Chapter Ten

Sakit

POV: Mira

Aku tahu Raka sakit dari cara dia batuk.

Bukan karena aku menguping.

Aku merasa perlu terus menegaskan itu pada diriku sendiri.

Tembok rumah kami memang tipis.

Sangat tipis.

Kalau malam terlalu sunyi, aku bisa mendengar suara lemari ditutup. Bunyi keran. Bahkan kadang suara Ucil menjatuhkan sesuatu lalu Raka mengumpat pelan.

Jadi ketika pagi itu terdengar batuk dari sebelah—

dua kali pendek,

jeda,

lalu satu batuk lebih dalam—

aku langsung berhenti mengoles selai ke roti.

Aku mengenalnya.

Itu bukan batuk karena debu.

Bukan batuk setelah minum dingin.

Bukan batuk kecil yang biasa muncul kalau dia kurang tidur.

Itu batuk sakit.

Aku menatap tembok.

Batuk lagi.

Aku mengambil ponsel.

Buka chat.

Mengetik:

Kamu sakit?

Kuhapus.

Aku meletakkan ponsel.

Bukan urusanku.

Peraturan nomor tiga.

Aku menggigit roti.

Batuk lagi.

Aku berdiri.

Membuka lemari dapur.

Ada jahe.

Madu.

Jeruk nipis.

Aku menutup lemari.

Duduk lagi.

Tidak.

Aku bukan istrinya.

Kalau sakit, dia bisa ke dokter.

Pesan obat.

Minta bantuan Doni.

Minta bantuan Nadine.

Aku kembali makan.

Lalu terdengar suara benda jatuh dari sebelah.

Gedebuk.

Aku langsung berdiri.

“RAKA?”

Hening.

Aku mendekati tembok.

“RAKA?”

Suara samar.

“Apa?”

“Apaan jatuh?”

“Gelas.”

“Kamu kenapa?”

“Enggak kenapa-kenapa.”

Aku memejamkan mata.

Nada suaranya serak.

Sangat serak.

“Buka pintu.”

“Apa?”

“Buka.”

“Kenapa?”

“Buka aja.”

“Aku lagi—”

“RAKA.”

Hening.

Kemudian terdengar langkah.

Pintu rumah sebelah terbuka.

Aku sudah berdiri di teras ketika dia muncul.

Rambut berantakan.

Kaus putih kusut.

Mata merah.

Wajah pucat.

“Ya Allah.”

Raka menyandarkan bahu ke kusen.

“Apaan?”

“Kamu demam?”

“Kayaknya.”

“Kayaknya?”

“Aku belum cek.”

“Termometer?”

“Ada.”

“Mana?”

“Entah.”

Aku masuk dua langkah.

Kemudian berhenti.

Ini rumahnya.

Bukan rumahku.

Raka melihatku.

Aku menunggu.

Dia menggeser tubuh sedikit.

“Masuk.”

Aku masuk.


Rumah Raka jauh lebih berantakan daripada terakhir kali aku lihat.

Ada dua gelas di meja.

Kertas proyek.

Jaket di sofa.

Satu piring belum dicuci.

Aku langsung tahu dia sakit minimal sejak kemarin.

Kalau sehat, rumahnya tidak seperti ini.

Raka mungkin berantakan soal barang pribadi, tapi dia benci piring kotor.

Aku menunjuk sofa.

“Duduk.”

Raka duduk.

“Termometer?”

“Laci TV.”

Aku membuka.

Tidak ada.

“Enggak ada.”

“Yang bawah.”

Kubuka.

Remote cadangan.

Baterai.

Obeng kecil.

Satu bungkus permen.

Tidak ada termometer.

“Rak.”

“Hm.”

“Kamu bilang ada.”

“Ada.”

“Di mana?”

Dia menutup mata.

“Mungkin kamar.”

Aku menatapnya.

“Jangan gerak.”

“Ya.”

Aku masuk kamar.

Dan langsung berhenti.

Aneh.

Aku sudah pernah masuk kamar ini waktu atap rumahku bocor? Tidak.

Raka yang masuk rumahku.

Aku belum pernah masuk kamar tidurnya sejak kami bercerai.

Tempat tidurnya sederhana.

Seprai abu-abu.

Meja kecil.

Laptop.

Lampu baca.

Dan di sandaran kursi—

kemeja biru tua yang dia pakai saat sidang perceraian.

Aku tahu karena ada bekas noda tinta kecil di lengan kanan.

Aku berdiri terlalu lama.

Kemudian ingat tujuan.

Termometer.

Aku menemukannya di meja samping ranjang.

Kembali ke ruang tengah.

Raka masih duduk dengan mata tertutup.

“Rak.”

Dia membuka mata.

Aku menyerahkan termometer.

Beberapa menit kemudian angka muncul.

39,1.

Aku langsung berdiri.

“Ke dokter.”

“Enggak usah.”

“Raka.”

“Demam biasa.”

“39,1 bukan biasa.”

“Minum obat turun.”

“Kamu sudah makan?”

Diam.

Aku menyipitkan mata.

“Sudah?”

“Belum.”

“Sejak kapan?”

“Semalam.”

Aku memegang pinggang.

“Semalam jam berapa?”

“Entah.”

“Kenapa nggak makan?”

“Enggak lapar.”

“Kamu maag!”

“Iya.”

“Kamu demam!”

“Iya.”

“Terus nggak makan?”

“Iya.”

Aku menatapnya.

Raka menatap balik.

“Kenapa kamu jawab iya terus?”

“Karena semua benar.”

Aku mengambil napas panjang.

Kalau dulu, aku mungkin sudah ceramah lima belas menit.

Sekarang—

aku berhenti.

Bukan suamiku.

Aku tidak punya hak mengatur.

Tapi aku juga tidak mungkin pura-pura tidak melihat.

“Aku bikin bubur.”

“Enggak usah.”

“Aku nggak nanya.”

“Mira.”

“Apa?”

“Kamu kerja.”

“WFH hari ini.”

“Kenapa?”

“Ada revisi.”

“Oh.”

“Jangan senang.”

“Aku nggak senang.”

“Kupingmu—”

Aku berhenti.

Raka tersenyum lemah.

“Gerak?”

Aku menggeleng.

“Masih bisa becanda berarti belum sekarat.”

Aku pulang.


Aku membuat bubur ayam sederhana.

Ayam suwir.

Jahe.

Sedikit garam.

Tidak banyak lada.

Tidak pakai daun bawang terlalu banyak karena kalau demam, Raka selalu bilang aromanya terlalu tajam.

Aku baru sadar betapa otomatisnya tanganku bekerja.

Tidak perlu berpikir.

Tubuhku masih ingat.

Sendok yang dia suka.

Mangkuk yang tidak terlalu besar.

Tekstur bubur yang lebih cair.

Aku menatap panci.

Dulu, membuat makanan untuk Raka adalah hal biasa.

Bahkan kadang menjengkelkan.

Sekarang terasa seperti sedang melakukan sesuatu yang seharusnya tidak lagi menjadi tugasku.

Aku mematikan kompor.

Mengambil mangkuk.

Berjalan ke rumah sebelah.

Lalu berhenti di depan pintu.

Aku tidak mengetuk.

Aku taruh mangkuk dalam wadah tertutup di meja kecil teras.

Kirim pesan:

Bubur di depan. Makan. Obat setelah makan.

Raka membalas:

Masuk aja.

Aku melihat pesan itu.

Entah kenapa dua kata itu terasa terlalu dekat.

Aku mengetik:

Nggak. Makan aja.

Lalu kembali ke rumah.


Setengah jam.

Tidak ada pesan.

Aku mencoba bekerja.

Satu paragraf.

Dua.

Tidak fokus.

Aku melihat jam.

Empat puluh menit.

Membuka chat.

Tidak ada.

Aku berdiri.

Mengintip dari jendela.

Wadah bubur sudah tidak ada.

Bagus.

Aku kembali duduk.

Lima menit kemudian pesan masuk.

Enak.

Aku tersenyum.

Langsung.

Tanpa izin.

Aku mengetik:

Ya iyalah.

Hapus.

Ketik lagi:

Habiskan.

Dia membalas:

Iya, Bu.

Aku menatap layar.

Lalu mengetik:

Jangan panggil Bu.

Iya, mantan Bu.

Aku tertawa keras.

Ucil kaget dari sofa.

“Maaf.”


Sore, aku tidak mendengar batuk lagi.

Bagus.

Aku tidak mengecek.

Tidak perlu.

Pukul enam, aku mendapat pesan.

Mangkuknya aku cuci besok.

Aku jawab:

Nggak usah buru-buru.

Lima menit kemudian:

Makasih.

Aku menatap kata itu.

Sederhana.

Tapi ada sesuatu di dadaku yang melunak.

Aku mengetik:

Sama-sama.

Sopan.

Lagi.

Aku meletakkan ponsel.

Malamnya aku membuat makan sendiri.

Satu porsi.

Bukan dua.

Kemudian sadar ada sisa sup terlalu banyak.

Tanganku hampir mengambil wadah.

Aku berhenti.

Tidak.

Sudah cukup.

Pukul sembilan, aku mendengar pintu rumah Raka terbuka.

Lalu ketukan.

Aku membuka.

Raka berdiri memakai hoodie.

Wajahnya masih pucat tapi lebih baik.

Dia membawa mangkuk.

“Kamu ngapain keluar?”

“Balikin.”

“Besok aja.”

“Udah cuci.”

Aku mengambil mangkuk.

“Kamu masih demam?”

“Turun.”

“Berapa?”

“38.”

“Masih.”

“Lebih baik.”

Aku ingin menyentuh dahinya.

Tanganku bahkan sudah bergerak sedikit.

Aku berhenti.

Raka melihat.

Tidak mengatakan apa-apa.

Aku mengepalkan jari.

“Minum obat lagi.”

“Ya.”

“Tidur.”

“Ya.”

“Besok kalau masih panas, dokter.”

Raka mengangguk.

Kemudian tersenyum kecil.

“Kamu masih sama.”

Aku mengerutkan dahi.

“Apanya?”

“Kalau aku sakit.”

Aku menatap mangkuk di tanganku.

“Ya masa aku biarin.”

“Dulu juga bilangnya gitu.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Raka melihatku beberapa detik.

Lalu berkata, “Makasih, Mir.”

Bukan makasih untuk bubur.

Aku tahu.

Dan itu masalahnya.

Aku mengangguk.

“Sama-sama.”

Dia kembali rumah.

Aku menutup pintu.

Kemudian baru sadar satu hal.

Selama delapan tahun menikah, aku sering merawat Raka ketika dia sakit.

Memberi obat.

Membuat makanan.

Mengompres.

Menyuruh tidur.

Aku selalu menganggap itu tugas.

Hari ini tidak ada lagi kewajiban.

Tidak ada status.

Tidak ada janji pernikahan.

Aku bisa saja tidak melakukan apa-apa.

Tapi aku tetap membuat bubur.

Mungkin itu yang membuat semuanya terasa berbeda.

Atau mungkin—

untuk pertama kalinya,

aku melakukan sesuatu untuk Raka bukan karena aku istrinya.

Tapi karena aku memang ingin.