Chapter Four
Harta Gono-Gini Paling Bodoh
POV: Mira
Aku baru sadar perceraian kami tidak dilakukan dengan perencanaan matang ketika aku ingin menonton televisi.
Hari Minggu.
Pukul sembilan malam.
Aku sudah mandi, rambut masih setengah basah, Ucil tidur telentang di karpet dengan perutnya yang bulat menghadap AC, dan untuk pertama kalinya sejak pindah aku merasa rumah ini mulai terlihat seperti tempat tinggal manusia.
Kardus tinggal empat.
Tiga kalau kardus bertuliskan ENTAH APA tidak dihitung.
Aku membuat teh, mengambil keripik kentang, lalu menjatuhkan tubuh ke sofa.
Televisi menyala.
Bagus.
Aku membuka aplikasi streaming.
Bagus.
Aku memilih serial yang sudah kutunda dua minggu.
Bagus.
Layar menampilkan pilihan profil.
RAKA
MIRA
UCIL
Aku menatap tiga nama itu.
Oh.
Peraturan nomor sembilan.
Aku belum menghapus Raka.
Dan, kalau mau jujur, aku juga belum tahu kenapa enam tahun lalu kami membuat profil Netflix untuk kucing.
Aku memilih profilku.
Serial dimulai.
Lima menit kemudian volumenya terlalu kecil.
Aku meraba sofa.
Tidak ada remote.
Meja.
Tidak ada.
Bawah bantal.
Tidak ada.
Aku berjongkok dan melihat bawah sofa.
Debu.
Satu karet rambut.
Mainan Ucil.
Tidak ada remote.
Aku berdiri.
Membuka laci meja televisi.
Kosong.
Aku membuka kardus ENTAH APA.
Kabel.
Baterai.
Buku manual AC lama.
Satu sendok nasi.
Kenapa ada sendok nasi?
Aku mengacak kardus.
Tidak ada remote.
Aku berhenti.
Memandangi televisi.
Kemudian perlahan memandang tembok sebelah kanan.
Tidak.
Tidak mungkin.
Aku mengambil ponsel.
Membuka chat Raka.
Percakapan terakhir kami terjadi kemarin.
Aku: Obengmu depan pintu.
Raka: Oke.
Aku: Jangan taruh motor depan pagar besok.
Raka: Iya.
Aku: Serius.
Raka: Iya, Bu RT.
Aku masih kesal membaca bagian terakhir.
Kuketik:
Remote TV sama kamu?
Pesan dibaca.
Tidak dijawab.
Tiga puluh detik.
Satu menit.
Dua menit.
Aku mengetik lagi.
Rak.
Balasan datang.
TV-nya sama kamu?
Aku mengerutkan dahi.
Iya.
Tiga titik.
Berarti remote harusnya sama kamu.
Aku menarik napas.
Kalau sama aku ngapain aku nanya?
Valid.
Jadi?
Lama.
Kemudian:
Kayaknya ada.
Aku berdiri.
Raka membuka pintu sambil memegang remote.
Aku menatap benda itu.
Dia menatapku.
Aku mengulurkan tangan.
Raka tidak memberikan.
“Sebentar.”
“Apa?”
“Ini remote TV-ku.”
Aku menatapnya.
“TV-nya di rumahku.”
“Remote-nya di rumahku.”
“Makanya kasih.”
“Kalau TV-nya punya kamu, kenapa remote-nya ikut aku?”
“Karena kamu yang beresin elektronik waktu pindahan.”
Raka berpikir.
“Oh iya.”
“Kasih.”
Dia menyerahkan.
Aku menarik.
Tidak lepas.
Raka masih memegang ujungnya.
“Kenapa?”
“Kalau TV punya kamu…”
“Ya?”
“TV aku mana?”
Aku berhenti.
“Bukannya kamu bilang nggak butuh TV?”
“Aku bilang nanti beli.”
“Ya beli.”
“Remote ini berarti technically bagian TV.”
“Raka.”
“Aku cuma memastikan pembagian aset kita konsisten.”
“Remote dua puluh sentimeter ini mau kamu jadikan aset?”
“Harganya lumayan.”
Aku menarik lebih keras.
Dia melepas.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Aku berbalik.
“Mira.”
Aku menoleh.
“Apa lagi?”
“Baterainya punyaku.”
Aku menatap remote.
Lalu dia.
“Kamu mau baterainya?”
“Bercanda.”
Aku menunjuk wajahnya.
“Humormu memburuk sejak cerai.”
“Dulu kamu ketawa.”
“Dulu aku punya kewajiban moral.”
Aku masuk rumah.
Raka tertawa di belakangku.
Dua puluh menit kemudian aku ingin membuat jus.
Ini adalah keputusan yang akan mengubah malamku.
Aku memasukkan mangga, es, sedikit susu.
Menaruh tabung blender.
Kemudian mencari tutupnya.
Tidak ada.
Aku membuka lemari.
Tidak ada.
Kardus dapur.
Tidak ada.
Rak bawah.
Tidak ada.
Aku berdiri sangat pelan.
Ucil membuka satu mata.
“Jangan lihat Mama begitu.”
Ucil menutup mata lagi.
Aku mengambil ponsel.
Tutup blender.
Raka membalas hampir langsung.
Apa?
Sama kamu?
Kenapa tutup blender sama aku?
Aku mengetik:
KENAPA REMOTE TV SAMA KAMU?
Tiga titik.
Hilang.
Muncul lagi.
Cek.
Lima menit kemudian pintuku diketuk.
Kubuka.
Raka berdiri membawa tutup blender.
Kami tidak bicara selama beberapa detik.
Aku melihat tutup blender.
Dia melihat remote di tanganku.
Kemudian kami sama-sama menyadari sesuatu.
“Pembagian barang kita goblok,” kataku.
Raka mengangguk.
“Parah.”
Aku mengambil tutup blender.
“Kenapa ini bisa sama kamu?”
“Kayaknya masuk kardus peralatan.”
“Kenapa tutup blender masuk peralatan?”
“Kamu yang packing dapur.”
“Kamu yang angkut.”
“Jadi kita sama-sama bersalah.”
“Jangan sok adil.”
Raka menyandarkan bahu ke kusen pintu.
“Masih ada barangku sama kamu?”
“Entah.”
“Besok kita cek.”
“Kenapa besok?”
“Biar selesai.”
Aku sebenarnya ingin menolak.
Kemudian melihat empat kardus yang belum kubuka.
Mungkin lebih baik memang dibereskan.
“Jam sepuluh.”
“Pagi?”
“Ya masa malam.”
“Jam sepuluh aku proyek.”
Aku mendengus.
“Jam delapan.”
“Bisa.”
“Rumahmu.”
“Kenapa rumahku?”
“Karena kardusmu lebih banyak.”
“Siapa bilang?”
“Aku lihat dari jendela.”
Raka menatapku.
Aku baru sadar.
“Saat pindahan,” tambahku cepat.
“Hmm.”
“Jangan hmm.”
“Oke.”
Dia berbalik.
Aku menutup pintu.
Kemudian membuka lagi.
“Rak.”
Raka menoleh.
“Tupperware hijau.”
“Apa?”
“Besok bawa.”
Ekspresinya berubah.
“Mira.”
“Itu punya aku.”
“Kita sudah bahas.”
“Dan hasil pembahasannya jelas.”
“Sepihak.”
“Ditandatangani dua pihak.”
“Aku menandatangani keseluruhan dokumen, bukan berarti setuju tiap pasal.”
“Kamu harusnya baca sebelum tanda tangan.”
Raka menunjukku.
“Nah. Itu kalimat paling editor yang pernah keluar dari mulutmu.”
Aku menutup pintu.
Besok paginya kami duduk di lantai rumah Raka dikelilingi barang-barang yang seharusnya sudah dibagi tiga minggu lalu.
Aku membawa notebook lemon.
Raka melihatnya.
“Kamu bawa itu?”
“Dokumentasi.”
“Kita mau bagi barang, bukan Konferensi Meja Bundar.”
Aku duduk.
“Mulai.”
Raka membuka kardus pertama.
Isinya kabel.
Banyak sekali kabel.
Aku mengangkat satu.
“Ini apa?”
“HDMI.”
“Punya siapa?”
“Kita.”
“Siapa yang butuh?”
“Kamu punya TV.”
Aku menyerahkan.
“Berarti aku.”
Dia mengambil kabel lain.
“Charger panjang.”
“Itu aku.”
“Kok?”
“Aku yang beli.”
“Aku yang pakai.”
“Pola argumenmu cuma itu?”
“Efektif.”
Aku merebut charger.
Raka menghela napas.
Sepuluh menit kemudian kami sudah memiliki dua tumpukan.
MIRA.
RAKA.
Lalu muncul tumpukan ketiga.
NGGAK TAHU.
Isinya mengkhawatirkan.
Satu gunting kuku.
Dua payung.
Kabel misterius.
Panci kecil.
Bantal sofa.
Kotak obat.
Dan sebuah bingkai foto yang kami letakkan telungkup tanpa kesepakatan.
Tidak ada yang menyentuhnya lagi.
“Ini,” kata Raka.
Dia mengangkat dua bantal tidur.
Aku langsung menunjuk.
“Aku.”
“Dua-duanya?”
“Iya.”
“Satu aku.”
“Yang biru punya aku.”
“Kamu selalu pakai putih.”
“Karena kamu ngambil biru.”
“Berarti biru aku.”
“Tidak.”
Raka memeluk bantal biru.
Aku menatapnya.
“Umurmu tiga puluh empat.”
“Justru sudah cukup dewasa mempertahankan hak.”
Aku menarik bantal.
Dia tidak melepas.
“Raka.”
“Mira.”
“Kasih.”
“Remote.”
Aku berhenti.
“Apa?”
“Remote TV.”
“Kamu mau barter bantal sama remote?”
“Bantal biru ditukar remote.”
“TV-ku jadi nggak bisa dipakai.”
“Beli universal.”
Aku tidak percaya.
“Kamu mantan suami paling pelit sedunia.”
“Bukan pelit. Negosiasi.”
Aku melepaskan bantal.
“Fine. Ambil.”
Raka terlihat terkejut.
Aku mengambil bantal putih.
“Yang ini lebih enak.”
Dia menatap bantal biru di tangannya.
“Eh.”
“Terlambat.”
“Mira.”
“Kesepakatan sudah terjadi.”
“Belum tanda tangan.”
“Perjanjian verbal sah.”
“Sejak kapan kamu ngerti hukum?”
“Sejak cerai.”
Raka tertawa.
Aku juga.
Dan seperti beberapa kali sebelumnya, tawa itu datang terlalu mudah.
Kami berhenti hampir bersamaan.
Aku mengambil barang berikutnya.
Sebuah mug hitam.
SITE MANAGER.
Aku mengenalnya.
Gagangnya retak.
“Buang,” kataku.
Raka langsung mengambil.
“Jangan.”
“Itu udah retak.”
“Masih bisa.”
“Kamu punya mug lain.”
“Ini enak.”
“Semua mug bentuknya sama.”
“Beda.”
Aku menatapnya.
“Kamu selalu bilang semua piring sama waktu aku mau beli piring baru.”
“Itu piring.”
“Logikanya apa?”
“Tidak ada.”
Aku menggeleng.
Kemudian melihat sesuatu di dasar kardus.
Kotak obat kecil.
Kubuka.
Obat maag.
Sudah hampir habis.
Aku mengangkatnya.
“Kamu masih sering kambuh?”
Raka yang tadi sedang melipat kabel berhenti.
“Kadang.”
“Seberapa sering?”
“Biasa.”
“Biasa itu berapa?”
“Mira.”
Nada suaranya tidak keras.
Tapi aku tahu.
Peraturan nomor tiga.
Aku menutup kotak obat.
Meletakkannya di tumpukan Raka.
“Ya udah.”
Dia kembali melipat kabel.
Aku mengambil barang lain.
Beberapa detik berlalu.
“Dua kali minggu ini,” katanya.
Tanganku berhenti.
Aku tidak melihatnya.
“Kopi?”
“Mungkin.”
“Makan telat?”
“Mungkin.”
“Jangan kopi perut kosong.”
Hening.
Aku baru sadar apa yang kukatakan.
Raka juga.
Aku berdeham.
“Informasi umum.”
“Ya.”
“Semua orang tahu.”
“Ya.”
Aku mengambil Tupperware hijau dari kardus.
“Nah.”
Raka langsung menunjuk.
“Jangan.”
“Dokumen resmi.”
“Mira.”
Aku memeluk Tupperware ke dada.
“Terima kasih atas kerja samanya.”
Dia menghela napas panjang.
Satu jam kemudian pembagian selesai.
Hampir.
Aku berdiri membawa dua tas.
Raka membawa kardus barangku sampai depan pintu.
“Taruh situ.”
Dia menaruhnya.
Aku melihat isinya.
Remote TV.
Tutup blender.
Charger panjang.
Tupperware hijau.
Bantal putih.
Beberapa buku.
Satu payung.
Barang-barang kecil.
Sisa delapan tahun hidup bersama yang ternyata bisa masuk satu kardus.
Aku tidak tahu kenapa pikiran itu muncul.
Dan aku tidak suka rasanya.
“Mir.”
Aku mengangkat kepala.
Raka memegang bingkai foto yang tadi kami abaikan.
Dia membaliknya.
Foto kami di pantai.
Aku bahkan lupa pernah mencetaknya.
Aku memakai topi terlalu besar.
Raka terbakar matahari.
Kami tertawa ke kamera.
Mungkin tahun ketiga pernikahan.
“Mau?” tanyanya.
Aku melihat foto itu.
“Enggak.”
Raka mengangguk.
“Aku juga enggak.”
Dia hendak memasukkannya ke kardus sampah.
“Jangan.”
Tangannya berhenti.
Aku tidak tahu kenapa mengatakan itu.
Raka menunggu.
Aku mengambil bingkai dari tangannya.
“Kacanya masih bagus.”
“Oh.”
“Bisa dipakai buat foto lain.”
“Ya.”
Aku memasukkannya ke kardusku.
Kami sama-sama tahu aku berbohong.
Tapi kali ini tidak ada yang membongkar.
Aku mengangkat kardus.
Raka refleks memegang sisi bawah.
“Aku bisa.”
“Berat.”
“Bisa.”
Dia melepas.
Aku membawa kardus keluar.
Baru tiga langkah, bagian bawahnya terbuka.
Semua barang jatuh.
Remote.
Buku.
Tupperware.
Charger.
Bantal.
Dan bingkai foto kami meluncur sampai tepat di kaki Raka.
Kami menatap kekacauan itu.
Lalu saling pandang.
Raka menghela napas.
“Pembagian barang kita memang goblok.”
Aku menutup wajah.
Kemudian tertawa.
Dan kali ini aku tidak buru-buru berhenti.
- 1 Perceraian yang Sangat Sopan
- 2 Rumah Sebelah
- 3 Perjanjian Tetangga
- 4 Harta Gono-Gini Paling Bodoh reading
- 5 Hak Asuh Ucil
- 6 Kencan Pertama Mira
- 7 Perempuan di Rumah Raka
- 8 Aturan Pertama Dilanggar
- 9 Warung Bu Tati
- 10 Sakit
- 11 Mantan Istri Otomatis
- 12 Foto Lama
- 13 Kondangan
- 14 Satu Payung
- 15 Jangan Baik-Baik Terus