← Di Depanmu Aku Waras

Chapter Five

Payung Bernama Bram

POV Reiga

Reiga sebenarnya membawa mobil.

Payung hitam di tangannya cuma dipakai untuk berjalan dari pintu gedung ke area parkir. Namun, melihat Monica berdiri di lobi sambil menatap hujan seperti baru dikhianati langit membuat rencana pulangnya berubah.

“Aku antar,” katanya.

Monica menoleh dari payung ke wajah Reiga. “Nggak usah. Apartemenku arah Kuningan.”

“Aku bawa mobil.”

“Rumah kamu di mana?”

“Kebayoran.”

“Itu muter jauh.”

“Nggak masalah.”

“Buat aku masalah.” Monica menyilangkan tangan. “Aku belum siap merasa berutang perjalanan satu setengah jam.”

“Kamu bisa bayar pakai makan siang berikutnya.”

Dia terlihat tergoda. Tatapannya pindah ke hujan, lalu kembali kepada Reiga.

“Kalau macet sampai dua jam?”

“Dua kali makan siang.”

“Perhitungannya curang.”

Reiga menahan senyum. “Aku brand strategist, bukan badan amal.”

Monica tertawa, tetapi tetap menggeleng. Dia sudah memesan mobil lewat aplikasi dan pengemudinya tinggal tujuh menit lagi. Reiga nggak memaksa. Dia menyerahkan payungnya saja.

“Pakai ini dari lobi ke mobil.”

“Terus kamu?”

“Parkir basement.”

Monica menerima payung itu dengan dua tangan. Benda biasa berwarna hitam tersebut mendadak terlihat seperti hadiah penting karena cara perempuan itu memegangnya.

“Aku balikin Senin.”

“Nggak buru-buru.”

“Ini payung favorit?”

Reiga memandang gagangnya yang sudah sedikit lecet. “Lumayan.”

Monica langsung menyodorkannya kembali. “Kalau favorit jangan dipinjemin.”

“Kenapa?”

“Kalau hilang gimana?”

“Aku tahu siapa yang bawa.”

“Kalau aku kabur?”

“Aku punya nomor kamu.”

Monica mendekat sedikit dan merendahkan suara. “Kalau aku blokir?”

“Kita satu kantor, Mon.”

“Oh, iya.” Dia memeluk payung itu ke dada. “Rencana jahatku gagal.”

Mobil pesanannya tiba. Monica membuka payung di depan pintu lobi, lalu berbalik sebelum melangkah ke hujan.

“Makasih, Reiga.”

Itu pertama kalinya dia memanggil tanpa “Mas”.

Reiga tetap berdiri sampai mobil Monica meninggalkan halaman gedung. Baru setelah itu dia sadar hujan memercik sampai ke ujung sepatunya, padahal dia sendiri nggak pernah keluar dari bawah atap.

Malamnya, Monica mengirim foto payung hitam yang sudah dibuka di ruang tamunya.

Monica: Sudah sampai dengan selamat. Pemilik sementaranya juga.

Reiga: Bagus. Jangan ditaruh dalam keadaan basah.

Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi.

Monica: Aku rawat baik-baik. Kalau perlu aku ajak tidur.

Reiga membaca pesan itu dua kali.

Reiga: Payungnya?

Monica nggak membalas selama lima menit.

Monica: Memangnya kamu ngira siapa?

Reiga tersenyum sendiri di dapur.

Reiga: Aku belum menyebut nama.

Pesannya cuma dibaca. Sampai tengah malam, Monica nggak menjawab lagi.

Sabtu pagi, Reiga menemukan transfer uang makan siang dari Monica. Nominalnya lebih besar seribu rupiah dengan keterangan: Bunga keterlambatan dan kompensasi acar.

Reiga membalas dengan foto nota dari restoran. Bagian doodle wajahnya sengaja ikut terlihat.

Reiga: Barang bukti sudah diamankan.

Monica: Buang.

Reiga: Nggak.

Monica: Kenapa disimpan?

Reiga sempat mengetik karena kamu yang gambar, tetapi menghapusnya. Belum waktunya membuat Monica kabur dari percakapan untuk sisa akhir pekan.

Reiga: Bukti kalau kamu merhatiin aku saat makan.

Balasan Monica datang satu menit kemudian.

Monica: Kita sama-sama tahu kamu juga merhatiin.

Reiga: Aku nggak pernah menyangkal.

Setelah itu Monica kembali menghilang selama hampir satu jam. Reiga mulai mengenali polanya. Perempuan itu berani melempar sesuatu, tetapi butuh waktu untuk pulih kalau lemparannya dikembalikan.

Minggu sore, hujan turun lagi. Kali ini Monica mengirim foto tanpa diminta. Payung Reiga terbuka di depan jendela apartemennya, berdiri di atas selembar handuk seperti tamu yang diberi tempat khusus.

Monica: Dia nggak boleh lembap. Nanti sakit.

Reiga: Payung nggak bisa sakit.

Monica: Kamu nggak tahu. Kamu bukan dokter payung.

Reiga menelepon sebelum sempat memikirkan apakah itu terlalu cepat. Monica mengangkat setelah dering keempat.

“Halo?” Suaranya terdengar lebih pelan daripada di kantor.

“Aku mau bicara sama pasien.”

Ada jeda, lalu tawa Monica memenuhi sambungan. “Dia lagi istirahat.”

“Kondisinya?”

“Stabil. Tadi siang aku bersihin, terus aku taruh dekat jendela.”

“Kamu selalu merawat barang pinjaman seperti itu?”

“Cuma barang yang pemiliknya bakal aku temui lagi.”

Kalimat itu membuat percakapan berhenti sesaat. Hujan terdengar samar dari kedua sisi sambungan, seolah mereka berada dalam ruangan yang sama.

“Bagus,” kata Reiga. “Aku memang mau ketemu lagi.”

Monica berdeham. “Besok juga ketemu di kantor.”

“Aku tahu.”

Mereka tetap bicara dua puluh menit setelah itu, sebagian besar tentang hal sepele. Ketika telepon ditutup, Reiga sadar dia sudah tersenyum sejak awal panggilan.

Senin pagi, Reiga sengaja datang lebih lambat karena harus menemui klien lebih dulu. Ketika sampai di kantor, meja Monica kosong. Ponselnya tergeletak di meja Reiga, tersambung pada kabel pengisi daya.

Di atas ponsel itu ada sticky note.

Port di mejaku rusak. Jangan baca notifikasiku. Aku punya pengacara.

Reiga baru selesai membaca ketika mendengar suara Monica dari ruang penyimpanan sampel di belakang meja ilustrasi.

“Kita harus berpisah, Bram.”

Reiga berhenti.

Suara Monica terdengar lagi, lebih pelan dan penuh penyesalan.

“Aku tahu ini berat. Tapi pemilikmu udah datang.”

Reiga berjalan ke arah pintu yang terbuka setengah. Monica berdiri membelakanginya sambil memegang payung hitam yang sudah dilipat rapi. Bahkan tali pengikatnya terpasang dengan sempurna.

“Siapa Bram?” tanyanya.

Monica tersentak sampai payung itu hampir jatuh.

Dia berbalik. Selama dua detik, wajahnya benar-benar kosong. Lalu ketenangan itu kembali seperti tirai yang buru-buru ditutup.

“Temanku.”

“Kamu ngomong sama teman di ruang sampel?”

“Aku lagi telepon.”

Reiga melihat ke arah mejanya. Ponsel Monica masih berada di sana, layarnya menyala karena notifikasi baru.

Monica mengikuti tatapannya.

Keheningan yang jatuh setelah itu terlalu indah untuk segera dihentikan.

“Pakai apa teleponnya?” tanya Reiga.

Monica menatap payung di tangannya, seolah berharap benda itu punya fitur panggilan tersembunyi.

“Telepati.”

Reiga akhirnya tertawa. “Bram itu payungku?”

“Bukan.”

“Kamu barusan bilang pemiliknya sudah datang.”

“Bram nama sementara.”

“Kenapa payungku butuh nama?”

Monica memeluk payung itu, lalu mengembuskan napas seperti orang yang menyerah saat diinterogasi.

“Aku kasih nama karena semalaman dia tidur sama aku.”

Reiga mengangkat alis. “Berarti dia lebih beruntung daripada pemiliknya.”

Monica membeku.

Nggak ada jawaban cerdas. Nggak ada senyum penuh percaya diri. Bibirnya terbuka sedikit, lalu tertutup lagi. Warna merah merambat dari pipi ke telinganya.

Reiga mengambil payung itu perlahan dari pelukannya.

“Makasih sudah dijaga.”

Monica cuma mengangguk.

Reiga berjalan kembali ke mejanya dengan payung di tangan. Dia seharusnya merasa aneh karena Monica memberi nama pada benda miliknya dan mengajak benda itu bicara saat sendirian.

Yang dia rasakan justru kepuasan hangat yang sulit dijelaskan.

Monica Larasati jelas punya sisi yang belum dia tunjukkan.

Dan besok pagi, Reiga ingin melihat sedikit lebih banyak.