Chapter Eleven

Mantan Istri Otomatis

POV: Mira

Aku menelepon Raka karena panik.

Itu alasan resminya.

Alasan tidak resminya—

nomornya masih berada di urutan pertama dalam kepala ketika sesuatu buruk terjadi.

Hari itu kantor kacau.

Satu penulis besar mengancam menarik novelnya.

Desainer cover salah kirim versi.

Server penerbitan lambat.

Bosku tiba-tiba ingin mengubah jadwal rilis tiga proyek dalam satu sore.

Dan tepat pukul lima lewat dua puluh, sebuah file final yang sudah dikerjakan dua minggu hilang karena sinkronisasi cloud bermasalah.

Aku menatap layar laptop.

Kosong.

Foldernya tidak ada.

Aku klik lagi.

Tidak ada.

Refresh.

Tidak ada.

“Enggak.”

Klik.

“Enggak, enggak, enggak…”

Aku membuka recycle bin.

Kosong.

Drive lain.

Tidak ada.

Jantungku mulai cepat.

Aku menelepon IT kantor.

Tidak diangkat.

Chat.

Centang satu.

Aku bangkit.

Duduk lagi.

Tanganku otomatis membuka daftar kontak.

Menekan nomor.

Nada sambung.

Sekali.

Dua.

“Halo?”

Suara Raka.

Aku langsung bicara.

“File proyekku hilang.”

Hening dua detik.

“Apa?”

“Folder final. Dua minggu kerja. Hilang.”

“Kamu backup?”

“Ada cloud.”

“Lokal?”

“Harusnya ada.”

“Laptop?”

“Iya.”

“Jangan utak-atik dulu.”

“Aku udah utak-atik.”

“Mira.”

“Aku panik!”

“Ya udah, jangan tambah panik.”

“Gimana nggak panik?”

“Tarik napas.”

“Aku nggak butuh meditasi.”

“Aku juga nggak suruh meditasi.”

“Aku harus kirim malam ini.”

“TeamViewer ada?”

Aku berhenti.

“Ada.”

“Kirim ID.”

Aku menurut.

Sepuluh menit kemudian Raka sudah mengendalikan laptopku dari jarak jauh.

Aku duduk menatap cursor bergerak sendiri.

“Apa kamu lihat?”

“Bentar.”

“Ketemu?”

“Belum.”

“Rak.”

“Bentar.”

“Aku benci kata bentar.”

“Aku tahu.”

Klik.

Folder.

Setting.

Recovery.

Aku menggigit kuku.

“Jangan gigit kuku,” katanya dari telepon.

Aku langsung berhenti.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Kamu selalu begitu kalau panik.”

Aku menatap tanganku.

“Jangan perhatiin.”

“Sulit. Kameramu nyala.”

Aku menatap layar.

Video meeting kantor ternyata masih terbuka kecil di sudut.

Aku langsung mematikannya.

Raka tertawa.

“Nyebelin.”

“Fokus.”

Lima belas menit.

Aku mulai benar-benar takut file tidak bisa dikembalikan.

Kemudian cursor berhenti.

Sebuah folder muncul.

RECOVERED FILES.

Aku berdiri.

“Itu?”

“Cek.”

Aku klik.

File ada.

Semua.

Aku hampir menangis.

“YA ALLAH.”

“Ketemu?”

“Ketemu.”

“Nah.”

Aku menutup wajah.

“Gila.”

“Backup lokal setelah ini.”

“Iya.”

“Dan jangan simpan cuma di folder sync.”

“Iya.”

“Bikin dua copy.”

“Iya.”

“Dengar nggak?”

“IYA.”

Raka tertawa.

Aku ikut.

Adrenalinku turun.

Aku bersandar di kursi.

“Gue kira beneran hilang.”

“Kamu barusan ngomong gue?”

Aku berhenti.

“Refleks.”

“Dulu kalau panik memang suka balik Jakarta.”

“Diam.”

Aku tertawa lagi.

Kemudian mulai bercerita.

Tentang penulis.

Tentang bos.

Tentang cover salah.

Tentang server.

Tentang semua hal yang terjadi sejak pagi.

Raka mendengarkan.

Kadang hanya “hm”.

Kadang “terus?”

Kadang komentar pendek.

Aku terus bicara.

Sampai tiba-tiba melihat jam di layar.

17:53.

Aku berhenti.

Raka juga diam.

“Kenapa?”

Aku menatap durasi telepon.

Tiga puluh tiga menit.

“Kenapa aku nelepon kamu?”

Hening.

Raka tidak langsung menjawab.

“Aku nggak tahu,” katanya akhirnya.

Aku memegang ponsel.

“Oh.”

“Mir.”

“Hm?”

“Tapi lanjutin dulu.”

Aku membeku.

“Apanya?”

“Tadi bosmu ngomong apa habis file hilang?”

Aku menatap layar.

Sesuatu dalam dadaku bergerak kecil.

“Dia belum tahu.”

“Bagus.”

“Nah, bagus lagi.”

Raka tertawa.

Aku tersenyum.

Lalu melanjutkan.


Aku baru sadar setelah telepon ditutup satu jam kemudian bahwa aku sudah melakukan sesuatu yang selama bertahun-tahun jarang kulakukan saat masih menikah.

Bercerita.

Bukan laporan.

Bukan:

Besok bayar listrik.

Bukan:

Ibumu telepon.

Bukan:

Ucil belum vaksin.

Bukan:

Pulang jam berapa?

Tapi cerita.

Hal kecil.

Hal bodoh.

Perasaan kesal.

Ketakutan.

Aku pernah melakukan itu dulu.

Di awal pernikahan.

Aku bisa menelepon Raka hanya untuk bilang aku melihat orang jatuh dari motor tapi langsung berdiri seperti tidak terjadi apa-apa.

Dia akan mendengarkan.

Entah kapan aku berhenti.

Atau entah kapan dia berhenti punya waktu.

Aku menatap ponsel.

Chat terakhir:

Raka: Backup sekarang.

Aku:

Iya.

Raka:

Screenshot kalau udah.

Aku tertawa kecil.

Masih menyuruh.

Aku melakukan backup.

Screenshot.

Kirim.

Dia membalas:

Pinter.

Aku mengerutkan dahi.

Jangan sok guru.

Pinter banget.

Blok.

Dia kirim stiker Ucil pakai kacamata.

Aku tidak tahu dari mana dia punya stiker itu.


Malamnya aku pergi membeli makan.

Saat keluar, Raka baru pulang.

Kami bertemu di depan pagar.

“File aman?” tanyanya.

“Aman.”

“Backup?”

“Sudah.”

“Dua tempat?”

“Iya, Pak.”

“Bagus.”

Aku menatapnya.

“Kamu seneng banget ngomong bagus.”

“Efisien.”

Kami berjalan ke warung.

Tidak janjian.

Lagi.

Aku memesan nasi goreng.

Raka soto.

Bu Tati melihat kami dan tersenyum mencurigakan.

Aku pura-pura tidak lihat.

Saat makanan datang, aku berkata, “Tadi makasih.”

Raka mengangguk.

“Ya.”

“Serius.”

“Sudah.”

Aku mengaduk nasi.

“Dulu kalau aku panik kerjaan, aku jarang cerita ya?”

Raka berhenti makan.

“Mungkin.”

“Kenapa?”

Dia mengangkat bahu.

“Kamu biasanya bilang bisa urus.”

Aku berpikir.

Benar.

Aku sering bilang itu.

Bisa kok.

Udah, nggak usah.

Aku handle sendiri.

Aku merasa sedang mandiri.

Mungkin sebenarnya aku sedang menutup pintu.

“Kamu juga nggak maksa,” kataku.

Raka mengangguk.

“Aku pikir kamu memang nggak mau cerita.”

“Padahal mungkin mau.”

“Ya.”

Aku menatapnya.

“Kenapa dulu kita ribet banget?”

Raka tertawa kecil tanpa humor.

“Enggak tahu.”

“Sekarang gampang.”

“Iya.”

“Kita tinggal sebelah.”

“Iya.”

“Kita udah cerai.”

“Iya.”

“Terus sekarang malah ngobrol.”

Raka menatap mangkuk.

“Lucu.”

“Enggak lucu.”

“Sedikit.”

Aku mendengus.

Bu Tati lewat.

“Kalian bahas apa?”

“Tidak ada, Bu,” jawab kami bersamaan.

Bu Tati tersenyum.

“Serasi.”

Aku hampir tersedak.

Raka meminum air.

“Bu.”

“Saya cuma bilang jawabnya sama.”

Bu Tati pergi.

Aku mengusap wajah.

“Dia bahaya.”

“Lumayan.”

“Stop bilang lumayan.”

Raka tersenyum.


Malam itu setelah pulang, aku mendapat chat dari Ardi.

Besok makan siang?

Aku melihat pesan itu.

Lalu melihat chat Raka di atasnya.

Dua percakapan.

Dua pria.

Dua jenis rasa aman yang berbeda.

Ardi adalah orang yang baru.

Tidak punya sejarah.

Tidak punya luka bersamaku.

Raka—

Raka tahu bagaimana aku panik.

Tahu file apa yang hilang sebelum aku selesai menjelaskan.

Tahu aku menggigit kuku.

Tahu kapan harus menyuruhku berhenti.

Aku membalas Ardi:

Boleh.

Kemudian menaruh ponsel.

Aku tidak sedang memilih.

Belum.

Tidak perlu.

Tapi untuk pertama kalinya aku mulai menyadari satu hal yang lebih berbahaya daripada tinggal bersebelahan dengan mantan suami.

Aku mulai menikmati bicara dengannya lagi.