Chapter Five
Hak Asuh Ucil
POV: Mira
Ucil pulang hari Senin pukul enam sore dan langsung mengkhianatiku pukul enam lewat dua belas.
Aku baru saja membuka pintu carrier ketika kucing oren seberat enam kilo itu keluar dengan langkah angkuh, mengendus ruang tengah selama tujuh detik, lalu berbalik menuju pintu.
“Eh.”
Ucil terus berjalan.
“Cil.”
Dia berhenti.
Menoleh.
Aku menunjuk lantai.
“Rumah kita.”
Ucil berkedip.
Kemudian mengeong.
“Jangan protes. Mama juga masih adaptasi.”
Dia duduk.
Aku tersenyum.
“Pinter.”
Lalu saat aku membungkuk mengambil mangkuk makanannya, Ucil menyelinap di antara kakiku dan keluar.
“UCIL!”
Aku mengejar sampai teras.
Dia sudah melewati pagar.
“CIL!”
Kucing itu berlari tiga meter.
Berhenti tepat di depan rumah 9B.
Kemudian mencakar pintu Raka.
Aku berdiri dengan kedua tangan di pinggang.
Pengkhianat.
Pintu terbuka.
Raka muncul masih mengenakan kemeja kerja.
Ucil langsung masuk.
Tanpa izin.
Tanpa menoleh kepadaku.
Raka melihat kucing itu.
Kemudian aku.
“Bukannya hari ini Senin?”
“Jangan mulai.”
“Aku cuma tanya.”
“Balikin.”
Raka menunduk.
“Cil.”
Tidak ada jawaban.
Dia masuk.
Beberapa detik kemudian muncul sambil menggendong Ucil.
Kucing itu menggantung pasrah di lengannya seperti karung beras.
Raka menyerahkannya.
Ucil mengeong keras.
“Drama,” kataku.
Raka mengelus kepalanya.
“Dia kangen.”
“Baru tiga minggu.”
“Buat kucing lama.”
“Kamu ahli psikologi kucing sekarang?”
“Kelihatan.”
Aku mengambil Ucil.
Dia langsung berusaha kembali ke Raka.
“Cil!”
Raka tertawa.
Aku memelototinya.
“Jangan senang.”
“Aku nggak.”
“Wajahmu.”
“Ini wajah biasa.”
Kalimatku.
Dia mencuri kalimatku.
Aku membawa Ucil pulang.
Menutup pagar.
Mengunci.
Lalu menatap kucing di tanganku.
“Dengar. Hak asuh kamu jelas.”
Ucil menguap.
“Senin sampai Kamis sama Mama.”
Dia menjilat kaki.
“Jumat sampai Minggu sama Papa.”
Aku berhenti.
Papa.
Kata itu keluar begitu saja.
Aku menatap Ucil.
Kemudian tembok sebelah.
Untung Raka sudah masuk.
“Pokoknya begitu.”
Ucil tidak peduli.
Hari pertama berjalan cukup baik setelah insiden pengkhianatan.
Hari kedua, Ucil menemukan bahwa jendela dapur bisa didorong.
Aku pulang kerja dan menemukannya hilang.
Panik selama sebelas menit.
Kemudian Raka mengirim foto.
Ucil tidur di sofa rumahnya.
Caption:
Tahanan perang ditemukan.
Aku membalas:
Kembalikan.
Dia tidur.
Bangunin.
Kejam.
RAKA.
Lima menit kemudian Ucil dikembalikan.
Hari ketiga, Raka membeli ikan.
Aku tahu karena Ucil duduk di depan tembok selama hampir satu jam sambil mengendus.
“Jangan tergoda.”
Ucil menatapku.
“Dia menyuapmu.”
Ucil mengeong.
“Tidak.”
Mengeong lagi.
“Tidak.”
Dia mencakar pintu.
“Ucil.”
Aku akhirnya mengirim pesan.
Kamu masak ikan?
Iya.
Jangan kasih Ucil.
Kenapa?
Nanti dia kebiasaan.
Aku nggak kasih.
Aku melihat Ucil.
Dia masih menatap tembok.
Lima menit kemudian pesan lain masuk.
Tapi kalau dia datang sendiri beda kasus.
Aku langsung berdiri.
JANGAN BUKA PINTU.
Raka mengirim stiker orang hormat.
Aku semakin yakin perceraian membuatnya lebih menyebalkan.
Masalah sebenarnya terjadi Kamis malam.
Pukul sebelas lewat empat puluh tujuh.
Aku sudah tidur.
Ponselku berdering.
Aku membuka mata.
Nomor Raka.
Kutolak.
Berdering lagi.
Kutolak.
Ketiga kali, aku mengangkat.
“Apa?”
Suara Raka terdengar panik.
“Ucil sama kamu?”
Aku langsung duduk.
“Ya sama aku.”
“Cek.”
“Apa?”
“Cek dulu.”
Aku menyalakan lampu.
Ranjang kosong.
Biasanya Ucil tidur dekat kakiku.
Aku turun.
“Cil?”
Tidak ada.
Ruang tengah.
Kosong.
Dapur.
Kosong.
Kamar mandi.
Kosong.
Jendela dapur terbuka sedikit.
Dadaku langsung dingin.
“Rak.”
“Ya?”
“Nggak ada.”
“Aku tadi dengar suara kucing di depan.”
Aku sudah mengambil jaket.
“Kenapa nggak langsung bilang?”
“Aku pikir Ucil di rumahmu.”
“Makanya telepon?”
“Ya.”
Aku membuka pintu.
Raka sudah berdiri di teras membawa senter.
Kami saling pandang.
“Ayo,” katanya.
Tidak ada debat.
Tidak ada peraturan.
Kami keluar.
Mencari kucing tengah malam ternyata membuat perceraian terasa sangat tidak relevan.
Aku berjalan menyusuri gang sambil membawa sebungkus makanan kucing.
“Cil!”
Raka memeriksa bawah mobil.
“Ucil!”
Tidak ada.
Kami sampai ke warung Bu Tati.
Tutup.
Pohon mangga.
Kosong.
Selokan.
Aku mulai panik.
“Rak.”
“Pasti dekat.”
“Kalau keluar kompleks?”
“Gerbang ditutup jam sepuluh.”
“Dia bisa lewat bawah.”
“Mir.”
“Apa kalau ketabrak?”
“Jangan dulu.”
“Kalau ada anjing?”
“Mira.”
“Kalau—”
Raka memegang lenganku.
Aku berhenti.
Tangannya hangat.
Jari-jarinya melingkari bagian atas lenganku persis seperti dulu ketika aku mulai bicara terlalu cepat.
“Lihat aku.”
Aku melihatnya.
“Dia nggak jauh.”
“Gimana kamu tahu?”
“Karena dia gendut.”
Aku menatap Raka.
Dia serius.
“Dia lari dua puluh meter aja ngos-ngosan.”
Aku hampir marah.
Kemudian tertawa.
Sedikit.
Raka melepas tanganku.
Terlalu cepat.
Kami sama-sama melihat bekas tempat tangannya tadi.
“Cari lagi,” kataku.
“Ya.”
Kami berpisah arah.
Lima belas menit.
Tidak ada.
Dua puluh.
Tidak ada.
Aku sudah mulai membayangkan poster kehilangan ketika terdengar suara Raka dari ujung gang.
“Mir!”
Aku berlari.
Raka jongkok di dekat tumpukan pot bekas belakang rumah Bu Tati.
Ada ekor oren.
“UCIL!”
Kucing itu keluar.
Santai.
Seolah kami tidak baru kehilangan lima tahun umur.
Aku langsung mengangkatnya.
“Kamu ke mana?!”
Ucil mengeong.
“Jangan jawab!”
Raka tertawa.
Aku memeluk kucing itu ke dada.
“Ya Allah, Cil.”
Ucil menjilat daguku.
Raka berdiri.
“Ketemu.”
Aku mengangguk.
“Ketemu.”
Kami berjalan pulang.
Aku masih menggendong Ucil.
Raka membawa senter.
Gang sunyi.
Lampu rumah sebagian sudah mati.
Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.
Kemudian Raka berkata, “Jendelanya harus dikasih pengunci.”
“Besok aku beli.”
“Aku punya.”
“Peraturan dua.”
“Ini buat Ucil.”
Aku menatapnya.
“Pengecualian?”
“Darurat anak.”
Aku berhenti berjalan.
Raka juga.
Dia baru sadar apa yang dikatakannya.
Ucil mengeong di antara kami.
Aku menatap wajah Raka.
Dia menggaruk belakang leher.
“Maksudku…”
“Aku tahu.”
“Ya.”
Kami berjalan lagi.
Sampai depan rumah, aku membuka pagar.
Raka berdiri di luar.
“Makasih.”
“Ya.”
Aku melihat Ucil.
Kemudian Raka.
Entah kenapa aku berkata, “Anak kita bikin masalah terus.”
Hening.
Aku membeku.
Raka juga.
Kalimat itu keluar begitu alami sampai aku baru sadar setelah semuanya terlambat.
Anak kita.
Bukan kucingku.
Bukan Ucil.
Anak kita.
Aku segera membuka pintu.
“Maksudku Ucil.”
“Iya.”
“Bukan—”
“Aku tahu.”
“Ya.”
Aku masuk.
Raka masih berdiri di luar.
“Mir.”
Aku menoleh.
“Besok Jumat.”
“Apa?”
Raka menunjuk Ucil.
“Hak asuhku.”
Aku memeluk Ucil lebih erat.
“Baru ketemu udah mau diambil.”
“Dokumen resmi.”
“Jam berapa?”
“Pagi.”
“Aku kerja.”
“Titip sebelum berangkat.”
Aku melihat kucing di tanganku.
Kemudian Raka.
“Jangan kasih ikan banyak.”
“Ya.”
“Jangan kasih snack lebih dari dua.”
“Ya.”
“Kalau muntah—”
“Aku tahu.”
Aku berhenti.
Tentu dia tahu.
Enam tahun.
Raka tahu suara mengeong Ucil kalau lapar.
Tahu obat kutunya.
Tahu posisi yang disukai kalau kukunya dipotong.
Tahu dia takut vacuum cleaner.
Tahu mangkuk biru untuk air dan putih untuk makanan.
Aku tidak perlu menjelaskan.
Dulu kami membesarkannya bersama.
Sekarang kami harus menjadwalkan kapan masing-masing boleh mencintainya.
“Ya udah,” kataku.
“Malam.”
“Malam.”
Aku menutup pintu.
Ucil meronta turun.
Begitu kulepas, dia berlari menuju jendela dapur lagi.
“Jangan macam-macam.”
Aku menguncinya.
Kemudian berdiri beberapa saat di dapur.
Dari balik tembok terdengar pintu rumah Raka ditutup.
Aku melihat Ucil.
“Besok kamu sama dia.”
Ucil duduk.
“Kamu senang?”
Dia mengeong.
Aku mengelus kepalanya.
“Bagus.”
Aku seharusnya senang juga.
Ini cuma jadwal.
Tiga hari.
Minggu malam dia kembali.
Tidak ada yang aneh.
Tapi ketika pagi datang dan aku membawa carrier Ucil ke rumah sebelah, perasaan itu muncul lagi.
Raka membuka pintu.
Masih setengah mengantuk.
Aku menyerahkan carrier.
“Hati-hati.”
“Ya.”
“Makanannya ada di tas.”
“Ya.”
“Vitamin—”
“Di kantong depan.”
Aku menatapnya.
Dia masih ingat.
Raka mengambil carrier.
Ucil langsung mengeong senang ketika melihatnya.
“Dadah, Mama,” kata Raka sambil mengangkat kaki depan Ucil.
Aku mendengus.
“Lebay.”
Tapi aku tersenyum.
Aku berbalik menuju mobil.
Baru beberapa langkah, Raka memanggil.
“Mir.”
Aku menoleh.
Dia berdiri di depan rumah dengan Ucil di tangannya.
Pemandangan yang sangat biasa.
Pemandangan yang dulu kulihat hampir setiap pagi.
Raka biasanya berdiri di pintu sambil menggendong Ucil dan mengingatkanku membawa makan siang.
Aku biasanya menjawab dari dalam mobil.
Delapan tahun rutinitas.
Sekarang dia cuma berkata,
“Hati-hati di jalan.”
Aku menatapnya sebentar.
“Kamu juga.”
Kemudian masuk mobil.
Aku menyalakan mesin.
Tidak langsung pergi.
Di kaca spion, Raka masih berdiri di depan rumah.
Ucil di lengannya.
Seperti dulu.
Bedanya hanya satu.
Aku tidak akan pulang ke rumah mereka malam ini.
- 1 Perceraian yang Sangat Sopan
- 2 Rumah Sebelah
- 3 Perjanjian Tetangga
- 4 Harta Gono-Gini Paling Bodoh
- 5 Hak Asuh Ucil reading
- 6 Kencan Pertama Mira
- 7 Perempuan di Rumah Raka
- 8 Aturan Pertama Dilanggar
- 9 Warung Bu Tati
- 10 Sakit
- 11 Mantan Istri Otomatis
- 12 Foto Lama
- 13 Kondangan
- 14 Satu Payung
- 15 Jangan Baik-Baik Terus