Chapter Twelve
Foto Lama
POV: Mira
Kardus itu bukan milikku.
Aku tahu karena tulisannya jelek.
Raka selalu menulis label kardus menggunakan huruf kapital kecil-kecil yang terlalu rapi.
Tulisan di kardus ini milikku.
Besar.
Miring.
Dan kata:
DOKUMEN
diberi tiga garis bawah karena rupanya Mira tiga minggu lalu percaya garis bawah bisa mencegah barang tertukar.
Tidak berhasil.
Aku membuka kardus itu Sabtu pagi karena mencari akta lahir.
Yang kutemukan malah kabel meteran listrik lama.
Buku servis mobil.
Kartu garansi blender.
Dan amplop foto.
Aku mengerutkan dahi.
Aku tidak ingat menyimpannya.
Kubuka.
Foto pertama jatuh ke lantai.
Aku mengambil.
Aku dan Raka.
Pantai.
Foto yang bingkainya jatuh waktu pembagian barang.
Ternyata ada cetakan lain.
Foto kedua.
Pernikahan.
Bukan foto formal.
Aku sedang makan nasi kotak di ruang rias.
Raka duduk di lantai.
Aku menyuapinya ayam karena tangannya penuh bunga entah kenapa.
Kami tertawa.
Aku membalik.
Ada tulisan tangan.
Hari pertama. Jangan kapok.
Tulisan Raka.
Aku duduk di lantai.
Foto ketiga.
Kontrakan pertama.
Cat dinding hijau pucat.
Kasur tanpa ranjang.
Dua piring.
Satu kipas angin.
Aku mengenakan kaus Raka.
Dia memegang rice cooker baru seperti piala.
Foto berikutnya.
Ucil masih kecil.
Kurus.
Kotor.
Raka memegangnya dengan dua tangan dan ekspresi jijik karena Ucil baru muntah di bajunya.
Aku tertawa sendiri.
Foto berikut.
Ulang tahunku.
Liburan.
Lebaran.
Rumah pertama.
Hari mobil datang.
Raka tidur di sofa dengan Ucil di dada.
Aku tidur di meja makan saat lembur.
Puluhan foto.
Yang aneh bukan jumlahnya.
Yang aneh—
kami terlihat bahagia.
Sangat.
Aku tahu foto menipu.
Orang hanya memotret saat bahagia.
Tidak ada orang mengambil selfie ketika sedang tidak bicara tiga hari.
Tidak ada album berjudul:
Raka Pulang Jam Dua Lagi
atau:
Mira Bilang Nggak Apa-Apa Padahal Marah
Tapi tetap saja.
Aku duduk di lantai dikelilingi bukti bahwa pernikahan kami tidak selalu seperti tahun terakhirnya.
Aku hampir lupa.
Ketukan terdengar.
Aku cepat memasukkan foto ke amplop.
“Siapa?”
“Kurir salah rumah.”
Raka.
Aku membuka pintu.
Dia membawa paket.
“Ini kamu.”
Aku mengambil.
“Makasih.”
Dia melihat ke dalam.
Kardus terbuka.
Foto berserakan.
Ekspresinya berubah.
“Oh.”
Aku melihat foto.
“Ini kayaknya kardus campur.”
Raka mengangguk.
“Foto-fotonya dulu ada di lemari bawah.”
“Kenapa dibawa?”
“Entah.”
Aku memegang amplop.
Raka berdiri di pintu.
Aku seharusnya menutup.
Tapi aku bertanya, “Kamu mau lihat?”
Dia terdiam.
“Boleh?”
Aku membuka pintu.
“Masuk.”
Aturan nomor satu dilanggar lagi.
Kali ini tidak darurat.
Aku menyadarinya.
Raka mungkin juga.
Tidak ada yang menyebut.
Kami duduk di lantai.
Jarak sekitar satu meter.
Foto di tengah.
Raka mengambil satu.
“Ini Bandung.”
Aku melihat.
Aku memakai jaket merah.
“Bukan. Batu.”
“Bandung.”
“Kita ke Bandung pakai mobil putih.”
“Mobil putih belum ada waktu ini.”
Aku berhenti.
Benar.
“Oh.”
Raka tersenyum.
“Memori kamu buruk.”
“Selective.”
“Ini Batu.”
Aku menatapnya.
“Barusan kamu bilang Bandung.”
“Tes.”
Aku melempar foto kecil ke arahnya.
Dia tertawa.
Kami melihat foto lain.
“Ini ingat?” tanyaku.
Foto Raka dengan rambut sangat pendek.
Dia meringis.
“Jangan.”
“Kamu potong sendiri.”
“Karena barber tutup.”
“Kamu kelihatan kayak tahanan.”
“Katamu bagus.”
“Aku istri suportif.”
“Kamu ketawa dua hari.”
“Karena lucu.”
Kami tertawa.
Foto berikutnya membuat kami diam.
Rumah lama.
Meja makan.
Kue anniversary.
Tahun keempat.
Aku ingat.
Raka pulang membawa kue cokelat padahal aku bilang tidak perlu merayakan.
Kami makan tengah malam.
Aku memandang foto itu.
“Kita dulu sering ketawa ya.”
Raka tidak langsung menjawab.
“Iya.”
Aku menatap tumpukan.
“Kapan berhentinya?”
Hening.
Raka mengambil foto lain tapi tidak melihatnya.
“Entah.”
“Harusnya ada titik.”
“Kenapa?”
“Ya... sesuatu pasti terjadi.”
“Mungkin enggak.”
Aku memandangnya.
Raka mengusap ujung foto dengan ibu jari.
“Mungkin pelan.”
Aku terdiam.
Mungkin memang begitu.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada hari tertentu ketika cinta kami mati.
Cuma satu makan malam yang dilewatkan.
Satu percakapan yang ditunda.
Satu malam tidur membelakangi.
Kemudian lagi.
Lagi.
Sampai kami terbiasa.
“Aku pernah mikir kamu udah nggak suka pulang,” kataku.
Raka mengangkat mata.
“Kapan?”
“Tahun terakhir.”
Dia diam.
“Kamu selalu telat.”
“Kerja.”
“Aku tahu.”
“Enggak.”
Aku mengerutkan dahi.
“Apa?”
Raka meletakkan foto.
“Enggak cuma kerja.”
Aku menunggu.
Tapi dia tidak melanjutkan.
“Terus?”
Raka melihat tumpukan foto.
“Belum sekarang.”
Aku langsung kesal.
“Kenapa?”
“Panjang.”
“Ya ceritain.”
“Mir.”
“Apa?”
“Aku belum bisa.”
Aku menatapnya.
Dulu jawaban seperti ini akan membuatku berkata:
Ya udah.
Lalu menyimpan marah.
Hari ini aku mencoba sesuatu yang berbeda.
“Aku kecewa kamu berhenti.”
Raka membeku.
Aku sendiri sedikit terkejut mendengar kalimat itu.
Aku melanjutkan.
“Aku pengin tahu. Tapi kalau kamu belum mau cerita, ya... aku kecewa.”
Raka menatapku cukup lama.
Tidak defensif.
Tidak bilang aku berlebihan.
Hanya mengangguk.
“Fair.”
Aku mengembuskan napas.
Aneh.
Ternyata mengatakan apa yang sebenarnya kurasakan tidak membuat langit runtuh.
Tidak ada pertengkaran.
Raka bahkan masih duduk di tempat yang sama.
Dia mengambil foto lain.
“Kamu masih simpan ini?”
Foto photobox.
Empat pose.
Aku mencium pipinya.
Dia pura-pura kaget.
Kami menjulurkan lidah.
Pose terakhir hanya tertawa.
“Aku nggak tahu itu ada.”
Raka mengangguk.
Kami melihatnya bersama.
Bahu kami hampir bersentuhan.
Tidak.
Jarak masih beberapa sentimeter.
Aku sadar.
Raka mungkin juga.
Kami tidak bergerak.
Dua jam kemudian foto-foto sudah dibagi.
Bukan berdasarkan milik siapa.
Kami membuat dua tumpukan acak.
“Ini kamu ambil,” kataku.
“Kenapa?”
“Kamu ada di situ.”
“Kamu juga.”
“Ya sudah kamu.”
“Logika apa?”
“Aku capek.”
Raka mengambilnya.
Ada satu foto tersisa.
Foto pernikahan.
Kami berdiri di depan pelaminan.
Bukan foto bagus.
Aku sedang menoleh ke Raka.
Raka tidak melihat kamera.
Dia melihatku.
Aku mengambil.
“Kamu mau?”
Raka menatap foto itu lama.
“Scan aja.”
Aku tertawa kecil.
“Diplomatis.”
“Bisa punya dua.”
“Ya.”
Aku menaruh foto di meja.
Nanti discan.
Raka berdiri.
“Aku pulang.”
Aku mengangguk.
Dia berjalan ke pintu.
“Rak.”
Dia menoleh.
Aku memegang satu foto kecil.
Foto kontrakan pertama.
Rice cooker.
Kasur lantai.
Kipas murahan.
Dua orang yang tidak punya banyak hal tapi terlihat sangat senang.
“Kamu pernah nyesel?”
Raka tidak menjawab cepat.
Aku mulai berharap tidak bertanya.
Kemudian dia berkata, “Nikah sama kamu?”
Aku mengangguk.
“Enggak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Terlalu sederhana.
Dadaku sesak sedikit.
“Cerainya?”
Raka diam.
Lama.
“Aku belum tahu.”
Aku menatapnya.
Dia membuka pintu.
“Kalau kamu?”
Aku melihat foto di tanganku.
Aku juga belum tahu.
Tapi aku tidak ingin berbohong.
“Belum tahu.”
Raka mengangguk.
“Ya.”
Dia pulang.
Aku duduk lagi.
Foto-foto masih berserakan.
Pernikahan kami tidak gagal karena tidak pernah bahagia.
Justru sebaliknya.
Kami pernah sangat bahagia.
Dan mungkin itulah bagian yang paling menyakitkan.
Karena sesuatu yang pernah begitu hidup bisa berubah menjadi begitu sunyi tanpa ada satu pun dari kami yang sadar kapan kehilangannya.
- 1 Perceraian yang Sangat Sopan
- 2 Rumah Sebelah
- 3 Perjanjian Tetangga
- 4 Harta Gono-Gini Paling Bodoh
- 5 Hak Asuh Ucil
- 6 Kencan Pertama Mira
- 7 Perempuan di Rumah Raka
- 8 Aturan Pertama Dilanggar
- 9 Warung Bu Tati
- 10 Sakit
- 11 Mantan Istri Otomatis
- 12 Foto Lama reading
- 13 Kondangan
- 14 Satu Payung
- 15 Jangan Baik-Baik Terus