← Pegang Duniaku Dulu

Chapter Thirty Five

Yura Mundur

POV: Yura

Pagi itu sempurna.

Aku tahu itu karena aku menulisnya. Di catatan Yang Aku Lihat, jam tujuh lewat dua belas, di lobby apartemen, sambil menunggu.

— Senin pagi. Dia bilang mau jemput. Jam tujuh lewat lima belas. Dia nggak pernah telat. Aku turun jam tujuh lewat sepuluh biar bisa lihat dia datang.

Wati masuk drop-off jam tujuh lewat empat belas.

Satu menit lebih awal.

Dia turun dari Wati. Hoodie kuning stabilo. Hoodie nomor tujuh. Yang berteriak tolong saya. Di balik blazer abu-abu arang, dengan kemeja putih, dengan celana bahan hitam, dengan sepatu kulit cokelat.

Kepala Audio TRAC, dengan hoodie paling memalukan dalam sejarah Klasemen Hoodie Salman Haikal, di bawah blazer.

Dia mengangkat dua kantong plastik.

“Sarapan,” katanya.

Bakso. Dari gerobak di dekat SPKLU Mampang, yang ternyata buka jam enam pagi untuk ojek dan supir. Dua bungkus. Kuah di kantong terpisah, diikat karet merah. Sambal di plastik kecil yang ujungnya dipelintir.

“Bakso jam tujuh pagi?” tanyaku.

“Sarapan orang Depok,” katanya. “Ibu bilang perut kosong itu bikin pikiran kosong. Pikiran kosong itu bikin orang bilang nggak apa-apa.”

Aku tertawa. Dari hidung.

Satpam di pos melipat korannya. Membukanya lagi. Pura-pura membaca. Dia sudah melakukan itu setiap kali Wati masuk drop-off selama dua minggu terakhir.

Kami makan di bangku di depan lobby apartemen. Bangku besi, dingin, di bawah pohon ketapang kecil. Salman menyobek kantong kuah dengan gigi, seperti orang yang sudah melakukannya ribuan kali. Menuang ke kantong bakso. Mengaduk dengan sendok plastik.

Lalu meniupnya. Satu sendok. Menyodorkannya ke mulutku.

Aku membuka mulut. Tanpa aaa. Tanpa disuruh.

Sudah dua minggu kami begini.


Kami naik ke TRAC Tower jam delapan kurang lima.

Lobby ramai. Jam masuk. Orang-orang berkemeja dan berblazer mengalir dari pintu putar ke lift.

Salman menggandeng tanganku dari pintu putar.

Bukan aku yang menggandeng. Dia. Dia yang mengulurkan tangan di depan pintu putar, telapak terbuka, seperti waktu dia membalik telapak tangan di bawah meja kafe bandara tiga tahun lalu.

Aku menggenggamnya.

Kami berjalan melewati lobby. Di depan Pak Jono, yang membungkuk sembilan puluh derajat dan topinya jatuh. Di depan dua staf marketing yang berhenti berjalan dan saling menatap. Di depan layar LED raksasa yang memutar promo Wajah Malam, wajahku, tersenyum tenang, sepuluh meter tingginya.

Wajahku di layar tenang.

Wajahku di bawah layar, yang tangannya digenggam laki-laki berhoodie kuning stabilo, tersenyum seperti orang bodoh.

Di depan lift, Salman nggak melepaskan tanganku.

Di dalam lift, dia nggak melepaskan tanganku.

Lift nomor dua. Penuh. Delapan orang. Aku berdiri di pojok, Salman di sebelahku, tangan kami di antara badan kami, tersembunyi oleh tas kerja seorang bapak dari divisi finance.

Ibu jarinya bergerak. Di punggung tanganku. Lingkaran kecil.

Itu gerakanku. Dia mencurinya.

Aku menatapnya dari samping. Dia menatap angka lantai. Telinganya merah. Leher belakangnya merah.

Aku nggak bisa melihat leher belakangnya dari sini. Tapi aku tahu. Aku punya catatan.

Lantai empat belas. Ting.

Dia harus keluar. Lantaiku dua puluh tiga.

Dia nggak langsung melepaskan tanganku. Dia menahannya satu detik lebih lama. Lalu, sebelum keluar, di depan tujuh orang lain di dalam lift yang penuh, dia mengangkat tanganku. Pelan. Ke bibirnya.

Dan mencium punggung tanganku.

Di tempat ibu jarinya tadi menggambar lingkaran.

Lalu dia keluar. Pintu lift menutup.

Tujuh orang di dalam lift menatapku.

Bapak dari divisi finance berdeham. Seorang staf magang dari TRAC Prime menutup mulut dengan tangan. Seorang ibu dari bagian SDM menatap angka lantai dengan sangat, sangat serius.

Aku menatap punggung tanganku.

Lalu aku mengeluarkan HP. Membuka catatan.

— Dia nunduk biar sejajar mataku. Tiap kali. Bahkan waktu dia nyium tanganku di lift penuh. Dia nunduk dulu.

Aku menyimpan catatan itu.

Itu baris keseratus tiga puluh satu.

Aku nggak tahu, waktu itu, bahwa itu akan jadi baris terakhir yang aku tulis dengan bahagia untuk beberapa waktu.


Jam empat sore, aku turun ke basement B1.

Siaranku jam sembilan malam. Rapat redaksi selesai jam tiga. Aku punya waktu lima jam, dan aku mau pulang dulu, mandi, ganti baju, dan mungkin, kalau aku cukup berani, mengirim pesan ke Salman yang isinya makan malam di apartemenku? Gordennya masih terbalik. Kamu masih utang benerin.

Aku sudah mengetik pesan itu. Di lift. Belum kukirim.

Sopirku parkir di B1, Zona B.

Aku berjalan melewati Zona A. Mobil-mobil karyawan. Lampu neon putih. Bau oli dan beton.

Lalu aku melihat mobil Cynthia.

Sedan putih. Kaca film gelap. Diparkir di sudut Zona A, di dekat pilar. Mesinnya menyala. Aku bisa mendengar dengung AC.

Dan di dalam mobil itu, di kursi pengemudi, Cynthia menangis.

Aku berhenti berjalan.

Kaca film-nya gelap, tapi nggak cukup gelap untuk lampu neon basement yang terlalu terang. Aku bisa melihatnya. Bahunya. Bergetar. Wajahnya. Ditutup dua tangan. Rambutnya, yang tadi pagi ditata sempurna untuk Sapa Pagi, sekarang berantakan, sebagian jatuh ke depan.

Dia nggak menangis seperti presenter berita. Dia nggak menangis seperti Cynthia yang aku kenal lima tahun, yang bisa berhenti menangis dalam tiga detik kalau ada orang lewat.

Dia menangis seperti orang yang sudah nggak peduli ada orang lewat.

Aku berdiri di sana. Dua meter dari mobilnya. Di balik pilar.

Lalu aku melihat apa yang ada di pangkuannya.

Amplop. Warna gading. Tiga.

Tebal. Dari kertas yang mahal. Kertas yang biasanya dipakai untuk undangan pernikahan. Di depan amplop yang paling atas, ada tulisan tangan. Satu kata. Aku bisa membacanya, karena tulisan itu besar dan rapi, tulisan orang yang belajar kaligrafi waktu kecil karena ibunya bilang anak perempuan harus punya tulisan yang cantik.

Man.

Aku berhenti bernapas.

Tiga amplop. Tiga.

Satu setahun.

Aku tahu angka itu. Aku hidup dengan angka itu selama tiga tahun. Satu surat setahun, di tanggal yang sama, tanpa alamat pengirim. Aku menerimanya. Aku membacanya di lantai apartemen dengan hoodie ungu dan earbud tanpa lagu.

Cynthia menulisnya.

Satu setahun. Tiga tahun. Tanpa alamat tujuan. Surat yang nggak pernah dikirim karena nggak ada tempat untuk mengirimnya.

Aku ingat Bu Nur. Di warung. Bulan kelima tahun pertama. Kemarin ada yang nanya alamat. Ibu nggak kasih.

Aku nggak pernah bertanya siapa.

Aku tahu siapa. Aku cuma nggak mau tahu.

Cynthia mengangkat kepala dari tangannya. Dia menatap amplop-amplop itu. Lalu dia mengambil HP dari dasbor. Mengetik sesuatu. Berhenti. Menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus.

Lalu dia menaruh HP itu di kursi penumpang, layar menghadap ke bawah, dan menutup wajahnya lagi.

Aku berbalik. Pelan. Supaya sepatu hakku nggak berbunyi di beton.

Aku berjalan kembali ke lift. Bukan ke Zona B. Bukan ke sopirku.

Aku naik ke rooftop.


Rooftop jam empat lewat dua puluh. Kosong. Angin sore. Matahari mulai condong ke barat, di atas gedung-gedung Kuningan.

Aku duduk di bangku kayu di bayangan ruang pompa.

Aku nggak tahu kenapa aku memilih tempat ini. Mungkin karena ini satu-satunya tempat di rooftop yang nggak bisa dilihat dari pintu.

Aku membuka HP. Membuka galeri foto. Menggulir ke belakang. Jauh ke belakang. Dua tahun lalu.

Foto kartu ulang tahun.

Dari Cynthia. Di ulang tahunku, tahun kedua. Bersama scarf sutra yang cantik, yang masih aku pakai di siaran sampai sekarang.

Selamat ulang tahun, Yur. Kamu yang paling berani di antara kita.

Aku menatap tulisan itu.

Paling berani.

Waktu menerima kartu itu, aku pikir dia memuji. Aku pikir dia bicara soal Wajah Malam, soal wawancara dengan nenek di Flores, soal menolak produser tampan dengan saya lagi megang dunia orang.

Sekarang aku membaca ulang kartu itu, di rooftop, sesudah melihat tiga amplop gading di pangkuan sahabatku, dan aku mengerti kalimat itu artinya apa.

Kamu yang paling berani di antara kita.

Kamu berani. Aku nggak.

Kamu dapat. Aku nggak.

Dia nggak menulisnya dengan marah. Aku tahu tulisan tangan Cynthia waktu marah, miring ke kiri, ditekan terlalu keras sampai kertasnya cekung. Tulisan di kartu ini lurus. Rapi. Seperti orang yang menerima sesuatu yang sudah dia tahu sejak lama.

Aku menutup galeri.

Lalu aku membuka foto lain. Bukan dari galeri. Dari ingatan.

Lift nomor empat. Lima tahun lalu. Lampu mati. Enam orang asing. Cynthia, presenter baru, dua puluh tiga tahun, mulai napas pendek-pendek di pojok lift. Dia gemetar. Dia memegang lengan orang di sebelahnya, yang ternyata aku, dan jari-jarinya dingin sekali.

Lalu ada suara. Laki-laki. Menyanyi di dalam gelap. Pelan. Bersih.

Lalu fals.

Lalu Dino tertawa. Lalu Diana mengomel. Lalu Erga ikut tertawa. Lalu aku menyanyi balasan. Lalu Cynthia tertawa.

Tawa pertama yang aku dengar dari Cynthia. Lepas. Nggak ditutup tangan. Di dalam lift yang gelap, di mana nggak ada kamera.

Aku ingat memegang tangannya sampai lift itu jalan lagi. Tiga jam.

Sesudah itu, kami jadi duo goddess. Dua presenter muda, cantik, yang selalu difoto bersama. Kami saling pinjam concealer. Kami tidur di sofa yang sama sesudah deadline malam tahun baru. Dia orang pertama yang aku telepon waktu Papa masuk rumah sakit. Dia yang datang ke rumah sakit jam tiga pagi dengan termos teh dan dua bungkus roti.

Dia yang pertama kenal Salman.

Dia yang pertama sayang Salman. Aku tahu itu. Aku tahu dari helm merah muda berstiker kelinci, dan kaca helm gelap, dan cara dia menatap Salman di malming waktu dia pikir nggak ada yang lihat.

Dia yang pertama.

Aku yang kedua.

Dan sekarang aku punya earbud kirinya, dan sandal kuning, dan helm putih berstiker kelinci kuning, dan ciuman di depan lobby apartemen, dan ciuman di punggung tangan di lift yang penuh. Dan dia punya tiga amplop gading tanpa alamat, dan mobil di sudut basement, dan tangis yang nggak peduli siapa lewat.

Aku menatap lampu kota yang mulai menyala satu per satu.

Lalu aku menghapus pesan yang belum terkirim. Makan malam di apartemenku? Gordennya masih terbalik.

Dan aku mengetik pesan baru.

Aku: man
Aku: bisa ke rooftop?
Aku: sekarang


Dia datang dalam empat menit.

Aku mendengar langkahnya di tangga darurat sebelum pintu terbuka. Cepat. Dua anak tangga sekaligus. Dia nggak naik lift. Dia lari dari lantai empat belas.

Pintu rooftop terbuka.

Salman berdiri di sana. Napas terengah. Blazer abu-abu arang terbuka. Hoodie kuning stabilo di bawahnya, berteriak tolong saya.

Dia melihatku di bangku kayu. Di bayangan ruang pompa.

Dia berjalan ke sana. Pelan. Seperti orang yang mendekati sesuatu yang bisa pecah.

“Yur,” katanya. “Kamu kenapa?”

Aku menatapnya.

Aku sudah merencanakan apa yang akan aku bilang. Di empat menit itu. Aku punya pidato. Selalu punya pidato.

Man, aku mau kita pelan-pelan dulu. Aku mau kita mundur sedikit. Ada hal yang belum selesai, dan bukan hal kita, tapi hal yang harus selesai sebelum kita bisa mulai dengan benar. Aku mau kasih ruang.

Elegan. Tenang. Dewasa.

Yang keluar dari mulutku:

“Cynthia nangis di basement.”

Salman diam.

“Di mobilnya. Di Zona A.” Suaraku mulai pecah. “Dia pegang tiga amplop, Man. Warna gading. Ada tulisan Man di depannya. Tiga. Satu setahun. Kayak suratmu ke aku.”

Salman nggak bergerak.

“Dia nulis surat ke kamu tiga tahun,” kataku. “Di tanggal yang sama kayak kamu nulis ke aku. Dan dia nggak bisa kirim, karena nggak ada alamat. Dan Ibu nggak kasih alamat. Dan dia simpan. Tiga tahun. Di tasnya.”

“Yur...”

“Dia yang duluan, Man.”

Salman menatapku.

“Dia yang duluan kenal kamu,” kataku. Cepat. Sebelum aku nggak bisa bilang. “Dia yang duluan sayang kamu. Dia yang dapat earbud buat lagu. Dia yang dapat sandal jepit biru. Dia yang duluan, dan dia salah, dan dia nyesel, dan sekarang dia nangis di basement sambil pegang surat yang nggak bisa dia kirim.”

Aku berdiri dari bangku. Kakiku gemetar. Aku berdiri di depannya.

“Cynthia duluan,” kataku. “Dia yang kamu sayang duluan. Kasih dia kesempatan bilang yang mau dia bilang. Tanpa aku di sebelahmu. Tanpa aku gandeng tanganmu di lobby. Biar dia nggak harus ngomong ke kamu sambil lihat aku.”

Angin rooftop bertiup. Rambutku berantakan.

“Aku mundur, Man.”


Salman nggak menjawab untuk waktu yang lama.

Dia berdiri di depanku. Di bayangan ruang pompa. Matahari sore di belakangnya, oranye, jatuh di bahunya, di blazer, di hoodie kuning stabilo.

Lalu dia bicara. Pelan.

“Itu apa-apa buat aku, Yur.”

Aku menatapnya.

“Kamu mundur,” katanya. “Itu apa-apa buat aku.”

“Man, aku cuma...”

“Tiga tahun lalu, aku bakal bilang nggak apa-apa.” Suaranya rendah. Tenang. Tapi di bawah ketenangan itu, aku mendengar sesuatu. Sesuatu yang bergetar. Seperti senar yang dipetik terlalu keras. “Aku bakal bilang nggak apa-apa, Yur, aku ngerti. Terus aku bakal pergi. Terus aku bakal joget sendirian di kantin besok pagi biar semua orang lihat aku baik-baik aja.”

Dia melangkah maju. Satu langkah.

“Aku udah nggak bilang itu lagi,” katanya. “Jadi aku bilang yang beneran. Itu sakit. Kamu mundur itu sakit. Kamu mutusin buat aku, tanpa nanya aku mau apa, itu sakit.”

“Aku nggak mutusin buat kamu. Aku mutusin buat dia...”

“Kamu mutusin buat aku, Yur.” Dia menatapku. “Kamu mutusin aku harus kasih dia kesempatan. Kamu mutusin aku harus dengerin dia tanpa kamu. Kamu mutusin semua itu di empat menit, sendirian, di rooftop, tanpa nanya aku.”

Aku nggak bisa menjawab.

“Aku bukan hadiah, Yur,” katanya. Lebih pelan. “Aku bukan sesuatu yang bisa kamu oper ke dia karena dia nangis lebih dulu.”

Air mataku jatuh.

Aku nggak menahannya. Aku nggak bisa.

“Aku tahu kamu bukan hadiah,” kataku. Suaraku pecah total. “Aku tahu. Tapi Man, dia sahabatku. Dia pegang tanganku di lift nomor empat tiga jam waktu aku takut. Dia datang ke rumah sakit jam tiga pagi waktu Papa sakit. Dia nulis kamu yang paling berani di antara kita di kartu ulang tahunku, dan aku baru ngerti hari ini artinya apa.”

Aku mengusap mata dengan punggung tangan. Makeup luntur. Aku nggak peduli.

“Aku nggak bisa bahagia di atas tangis dia,” kataku. “Aku nggak bisa gandeng tanganmu di lobby sambil tahu dia di basement. Aku nggak bisa, Man. Aku bukan orang kayak gitu.”

Salman diam.

Lalu dia mengangkat tangan. Pelan. Ke wajahku. Dengan ujung lengan hoodie kuning stabilo, dia menyeka air mataku. Kiri. Lalu kanan.

Seperti di tangga darurat.

“Aku tahu kamu bukan orang kayak gitu,” katanya. “Itu kenapa aku jatuh cinta sama kamu.”

Aku membeku.

Itu pertama kalinya dia bilang. Jatuh cinta. Bukan suka. Bukan kangen. Bukan kencan.

Jatuh cinta.

Dan dia mengatakannya di saat aku sedang mundur.

“Tapi aku nggak mau kamu mundur,” lanjutnya. “Dan aku nggak bisa maksa kamu nggak mundur. Itu bukan punyaku buat diputusin.”

Dia menurunkan tangannya.

Aku memasukkan tangan ke saku blazer. Menyentuh kotak kecil. Earbud.

Aku mengeluarkannya. Membukanya. Mengulurkannya ke Salman.

“Ini,” kataku. “Duniamu. Aku balikin. Biar dia...”

“Nggak.”

Salman nggak mengambilnya. Dia nggak mengangkat tangan. Dia cuma menatap kotak itu di telapak tanganku.

“Aku nggak terima barang yang dibalikin karena takut,” katanya.

“Aku nggak takut.”

“Kamu takut, Yur.” Dia menatapku. “Kamu takut bahagia. Kamu jago nunggu. Tiga tahun. Kamu jago banget nunggu. Tapi kamu nggak tahu caranya dapet.”

Dia menutup jari-jariku di atas kotak itu. Seperti di rooftop yang sama, tiga tahun lalu.

“Simpan,” katanya. “Aku nggak bakal ambil. Kalau kamu mau balikin, balikin karena kamu udah nggak mau pegang. Bukan karena kamu pikir orang lain lebih berhak pegang.”

Dia mundur. Satu langkah.

“Aku turun dulu,” katanya. “Aku nggak mau maksa. Aku nggak mau ngebujuk. Kamu udah mutusin. Aku hormatin.”

Dia berbalik ke pintu rooftop.

Lalu berhenti.

Dia nggak menoleh. Dia bicara ke pintu.

“Tapi Yur,” katanya. “Kamu nanya ke aku tiga tahun lalu. Di sini. Boleh aku jadi dunianya?” Dia diam sebentar. “Aku bilang tanya lagi tiga tahun lagi. Tiga tahun udah lewat. Kamu belum nanya.”

“Aku...”

“Aku nggak bakal jawab kalau kamu nggak nanya,” katanya. Pelan. “Itu aturanku. Aku janji ke diriku sendiri di Tokyo. Aku nggak bakal ngasih jawaban ke orang yang belum siap dengar.”

Dia membuka pintu.

“Kalau kamu udah siap,” katanya, “tanya.”

Pintu rooftop menutup di belakangnya.


Aku duduk di bangku kayu sampai matahari tenggelam.

Kotak earbud di tanganku. Aku nggak membukanya lagi. Aku cuma menggenggamnya. Seperti di parkiran bandara tiga tahun lalu, waktu aku menatap pesawat dengan ekor merah dan mulai menghitung.

Jam enam lewat sepuluh, langit oranye berubah ungu.

Jam enam lewat tiga puluh, lampu kota menyala semua.

Jam tujuh, HP-ku bergetar. Produser Wajah Malam. Mbak, rehearsal jam 8, jangan lupa.

Aku menatap pesan itu.

Lalu aku membuka catatan Yang Aku Lihat. Menggulir ke bawah. Ke baris keseratus tiga puluh satu. Yang aku tulis tadi pagi, di lift.

— Dia nunduk biar sejajar mataku. Tiap kali. Bahkan waktu dia nyium tanganku di lift penuh. Dia nunduk dulu.

Aku menulis baris keseratus tiga puluh dua.

— Dia bilang jatuh cinta. Di rooftop. Waktu aku lagi mundur.

— Dia nggak terima earbud-nya.

— Dia bilang aku jago nunggu tapi nggak tahu caranya dapet.

Aku berhenti.

Aku menatap kalimat terakhir itu lama. Lama sekali. Sampai layarnya mati sendiri, dan aku harus menyentuhnya lagi untuk menyalakannya.

Lalu aku menulis satu baris lagi.

— Dia benar.

Aku menutup catatan itu. Berdiri. Merapikan blazer. Menghapus sisa makeup yang luntur dengan tisu dari tas.

Aku turun ke lantai dua puluh tiga. Ke ruang rias. Ke studio Wajah Malam.

Jam sembilan tepat, lampu studio menyala. Kamera merah. Aku menatap lensa dan tersenyum tenang, dan aku memperkenalkan narasumber malam itu, seorang dokter di pulau kecil di Maluku yang merawat seluruh desa sendirian selama dua belas tahun.

Aku mewawancarainya satu jam.

Pertanyaan terakhir, aku menyimpangkan sedikit dari rundown. Produser di ruang kontrol pasti bingung.

“Dok,” kataku. “Selama dua belas tahun itu, pernah nggak Dokter ditawari pindah ke kota? Ke rumah sakit besar? Ke tempat yang lebih nyaman?”

“Pernah, Mbak. Berkali-kali.”

“Kenapa nggak pergi?”

Dokter itu tersenyum. Laki-laki tua. Kulitnya gosong. Kerut di sudut matanya seperti peta sungai.

“Karena saya sudah nunggu lama sekali buat dapat tempat yang saya cintai, Mbak,” katanya. “Masa sudah dapat, saya kasih ke orang lain?”

Aku menatapnya.

Di saku blazerku, di dalam kotak kecil, earbud itu diam. Nggak ada lagu. Nggak ada dunia.

Cuma aku. Dan pertanyaan yang belum aku tanyakan.

“Terima kasih, Dok,” kataku. Suaraku stabil. Aku presenter berita. Suaraku nggak pernah gemetar di depan kamera.

Tapi tanganku, di bawah meja, di luar jangkauan kamera, menggenggam kotak kecil di saku blazer sampai buku-buku jariku memutih.