Chapter Thirteen
Kondangan
POV: Mira
Undangan itu datang hari Selasa.
Bukan ke rumahku.
Bukan ke rumah Raka.
Ke grup WhatsApp keluarga besarku.
UNDANGAN PERNIKAHAN
NISA & FADLAN
Aku membaca nama itu sambil makan siang di kantor.
Sepupuku.
Anak Tante Rini.
Pernikahan hari Minggu.
Aku membuka undangan digitalnya.
Lokasi.
Jam.
Dress code.
Lalu bagian bawah.
Kepada Yth.
Bapak Raka & Ibu Mira
Aku berhenti mengunyah.
Tiga detik.
Lima.
Kemudian screenshot.
Kirim ke Raka.
Kita punya masalah.
Balasan datang dua menit kemudian.
Apa?
Aku kirim gambar.
Lama.
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Mereka belum tahu?
Kayaknya.
Kamu belum bilang?
Aku langsung mengetik:
KENAPA AKU?
Keluargamu.
Aku berhenti.
Valid.
Menyebalkan.
Tapi valid.
Tante Rini jarang ketemu.
Terus?
Datang aja sendiri-sendiri.
Raka membalas:
Oke.
Mudah.
Bagus.
Selesai.
Lima detik kemudian pesan lain masuk.
Tapi kalau ditanya aku mana?
Aku mengetik:
Bilang cerai.
Tiga titik.
Di pelaminan?
Aku membayangkan.
Aku bersalaman dengan pengantin.
Tante Rini tersenyum.
Raka mana?
Sudah cerai, Tante.
Di belakang kami ada antrean lima puluh orang.
Aku menutup mata.
Jangan di pelaminan.
Nah.
Terus gimana?
Balasannya datang:
Kita datang bareng.
Aku menatap layar.
Tidak.
Nggak.
Kenapa?
Kita cerai.
Aku ingat.
Kalau datang bareng malah makin susah jelasin.
Kalau datang terpisah mereka tetap nanya.
Aku mengetuk meja dengan jari.
Santi yang duduk di seberang mengangkat kepala.
“Kenapa?”
“Sepupuku nikah.”
“Terus?”
“Undangannya masih Pak Raka dan Bu Mira.”
Santi berhenti makan.
Kemudian senyumnya muncul.
Aku menunjuk dia.
“Jangan.”
“Gue belum ngomong.”
“Wajah lo.”
“Datang bareng.”
Aku menjatuhkan sendok.
“Kenapa semua orang punya ide buruk yang sama?”
“Praktis.”
“Kami cerai.”
“Bukan amnesia. Kalian masih bisa naik mobil yang sama.”
Aku menatap ponsel.
Pesan Raka:
Berangkat bareng. Pulang bareng. Di sana kalau ada yang nanya baru jelasin pelan-pelan.
Santi melongok.
“Setuju.”
“Kamu di pihak siapa?”
“Efisiensi.”
Aku mengetik:
Fine. Tapi cuma transportasi.
Raka:
Ya.
Jangan aneh-aneh.
Definisi aneh?
Pokoknya.
Baik, mantan Bu.
Aku menaruh ponsel terbalik.
Santi mengangkat alis.
“Kenapa senyum?”
Aku langsung meratakan wajah.
“Aku nggak senyum.”
“Biasa aja?”
“Biasa aja.”
“Penyakit.”
Minggu pukul sembilan pagi Raka mengetuk pintu.
Aku belum selesai.
“Lima menit!” teriakku dari kamar.
“Katamu jam sembilan!”
“Lima menit!”
“Berarti sembilan lewat lima!”
“Raka!”
“Ya!”
“Diam!”
Aku memasang anting.
Melihat cermin.
Kebaya sage.
Rambut disanggul rendah.
Makeup sedikit lebih rapi dari biasanya.
Aku mengambil tas.
Keluar.
Raka sedang berdiri di ruang tamu.
Aku berhenti.
Dia memakai batik gelap.
Celana hitam.
Rambut disisir rapi.
Jam tangan yang dulu kubelikan saat ulang tahunnya ke-32 masih di pergelangan.
Raka juga berhenti.
Tatapannya bergerak.
Lagi.
Dua detik.
Tiga.
“Apa?” tanyaku.
“Enggak.”
“Kamu kalau bilang enggak biasanya ada apa-apa.”
“Kamu cantik.”
Aku membeku.
Raka tampaknya baru sadar dia mengatakannya keras-keras.
“Oh.”
Aku memegang tas lebih erat.
“Ya... makasih.”
“Ya.”
Hening.
Ucil lewat di antara kami.
Aku langsung menunjuk pintu.
“Ayo.”
“Ya.”
Kami keluar seperti dua orang yang baru saja gagal melewati percakapan paling sederhana di dunia.
Masalah pertama muncul di mobil.
Raka menyetir.
Aku duduk di kiri.
Sepuluh menit perjalanan, tangannya bergerak ke dashboard.
Membuka kompartemen.
Mengambil permen.
Tanpa melihat, dia menyerahkan satu kepadaku.
Aku mengambil.
Membuka.
Memasukkan ke mulut.
Baru setelah itu kami saling pandang.
“Refleks,” katanya.
“Ya.”
Lima menit kemudian aku melihat AC.
“Kecilkan satu.”
Raka mengecilkan.
Tidak bertanya.
Tujuh menit.
Dia menyalakan sein.
Aku otomatis memegang gelas kopinya ketika mobil berbelok tajam.
Setelah lurus, aku meletakkannya kembali.
Raka melirik.
Aku melihat keluar jendela.
“Kebiasaan,” kataku.
“Ya.”
Menikah delapan tahun rupanya membuat tubuh punya memori sendiri.
Status bisa berubah dalam satu keputusan pengadilan.
Kebiasaan tidak.
Resepsi ramai.
Sangat ramai.
Kami baru turun dari mobil ketika Tante Rini melihat.
“MIRAAA!”
Aku tersenyum.
Tante Rini memelukku.
Kemudian memeluk Raka.
“Ya ampun, akhirnya datang juga! Tante kira kalian telat.”
Aku dan Raka saling pandang.
Belum waktunya.
“Macet, Tante,” kata Raka.
Pengkhianat.
“Masuk, masuk.”
Kami masuk.
Sepuluh menit pertama aman.
Lalu Om Dedi datang.
“Raka! Kapan nyusul punya anak?”
Aku hampir tersedak es buah.
Raka batuk.
Om Dedi tertawa.
“Delapan tahun, kan?”
Aku membuka mulut.
Raka lebih cepat.
“Om, sebenarnya—”
“MIRAAA!”
Tante lain datang dan menarikku untuk foto.
Kesempatan hilang.
Dua puluh menit berikutnya seperti permainan menghindari ranjau.
“Kalian masih tinggal di rumah yang dulu?”
“Liburan kapan?”
“Ucil masih ada?”
“Kok belum nambah momongan?”
Aku mulai lelah.
Raka juga.
Akhirnya kami menemukan meja kosong di sudut.
Aku menjatuhkan diri ke kursi.
“Ini mimpi buruk.”
Raka menyerahkan air.
“Minum.”
Aku minum.
“Kenapa keluarga suka nanya anak?”
“Tradisi nasional.”
“Aku mau pulang.”
“Baru empat puluh menit.”
“Sudah cukup untuk satu tahun.”
Raka tertawa.
Aku melihat ke arah pelaminan.
Nisa sedang tersenyum.
Bahagia.
Suaminya membisikkan sesuatu.
Nisa tertawa.
Aku tidak tahu kenapa dadaku terasa sedikit berat.
Raka tampaknya memperhatikan.
“Kamu kenapa?”
“Enggak.”
“Mira.”
Aku menatapnya.
“Aku cuma ingat nikahan kita.”
Raka melihat pelaminan.
“Oh.”
“Dulu capek banget.”
“Karena kamu nggak mau makan.”
“Aku pakai kebaya ketat.”
“Kamu marah ke aku karena ayamnya habis.”
“Karena kamu makan punyaku.”
“Kamu bilang nggak mau.”
“Aku berubah pikiran.”
Raka tertawa.
Aku ikut.
Lalu suara seseorang muncul dari belakang.
“Mas Raka?”
Kami menoleh.
Seorang perempuan berdiri di sana.
Aku mengenalnya.
Ibu Raka.
Ibu mantan suamiku.
Mantan mertuaku.
Dan dari ekspresinya, jelas sekali dia tidak tahu kami datang bersama.
“Bu.”
Raka berdiri.
Aku ikut.
Ibu melihat kami bergantian.
“Kalian...”
Aku menelan ludah.
Beliau tahu kami cerai.
Tentu.
Tapi sejak perceraian, aku belum pernah bertemu.
Ibu mendekat.
Memeluk Raka.
Kemudian menatapku.
Wajahnya berubah.
Lebih lembut.
“Mira.”
“Bu.”
Beliau memelukku.
Aku tidak siap.
Sama sekali.
Tangannya masih sama.
Hangat.
Aroma minyak telonnya masih sama.
Dan ketika beliau mengusap punggungku sekali, dadaku langsung sesak.
“Kamu kurusan.”
Aku hampir tertawa.
Kalimat ibu-ibu universal.
“Enggak, Bu.”
“Gimana kabarnya?”
“Baik.”
“Kerja?”
“Baik.”
“Ucil?”
Aku tersenyum.
“Gemuk.”
Ibu tertawa.
Kemudian melihat Raka.
“Kalian datang bareng?”
Aku dan Raka saling pandang.
“Iya, Bu,” jawabku.
Ibu tidak bertanya lebih jauh.
Itu justru lebih menyakitkan.
Beliau hanya mengangguk.
“Ya sudah. Makan yang banyak.”
Lalu berjalan pergi.
Aku duduk kembali.
Tidak langsung bicara.
Raka juga.
Beberapa detik kemudian dia berkata, “Kamu oke?”
Aku mengangguk.
Bohong.
Raka tahu.
Tapi dia tidak membongkar.
Aku mengambil air.
Tanganku sedikit gemetar.
Di bawah meja, sesuatu menyentuh jariku.
Tangan Raka.
Tidak menggenggam.
Hanya ujung jarinya menyentuh punggung tanganku.
Seperti pertanyaan.
Aku bisa menarik tangan.
Aku tidak.
Beberapa detik.
Kemudian aku membalik telapak.
Jari kami bertemu.
Tidak lebih.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang tahu.
Lalu MC memanggil keluarga untuk foto.
Aku menarik tangan.
Raka berdiri.
“Ayo?”
Aku mengangguk.
Kami berjalan ke pelaminan.
Di depan kamera, fotografer berkata,
“Mas, dekat sedikit sama istrinya.”
Aku dan Raka membeku.
Tidak ada waktu menjelaskan.
Raka bergeser.
Bahunya menyentuh bahuku.
“Dekat lagi, Mas.”
Aku hampir tertawa.
Raka berbisik, “Kalau lebih dekat lagi kita nikah ulang.”
Aku menahan tawa.
Klik.
Foto diambil tepat ketika aku gagal menahan senyum.
Dan mungkin itulah foto pertama kami setelah bercerai.
- 1 Perceraian yang Sangat Sopan
- 2 Rumah Sebelah
- 3 Perjanjian Tetangga
- 4 Harta Gono-Gini Paling Bodoh
- 5 Hak Asuh Ucil
- 6 Kencan Pertama Mira
- 7 Perempuan di Rumah Raka
- 8 Aturan Pertama Dilanggar
- 9 Warung Bu Tati
- 10 Sakit
- 11 Mantan Istri Otomatis
- 12 Foto Lama
- 13 Kondangan reading
- 14 Satu Payung
- 15 Jangan Baik-Baik Terus