Chapter Three
Perjanjian Tetangga
POV: Mira
Perang pertama kami sebagai mantan suami-istri dimulai gara-gara motor.
Pukul enam lewat empat belas menit pagi, aku membuka pagar rumah untuk berangkat kerja dan menemukan motor Raka diparkir tepat di depan separuh pintu pagarku.
Aku berdiri di sana masih mengenakan satu sepatu.
Satu kaki lainnya telanjang.
Tas kerja menggantung di bahu.
Rambut belum sepenuhnya kering.
Dan mood-ku, yang sebenarnya cukup baik ketika bangun, langsung mati.
Aku memandang motor itu.
Kemudian rumah 9B.
Motor.
Rumah.
Motor.
Aku menarik napas.
Kami sudah dewasa.
Kami sudah bercerai dengan damai.
Kami bisa menyelesaikan masalah kecil seperti dua manusia rasional.
Aku mengambil ponsel.
Mencari nama Raka.
Jempolku berhenti.
Kontaknya masih tersimpan sebagai:
Raka ❤️
Aku menatap layar.
Kenapa masih ada hati?
Aku bahkan tidak ingat kapan menambahkannya.
Mungkin tahun kedua menikah.
Mungkin saat dia protes karena namanya cuma “Raka” sementara Santi tersimpan sebagai “Santi Cantik Jangan Mati”.
Aku membuka edit kontak.
Menghapus hati.
Sekarang hanya:
Raka
Lebih baik.
Tapi masih terasa terlalu dekat.
Aku hampir menggantinya menjadi Raka Mantan Suami, lalu merasa itu lebih memalukan.
Akhirnya kutekan panggil.
Nada sambung.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak diangkat.
Aku menutup telepon.
Menatap rumah.
Kemudian mengetuk pintunya.
Tidak ada jawaban.
Ketuk lagi.
“Rak.”
Hening.
“Raka.”
Tidak ada.
Aku menekan bel.
Sekali.
Dua kali.
Lima kali.
Akhirnya terdengar langkah kaki.
Pintu terbuka.
Raka berdiri dengan rambut berantakan, kaus kusut, dan wajah orang yang baru saja dibangunkan dari mimpi terbaik dalam hidupnya.
Matanya cuma terbuka setengah.
“Apa?”
“Motor.”
Dia menatapku.
“Kenapa motor?”
“Ngalangin pagar.”
Raka melihat ke arah motor.
“Oh.”
“Oh?”
“Iya, bentar.”
Dia berbalik.
Aku menahan pintu.
“Sekarang.”
“Aku ambil kunci.”
“Cepat.”
Raka mengusap wajah.
“Mira, jam enam.”
“Jam enam lewat empat belas.”
“Kenapa kamu tahu tepat banget?”
“Karena aku mau kerja.”
“Masuk jam sembilan.”
“Dan kantor satu jam.”
“Masih dua jam empat puluh enam menit.”
Aku memelototinya.
Dia terlihat sedikit lebih sadar sekarang.
“Kenapa kamu hafal jam kantorku?”
Raka diam.
Aku juga.
Sial.
Dia berdeham.
“Kebiasaan.”
“Ya, hilangkan.”
“Lagi proses.”
Dia masuk mengambil kunci.
Aku kembali ke pagar.
Beberapa detik kemudian dia keluar memakai sandal.
Dia memindahkan motor.
Tidak jauh.
Hanya sedikit ke kanan.
Aku mengerutkan dahi.
“Lebihin.”
“Udah nggak ngalangin.”
“Spionnya masih masuk garis pagar.”
“Motorku kecil.”
“Prinsipnya.”
“Prinsip apa?”
“Jangan masuk wilayahku.”
Raka menatap garis imajiner di antara dua rumah.
Kemudian kepadaku.
“Oke.”
Dia memindahkan motor.
Dua sentimeter.
Aku menatap.
“Serius?”
“Sekarang nggak masuk.”
“Kamu sengaja?”
“Enggak.”
“Raka.”
“Udah lewat garis.”
“Dua senti.”
“Secara hukum dua senti tetap dua senti.”
Aku menunjuk dia.
“Jangan mulai.”
“Yang mulai kamu.”
Aku menarik napas.
Panjang.
Sangat panjang.
Kemudian masuk mengambil sepatu satunya.
Aku pulang pukul tujuh malam dengan kepala sakit.
Hari pertamaku kembali bekerja setelah mengambil cuti beberapa hari untuk pindahan dipenuhi rapat, revisi naskah, dan tiga penulis yang semuanya merasa tanda koma adalah bentuk penindasan artistik.
Aku hanya ingin mandi.
Makan.
Tidur.
Urutan itu penting.
Aku membuka pagar.
Berhenti.
Ada jemuran.
Bukan jemuranku.
Satu kaus hitam menggantung di tali yang entah bagaimana membentang melewati batas antara rumahku dan rumah Raka.
Ujung kaus itu masuk ke wilayah terasku.
Aku menatapnya.
Tidak.
Tidak mungkin aku akan mempermasalahkan ini.
Aku sudah tiga puluh dua tahun.
Aku perempuan profesional.
Aku membayar pajak.
Aku punya BPJS.
Aku tidak akan bertengkar karena ujung kaus.
Aku masuk.
Mandi.
Keluar.
Melihat dari jendela.
Kaus masih ada.
Aku membuat mi.
Makan.
Melihat lagi.
Masih ada.
Pukul delapan lewat dua puluh aku keluar.
Mengetuk pintu sebelah.
Raka membuka.
Kali ini memakai celana kerja dan sedang mengeringkan rambut dengan handuk.
“Apa?”
Aku menunjuk jemuran.
“Bajumu.”
Dia melihat.
“Kenapa?”
“Masuk rumahku.”
Dia menatap kaus itu.
“Mira.”
“Apa?”
“Itu kain.”
“Aku tahu.”
“Dia nggak punya kewarganegaraan.”
“Jangan bercanda.”
“Aku serius.”
“Ambil.”
“Besok juga kering.”
“Ambil sekarang.”
Raka berjalan keluar.
Mengambil kaus.
Aku puas.
Kemudian mataku tertuju pada sesuatu di tangannya.
Handuk.
Handuk abu-abu tua.
Handukku.
“Eh.”
Raka berhenti.
“Itu punya aku.”
Dia melihat handuk.
“Ini?”
“Iya.”
“Bukannya punya aku?”
“Aku yang beli.”
“Yang bayar aku.”
“Pilih motifnya aku.”
“Dipakai aku.”
“Karena kamu nyolong.”
“Aku pakai ini dari rumah lama.”
“Makanya.”
Raka menatap handuk itu.
Kemudian aku.
“Kamu mau?”
Aku membuka mulut.
Sebenarnya tidak.
Aku punya empat handuk.
Tapi sekarang prinsip.
“Iya.”
Dia menyerahkan.
Aku mengambil.
Kemudian kami berdiri di teras masing-masing sambil menatap satu sama lain.
“Ini nggak bisa begini,” kataku.
Raka mengangguk.
“Setuju.”
“Kita perlu batas.”
“Pagar?”
“Bukan pagar.”
“Tembok?”
“Raka.”
“Iya.”
Aku menyilangkan tangan.
“Kita bikin aturan.”
Dia menatapku selama dua detik.
“Serius?”
“Sangat.”
“Peraturan bertetangga?”
“Peraturan mantan suami-istri yang kebetulan tinggal sebelahan.”
Raka menghela napas.
“Kenapa aku merasa ini bakal panjang?”
“Karena kamu kenal aku.”
Sesuatu berubah di wajahnya.
Sangat kecil.
Aku segera menambahkan:
“Dulu.”
Dia mengangguk.
“Ya.”
Aku masuk rumah.
Mengambil notebook.
Lima belas menit kemudian kami duduk di dua kursi plastik di teras tengah.
Bukan terasku.
Bukan teras Raka.
Area semen kecil di antara pagar.
Wilayah netral.
Aku membuka notebook.
Raka membawa kopi.
Satu untuk dia.
Satu untuk—
Aku melihat gelas kedua.
Dia melihat gelas itu juga.
“Refleks,” katanya.
Aku mengambilnya.
“Gulanya?”
“Setengah.”
Tepat seperti yang kusuka.
Aku tidak bilang apa-apa.
Aku membuka halaman pertama.
“Peraturan satu.”
Raka menyandarkan punggung.
“Silakan, Yang Mulia.”
“Dilarang masuk rumah tanpa izin.”
“Setuju.”
Aku menulis.
1. Dilarang masuk rumah tanpa izin.
“Kecuali darurat,” tambah Raka.
“Darurat apa?”
“Kebakaran.”
“Ya jelas.”
“Gempa.”
“Iya.”
“Kamu jatuh.”
Aku berhenti menulis.
“Kenapa aku jatuh?”
“Contoh.”
“Cari contoh lain.”
Raka mengangkat tangan.
“Lanjut.”
“Nomor dua. Dilarang pinjam barang.”
Dia menunjuk gelasku.
Aku melihat kopi.
“Mulai besok.”
Raka mendengus.
Kutulis:
2. Dilarang meminjam barang.
“Nomor tiga. Dilarang ikut campur kehidupan pribadi.”
“Definisi ikut campur?”
“Ya ikut campur.”
“Terlalu luas.”
“Contoh: aku pergi sama siapa bukan urusanmu.”
Raka terdiam sepersekian detik.
Kemudian mengangguk.
“Dan kalau aku bawa orang ke rumah, bukan urusanmu.”
Aku menekan ujung pulpen sedikit terlalu keras.
“Ya.”
“Bagus.”
“Bagus.”
Aku menulis.
3. Dilarang ikut campur kehidupan pribadi masing-masing.
“Nomor empat,” kataku. “Dilarang pakai panggilan lama.”
Raka mengerutkan dahi.
“Panggilan lama apa?”
Aku menatapnya.
Dia benar-benar bertanya?
“Ya... panggilan waktu nikah.”
“Aku manggil kamu Mira.”
“Bukan itu.”
“Apa?”
Aku diam.
Raka berpikir.
Kemudian matanya sedikit membesar.
“Oh.”
“Ya.”
Dia menunduk ke kopi.
Kami dulu punya beberapa panggilan bodoh.
Tidak perlu dibahas.
Sama sekali tidak perlu.
“Setuju,” katanya.
Kutulis cepat.
4. Dilarang menggunakan panggilan sewaktu menikah.
“Nomor lima. Dilarang tanya sedang dekat dengan siapa.”
Raka menatapku.
“Kita sudah punya nomor tiga.”
“Ini spesifik.”
“Kenapa harus spesifik?”
“Supaya jelas.”
“Mira.”
“Apa?”
“Kamu editor. Bukan notaris.”
“Tanda tangan nanti.”
Raka menatap langit.
Aku menulis.
5. Dilarang menanyakan sedang dekat dengan siapa.
“Nomor enam.”
Aku berhenti.
“Ucil.”
Raka langsung duduk lebih tegak.
“Nah.”
Ini masalah serius.
Ucil adalah satu-satunya hal dalam perceraian kami yang hampir membuat proses pembagian harta berubah menjadi perang saudara.
Rumah bisa dijual.
Mobil bisa dibagi.
Tabungan bisa dihitung.
Tapi kucing oren gendut yang kami adopsi dari selokan enam tahun lalu ternyata tidak mengenal konsep harta bersama.
“Empat hari aku,” kataku.
“Tiga hari aku.”
“Kenapa kamu yang tiga?”
“Karena kamu kerja kantor. Aku lebih sering di proyek tapi bisa pulang fleksibel.”
“Justru aku malam selalu di rumah.”
“Aku juga.”
“Jumat sampai Minggu kamu sering keluar.”
“Sekarang enggak.”
“Dulu iya.”
Raka menatapku.
“Kita membahas sekarang.”
Benar.
Aku menarik napas.
“Senin sampai Kamis aku.”
“Jumat sampai Minggu aku.”
“Kalau sakit?”
“Siapa yang bisa jaga.”
“Vaksin?”
“Bareng.”
“Makanan?”
“Patungan.”
Aku mengangguk.
6. Hak asuh Ucil: Senin–Kamis Mira, Jumat–Minggu Raka. Biaya medis dan makanan dibagi dua.
Raka membaca.
“Kayak anak.”
Tanganku berhenti.
Dia juga sadar.
Kami diam.
Aku meneruskan menulis.
“Nomor tujuh. Tupperware hijau punya aku.”
Raka langsung protes.
“Kenapa?”
“Itu hadiah kantor.”
“Kantormu kasih Tupperware satu set?”
“Iya.”
“Yang hijau aku yang pakai.”
“Bukan berarti punya kamu.”
“Empat tahun aku bawa bekal pakai itu.”
“Dan empat tahun aku yang cuci.”
“Itu tidak relevan.”
“Sangat relevan.”
Raka menggeleng.
“Tupperware hijau punya aku.”
Aku mengetuk notebook.
“Namaku yang tulis.”
“Itu diktator.”
“Silakan bikin dokumen sendiri.”
Dia menatapku.
“Fine.”
Kutulis:
7. Tupperware hijau milik Mira.
Raka bergumam sesuatu.
“Apa?”
“Tidak ada.”
“Nomor delapan. Air fryer punya kamu.”
Dia berkedip.
“Lho.”
“Aku nggak pakai.”
“Kamu yang minta beli.”
“Aku salah.”
“Kamu pakai dua kali.”
“Makanya.”
Raka seperti ingin tersinggung tapi tidak punya dasar.
Kutulis:
8. Air fryer milik Raka.
“Nomor sembilan,” kataku. “Streaming.”
“Apa?”
“Keluar dari akun Netflix-ku.”
“Itu akun aku.”
“Emailnya aku.”
“Kartunya aku.”
“Kamu sudah blokir kartunya.”
“Belum.”
Aku menatap dia.
“Belum?”
“Lupa.”
Aku langsung mengambil ponsel.
“Raka!”
“Besok aku ganti.”
“Sekarang.”
“Aku nggak hafal nomor kartu.”
“Kartu siapa yang sekarang dipakai?”
“Punyaku.”
“Ya hapus.”
“Besok.”
Aku menulis dengan tekanan besar:
9. Semua akun streaming WAJIB dipisah.
Raka tertawa.
“Kenapa hurufnya kapital?”
“Supaya kamu baca.”
“Aku bisa baca huruf kecil.”
“Bukti menunjukkan sebaliknya.”
Aku menutup notebook.
“Selesai.”
Raka mengulurkan tangan.
“Lihat.”
Aku menyerahkan notebook.
Dia membaca dari atas.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sampai sembilan.
Kemudian mengernyit.
“Kurang satu.”
“Apa?”
“Kalau peraturan harus genap.”
“Siapa bilang?”
“Biar bagus.”
“Aku nggak punya nomor sepuluh.”
Raka menyerahkan notebook.
“Ya pikirin.”
Aku mengambilnya.
Entah kenapa, tanpa berpikir lama, aku menulis:
10. Dilarang balikan.
Tanganku berhenti.
Aku membaca kalimat itu.
Raka juga.
Tiba-tiba udara di antara kami berubah.
Tidak lagi seperti rapat tetangga.
Tidak lagi lucu.
Aku hampir mencoretnya.
Tapi Raka mengambil pulpen dari tanganku.
Di bawah kalimat itu, dia menulis dengan huruf kapital:
SETUJU BANGET.
Aku menatap tulisan itu.
Kemudian dia.
“Setuju banget?”
Raka menyerahkan pulpen.
“Kamu yang bikin.”
“Ya nggak usah antusias.”
“Lho?”
“Bisa cuma tulis setuju.”
“Bedanya?”
“Banget.”
Raka mulai tersenyum.
Aku langsung tahu dia menikmati ini.
“Kenapa kamu tersinggung?”
“Aku nggak tersinggung.”
“Mukamu.”
“Mukaku kenapa?”
“Kayak tersinggung.”
“Ini muka biasa.”
“Oke.”
“Oke apanya?”
“Tidak ada.”
Aku menutup notebook keras.
“Kita tanda tangan.”
“Serius?”
“Serius.”
Aku menulis nama.
Mira Anindyani.
Menyerahkan pulpen.
Raka menandatangani.
Raka Pradipta.
Kami memandangi dua tanda tangan di bawah sepuluh aturan absurd itu.
Lucu.
Tanda tangan kami pernah berdampingan di buku nikah.
Di akad kredit.
Di sertifikat rumah.
Di formulir asuransi.
Kemudian tiga minggu lalu, di dokumen perceraian.
Sekarang di buku tulis bergambar lemon yang kubeli lima belas ribu rupiah.
“Aku foto,” kataku.
“Buat apa?”
“Bukti.”
“Bukti ke siapa?”
“Kalau kamu melanggar.”
“Pengadilannya Bu Tati?”
Aku tertawa.
Tidak sengaja.
Raka ikut tertawa.
Dan selama beberapa detik, teras kecil itu terasa terlalu familiar.
Aku berhenti lebih dulu.
Mengambil gelas kopi.
Sudah hampir habis.
“Kamu masih bikin kopi yang sama,” kataku tanpa berpikir.
Raka memandang gelasnya.
“Kamu juga masih minum yang sama.”
Aku menelan sisa kopi.
“Ya.”
Kami diam.
Dari ujung gang terdengar motor lewat.
Televisi dari rumah Bu Tati sedang menyiarkan sinetron.
Ada anak menangis karena balonnya pecah.
Kehidupan biasa.
Aku menatap sepuluh aturan di notebook.
Mungkin ini bagus.
Mungkin kami memang membutuhkan batas.
Kami sudah gagal menjadi suami-istri.
Setidaknya kami bisa belajar menjadi tetangga.
Aku berdiri.
“Aku masuk.”
Raka mengangguk.
“Malam.”
“Malam.”
Aku mengambil notebook.
Berjalan ke pintu rumah.
“Mira.”
Aku menoleh.
Raka menunjuk tanganku.
“Kamu bawa gelasku.”
Aku melihat gelas kopi.
Benar.
Aku kembali.
Menyerahkannya.
“Peraturan dua,” kata Raka.
Aku mendengus.
“Belum berlaku lima menit.”
“Tidak ada masa tenggang.”
“Nyebelin.”
Dia menerima gelas.
Aku berbalik lagi.
“Mira.”
Aku menoleh dengan kesal.
“Apa lagi?”
Raka menunjuk bahuku.
Ada handuk abu-abu.
Handuk yang kemarin kuambil darinya.
Aku menatap handuk itu.
Kemudian dia.
“Ini punya aku.”
Raka menyilangkan tangan.
“Katanya karena kamu yang beli.”
“Iya.”
“Yang bayar aku.”
“Diam.”
Aku masuk rumah.
Menutup pintu.
Dari baliknya terdengar Raka tertawa.
Aku bersandar pada pintu sambil memegang notebook.
Seharusnya aku kesal.
Anehya aku tersenyum.
Hanya sebentar.
Kemudian mataku jatuh pada tulisan nomor sepuluh.
Dilarang balikan.
Di bawahnya:
SETUJU BANGET.
Senyumku hilang.
Aku tidak tahu kenapa dua kata tambahan itu menggangguku.
Bukankah itu yang seharusnya?
Kami sudah bercerai.
Kami sudah mengambil keputusan.
Aku sendiri yang menulis aturannya.
Jadi kenapa ketika Raka menyetujuinya terlalu cepat, ada bagian kecil dalam diriku yang ingin bertanya—
Memangnya kamu segitu nggak maunya?
Aku menutup notebook.
“Bodoh,” gumamku.
Lalu mematikkan lampu teras.
Dari balik tembok terdengar Raka batuk dua kali.
Aku refleks hampir berteriak menyuruhnya minum.
Mulutku sudah terbuka.
Aku berhenti.
Peraturan nomor tiga.
Bukan urusanku.
Aku masuk kamar.
Lima menit kemudian terdengar suara Raka dari balik tembok.
“MIRA!”
Aku duduk.
“APA?”
“OBENGKU MASIH SAMA KAMU?”
Aku melihat meja.
Obeng plus merah-hitam tergeletak di sana.
Aku menutup mata.
Peraturan nomor dua bahkan belum bertahan satu malam.
“BESOK!”
“AKU BUTUH SEKARANG!”
“NGGAK BOLEH PINJAM BARANG!”
“ITU BARANGKU!”
Aku terdiam.
Sial.
Aku mengambil obeng.
Membuka pintu.
Raka sudah berdiri di depan rumahnya sambil menahan tawa.
Aku berjalan ke pagar.
Menyerahkan obeng.
“Kalau begini terus,” kataku, “peraturan kita nggak bakal bertahan seminggu.”
Raka menerima obeng.
“Optimis banget.”
“Maksudnya?”
“Aku kasih tiga hari.”
Aku memelototinya.
Dia masuk rumah.
Aku kembali ke rumahku.
Dan malam itu, bahkan belum dua puluh empat jam sejak dibuat, aku mencoret satu catatan kecil di bawah Peraturan Nomor Dua:
Pengecualian: barang yang sebenarnya milik pemilik asli.
Aku menatap kalimat itu.
Kemudian menambahkan dalam kurung:
(Raka menyebalkan.)
Entah kenapa aku tidur lebih nyenyak malam itu daripada tiga minggu terakhir.
- 1 Perceraian yang Sangat Sopan
- 2 Rumah Sebelah
- 3 Perjanjian Tetangga reading
- 4 Harta Gono-Gini Paling Bodoh
- 5 Hak Asuh Ucil
- 6 Kencan Pertama Mira
- 7 Perempuan di Rumah Raka
- 8 Aturan Pertama Dilanggar
- 9 Warung Bu Tati
- 10 Sakit
- 11 Mantan Istri Otomatis
- 12 Foto Lama
- 13 Kondangan
- 14 Satu Payung
- 15 Jangan Baik-Baik Terus