Chapter One
Perceraian yang Sangat Sopan
POV: Mira
Perceraian kami selesai pukul sebelas lewat tujuh belas menit.
Aku tahu karena tepat ketika hakim mengatakan sesuatu tentang putusan yang sudah berkekuatan—atau belum berkekuatan, entahlah, aku tidak benar-benar mendengarkan—jam digital di dinding menunjukkan angka 11:17.
Aku sempat berpikir itu lucu.
Delapan tahun pernikahan.
Dua ribu sembilan ratus sekian hari tinggal serumah.
Empat kali pindah kontrakan sebelum akhirnya punya rumah sendiri.
Satu kucing.
Satu kredit mobil yang lunas lebih cepat karena Raka terlalu takut punya utang.
Tiga puluh tujuh pertengkaran yang masih kuingat.
Mungkin ratusan yang sudah kulupakan.
Dan semuanya resmi selesai pada hari Selasa, pukul sebelas lewat tujuh belas menit.
Tidak ada petir.
Tidak ada hujan.
Tidak ada lagu sedih dari suatu tempat.
AC ruang sidang malah terlalu dingin dan lelaki di depanku—mantan suamiku sekarang, kurasa—sedang sibuk memasukkan pulpen ke dalam saku kemejanya.
Pulpenku.
Aku menatap benda itu.
“Rak.”
Raka menoleh.
“Pulpen.”
Dia melihat saku dadanya.
“Oh.”
Dia mengambil pulpen biru itu dan menyerahkannya kepadaku.
“Maaf.”
Aku menerimanya.
“Makasih.”
“Sama-sama.”
Kemudian kami diam.
Aku memandangi pulpen di tanganku.
Bahkan lima menit setelah resmi bercerai, percakapan kami tetap terdengar seperti dua orang yang baru selesai rapat kantor.
Makasih.
Sama-sama.
Maaf.
Permisi.
Hati-hati.
Tolong.
Delapan tahun lalu, lelaki yang sama pernah mengejarku di parkiran minimarket sambil membawa satu sandal karena sandal sebelahku nyangkut di pijakan motor.
Sekarang kami bahkan mengembalikan pulpen dengan sopan.
Kuputar pulpen itu di antara jari.
Mungkin ini memang alasan kami sampai di sini.
“Mau langsung pulang?” tanya Raka.
Aku mengangkat kepala.
Dia masih sama.
Kemeja biru tua. Lengan dilipat sampai siku. Rambut bagian depan sedikit terlalu panjang karena dia pasti belum sempat cukur sejak minggu lalu. Ada garis tipis kelelahan di bawah matanya.
Aku tahu dia tidur kurang dari enam jam.
Bukan karena sekarang aku masih istrinya.
Aku hanya hafal.
“Belum tahu,” jawabku.
Raka mengangguk.
Lalu kami berjalan keluar gedung pengadilan bersama.
Bersama.
Kata itu terasa salah sekarang.
Di lorong, pasangan lain sedang bertengkar dengan suara tertahan. Seorang perempuan menangis. Seorang laki-laki berjalan cepat meninggalkan seseorang yang mungkin beberapa menit lalu masih istrinya.
Aku tidak tahu cerita mereka.
Mungkin ada pengkhianatan.
Mungkin ada kebencian.
Mungkin salah satu dari mereka sudah menunggu hari ini bertahun-tahun.
Aku sempat iri.
Setidaknya mereka terlihat tahu apa yang harus dirasakan.
Aku?
Aku cuma lapar.
Kami sampai di halaman depan.
Panas siang langsung menyergap.
Raka otomatis berdiri sedikit di sebelah kananku, membuat tubuhnya menutup sebagian matahari.
Aku baru menyadarinya setelah tiga langkah.
Dia juga.
Raka bergeser.
Aku pura-pura tidak melihat.
“Motormu di mana?” tanyaku.
“Belakang.”
“Kenapa parkir belakang?”
“Depan penuh.”
“Kan tadi ada—”
Aku berhenti.
Tidak penting.
Aku sudah bukan orang yang perlu mengomentari keputusan parkirnya.
“Kenapa?”
“Nggak.”
Raka memandangiku sepersekian detik lebih lama.
Aku tahu tatapan itu.
Tatapan kamu sebenarnya mau ngomong apa?
Dulu, kalau sedang baik-baik saja, dia akan menunggu.
Kalau sedang capek, dia cuma berkata, ya sudah.
Hari ini dia tidak melakukan keduanya.
Kami melanjutkan berjalan.
Sampai di gerbang, perutku berbunyi.
Keras.
Sangat keras.
Aku menutup mata.
Dari sebelah terdengar suara Raka menahan tawa.
“Jangan,” kataku.
“Aku nggak ngomong apa-apa.”
“Kamu ketawa.”
“Enggak.”
“Kupingmu gerak.”
Raka langsung menyentuh telinganya.
Aku menatapnya.
Dia sadar.
“Bohong,” katanya.
Aku tertawa kecil.
Hanya sekali.
Lalu mendadak kami sama-sama diam.
Tawa itu terasa seperti barang lama yang tanpa sengaja ditemukan di dasar kardus.
Aku berdeham.
“Kamu udah makan?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Sidang jam sembilan.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku bangun kesiangan.”
“Kamu masih suka matiin alarm?”
“Alarmku rusak.”
“Alarm nggak bisa rusak kalau tiap pagi kamu pencet snooze tujuh kali.”
Raka mengerutkan dahi.
“Bukannya kita baru cerai?”
“Nah, bagus. Berarti mulai besok bangun kesiangan bukan urusanku.”
“Mulai besok?”
Aku menatapnya.
“Salah ngomong.”
“Hmm.”
“Jangan senyum.”
“Aku nggak senyum.”
Dia memang tidak senyum.
Tapi sudut bibirnya bergerak.
Aku membenci bahwa aku masih tahu bedanya.
Kami sudah sampai dekat parkiran ketika aroma kuah kaldu dari seberang jalan datang bersama angin.
Warung bakso.
Aku melihat ke sana.
Raka juga.
Kemudian dia memandangiku.
Aku memandangnya balik.
“Jangan.”
“Aku belum ngomong.”
“Kamu mau ngajak makan.”
“Aku cuma lihat bakso.”
“Kamu kalau lapar lihat bakso kayak lihat jalan keluar dari utang.”
“Itu fitnah.”
“Delapan tahun aku tinggal sama kamu.”
“Dan sekarang sudah selesai.”
Dia mengucapkannya ringan.
Tapi entah kenapa kalimat itu terasa seperti ada sesuatu yang mengetuk bagian tengah dadaku.
Tidak keras.
Cuma sekali.
Aku mengalihkan pandangan.
“Ya.”
Raka diam beberapa detik.
“Makan dulu?”
Aku seharusnya bilang tidak.
Ada aturan tak tertulis tentang perceraian, bukan?
Setelah keluar dari pengadilan, masing-masing pergi ke arah berlawanan.
Perempuan menelepon sahabatnya.
Laki-laki mungkin merokok di parkiran.
Kalau cukup dramatis, salah satu menangis di dalam taksi.
Tidak ada bagian di mana mantan suami-istri makan bakso bersama karena sama-sama belum sarapan.
Tapi perutku berbunyi lagi.
Raka mengangkat alis.
Aku mendesah.
“Satu mangkuk.”
“Ya.”
“Terus pulang masing-masing.”
“Ya.”
“Dan kamu bayar sendiri.”
Raka terdiam.
“Kok aku bayar sendiri?”
Aku menatapnya.
Dia menatapku.
Kemudian kami berdua sadar.
Selama delapan tahun, hampir tidak pernah ada konsep bayar sendiri.
Entah aku yang bayar, dia yang bayar, atau uangnya dari rekening yang sama.
Raka mengambil dompet.
“Ya,” katanya pelan. “Bayar sendiri.”
Kami menyeberang.
Warung itu kecil dan panas.
Ada kipas angin yang berputar dengan bunyi cek-cek-cek seolah sebentar lagi baling-balingnya akan terlepas dan membunuh seseorang.
Kami duduk berhadapan.
Kesalahan pertama.
Seharusnya kami duduk berjauhan.
Atau minimal menyamping.
Tapi tubuh punya kebiasaan sendiri. Raka menarik kursi di seberangku seperti yang selalu dia lakukan.
Ibu penjual datang.
“Dua, Mas?”
Raka menatapku.
Aku berkata, “Dua.”
Ibu itu tersenyum.
“Kayak biasa?”
Aku membeku.
Raka juga.
Ternyata kami pernah makan di sini.
Aku tidak ingat kapan.
Mungkin saat mengurus berkas beberapa minggu lalu.
Raka berkata, “Yang satu nggak pakai seledri.”
Aku langsung menatapnya.
Dia terlihat bingung.
“Kenapa?”
“Aku bisa pesan sendiri.”
“Oh.”
Si ibu sudah pergi.
Raka mengambil tisu.
“Refleks.”
“Ya.”
Kami diam.
Lima detik.
Sepuluh.
Aku membuka ponsel.
Tidak ada pesan penting.
Santi sudah mengirim tujuh pesan sejak pagi.
GIMANA?
UDAH?
MIR?
JANGAN TIBA-TIBA BALIKAN DI PENGADILAN.
Aku mematikan layar.
“Siapa?” tanya Raka.
“Santi.”
“Oh.”
“Kamu?”
“Doni.”
“Nanya apa?”
“Udah jadi duda apa belum.”
Aku hampir tertawa.
“Habis itu?”
“Dia kirim stiker orang joget.”
“Kejam.”
“Dia ngajak makan malam.”
“Kamu mau?”
“Belum tahu.”
Aku mengangguk.
Kenapa aku bertanya?
Tidak tahu.
Bakso datang.
Punyaku tidak pakai seledri.
Punya Raka penuh saus tapi belum diberi sambal.
Tanganku hampir mengambil botol sambal.
Aku berhenti.
Raka melihat.
Aku menarik tangan.
Dia mengambil sambalnya sendiri.
Satu sendok.
Dua.
Aku mengerutkan dahi.
“Besok perutmu—”
Aku berhenti lagi.
Raka menahan sendok ketiga di udara.
Kami saling pandang.
“Apa?” tanyanya.
“Nggak.”
Dia memasukkan sendok ketiga.
Aku langsung kesal.
Tapi aku tidak mengatakan apa-apa.
Bukan urusanku.
Mulai hari ini, bukan urusanku.
Aku makan.
Tiga menit kemudian Raka berkeringat.
“Pedas?” tanyaku.
“Enggak.”
“Kupingmu merah.”
“Kuping nggak ada hubungannya sama pedas.”
“Sejak kapan?”
“Sejak kita cerai.”
Aku mendengus.
Dia tersenyum.
Sialan.
Makan siang itu berjalan jauh lebih normal daripada seharusnya.
Kami membicarakan hal-hal kecil.
Surat rumah yang masih harus diurus.
Sisa uang penjualan rumah.
Mobil yang sudah resmi jadi milikku.
Motor yang jadi miliknya.
Barang-barang yang akan diambil akhir minggu.
Tidak ada satu pun pembicaraan tentang perasaan.
Mungkin karena sudah terlambat.
Mungkin karena itulah kebiasaan kami.
Ketika mangkuk kami kosong, aku memandangi sendok.
“Rak.”
“Hm?”
Aku sebenarnya ingin bertanya sesuatu.
Aku tidak tahu apa.
Atau mungkin aku tahu.
Aku ingin bertanya:
Kamu sedih nggak?
Atau:
Semalam kamu tidur?
Atau:
Waktu hakim ngomong tadi, kamu ngerasa apa?
Atau mungkin pertanyaan paling memalukan:
Apa kamu yakin?
Tapi lidahku memilih jalur yang sudah dikenalnya bertahun-tahun.
“Berkas pajak rumah masih sama kamu, kan?”
Raka mengangguk.
“Masih.”
“Oh.”
“Nanti kukirim.”
“Ya.”
Selesai.
Begitulah kami.
Aku membayar bakso sendiri.
Raka membayar baksonya sendiri.
Hal sekecil itu terasa lebih resmi daripada ketukan palu hakim.
Di depan warung kami berdiri beberapa detik.
“Aku ke belakang,” kata Raka. “Ambil motor.”
“Ya.”
“Kamu?”
“Pesan taksi online.”
“Mobil?”
“Masih di apartemen Santi. Aku malas bawa ke sini.”
Raka mengangguk.
“Hati-hati.”
Aku hampir tertawa.
Tentu saja.
Hati-hati.
Kalimat penutup pernikahan kami.
“Kamu juga.”
Dia berjalan tiga langkah.
“Rak.”
Raka berhenti dan menoleh.
Aku tidak tahu kenapa memanggilnya.
Mungkin karena selama delapan tahun, setiap kali dia berjalan meninggalkanku, aku selalu punya alasan untuk memanggil kembali.
Dompet.
Kunci.
Bekal.
Jaket.
Payung.
Cium dulu.
Hari ini tidak ada alasan.
Raka menunggu.
Aku memasukkan tangan ke tas.
“Jangan lupa berkas pajak.”
“Oh.”
Dia mengangguk.
“Oke.”
Lalu pergi.
Aku berdiri di bawah matahari sambil melihat punggungnya menjauh.
Tidak ada adegan dramatis.
Dia tidak menoleh.
Aku juga tidak mengejar.
Teleponku bergetar.
Santi.
Udah selesai?
Aku mengetik:
Udah.
Tiga titik muncul.
Lo gimana?
Aku menatap pertanyaan itu cukup lama.
Kemudian mengetik jawaban yang paling kukenal.
Nggak apa-apa.
Kukirim.
Dan entah kenapa, tepat setelah pesan itu terkirim, dadaku terasa jauh lebih sesak daripada ketika hakim menyatakan pernikahan kami selesai.
- 1 Perceraian yang Sangat Sopan reading
- 2 Rumah Sebelah
- 3 Perjanjian Tetangga
- 4 Harta Gono-Gini Paling Bodoh
- 5 Hak Asuh Ucil
- 6 Kencan Pertama Mira
- 7 Perempuan di Rumah Raka
- 8 Aturan Pertama Dilanggar
- 9 Warung Bu Tati
- 10 Sakit
- 11 Mantan Istri Otomatis
- 12 Foto Lama
- 13 Kondangan
- 14 Satu Payung
- 15 Jangan Baik-Baik Terus