Chapter One
Perempuan yang Kelihatan Bercahaya
POV Reiga
Reiga Bramasta datang ke kantor barunya dengan tiga niat sederhana: hafalkan nama tim, pahami proyek pertama, lalu pulang tanpa membawa urusan kantor ke kehidupan pribadi.
Niat ketiga gagal bahkan sebelum dia sempat menekan tombol lift.
Seorang petugas kebersihan berdiri beberapa meter darinya sambil membawa map plastik, kantong sampah, dan dua gelas kopi sekaligus. Salah satu gelas miring. Perempuan itu panik, mapnya terlepas, lalu puluhan lembar formulir berhamburan di lantai lobi.
Orang-orang menghindar supaya sepatu mereka nggak menginjak kertas. Beberapa melirik, tetapi terus berjalan.
Seorang perempuan bergaun biru muda justru berhenti.
Dia menaruh tasnya, lalu ikut berjongkok tanpa peduli ujung roknya menyentuh lantai. Rambut hitamnya jatuh menutupi satu sisi wajah ketika dia meraih kertas yang meluncur ke bawah bangku.
“Bu Rini bawa semuanya sendiri lagi?”
“Tadi Pak Darto dipanggil ke belakang, Mbak Monica.”
“Makanya panggil aku. Jangan sok kuat, nanti pinggangnya sakit lagi.”
Nggak ada nada kasihan dalam suaranya. Nggak ada gaya manis yang sengaja ditampilkan supaya orang lain melihat. Perempuan itu mengobrol sambil merapikan kertas berdasarkan warna formulir, seolah jongkok di tengah lobi untuk membantu petugas kebersihan adalah bagian biasa dari paginya.
Reiga ikut mengambil dua lembar yang jatuh dekat sepatunya. Ketika dia menyerahkannya, perempuan itu mendongak.
Sial.
Wajahnya bahkan lebih cantik dari yang Reiga bayangkan saat cuma melihat dari samping. Matanya jernih, senyumnya hangat, dan entah kenapa lobi yang penuh orang mendadak terasa sedikit lebih terang.
“Makasih,” katanya.
Reiga yang biasanya selalu tahu harus menjawab apa malah cuma mengangguk.
Perempuan itu kembali membantu Bu Rini. Dari dalam tasnya, dia mengeluarkan roti yang masih terbungkus rapi.
“Ini buat Ibu.”
“Aduh, jangan. Buat sarapan Mbak aja.”
“Aku bawa dua. Dan kemarin Ibu bilang mau ngurangin kopi kalau perut kosong.” Dia memasukkan roti itu ke kantong seragam Bu Rini. “Aku bisa tahu kalau nanti cuma disimpan. Harus dimakan.”
Bu Rini tertawa kecil. “Iya, Bu Dokter.”
Perempuan bernama Monica itu berdiri, menepuk pelan roknya, lalu mengambil tas. Sebelum pergi, dia menoleh kepada Reiga dan memberi senyum singkat sekali lagi.
Reiga tetap berada di tempatnya sampai Dion menepuk pundaknya dari belakang.
“Baru masuk udah bengong.”
Reiga melirik teman lamanya itu. “Siapa dia?”
Dion mengikuti arah pandangannya. Sudut bibirnya langsung naik. “Oh, mampus.”
“Namanya Monica?”
“Lo denger sendiri tadi.”
“Divisi apa?”
“Senior illustrator.” Dion menatapnya dengan senang seperti baru menemukan bahan ledekan untuk enam bulan ke depan. “Belum lima menit masuk, lo udah nanya biodata perempuan.”
Reiga mengabaikannya dan berjalan menuju lift. Pintu hampir menutup ketika sebuah tangan muncul dari dalam dan menahannya.
Monica berdiri di sebelah panel tombol.
“Masuk?” tanyanya.
Reiga melangkah cepat. Dion yang masih tertawa ikut masuk sebelum pintu menutup.
Di dalam lift ada lima orang. Meski begitu, Reiga langsung sadar Monica berdiri hanya sejengkal dari lengannya. Ada aroma lembut yang tertinggal setiap kali perempuan itu bergerak—bukan wangi bunga yang menyengat, lebih seperti sabun bersih bercampur sedikit vanila.
Reiga menatap pantulan Monica di dinding lift. Perempuan itu sedang membaca notifikasi di ponsel, lalu tiba-tiba mengangkat pandangan. Mata mereka bertemu lewat pantulan.
Monica memiringkan kepala.
“Kita pernah ketemu?”
“Belum.”
“Oh.” Tatapannya turun ke kartu identitas sementara yang tergantung di leher Reiga. “Reiga Bramasta.”
“Iya.”
“Aku Monica.”
“Aku tahu.”
Begitu kalimat itu keluar, Dion batuk untuk menutupi tawa.
Monica berkedip. “Tahu dari mana?”
Reiga menunjuk ke arah lobi. “Bu Rini manggil nama kamu.”
“Kirain kamu udah cari tahu.”
Senyumnya tetap lembut, tetapi ada sesuatu yang usil di matanya. Reiga belum sempat menentukan apakah itu godaan ketika pintu lift terbuka. Orang-orang di depan mulai keluar, sementara Reiga masih berdiri di tempatnya.
Monica menahan tombol pintu.
“Kalau masih mau lihat aku, nanti aja setelah pintu lift nutup,” katanya pelan. “Kita bikin orang lain nunggu.”
Reiga keluar tanpa menjawab. Bukan karena nggak punya balasan. Otaknya hanya butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk menerima kenyataan bahwa perempuan berwajah setenang itu baru saja memergokinya menatap—lalu memilih menggoda, bukan merasa terganggu.
Dion menyusul sambil menahan senyum.
“Jangan,” kata Reiga.
“Gue belum ngomong.”
“Mukamu berisik.”
Ruang Rupa Studio memenuhi hampir seluruh lantai sembilan. Dinding kacanya dipenuhi tempelan warna, sketsa, dan jadwal proyek. Reiga baru sempat menaruh laptop ketika briefing Luméra dimulai.
Dia duduk di sisi kanan meja panjang. Monica datang terakhir bersama kepala desain, membawa tablet dan beberapa lembar moodboard. Dia terlihat sepenuhnya profesional sekarang. Nggak ada senyum usil seperti di lift.
“Buat proyek Luméra, strategi merek dipegang Reiga,” kata pemimpin rapat. “Visual utama sama ilustrasinya Monica. Kalian berdua akan jadi pasangan inti sampai peluncuran enam minggu lagi.”
Pasangan inti.
Reiga menoleh. Monica juga sedang melihatnya.
“Kayaknya kita bakal sering ketemu,” katanya.
“Keberatan?”
“Belum tahu.” Monica membuka tablet, lalu tersenyum kecil. “Tanya lagi setelah aku lihat cara kamu kerja.”
Selama satu jam berikutnya, Reiga mendapatkan jawaban yang seharusnya dia butuhkan. Monica bukan hanya cantik dan baik. Dia cepat memahami ide, berani membantah konsep yang terasa kosong, dan bisa menjelaskan masalah visual tanpa membuat orang lain merasa bodoh.
Ketika Reiga mengusulkan slogan Wangi yang Membuatmu Diingat, Monica mengangkat tangan kecil-kecil.
“Boleh jujur?”
“Harus.”
“Kedengarannya kayak ancaman mantan yang belum move on.”
Ruang rapat hening dua detik sebelum Dion tertawa paling keras. Reiga membaca kembali kalimat di layar, lalu ikut tersenyum karena Monica benar.
“Punya usulan lain?” tanyanya.
Monica menulis beberapa kata di tabletnya, memutar layar, lalu menunjukkan kalimat: Tinggal Lebih Lama dari Pertemuan.
“Parfum yang bagus bukan bikin orang mengingat karena dipaksa,” katanya. “Dia cuma ninggalin sesuatu setelah orangnya pergi.”
Reiga menatap kalimat itu lebih lama daripada yang diperlukan. Entah kenapa, penjelasan Monica terasa bukan cuma tentang parfum.
Setiap Reiga menyampaikan arah strategi, Monica menangkap intinya lalu mengubahnya menjadi gambar yang lebih jelas daripada kalimatnya sendiri.
Seharusnya itu membuat Reiga kembali fokus kepada pekerjaan.
Masalahnya, Monica menggigit ujung stylus setiap kali sedang berpikir.
Reiga mengalihkan pandangan ke layar.
“Ada yang salah?” tanya Monica.
“Nggak.”
“Kamu kelihatan kayak mau protes.”
“Aku lagi belajar cara kamu kerja.”
“Dan?”
“Belum tahu.” Reiga mengembalikan jawabannya tadi. “Tanya lagi enam minggu.”
Monica tertawa. Bukan tawa sopan yang dia berikan kepada klien, melainkan suara ringan yang membuat mata bagian luarnya menyipit.
Untuk pertama kalinya sejak menerima tawaran kerja di Ruang Rupa, enam minggu terasa terlalu singkat.
Reiga bahkan sudah membuka kalender proyek sebelum rapat benar-benar selesai. Bukan untuk memeriksa tenggat, melainkan menghitung berapa banyak alasan masuk akal yang dia punya untuk duduk berdua dengan Monica.
Setelah rapat selesai, Monica mengumpulkan kertas dan berjalan menuju koridor. Langkahnya tetap anggun, punggungnya tegak, suaranya lembut ketika menyapa dua pegawai yang berpapasan.
Dia masuk ke toilet perempuan.
Beberapa detik kemudian terdengar bunyi sesuatu jatuh, disusul pekikan tertahan.
“Aduh, Monica!”
Reiga berhenti di depan mesin kopi yang letaknya nggak jauh dari sana.
Dion muncul di sebelahnya. “Kenapa?”
Reiga menekan tombol espresso sambil melihat ke arah pintu toilet yang sudah kembali sunyi.
“Nggak tahu,” jawabnya.
Tapi untuk pertama kalinya hari itu, dia curiga Monica Larasati mungkin nggak setenang yang terlihat.
- 1 Perempuan yang Kelihatan Bercahaya reading
- 2 Empat Detik yang Nggak Mau Hilang
- 3 Tiga Kata, Dua Puluh Tiga Balasan
- 4 Makan Siang Paling Normal
- 5 Payung Bernama Bram
- 6 Jangan Gulung Lengan Bajumu
- 7 Eksperimen Reiga Bramasta
- 8 Kencan yang Nggak Bisa Disangkal
- 9 Jadi Pacarku
- 10 Pacar Monica Sangat Tampan
- 11 Siapa yang Menyerah Dulu
- 12 Cium Aku Sampai Aku Lupa
- 13 Museum Rahasia Monica
- 14 Sama-Sama Nggak Normal
- 15 Di Depanmu Aku Nggak Perlu Waras