Chapter Fourteen

Satu Payung

POV: Mira

Hujan selalu punya masalah pribadi denganku.

Aku sampai pada kesimpulan itu hari Kamis ketika hujan turun tepat pukul lima sore, lima menit sebelum aku keluar kantor.

Deras.

Bukan hujan romantis.

Bukan gerimis yang cocok untuk adegan film.

Hujan Jakarta yang membuat jalan berubah jadi sungai kecil dan pengemudi motor berhenti di bawah jembatan.

Aku berdiri di lobi.

Tidak bawa payung.

Mobilku sedang servis.

Transportasi online naik tiga kali lipat.

Bagus.

Ponsel berbunyi.

Raka.

Pulang jam berapa?

Aku menatap pesan.

Peraturan lima tidak relevan.

Peraturan lain?

Entah.

Sekarang. Kenapa?

Aku dekat kantormu.

Terus?

Hujan.

Aku melihat ke luar.

Aku tahu. Aku punya mata.

Mau bareng?

Aku berhenti.

Seharusnya bilang tidak.

Aku bisa pesan mobil.

Tunggu hujan reda.

Tidur di kantor.

Pindah negara.

Banyak opsi.

Tapi tarif transportasi online masih mengerikan.

Berapa menit?

10.

Fine.


Raka datang dua belas menit kemudian.

Mobilnya berhenti di seberang gedung.

Masalahnya—

tidak ada akses tertutup dari lobi ke tempat dia parkir.

Jarak sekitar tiga puluh meter.

Hujan deras.

Aku menelepon.

“Kamu nggak bisa maju?”

“Satpam nggak kasih.”

“Terus?”

“Aku jemput.”

“Apa?”

Telepon mati.

Dua menit kemudian Raka muncul berlari kecil membawa payung hitam.

Kemejanya basah di bagian bahu.

Dia masuk lobi.

Aku menatapnya.

“Kamu ngapain?”

“Jemput.”

“Aku bisa lari.”

“Terus basah.”

“Kamu sekarang basah.”

“Separuh.”

Aku melihat payung.

Kecil.

“Ini payung satu orang.”

“Dua orang kalau kurus.”

Aku menatap tubuhnya.

“Berarti aku sendiri.”

Raka mendengus.

“Ayo.”

Kami masuk di bawah payung.


Benar.

Payung itu terlalu kecil.

Bahu kiriku kena hujan.

Bahu kanan Raka juga.

“Ke kanan dikit,” kataku.

“Kalau ke kanan kamu basah.”

“Aku udah basah.”

“Makanya.”

“Kamu juga.”

“Enggak apa.”

“Jangan sok.”

“Aku cuma pegang payung.”

Kami berjalan.

Jarak terlalu dekat.

Lenganku menempel ke lengannya.

Bahu bersentuhan.

Aroma sabun Raka bercampur bau hujan.

Aku mengenalnya.

Tentu saja aku mengenalnya.

Sabun yang sama bertahun-tahun.

Kenapa dia belum ganti?

Aku melangkah menjauh sedikit.

Air langsung mengenai kepala.

Raka menarik gagang payung ke arahku.

“Dekat sini.”

“Aku bisa.”

“Mira.”

“Apa?”

“Kamu basah.”

“Ya memang hujan.”

Raka menghela napas.

Kemudian tangannya bergerak.

Bukan memegang pinggang.

Bukan menggandeng.

Dia menarik sedikit ujung lengan bajuku supaya aku kembali ke bawah payung.

Gerakan kecil.

Sangat kecil.

Tapi tubuhku mengingat hal-hal bodoh.

Cara Raka dulu selalu menarikku menjauh dari sisi jalan.

Cara tangannya berada di punggungku ketika melewati tempat ramai.

Cara dia menaruh telapak di atas kepalaku ketika aku masuk mobil saat hujan.

Aku kembali mendekat.

Tidak bicara sampai mobil.

Raka membuka pintu untukku.

Aku masuk.

Dia berlari ke sisi pengemudi.

Begitu masuk, rambutnya basah.

Aku melihat bahu kanan kemejanya.

Basah seluruhnya.

Sisi kiriku hampir kering.

Aku menatap payung.

Lalu dia.

“Kamu sengaja miringin ke aku?”

Raka menyalakan mesin.

“Enggak.”

“Bohong.”

“Udah kebiasaan.”

Aku diam.

Lagi.

Kebiasaan.

Musuh terbesar kami.


Macet.

Tentu saja.

Kami sudah tiga puluh menit di jalan dan baru bergerak empat kilometer.

Aku membuka ponsel.

Ada pesan Ardi.

Masih di kantor? Hujan parah.

Aku membalas:

Udah jalan pulang.

Naik apa?

Jempolku berhenti.

Aku bisa jawab:

Dijemput mantan suami.

Kalimat yang sangat normal.

Sangat tidak aneh.

Aku mengetik:

Nebeng.

Kirim.

Raka melihat jalan.

Tidak bertanya.

Bagus.

Kemudian ponselnya berbunyi.

Nama muncul di dashboard karena Bluetooth.

NADINE CALLING

Aku melihat.

Tidak sengaja.

Raka menekan tombol.

“Halo?”

Suara Nadine keluar dari speaker.

“Mas, file revisi sudah aku kirim.”

“Ya. Nanti aku cek.”

“Besok jadi ketemu klien?”

“Jadi.”

“Jam sembilan?”

“Iya.”

“Oh iya, payungku masih di mobil Mas, kan?”

Aku menoleh perlahan.

Payung.

Payung hitam tadi.

Raka melihat payung di kursi belakang.

Kemudian melihatku.

Kesalahan.

Nadine melanjutkan, “Jangan hilang. Itu payung favorit.”

“Ya.”

Telepon selesai.

Hening.

Aku melihat jendela.

“Payung Nadine.”

“Iya.”

“Pantes kecil.”

“Apa hubungannya?”

“Entah.”

Raka melirik.

Aku tetap melihat luar.

“Kamu kenapa?”

“Enggak.”

“Mira.”

“Apa?”

“Itu cuma payung.”

“Aku tahu.”

“Kenapa nadamu?”

“Nada apa?”

“Nada kamu kalau kesel.”

Aku menoleh.

“Aku nggak kesel.”

“Ya.”

“Jangan ya begitu.”

“Terus?”

“Aku cuma—”

Aku berhenti.

Apa?

Cemburu pada payung?

Itu bahkan lebih menyedihkan daripada cemburu pada perempuan.

“Aku kira payungmu.”

“Payungku rusak.”

“Oh.”

“Nadine ketinggalan di mobil minggu lalu.”

“Kenapa jelasin?”

Raka terdiam.

Aku langsung sadar.

Kalimatku sama persis seperti waktu Nadine pertama kali datang.

Raka tersenyum tipis.

“Entah.”

Aku melihat jendela lagi.

Macet bergerak.


Kami berhenti di minimarket karena Raka mau membeli kopi.

“Aku ikut.”

Kami masuk.

AC dingin.

Aku menggigil sedikit karena lengan bajuku basah.

Raka mengambil kopi kaleng.

Aku langsung mengambil dari tangannya.

“Jangan.”

“Apa?”

“Maag.”

“Aku udah makan.”

“Kapan?”

“Siang.”

“Sekarang jam tujuh.”

Raka menatap kopi.

Kemudian aku.

Aku membeku.

Aku masih memegang kalengnya.

“Ya udah,” kataku, menyerahkan lagi. “Terserah.”

Raka tidak mengambil.

Dia justru mengambil susu.

“Ini aja.”

Aku mengerutkan dahi.

“Kenapa?”

“Takut dimarahin tetangga.”

Aku menahan senyum.

“Bagus.”

Raka menatapku.

Aku langsung sadar.

Dia tertawa.

“Nah.”

“Apa?”

“Bagus.”

“Diam.”

Kami sampai di kasir.

Raka mengambil satu cokelat.

Meletakkannya di antara belanjaan.

Aku mengenal mereknya.

Favoritku.

Aku melihat.

Dia pura-pura tidak sadar.

“Buat siapa?”

“Ucil.”

“Kucing nggak boleh cokelat.”

“Oh.”

“Raka.”

“Buat aku.”

“Kamu nggak suka dark chocolate.”

Raka terdiam.

Kasir menatap kami.

Aku menatapnya.

Dia akhirnya menghela napas.

“Ya buat kamu.”

Aku tidak tahu kenapa jantungku melakukan sesuatu yang memalukan.

“Kenapa?”

“Karena kamu kalau kehujanan suka pengin manis.”

Aku diam.

Kasir memindai cokelat.

Bip.

Delapan tahun.

Ternyata ada banyak hal yang tidak ikut tercatat dalam akta cerai.


Sampai rumah, hujan sudah kecil.

Kami turun.

Raka membuka payung Nadine.

Aku melihat.

“Aku bisa lari.”

“Lima meter.”

“Makanya.”

Dia tetap membuka.

Kami berjalan bersama sampai depan rumahku.

Kali ini aku sengaja berdiri sedikit lebih dekat.

Supaya tidak basah.

Tentu.

Hanya itu.

Di depan pintu, Raka menyerahkan cokelat.

Aku mengambil.

“Makasih.”

“Ya.”

Aku menunjuk payung.

“Besok balikin.”

“Iya.”

“Jangan sampai rusak.”

“Iya.”

“Favorit orang.”

Raka mengangkat alis.

Aku langsung membuka pintu.

“Malam.”

“Malam.”

Aku masuk.

Menutup pintu.

Ucil menyambut.

Aku membuka cokelat.

Satu potong.

Duduk di sofa.

Kemudian melihat keluar jendela.

Raka sedang menutup payung.

Dia memeriksa ujungnya.

Mengibaskan air.

Sangat hati-hati.

“Favorit orang,” gumamku.

Ucil menatap.

“Aku nggak cemburu.”

Ucil menjilat kaki.

“Serius.”

Dia pergi.

Aku memakan cokelat lagi.

Lalu ponsel berbunyi.

Ardi.

Besok malam free?

Aku membaca.

Entah kenapa mataku bergerak ke payung hitam yang sekarang bersandar di teras rumah sebelah.

Aku membalas:

Free.

Kirim.

Kemudian menggigit cokelat sedikit lebih keras daripada yang diperlukan.