Chapter Eight
Kencan yang Nggak Bisa Disangkal
POV Monica
Monica mencoba tiga baju, dua warna lipstik, dan empat cara menata rambut sebelum Naya merampas catokan dari tangannya.
“Kamu mau ke pameran atau lamaran?”
“Kencan.”
“Aku tahu. Seluruh lantai ini juga tahu dari suara lemari kamu dibanting sejak pagi.”
Monica melihat dirinya di cermin. Gaun krem sederhana, rambut tergerai, anting emas yang dipakai saat Reiga memujinya. Terlihat cantik, tetapi nggak seperti terlalu berusaha.
Padahal dia berusaha sejak dua jam lalu.
“Kalau dia nyium aku gimana?”
Naya mengembalikan catokan ke meja. “Bukannya itu yang kamu mau?”
“Mau.”
“Terus?”
“Aku belum menentukan harus pingsan sebelum atau sesudah.”
Naya mendorongnya keluar kamar.
Reiga sudah menunggu di lobi apartemen. Dia memakai kemeja biru gelap tanpa dasi, dua kancing teratas terbuka, dan jam tangan yang selalu membuat Monica memperhatikan tangannya.
Lelaki itu berdiri ketika Monica mendekat.
Tatapannya turun dari wajah ke gaun, lalu kembali ke mata Monica tanpa terburu-buru.
“Cantik.”
Satu kata. Dampaknya lebih buruk daripada seluruh persiapan Monica pagi itu.
“Makasih.” Dia melihat kemeja Reiga. “Kamu juga… lumayan bisa dilihat.”
Reiga membukakan pintu mobil. “Baru mulai sudah bohong.”
“Aku takut kalau terlalu jujur, kita nggak jadi berangkat.”
“Kenapa?”
Monica masuk ke mobil dan menarik sabuk pengaman. “Nanti kegiatannya pindah tempat.”
Reiga diam setengah detik sebelum menutup pintu. Monica menunggu sampai lelaki itu berjalan mengitari mobil, lalu memukul kening sendiri.
Belum sampai pameran dan mulutnya sudah liar.
Galeri penuh saat mereka tiba. Dinding putihnya dipenuhi ilustrasi tubuh manusia, wajah-wajah tanpa nama, serta lukisan digital dengan warna terang. Monica yang biasanya menghabiskan pameran dalam diam malah terus mengomentari teknik, pilihan warna, dan bentuk anatomi.
Reiga benar-benar mendengarkan.
Dia bertanya kenapa satu garis bisa terasa lembut, kenapa bayangan tertentu terlihat lebih intim, dan bagaimana seniman membuat gambar tubuh telanjang terasa indah tanpa menjadi murahan.
Di depan ilustrasi pasangan yang nyaris berciuman, Reiga berhenti cukup lama.
“Menurutmu mereka akhirnya ciuman?” tanyanya.
Monica memperhatikan jarak tipis di antara bibir kedua tokoh. “Nggak.”
“Kenapa?”
“Yang bikin gambar ini menarik justru karena belum kejadian.”
“Kalau kejadian, jadi nggak menarik?”
Monica meliriknya. “Tergantung yang cium siapa.”
Reiga menahan tatapannya sampai Monica memilih berjalan ke karya berikutnya.
Karya berikutnya menggambarkan seorang perempuan bergaun putih yang berdiri tegak, sementara bayangannya di dinding terlihat sedang menari dengan rambut berantakan. Monica menatapnya lebih lama dari karya-karya lain.
“Suka?” tanya Reiga.
“Lucu.”
“Kayaknya bukan dibuat buat lucu.”
“Aku tahu.” Monica membaca keterangan kecil di samping bingkai. “Tentang orang yang kelihatannya beda waktu sendirian.”
“Semua orang begitu.”
“Nggak semuanya ekstrem.”
Reiga melihat lukisan, lalu Monica. “Kamu ekstrem?”
“Aku?” Monica memasang wajah paling polos. “Aku anggun dua puluh empat jam.”
“Termasuk waktu muter di ruang fotokopi?”
Monica menoleh tajam. “Jadi kamu lihat.”
“Sedikit.”
“Kamu bilang sedikit terus, padahal jelas banyak.”
“Aku nggak keberatan.”
Jawaban itu menghapus protes yang sudah berkumpul di mulut Monica.
Reiga kembali melihat lukisan. “Kalau ada sisi lain yang belum kamu tunjukkan, aku nggak minta kamu keluarin sekarang. Tapi kamu juga nggak harus capek-capek nyembunyiin.”
Monica merasakan sesuatu yang lebih berbahaya daripada malu. Lega.
Supaya suasana nggak terlalu serius, dia menunjuk bayangan liar di dinding. “Kalau sisi lainku begini, kamu kabur?”
“Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Aku diajak nari atau nggak.”
Monica tertawa, tetapi menyimpan kalimat itu di tempat yang sama dengan benda-benda kecil lain tentang Reiga yang nggak mau dia lupakan.
Ruangan utama semakin padat menjelang sore. Ketika sekelompok pengunjung masuk dari arah berlawanan, Reiga menyentuh punggung Monica untuk mengarahkannya ke sisi yang lebih aman. Sentuhannya cuma sebentar, tetapi telapak tangannya terasa hangat bahkan setelah dilepas.
Di lorong berikutnya, seseorang hampir menabrak Monica. Reiga meraih tangannya.
“Sini.”
Jemari mereka bertaut.
Kali ini bukan empat detik. Reiga nggak sekadar menyentuh ujung jarinya, melainkan menggenggam penuh seolah itu keputusan yang sudah dipikirkan.
Monica membiarkan dirinya ditarik melewati kerumunan.
Lorong selesai. Ruangan berikutnya jauh lebih sepi.
Reiga tetap nggak melepaskan.
Monica juga nggak.
Dia malah menggeser jemari sampai masuk lebih pas di sela-sela jari Reiga.
“Nyaman?” tanya Reiga.
“Tangan kamu?”
“Pegangannya.”
“Dua-duanya.”
Mereka berjalan pelan. Monica cuma menangkap setengah dari karya yang dilewati karena separuh otaknya sibuk memproses bahwa ibu jari Reiga sesekali mengusap punggung tangannya.
Di depan lukisan perempuan yang sedang berbaring di atas kain merah, Monica berhenti.
“Kalau tanganku terus kamu pegang begini, pikiranku bisa ke mana-mana.”
Reiga menoleh kepadanya. “Mau aku lepas?”
Monica mengencangkan genggamannya. “Aku nggak bilang itu masalah.”
“Bagus.”
“Tapi nanti jangan protes kalau arahnya nggak sopan.”
“Sejauh ini aku belum pernah protes.”
Monica tersenyum. “Makanya aku makin berani.”
Setelah pameran, mereka makan es krim di bangku taman depan galeri. Reiga masih memegang tangannya dengan alasan telapak Monica dingin. Alasan yang buruk, karena es krim di tangan satunya jauh lebih dingin.
Mereka membicarakan hal kecil: lagu yang memalukan tetapi tetap didengar, makanan yang nggak disukai, kebiasaan tidur, dan kenapa Reiga selalu memilih kursi menghadap pintu.
“Biar aku bisa lihat orang datang,” jawab Reiga.
“Takut disergap?”
“Nggak. Aku cuma lebih tenang kalau tahu apa yang terjadi.”
Monica memahami itu lebih dari yang ingin dia akui. Dia juga selalu ingin tahu bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain sebelum berani menunjukkan sesuatu.
“Kalau sama aku?” tanyanya. “Kamu tahu apa yang terjadi?”
Reiga menatap tangan mereka. “Belum semua.”
“Penasaran?”
“Banget.”
Jawaban itu terdengar terlalu jujur untuk dibalas dengan lelucon.
Di toko kecil dekat pintu keluar, Reiga membeli kartu pos bergambar pasangan yang nyaris berciuman tadi. Dia menyerahkannya kepada Monica tanpa penjelasan.
“Buat apa?”
“Bukti kalau ketegangannya lebih menarik sebelum kejadian.”
Monica menerima kartu itu. “Kamu setuju sama pendapatku?”
“Belum tentu.” Tatapan Reiga turun ke bibirnya. “Aku cuma belum punya bahan pembanding.”
Monica memasukkan kartu itu ke tas sebelum tangannya ketahuan gemetar.
Saat mengantar Monica pulang, Reiga turun dari mobil dan berjalan bersamanya sampai lobi. Tangan mereka baru terlepas di depan lift.
Monica merasa ada sesuatu yang hilang dari telapak tangannya.
“Makasih buat hari ini,” katanya.
“Aku juga.”
Pintu lift terbuka. Monica melangkah masuk, lalu berbalik melihat Reiga masih berdiri di tempat.
Kalau dia masuk sekarang, dia akan menghabiskan malam dengan menyesal karena nggak melakukan apa-apa.
Monica keluar lagi, memegang bahu Reiga, lalu mencium pipinya.
Cuma satu sentuhan singkat.
Begitu mundur, lututnya terasa kehilangan fungsi.
“Itu…” Monica berdeham. “Bonus karena sudah jadi pemandu.”
Dia buru-buru masuk ke lift. Sebelum pintu tertutup, Reiga menahan tepinya dengan satu tangan.
“Besok aku mau jawaban buat satu pertanyaan.”
“Pertanyaan apa?”
“Besok.”
Pintu akhirnya tertutup. Monica bersandar pada dinding lift sambil memegang dada.
Di apartemen, dia membuka spreadsheet rahasianya dan membuat satu entri baru.
Pegangan tangan: 37 menit 12 detik. Stabil, hangat, potensi ketagihan tinggi.
Di kolom berikutnya, Monica menulis judul: Potensi Dibawa ke Kamar.
Naya yang baru lewat berhenti, membaca layar, lalu mundur perlahan.
“Aku nggak mau tahu.”
“Bagus.” Monica menambahkan angka sembilan dari sepuluh. “Aku juga belum siap jelasin.”
Ponselnya berbunyi.
Reiga: Jangan pura-pura lupa besok.
Monica memeluk bantal dan menatap pesan itu.
Besok belum datang, tetapi dia sudah tahu jawaban apa pun yang diminta Reiga kemungkinan besar adalah iya.
- 1 Perempuan yang Kelihatan Bercahaya
- 2 Empat Detik yang Nggak Mau Hilang
- 3 Tiga Kata, Dua Puluh Tiga Balasan
- 4 Makan Siang Paling Normal
- 5 Payung Bernama Bram
- 6 Jangan Gulung Lengan Bajumu
- 7 Eksperimen Reiga Bramasta
- 8 Kencan yang Nggak Bisa Disangkal reading
- 9 Jadi Pacarku
- 10 Pacar Monica Sangat Tampan
- 11 Siapa yang Menyerah Dulu
- 12 Cium Aku Sampai Aku Lupa
- 13 Museum Rahasia Monica
- 14 Sama-Sama Nggak Normal
- 15 Di Depanmu Aku Nggak Perlu Waras