Chapter Six

Kencan Pertama Mira

POV: Mira

“Aku nggak mau.”

“Kamu mau.”

“Nggak.”

“Mau.”

“Santi.”

“Mira.”

Aku menatap sahabatku dari layar laptop.

Santi sedang makan kerupuk sambil menyusui anaknya di luar frame. Wajahnya terlihat sangat tenang untuk seseorang yang sudah menghabiskan dua puluh menit memaksaku pergi berkencan dengan laki-laki asing.

“Namanya Ardi,” katanya.

“Aku tahu.”

“Umur tiga puluh lima.”

“Aku tahu.”

“Kerja di penerbitan juga.”

“Aku tahu.”

“Single.”

“Semoga.”

Santi berhenti mengunyah.

“Ya single lah.”

“Sekarang orang kreatif.”

“Jangan bikin masalah baru yang nggak ada.”

Aku menyandarkan punggung.

“Sant, aku baru cerai.”

“Tiga bulan.”

“Baru.”

“Lo mau nunggu berapa lama?”

“Entah.”

“Sampai Raka nikah lagi?”

Aku langsung menatap layar.

Santi mengangkat alis.

“Apa?”

“Kenapa bawa dia?”

“Karena setiap kali gue ngomong cowok lain, muka lo kayak baru ditagih pajak.”

“Biasa aja.”

“Nah, kalimat favorit lo.”

Aku mendesah.

“Ini bukan soal Raka.”

“Bagus.”

“Memang bukan.”

“Berarti pergi.”

“Santi.”

“Cuma makan.”

Aku diam.

Sebenarnya Ardi bukan orang asing sepenuhnya.

Kami pernah bertemu dua kali dalam acara penerbitan. Dia bekerja sebagai kepala pemasaran di penerbit lain. Orangnya menyenangkan. Tidak terlalu banyak bicara. Tidak pernah mengirim pesan aneh. Dan ketika Santi memberikan nomor teleponku tanpa izin, Ardi bahkan mengawali chat dengan:

Kalau ini bikin nggak nyaman, bilang aja. Saya marahin Santi.

Aku tertawa waktu membacanya.

Kemudian kami mengobrol beberapa hari.

Normal.

Tidak ada rayuan murahan.

Tidak ada foto selamat pagi dengan bunga mawar.

Tidak ada pertanyaan sudah makan belum? setiap tiga jam.

Kemarin dia bertanya apakah aku mau makan malam.

Aku belum menjawab.

“Gue nggak bilang lo harus pacaran,” kata Santi. “Pergi aja. Ngobrol sama manusia baru.”

“Aku ngobrol sama manusia tiap hari.”

“Editor dan penulis yang nanya kenapa naskahnya ditolak bukan manusia baru.”

Aku menutup laptop sedikit.

“Satu kali?”

“Satu kali.”

“Nggak ada ekspektasi?”

“Nggak ada.”

“Kalau aneh aku pulang.”

“Pulang.”

“Kalau aku nggak suka?”

“Jangan ketemu lagi.”

“Kalau—”

“Mira.”

“Apa?”

“Lo boleh menikmati makan malam tanpa menentukan siapa suami kedua lo.”

Aku terdiam.

Kemudian tertawa.

“Oke.”

Santi mengangkat kedua tangan.

“YES.”

“Jangan heboh.”

“Kapan?”

“Sabtu.”

“Jam?”

“Tujuh.”

“Baju?”

“Aku punya.”

“Foto.”

“Tidak.”

“Mira.”

Aku menutup laptop.


Sabtu sore aku berdiri di depan lemari selama dua puluh tiga menit.

Masalahnya bukan tidak punya baju.

Masalahnya terlalu banyak.

Dress terasa berlebihan.

Jeans terlalu santai.

Blus putih terasa seperti rapat.

Hitam terlalu formal.

Aku akhirnya memilih blus hijau tua dan celana krem.

Rambut kubiarkan tergerai.

Sedikit makeup.

Tidak banyak.

Kemudian parfum.

Tanganku mengambil botol berbentuk persegi dari rak.

Aku menyemprot pergelangan.

Sekali.

Leher.

Sekali.

Aku berhenti.

Bersin.

“Hacih!”

Aku menatap botol.

Oh.

Parfum ini.

Dulu Raka selalu—

Tidak.

Aku memasukkan parfum ke tas.

Tidak penting.

Pukul enam lewat empat puluh aku keluar rumah.

Raka sedang menyiram tanaman di depan rumahnya.

Aku tidak tahu sejak kapan dia punya tanaman.

Mungkin Bu Tati kasih.

Dia mengangkat kepala.

Aku berhenti.

Dia melihatku.

Bukan melihat biasa.

Tatapannya bergerak dari rambutku, pakaian, sepatu, kemudian kembali ke wajah.

Hanya dua detik.

Tapi aku melihatnya.

“Apa?” tanyaku.

“Enggak.”

“Kenapa lihat-lihat?”

“Aku punya mata.”

“Pakai dengan sopan.”

Raka kembali menyiram tanaman.

Aku membuka pagar.

“Hacih!”

Aku menutup hidung.

Raka berhenti.

Aku tahu apa yang akan terjadi.

Jangan.

Dia menoleh.

“Kamu pakai parfum itu?”

Aku menghela napas.

“Kenapa?”

“Yang botol kotak?”

“Bukan urusanmu.”

“Berarti iya.”

Aku mengambil kunci mobil.

Raka mematikan keran.

“Itu bikin kamu bersin.”

“Aku tahu.”

“Kenapa dipakai?”

“Karena suka.”

“Dulu kamu berhenti pakai.”

“Sekarang mulai lagi.”

Raka mengangguk.

“Oke.”

Aku membuka pintu mobil.

Dia masih berdiri di sana.

Aku tahu dia ingin bertanya.

Aku menunggu.

Dia tidak bertanya.

Peraturan nomor lima.

Dilarang menanyakan sedang dekat dengan siapa.

Bagus.

Aku seharusnya senang.

Aku masuk mobil.

Sebelum menutup pintu, Raka berkata, “Bawa tisu.”

Aku menatapnya.

“Raka.”

“Apa?”

“Stop.”

“Aku cuma—”

“Stop jadi…”

Aku tidak menyelesaikan kalimat.

Suami?

Bukan.

Raka mengangguk pelan.

“Ya.”

Aku menutup pintu.

Menyalakan mesin.

Entah kenapa suasana hatiku memburuk.


Ardi datang tepat waktu.

Poin plus.

Dia memakai kemeja abu-abu dan tidak membawa bunga.

Poin plus lagi.

“Kamu ternyata datang,” katanya ketika melihatku.

Aku tertawa.

“Memangnya saya kelihatan suka kabur?”

“Santi bilang kemungkinan lima puluh persen.”

“Dia ngomong apa aja?”

“Cukup banyak sampai saya takut salah ngomong.”

Kami duduk.

Restorannya tidak terlalu ramai.

Ardi memilih tempat yang nyaman, bukan restoran romantis dengan lilin yang membuat semua orang terlihat seperti sedang merencanakan lamaran.

Percakapan mengalir.

Pekerjaan.

Buku.

Penulis.

Film.

Kenapa orang masih menggunakan Comic Sans.

Kenapa semua kantor punya satu orang yang selalu reply-all.

Aku tertawa beberapa kali.

Ardi menyenangkan.

Benar-benar menyenangkan.

Kemudian aku bersin.

“Hacih!”

“Bless you.”

“Makasih.”

Dua menit.

“Hacih!”

Ardi mengambil tisu.

“Alergi?”

“Parfum.”

Dia mengerutkan dahi.

“Parfum sendiri?”

“Panjang ceritanya.”

“Kenapa dipakai?”

Aku terdiam.

Pertanyaan yang sama.

Aku tersenyum.

“Lupa.”

Ardi tidak mengejar.

Poin plus lagi.

Makanan datang.

Kami makan.

Dia bercerita pernah hampir menikah empat tahun lalu.

Tidak jadi.

Aku tidak bertanya kenapa sampai dia sendiri menjelaskan bahwa mereka menginginkan kehidupan berbeda.

Tidak ada drama.

Tidak ada kebencian.

“Aneh ya,” katanya. “Kadang orang baik belum tentu cocok hidup bareng.”

Sendokku berhenti.

Aku menatap piring.

“Ya.”

Ardi tampaknya sadar.

“Maaf. Santi bilang kamu—”

“Nggak apa-apa.”

Kalimat itu keluar otomatis.

Aku membenci betapa mudahnya.

Ardi menatapku beberapa detik.

Kemudian mengalihkan topik.

Aku berterima kasih dalam hati.

Malam itu berjalan baik.

Tidak spektakuler.

Tidak buruk.

Baik.

Dan mungkin justru itu yang kubutuhkan.

Ketika selesai, Ardi mengantarku sampai mobil.

“Makasih udah datang.”

“Makasih udah ngajak.”

“Boleh diulang?”

Aku terdiam sebentar.

Tidak ada alasan untuk bilang tidak.

“Aku kabarin?”

Ardi tersenyum.

“Jawaban paling editor.”

Aku tertawa.

“Maaf.”

“Enggak. Fair.”

Kami berpisah.

Aku masuk mobil.

Menatap diriku di kaca.

Tidak terjadi apa-apa.

Aku tidak merasa bersalah.

Tidak merasa sedang mengkhianati siapa pun.

Aku sudah bercerai.

Aku boleh melakukan ini.

Aku bahkan menikmati malamnya.

Lalu aku bersin enam kali berturut-turut.


Pukul sepuluh lewat dua belas aku sampai rumah.

Mataku berair.

Hidung merah.

Kepala mulai berat.

Aku turun dari mobil sambil membawa tas dan satu bungkus makanan yang kubawa pulang.

Lampu rumah Raka masih menyala.

Aku berjalan cepat.

Semoga dia tidak keluar.

Pintu 9B terbuka.

Tentu saja.

Raka muncul membawa kantong sampah.

Dia melihatku.

Berhenti.

Aku terus berjalan.

“Hacih!”

Aku menutup hidung.

Raka menatap.

Jangan.

Aku membuka pagar.

“Mira.”

“Jangan.”

“Bersin?”

Aku menoleh tajam.

Dia menggigit bibir.

Menahan senyum.

“Jangan ketawa.”

“Aku nggak.”

“Kupingmu gerak.”

Raka refleks menyentuh telinga.

Aku berhenti.

Dia berhenti.

Kami saling menatap.

Adegan yang sama.

Gerbang pengadilan.

Tiga bulan lalu.

Untuk sepersekian detik kami berdua mengingatnya.

Raka menurunkan tangan.

Senyumnya hilang sedikit.

“Gimana?”

Aku tahu apa yang dia tanyakan.

Bukan bersinnya.

Kencannya.

Aku memegang tali tas lebih erat.

“Peraturan lima.”

“Benar.”

Dia mengangguk.

“Lupa.”

Raka berjalan menuju tempat sampah.

Aku seharusnya masuk.

Tapi entah kenapa aku berdiri.

“Baik,” kataku.

Dia berhenti.

Menoleh.

Aku melanjutkan, “Kencannya.”

Raka tidak mengatakan apa-apa.

“Orangnya baik.”

“Bagus.”

“Kerjanya penerbitan juga.”

“Oh.”

“Nyambung.”

“Bagus.”

Aku mengerutkan dahi.

“Kenapa bagus terus?”

Raka terlihat bingung.

“Terus harus bilang apa?”

Entah.

Aku juga tidak tahu kenapa aku menceritakan ini.

Mungkin aku ingin melihat sesuatu.

Sedikit perubahan ekspresi.

Sedikit ketidaknyamanan.

Apa saja.

Tapi Raka hanya berdiri sambil membawa kantong sampah.

Tenang.

Sopan.

Lagi.

Aku membenci sopan.

“Ya udah.”

Aku masuk.

“Mira.”

Aku menoleh.

Raka menunjuk hidungku.

“Cuci parfum sebelum tidur.”

Aku langsung kesal.

“Kamu bukan suamiku.”

Kalimat itu keluar lebih keras daripada yang kumaksudkan.

Raka diam.

Wajahnya tidak berubah banyak.

Tapi cukup.

Aku langsung menyesal.

Dia mengangguk.

“Iya.”

Hanya itu.

Iya.

Raka membuang sampah.

Masuk rumah.

Pintunya menutup.

Aku berdiri sendiri di teras.

“Hacih!”

Aku mengusap hidung.

“Bagus,” gumamku.

Aku masuk rumah.

Mandi.

Mencuci parfum sampai aromanya hilang.

Bersinku berhenti.

Aku duduk di ujung ranjang.

Ponsel berbunyi.

Ardi.

Sudah sampai?

Aku membalas:

Sudah. Makasih buat malam ini.

Dia:

Sama-sama. Semoga alerginya nggak makin parah 😄

Aku tersenyum.

Kemudian layar menampilkan notifikasi lain.

Bukan pesan.

Pengingat kalender.

Besok — Ambil Ucil dari Raka.

Aku menatapnya.

Rumah sebelah sunyi.

Aku berbaring.

Malam ini aku pergi berkencan dengan laki-laki baik.

Dia membuatku tertawa.

Dia mendengarkan.

Dia tidak melakukan kesalahan apa pun.

Dan tetap saja, sebelum tidur, kalimat yang terus terulang di kepalaku justru satu kata dari Raka.

Iya.

Kamu bukan suamiku.

Iya.

Aku menarik selimut sampai dada.

Untuk pertama kalinya aku mulai curiga bahwa menjadi mantan mungkin jauh lebih rumit daripada menjadi istri.