Chapter Seven
Perempuan di Rumah Raka
POV: Mira
Aku tahu ada perempuan di rumah Raka karena suara tawanya menembus tembok.
Bukan karena aku menguping.
Penting dicatat.
Aku sedang duduk di meja makan, membuka laptop, mengedit naskah romansa orang lain yang tokohnya baru saja menyatakan cinta setelah salah paham selama dua puluh bab.
Aku bahkan sempat menulis komentar:
Mereka bisa menyelesaikan ini sejak Bab 4 kalau ngobrol.
Lalu terdengar suara perempuan tertawa dari sebelah.
Aku berhenti mengetik.
Bukan masalah.
Raka punya kehidupan.
Aku punya kehidupan.
Peraturan nomor tiga.
Dilarang ikut campur kehidupan pribadi.
Peraturan nomor lima.
Dilarang menanyakan sedang dekat dengan siapa.
Aku kembali ke layar.
Tokoh lelaki di naskah sedang berkata:
“Aku menjauh karena takut kehilanganmu.”
Aku menulis:
Kontradiktif. Perlu motivasi lebih kuat.
Terdengar suara perempuan lagi.
“Serius, Mas?”
Mas.
Aku menatap tembok.
Bukan masalah.
Banyak orang memanggil Raka Mas.
Tukang bangunan.
Kasir minimarket.
Anak magang.
Perempuan dewasa dengan suara bagus yang sedang tertawa di rumahnya Sabtu sore.
Aku kembali mengetik.
Lima detik.
Sepuluh.
Aku menghapus satu koma.
Menambahkan lagi.
Dari sebelah terdengar suara Raka.
Tidak jelas.
Perempuan itu tertawa lagi.
Aku mengambil earphone.
Memasangnya.
Tidak menyalakan musik.
Lalu sadar betapa menyedihkannya itu.
Aku langsung melepas.
“Bodoh.”
Ucil yang sedang tidur di kursi membuka mata.
“Bukan kamu.”
Dia tidur lagi.
Aku memaksa fokus.
Satu paragraf.
Dua.
Tiga.
Kemudian terdengar bunyi pintu rumah Raka dibuka.
Aku tidak melihat.
Aku tidak peduli.
Aku sama sekali tidak—
“Mbak Mira!”
Aku tersentak.
Bu Tati berdiri di depan jendela rumahku.
Jantungku hampir keluar.
“Bu!”
“Kenapa?”
“Jangan muncul dari jendela!”
“Oh.”
Bu Tati memandang ke rumah sebelah.
Kemudian kembali kepadaku.
“Itu siapa?”
Aku menutup laptop.
“Siapa?”
“Yang di rumah Mas Raka.”
Aku menatap Bu Tati.
“Mana saya tahu.”
“Temannya?”
“Mungkin.”
“Pacarnya?”
“Bu.”
“Apa?”
“Saya mantan istrinya. Bukan humas.”
Bu Tati mengangguk pelan.
“Iya juga.”
Aku membuka laptop lagi.
Dia belum pergi.
Aku melihat dari atas layar.
“Kenapa?”
“Cantik.”
Aku menutup laptop.
“Bu Tati.”
“Iya, iya. Saya pergi.”
Dia berjalan menjauh sambil masih menoleh ke rumah Raka.
Aku mengembuskan napas.
Konsentrasi sudah hilang.
Aku mengambil gelas.
Kosong.
Ke dapur.
Isi air.
Minum.
Dari jendela dapur, halaman rumah Raka terlihat sedikit.
Tidak sengaja.
Aku melihat seorang perempuan berdiri dekat teras.
Tinggi sedang.
Rambut sebahu.
Kemeja putih.
Celana hitam.
Cantik.
Bukan cantik yang berlebihan.
Cantik yang terlihat seperti tahu harus memilih furnitur apa untuk ruang tamu.
Dia sedang memegang gulungan gambar besar.
Oh.
Mungkin urusan proyek.
Aku merasa lega.
Lalu langsung kesal pada diri sendiri karena merasa lega.
“Tidak ada urusannya.”
Aku menutup tirai.
Sore menjelang malam.
Aku sudah berhasil melupakan perempuan itu selama hampir empat puluh menit ketika terdengar ketukan di pintu.
Kubuka.
Raka berdiri.
Di belakangnya, perempuan tadi.
“Mira,” katanya, “kenalin.”
Aku menatap perempuan itu.
Dia tersenyum.
“Nadine.”
Aku menjabat tangannya.
“Mira.”
“Maaf ganggu. Saya numpang parkir sedikit di depan rumah Mbak tadi.”
“Oh.”
Aku baru sadar ada mobil putih di ujung pagar.
“Enggak apa-apa.”
Nadine melihat Raka.
“Mas Raka bilang harus izin dulu karena tetangganya galak.”
Aku menoleh ke Raka.
Dia memasukkan tangan ke saku.
“Aku nggak bilang galak.”
“Bilangnya ‘lebih aman izin’.”
“Sama aja,” kataku.
Nadine tertawa.
Aku suka dia.
Itu membuat semuanya lebih buruk.
“Masuk dulu?” tanyaku, refleks.
Aku langsung menyesal.
Kenapa aku mengundang perempuan yang sedang berada di rumah mantan suamiku masuk ke rumahku?
Tapi Nadine menggeleng.
“Nggak usah, Mbak. Kami cuma mau lanjut cek lokasi.”
“Kalian kerja bareng?”
“Iya. Saya arsitek proyek yang sekarang.”
Oh.
Benar-benar urusan proyek.
Bukan masalah.
Sama sekali.
“Mas Raka sering cerita—”
Raka langsung menyela.
“Den.”
Nadine berhenti.
Aku mengangkat alis.
“Cerita apa?”
Raka terlihat seperti ingin melempar dirinya sendiri ke selokan.
Nadine tersenyum.
“Cerita kalau tetangganya mantan istrinya.”
Aku menatap Raka.
“Kamu cerita?”
“Dia nanya kenapa aku selalu makan siang di mobil.”
“Apa hubungannya?”
“Panjang.”
Nadine tertawa lagi.
“Sudah, saya duluan ya.”
Dia berjalan ke mobil.
Raka hendak menyusul.
Aku seharusnya menutup pintu.
Tapi mulutku lebih cepat.
“Rak.”
Dia menoleh.
“Jam berapa pulang?”
Hening.
Aku membeku.
Raka menatapku.
Nadine yang sudah di dekat mobil juga menoleh sedikit.
Aku ingin menghilang.
“Bukan,” kataku cepat. “Maksudku... motor kamu jangan lagi parkir depan pagar kalau pulang malam.”
“Oh.”
“Ya.”
Raka mengangguk.
“Paling jam sembilan.”
Aku mengangguk.
“Ya.”
Dia pergi.
Aku menutup pintu.
Menempelkan dahi ke permukaan kayu.
“Kenapa nanya jam pulang?”
Ucil mengeong dari sofa.
“Diam.”
Raka pulang pukul delapan lewat dua puluh.
Aku tahu bukan karena menunggu.
Aku tahu karena suara motornya khas.
Knalpotnya sedikit berat ketika langsam.
Aku sudah hafal bertahun-tahun.
Aku sedang memasak.
Tumis buncis.
Telur.
Tidak ada hubungannya dengan Raka.
Lima menit kemudian terdengar suara pintu sebelah.
Lalu dua suara.
Raka ternyata pulang bersama Nadine.
Aku berhenti mengaduk.
Kenapa dia kembali?
Mungkin mengambil sesuatu.
Mungkin urusan pekerjaan.
Tidak penting.
Aku menyalakan exhaust fan.
Dari sebelah terdengar percakapan samar.
Aku menambah api.
Minyak menyiprat.
“Ah.”
Aku mengisap jari.
Suara Nadine terdengar lebih jelas karena jendela dapur mereka terbuka.
“Mas, kopi ada?”
Raka menjawab sesuatu.
Aku tidak bisa mendengar.
Kemudian Nadine:
“Pakai gula berapa?”
Tanganku berhenti di atas wajan.
Jangan.
Jangan ikut campur.
Bukan urusanku.
Peraturan tiga.
Peraturan lima.
Aku mengaduk buncis.
Dari sebelah:
“Dua sendok?”
Mulutku bergerak sebelum otak sempat menghentikan.
“JANGAN BANYAK GULA! DIA MAAG!”
Hening.
Total.
Aku membeku.
Sendok kayu masih di tanganku.
Ucil menatap dari lantai.
Tidak ada suara dari sebelah.
Aku menutup mata.
Ya Tuhan.
Kemudian terdengar suara Nadine.
“Oh.”
Lalu Raka.
“MIRA?”
Aku tidak menjawab.
“MIRA?”
Aku mematikan kompor.
Berjongkok.
Tidak ada alasan berjongkok.
Aku hanya ingin tidak terlihat dari jendela.
Nadine tertawa.
Keras.
“Mas.”
“Jangan.”
“Lucu banget.”
“Nggak lucu.”
“Dia denger dari sana?”
“Temboknya tipis.”
Aku menutup wajah.
Kemudian Nadine berteriak:
“MAKASIH, MBAK!”
Aku memejamkan mata lebih rapat.
“SAMA-SAMA!”
Kenapa aku menjawab?
Aku benar-benar membutuhkan rumah baru.
Sepuluh menit kemudian pintuku diketuk.
Aku sudah tahu siapa.
Kubuka sedikit.
Raka berdiri.
Wajahnya netral.
Terlalu netral.
“Apa?”
Dia melihatku.
Aku melihatnya.
“Dua sendok gula?”
Aku langsung menutup pintu.
Tangannya menahan.
“Eh.”
“Pergi.”
“Aku cuma mau bilang.”
“Nggak perlu.”
“Terima kasih.”
Aku menatapnya.
Dia tersenyum.
“Humormu makin buruk.”
“Informasi medis.”
“Aku cuma nggak mau kamu sakit.”
Kalimat itu keluar.
Aku langsung berhenti.
Raka juga.
Aku mengalihkan pandangan.
“Maksudku, kalau kamu sakit terus minta tolong aku, melanggar peraturan.”
“Hmm.”
“Jangan hmm.”
“Baik.”
Aku membuka pintu lebih lebar.
“Nadine pacarmu?”
Hening.
Aku menutup mata.
Bodoh.
Peraturan lima.
Raka melihat notebook lemon yang kebetulan berada di meja dekat pintu.
Kemudian menatapku.
Aku menunjuk dia.
“Jangan.”
“Aku belum ngomong.”
“Lupakan pertanyaannya.”
“Dia bukan pacarku.”
Aku tidak menjawab.
“Teman proyek.”
“Ya.”
“Sudah punya pacar.”
“Kenapa kamu jelasin?”
“Kamu nanya.”
“Aku bilang lupakan.”
“Sudah terlanjur.”
Aku menyilangkan tangan.
“Ya sudah.”
Raka mengangguk.
“Ya.”
Dia berbalik.
Aku tidak merasa lega.
Sama sekali tidak.
“Mira.”
Aku menoleh.
Raka berdiri setengah menghadapku.
“Kamu sendiri?”
“Apa?”
“Ardi.”
Aku mengangkat alis.
Sekarang gilirannya terjebak.
“Peraturan lima.”
Raka menghela napas.
“Benar.”
Dia pergi.
Aku menutup pintu sambil tersenyum kecil.
Bagus.
Adil.
Kemudian ponselku berbunyi.
Santi.
Aku membuka pesan.
Besok free? Ardi nanya ke gue apakah boleh ngajak lo lagi.
Aku melihat tembok sebelah.
Lalu layar.
Kemudian mengetik:
Boleh.
Tiga titik muncul.
WOOO.
Aku menaruh ponsel.
Entah kenapa jawaban itu terasa sedikit seperti melempar batu ke jendela yang bahkan tidak sedang kutuju.
Dan itu membuatku kesal pada diriku sendiri.
Aku kembali ke dapur.
Tumis buncisku gosong.
Dari balik tembok terdengar suara Raka:
“BAU GOSONG!”
Aku langsung berteriak:
“URUS KOPIMU!”
Nadine tertawa dari sebelah.
Aku menutup wajah.
Setidaknya satu orang menikmati malam ini.
- 1 Perceraian yang Sangat Sopan
- 2 Rumah Sebelah
- 3 Perjanjian Tetangga
- 4 Harta Gono-Gini Paling Bodoh
- 5 Hak Asuh Ucil
- 6 Kencan Pertama Mira
- 7 Perempuan di Rumah Raka reading
- 8 Aturan Pertama Dilanggar
- 9 Warung Bu Tati
- 10 Sakit
- 11 Mantan Istri Otomatis
- 12 Foto Lama
- 13 Kondangan
- 14 Satu Payung
- 15 Jangan Baik-Baik Terus