← Pegang Duniaku Dulu

Chapter Twenty Four

Joget Sendirian Itu Capek

POV: Yura

Rute Yura: cerita bercabang sesudah Bab 23.

Raka nggak bisa bohong.

Itu yang aku pelajari Senin pagi, jam sembilan lewat dua belas, di pantry lantai empat belas. Aku turun ke sana cuma buat nyari air panas, karena dispenser di lantai redaksi rusak lagi dan aku butuh teh sebelum rapat. Raka sedang berdiri di depan mesin kopi, menatap gelas kosong di tangannya seperti gelas itu baru saja mengatakan sesuatu yang menyakitkan.

“Pagi, Rak.”

Dia melompat. Gelasnya hampir jatuh.

“P-pagi, Mbak Yura.”

Aku menatapnya. Kantung mata. Kemeja yang kancingnya salah satu lubang. Wajah orang yang semalam nggak tidur karena memikirkan sesuatu yang bukan urusannya, tapi entah kenapa jadi beban dia.

Aku kerja di berita. Aku sudah mewawancarai menteri yang bohong, pengusaha yang bohong, dan seorang bapak yang mengaku pesawat tempur peninggalan Belanda ada di halaman belakangnya. Aku tahu wajah orang yang menyimpan sesuatu.

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa, Mbak.”

“Rak.”

“Beneran, Mbak.”

“Kancing kemejamu salah lubang dari atas sampai bawah.”

Dia menunduk. Melihat kemejanya. Lalu menatapku lagi, dan aku melihat pertahanannya runtuh pelan-pelan, seperti dinding pasir kena ombak kecil.

“Mbak,” katanya pelan. “Mbak temennya Mas Salman, kan?”

“Iya.”

“Mbak juga temennya Mbak Cynthia.”

Aku diam. Ada sesuatu yang dingin naik dari perutku.

“Iya,” kataku. “Kenapa?”

Raka melihat sekeliling pantry. Kosong. Cuma kami berdua dan mesin kopi yang berdengung. Lalu dia bicara, cepat dan pelan, seperti orang yang sudah menahan napas terlalu lama.

Soal bus lima yang salah assign. Soal channel tujuh yang ternyata masih masuk ke headphone ruang kontrol waktu Mbak Vina bertanya itu siapa, pacar kamu? Soal jawaban Cynthia. Soal Salman yang mendengar semuanya, lalu menekan mute, lalu menyelesaikan gala dengan sempurna, dua jam, tanpa salah satu fader pun.

“Mas Salman bilang nggak apa-apa,” kata Raka. Suaranya pecah sedikit di ujung. “Tapi Mbak, itu jelas apa-apa.”

Aku nggak menjawab.

Aku menuang air panas ke gelas. Mencelupkan kantong teh. Menunggu warnanya keluar. Tanganku stabil. Aku presenter berita. Tanganku selalu stabil.

Tapi di dalam kepalaku, ada satu kalimat yang berulang-ulang, dengan suara Cynthia yang manis dan sopan dan sempurna untuk kamera.

Cuma teknisi. Kenal juga enggak terlalu.

Aku ingat Salman di depan apartemenku, seminggu lalu, di atas Wati. Aku ingat bilang aku cuma bilang. Aku ingat dia melihat Cynthia dari spion.

Ternyata aku nggak cuma bilang. Ternyata aku benar.

“Makasih, Rak,” kataku.

“Mbak jangan bilang ke siapa-siapa, ya. Mas Salman...”

“Aku nggak akan bilang ke siapa-siapa.” Aku mengambil teh. “Dan Rak.”

“Iya, Mbak?”

“Benerin kancingmu. Kamu kelihatan kayak orang yang abis diculik.”


Jam dua belas, aku tahu apa yang dimaksud Raka dengan apa-apa.

Kantin lantai tiga sedang penuh. Jam makan siang. Antrean di bakso Pak Kumis sampai ke pintu. Aku duduk di meja dekat jendela dengan dua orang dari redaksi, makan gado-gado yang terlalu banyak kacangnya, waktu musik itu mulai.

Bollywood. Dari speaker kaleng. Keras.

Seluruh kantin menoleh.

Salman berdiri di tengah kantin. Hoodie ungu bergambar penguin yang memakai ikat kepala ninja dan memegang sumpit seperti pedang. Speaker di tangan kiri. Dan dia berjoget.

Bukan joget kecil. Joget penuh. Tangan diangkat. Pinggul bergoyang. Kaki menghentak. Gerakan yang dia pelajari dari film-film Shah Rukh Khan dan dia eksekusi dengan keyakinan seorang penari profesional dan koordinasi seekor jerapah baru lahir.

Orang-orang tertawa. Beberapa merekam. Mbak Rini dari marketing menutup mulut sambil tertawa terbahak.

“Ya ampun, Mas Salman.”

“Dia kenapa sih?”

“Pantes ya Mbak Cynthia bilang cuma teknisi. Liat tuh.”

Kalimat terakhir itu datang dari meja sebelah. Dari laki-laki yang aku nggak tahu namanya, dengan kemeja slim fit dan rambut berpomade. Dia tertawa waktu mengatakannya, dan teman-temannya ikut tertawa.

Ternyata gosip gala sudah sampai ke kantin. Bukan rekamannya. Cuma kalimatnya. Mbak Vina pasti cerita ke seseorang. Seseorang itu cerita ke orang lain. Dan sekarang kalimat itu beredar, jadi lelucon.

Dan Salman, di tengah kantin, berjoget lebih keras.

Aku menatapnya.

Dan aku melihat yang Raka lihat.

Salman nggak sedang bersenang-senang. Gerakannya terlalu besar. Senyumnya terlalu lebar. Matanya nggak menatap siapa pun. Dia sedang memastikan semua orang melihatnya aneh. Supaya semua orang yakin, seratus persen, bahwa orang seaneh ini memang nggak mungkin ada hubungan apa-apa dengan Cynthia Larasati Wirawan.

Dia sedang membersihkan nama Cynthia.

Pakai dirinya sendiri sebagai sabun.

Aku melirik ke meja di sudut. Meja tim ErCyn. Cynthia duduk di sana bersama Erga, Mas Teddy, dan dua staf kreatif. Dia sedang memegang sendok. Sendoknya berhenti di udara, setengah jalan ke mulut, dan nggak bergerak.

Wajahnya sempurna. Wajah kamera. Tapi sendoknya nggak bergerak.

Aku meletakkan sendokku sendiri.

Lalu aku berdiri.

“Yur?” kata temanku dari redaksi. “Mau ke mana?”

Aku nggak menjawab. Aku berjalan ke tengah kantin. Sepatu hak tujuh senti. Rok pensil hitam. Blazer abu-abu yang aku pakai buat rapat redaksi jam sebelas tadi. Rambut yang ditata penata rambut TRAC Malam kemarin sore dan masih bertahan karena hairspray sebanyak dosa.

Salman melihatku datang. Gerakannya melambat sebentar.

Aku berhenti di depannya. Mengangkat tangan.

Dan aku berjoget.

Aku pernah ikut tari tradisional delapan tahun, dari SD sampai SMP, karena Mama bilang anak perempuan harus tahu cara berdiri dengan anggun. Aku juga pernah ikut kelas tari Bollywood dua bulan di Kemang, waktu putus dari pacar terakhir dan butuh alasan untuk keluar rumah tiap Rabu malam.

Jadi aku berjoget dengan benar.

Pinggul di ketukan yang tepat. Tangan yang melengkung seperti di film. Putaran kecil di tempat, rok pensil berayun sedikit, rambut ikut. Aku menatap Salman sepanjang waktu. Langsung ke matanya.

Kantin yang tadinya tertawa jadi diam.

Lalu bersorak.

Mbak Rini bersiul. Seseorang di pojok bertepuk tangan mengikuti ketukan. Laki-laki berpomade tadi menurunkan HP-nya, mulutnya sedikit terbuka.

Salman berhenti berjoget. Menatapku seperti melihat bencana alam.

“Yur,” katanya pelan, di bawah musik. “Kamu jogetnya kebagusan.”

“Terus?”

“Ini merusak keanehan. Aku lagi kerja keras jadi aneh. Kamu bikin ini kelihatan kayak flash mob yang direncanakan.”

Aku tersenyum. Mendekat satu langkah. Cukup dekat sampai aku bisa mencium bau kaldu yang selalu menempel di hoodie-nya, bercampur sabun cuci yang wangi lavender murah.

“Kalau mau aneh,” kataku, cukup keras untuk didengar meja-meja terdekat, “jangan sendirian. Capek.”

Lalu aku mengambil tangannya.

Bukan menggandeng lengan. Bukan memegang pergelangan. Tangannya. Jari-jariku masuk di antara jari-jarinya, dan aku menggenggam.

Tangannya hangat. Kasar di ujung-ujung jari, bekas bertahun-tahun memutar kenop dan mencabut kabel. Dia membeku. Seluruh badannya. Kecuali jari-jarinya, yang setelah satu detik, dua detik, nggak membalas genggamanku, tapi juga nggak melepaskannya.

Aku menariknya keluar kantin.

Melewati meja-meja. Melewati antrean bakso Pak Kumis. Melewati meja tim ErCyn.

Aku nggak menoleh ke meja itu. Tapi aku tahu sendok itu masih di udara.


Di depan lift, Salman mencoba melepaskan tangannya.

Aku menggenggam lebih erat.

“Yur.”

“Aku nggak lepas sampai lift,” kataku. “Biar satu tower lihat.”

“Satu tower udah lihat. Barusan. Ada yang live di TikTok.”

“Bagus.”

Lift terbuka. Kosong. Kami masuk. Aku menekan angka empat belas dengan tangan yang bebas. Pintu menutup.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, kami berdua saja.

Aku nggak melepaskan tangannya.

Salman menatap angka di atas pintu. Tiga. Empat. Lima. Telinganya mulai merah. Aku memperhatikannya. Merahnya mulai dari ujung bawah, di cuping, lalu naik pelan ke atas, seperti termometer di film kartun.

“Tanganmu anget,” katanya, masih menatap angka lantai. “Tapi lift-nya deket. Untung.”

“Untung buat siapa?”

Dia nggak menjawab.

Aku berbalik menghadapnya. Lift itu kecil. Lift nomor dua, yang lebih sempit dari lift nomor empat. Aku bisa merasakan napasnya. Aku bisa melihat bulu matanya yang ternyata panjang, yang nggak pernah aku perhatikan karena selama ini aku selalu melihat dia dari seberang meja.

Tali hoodie-nya menggantung nggak rata. Yang kiri lebih panjang dari yang kanan.

Aku mengangkat tangan yang bebas. Memegang tali yang kiri. Menariknya pelan, sedikit, sampai sejajar dengan yang kanan.

“Talinya kepanjangan, Man,” kataku. “Kayak minta ditarik.”

Salman menelan ludah. Aku melihat jakunnya naik, lalu turun.

“Itu tali,” katanya, dengan suara yang terlalu datar untuk orang yang telinganya merah sampai ke ujung. “Fungsinya buat ngencengin tudung kalau angin kencang. Atau kalau tudungnya kebalik.”

“Aku tahu fungsinya.”

Aku masih memegang tali itu. Dia masih menatap angka lantai. Sembilan. Sepuluh.

“Yur,” katanya pelan. “Aku...”

“Aku tahu,” kataku. Lebih pelan. “Aku nggak minta apa-apa, Man. Aku cuma nggak mau kamu joget sendirian di depan orang-orang yang ketawain kamu biar dia aman.”

Dia akhirnya menoleh. Menatapku.

Dan di matanya, untuk satu detik, aku melihat sesuatu yang nggak pernah aku lihat di wajah Salman. Bukan cuek. Bukan absurd. Bukan nggak apa-apa.

Capek.

Lalu dia tersenyum, kecil, dan semuanya tertutup lagi.

Ting. Lantai empat belas.

Aku melepaskan tali hoodie-nya. Lalu, pelan, melepaskan tangannya.

“Kenapa lift-nya cepet banget hari ini,” kataku, ke diriku sendiri.

Salman keluar. Berhenti di depan pintu lift. Menoleh.

“Yur.”

“Hm?”

“Makasih. Jogetnya.” Dia diam sebentar. “Kamu beneran kebagusan. Aku nggak tahu kamu bisa joget.”

“Kamu nggak pernah nanya.”

Pintu lift menutup di antara kami. Aku berdiri sendirian di dalam lift yang sekarang terasa terlalu besar. Lalu aku menyandarkan punggung ke dinding. Menutup mata.

Tanganku gemetar.

Ternyata aku nggak seberani yang aku kira.

Aku cuma lebih takut melihat dia joget sendirian daripada takut ditolak.


Selasa pagi, aku minta hoodie.

Aku menunggu di drop-off basement B2 jam tujuh lewat empat puluh, di sebelah slot parkir Wati. Salman datang, melihatku, lalu hampir menabrak tiang.

“Pagi.”

“Pagi. Kamu nunggu siapa?”

“Kamu.” Aku mengulurkan tangan. “Pinjem hoodie. Yang paling memalukan.”

Dia menatap tanganku. Lalu wajahku. Lalu tanganku lagi.

“Buat apa?”

“Buat dipakai.”

“Kamu presenter berita.”

“Siaranku jam sembilan malam. Sekarang jam delapan pagi. Di antara itu, aku manusia biasa yang kedinginan karena AC lantai redaksi disetel kayak kulkas daging.”

Salman membuka jok Wati. Di dalamnya, terlipat rapi, tiga hoodie cadangan, sebotol sambal sachet, dan helm merah muda berstiker kelinci. Dia mengeluarkan satu hoodie. Ungu. Penguin ninja. Yang kemarin dia pakai di kantin.

“Ini yang kemarin.”

“Aku tahu.”

“Belum dicuci.”

Aku mengambilnya dari tangannya. “Aku tahu.”

Dia menatapku lama. Lalu menutup jok Wati pelan-pelan, seperti orang yang baru sadar sesuatu yang dia nggak siap sadari.

Aku memakai hoodie itu ke lantai redaksi.

Di atas kemeja putih dan rok pensil. Lengannya kepanjangan, jadi aku melipatnya dua kali. Gambar penguin ninja di dada, dengan sumpit yang diacungkan seperti pedang. Seluruh lantai redaksi menoleh. Mas Teddy, yang lewat untuk rapat dengan Pemred, berhenti, membuka mulut, lalu menutupnya lagi dan pergi.

Jam sepuluh, aku ke toilet.

Aku berdiri di depan cermin. Menatap diriku sendiri dalam hoodie ungu yang terlalu besar.

Lalu aku menarik kerahnya ke atas, ke hidungku. Dan aku menghirup.

Bau kaldu sapi. Bawang putih. Sedikit seledri. Lavender murah. Dan di bawah semua itu, sesuatu yang lebih samar, yang aku nggak bisa namai, yang cuma bisa aku deskripsikan sebagai Salman.

“Ya ampun,” bisikku ke cermin. “Bau kaldu. Kenapa aku suka.”

Seorang staf finance keluar dari bilik toilet tepat waktu aku mengatakan itu.

Kami saling menatap lewat cermin.

Dia mencuci tangan dengan sangat cepat dan pergi tanpa mengeringkannya.


Sabtu, malming.

Kedai Ruang Tunggu. Meja pojok dekat rak buku. Kertas RESERVED — RUANG TUNGGU FC di tengah. Pak Hendro di balik meja kasir dengan kemeja batik. Si Oren tidur di kursi kosong.

Aku datang paling awal. Biasanya aku datang paling akhir.

Aku memakai hoodie ungu penguin ninja. Di atas dress hitam selutut. Rambut digerai.

Waktu Diana datang, dia berhenti di depan meja. Menatapku dari atas ke bawah. Mengeluarkan buku catatan batik dari tasnya.

“Ini tidak diatur dalam regulasi,” katanya. “Klasemen hoodie adalah klasemen hoodie Salman. Bukan hoodie yang dipakai orang lain.”

“Ini hoodie Salman.”

“Dipakai oleh orang lain.”

“Kasih skor aja, Di.”

Diana menatapku lama. Lalu menulis sesuatu.

“Tujuh koma lima,” katanya. “Hoodie-nya sendiri dapat lima koma lima. Dua poin tambahan karena dipakai oleh presenter berita di atas dress yang kelihatan mahal. Kontras yang menyakitkan mata. Juri menghormati keberaniannya. Juri juga curiga.”

“Curiga apa?”

“Lima kata,” kata Diana. Dia mengangkat tangan. “Kamu.” Satu jari. “Lagi.” Dua jari. “Main.” Tiga jari. “Api.” Empat jari. Lalu dia berhenti, menatapku, dan menurunkan tangannya tanpa jari kelima.

“Itu empat kata,” kataku.

“Kata kelimanya aku simpan,” kata Diana. “Tergantung malam ini.”

Satu per satu yang lain datang. Dino dengan dua kantong martabak dan wajah orang yang diet keto-nya gagal di hari keempat. Erga dengan kemeja linen dan bekal dari pengirim anonim yang belum habis. Cynthia.

Cynthia datang terakhir.

Dia memakai kemeja putih dan celana jeans. Sederhana. Cantik. Selalu cantik. Dia berhenti di samping meja waktu melihatku. Melihat hoodie ungu.

Lalu dia tersenyum. Senyum kamera. Dan duduk di seberang Salman. Seperti biasa. Sesuai SOP yang mereka kira nggak ada yang tahu.

Salman datang paling terakhir, jam tujuh lewat dua puluh. Hoodie hijau tua bergambar kucing samurai. Wajah yang sama. Langkah yang sama. Dia duduk di kursi kosong di sebelahku, karena itu satu-satunya kursi yang tersisa, karena aku sudah mengatur supaya itu satu-satunya kursi yang tersisa.

Si Oren pindah ke pangkuan Dino.

Pak Hendro mengantar enam mangkuk bakso. Level sembilan untuk Salman dan Dino. Level tiga untuk yang lain.

Aku mengambil sendok Salman sebelum dia sempat.

Dia menatapku.

Aku menyendok satu bakso dari mangkuknya. Bakso urat, besar, merah karena sambal level sembilan. Meniupnya pelan-pelan. Lalu mengangkatnya ke depan mulutnya.

“Aaa,” kataku. “Buka.”

Meja pojok berhenti.

Dino berhenti mengunyah. Erga berhenti menuang teh. Diana berhenti menulis. Cynthia, di seberang, berhenti bergerak sama sekali.

“Yur,” kata Salman. “Aku bisa makan sendiri.”

“Aku tahu. Tapi kamu makannya berantakan. Buka.”

Dia menatapku. Menatap sendok di depan mulutnya. Menatap meja yang tiba-tiba sangat sunyi.

Lalu, karena dia Salman, dan Salman nggak bisa mempermalukan orang yang sedang menyodorkan sesuatu kepadanya, dia membuka mulut.

Aku menyuapinya.

Dia mengunyah. Pelan. Matanya menatap mangkuk. Telinganya merah lagi. Di sudut bibirnya, sisa sambal level sembilan menempel. Merah, mengilap, sedikit.

Aku mengangkat tangan.

Dengan jempol, aku menyeka sambal itu dari sudut bibirnya. Pelan. Sengaja pelan. Jempolku menyentuh bibir bawahnya sedetik lebih lama dari yang perlu.

Lalu, sambil menatap matanya, aku membawa jempolku ke bibirku sendiri.

Dan menjilat sambal itu.

“Sayang,” kataku. “Level sembilan.”

Dino tersedak martabak. Erga menjatuhkan garpu ke lantai dengan bunyi yang sangat keras. Si Oren melompat dari pangkuan Dino dan kabur ke rumah tetangga. Pak Hendro, di balik meja kasir, tiba-tiba sangat sibuk menghitung uang receh.

Dan Salman membeku. Sepenuhnya. Seperti video yang di-pause.

Lalu, tiga detik kemudian, dia bergerak. Mengambil gelas es teh di depannya. Menyodorkannya padaku.

“Jempolmu sekarang kepedesan,” katanya. Suaranya serak sedikit. “Minum.”

Aku tertawa. Dari hidung dulu. Lalu pecah.

Aku mengambil es teh itu. Meminumnya dari sedotan yang tadi dia pakai.

Diana, di ujung meja, mengangkat tangannya lagi. Dan mengangkat jari kelima.

“Api,” katanya. Lalu, setelah jeda, “Lima kata pun nggak cukup.”

Aku nggak melihat ke seberang meja.

Tapi aku mendengar kursi bergeser. Dan langkah cepat menuju toilet.


Aku menyusulnya lima menit kemudian.

Toilet perempuan di Kedai Ruang Tunggu cuma satu bilik dan satu wastafel, dengan cermin bundar berbingkai kayu dan stiker Hemat Air yang sudah pudar. Cynthia berdiri di depan wastafel. Air mengalir. Tangannya di bawah air, tapi nggak bergerak.

Matanya merah.

Dia melihatku di cermin. Lalu menunduk.

“Mataku kemasukan sambal,” katanya.

“Kamu makan level tiga.”

“Level tiga juga sambal.”

Aku berdiri di sebelahnya. Mencuci tanganku juga, meskipun tanganku nggak kotor. Kami berdua menatap air yang mengalir.

Cynthia sahabatku. Sudah dua tahun, sejak lift macet itu. Kami duo goddess TRAC Tower. Kami pernah tidur di sofa yang sama sesudah deadline malam tahun baru. Kami pernah saling pinjam concealer. Dia orang pertama yang aku telepon waktu Papa masuk rumah sakit.

Aku sayang dia.

Dan justru karena aku sayang dia, aku harus bilang ini.

“Cyn,” kataku.

Dia nggak menjawab.

“Aku nggak tahu kalian apa,” kataku pelan. Bohong. Aku tahu. Aku tahu dari helm merah muda berstiker kelinci yang selalu ada di jok Wati, dan dari kaca helm gelap di video gosip Mampang, dan dari cara dia menatap Salman waktu dia pikir nggak ada yang lihat. “Dan aku nggak akan nanya.”

Aku mematikan keranku. Mengambil tisu. Mengeringkan tangan.

“Tapi aku lihat dia joget sendirian di kantin,” lanjutku. “Biar semua orang yakin dia nggak mungkin sama kamu. Biar namamu bersih. Dia jadiin dirinya sendiri bahan ketawaan, Cyn. Buat kamu.”

Air di wastafel Cynthia masih mengalir.

Aku membuang tisu ke tempat sampah. Lalu menatapnya lewat cermin.

“Kamu malu jalan sama dia,” kataku. “Aku bangga.”

Cynthia menutup matanya.

Aku keluar dari toilet.


Malam itu, di mobil, sopirku memutar radio pelan. Lagu pop. Jalanan Jakarta Sabtu malam, lampu merah dan klakson dan pedagang asongan di sela-sela mobil.

Aku duduk di jok belakang. Masih memakai hoodie ungu penguin ninja.

Aku menarik kerahnya ke hidung lagi. Menghirup.

Lalu aku menutup wajah dengan kedua tangan, di dalam lengan hoodie yang kepanjangan, dan aku tertawa. Atau menangis. Aku nggak yakin yang mana. Mungkin dua-duanya.

Karena aku baru saja menjilat sambal dari jempol yang menyentuh bibir laki-laki yang bukan milikku, di depan sahabatku, di depan semua temanku.

Dan aku nggak menyesal.

Sedikit pun.

HP-ku bergetar. Satu pesan.

Salman: yur
Salman: es teh-ku kamu abisin
Salman: itu es teh terakhir pak hendro. gulanya abis

Aku menatap layar. Lalu mengetik.

Aku: besok aku beliin gula sekilo
Aku: tapi sedotannya jangan diganti

Titik-titik mengetik muncul. Hilang. Muncul. Hilang. Muncul.

Lalu hilang lagi, dan nggak muncul-muncul.

Aku menyandarkan kepala ke jendela mobil. Tersenyum ke lampu-lampu Sudirman yang lewat.

Dia nggak membalas.

Tapi dia juga nggak bilang nggak apa-apa.