← Di Depanmu Aku Waras

Chapter Seven

Eksperimen Reiga Bramasta

POV Reiga

Reiga memang kembali ke ruang fotokopi kemarin.

Dia juga melihat Monica menutup wajah dengan tumpukan kertas, berputar tiga kali, lalu memaki dirinya sendiri karena mengatakan tangan Reiga bisa dipakai untuk “hal lain”.

Seharusnya dia langsung pergi dan berpura-pura nggak melihat.

Masalahnya, Monica terlihat terlalu lucu.

Perempuan yang berani menatapnya sambil mengucapkan kalimat berbahaya ternyata berubah total begitu merasa sendirian. Dan sekarang Reiga ingin tahu: Monica yang mana yang asli?

Jawabannya mungkin dua-duanya.

Rabu pagi, Monica datang membawa kopi dan harga diri cadangan seperti yang dia janjikan kepada dirinya sendiri. Setidaknya begitu kesimpulan Reiga dari cara perempuan itu berjalan terlalu tegak.

“Pagi, Mon.”

Langkah Monica tersendat sedikit saat mendengar panggilan itu.

“Pagi.”

“Duduk sini.”

Reiga menepuk kursi kosong di sebelahnya. Monica melihat kursi itu seperti sedang menilai keamanan jebakan, tetapi tetap duduk.

“Katanya ada yang mau dites.”

“Iya.”

“Apa?”

Reiga menggeser secangkir latte ke depannya. “Ini.”

Monica melihat kopi itu. “Kamu beli buat aku?”

“Vanilla latte, gula setengah. Benar?”

“Benar.”

“Berarti aku lulus.”

“Itu eksperimennya?”

“Salah satunya.”

Reiga sengaja nggak menjelaskan. Sepanjang pagi, dia memperhatikan bagaimana Monica mempertahankan wajah tenang setiap kali diberi perhatian. Ketika ada orang lain, kontrol perempuan itu nyaris sempurna.

Dia bisa menerima kopi sambil tersenyum. Bisa membalas panggilan “Mon” dengan memanggil “Rei” tanpa tersedak. Bisa tetap menggambar saat Reiga berdiri di belakang kursinya dan membungkuk untuk melihat layar.

Namun, jemarinya selalu berhenti setengah detik.

Kakinya bergerak kecil di bawah meja.

Dan setiap Reiga pergi, Monica menarik napas panjang seolah baru muncul dari dalam air.

Percobaan berlanjut sampai Kamis. Reiga membawakan makanan karena Monica lupa makan siang, memegang sandaran kursinya saat mereka bicara, lalu memuji cara Monica menjelaskan konsep kepada klien.

Monica bertahan.

Dia bahkan menyerang balik.

“Kalau kamu terus berdiri sedekat ini,” katanya tanpa mengalihkan mata dari tablet, “nanti orang kantor mikir yang aneh-aneh.”

“Kamu takut?”

“Aku kasihan sama mereka.”

“Kenapa?”

Monica menoleh, wajahnya cuma berjarak beberapa senti. “Karena yang mereka pikirin mungkin kalah jauh sama yang aku pikirin.”

Reiga yang akhirnya harus mundur.

Dion melihat kejadian itu dari meja seberang dan menepuk pelan kedua tangannya tanpa suara.

Sore itu mereka harus memilih tiga sampel aroma untuk presentasi Luméra. Monica menyemprotkan parfum ke kertas penguji, tetapi aroma ketiganya bercampur sampai sulit dibedakan.

“Pakai kulit aja,” kata Reiga.

Monica menyemprot sedikit ke pergelangan tangan. “Yang ini harusnya paling hangat.”

Dia mengulurkan tangan kepada Reiga.

Reiga menahannya pelan dan mendekatkan pergelangan itu ke hidung. Monica berhenti bernapas. Denyut di bawah ibu jari Reiga bergerak cepat, bertolak belakang dengan wajahnya yang tetap tenang.

“Gimana?” tanya Monica.

“Vanila, kayu, sedikit jeruk.”

“Cocok buat kampanye?”

Reiga menghirup sekali lagi. “Aku lebih suka parfum yang biasa kamu pakai.”

Monica menarik tangannya, tetapi nggak secepat biasanya. “Kamu hafal wangiku?”

“Kamu hafal pesananku.”

“Itu beda.”

“Bedanya?”

Monica mengambil tutup botol dan memasangnya terlalu keras. “Kopi kamu nggak nempel di kulit.”

“Jadi masalahnya karena aku mikirin kulitmu?”

Tutup botol lepas lagi dari tangannya. Reiga menangkapnya sebelum jatuh.

Monica menatapnya kesal. “Eksperimenmu masih lama?”

“Kamu tahu aku lagi eksperimen?”

“Kamu terlalu sering senyum sendiri setelah ganggu aku.”

“Hasil sementaranya menarik.”

Monica menggeser kursinya mendekat sampai lutut mereka nyaris bersentuhan. “Jangan lupa, objek penelitian bisa balik mengamati.”

Sepanjang sisa sore, Monica sengaja mempertahankan jarak sedekat itu. Reiga mulai mengerti bahwa keberanian perempuan tersebut bukan palsu. Monica memang gugup, tetapi dia juga menikmati permainannya—dan semakin hari, dia semakin jarang memilih mundur.

Setelah Monica pergi mengambil makan siang, Dion menjatuhkan diri ke kursi kosong di sebelah Reiga.

“Eksperimennya belum selesai juga?”

“Eksperimen apa?”

“Lo panggil dia Mon tiap lima menit, berdiri kayak nggak ada kursi lain, terus senyum kalau dia salah pegang barang. Satu kantor juga bisa lihat.”

Reiga menutup botol sampel. “Dia bisa saja cuma suka menggoda.”

“Terus kalau cuma suka menggoda?”

Pertanyaan itu membuat Reiga diam.

Kalau Monica hanya menginginkan permainan ringan, Reiga harus mundur sebelum berharap terlalu banyak. Dia nggak tertarik menghabiskan berminggu-minggu dalam hubungan tanpa nama sambil pura-pura cukup dengan tatapan dan kalimat ambigu.

“Gue mau ngajak dia keluar,” katanya.

Dion mengangguk. “Akhirnya ada keputusan yang nggak butuh riset pasar.”

Reiga melihat Monica kembali dari ujung koridor. Perempuan itu membawa dua kotak makan dan langsung mengangkat salah satunya ke arah Reiga.

Eksperimen ini memang sudah cukup.

Jumat sore, tim menyelesaikan presentasi final tahap pertama. Semua orang pulang lebih cepat, menyisakan Reiga dan Monica yang masih merapikan ruang rapat.

“Parfummu beda,” kata Reiga sambil menggulung kabel proyektor.

Monica yang sedang mengumpulkan kartu warna berhenti. “Kamu sadar?”

“Lebih manis.”

“Suka?”

“Suka.”

Monica mengangguk kecil, tetapi pipinya berubah merah. Tanpa penonton, retakan di wajah tenangnya muncul lebih cepat.

Reiga berjalan melewatinya menuju pintu. “Ayo, Mon.”

“Tunggu.”

Monica mendekat. Tatapannya jatuh ke dasi Reiga.

“Miring.”

“Dari tadi juga begini.”

“Berarti dari tadi ganggu.”

Dia memegang dasi itu, membetulkan simpulnya, lalu merapikan kerah Reiga. Jemarinya terasa ringan, tetapi jarak di antara mereka membuat udara mendadak lebih hangat.

“Sudah?” tanya Reiga.

“Belum.”

Monica menarik dasinya pelan sampai wajah mereka mendekat.

Gerakannya berani. Napasnya nggak.

“Kamu beberapa hari ini kenapa baik banget?” tanyanya.

“Aku memang baik.”

“Nggak begini.”

“Begini gimana?”

“Kopi, makanan, panggil aku Mon, berdiri dekat-dekat.” Matanya turun sekilas ke bibir Reiga. “Kalau terus baik begini, nanti aku kira kamu pengin jadi punya aku.”

Reiga bisa saja bercanda dan membiarkan permainan mereka terus aman. Namun, tangan Monica masih menggenggam dasinya, dan dia mulai bosan bersembunyi di balik godaan.

“Kalau memang iya?”

Monica membeku.

Reiga menunggu perempuan itu melepaskan dasinya atau mundur.

Monica melakukan kebalikannya. Dia menarik sedikit lebih dekat.

“Ya tinggal bilang,” jawabnya pelan. “Aku nggak suka laki-laki yang bikin aku nunggu.”

Jantung Reiga memukul lebih keras, tetapi kali ini dia nggak membiarkan wajahnya membocorkan terlalu banyak.

“Aku catat.”

Monica melepaskan dasinya dan keluar lebih dulu. Langkahnya tetap anggun sampai pintu lift tertutup. Dari pantulan pintu logam, Reiga sempat melihat perempuan itu menutup wajah dengan dua tangan.

Dia tersenyum sepanjang perjalanan kembali ke meja.

Laptop Monica masih menyala. Aplikasi chat kantor terbuka di panel samping, tepat pada voice note yang dia kirim tadi malam. Di bawahnya tertera keterangan kecil: Diputar 12 kali.

Reiga nggak menyentuh apa pun. Dia cuma mengingat angka itu, lalu mengirim sebuah poster pameran ilustrasi yang berlangsung besok.

Reiga: Sabtu. Sama aku. Ini kencan.

Pesannya langsung terbaca.

Tiga titik muncul cukup lama.

Monica: Jam berapa?

Reiga mengambil jasnya. Eksperimennya selesai.

Monica tertarik kepadanya. Sangat tertarik, bahkan.

Sekarang Reiga tinggal memastikan perempuan itu menginginkan sesuatu yang nyata, bukan cuma permainan yang menyenangkan.