← Pegang Duniaku Dulu

Chapter Twenty Eight

Tiga Surat

POV: Yura

Aku memutuskan nggak akan mencarinya.

Itu janji yang aku buat ke diriku sendiri, di parkiran bandara, sambil menatap pesawat dengan ekor merah yang mungkin pesawatnya atau mungkin bukan. Nggak membuka Instagram yang memang nggak dia punya. Nggak mencari namanya di situs kampus Jepang. Nggak menanyakan alamat ke Bu Nur. Nggak menelepon Raka jam dua pagi untuk tanya apakah Mas Salman pernah kirim email soal kenop channel tujuh.

Dia minta tiga tahun tanpa kontak supaya dia bisa belajar sendiri.

Aku memutuskan, kalau begitu, aku juga belajar sendiri.

Belajar menunggu tanpa mengintip.

Ternyata itu hal tersulit yang pernah aku lakukan. Lebih sulit dari mewawancarai menteri yang marah. Lebih sulit dari membaca berita kecelakaan pesawat tanpa suara gemetar. Lebih sulit dari tari tradisional delapan tahun dengan guru yang memukul betis pakai penggaris kalau lututku nggak cukup ditekuk.

Karena menunggu bukan satu hal yang kamu lakukan sekali.

Menunggu itu ribuan hal kecil yang kamu lakukan setiap hari.


Tahun pertama

Hari ke-sembilan, aku menang casting Wajah Malam.

Panelnya tiga orang. Pemred, Mas Teddy, dan seorang produser senior dari Jakarta Pusat yang terkenal nggak pernah tersenyum. Di sesi wawancara terakhir, produser itu bertanya, Kenapa Anda pikir Anda bisa membawakan program wawancara mendalam? Anda dikenal sebagai wajah. Bukan sebagai penanya.

Aku menjawab dengan sesuatu yang nggak aku latih.

Karena saya tahu rasanya dilihat tapi nggak dikenal, Pak. Dan saya pernah ketemu satu orang yang kenal saya tanpa perlu lihat muka saya. Saya mau jadi orang kayak gitu buat narasumber saya.

Produser itu menatapku lama. Lalu tersenyum. Sedikit. Pertama kalinya, kata Mas Teddy sesudahnya, dalam sebelas tahun.

Episode pertama tayang enam minggu kemudian. Narasumberku seorang nenek di Flores yang menenun kain selama enam puluh tahun dan nggak pernah satu kali pun difoto. Aku mewawancarainya satu jam. Nggak membaca teleprompter. Aku cuma bertanya, lalu mendengar.

Malam sesudah tayang, aku duduk di apartemenku yang belum bergorden, menatap lampu kota di jendela, dan memegang earbud kiri di telinga.

Aku nggak memutar apa-apa.

Aku cuma bilang, ke telinga kiri yang hening, “Aku ketemu satu, Man. Nenek di Flores. Dia nggak pernah difoto. Dia bilang makasih udah nanya.”

Hening.

Tentu saja hening. Earbud itu nggak tersambung ke apa pun.

Tapi rasanya seperti dia mendengar.


Hari ke-empat puluh tiga, seorang produser tampan mengajakku makan malam.

Namanya Mas Adrian. Produser TRAC Prime yang baru, pindahan dari stasiun sebelah. Tiga puluh dua tahun. Tinggi. Bahu lebar. Jam tangan yang harganya mungkin sama dengan satu Wati. Dia menungguku di depan studio sesudah Wajah Malam tayang, dengan buket bunga lili putih dan senyum yang sudah dilatih di depan cermin, aku yakin, karena aku juga melatih senyum di depan cermin dan aku tahu bentuknya.

“Mbak Yura,” katanya. “Makan malam? Saya tahu restoran Jepang di Senopati yang...”

“Jepang?”

“Iya. Omakase. Kokinya dari Osaka.”

Aku menatap buket lili. Lalu menatapnya.

“Mas Adrian,” kataku. “Makasih. Beneran. Tapi saya nggak bisa.”

“Kenapa? Mbak udah ada yang...”

Aku menyentuh telinga kiriku. Earbud itu ada di sana. Aku memakainya hampir setiap saat di luar siaran sekarang. Orang-orang di redaksi mengira aku selalu mendengarkan podcast.

“Saya lagi megang dunia orang, Mas,” kataku.

Mas Adrian menatapku. Bingung. Lalu tersenyum sopan, mengangguk, dan pergi membawa buket lilinya.

Seminggu kemudian aku dengar dia bilang ke staf TRAC Prime bahwa Mbak Yura agak aneh.

Aku menulis itu di buku harian. Dengan tanda seru.

Hari ini aku dibilang agak aneh!

Itu pujian paling bagus yang pernah aku dapat sejak dia pergi.


Dino menjaga malming.

Itu janjinya di bandara, sambil menangis ke hoodie nomor tujuh, dan Dino menepatinya dengan keteguhan yang aku nggak pernah tahu dia punya.

Setiap dua minggu, hari Sabtu, jam tujuh malam, Dino duduk di meja pojok Kedai Ruang Tunggu. Dengan kertas RESERVED — RUANG TUNGGU FC. Dengan enam mangkuk bakso dari freezer Pak Hendro.

Enam. Selalu enam.

Malming pertama sesudah Salman pergi, kami berlima datang. Malming kedua, berempat. Erga ada shooting. Malming keempat, Cynthia mulai sering ada acara. Malming ketujuh, Diana kena tipes dan Erga menjaganya di rumah sakit dengan dedikasi yang membuat suster jaga mengira mereka sudah menikah.

Malming ketujuh, cuma aku dan Dino.

Dan enam mangkuk.

“Din,” kataku. “Kita berdua.”

“Iya.”

“Kenapa enam?”

Dino menatap mangkuk-mangkuk itu. Satu di depan kursi Salman, yang selalu kosong. Si Oren tidur di kursi itu, melingkar di sebelah mangkuk yang kuahnya pelan-pelan dingin.

“Soalnya kalau gue pesen dua,” kata Dino, “berarti gue ngaku malming-nya cuma buat dua orang.”

Aku nggak bisa menjawab itu.

Kami makan enam mangkuk berdua. Dino menghabiskan empat. Aku satu. Yang satu lagi, yang di depan kursi Salman, Dino bungkus dan bawa pulang.

“Buat sarapan,” katanya.

Aku tahu itu bohong. Aku tahu dia menaruh mangkuk itu di kulkas dan nggak memakannya, sampai malming berikutnya, waktu dia membuangnya dan menggantinya dengan yang baru.


Wati tinggal di bawah terpal biru di samping warung Bu Nur.

Aku mulai ke Depok sebulan sekali. Hari Minggu sore, sesudah Wajah Malam edisi khusus akhir pekan. Aku makan bakso level lima, naik pelan-pelan dari level tiga, dan Bu Nur nggak pernah menanyakan kenapa aku datang.

Dia cuma menaruh mangkuk di depanku. Lalu duduk di seberangku kalau warung sedang sepi.

Kami bicara soal hal-hal lain. Soal harga daging sapi yang naik. Soal kucing tetangga yang melahirkan di dalam kardus mi instan. Soal Wajah Malam, yang ternyata Bu Nur tonton setiap Jumat, di TV kecil di sudut warung, dengan volume penuh.

Nggak pernah soal dia.

Kecuali satu kali, bulan kelima. Aku nggak tahan.

“Bu,” kataku. “Dia...”

“Dia sehat,” kata Bu Nur. Tanpa menunggu aku selesai. “Udah, itu aja.”

Aku mengangguk.

“Kemarin ada yang nanya alamat,” lanjut Bu Nur. Dia mengaduk teh manisnya pelan. “Ibu nggak kasih. Dia minta nggak dikontak, Nak. Ibu hormati.”

Aku nggak bertanya siapa yang menanyakan alamat. Aku nggak perlu bertanya.

Sore itu, sebelum pulang, aku mendatangi Wati.

Terpal biru dibuka sedikit. Wati di bawahnya, bersih, berkilat. Stiker mata animenya sedikit mengelupas di pojok, tapi masih berbinar. Bu Nur memanaskannya setiap Jumat, kata Bu Nur, biar nggak pikun.

Aku jongkok di depan Wati. Menatap matanya.

“Wat,” kataku. “Dia ke Tokyo. Kamu nggak diajak.”

Wati diam.

“Aku juga nggak diajak,” kataku. “Kita senasib.”

Aku mengelus lampu depannya. Lalu, karena nggak ada yang lihat, aku membuka jok Wati.

Di dalamnya, terlipat rapi, ada satu hoodie. Hijau tua. Kucing samurai. Dan helm merah muda berstiker kelinci.

Aku menutup jok itu pelan-pelan, dan aku nggak menyentuh apa pun.


Surat pertama datang tepat satu tahun sesudah dia berangkat.

Ke apartemenku. Lewat pos biasa. Amplop cokelat polos. Cap pos dengan huruf Jepang yang aku nggak bisa baca, kecuali satu kata dalam huruf Latin kecil di pojok: Koenji.

Nggak ada alamat pengirim.

Aku memegang amplop itu di lobby apartemen selama tiga menit. Satpam apartemen menatapku dengan khawatir. Lalu aku naik ke unitku, mengganti baju dengan hoodie ungu penguin ninja yang nggak pernah aku kembalikan, duduk di lantai di depan jendela yang belum bergorden, memasang earbud kiri, dan membukanya.

Satu lembar kertas. Tulisan tangan yang miring ke kanan, seperti orang yang sedang berlari.

Dan satu foto.

Foto itu menunjukkan sepeda listrik putih yang diparkir di depan kedai ramen kecil. Salju tipis di atas joknya. Di atas lampu depan sepeda itu, ada stiker mata anime. Persis seperti punya Wati.

Di belakang foto, tulisan: WATI NI. Lahir di Koenji. Harga 8.000 yen. Bekas. Dia nggak tahu kakaknya di Depok.

Aku tertawa. Dari hidung dulu. Lalu pecah, dan basah, di hoodie ungu.

Lalu aku membaca suratnya.

Yur,

Ini surat pertama. Aku nulisnya di kedai ramen punya Fumiko-baachan, umurnya delapan puluh satu, dia bilang ramennya pedas, ternyata pedasnya kayak bakso level satu. Aku nggak bilang ke dia. Aku nambah tiga kali biar dia seneng.

Kampusnya bagus. Lab-nya lebih bagus lagi. Ada ruangan yang heningnya dibikin sengaja, namanya anechoic chamber, nggak ada gema sama sekali. Aku masuk ke sana hari pertama dan aku bisa dengar jantungku sendiri. Ternyata jantungku agak fals.

Aku udah nyanyi Bollywood di izakaya. Diusir. Sopan banget ngusirnya. Mereka bungkuk sembilan puluh derajat sambil bilang aku harus pulang. Aku bungkuk balik. Kami bungkuk-bungkukan lima menit. Akhirnya aku pulang.

Aku belum bisa bilang “itu sakit”. Tapi aku udah nggak bilang “nggak apa-apa” lagi. Sekarang aku diam aja. Kata profesorku itu kemajuan. Kata aku itu cuma ganti tombol mute.

Duniamu masih kamu pegang?

Jangan dijawab. Aku nggak bisa baca jawabanmu. Itu yang bikin aku berani nanya.

— S.

P.S. Bilang ke Dino, malming-nya jangan dibikin sedih. Kalau dia pesen enam mangkuk, suruh pesen lima. Yang satu buat aku, dia makan aja.

Aku membaca surat itu sembilan kali.

Lalu aku menjawab, keras, ke telinga kiri yang hening, ke apartemen yang belum bergorden, ke lampu kota yang selalu melihat:

“Masih, Man. Tiap hari.”


Malming berikutnya, aku membawa surat itu.

Aku nggak membacanya keras-keras. Itu milikku. Tapi aku membacakan P.S.-nya ke Dino.

Dino diam lama. Lalu memanggil Pak Hendro.

“Pak. Lima mangkuk.”

Pak Hendro menatapnya. Lalu tersenyum, dan mengangguk.

Di dinding dekat rak buku, di samping foto-foto lama, Pak Hendro menempelkan kartu pos yang datang di hari yang sama ke Kedai Ruang Tunggu. Untuk RUANG TUNGGU FC. Fotonya Wati Ni basah kena salju. Tulisannya cuma satu baris.

Salam buat semua. — S.

Malam itu, Cynthia datang. Pertama kalinya dalam dua bulan.

Dia duduk di kursinya. Dia makan baksonya. Dia tertawa di tempat yang tepat waktu Diana me-roast Erga. Dia sempurna.

Lalu, waktu yang lain sibuk dengan martabak Dino, aku melihatnya menatap kartu pos di dinding.

Lama.

Salam buat semua.

Bukan salam buat Cynthia. Bukan apa-apa buat Cynthia. Cuma semua, dan dia termasuk di dalamnya, seperti Pak Hendro, seperti Si Oren, seperti siapa saja.

Dia nggak tahu soal surat pribadiku. Aku nggak pernah bilang. Aku nggak akan bilang.

Tapi waktu aku melihat wajahnya di depan kartu pos itu, aku merasakan sesuatu yang aku nggak suka. Bukan menang. Bukan kasihan.

Sesuatu di antara keduanya, yang membuatku memesan martabak tambahan dan menaruhnya di depan Cynthia tanpa bilang apa-apa.

Dia menatap martabak itu. Lalu menatapku.

“Makasih, Yur,” katanya pelan.

Kami nggak pernah membicarakan rooftop, atau toilet, atau aku bangga. Kami tetap duo goddess TRAC Tower. Kami tetap saling pinjam concealer. Tapi ada sesuatu di antara kami sekarang, tipis dan bening, seperti kaca jendela yang baru dibersihkan. Kamu bisa lihat ke seberang. Tapi kamu nggak bisa menyentuh.


Tahun kedua

Erga melamar Diana di bulan ketiga tahun kedua.

Di Kedai Ruang Tunggu. Di malming. Di depan lima mangkuk bakso dan satu Si Oren.

Dia sudah merencanakan semuanya. Cincin di dalam toples srikaya, toples yang sama yang pernah dia bawa waktu ditolak berkali-kali dulu. Lagu yang dia minta Pak Hendro putar. Pidato yang dia tulis di HP dan latih di mobil.

Dia lupa pidatonya di kalimat kedua.

Jadi dia cuma berlutut, membuka toples srikaya, dan bilang, “Di. Aku... ini... toples. Cincin. Kamu. Mau?”

Diana menatapnya. Menatap toples. Menatap cincin di dalam toples, yang sedikit lengket karena sisa srikaya.

Lalu dia mengeluarkan buku catatan batik.

“Lamaran Erga Mahendra,” katanya, menulis. “Penilaian juri. Konsep: tujuh. Eksekusi: tiga. Pidato: nol, karena nggak ada pidato. Cincin: delapan, tapi lengket.” Dia menutup buku catatan. “Rata-rata lima dari sepuluh.”

Erga masih berlutut. Wajahnya pucat.

“Diterima,” kata Diana.

Dino berdiri di atas kursi dan berteriak. Pak Hendro memukul panci. Si Oren kabur. Cynthia bertepuk tangan dengan mata basah. Erga memakaikan cincin lengket itu ke jari Diana, lalu Diana mencium pipinya, cepat, keras, seperti tabrakan, lalu duduk dan pura-pura sibuk dengan kuah bakso.

Aku memotret semuanya.

Malam itu, di apartemen, aku melihat foto-foto itu lagi. Erga yang berlutut. Diana yang menyembunyikan senyum di balik buku catatan. Dino di atas kursi.

Kursi di pojok meja kosong. Si Oren sudah kabur dari situ.

Aku menyentuh layar. Di kursi kosong itu.

“Kamu ketinggalan, Man,” bisikku. “Diana bilang iya. Lima dari sepuluh.”


Ulang tahunku jatuh di hari Selasa, bulan kedelapan tahun kedua.

Redaksi memberi kue. Mama menelepon dari Surabaya. Cynthia mengirim scarf sutra yang cantik dan kartu yang tulisannya Selamat ulang tahun, Yur. Kamu yang paling berani di antara kita.

Aku membaca kartu itu lama.

Malamnya, sesudah Wajah Malam, aku pulang ke apartemen dan nggak menyalakan lampu.

Aku duduk di lantai, di depan jendela. Memakai hoodie ungu, yang sekarang sudah nggak bau kaldu lagi, cuma bau sabunku sendiri, dan itu membuatku sedih dengan cara yang nggak masuk akal.

Lalu aku membuka HP. Membuka folder rekaman suara.

Folder itu namanya Lift 4.

Isinya cuma satu file. Tanggalnya dua tahun sebelum aku benar-benar kenal dia. Empat tahun dari sekarang. Durasi satu menit empat puluh detik.

Aku merekamnya di lift nomor empat, waktu lampu mati dan enam orang asing terjebak di antara lantai dua puluh dua dan dua puluh tiga, dan Cynthia, presenter baru yang belum aku kenal dekat, mulai napas pendek-pendek. Aku merekamnya karena aku reporter, dan reporter merekam semuanya. Aku merekamnya tanpa tahu kenapa.

Aku nggak pernah memutarnya untuk siapa pun.

Aku memasang earbud kiri. Lalu, untuk pertama kalinya, earbud itu memutar sesuatu.

Satu menit empat puluh detik.

Suara laki-laki menyanyi di dalam gelap. Pelan. Bersih. Hangat. Bukan fals. Sama sekali bukan fals. Suara yang membuat lift yang panik itu jadi diam, terlalu diam, dan di detik ke-seratus, seseorang mulai terisak karena suara itu terlalu indah untuk tempat yang terlalu menakutkan.

Lalu, di detik ke-seratus satu, suara itu berhenti.

Dan berganti jadi fals. Keras. Ancur. Seperti panci jatuh.

Dan di detik ke-seratus empat, Dino tertawa.

Rekamannya habis di situ.

Aku memutarnya sekali. Cuma sekali. Seperti orang yang membuka kotak kado dan langsung menutupnya lagi, karena takut isinya habis kalau dilihat terlalu lama.

“Selamat ulang tahun, aku,” bisikku.

Lalu aku menangis, di hoodie ungu yang nggak bau kaldu lagi, di apartemen yang belum bergorden, sambil memegang earbud di telinga kiri dengan dua tangan.


Surat kedua datang tepat dua tahun sesudah dia berangkat.

Fotonya Gunung Fuji. Diambil dari jendela kereta cepat. Puncaknya putih, langitnya biru tajam seperti layar komputer. Dan di kaca jendela, samar, seperti hantu, ada pantulan. Bahu seseorang. Hoodie kuning stabilo. Separuh wajah yang nggak jelas.

Dia nggak sengaja memotret pantulannya sendiri.

Atau dia sengaja.

Aku memandangi pantulan itu lebih lama daripada Gunung Fuji.

Yur,

Aku lulus. S2-nya. Profesor Takeda bilang tesisku “unik”. Tesisku soal bagaimana suara fals bisa menurunkan detak jantung orang yang panik lebih cepat daripada suara merdu. Datanya dari 40 relawan. Relawannya mahasiswa yang aku bayar pakai ramen. Hasilnya signifikan. Profesor Takeda nggak tahu harus ketawa atau bangga. Dia bungkuk sambil ketawa.

Bulan lalu aku bilang ke Profesor Takeda: “Itu sakit.” Soal hal kecil. Dia nyebut desain mixer-ku “terlalu sederhana”. Biasanya aku bakal bilang “nggak apa-apa, Sensei”. Kali ini aku bilang “itu sakit, Sensei, soalnya mixer sederhana yang nyelametin siaran pagi di Jakarta”. Dia diam. Terus dia bilang: “Silence is a choice, not a default.” Diam itu pilihan, bukan bawaan pabrik.

Rasanya aneh bilang “itu sakit”. Kayak makan bakso tanpa sambal. Kosong di tempat yang biasanya ada sesuatu.

Tapi sehat.

Masih pegang?

— S.

Aku melipat surat itu. Membukanya lagi. Melipatnya lagi.

Masih, Man.

Tiap hari. Bahkan waktu nggak ada lagu.


Tahun ketiga

Di tahun ketiga, aku menonton semua anime di spreadsheet-nya.

Spreadsheet kurikulum anime. Yang dia buat untukku dua tahun lalu. Empat puluh baris. Judul, genre, jumlah episode, rating, dan satu kolom yang dia isi dengan tangan sendiri: Kenapa harus ditonton.

Aku menontonnya berurutan. Satu baris, sampai selesai. Lalu baris berikutnya. Tanpa melompat.

Baris tiga puluh tujuh, aku menangis di kamar mandi apartemen karena ada karakter tua yang menyerahkan pedangnya ke muridnya dan bilang sekarang giliranmu menjaga.

Baris tiga puluh sembilan, aku menonton sambil makan bakso level tujuh yang aku bungkus dari Depok, dan aku nggak menangis karena pedas, aku menangis karena anime itu tentang dua orang yang bertemu lagi sesudah bertahun-tahun di stasiun kereta yang sama, dan mereka cuma bilang hai.

Baris empat puluh.

Aku tahu baris empat puluh dari awal. Aku sudah membacanya dua tahun lalu, waktu dia pertama kali memberikan spreadsheet ini.

Baris 40 — (kosong): Belum ketemu anime yang cocok buat orang yang suka ketawa sambil nutup mulut. Masih nyari. Nanti diisi.

Itu bukan untukku. Aku tahu itu dari awal. Aku ketawa dari hidung dulu, terus pecah. Aku nggak pernah nutup mulut.

Aku menatap baris itu lama.

Lalu aku menggulir ke bawah. Ke baris empat puluh satu.

Kosong. Bukan kosong dengan tulisan masih nyari. Kosong yang benar-benar kosong. Sel putih. Belum pernah disentuh.

Aku menangis di depan sel putih itu.

Bukan karena sedih. Karena aku sudah selesai menonton semuanya, dan nggak ada lagi yang tersisa, dan dia belum pulang, dan aku nggak punya anime lagi untuk menemaniku menunggu.


Malam itu, aku mulai menulis catatan di HP.

Judulnya Yang Aku Lihat.

Aku menulisnya karena aku takut lupa. Tiga tahun itu lama. Wajah orang bisa memudar. Suara bisa memudar. Bau kaldu sudah memudar dari hoodie ungu.

Jadi aku menulis semua yang aku ingat. Hal-hal kecil. Yang nggak dicatat Diana di klasemen. Yang nggak dilihat orang lain.

— Dia garuk tengkuk kalau mau bilang sesuatu yang dia tahu nggak aku suka.

— Telinganya merah mulai dari cuping, naik ke atas, kayak termometer di kartun.

— Dia nyebut kucing “teman”. Bukan “kucing”. “Teman.”

— Dia nunduk kalau ngomong sama orang yang lebih pendek. Biar matanya sejajar.

— Jakunnya naik turun kalau aku pegang tali hoodie-nya.

— Jari-jarinya kasar di ujung. Bekas kenop. Aku pengin tahu rasanya kalau jari-jari itu nyentuh pipiku. Bukan nyeka sambal. Nyentuh. Sengaja.

— Leher belakangnya merah kalau dia malu. Persis di bawah garis rambut. Aku pengin nyium di situ.

Aku berhenti menulis.

Aku menatap kalimat terakhir itu. Lama.

Lalu aku menambahkan, di bawahnya:

(Jangan dibaca, Yura. Kamu dua puluh delapan tahun dan kamu nulis kayak gini jam satu pagi.)

Aku nggak menghapusnya.

Aku menulis lagi.

— Dia meluk duluan di bandara. Pertama kalinya ke siapa pun. Itu punyaku.

— Dia bilang “pegang duniaku dulu”, bukan “simpan”. Pegang. Artinya dia tahu aku bakal pegang erat-erat.

— Dia nggak pernah balas genggamanku. Tapi dia balik telapak tangannya di bawah meja kafe. Biar aku bisa genggam dengan benar.

— Aku kangen.

— Aku kangen.

— Aku kangen banget, Man, sampai rasanya kayak lapar yang nggak bisa diisi bakso.

Aku menutup catatan itu. Menaruh HP di lantai. Berbaring di karpet di depan jendela, di bawah lampu kota yang selalu melihat, karena apartemen ini belum juga punya gorden.

Tiga tahun aku nggak memasang gorden.

Aku bilang ke diriku sendiri itu karena sibuk.

Bohong.

Aku nunggu yang masang.


Surat ketiga datang di hari Rabu.

Aku sedang di master control. Raka memanggilku ke sana untuk membantu memeriksa audio Wajah Malam edisi khusus, karena mic tamu berdengung dan Raka sudah menjadi Raka yang berbeda sekarang, Raka yang bisa memperbaiki dengung dalam dua menit, tapi dia tetap memanggilku karena dia bilang Mbak Yura yang paling tahu suara narasumber Mbak sendiri.

Bohong. Raka sudah bisa bohong sekarang. Sedikit.

Dia memanggilku karena hari itu tepat tiga tahun, dan surat itu sudah dititipkan satpam apartemen ke kantor, dan Raka yang mengambilnya dari resepsionis.

Dia menyerahkan amplop cokelat itu tanpa bilang apa-apa.

Di belakang Raka, di rak akrilik, ada dua puluh satu action figure. Dan alas paling tinggi, di tengah, kosong. Dengan kertas yang ditempel Pak Darto tiga tahun lalu. Kertasnya sudah menguning. Tintanya sudah sedikit pudar.

LAGI TUGAS JAGA DI TOKYO.

Pak Darto meniup alas itu setiap pagi. Raka bilang begitu. Setiap pagi, jam enam lewat lima belas, sebelum Sapa Pagi. Meniup debu dari alas yang kosong. Tiga tahun.

Aku membuka amplop itu di kursi Salman. Kursi yang sekarang dipakai Raka, tapi Raka selalu pindah ke kursi lain kalau aku datang.

Fotonya bangku taman.

Bangku kayu, di bawah pohon dengan daun kuning seperti kipas kecil. Daun-daunnya jatuh, menutupi tanah, menutupi sebagian bangku. Bangku itu kosong.

Nggak ada orang. Nggak ada sepeda. Nggak ada pantulan hoodie kuning di mana pun.

Cuma bangku kosong.

Yur,

Tiga bulan lagi aku pulang. Magangnya diperpanjang satu musim. Profesor Takeda minta aku nyelesaiin satu proyek dulu, dan aku belajar bilang “iya” tanpa minta maaf.

Bangku ini di taman dekat kamarku. Pohonnya ginkgo. Tiap musim gugur daunnya kuning semua, terus jatuh semua dalam satu minggu, kayak dijadwal.

Aku foto bangku kosong karena kamu belum duduk di sini.

Aku udah belajar bilang “itu sakit”. Aku udah belajar bilang “aku capek”. Aku udah belajar bilang “makasih” tanpa kabur sebelum orangnya selesai muji. Aku udah belajar banyak, Yur. Tiga tahun. Dua telinga.

Tapi ada satu hal yang belum aku pelajari, soalnya nggak bisa dipelajari sendiri.

Masih pegang duniaku?

— S.

Aku membaca surat itu.

Lalu aku menangis.

Bukan menangis presenter berita, yang bisa dihentikan dalam tiga detik sebelum kamera on. Menangis yang jelek. Bahu bergetar. Hidung meler. Suara yang keluar dari tempat yang aku nggak tahu ada di dadaku. Di kursi Salman. Di master control. Di depan Raka dan dua puluh satu action figure dan satu alas kosong.

Tanganku menggenggam earbud kiri, yang ada di saku blazer-ku, di dalam kotak kecil, seperti selalu.

Raka nggak bilang apa-apa.

Raka berdiri, berjalan ke konsol, dan menaikkan satu fader. Speaker ruang kontrol menyala. Pelan.

Bollywood.

Tujhe Dekha To. Lagu yang Salman nyanyikan fals di setiap malming, di setiap perjalanan pulang di atas Wati, di setiap lampu merah Mampang.

Raka memutarnya. Versi aslinya. Nggak fals.

Lalu dia keluar ruang kontrol, menutup pintu pelan, dan berdiri di koridor menjaga supaya nggak ada yang masuk.

Aku menangis sampai lagunya habis.

Lalu aku menangis lagi, waktu lagunya diulang, karena Raka menyetelnya repeat.


Malam itu, di apartemenku, aku menjawab.

Ke telinga kiri yang hening. Ke lampu kota. Ke jendela tanpa gorden.

“Masih, Man,” kataku. “Tiga tahun. Tiap hari. Bahkan waktu nggak ada lagu.”

Lalu aku membuka catatan Yang Aku Lihat. Dan menambahkan satu baris.

— Dia bilang ada satu hal yang belum dia pelajari, soalnya nggak bisa dipelajari sendiri.

Di bawahnya, aku menulis:

Aku tahu apa. Aku bakal ngajarin.

Dan aku nggak bakal sopan.

Aku mematikan HP. Menatap lampu kota.

Sembilan puluh satu hari lagi.

Aku mulai menghitung mundur.