← Di Depanmu Aku Waras

Chapter Eleven

Siapa yang Menyerah Dulu

POV Reiga

Monica mengira dia menang.

Dia mencium Reiga, mengusirnya, lalu bersembunyi di balik pintu apartemen sebelum Reiga sempat membalas.

Yang nggak Monica tahu, Reiga hampir kembali mengetuk pintu malam itu.

Dia cuma menahan diri karena napas Monica sudah berantakan setelah ciuman dua detik. Kalau Reiga membalas sesuai keinginannya, perempuan itu mungkin benar-benar pingsan.

Kamis pagi, Monica datang dengan kemeja milik Reiga di dalam garment bag dan senyum paling anggun.

“Milikmu,” katanya.

“Sudah selesai quality control?”

“Lulus.”

“Bagian mana yang diuji?”

Monica meletakkan garment bag di mejanya. “Kainnya.”

“Cuma kain?”

“Kita di kantor.”

Reiga menahan senyum. “Berarti nanti boleh dibahas lagi?”

Monica berbalik tanpa menjawab. Ujung telinganya sudah merah.

Sepanjang hari Reiga nggak membalas serangan semalam. Dia menjaga jarak saat rapat, nggak menyentuh Monica, bahkan pulang lebih dulu karena harus menemui klien.

Sebelum pergi, mereka bertemu di lift. Monica masuk saat pintu hampir tertutup, lalu berdiri tepat di depannya meski ruangan itu kosong.

“Sibuk?” tanyanya.

“Lumayan.”

“Atau sengaja menghindar?”

Reiga melihat angka lantai turun. “Aku kasih kamu waktu buat pulih.”

“Siapa bilang aku butuh waktu?”

“Kamu duduk di lantai setelah aku pergi.”

Monica menatapnya ngeri. “Kamu lihat dari mana?”

“Bayanganmu kelihatan di bawah pintu.”

Dia menutup mata sebentar, lalu kembali memasang wajah tenang. “Itu karena aku cari sesuatu.”

“Harga diri?”

Monica menginjak ringan ujung sepatunya tepat sebelum pintu lift terbuka.

“Besok jangan sok sibuk,” katanya, lalu keluar.

Reiga sengaja menunggu sampai pintu tertutup sebelum tertawa.

Hasilnya sesuai dugaan.

Jumat pagi, Monica berdiri di depan mejanya sambil memasang wajah kesal.

“Kamu marah?”

“Nggak.”

“Kenapa nggak ganggu aku?”

“Katanya urusan kerja tetap kerja.”

“Kemarin-kemarin juga kerja.”

Reiga menyandarkan punggung. “Kamu kangen?”

“Nggak.”

“Oke.”

Monica menunggu Reiga menarik kembali perkataannya. Ketika itu nggak terjadi, dia mendekat dan berbisik, “Malam ini aku datang ke tempatmu.”

“Buat apa?”

“Memastikan kamu masih normal.”

“Aku nggak pernah mengaku normal.”

Monica tersenyum. “Bagus.”

Malamnya, mereka makan makanan pesan antar di apartemen Reiga. Monica datang membawa dessert dan keberanian yang terlihat dari cara dia memilih duduk terlalu dekat di sofa.

Saat makan, Monica beberapa kali melihat bibir Reiga lalu pura-pura memeriksa makanan.

“Mau tanya sesuatu?” kata Reiga.

“Kenapa kemarin kamu nggak balas cium aku?”

“Kamu nyuruh aku pulang.”

“Kamu biasanya nggak sepatuh itu.”

“Kamu kelihatan belum siap.”

Monica memainkan sendok. “Kalau aku siap?”

“Aku nggak akan nebak.”

“Harus ngomong?”

“Iya.”

“Nggak bisa pakai kode?”

Reiga menatapnya. “Kode kamu termasuk mengirim foto hampir nggak pakai apa-apa. Spektrumnya terlalu luas.”

Monica tersedak minuman. Setelah batuknya reda, dia menunjuk Reiga dengan sendok.

“Aku pakai sesuatu.”

“Apa?”

“Rahasia.”

“Makanya aku nggak mau menebak.”

Percakapan itu terdengar nakal, tetapi maksud Reiga serius. Dia ingin Monica tahu bahwa godaan bukan persetujuan otomatis. Perempuan itu boleh berubah pikiran kapan saja tanpa perlu merasa merusak suasana.

Mereka menyalakan film. Dua puluh menit pertama, Monica menyandarkan kepala di bahu Reiga. Sepuluh menit berikutnya, jemarinya bermain dengan tangan Reiga.

Pada menit ketiga puluh lima, Monica mematikan film.

“Bosan?” tanya Reiga.

“Sofanya nggak nyaman.”

“Kamu yang pilih tempat duduk.”

“Aku mau pindah.”

Masih ada sofa tunggal di seberang, tetapi Monica malah berdiri di depannya.

“Geser,” katanya.

“Ke mana?”

“Nggak usah.”

Monica duduk di pangkuan Reiga.

Berat tubuhnya terasa ringan, tetapi dampaknya membuat seluruh perhatian Reiga pindah dari film. Dia menaruh tangan di sandaran, sengaja nggak langsung menyentuh Monica.

“Sofanya lebih nyaman sekarang?”

“Lumayan.”

“Cuma lumayan?”

Monica menggeser posisi duduknya sedikit. “Kalau aku jawab terlalu nyaman, nanti kedengaran mesum.”

“Kamu pikir sekarang belum?”

Dia tertawa pelan dan mengambil tangan kanan Reiga. Monica memainkan jemarinya satu per satu, mengusap buku-buku jari, lalu menaruh telapak itu di pahanya sendiri.

“Mon.”

“Hm?”

“Kamu sadar lagi ngapain?”

“Sadar.”

“Kalau tanganku bergerak?”

Senyum Monica goyah, tetapi dia nggak memindahkan tangan itu. “Tergantung bergerak ke mana.”

Reiga menggeser telapak tangannya beberapa senti, tetap di atas kain rok Monica. Napas perempuan itu langsung berubah.

“Masih nyaman?”

“Banget.”

Jawabannya terdengar lebih kecil.

Reiga menaruh tangan satunya di pinggang Monica, menahan tubuhnya supaya nggak kehilangan keseimbangan.

“Kamu suka mancing aku,” katanya.

Monica menyentuh kerah kaus Reiga. “Terus kenapa?”

“Takutnya pas aku tangkap, kamu malah minta dilepas.”

“Aku nggak bilang mau dilepas.”

“Belum.”

Monica terdiam. Reiga bisa melihat keberaniannya naik turun, tetapi perempuan itu tetap duduk di sana.

“Aku penasaran,” katanya kemudian, “kamu masih bisa kalem nggak kalau aku cium leher kamu.”

“Coba.”

Monica mendekat. Hembusan napasnya mengenai kulit sebelum bibirnya menyentuh sisi leher Reiga. Singkat, ragu-ragu, tetapi cukup untuk membuat tangan di pinggangnya mengencang.

Reiga membalas dengan menyentuhkan bibir ke bawah telinga Monica.

Tubuh perempuan itu menegang, lalu melembut dalam pegangannya.

“Sekarang jawab sendiri,” bisik Reiga.

Monica mencengkeram bahunya. “Ternyata nggak.”

Reiga berhenti dan mengendurkan kedua tangannya. “Masih oke?”

Monica mengangguk, lalu sadar Reiga menunggu lebih dari gerakan kepala.

“Masih. Aku suka.”

“Yakin?”

“Kalau nggak yakin, tanganku sudah dorong kamu. Ini malah nempel.”

Dia menunjukkan jemarinya yang masih mencengkeram bahu Reiga. Jawaban itu membuat ketegangan berubah menjadi sesuatu yang lebih aman tanpa kehilangan panasnya.

“Nyesel?”

“Nggak.”

Reiga mundur cukup jauh untuk melihat wajahnya. “Kamu mau apa?”

Tatapan Monica turun ke bibirnya.

“Kamu tahu.”

“Aku mau dengar.”

“Kamu nyebelin.”

“Tetap harus bilang.”

Monica membuka mulut, tetapi keberaniannya habis tepat sebelum kata itu keluar. Dia berdiri mendadak dan berjalan ke pintu.

“Aku pulang.”

Reiga nggak mengejar. “Oke.”

Monica membuka pintu, lalu berhenti.

Tas dan ponselnya masih berada di samping Reiga.

Dia berdiri di ambang pintu selama tiga detik sebelum kembali dengan kepala tegak, seolah nggak baru mencoba kabur tanpa membawa barang apa pun.

Reiga mengangkat tas itu. “Cari ini?”

Monica merebutnya. “Aku benci kamu.”

“Nggak.”

“Sedikit.”

“Besok datang lagi.”

Monica memeluk tasnya. Kali ini dia nggak menjawab dengan lelucon.

“Aku pengin dicium,” katanya cepat. “Sungguhan. Cuma tadi aku malu ngomongnya.”

Reiga berdiri dan mendekat, tetapi nggak menyentuhnya.

“Kenapa nggak sekarang?”

“Karena kalau sekarang, rasanya kayak aku ngomong cuma karena dipaksa.”

Reiga mengangguk. Dia suka Monica cukup banyak untuk menunggu sampai perempuan itu merasa menjadi pemilik keinginannya sendiri.

“Aku juga pengin nyium kamu,” katanya.

Monica mengangkat pandangan.

“Sejak semalam?”

“Sejak sebelum semalam.”

“Terus kenapa tahan?”

“Karena aku mau kamu tetap ada setelahnya, bukan kabur sambil ninggalin tas.”

Monica melihat tas di pelukannya lalu mendengus. “Sekali salah, diingat terus.”

“Aku brand strategist. Data penting disimpan.”

Reiga mengantar Monica sampai lift. Sebelum pintu terbuka, perempuan itu menarik ujung kausnya.

“Kamu nggak kecewa?”

“Karena kita berhenti?”

Monica mengangguk.

“Nggak.” Reiga menyentuh rambut di dekat telinganya. “Berhenti bukan berarti gagal. Kita cuma belum selesai.”

Senyum Monica kembali, kecil tetapi lega. Reiga mencium keningnya dan membiarkannya masuk lift tanpa mengubah momen itu menjadi tuntutan baru.

“Besok,” kata Monica. “Aku nggak akan lari.”

“Aku catat.”

Pintu lift menutup di antara mereka. Reiga baru mengembuskan napas setelah angka lantainya mulai turun. Tangan yang tadi berada di paha Monica masih menyimpan hangatnya, membuktikan bahwa ketenangan Reiga malam ini cuma tampak dari luar.