Chapter Nine

Warung Bu Tati

POV: Mira

Seminggu setelah atap bocor, aku dan Raka mulai punya kebiasaan buruk.

Kami sering bertemu di warung Bu Tati.

Tidak janjian.

Tidak sengaja.

Tidak ada agenda.

Setidaknya itu yang terus kukatakan pada diriku sendiri.

Pertama kali hari Senin.

Aku pulang telat.

Lapar.

Tidak punya energi memasak.

Warung Bu Tati masih buka.

Aku datang.

Raka sudah duduk di sana makan nasi goreng.

“Kenapa kamu di sini?”

Dia mengangkat sendok.

“Makan.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Enggak.”

Aku duduk di meja lain.

Bu Tati datang.

“Makan bareng aja.”

“Enggak usah, Bu,” kataku.

“Meja satunya goyang.”

Aku menekan meja.

Benar.

Bu Tati tersenyum penuh kemenangan.

Aku akhirnya duduk di depan Raka.

Tidak ada percakapan penting.

Kami makan.

Raka membayar sendiri.

Aku membayar sendiri.

Pulang.

Normal.

Hari Rabu kejadian lagi.

Aku datang beli mi rebus.

Raka sedang minum kopi.

Aku seharusnya pesan bungkus.

Entah kenapa aku duduk.

Jumat.

Sama.

Minggu sore.

Sama.

Pada pertemuan kelima, Bu Tati bahkan tidak bertanya.

Dia hanya menaruh dua gelas teh di meja yang sama.

Aku menatapnya.

“Bu.”

“Apa?”

“Kenapa dua?”

“Yang satu Mas Raka.”

“Dia belum datang.”

Bu Tati menunjuk belakangku.

Aku menoleh.

Raka baru masuk warung.

Aku langsung melihat Bu Tati lagi.

Dia tersenyum.

“Insting.”

“Ini manipulasi.”

“Tehnya sudah dibuat.”

Raka duduk.

“Ada apa?”

“Bu Tati sedang menjalankan operasi ilegal.”

Bu Tati berjalan pergi sambil tertawa.

Raka mengambil teh.

“Operasi apa?”

“Tidak penting.”

Kami duduk.

Aku memesan soto.

Raka memesan nasi goreng.

Lagi.

“Kenapa selalu nasi goreng?” tanyaku.

“Enak.”

“Ada menu lain.”

“Kenapa harus pindah kalau sudah cocok?”

Aku berhenti.

Raka juga.

Kalimat itu menggantung.

Aku melihat daftar menu.

“Ya terserah.”

Dia mengaduk teh.

Kami diam.

Kesalahan kecil.

Kalimat biasa.

Tapi beberapa kata punya kemampuan menemukan luka sendiri.


“Aku dapat proyek baru,” kata Raka beberapa menit kemudian.

Aku menatapnya.

“Oh ya?”

“Di Cikarang.”

“Jauh.”

“Lumayan.”

“Berapa lama?”

“Empat bulan.”

Sendokku berhenti.

“Berarti kamu pindah?”

“Enggak. Pulang pergi beberapa hari.”

“Oh.”

Aku tidak tahu kenapa merasa lega.

“Capek.”

“Ya.”

“Kenapa ambil?”

Raka mengangkat bahu.

“Kerjaan.”

Jawaban lama.

Jawaban yang dulu sering membuatku berhenti bertanya.

Aku menatap wajahnya.

Ada garis lelah di bawah mata.

Malam saat atap bocor dia bilang bekerja sampai pukul dua.

Sekarang proyek baru.

Pulang pergi.

Aku hampir mengatakan:

Jangan terlalu dipaksain.

Tapi kemudian teringat.

Bukan suamiku.

Aku mengambil sambal.

“Jaga kesehatan.”

Raka mengangguk.

“Ya.”

Itu saja.

Aneh.

Dulu aku mungkin akan marah.

Mendesaknya.

Menyuruh tidur.

Menyusun jadwal.

Sekarang aku cuma boleh memberikan satu kalimat.

Dan entah kenapa satu kalimat itu terasa lebih jujur daripada semua ceramahku dulu.

Raka menatap mangkukku.

“Kamu nggak pakai jeruk?”

Aku melihat meja.

Tidak ada jeruk.

“Lupa.”

Dia mengambil potongan jeruk dari piringnya.

Menaruh di dekatku.

Aku tidak mengucapkan terima kasih.

Tidak perlu.

Tanganku otomatis memerasnya.

Raka otomatis menggeser tempat biji.

Kebiasaan.

Kami melakukan semuanya tanpa berpikir.

Baru setelah selesai, aku sadar.

Aku menatap tangannya.

Raka juga sadar.

Kami mengalihkan pandangan.


Bu Tati datang membawa kerupuk.

“Ini.”

“Saya nggak pesan,” kataku.

“Bonus.”

“Kenapa?”

“Langganan.”

Aku dan Raka saling pandang.

“Siapa yang langganan?” tanyaku.

“Kalian.”

“Kami bukan satu pelanggan.”

Bu Tati mengernyit.

“Seringnya datang bareng.”

“Kebetulan.”

“Lima kali?”

Aku menatap Raka.

Dia pura-pura sibuk makan.

“Bu.”

Bu Tati duduk di kursi kosong.

Nah.

Ini pertanda buruk.

“Kalian dulu cerai kenapa?”

Aku tersedak.

Raka berhenti mengunyah.

“Bu Tati!”

“Apa?”

“Jangan nanya begitu.”

“Saya penasaran.”

“Penasaran disimpan.”

Bu Tati melihat Raka.

“Mas?”

Raka minum.

“Panjang, Bu.”

“Orang ketiga?”

“Enggak.”

“Mas judi?”

Raka hampir tersedak.

“Enggak!”

“Mbak Mira galak?”

Aku menatap Bu Tati.

Dia mengangkat tangan.

“Bukan berarti iya.”

Raka menahan tawa.

Aku menendang kakinya di bawah meja.

“Au.”

“Kenapa?” tanya Bu Tati.

“Nyamuk.”

Aku menatap Raka tajam.

Bu Tati melanjutkan.

“Kalau nggak ada selingkuh, nggak ada judi, nggak ada pukul-pukulan, kenapa cerai?”

Aku membuka mulut.

Tidak ada jawaban sederhana.

Bagaimana menjelaskan delapan tahun dalam satu kalimat?

Karena kami capek?

Karena Raka terlalu sibuk?

Karena aku terlalu sering diam?

Karena kami tinggal dalam rumah yang sama tapi berhenti benar-benar melihat satu sama lain?

Atau karena suatu hari aku mengatakan aku mau cerai dan dia menjawab ya sudah?

Raka menaruh sendok.

“Kami gagal ngobrol, Bu.”

Aku menoleh.

Dia tidak melihatku.

Bu Tati mengerutkan dahi.

“Cuma itu?”

Raka tersenyum kecil.

“Kadang itu cukup.”

Aku diam.

Bu Tati tampaknya tidak puas.

Tapi pelanggan lain memanggil.

Dia berdiri.

“Nanti lanjut.”

“Tidak ada lanjutannya,” kataku.

Bu Tati pergi.

Aku masih melihat Raka.

“Apa?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Kamu bilang kita gagal ngobrol.”

“Memang.”

Aku menunduk.

“Ya.”

Hening.

Raka mengambil sendok lagi.

“Sekarang lebih banyak.”

Aku mengangkat kepala.

“Apa?”

“Ngobrolnya.”

Aku tertawa kecil.

“Iya.”

“Padahal tinggal beda rumah.”

“Ironis.”

“Lumayan.”

“Kamu suka banget kata lumayan.”

“Efisien.”

Aku menggeleng.

Tapi tersenyum.


Setelah makan kami pulang berjalan kaki.

Jarak warung ke rumah hanya sekitar seratus meter.

Lampu gang kuning.

Udara masih hangat setelah hujan sore.

Raka berjalan di sebelah kiriku.

Posisi yang sama seperti dulu.

Aku tidak tahu apakah dia sadar.

“Ardi ngajak lagi?” tanyanya.

Aku melirik.

“Peraturan lima.”

“Pertanyaan umum.”

“Nama orang spesifik.”

“Ya sudah.”

Aku menunggu.

Dia tidak bertanya lagi.

Entah kenapa aku jadi ingin menjawab.

“Sabtu.”

Raka mengangguk.

“Oh.”

“Cuma makan.”

“Aku nggak nanya.”

“Memang.”

“Kamu jelasin sendiri.”

Aku menatapnya.

Dia tersenyum kecil.

“Nyebelin.”

“Informasi umum.”

Aku tertawa.

Kami sampai depan rumah.

Aku membuka pagar.

Raka membuka pagar rumahnya.

Dua pintu.

Dua rumah.

Dua kehidupan.

“Mir.”

Aku menoleh.

Raka bersandar pada pagar.

“Tadi…”

“Apa?”

Dia terlihat ragu.

Jarang.

“Waktu Bu Tati nanya.”

Aku menunggu.

“Menurut kamu aku salah jawab?”

Aku mengerutkan dahi.

“Soal kita gagal ngobrol?”

“Ya.”

Aku memikirkan.

“Enggak.”

“Cuma itu?”

Aku hampir tertawa.

“Katamu sendiri panjang.”

“Ya.”

Aku menggenggam gagang pagar.

“Kayaknya… banyak hal kecil.”

Raka mengangguk.

“Ya.”

“Bukan satu kejadian.”

“Ya.”

Aku ingin masuk.

Tapi kakiku belum bergerak.

“Aku sering marah kamu pulang malam.”

Raka menatapku.

“Ya.”

“Tapi aku nggak pernah tanya sebenarnya kamu kenapa selalu pulang malam.”

Dia diam.

Aku melanjutkan sebelum keberanianku habis.

“Kamu juga nggak pernah cerita.”

“Ya.”

“Jadi…”

Aku berhenti.

Tidak tahu mau ke mana.

Raka menatap aspal.

“Aku pikir kalau aku cerita malah bikin kamu tambah capek.”

Aku membeku.

Itu baru.

Selama ini versiku sederhana.

Raka sibuk.

Raka tidak peduli.

Raka memilih pekerjaan.

Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan bahwa dia sengaja diam karena alasan lain.

“Kenapa mikir begitu?”

Raka mengangkat kepala.

“Entah.”

Suara Ucil terdengar dari dalam rumahku.

Percakapan pecah.

Aku membuka pintu.

“Kita bahas lain kali.”

Kalimat itu keluar.

Aku langsung membenci.

Lain kali.

Dua kata yang dulu membunuh begitu banyak percakapan.

Raka tampaknya memikirkan hal yang sama.

Dia hanya mengangguk.

“Ya.”

Aku masuk rumah.

Menutup pintu.

Lalu berdiri di ruang tengah dengan perasaan tidak nyaman.

Ucil menggosok kakiku.

Aku menunduk.

“Seharusnya tadi aku lanjut ya?”

Ucil mengeong.

Aku mengambil ponsel.

Membuka chat Raka.

Mengetik:

Kamu belum jawab. Kenapa kamu pikir cerita bakal bikin aku tambah capek?

Jempolku menggantung di atas tombol kirim.

Dulu aku mungkin akan menghapusnya.

Mengatakan besok saja.

Mengatakan tidak penting.

Mengatakan tidak apa-apa.

Kali ini aku menekan kirim.

Pesan dibaca.

Lama tidak ada jawaban.

Kemudian muncul:

Karena waktu itu kamu juga kelihatan capek. Aku pikir paling tidak salah satu dari kita harus kelihatan baik-baik aja.

Aku membaca dua kali.

Kemudian tiga.

Dadaku terasa aneh.

Aku mengetik:

Ternyata dua-duanya nggak baik-baik aja.

Balasannya datang.

Iya.

Aku duduk di sofa.

Tidak ada penyelesaian.

Tidak ada permintaan maaf besar.

Tidak ada musik.

Hanya dua orang di dua rumah berbeda yang akhirnya mengucapkan satu hal kecil beberapa tahun terlambat.

Dan untuk malam ini, mungkin itu cukup.