Chapter Two
Rumah Sebelah
POV: Mira
Tiga minggu setelah resmi bercerai, aku menemukan dua fakta penting tentang memulai hidup baru.
Pertama, pindahan sendirian adalah bentuk hukuman yang seharusnya diatur dalam KUHP.
Kedua, orang yang bilang “barangku sedikit, kok” adalah pembohong.
Termasuk aku.
“Pelan! Pelan! PELAN!”
Dua orang tukang angkut menurunkan kulkas dari bak mobil sambil memandangiku seperti sedang mempertimbangkan untuk melempar kulkas itu sekalian kepadaku.
“Bu, ini udah pelan.”
“Yang kiri miring!”
“Memang pintunya miring, Bu.”
Aku menatap pintu rumah kontrakan baruku.
Dia benar.
Pintu depannya sedikit miring.
Aku menatap tukang itu lagi.
“Ya udah, pokoknya jangan lecet.”
“Siap.”
Aku mundur sambil mengibas wajah dengan kardus bekas rice cooker.
Jam baru menunjukkan setengah sepuluh pagi dan matahari sudah seperti punya masalah pribadi denganku.
Rumah baruku berada di kompleks kecil yang lebih mirip kumpulan kontrakan daripada perumahan.
Sepuluh rumah berjajar berhadapan.
Ada pohon mangga di ujung gang.
Ada warung kecil dekat gerbang.
Ada anak-anak yang sejak tadi mengamati proses pindahanku dengan antusiasme seperti sedang menonton konser.
Dan ada Bu Tati.
Pemilik kontrakan.
Perempuan lima puluhan dengan daster bunga, rambut digelung, serta kemampuan muncul dari mana saja.
“Mbak Mira!”
Aku menoleh.
Bu Tati berjalan cepat sambil membawa dua botol air mineral dingin.
“Minum dulu. Panas banget.”
“Oh, makasih, Bu.”
“Nanti kalau haus jangan sungkan. Air galon depan masih penuh.”
“Iya.”
“Kalau gas habis, depan ada warung.”
“Iya.”
“Kalau listrik jeglek, MCB-nya di luar.”
“Iya.”
“Kalau ada tikus—”
Aku berhenti membuka botol.
“Ada tikus?”
“Nggak ada.”
Aku menatapnya.
“Biasanya.”
“Bu.”
“Ya siapa tahu.”
Aku menutup mata sebentar.
Santi seharusnya datang membantu.
Tapi pagi tadi dia mengirim pesan bahwa anaknya demam dan dia tidak bisa meninggalkan rumah.
Jadi di sinilah aku.
Perempuan tiga puluh dua tahun.
Baru bercerai.
Punya rumah kontrakan.
Punya kulkas.
Punya dua puluh tiga kardus.
Tidak punya tenaga.
Tapi katanya hidup baru dimulai ketika kita berani melangkah keluar dari zona nyaman.
Orang yang menciptakan kalimat itu jelas tidak pernah memindahkan mesin cuci.
“Bu, yang kasur masuk kamar belakang ya,” kataku.
“Siap, Bu.”
Aku meringis.
Dipanggil Bu oleh tukang yang kelihatannya cuma lima tahun lebih muda dariku menyakitkan dengan cara yang tidak masuk akal.
Aku masuk ke rumah.
Kecil.
Dua kamar.
Ruang tengah menyatu dengan dapur mini.
Jendela depan cukup besar.
Catnya putih tulang.
Tidak bagus.
Tapi juga tidak buruk.
Yang paling penting: rumah ini milikku.
Yah, sewaanku.
Tapi tetap.
Tidak ada rak sepatu Raka.
Tidak ada helm Raka di meja makan karena lelaki itu selalu lupa bahwa meja makan bukan garasi.
Tidak ada mug hitam bertuliskan SITE MANAGER yang entah kenapa tetap dipakai meski gagangnya sudah retak.
Tidak ada suara alarm pukul enam yang berbunyi tujuh kali.
Tidak ada handuk basah di sandaran kursi.
Aku bisa menata semuanya sesuai keinginanku.
Aku seharusnya senang.
Aku memang senang.
Kurasa.
“Bu!”
Aku tersentak.
Tukang itu berdiri di pintu.
“Kulkasnya nggak muat.”
“Apa?”
“Pintunya.”
Aku berjalan mendekat.
Benar.
Kulkas dua pintuku tersangkut.
Aku memegang pinggang.
“Dimiringin.”
“Udah.”
“Putar.”
“Udah.”
“Pintunya dicopot?”
“Pintu rumah?”
“Pintu kulkas.”
Kedua tukang saling pandang.
Aku tahu tatapan itu.
Tatapan dua laki-laki yang sedang menilai apakah seorang perempuan memahami apa yang baru saja dia katakan.
“Apa?” tanyaku.
“Bisa sih, Bu.”
“Ya dicopot.”
“Obengnya nggak ada.”
Aku menghela napas.
“Pakai punyaku.”
Aku membuka salah satu kardus.
Kardus peralatan.
Atau seharusnya kardus peralatan.
Aku menemukan kabel roll.
Lampu.
Palu kecil.
Isolasi.
Tang.
Meteran.
Tapi tidak ada obeng plus.
Aku mengacak isinya lagi.
“Mana, sih?”
Dulu ada.
Satu set.
Hitam-merah.
Raka yang beli.
Ah.
Raka.
Mungkin terbawa dia.
Aku menutup kardus agak terlalu keras.
“Sebentar. Saya cari pinjaman.”
Aku keluar.
Bu Tati langsung muncul lagi.
“Kenapa?”
“Punya obeng plus?”
“Waduh, nggak tahu. Coba tetangga sebelah.”
Aku melihat rumah di kananku.
Pintunya tertutup.
Ada motor hitam di depan.
Helm tergantung di setang.
Aku menatap helm itu.
Ada sesuatu yang familiar.
Tidak.
Tidak mungkin.
Aku maju dua langkah.
Motor itu juga familiar.
Sangat familiar.
Ada goresan sepanjang tiga sentimeter di bodi kiri.
Goresan yang kubuat sendiri tiga tahun lalu saat mencoba mengeluarkan motor dari garasi dan menyenggol pot bunga.
Aku berhenti.
Tidak.
Aku pasti salah lihat.
Indonesia punya jutaan motor hitam.
Sebagian besar pasti punya goresan.
Helm hitam juga bukan barang langka.
Aku berdiri tepat di depan pagar.
Nomor rumah 9B.
Rumahku 9A.
Aku menelan ludah.
Kemudian pintu rumah terbuka.
Raka keluar.
Dia mengenakan celana pendek abu-abu, kaus hitam, sandal jepit, dan membawa gayung warna hijau.
Gayung.
Dari semua benda yang bisa dipegang seorang lelaki ketika muncul secara dramatis di kehidupan mantan istrinya, Raka memilih gayung.
Kami saling menatap.
Raka berhenti tepat di ambang pintu.
Aku memegang kardus bekas rice cooker.
Di belakangku, tukang pindahan sedang mencoba menjaga kulkas tetap berdiri.
Di samping kami, Bu Tati tersenyum.
Lima detik berlalu.
Raka berkedip.
Aku berkedip.
Kemudian secara bersamaan kami berkata,
“Ngapain kamu di sini?”
Hening.
Aku menunjuk rumahnya.
“Ngapain kamu di situ?”
Raka menunjuk dirinya sendiri.
“Aku tinggal di sini.”
Aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena tubuh manusia ternyata punya mekanisme aneh ketika otaknya menolak kenyataan.
“Enggak.”
Raka mengerutkan dahi.
“Enggak gimana?”
“Kamu nggak tinggal di situ.”
“Aku pindah minggu lalu.”
“Nggak.”
“Mira.”
“Jangan panggil aku seolah aku yang aneh.”
Bu Tati melihat kami bergantian.
“Lho, kalian kenal?”
Aku dan Raka menoleh kepadanya.
“Kenal,” jawab kami bersamaan.
Bu Tati tersenyum lebih lebar.
“Wah, bagus dong!”
“Enggak,” kataku.
“Bagus apanya?” kata Raka.
Kami saling pandang.
Aku menunjuk dia.
“Jangan ikut-ikutan.”
“Aku cuma jawab.”
“Kenapa kamu kontrak di sini?”
“Karena dekat proyek.”
“Dari semua rumah di kota ini?”
“Yang ini murah.”
“Itu alasanmu?”
“Alasanmu apa?”
“Dekat kantor.”
“Nah.”
“Nah apa?”
“Alasan kita sama.”
“Tidak sama!”
“Secara konsep sama.”
Aku menatap gayung di tangannya.
“Kenapa kamu bawa gayung?”
Raka melihat gayungnya sendiri seolah baru sadar benda itu ada.
“Nyiram kamar mandi.”
“Pakai gayung?”
“Ya pakai apa?”
“Selang?”
“Selangnya bocor.”
“Kenapa nggak diperbaiki?”
“Aku baru seminggu.”
“Kamu kan—”
Aku menutup mulut.
Aku hampir mengatakan kamu kan bisa memperbaiki apa aja.
Tidak jadi.
Raka menangkapnya.
Aku tahu dari perubahan kecil di matanya.
Untungnya tukang pindahan menyelamatkanku.
“Bu! Kulkasnya!”
Aku menoleh.
“Oh iya.”
Kemudian teringat alasan aku keluar.
Aku memandang Raka lagi.
Dia menunggu.
Sial.
“Punya obeng plus?”
Alisnya naik.
Aku langsung kesal.
“Jangan.”
“Aku nggak bilang apa-apa.”
“Mukamu bilang sesuatu.”
“Memang punya.”
“Pinjam.”
“Bukannya waktu pembagian barang kamu bilang semua alat kecil ikut aku?”
“Aku salah.”
“Jarang.”
“Raka.”
“Iya.”
Dia masuk rumah.
Aku berdiri sambil menatap pintunya.
Bu Tati mendekat.
“Mantan pacar?”
Aku menoleh.
“Bukan.”
“Oh.”
“Mantan suami.”
Bu Tati membuka mulut.
Aku bisa melihat proses informasi itu masuk ke otaknya.
“Mantan…”
“Iya.”
“Suami?”
“Iya.”
Dia menatap rumah 9B.
Kemudian rumah 9A.
Kemudian aku.
Kemudian 9B lagi.
“Wah.”
Aku menutup mata.
“Tolong jangan bilang bagus.”
“Bukan.”
“Syukurlah.”
“Praktis.”
Aku membuka mata.
“Apanya yang praktis?”
Bu Tati tersenyum polos.
“Kalau rujuk nggak perlu sewa mobil pindahan.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
Raka muncul kembali membawa kotak perkakas.
“Ada apa?”
“Tidak ada,” jawabku cepat.
Bu Tati tertawa kecil lalu pergi.
Raka menyerahkan obeng.
Aku mengambilnya.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Kami diam.
Lagi-lagi sopan.
Aku membenci sopan.
Aku berbalik.
“Mira.”
Aku menoleh.
Raka menunjuk kulkasku.
“Itu pintunya nggak perlu dicopot.”
Aku menyipitkan mata.
“Kata tukangnya perlu.”
“Enggak. Pegang atas, miring tiga puluh derajat, putar sisi kiri dulu.”
Aku menatapnya.
Dia menghela napas.
“Aku bantu.”
“Nggak perlu.”
“Kulkasmu setinggi aku.”
“Aku punya tukang.”
Dari belakang terdengar suara salah satu tukang.
“Kalau Masnya ngerti, boleh bantu, Mas.”
Pengkhianat.
Lima menit kemudian Raka memegang sisi kanan kulkas.
Aku berdiri dengan tangan bersilang.
“Sedikit kiri,” katanya.
“Ini udah kiri, Mas,” kata tukang.
“Kirinya saya.”
“Oh.”
“Putar.”
Kulkas masuk.
Tanpa melepas pintu.
Aku menatap obeng yang masih kupegang.
Raka menatapku.
Aku meletakkan obeng ke dalam kotaknya.
“Jangan ngomong.”
“Aku nggak—”
“Termasuk nggak ngomong kalau kamu mau bilang tuh kan.”
Raka menutup mulut.
Aku masuk rumah.
Pukul satu siang, semua barang sudah berada di dalam.
Tidak tertata.
Tapi berada di dalam.
Itu kemenangan.
Aku duduk di lantai ruang tengah sambil makan roti.
Ucil belum kubawa.
Dia masih tinggal sementara dengan Santi karena aku tidak mau kucing oren enam kilo itu kabur di tengah proses pindahan.
Besok baru kujemput.
Aku membuka kardus bertuliskan DAPUR.
Isinya seprai.
Aku memandang tulisan itu cukup lama.
Siapa yang memberi label?
Aku sendiri.
Aku benar-benar butuh tidur.
Dari rumah sebelah terdengar bunyi bor.
Aku berhenti mengunyah.
Brrrrrrt.
Diam.
Brrrrrrrrt.
Aku menatap tembok.
Ternyata tipis.
Sangat tipis.
Aku bisa mendengar Raka batuk.
Batuk pendek dua kali.
Aku membeku.
Aneh.
Selama delapan tahun aku mendengar suara itu dari kamar mandi, ruang kerja, dapur, mobil.
Sekarang datang dari balik tembok rumah orang lain.
Aku berdiri.
Tidak.
Aku tidak akan memikirkan itu.
Aku membuka kardus lain.
PAKAIAN.
Isinya benar pakaian.
Kemajuan.
Ponselku berbunyi.
Santi.
GIMANA RUMAH BARU?
Aku mengetik:
Lumayan.
Tiga detik.
FOTO.
Aku memotret ruang tengah berantakan.
Kirim.
Santi membalas emoji menangis.
Kemudian:
TETANGGA GIMANA?
Aku menatap tembok.
Bunyi bor berhenti.
Aku mengetik:
Kenal.
SIAPA?
Aku:
Raka.
Tidak ada balasan selama sepuluh detik.
Kemudian teleponku berdering.
Aku menolak panggilan.
Dia menelepon lagi.
Kutolak.
Pesan masuk.
MIRA ANINDYANI LU BERCANDA?
Aku:
Aku juga berharap.
MANTAN SUAMI LU TINGGAL SEBELAH RUMAH???
Ya.
PINDAH.
Aku melihat sekeliling.
Dua puluh tiga kardus.
Kulkas yang baru saja hampir dicopot pintunya.
Kasur.
Mesin cuci.
Tidak.
Nggak mau.
Balasannya datang cepat.
KENAPA?
Aku mengetik:
Deposit hangus.
Tiga titik muncul lama sekali.
Kalian cerai karena komunikasi dan sekarang Tuhan kasih kalian tembok tipis?
Aku menatap kalimat itu.
Kemudian kukunci layar.
Tidak lucu.
Sedikit lucu.
Tapi tidak lucu.
Aku berdiri dan membuka jendela.
Udara panas masuk.
Rumah Raka terlihat dari sudut ini.
Tirai depannya belum dipasang.
Ruangannya masih penuh kardus juga.
Ada satu kardus bertuliskan BUKU.
Satu lagi ALAT.
Satu kardus kecil di atasnya bertuliskan MISC.
Aku tahu tulisan tangan itu.
Tulisan Raka selalu terlalu rapi untuk orang yang tanda tangannya seperti cacing kesetrum.
Dia lewat sebentar di dalam rumah.
Berhenti.
Melihat ke arah jendelaku.
Aku refleks mundur.
Bodoh.
Aku bukan maling.
Aku membuka jendela lebih lebar seolah memang itu tujuanku.
Beberapa detik kemudian terdengar ketukan.
Aku menatap pintu.
Tidak mungkin.
Ketukan lagi.
Kubuka.
Raka berdiri membawa botol air mineral.
“Apa?”
“Bu Tati bilang tadi kamu belum pasang galon.”
“Ada air.”
“Kamu punya dispenser?”
Aku menoleh ke dalam.
Dispenser masih di kardus.
“Belum.”
Dia menyerahkan botol itu.
Aku tidak mengambil.
“Aku punya.”
“Ya sudah.”
Dia hendak berbalik.
Aku melihat botol dingin itu.
Tenggorokanku kering.
“Rak.”
Dia berhenti.
Aku mengambil botol.
“Makasih.”
“Sama-sama.”
Sopan lagi.
Aku ingin melempar botol ke tembok.
Raka kembali ke rumahnya.
Aku menutup pintu.
Kemudian menyandarkan punggung di sana.
Ponselku bergetar.
Santi:
Gue serius, Mir. Ini bisa jadi buruk.
Aku menatap pintu rumah sebelah melalui jendela.
Mungkin dia benar.
Setelah tiga minggu berusaha membiasakan diri dengan kenyataan bahwa Raka bukan lagi bagian dari hidupku, sekarang lelaki itu tinggal hanya beberapa meter dariku.
Lebih dekat daripada saat kami masih menikah dan dia bekerja sampai tengah malam.
Lebih dekat daripada meja kerjaku dengan kamar tidur lama kami.
Lebih dekat daripada seharusnya.
Aku mengetik balasan:
Tenang. Kita udah dewasa.
Lalu dari balik tembok terdengar suara Raka:
“ADUH!”
Aku refleks berdiri.
“RAKA?”
Hening.
Kemudian suara dari sebelah:
“APA?”
“KAMU KENAPA?”
“KEJEPIT LACI!”
“KASIH ES!”
Hening lagi.
Beberapa detik.
“OKE!”
Aku memejamkan mata.
Kemudian melihat pesan yang baru saja kukirim ke Santi.
Kita udah dewasa.
Kuhapus percakapan dari layar.
Aku punya firasat hidup baruku akan jauh lebih berisik daripada yang kurencanakan.
- 1 Perceraian yang Sangat Sopan
- 2 Rumah Sebelah reading
- 3 Perjanjian Tetangga
- 4 Harta Gono-Gini Paling Bodoh
- 5 Hak Asuh Ucil
- 6 Kencan Pertama Mira
- 7 Perempuan di Rumah Raka
- 8 Aturan Pertama Dilanggar
- 9 Warung Bu Tati
- 10 Sakit
- 11 Mantan Istri Otomatis
- 12 Foto Lama
- 13 Kondangan
- 14 Satu Payung
- 15 Jangan Baik-Baik Terus