← Di Depanmu Aku Waras

Chapter Nine

Jadi Pacarku

POV Reiga

Reiga sudah menyusun pertanyaannya sejak Jumat.

Dua hari kemudian, setelah satu kencan, tiga puluh tujuh menit berpegangan tangan, dan satu ciuman di pipi, dia malah mulai ragu.

Bukan soal perasaannya.

Dia suka Monica. Terlalu cepat, mungkin, tetapi Reiga nggak melihat gunanya pura-pura lambat ketika setiap hari dia justru mencari alasan agar perempuan itu berada di dekatnya.

Yang nggak dia tahu adalah seberapa serius Monica menjalani semua ini.

Perempuan itu berani menggoda, menyentuh dasinya, dan mengatakan hal-hal yang membuat pikiran Reiga ikut ke mana-mana. Namun, setiap suasana berubah terlalu nyata, Monica selalu menyelamatkan diri dengan lelucon atau pergi sebelum Reiga sempat memahami maksudnya.

Bisa jadi Monica cuma menikmati permainannya.

Reiga menginginkan lebih dari itu.

Minggu sore, dia menjemput Monica di depan apartemen. Perempuan itu mengenakan blus putih dan rok panjang warna cokelat. Anting emas kecil yang dipuji Reiga beberapa hari lalu kembali terpasang di telinganya.

“Kita mau ke mana?” tanya Monica setelah masuk mobil.

“Jalan dulu.”

“Terus pertanyaannya?”

“Nanti.”

Monica menyipitkan mata. “Kamu sengaja bikin aku tegang.”

“Berhasil?”

“Nggak.”

Tangannya langsung meremas ujung sabuk pengaman.

Reiga membawa Monica ke taman kota yang punya jalur pejalan kaki mengelilingi danau kecil. Sore itu nggak terlalu ramai. Udara masih menyimpan bau tanah setelah hujan siang tadi, dan lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu.

Mereka berjalan bersebelahan. Monica bercerita tentang Naya yang menemukan spreadsheet rahasianya, tetapi sengaja menghilangkan bagian judul kolom. Reiga nggak mendesak. Belum.

“Tanganmu di mana?” tanya Monica tiba-tiba.

Reiga melihat kedua tangannya sendiri. “Di sini.”

“Kemarin fungsinya lebih jelas.”

Dia tertawa pelan, lalu menggenggam tangan Monica. “Kalau mau, bilang.”

“Aku barusan bilang.”

“Kamu protes.”

“Bahasaku memang rumit.”

“Aku mulai ngerti.”

Monica menggerakkan ibu jari di punggung tangannya. “Sudah sampai bab berapa?”

“Belum tamat.”

“Jangan lompat ke ending. Nanti bagian serunya kelewat.”

Kalimat itu kembali membuat Reiga bertanya-tanya apakah Monica menginginkan perjalanan atau hanya menikmati ketegangannya.

Mereka makan malam di restoran kecil dekat taman. Nggak mewah, cuma tempat dengan lampu kuning hangat, meja kayu, dan suara musik yang cukup pelan untuk membiarkan percakapan terdengar.

Monica terlihat terlalu tenang.

Dia makan seperti biasa, memisahkan acar, lalu memakannya saat Reiga menatap terlalu lama. Dia bahkan sempat menggoda pelayan yang salah mengira mereka sudah pacaran.

“Belum,” kata Monica sambil tersenyum. “Orangnya masih sibuk nyiapin pertanyaan.”

Pelayan meminta maaf dan pergi. Reiga melihat Monica.

“Kamu bisa jawab sekarang.”

“Kamu belum nanya.”

“Kamu tahu pertanyaannya?”

“Aku punya dugaan.”

“Dan jawabannya?”

Monica mengangkat gelas. “Tergantung pertanyaannya bagus atau nggak.”

Reiga mengembuskan napas. Monica berhenti tersenyum.

“Kamu kenapa?” tanyanya.

“Aku lagi memastikan sesuatu.”

“Tentang aku?”

“Tentang kita.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Monica nggak punya jawaban cepat.

Dia meletakkan gelas perlahan. “Kamu takut aku cuma main-main?”

Reiga nggak menjawab, tetapi Monica membaca jawabannya dari wajahnya.

“Aku memang sering bercanda,” lanjutnya. “Lebih gampang ngomong yang nakal daripada ngomong serius. Kalau kamu balas, aku bisa pura-pura semuanya cuma godaan.”

“Kenapa harus pura-pura?”

Monica memainkan ujung tisu. “Karena kalau aku jujur dan kamu nggak merasakan hal yang sama, malunya beda.”

“Kalau aku bilang aku nggak sedang main-main?”

“Makanya aku masih di sini.”

Jawaban itu mengurangi sebagian keraguan Reiga, tetapi dia tetap ingin mengucapkan semuanya dengan jelas. Mereka bukan dua remaja yang harus menebak hubungan dari seberapa lama tangan saling menggenggam.

Setelah makan, mereka kembali ke taman. Lampu memantul di permukaan danau, terpecah setiap kali angin membuat air bergerak. Reiga membawa Monica ke bangku kosong di bawah pohon yang daunnya masih meneteskan sisa hujan.

Dia nggak duduk. Monica ikut berdiri di depannya.

“Pertanyaannya sekarang?”

“Sekarang.”

Reiga memegang kedua tangan Monica. Jemarinya dingin.

“Aku suka kamu.”

Monica menatapnya tanpa berkedip.

“Bukan baru sejak kemarin,” lanjut Reiga. “Hari pertama masuk kantor, aku lihat kamu bantu Bu Rini di lobi. Aku bahkan belum tahu kamu siapa, tapi waktu itu aku sudah pengin kenal.”

Bibir Monica terbuka sedikit.

“Aku suka cara kamu kerja. Aku suka kamu ingat hal kecil tentang orang lain. Aku suka mulutmu yang berani, meskipun habis itu kamu biasanya kabur dan panik sendiri.”

Wajah Monica berubah.

“Kamu tahu aku panik?”

“Sedikit.”

“Seberapa sedikit?”

“Aku lihat kamu muter-muter di ruang fotokopi.”

Monica menarik satu tangannya untuk menutup wajah. “Aku mau pulang.”

Reiga tertawa dan menurunkan tangannya lagi. “Nanti. Aku belum selesai.”

“Bisa nggak bagian itu dihapus dari ingatanmu dulu?”

“Nggak bisa. Aku suka bagian itu juga.”

Monica pelan-pelan berhenti berusaha kabur. Matanya masih malu, tetapi genggamannya di tangan Reiga semakin erat.

“Aku nggak mau cuma saling goda di kantor,” kata Reiga. “Aku nggak mau terus nebak kamu serius atau cuma main-main. Aku mau bisa jemput kamu, ngajak kamu pergi, pegang tanganmu, dan bilang kamu pacarku tanpa harus cari alasan.”

Dia menatap Monica lurus-lurus.

“Jadi pacarku.”

Keheningan berlangsung tiga detik.

“Mau,” jawab Monica.

Suaranya tenang sekali.

Satu kata itu tetap membuat sesuatu di dada Reiga mengendur. Suara taman kembali terdengar—air, kendaraan dari jalan besar, dan daun yang digerakkan angin—seolah sejak tadi dia menunggu dalam ruang tanpa bunyi.

Reiga hampir curiga dia salah dengar. “Mau?”

“Iya.”

“Cuma begitu?”

“Memangnya harus gimana?”

“Nggak tahu. Kamu kelihatan seperti baru setuju ganti jadwal rapat.”

“Aku sedang menjaga martabat.”

Monica melepaskan tangannya. “Aku ke toilet sebentar.”

“Toiletnya di restoran.”

“Aku tahu.”

Dia berjalan kembali dengan langkah cepat tetapi masih berusaha terlihat anggun.

Reiga duduk di bangku dan menunggu. Lima menit berlalu. Lalu sepuluh.

Pada menit kedua belas, seorang perempuan keluar dari toilet restoran sambil tertawa kecil dan menoleh ke belakang. Dari dalam terdengar bunyi benda jatuh, disusul pekikan tertahan yang terasa familier.

Reiga menutup mulut supaya nggak ikut tertawa.

Monica baru kembali setelah lima belas menit. Rambut yang tadi rapi sedikit kusut. Anting di telinga kanannya hilang.

“Kamu ngapain di toilet?”

“Cuci tangan.”

“Lima belas menit?”

“Tanganku dua.”

Reiga menunjuk telinganya. “Antingmu satu.”

Monica menyentuh telinga kanan, lalu wajahnya berubah panik. “Tadi masih ada.”

“Kamu joget?”

“Nggak.”

“Lompat?”

“Sedikit.”

Akhirnya Monica mengaku melakukan tarian kemenangan tanpa suara di dalam bilik, lalu tersangkut gantungan tas saat berputar. Mereka kembali ke restoran dan menemukan anting itu di dekat wastafel.

Saat keluar lagi, Monica berhenti di bawah lampu taman.

“Sekarang aku boleh suka kamu terang-terangan?”

“Dari kemarin juga boleh.”

“Beda. Sekarang aku punya izin resmi.”

Dia mendekat sampai ujung sepatunya menyentuh sepatu Reiga.

“Kamu mungkin bakal nyesel kalau tahu seberapa nggak sopannya aku kalau udah punya izin.”

Reiga menahan pinggang Monica dengan satu tangan, cukup ringan agar perempuan itu bisa mundur kalau mau.

Monica justru meletakkan kedua tangan di dadanya.

“Aku justru pengin lihat,” kata Reiga.

Kali ini Monica yang kehilangan senyum lebih dulu.

Reiga nggak menciumnya. Belum. Dia hanya menarik Monica ke dalam pelukan dan merasakan perempuan itu membenamkan wajah di dadanya.

Setelah beberapa detik, Monica memeluk balik lebih erat.

“Aku mungkin bakal bikin kamu kaget,” gumam Monica di dadanya.

“Soal apa?”

“Banyak.”

“Contohnya?”

“Belum bisa dikasih tahu. Nanti kamu kabur.”

Reiga mengusap pelan punggungnya. “Kamu baru mengaku punya spreadsheet rahasia dan aku tetap di sini.”

Monica mendongak. “Aku nggak pernah bilang spreadsheet.”

“Tadi kamu cerita Naya menemukan sesuatu. Wajahmu langsung panik waktu bilangnya.”

“Kamu terlalu perhatian.”

“Kamu suka.”

“Iya,” akunya. “Banget.”

Jawaban pendek itu terasa lebih intim daripada seluruh godaan mereka selama dua minggu terakhir.

“Di kantor gimana?” tanyanya.

“Kita nggak perlu sembunyi, tapi urusan kerja tetap kerja.”

“Nggak boleh duduk di pangkuanmu pas rapat?”

“Kalau kamu masih pengin kita punya pekerjaan, jangan.”

“Di luar rapat?”

Reiga menunduk. Monica sedang tersenyum ke dadanya.

“Kita baru pacaran tiga menit.”

“Aku cuma tanya aturan.”

“Nanti kita bahas.”

Reiga mengantar Monica pulang sebagai pacarnya. Di depan lift, perempuan itu memegang tangannya lebih dulu dan nggak buru-buru melepaskan.

Malamnya, sebuah pesan masuk saat Reiga sedang mengganti pakaian.

Monica: Besok jangan pakai kemeja yang lengannya gampang digulung. Aku lagi nggak pengin jadi orang baik.

Reiga membaca pesan itu sambil tersenyum.

Fase aman mereka resmi selesai.