Chapter Fifteen

Jangan Baik-Baik Terus

POV: Mira

Ardi menciumku.

Hampir.

Dan mungkin kata hampir itulah masalahnya.

Kami baru selesai makan malam.

Kencan ketiga.

Atau keempat.

Aku tidak yakin apakah makan siang dihitung kencan.

Ardi mengantarku pulang.

Mobilnya berhenti beberapa rumah sebelum rumahku karena ada mobil tetangga parkir sembarangan.

Kami masih duduk.

Musik pelan.

AC dingin.

Percakapan sudah selesai, tapi tidak ada yang buru-buru membuka pintu.

Aku tahu apa yang akan terjadi.

Bukan karena ahli.

Karena Ardi melihat bibirku.

Kemudian mataku.

Kemudian bibir lagi.

Sangat textbook.

Aku hampir tertawa.

Tapi tidak.

Ardi mendekat sedikit.

Pelan.

Memberiku waktu untuk mundur.

Aku tidak mundur.

Dia mendekat lagi.

Jarak tinggal beberapa sentimeter.

Dan tiba-tiba—

aku melihat Raka.

Bukan secara metaforis.

Benar-benar Raka.

Dia sedang berjalan dari arah minimarket membawa kantong plastik.

Di trotoar.

Tepat di samping mobil.

Matanya bertemu denganku melalui kaca.

Aku langsung mundur.

Kepalaku menghantam sandaran.

Ardi berhenti.

“Sorry.”

“Enggak.”

“Too fast?”

“Bukan.”

Aku melihat kaca lagi.

Raka sudah lewat.

Tidak menoleh.

Dadaku berdebar.

Ardi mengikuti pandanganku.

“Itu...?”

Aku mengembuskan napas.

“Mantan suamiku.”

“Oh.”

Satu kata.

Tapi sangat penuh makna.

Aku menutup wajah sebentar.

“Maaf.”

“Kenapa minta maaf?”

“Situasinya aneh.”

“Lumayan.”

Aku langsung menurunkan tangan.

Ardi bingung.

“Apa?”

“Enggak. Ada orang yang sering bilang itu.”

“Oh.”

Hening.

Ardi tidak mencoba lagi.

Aku menghargainya.

Sangat.

“Aku belum siap ya?” tanyaku.

Ardi memikirkan sebelum menjawab.

“Mungkin.”

Aku menatap tangan.

“Aku kira siap.”

“Siap makan malam sama orang baru dan siap untuk semuanya itu beda.”

Aku mengangguk.

Ardi tersenyum kecil.

“Tenang aja.”

Dia baik.

Lagi.

Kenapa semua orang hari ini baik?

Aku membuka pintu.

“Makasih.”

“Mira.”

Aku menoleh.

“Aku nggak buru-buru.”

Kalimat itu seharusnya membuatku lega.

Dan memang.

Sedikit.

Aku tersenyum.

“Makasih.”

Aku turun.


Raka sedang membuka pagar ketika aku sampai.

Aku ingin langsung masuk.

Sangat ingin.

Tapi dia berhenti.

Aku berhenti.

Dia memegang kantong minimarket.

Aku memegang tas.

“Malem,” katanya.

“Malem.”

Aku membuka pagar.

“Mira.”

Aku memejamkan mata sepersekian detik.

“Apa?”

“Ini.”

Dia mengangkat sesuatu.

Satu bungkus makanan kucing.

“Ucil punya kamu habis, kan?”

Aku menatap bungkus itu.

“Dari mana tahu?”

“Kemarin tinggal sedikit.”

“Oh.”

Dia menyerahkan.

Aku mengambil.

“Makasih.”

“Ya.”

Selesai.

Tidak ada komentar.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada:

Barusan hampir ciuman?

Tidak ada:

Gimana kencannya?

Tidak ada perubahan ekspresi.

Raka membuka pagar rumahnya.

Aku mendadak kesal.

“Rak.”

Dia menoleh.

“Apa?”

“Kamu lihat?”

Raka diam sebentar.

“Iya.”

“Terus?”

Dia mengerutkan dahi.

“Terus apa?”

Aku tidak tahu.

Aku sungguh tidak tahu.

“Enggak apa-apa.”

Aku masuk.

Pintu kututup agak keras.


Lima belas menit kemudian aku masih kesal.

Masalahnya aku tidak tahu kepada siapa.

Raka?

Tidak masuk akal.

Ardi?

Lebih tidak masuk akal.

Diriku sendiri?

Kemungkinan besar.

Aku berjalan mondar-mandir.

Ucil makan.

Tidak peduli.

“Kenapa dia biasa aja?”

Ucil mengunyah.

“Bukan berarti harus marah.”

Kunyah.

“Tapi masa nggak ada reaksi?”

Kunyah.

“Aku mantan istrinya.”

Aku berhenti.

Nah.

Itu jawabannya.

Mantan.

Raka tidak punya hak bereaksi.

Sama seperti aku tidak punya hak cemburu pada Nadine.

Selesai.

Logis.

Aku mandi.

Ganti baju.

Masih kesal.

Pukul sebelas, aku mendengar suara pintu Raka.

Lalu batuk.

Sekali.

Aku mengabaikan.

Batuk lagi.

“Jangan mulai.”

Aku membuka lemari.

Mengambil madu.

Berhenti.

Menatap botol.

“Tidak.”

Aku taruh lagi.

Duduk.

Lima menit.

Batuk.

Aku berdiri.

“Ya Allah.”

Aku mengambil madu.

Keluar rumah.

Mengetuk pintu Raka.

Dia membuka.

Rambut basah.

Baru mandi.

Kaos hitam.

“Apa?”

Aku menyodorkan madu.

“Minum.”

Raka melihat botol.

Kemudian aku.

“Aku cuma batuk.”

“Kemarin baru demam.”

“Itu minggu lalu.”

“Ya tetap.”

Dia mengambil madu.

“Makasih.”

Aku tidak pergi.

Raka menunggu.

Aku juga.

Akhirnya dia berkata, “Ada apa?”

“Enggak.”

“Mira.”

Nada itu.

Nada orang yang sudah mengenalku terlalu lama.

Aku menyilangkan tangan.

“Kamu nggak mau ngomong apa-apa?”

“Soal?”

Aku menatapnya.

Dia tahu.

Pasti tahu.

“Soal tadi.”

Raka diam.

Kemudian wajahnya berubah sedikit.

“Oh.”

“Nah.”

“Mau ngomong apa?”

Aku semakin kesal.

“Entah.”

Raka menghela napas.

“Mira.”

“Apa?”

“Itu hidupmu.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak berhak komentar.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Aku tidak punya jawaban.

Raka bersandar ke kusen.

“Mau aku bilang apa?”

Entah kenapa tenggorokanku terasa panas.

“Ya apa aja.”

“Ardi kelihatannya baik.”

Bagus.

Kata itu lagi.

Versi berbeda.

Aku tertawa pendek.

“Jangan baik-baik terus deh.”

Raka mengerutkan dahi.

“Apa?”

“Kamu selalu begitu.”

“Begitu gimana?”

“Baik.”

“Itu masalah?”

“Iya!”

Raka menatapku seperti aku baru saja kehilangan akal.

Mungkin memang.

Aku melanjutkan.

“Waktu aku bilang kencan sama Ardi, kamu bilang bagus. Waktu aku pergi lagi, kamu bilang bagus. Sekarang kamu lihat dia hampir—”

Aku berhenti.

“Hampir apa?” tanya Raka.

Aku memelototinya.

“Jangan.”

“Aku nggak tahu.”

“Kamu lihat.”

“Aku lewat.”

“Ya berarti lihat.”

Raka mengusap wajah.

“Mira, kita sudah cerai.”

“Aku tahu!”

“Terus kenapa kamu marah karena aku nggak marah?”

Aku membuka mulut.

Tidak ada suara.

Itu.

Itulah pertanyaannya.

Kenapa?

Raka menunggu.

Aku menatap lantai.

“Aku nggak tahu.”

Untuk pertama kalinya malam itu, suaraku turun.

“Aku cuma... nggak tahu.”

Hening.

Raka tidak langsung menjawab.

Aku merasa bodoh.

Sangat bodoh.

Aku berbalik.

“Malam.”

“Mira.”

Aku berhenti.

Raka bicara pelan.

“Aku nggak baik-baik aja.”

Aku menoleh.

Wajahnya tidak lagi netral.

Tidak sopan.

Tidak tenang.

Ada sesuatu yang selama ini dia simpan di belakang semua kata bagus.

“Apa?”

Raka melihat ke arah jalan.

Kemudian kembali kepadaku.

“Aku lihat.”

Aku tidak bergerak.

“Dan?”

Rahangnya mengeras sedikit.

“Aku pengin pergi ke mobil itu.”

Dadaku berdegup.

“Terus?”

“Aku pengin buka pintunya.”

“Terus?”

“Aku nggak tahu.”

Dia tertawa pendek.

Tidak lucu.

“Mungkin mukul dia.”

Mataku membesar.

“Raka.”

“Makanya aku jalan terus.”

Hening.

Aku tidak tahu apakah harus marah atau—

sesuatu yang jauh lebih buruk.

Raka melanjutkan.

“Karena dia nggak salah.”

Aku menelan ludah.

“Ya.”

“Kamu juga nggak salah.”

“Ya.”

“Dan aku nggak punya hak.”

Kalimat terakhir lebih pelan.

Aku melihat wajahnya.

Untuk pertama kalinya sejak perceraian, Raka tidak terlihat baik-baik saja.

Dan bagian paling buruk dari diriku—

merasa lega.

Aku membenci itu.

“Aku nggak jadi ciuman,” kataku.

Raka menatapku.

Aku langsung menyesal.

“Kenapa kamu kasih tahu?”

“Entah.”

Hening.

“Dia berhenti,” tambahku.

“Mir.”

“Apa?”

“Jangan jelasin kalau kamu merasa harus jelasin karena aku.”

Aku terdiam.

“Aku harus belajar lihat kamu punya hidup sendiri.”

Aku tertawa kecil.

Pahit.

“Aku juga.”

Raka mengangguk.

“Nadine?”

Aku langsung menunjuknya.

“Jangan.”

Dia hampir tersenyum.

“Dia punya pacar.”

“Aku tahu.”

“Dan payungnya sudah aku balikin.”

Aku menatapnya.

“Siapa yang nanya?”

“Kamu dari kemarin kayak punya dendam sama payung.”

Aku tidak bisa menahan.

Aku tertawa.

Raka ikut.

Ketegangan pecah sedikit.

Tapi tidak hilang.

Aku melihat botol madu di tangannya.

“Minum.”

“Ya.”

“Jangan kopi.”

“Ya.”

“Tidur.”

“Ya.”

Aku berbalik.

“Mira.”

Aku menoleh sekali lagi.

Raka berdiri di ambang pintu.

“Aku nggak akan selalu bisa bilang bagus.”

Aku diam.

“Ya.”

Aku masuk rumah.

Menutup pintu.

Bersandar di sana.

Jantungku masih terlalu cepat.

Ucil datang.

Aku mengangkatnya.

“Kita punya masalah.”

Ucil mengeong.

“Besar.”

Aku menempelkan wajah ke bulunya.

Karena selama ini aku pikir bagian paling berbahaya adalah mengetahui bahwa aku masih peduli pada Raka.

Ternyata bukan.

Yang jauh lebih berbahaya adalah mengetahui—

Raka masih peduli padaku juga.