“Iya, Pak.”

Statis lebih panjang.

“TENANG, MAS, MBAK! SAYA LAGI NYARI KUNCI!”

“Kunci apa, Pak?”

“KUNCI RUANG MESIN LIFT, MAS! KUNCINYA DI LACI TEKNISI GEDUNG! TEKNISI GEDUNGNYA LAGI SARAPAN DI BAWAH! SAYA LARI KE SANA!” Statis. “KALIAN JANGAN KE MANA-MANA!”

Interkom mati.

Yura menatap panel itu. Lalu menatapku.

“Jangan ke mana-mana,” ulangnya.

“Saran yang bagus,” kataku. “Mengingat kondisi kita.”

Dia tertawa lagi. Lebih lepas. Lalu berhenti. Dan menyandarkan punggung ke dinding cermin, dan merosot pelan, sampai duduk di lantai lift.

Aku duduk di sebelahnya.

Bahu kami bersentuhan. Di gelap. Di cahaya kuning redup sebesar kotak korek api.


Lima tahun lalu, lift ini juga gelap.

Aku ingat. Lebih jelas dari yang aku kira. Enam orang asing. Cynthia di pojok, napas pendek-pendek. Dino yang ketakutan tapi pura-pura bercanda. Diana yang mengomel ke pintu lift seperti pintu lift bisa diajak berdebat. Erga yang diam, terlalu diam, dengan wajah pucat. Yura yang memegang tangan Cynthia.

Dan aku. Yang menyanyi.

Dengan suara asli. Pelan. Tujhe Dekha To. Karena aku pikir suara yang bagus bisa menenangkan.

Ternyata nggak.

Lift itu malah makin sunyi. Makin takut. Suara yang bagus di tempat yang menakutkan cuma membuat orang merasa ini adalah adegan terakhir di film, sebelum semuanya tenggelam. Dino bilang begitu, sesudahnya. Kayak lagu terakhir di film kapal tenggelam, Man.

Jadi aku berhenti. Dan aku nyanyi fals.

Dan semuanya tertawa.

Sejak hari itu, aku nyanyi fals. Di mana-mana. Ke siapa saja. Karena tawa lebih baik dari takut. Karena suara yang bagus bikin orang diam, dan aku lebih suka orang ketawa.

Lima tahun.

Di Tokyo, di ruang anechoic, aku mendengar jantungku sendiri. Dan aku sadar jantungku nggak fals. Jantungku cuma capek.

Capek pura-pura.

“Man,” kata Yura. Di sebelahku. Di gelap.

“Hm?”

“Kamu inget lift ini?”

“Inget.”

“Lima tahun lalu.”

“Iya.”

“Kamu nyanyi.”

“Fals.”

“Bukan,” kata Yura. “Sebelum fals.”

Aku membeku.

Yura menoleh. Di cahaya kuning, aku bisa melihat setengah wajahnya. Matanya. Basah.

“Sebelum fals, kamu nyanyi pakai suara asli,” katanya. “Satu menit empat puluh detik. Terus kamu berhenti. Terus kamu fals.”

“Kamu...”

“Semua orang inget yang fals,” katanya. “Nggak ada yang inget yang sebelumnya. Dino inget yang fals. Diana inget yang fals. Cynthia...” Dia berhenti. “Cynthia inget yang fals. Dia bilang ke aku dulu, waktu kami baru deket, ada teknisi aneh yang nyanyinya ancur banget di lift.”

“Kamu inget yang sebelumnya.”

“Aku rekam,” kata Yura.

Aku nggak bisa bicara.

Dia mengeluarkan HP dari saku rok. Layarnya menyala, terang, di gelap. Dia membuka folder. Aku melihat nama foldernya.

Lift 4.

Satu file. Durasi satu menit empat puluh detik.

“Aku reporter,” kata Yura. Pelan. “Lima tahun lalu aku reporter lapangan. Reporter merekam semuanya. Waktu lampu mati, aku nyalain recorder di HP. Kebiasaan. Aku nggak tahu kenapa. Terus kamu mulai nyanyi.”

Dia menatap layar.

“Aku nggak pernah muter ini buat siapa-siapa,” katanya. “Aku muter sekali setahun. Pas ulang tahunku. Sebagai hadiah buat diriku sendiri. Aku muter sekali, terus aku tutup, kayak kado yang takut habis kalau dilihat terlalu lama.”

“Yur...”

“Aku simpen semua yang asli dari kamu, Man,” katanya. “Earbud-mu. Hoodie ungumu. Suratmu. Suara aslimu.” Dia menatapku. Air mata jatuh. Dia nggak menyekanya. “Semua yang asli. Lima tahun. Sebelum aku tahu aku suka kamu, aku udah nyimpen suara aslimu.”

Aku menatapnya. Di gelap. Di lift nomor empat.

Lalu aku mengambil HP itu dari tangannya. Pelan. Mematikan layarnya.

Gelap lagi. Cuma lampu darurat kuning sebesar kotak korek api.

“Nggak usah diputer,” kataku.

“Kenapa?”

“Soalnya aslinya ada di sini.”

Dan aku menyanyi.


Tujhe Dekha To.

Dengan suara asli. Pelan. Bersih. Hangat. Nggak fals.

Di lift nomor empat, di antara lantai dua puluh dua dan dua puluh tiga, di gelap, di depan satu orang.

Lima tahun lalu, lagu ini bikin satu lift diam karena takut.

Sekarang, aku mendengar Yura berhenti bernapas. Bukan karena takut. Aku mendengar perbedaannya. Ada frekuensi di napas orang yang takut, tinggi dan tipis, seperti kawat yang ditarik. Dan ada frekuensi di napas orang yang mendengarkan sesuatu yang dia tunggu lama sekali, rendah dan dalam, seperti orang yang akhirnya pulang.

Napas Yura yang kedua.

Aku menyanyi sampai reff. Sampai bagian di mana nadanya naik tinggi. Lima tahun lalu, di bagian ini, aku berhenti dan fals. Karena di bagian ini Cynthia mulai terisak.

Kali ini aku nggak berhenti.

Aku naik. Ke nada yang tinggi. Yang aku latih di kamar mandi apartemen di Koenji selama tiga tahun, diam-diam, dengan air shower menyala supaya tetangga nggak dengar. Yang aku nyanyikan di kafe kecil di Shimokitazawa, sekali, di malam terakhir sebelum pulang, di depan dua belas orang asing yang nggak ngerti satu kata pun, dan mereka diam, dan lalu bertepuk tangan, dan nggak ada yang takut.

Suaraku nggak pecah.

Di sebelahku, Yura menangis. Pelan. Tanpa suara. Aku merasakan bahunya bergetar di bahuku.

Lagunya selesai.

Lift nomor empat sunyi.

Lalu, dari interkom, statis.

“...Mas? Mas Salman?” Pak Jono. Suaranya pelan. Untuk pertama kalinya, pelan. “Itu... itu suara Mas?”

Aku menatap panel interkom.

“Iya, Pak.”

Statis. Lama.

“Saya kira radio, Mas,” kata Pak Jono. Suaranya bergetar. “Teknisi gedung udah di sini. Dia juga dengar. Dia lagi... dia lagi duduk, Mas. Nggak jadi buka ruang mesin. Dia bilang tunggu lagunya selesai.”

“Udah selesai, Pak.”

Statis.

“Mas,” kata Pak Jono. “Boleh satu lagi?”

Yura tertawa. Di tengah tangis. Di bahuku.

“Nanti, Pak,” kataku. “Buka dulu lift-nya.”

“SIAP, MAS!” Volume Pak Jono kembali normal. “TEKNISI GEDUNG LAGI KE RUANG MESIN! LIMA BELAS MENIT, MAS! TAHAN!”

Interkom mati.


Lima belas menit.

Di gelap. Berdua.

Yura menyeka air matanya. Dengan punggung tangan. Lalu menyerah dan menyeka pakai ujung lengan hoodie kucing samurai-ku, yang kebetulan ada di dekat wajahnya.

“Man,” katanya.

“Hm?”

“Aku belum nanya.”

Aku menatapnya.

“Tadi,” katanya. “Sebelum lift-nya macet. Aku mau nanya. Terus lift-nya goyang. Terus lampunya mati. Terus kamu nyanyi.” Dia menarik napas. “Aku belum nanya.”

“Kamu nggak perlu nanya.”

“Kamu yang bilang,” katanya. “Di rooftop. Kemarin. Kamu nggak bakal jawab kalau aku nggak nanya.”

“Itu kemarin.”

“Aturanmu.”

“Aturanku,” kataku. “Aku yang bikin. Aku yang boleh ganti.”

Aku memutar badan. Di lantai lift. Supaya menghadapnya.

Di cahaya kuning sebesar kotak korek api, wajahnya kelihatan seperti lukisan lama. Mata sembab. Rambut lepas. Bibir yang sedikit gemetar. Bekas air mata di pipi yang sudah setengah kering.

“Tiga tahun lalu, di rooftop, kamu nanya boleh aku jadi dunianya?,” kataku. “Aku bilang tanya lagi tiga tahun lagi.”

Yura mengangguk. Pelan.

“Kamu nggak nanya lagi,” kataku. “Kamu malah mundur. Kamu malah coba balikin earbud-nya.”

“Aku tahu, Man. Maaf. Aku...”

“Kamu nggak nanya,” ulangku. “Tapi jawabannya iya.”

Yura membeku.

“Iya, Yur,” kataku. “Dari tiga tahun lalu. Waktu kamu joget di kantin. Waktu kamu jilat sambal dari jempolmu di depan semua orang. Waktu kamu tidur di bahuku dengan pintu kebuka. Waktu kamu bawa martabak keju cokelat jam sepuluh malam ke Depok padahal aku sukanya kacang wijen.”

Aku menarik napas.

“Aku nggak boleh jawab waktu itu,” kataku. “Orang yang jawab waktu itu orang yang bilang nggak apa-apa ke semuanya. Orang yang nyimpen semua yang sakit di laci yang dikunci. Orang itu nggak boleh bilang iya ke kamu, soalnya iya dari orang kayak gitu nggak ada isinya.”

Yura menatapku.

“Sekarang aku udah bukan orang itu,” kataku. “Jadi aku bisa bilang. Iya. Iya, kamu dunianya. Iya, kamu boleh. Iya, dari dulu.”

Aku berhenti.

“Dan kamu mundur kemarin,” kataku, lebih pelan, “itu apa-apa buat aku. Itu sakit. Tapi aku maafin. Soalnya kamu mundur bukan karena malu. Kamu mundur karena kamu terlalu baik. Dan aku bisa hidup sama orang yang terlalu baik. Aku cuma nggak bisa hidup sama orang yang nyerah.”

Yura menangis lagi. Lebih keras. Dia menutup wajah dengan kedua tangan.

“Kamu nggak nyerah, kan?” tanyaku.

Dia menggeleng. Di balik tangannya.

“Nggak,” katanya. Suaranya teredam. “Nggak. Nggak, Man. Cynthia bilang jangan. Aku nggak mau. Aku nggak mau nyerah. Aku cuma takut.”

“Takut apa?”

Dia menurunkan tangannya.

“Takut dapat,” katanya. “Kamu benar. Aku jago nunggu. Aku nggak tahu caranya dapat.”

Aku menatapnya. Lama.

Lalu aku mengangkat tangan. Ke wajahnya. Jari-jariku, yang kasar di ujung, bekas kenop, di pipinya. Bukan menyeka air mata. Menyentuh. Sengaja.

“Aku ajarin,” kataku.

Dan aku menciumnya.


Ini bukan seperti di lobby apartemen.

Di lobby apartemen, aku bertanya boleh dua kali. Aku mencium pelan, ringan, seperti memutar kenop gain setengah milimeter. Lalu dia yang menarik tali hoodie-ku. Dia yang menciumku balik dengan cara yang membuatku lupa nama sendiri. Dia yang memimpin.

Kali ini aku yang memimpin.

Aku nggak bertanya. Aku menciumnya di lift yang gelap, dengan satu tangan di pipinya dan satu tangan di belakang kepalanya, jari-jari di rambutnya yang lepas. Dan aku nggak pelan.

Aku menciumnya seperti orang yang menunggu tiga tahun juga. Karena aku juga menunggu. Di Koenji. Di kedai ramen Fumiko-baachan. Di bangku di bawah pohon ginkgo yang aku foto kosong. Di tiga puluh tiga surat yang aku tulis dan nggak aku kirim. Aku juga menunggu, dan aku nggak pernah bilang ke siapa-siapa, karena itu aturanku sendiri.

Yura membuat suara. Kecil. Di tenggorokan. Kaget.

Lalu tangannya naik. Ke kerah hoodie-ku. Mencengkeram. Menarik.

Dan dia membalas.

Aku nggak tahu berapa lama. Aku nggak menghitung. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, teknisi audio yang menghitung segalanya, ritme sepatu, durasi pelukan Dino, detik klakson Wati, aku nggak menghitung.

Waktu aku menarik diri, satu senti, napas kami berdua berantakan.

Yura membuka mata. Menatapku. Di cahaya kuning redup.

“Man,” bisiknya. Napasnya di bibirku. “Kamu...”

“Ini bukan biar kamu nggak mikirin siapa-siapa,” kataku. Serak. Pelan.

Yura membeku.

Aku tahu dia nggak tahu kalimat itu. Dia nggak tahu bahwa bertahun-tahun lalu, di basement, seseorang menciumku duluan dan bilang ini biar kamu nggak mikirin aku sama Erga. Ciuman yang punya alasan. Ciuman yang punya tujuan. Ciuman yang menutupi sesuatu.

Dia nggak perlu tahu.

“Ini karena aku mau,” kataku.

Yura menatapku lama.

Lalu dia tersenyum. Miring. Nakal. Senyum yang aku lihat di tangga darurat, sesudah dia berhenti menangis.

“Lagi,” katanya.

“Yur...”

“Kamu bilang kamu mau ngajarin,” bisiknya. Tangannya masih di kerah hoodie-ku. Dia menarik lagi. Dua senti. “Aku murid yang lambat, Man. Butuh banyak latihan.”

“Berapa kali?”

“Empat puluh dua,” katanya. “Biar sama kayak pidatoku.”

“Aku empat puluh tiga.”

“Biar menang satu,” katanya. “Iya. Aku tahu.”

Dia menciumku.


Lampu menyala.

Tiba-tiba. Terang. Lampu neon lift yang putih dan kejam, yang membuat semuanya kelihatan seperti ruang operasi.

Kami berdua membeku.

Di dinding cermin, di tiga sisi, ada enam versi diri kami. Yura dengan rambut berantakan dan makeup luntur dan bibir yang merah dan bengkak sedikit. Aku dengan hoodie kucing samurai yang kerahnya melar karena ditarik, rambut yang nggak lagi rapi, dan wajah yang merah dari dahi sampai leher.

Lift bergetar. Lalu bergerak. Naik.

Dua puluh tiga.

Ting.

Pintu terbuka.

Di depan pintu lift, di lantai dua puluh tiga, ada kerumunan.

Pak Jono, dengan topi satpam di tangan. Teknisi gedung, bapak-bapak dengan seragam biru dan kunci di tangan. Raka, dengan laptop di pelukan. Dino, dengan sepotong martabak di tangan, karena tentu saja Dino ada di sana, Dino selalu ada di mana-mana kalau ada sesuatu yang perlu ditonton. Dua staf redaksi Wajah Malam. Seorang OB lantai dua puluh tiga. Dan Pak Darto, yang entah bagaimana sudah sampai dari lantai empat belas, memegang kemoceng.

Mereka semua menatap kami.

Kami berdua di lantai lift. Duduk. Yura setengah di pangkuanku. Tangannya masih di kerah hoodie-ku.

Hening.

Lalu Dino menjatuhkan martabaknya.

“Lagu tadi,” kata Dino. Pelan. Matanya sudah berkaca-kaca. “Lagu tadi lewat interkom. Kedengeran sampai pos satpam. Pak Jono nyalain speaker interkom ke lobby biar teknisi gedung bisa denger kondisi di dalam.” Dia menelan ludah. “Satu lobby denger, Man. Suara aslimu.”

Aku menatap Pak Jono.

Pak Jono menatap lantai. “Maaf, Mas. Saya nggak tahu cara matiin speaker-nya.”

“Terus,” kata Dino. Suaranya mulai pecah. “Terus pas lagunya abis, interkomnya masih nyala, Man. Masih nyambung ke lobby.”

Aku membeku.

Yura membeku.

“Berapa lama?” tanyaku. Pelan.

Raka membuka laptop. Mengetik sesuatu. Menatap layar.

“Interkom diputus jam sembilan lewat empat puluh tujuh, Mas,” katanya. “Sesudah Mas bilang aku ajarin.”

Hening.

Yura menutup wajah dengan kedua tangan.

Dino menangis. Sekarang benar-benar menangis.

Pak Darto, di belakang kerumunan, mengangkat kemocengnya. Pelan. Ke arah kami. Seperti orang yang mengangkat bendera.

“Selamat, Mas Salman,” katanya. “Selamat, Mbak Yura.”

Raka menutup laptop.

“Mas,” katanya. “Volume 3 nggak perlu dibikin. Datanya udah lengkap.”


Aku berdiri. Mengulurkan tangan ke Yura.

Dia menatap tanganku. Lalu menurunkan tangan dari wajahnya. Wajahnya merah, seluruhnya, dari dahi sampai leher, seperti lampu tally yang menyala.

Dia mengambil tanganku.

Aku menariknya berdiri. Dia sedikit limbung, karena sepatu hak tujuh senti dan lantai lift dan lima belas menit duduk. Aku menahannya. Di pinggang.

Kerumunan di depan lift menahan napas.

Yura menatapku. Lalu menatap mereka semua. Pak Jono. Teknisi gedung. Raka. Dino. Staf redaksi. OB. Pak Darto dengan kemocengnya.

Lalu dia menatapku lagi.

Dan aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Merahnya masih di sana. Tapi di bawah merah itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang aku lihat di kantin tiga tahun lalu, waktu dia berdiri dari kursinya dan berjalan ke tengah lantai.

“Man,” katanya. Cukup keras untuk didengar semua orang.

“Hm?”

“Interkomnya udah mati, kan?”

“Udah.”

“Sayang,” katanya.

Lalu dia berjinjit, dan mencium pipiku. Di depan semua orang. Lama. Satu detik. Dua. Tiga.

Dino mengeluarkan suara seperti panci presto yang meledak.

Yura menarik diri. Menatapku. Tersenyum.

“Yang ini di pipi,” katanya. Pelan. Hanya untukku. “Yang di bibir udah lunas di dalam.”

Dia melepaskan tanganku. Berjalan keluar lift. Melewati kerumunan, yang membelah diri untuknya seperti laut. Ke arah lorong redaksi. Sepatu haknya berbunyi di lantai. Tujuh senti. Ritmenya bukan ritme orang yang tenang.

Ritme orang yang menahan diri supaya nggak berlari.

Dia berhenti di ujung lorong. Menoleh.

“Man,” katanya. “Besok aku nanya. Beneran. Di tempat yang terang.”

“Kenapa besok?”

“Soalnya hari ini aku nggak punya makeup,” katanya. “Dan aku presenter berita. Kalau aku nanya hal sepenting itu, aku harus kelihatan cantik.”

Dia berbalik dan menghilang di balik pintu redaksi.

Aku berdiri di depan lift nomor empat, di lantai dua puluh tiga, dengan hoodie yang kerahnya melar, di depan Pak Jono, teknisi gedung, Raka, Dino yang masih menangis, dua staf redaksi, satu OB, dan Pak Darto dengan kemoceng.

“Mas,” kata Pak Jono. Pelan. “Boleh satu lagi?”

“Lagu, Pak?”

“Iya, Mas.” Dia menatap topinya. “Yang tadi. Saya mau rekam. Buat istri saya. Dia suka lagu India.”

Aku menatap Pak Jono.

Lalu aku tertawa. Lepas. Di koridor lantai dua puluh tiga.

“Nanti, Pak,” kataku. “Di malming. Bapak datang ke Kedai Ruang Tunggu. Sabtu depan. Saya nyanyiin.”

“Pakai suara yang tadi?”

Aku menatap pintu redaksi. Tempat Yura menghilang.

“Pakai suara yang tadi, Pak,” kataku. “Mulai sekarang, suara yang tadi.”