Chapter Eight

Aturan Pertama Dilanggar

POV: Mira

Hujan turun pukul dua dini hari.

Aku tahu karena air menetes tepat ke dahiku.

Tik.

Aku membuka mata.

Tik.

Keningku basah.

Aku mengerjap.

Tik.

“Apaan…”

Aku menyalakan lampu.

Ada noda gelap di plafon.

Kemudian satu tetes lagi jatuh.

Tik.

Aku duduk.

“Jangan.”

Tetes berikutnya jatuh ke bantal.

“Jangan.”

Lima detik kemudian air mulai menetes lebih cepat.

Tik.

Tik.

Tik.

“Jangan, jangan, jangan—”

Plafon tidak peduli.

Aku melompat dari ranjang.

Mengambil baskom.

Menaruh di bawah bocor.

Tik.

Tik.

Tik.

Suara hujan di luar semakin keras.

Aku melihat ke sudut kamar.

Ada titik basah kedua.

“Oh, bagus.”

Aku mengambil ember.

Dua menit kemudian titik ketiga muncul.

Aku berdiri di tengah kamar sambil memegang panci.

“Aku cuma mau hidup tenang.”

Ucil duduk di pintu sambil menonton.

“Jangan lihat aku.”

Petir menyambar.

Lampu mati.

Gelap.

Aku membeku.

Bukan takut.

Aku hanya tidak suka gelap total.

Berbeda.

Sangat berbeda.

Aku mencari ponsel.

Tidak ketemu.

“Mana…”

Aku meraba ranjang.

Bantal.

Selimut.

Ponsel.

Senter menyala.

Baik.

Aku menyorot plafon.

Air semakin banyak.

Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Bu Tati?

Pukul dua pagi.

Tidak mungkin.

Tukang?

Lebih tidak mungkin.

Raka?

Aku menatap layar ponsel.

Tidak.

Peraturan nomor dua.

Tidak boleh pinjam barang.

Nomor tiga.

Tidak ikut campur.

Nomor—

Air menetes ke kasur.

“Ya Allah.”

Aku membuka chat Raka.

Menghapus.

Menulis lagi.

Bangun?

Tidak dikirim.

Aku melihat plafon.

Titik bocor keempat muncul.

Kukirim.

Dibaca dalam sepuluh detik.

Kenapa?

Atap bocor.

Tiga titik muncul.

Parah?

Aku memotret plafon.

Kirim.

Raka menjawab:

Buka pintu.

Aku mengerutkan dahi.

Buat apa?

Aku ke sana.

Nggak usah.

Mira.

Aku bisa sendiri.

Hening.

Kemudian:

Dengan panci?

Aku menatap panci di tangan.

Bagaimana dia tahu?

Aku membuka pintu depan.

Raka sudah berdiri di teras.

Memakai kaus abu-abu, celana pendek, sandal, membawa senter kepala dan toolbox.

“Cepat banget.”

“Rumahku sebelah.”

“Oh.”

Hujan menghantam atap teras.

Raka menunjuk pintu.

“Boleh masuk?”

Aku berhenti.

Dia menunggu.

Aku baru sadar.

Dulu Raka tidak pernah perlu bertanya.

Rumahku adalah rumahnya.

Sekarang dia berdiri kurang dari satu meter dari pintu, basah di bahu, dan menunggu izin.

Peraturan nomor satu.

Dilarang masuk rumah tanpa izin.

Aku membuka pintu lebih lebar.

“Masuk.”

Dia masuk.

Aturan pertama resmi dilanggar.

Aneh bahwa rasanya lebih besar daripada seharusnya.


Raka masuk kamar.

Melihat tiga wadah penampung air.

“Lumayan.”

“Lumayan apanya?”

“Bocornya.”

“Kamu bilang lumayan seperti ini prestasi.”

“Bisa lebih parah.”

“Jangan manifesting.”

Dia menyorot plafon.

“Kayaknya genteng geser.”

“Kamu mau naik sekarang?”

“Enggak. Hujan.”

“Terus?”

“Kita tahan dulu sampai pagi.”

“Kita?”

Raka menatapku.

“Kamu mau sendiri?”

Aku tidak menjawab.

Dia meletakkan toolbox.

Menggeser kasur menjauh dari titik bocor.

Aku membantu.

“Angkat sisi sana.”

“Aku tahu.”

“Kamu pegangnya salah.”

“Pegang kasur ada salah benar?”

“Kalau punggungmu mau aman, ada.”

Aku mendengus.

Kami mengangkat.

Kasur berat.

Raka bergerak mundur.

Aku maju.

Terlalu cepat.

Jarak kami mendadak dekat.

Tangannya otomatis bergerak ke pinggangku untuk menahan.

Lalu berhenti.

Tidak menyentuh.

Tangannya menggantung beberapa sentimeter dari tubuhku.

Kami sama-sama diam.

Raka menarik tangan.

“Pelan.”

“Ya.”

Kami menurunkan kasur.

Aku pura-pura sibuk mengatur selimut.

Jantungku sedikit terlalu cepat.

Bodoh.

Dia pernah memelukku ribuan kali.

Tidur di sebelahku bertahun-tahun.

Kenapa tangan yang bahkan tidak menyentuh terasa lebih mengganggu?

Mungkin karena sekarang dia tidak punya hak.

Dan dia tahu.

Aku juga.


Pukul tiga, hujan belum berhenti.

Kami duduk di lantai kamar.

Baskom di antara kami.

Tik.

Tik.

Tik.

Ucil tidur di pangkuan Raka.

Pengkhianat.

Listrik masih mati.

Senter diletakkan menghadap dinding sehingga kamar punya sedikit cahaya.

Aku menguap.

Raka melihat.

“Tidur.”

“Di mana?”

“Ruang depan.”

“Air bisa nambah.”

“Aku jaga.”

Aku menatapnya.

“Jangan sok heroik.”

“Aku nggak ngantuk.”

“Kamu bohong.”

“Sedikit.”

Aku menyandarkan kepala ke dinding.

Hening.

Suara hujan.

Suara air masuk baskom.

Suara Ucil mendengkur kecil.

Aneh.

Tidak ada yang romantis.

Aku memakai kaus tidur bergambar alpukat.

Rambutku berantakan.

Raka punya bekas bantal di pipi.

Tapi suasana ini terasa lebih intim daripada makan malam dengan Ardi.

Aku tidak menyukai fakta itu.

“Kamu masih takut gelap?” tanya Raka.

Aku langsung menoleh.

“Aku nggak takut.”

“Dulu kalau mati lampu—”

“Aku nggak takut. Aku cuma nggak suka.”

“Ya.”

“Nada kamu.”

“Apa?”

“Kamu nggak percaya.”

“Aku percaya.”

“Bohong.”

Raka tersenyum.

Aku melihat keluar jendela.

“Kenapa kamu bangun cepat waktu aku chat?”

Dia terdiam.

“Belum tidur.”

“Jam dua?”

“Kerja.”

Aku mengerutkan dahi.

“Sabtu?”

“Deadline.”

“Kerjaan proyek?”

“Ya.”

Aku ingin bertanya lebih banyak.

Berapa lama?

Seberapa sering?

Apakah dia masih bekerja sampai pagi seperti dulu?

Aku tidak bertanya.

Peraturan tiga.

Atau mungkin bukan peraturan.

Mungkin aku takut mendengar jawabannya.

“Ardi baik?”

Pertanyaan itu datang dari Raka.

Aku menoleh.

Dia masih melihat Ucil.

“Peraturan lima.”

“Iya.”

“Kenapa nanya?”

“Entah.”

Aku menunggu.

Raka mengelus kepala Ucil.

“Kamu kelihatan senang waktu pulang.”

Aku mengerutkan dahi.

“Kamu lihat?”

“Rumah kita sebelahan.”

“Rumah kita?”

Raka berhenti.

Kemudian mengoreksi.

“Rumah kita masing-masing.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Dia baik,” jawabku akhirnya.

Raka mengangguk.

“Bagus.”

Lagi.

Aku membenci kata itu.

“Kenapa setiap ngomong Ardi kamu bilang bagus?”

“Karena memang bagus kalau dia baik.”

“Kamu nggak punya opini lain?”

Raka melihatku.

“Harus punya?”

Aku hampir berkata:

Sedikit cemburu kek.

Untung mulutku tidak sebodoh itu.

Aku memeluk lutut.

“Enggak.”

Tik.

Tik.

Tik.

Raka memecah hening.

“Parfummu masih itu?”

Aku tertawa pendek.

“Tidak.”

“Bagus.”

“Nah.”

“Apa?”

“Bagus lagi.”

“Konteksnya beda.”

“Kata lain banyak.”

“Contohnya?”

“Syukurlah.”

“Dramatis.”

“Untung.”

“Mirip.”

“Puji Tuhan.”

Raka tertawa.

Aku ikut.

Pelan.

Kemudian semakin keras ketika baskom kecil mendadak penuh dan air memercik ke kaki Raka.

“Eh!”

Aku buru-buru mengambil baskom.

Raka mencoba berdiri.

Kakinya kesemutan.

Dia hampir jatuh.

Aku tertawa sampai perut sakit.

“Jangan ketawa!”

“Kenapa jalannya begitu?”

“Kesemutan!”

“Kayak robot rusak.”

“Mira.”

Aku tertawa lebih keras.

Raka akhirnya ikut tertawa.

Dan selama beberapa menit kami sibuk memindahkan air, mengganti ember, mengelap lantai, saling menyalahkan, kemudian tertawa lagi.

Pukul empat kurang sepuluh, aku duduk di lantai sambil masih terkikik.

Raka sedang memeras kain.

Dia menoleh kepadaku.

Tatapannya berubah.

Aku berhenti pelan.

“Apa?”

Raka menggeleng.

“Enggak.”

“Ngapain lihat?”

“Enggak ngapa-ngapain.”

Aku tahu ada sesuatu.

Tapi dia tidak mengatakannya.

Dan kali ini aku tidak memaksa.


Pagi datang bersama berhentinya hujan.

Raka naik ke atap setelah matahari keluar.

Aku berdiri di bawah sambil memegangi tangga.

“Jangan jatuh.”

“Tidak.”

“Gentengnya licin.”

“Udah kering.”

“Pelan.”

Raka melihat ke bawah.

“Mira.”

“Apa?”

“Kalau aku jatuh, kamu nangkep?”

Aku menatap tubuhnya.

“Beratmu tujuh puluh kilo.”

“Berarti enggak.”

“Aku telepon ambulans.”

“Romantis.”

“Kita cerai.”

“Oh iya.”

Dia kembali bekerja.

Lima belas menit kemudian selesai.

Genteng memang bergeser.

Raka turun.

Tangannya kotor.

Ada sedikit goresan di lengan.

Aku refleks memegang pergelangan tangannya.

“Ini kenapa?”

Raka melihat tanganku.

Aku juga.

Tanganku masih memegangnya.

Aku melepas.

“Gores genteng,” katanya.

“Cuci.”

“Ya.”

“Kasih antiseptik.”

“Ya.”

Dia mengangkat alis.

Aku menyilangkan tangan.

“Informasi medis.”

Raka tersenyum.

“Semua orang tahu?”

“Semua.”

Dia mengambil toolbox.

Aku berdiri di pintu.

“Makasih.”

“Ya.”

“Serius.”

Raka mengangguk.

“Sama-sama.”

Dia berjalan ke rumah sebelah.

Aku melihat ruanganku.

Baskom.

Ember.

Kasur bergeser.

Kain basah.

Kekacauan.

Tapi untuk pertama kalinya sejak pindah, rumah ini terasa sedikit berbeda.

Mungkin karena seseorang baru saja masuk.

Mungkin karena suara tertawa masih terasa menempel di dinding.

Aku mengambil notebook lemon.

Membuka halaman peraturan.

Di samping nomor satu aku menulis:

DILANGGAR — keadaan darurat.

Aku menatap tulisan itu.

Lalu dari rumah sebelah terdengar Raka berteriak:

“MIRA!”

“Apa?”

“ANTISEPTIKMU MASIH DI KARDUS OBAT?”

Aku menahan senyum.

“IYA!”

“PINJAM!”

Aku melihat aturan nomor dua.

Kemudian mengambil kotak obat.

“INI BARU NAMANYA MELANGGAR!”

Raka menjawab dari balik tembok:

“CATAT AJA!”

Aku tertawa.

Lalu benar-benar mencatatnya.