← Pegang Duniaku Dulu

Chapter Twenty Five

Konsol Mati

POV: Salman

Konsol utama mati jam enam lewat dua belas menit.

Bukan pelan-pelan. Bukan berkedip dulu, memberi tanda, seperti orang tua yang batuk-batuk sebelum pingsan. Dia mati seperti lampu kamar yang saklarnya ditekan. Satu detik, empat puluh delapan channel menyala hijau di layar sentuh. Detik berikutnya, layar hitam. Kipas berhenti. Lampu indikator padam.

Dan di monitor program, di studio tujuh, Cynthia sedang tersenyum ke kamera dan membuka mulut untuk mengucapkan selamat pagi, Indonesia.

Tanpa suara.

Aku melihat bibirnya bergerak. Aku melihat Erga di sebelahnya tertawa pada sesuatu yang dia ucapkan. Aku melihat bumper grafis Sapa Pagi meluncur di pojok kanan bawah dengan musik yang seharusnya ceria.

Semuanya bisu.

Dua juta orang, di rumah mereka, sedang menonton dua presenter tersenyum dalam film bisu.

“MAS!” Suara Raka. Dari kursi sebelahku. Melengking. “MAS, KONSOLNYA...”

“Aku lihat, Rak.”

“BACKUP-NYA NGGAK NYALA, MAS! BACKUP-NYA JUGA NGGAK...”

“Aku lihat.”

Aku sudah berdiri. Aku nggak ingat berdiri. Badanku sudah bergerak sebelum kepalaku selesai memproses, seperti tangan yang menangkap gelas jatuh sebelum kamu sadar gelasnya jatuh.

Konsol cadangan tersambung ke catu daya yang sama dengan konsol utama. Aku sudah bilang ke Pak Bambang soal itu delapan bulan lalu. Di email. Dengan diagram. Dengan huruf tebal. Pak Bambang membalas noted, Man, nanti kita anggarkan.

Nanti ternyata adalah sekarang.

Aku berlari ke rak belakang.

Di rak paling bawah, di bawah tumpukan kabel XLR yang belum digulung dan kardus berisi lampu tally bekas, ada mixer analog portabel dua belas channel. Tua. Berat. Kenop channel tujuhnya pernah copot waktu ditabrak troli katering, dan sejak itu diganti tutup pulpen warna biru yang aku lem pakai lem tembak.

Mixer ini nggak pakai listrik dari jalur yang sama. Mixer ini nggak pakai listrik yang canggih sama sekali. Cuma adaptor biasa yang bisa dicolok ke stopkontak mana saja.

Mixer ini bodoh. Dan karena bodoh, dia nggak bisa mati karena hal-hal pintar.

“Rak. Bantu angkat.”

Kami mengangkatnya bersama ke meja. Raka hampir menjatuhkannya. Tangannya gemetar.

“Mas, ini mixer yang di gudang...”

“Iya.”

“Ini cuma dua belas channel, Mas. Kita butuh delapan belas buat Sapa Pagi...”

“Kita butuh enam.” Aku sudah mencabut kabel. Satu tangan di patch bay, satu tangan di senter HP. “Mic Cynthia. Mic Erga. Mic tamu satu dan dua. Playback VT. Musik bumper. Sisanya bisa nunggu. Penonton nggak akan sadar kalau ambient studio hilang. Penonton bakal sadar kalau presenternya bisu.”

Raka menatapku. Satu detik.

Lalu dia mengangguk dan meraih kabel.


Waktu suara kembali di monitor program, jam enam lewat empat belas menit tiga puluh detik, Cynthia sedang di tengah kalimat.

“...dan kita akan bertemu dengan seorang petani kopi dari Gayo yang...”

Suaranya masuk. Agak kasar di awal, karena gain-nya belum aku atur, karena mixer bodoh ini nggak punya preset dan semuanya harus diputar pakai tangan. Aku memutar kenop gain channel satu sampai jarum VU-nya berhenti di nol. Memutar EQ. Memotong sedikit frekuensi rendah yang bergema karena studio tujuh punya karpet yang terlalu tipis.

Suara Cynthia jadi bersih.

Bersih, dan capek.

Aku bisa mendengarnya. Mixer bodoh ini nggak punya kompresor bawaan. Nggak ada yang meratakan suaranya. Nggak ada yang menyembunyikan napasnya yang sedikit pendek, nadanya yang sedikit turun di ujung kalimat, getar kecil di vokal panjang.

Dia kurang tidur. Mungkin dua jam. Mungkin kurang.

Seminggu lalu, aku pasti sudah mencari kompresor outboard di rak, menyambungkannya, mengaturnya sampai suara capeknya hilang. Supaya orang rumah nggak dengar dia capek.

Pagi ini aku nggak punya waktu. Dan aku nggak punya kompresor.

Jadi dua juta orang mendengar Cynthia Larasati Wirawan capek.

Dan aku, di ruang kontrol, mendengarnya paling jelas.

“Mas.” Mas Herman. Dari HT. Suaranya floor director yang sedang berusaha nggak panik. “Mas, suara udah masuk? Di floor kita nggak bisa dengar apa-apa di IFB.”

IFB. Earpiece presenter. Jalur balik dari ruang kontrol ke telinga Cynthia dan Erga. Lewat konsol utama. Yang mati.

Artinya selama dua menit terakhir, Cynthia dan Erga siaran langsung tanpa bisa mendengar apa pun. Nggak dengar arahan produser. Nggak dengar hitungan mundur. Nggak dengar apakah suara mereka masuk.

Dan mereka tetap tersenyum.

“Rak,” kataku. “Aux tiga. Kirim ke pemancar IFB cadangan. Yang di laci kedua.”

“Mas, yang di laci kedua itu yang buat gala...”

“Iya.”

Raka berhenti. Aku tahu dia ingat. Pemancar IFB cadangan yang di laci kedua adalah yang dipakai di rooftop, di gala, waktu earpiece Cynthia rusak dan aku datang dari rumah memakai hoodie nomor tujuh.

Dia nggak bilang apa-apa. Dia cuma membuka laci kedua.


Dua jam.

Dari jam enam lewat empat belas sampai jam delapan pagi, aku memutar enam kenop dan menggeser enam fader dengan tangan. Tanpa preset. Tanpa otomasi. Tanpa layar.

Setiap kali Cynthia selesai bicara dan Erga mulai, aku menurunkan fader satu dan menaikkan fader dua. Setiap kali VT diputar, aku menurunkan dua mic presenter supaya napas mereka nggak masuk. Setiap kali tamu tertawa terlalu keras, aku menahan gain mic tamu dengan jempol, setengah milimeter, tepat sebelum jarum VU menyentuh merah.

Seperti main piano yang semua tutsnya ada di tempat berbeda.

Pak Bambang masuk ruang kontrol jam enam lewat dua puluh, masih pakai sandal rumah. Dia melihat konsol utama yang hitam. Melihat mixer bodoh di atas meja. Melihat aku.

“Man...”

“Pak,” kataku tanpa menoleh. “Nanti. Sekarang jangan ngomong. Saya lagi ngitung.”

Dia diam.

Dia berdiri di belakangku selama satu jam empat puluh menit. Diam.

Di menit ke-sembilan puluh, Mas Gilang dari bagian teknik naik membawa tang dan multimeter, lalu menemukan masalahnya: satu relai di panel daya yang terbakar. Bau gosong kecil. Dia bilang butuh tiga jam untuk mengganti.

“Nggak usah sekarang,” kataku. “Abis siaran.”

Di menit ke-seratus lima, segmen penutup. Cynthia menatap kamera untuk kalimat terakhirnya.

“Terima kasih sudah menemani pagi Anda bersama kami. Tetap semangat, Indonesia.”

Suaranya pecah sedikit di semangat. Sedikit sekali. Nggak ada yang akan sadar, kecuali orang yang selama delapan bulan sudah memasang kompresor diam-diam di mic itu supaya pecahnya nggak terdengar.

Aku menurunkan fader satu.

Pelan.

Sampai nol.

Bumper penutup. Logo Sapa Pagi. Iklan pertama.

Di monitor, Cynthia menunduk. Menutup mata. Erga menepuk bahunya.

Di ruang kontrol, Raka menyandarkan kepala ke meja dan mengeluarkan suara seperti balon yang kempes. Pak Bambang mengeluarkan napas yang sudah dia tahan sejak jam enam lewat dua puluh.

Lalu ada suara tepuk tangan.

Dari HT. Dari studio tujuh. Kru floor, kamerawan, penata rias, Mas Herman. Mereka bertepuk tangan, dan seseorang berteriak sesuatu yang terdengar seperti tim teknis mantap!

Pak Bambang mengambil HT.

“Terima kasih semuanya,” katanya. “Siaran berhasil dipertahankan. Terima kasih tim teknis master control.”

Tim teknis.

Aku melepas headphone. Menggantungnya di kait. Mematikan adaptor mixer bodoh itu dan mengelus kenop channel tujuhnya yang dari tutup pulpen biru.

“Makasih,” kataku ke mixer itu. Pelan.

Lalu aku berdiri, berjalan ke kursi di pojok ruang kontrol, kursi yang biasa dipakai Pak Darto waktu dia istirahat sore, dan duduk. Kakiku lemas. Tanganku pegal. Leherku kaku seperti abis ditabrak Wati.

Raka mengangkat kepala dari meja. Menatapku.

“Mas,” katanya. “Aku mau bilang ke Pak Bambang. Itu bukan tim teknis. Itu Mas.”

“Nggak usah.”

“Mas...”

“Rak.” Aku menyandarkan kepala ke dinding. “Kamu yang ngangkat mixernya. Kamu yang buka laci kedua. Itu tim teknis. Dua orang juga tim.”

Raka menatapku lama. Lalu menunduk, dan menulis sesuatu di buku catatannya.

Aku tahu dia sedang membuat slide.


Yura datang jam sepuluh lewat lima belas.

Aku tahu dia datang sebelum aku melihatnya, karena aku mendengar sepatu haknya di koridor. Tujuh senti. Ritme yang lebih lambat dari Cynthia, lebih tenang, seperti orang yang nggak pernah terburu-buru karena dunia biasanya menunggu dia.

Dia masuk ruang kontrol membawa dua gelas teh dari pantry. Kertas, dengan tutup plastik.

Dia nggak memakai hoodie ungu hari ini. Dia memakai kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku, celana kain hitam, dan rambut yang diikat asal-asalan. Siarannya baru jam sembilan malam. Dia nggak harus di kantor sepagi ini.

Dia berdiri di depanku. Mengulurkan satu gelas teh.

“Semua bilang tim teknis,” katanya.

Aku menerima tehnya. Hangat.

“Aku nonton,” lanjutnya. “Dari apartemen. Aku lihat Cynthia sama Erga ngomong tanpa suara dua menit. Aku lihat suara mereka masuk lagi. Aku lihat dua jam penuh tanpa satu pun suara pecah.” Dia diam sebentar. “Terus aku telepon Raka, dan Raka nangis di telepon, dan bilang Mas Salman pakai mixer dari gudang yang kenopnya dari tutup pulpen.”

Aku melirik Raka. Raka langsung pura-pura sangat sibuk menggulung kabel.

“Aku lihat kamu,” kata Yura. “Cuma aku yang lihat.”

Aku menatap teh di tanganku. Meminumnya. Manis. Terlalu manis. Tiga sendok gula, mungkin empat.

“Teh-nya manis,” kataku.

Yura menatapku.

“Aku ngomongin teh,” kataku cepat. “Bukan kamu.”

Hening.

Lalu Yura tertawa. Dari hidung dulu. Lalu pecah. Dan aku merasakan sesuatu naik dari leher ke telinga, panas, seperti waktu Wati dicas terlalu lama dan baterainya hangat.

Aku salah tingkah.

Aku. Salah tingkah. Di ruang kontrolku sendiri. Di depan Raka.

Aku nggak tahu kenapa. Selama dua tahun aku kenal Yura, dia sudah menggandeng tanganku, menyuapiku, menjilat sambal dari jempol yang menyentuh bibirku di depan semua orang. Dan aku membeku, iya. Aku mengalihkan pembicaraan, iya. Tapi aku nggak salah tingkah.

Ini beda.

Ini karena dia bilang aku lihat kamu.

Selama ini, orang-orang melihatku aneh. Melihatku lucu. Melihatku sebagai Mas Salman yang hoodie-nya aneh. Melihatku sebagai cuma teknisi.

Yura melihatku memutar enam kenop selama dua jam.

Dan itu rasanya asing. Seperti dipakaikan jaket yang ukurannya pas, padahal selama ini aku cuma punya jaket yang kebesaran.


Dia nggak pergi.

Aku pikir dia akan pergi sesudah teh. Ternyata nggak. Dia menarik kursi dari meja Raka, duduk di sebelahku, dan menunjuk monitor kecil di pojok, yang biasanya aku pakai untuk nonton anime di jam istirahat.

“Episode berapa yang kemarin?”

“Yur, kamu nggak ada kerjaan?”

“Ada. Jam sembilan malam. Sekarang jam sepuluh pagi. Aku punya sebelas jam.” Dia menyandarkan siku di meja. Menopang dagu. Menatapku. “Mau aku habisin di sini.”

Raka berdiri tiba-tiba. “Aku mau, eh, ke Mas Gilang. Bantuin relai.”

Dia keluar sebelum aku sempat bilang Mas Gilang nggak butuh bantuan.

Kami berdua saja.

Aku memutar anime. Episode empat puluh delapan, yang Yura belum tonton karena dia baru sampai empat puluh tujuh. Yura menonton dengan serius, seperti menonton berita penting. Dia bertanya soal karakter. Dia mengomentari animasi. Dia tertawa di bagian lucu, dari hidung dulu.

Jam satu siang, Pak Darto masuk membawa pel. Dia melihat Yura. Melihatku. Lalu mulai mengepel sudut ruangan yang paling jauh dari kami, sangat pelan, dengan wajah orang yang sangat sopan dan sangat ingin tahu.

Jam dua, Yura mulai diam.

Jam dua lewat sepuluh, kepalanya miring sedikit.

Jam dua lewat empat belas, kepalanya jatuh ke bahuku.

Aku membeku.

Napasnya pelan dan teratur. Rambutnya, yang tadi diikat asal-asalan, sebagian lepas dan menyentuh leherku. Wangi sampo yang mahal, sesuatu dengan bunga, bercampur samar dengan teh terlalu manis.

Aku nggak bergerak.

Aku menatap monitor. Anime terus berputar. Episode empat puluh delapan habis. Episode empat puluh sembilan mulai otomatis.

Lalu aku sadar suaranya terlalu keras.

Pelan-pelan, sangat pelan, dengan tangan kiri, karena tangan kanan terjepit di bawah bahu Yura, aku meraih fader monitor. Menurunkannya. Satu. Lalu yang lain. Semua fader monitor di ruang kontrol, satu per satu, sampai satu-satunya suara di ruangan itu adalah dengung AC, suara pel Pak Darto di sudut, dan napas Yura di bahuku.

Pak Darto berhenti mengepel. Menatapku. Menatap fader yang semuanya turun.

Lalu dia mulai mengepel lagi, mengelilingi kami dengan jarak yang sangat lebar, berjinjit, dengan wajah orang yang sedang menjaga sesuatu yang suci. Waktu dia sampai di depan kami, dia mengangkat ember dengan dua tangan supaya nggak berbunyi.

Empat puluh tujuh menit.

Selama empat puluh tujuh menit, aku nggak bergerak. Tangan kananku mati rasa di menit ke-dua puluh. Leherku kaku di menit ke-tiga puluh. Di menit ke-empat puluh, ada nyamuk yang hinggap di pipiku dan aku membiarkannya.

Dan aku berpikir.

Soal Cynthia, yang suaranya pecah tadi pagi, dan aku nggak bisa menyembunyikannya.

Soal hal yang aku dengar lewat channel tujuh, seminggu lalu, yang aku masukkan ke laci bernama TIGA METER dan aku janji nggak akan membuka.

Soal kenapa dia nggak pernah tidur di bahuku di tempat yang ada orang. Delapan bulan. Selalu di basement. Di bioskop yang gelap. Di atas Wati dengan helm dan masker.

Dan soal kenapa perempuan di bahuku ini, yang bukan pacarku, yang seharusnya nggak di sini, bisa tidur dengan tenang di ruang kontrol yang pintunya terbuka, di mana siapa saja bisa lewat dan melihat.

Di menit ke-empat puluh tujuh, Yura bergerak. Mengerjap. Mengangkat kepala.

Ada bekas lipatan hoodie-ku di pipinya.

Dia menatapku. Lalu menatap bahuku. Lalu menatap fader monitor yang semuanya di nol.

“Aku tidur?”

“Empat puluh tujuh menit.”

“Kamu nggak bangunin?”

“Kamu ngorok sedikit,” kataku. “Merdu. Kayak kucing yang kekenyangan.”

Dia memukul lenganku. Lalu menatap fader lagi. Lama.

“Kamu matiin suaranya,” katanya pelan. “Semuanya. Biar aku nggak bangun.”

Aku nggak menjawab.

Yura menyandarkan kepalanya lagi ke bahuku. Sengaja kali ini. Matanya terbuka.

“Bahumu enak, Man,” katanya. “Ini udah ada yang punya belum?”

Dadaku sakit sedikit. Di tempat yang aku nggak bisa tunjuk.

“Bahu ini milik negara,” kataku. “Lagi dipinjam BPJS.”

Yura tertawa di bahuku. Aku merasakan getarnya.

“Aku daftar antrean,” katanya.

Lalu dia berdiri, merapikan rambutnya, mengambil gelas teh kosong, dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu, dia berhenti. Menoleh.

“Antrean nomor satu,” katanya. “Jangan lupa.”

Dia pergi.

Aku duduk di ruang kontrol yang sunyi, dengan bahu yang masih hangat dan tangan kanan yang masih mati rasa, dan aku menatap fader monitor yang semuanya di nol.

Aku lupa menaikkannya lagi.

Selama satu jam berikutnya, aku duduk di sana tanpa suara.


Jam lima sore, telepon dari sekretaris direksi.

“Mas Salman? Pak Wiryo minta Mas ke lantai dua puluh sembilan. Sekarang, kalau bisa.”

Lantai dua puluh sembilan adalah lantai direksi. Karpet tebal. Lukisan abstrak. AC yang nggak berisik. Aku pernah ke sana dua kali dalam empat tahun, dua-duanya untuk memperbaiki sistem teleconference yang mati.

Pak Wiryo duduk di belakang meja kayu yang terlalu besar. Lima puluhan, rambut putih rapi, kacamata tanpa bingkai. Dia orang yang pernah tertawa gugup waktu aku memperkenalkan diri ke tamu kementerian dengan saya cuma teknisi.

Di mejanya ada laporan. Aku bisa membaca judulnya terbalik. Laporan Insiden Konsol Utama Master Control — Sapa Pagi.

“Duduk, Mas Salman.”

Aku duduk. Di kursi kulit yang terlalu empuk. Aku tenggelam sedikit.

“Pak Bambang kirim laporan ini jam sebelas tadi,” kata Pak Wiryo. Dia mengetuk kertas itu. “Isinya bagus. Rapi. Kronologis. Siaran berhasil dipertahankan oleh tim teknis master control.” Dia melepas kacamatanya. “Saya baca tiga kali. Saya nggak nemu satu nama pun.”

Aku diam.

“Jadi saya telepon Pak Bambang. Saya bilang, saya nggak mau tim teknis. Saya mau nama.” Pak Wiryo memasang kacamatanya lagi. “Pak Bambang kasih nama kamu. Terus dia diam lama. Terus dia bilang, Pak, sebenarnya delapan bulan lalu Salman udah kirim email soal catu daya itu, dan saya yang nunda.”

Aku nggak tahu harus bilang apa.

“Delapan bulan,” kata Pak Wiryo. “Dengan diagram. Dengan huruf tebal.”

“Pak Bambang lagi banyak anggaran yang harus diurus, Pak...”

“Mas Salman.” Pak Wiryo mengangkat tangan. “Saya nggak manggil kamu ke sini buat dengar kamu belain atasan kamu. Saya tahu kamu bakal belain. Raka udah bilang. Dia kirim saya dua puluh tiga slide jam dua tadi. Font-nya Comic Sans.”

Aku menutup mata sebentar. Raka.

Pak Wiryo membuka laci. Mengeluarkan map biru. Menaruhnya di depanku.

Logo TRAC Group di pojok kiri atas. Di bawahnya, logo yang aku nggak kenal, dengan huruf Jepang.

Program Beasiswa Ikatan Dinas TRAC Group — Broadcast Engineering. Tokyo.

“Tiap tahun kami kirim satu orang,” kata Pak Wiryo. “Kerja sama dengan kampus dan stasiun televisi mitra di Jepang. Dua tahun S2. Satu tahun magang di lab riset audio mereka. Tiga tahun total. Pulang ke TRAC, ikatan dinas lima tahun.” Dia menyandarkan punggung. “Tahun ini kandidatnya belum ada. Divisi teknik nggak pernah ngirim nama. Kata Pak Bambang, semua orang terlalu dibutuhkan di sini.”

Dia menatapku.

“Saya baru sadar pagi ini, Mas Salman. Orang yang paling dibutuhkan di sini, justru yang paling harus pergi dulu. Biar waktu dia pulang, dia nggak cuma dibutuhkan. Dia dihargai.”

Aku menatap map biru itu.

Tokyo.

Tiga tahun.

Kota tempat setengah anime yang aku tonton dibuat. Kota yang aku hafal peta keretanya dari layar, tapi nggak pernah aku injak. Kota yang, di kepalaku, selalu bau ramen dan hujan dan neon.

Kota yang jauhnya lima ribu delapan ratus kilometer dari basement B2 Zona C. Dari lobby TRAC Tower. Dari tiga meter.

“Saya nggak minta jawaban sekarang,” kata Pak Wiryo. “Berangkatnya bulan depan kalau kamu mau. Ada waktu dua minggu buat mikir.”

Aku mengambil map itu. Berat. Lebih berat dari yang kelihatannya.

“Pak,” kataku.

“Ya?”

“Kenop channel tujuh di mixer yang tadi. Itu dari tutup pulpen. Kalau saya pergi, tolong jangan diganti. Mixer itu nggak suka diganti.”

Pak Wiryo menatapku lama. Lalu tertawa. Tawa yang bukan tawa gugup.

“Saya catat,” katanya.


Malamnya aku duduk di atas Wati di parkiran basement B2. Mesin mati. Lampu indikator baterai berkedip hijau pelan. Delapan puluh tujuh persen.

Map biru di pangkuanku.

Aku membuka HP. Membuka chat Cynthia. Pesan terakhir dari dia kemarin malam, jam sebelas.

Cynthia: man besok sapa pagi ada tamu petani kopi
Cynthia: kalo suaraku jelek jangan diketawain

Aku nggak membalas. Kemarin malam aku nggak tahu harus membalas apa. Seminggu ini aku nggak tahu harus membalas apa ke Cynthia. Aku masih mengirim bakso. Aku masih menaruhnya di mejanya jam tujuh pagi. Tapi sticky note bergambar Wati sudah berhenti sejak gala.

Aku nggak bisa menggambar Wati dengan muka senyum lagi.

Aku membuka chat Yura.

Yura: man
Yura: antrean nomor satu
Yura: jangan lupa

Pesan itu dikirim jam tiga sore. Aku sudah membacanya. Aku belum membalas.

Aku menatap dua chat itu bergantian. Lalu menatap map biru.

Lalu aku menyalakan Wati, menekan klakson sekali, Chaiyya Chaiyya delapan bit menggema di basement kosong, dan aku bicara ke Wati, karena Wati satu-satunya yang nggak akan menjawab dengan sesuatu yang aku nggak siap dengar.

“Wat,” kataku. “Kamu pernah ke Tokyo?”

Lampu depan Wati berkedip sekali. Mungkin karena tegangan. Mungkin karena dia bilang nggak.

“Aku juga belum,” kataku.

Aku menyimpan map biru di jok. Di sebelah helm merah muda berstiker kelinci.

Lalu aku pulang, lewat jalan yang panjang, dan aku nggak menyanyi sama sekali.