Chapter Ten
Pacar Monica Sangat Tampan
POV Monica
Menjadi pacar Reiga Bramasta ternyata nggak mengubah apa pun.
Lelaki itu masih datang ke kantor dengan wajah tenang, masih minum kopi hitam tanpa gula, dan masih duduk menghadap pintu. Dia bahkan cuma mengangguk saat melihat Monica pada Senin pagi.
“Pagi.”
“Pagi,” jawab Monica.
Itu saja.
Nggak ada pelukan. Nggak ada ciuman kening. Nggak ada pengumuman bahwa mereka sekarang pasangan paling menarik di lantai sembilan.
Monica duduk di sebelahnya sambil menahan kesal.
“Kita masih pacaran?”
Reiga melihat jam tangan. “Terakhir aku cek, iya.”
“Kok biasa aja?”
“Katanya urusan kerja tetap kerja.”
“Jam kerja belum mulai. Masih delapan lewat lima puluh lima.”
Reiga menutup laptop, memutar kursinya, lalu membuka satu tangan. “Sini.”
Monica langsung merapat dan membiarkan dirinya dipeluk singkat. Wangi parfum Reiga mengenai hidungnya. Hangat tubuh lelaki itu menembus kain tipis blusnya.
Lima detik kemudian Reiga melepas.
“Sudah?”
“Kurang.”
“Sisanya nanti.”
Monica tersenyum. Dia suka kata nanti.
Status resmi memberi Monica keberanian baru. Sepanjang hari dia mencari alasan menyentuh Reiga tanpa bersembunyi. Dia merapikan kerahnya sebelum rapat, menyentuh rambut yang jatuh ke dahi, lalu menyandarkan kepala di bahunya saat mereka menunggu file besar selesai diunggah.
Reiga membiarkan semua itu dengan ketenangan menyebalkan.
“Kamu nggak deg-degan?” tanya Monica.
“Kenapa harus?”
“Pacarmu cantik dan lagi nempel.”
“Aku sadar.”
“Terus?”
Reiga menoleh sedikit. Bibirnya hampir menyentuh rambut Monica. “Aku lagi kerja keras supaya tetap kelihatan sopan.”
Monica buru-buru mengangkat kepala. Jadi dia bukan satu-satunya yang terpengaruh.
“Kalau nggak perlu sopan?”
“Jangan tanya kalau belum siap dengar jawabannya.”
Kalimat itu membuat Monica diam selama tujuh menit penuh—rekor baru sejak mereka berpacaran.
Rekor itu pecah saat rapat pagi dimulai. Monica duduk di seberang Reiga dan menerima print agenda dari Dion. Di pojok kertas, dia menggambar wajah kecil berkemeja lalu menulis: Pacar saya ganteng banget. Konsentrasi saya terganggu.
Dia menggeser kertas itu lewat bawah meja.
Reiga membaca tanpa mengubah ekspresi. Dia mengambil pulpen dan menulis balasan.
Pacarnya disuruh kerja.
Monica menambahkan satu baris.
Kalau pulang kerja boleh diganggu?
Reiga meliriknya untuk pertama kali. Tatapannya turun sebentar ke bibir Monica sebelum kembali ke presenter.
Di kertas, dia menulis satu kata.
Boleh.
Monica melipat kertas itu dan memasukkannya ke tas. Artefak baru.
Selasa sore, tim Luméra melakukan pemotretan produk. Model tangan yang dijadwalkan datang terlambat, sementara fotografer perlu menguji cahaya dan posisi botol.
“Reiga, pinjam tangan,” kata Monica.
Reiga berdiri di belakang meja properti. “Bukannya kemarin sudah resmi jadi milikmu?”
Fotografer yang nggak mendengar percakapan mereka menyuruh Reiga memegang botol di dekat leher. Monica berdiri di samping kamera untuk mengarahkan posisi.
“Pergelangan sedikit keluar,” katanya.
Reiga mengikuti.
“Bahu lebih santai.”
Dia menurut lagi.
Masalahnya, hasil di layar terlalu bagus. Kemeja putih, tangan yang memang sejak awal menjadi kelemahan Monica, dan tatapan Reiga yang terus mengarah kepadanya, bukan ke kamera.
“Lihat produknya,” tegur Monica.
“Aku sedang lihat creative director tidak resmi.”
“Aku serius.”
“Aku juga.”
Monica mengambil satu foto tambahan sebelum model datang. Foto itu nggak dipakai untuk proyek. Dia mengirimnya ke ponsel sendiri dan menaruhnya dalam folder yang namanya dibuat seolah penting: Referensi Anatomi Produk.
Saat set dibongkar, salah satu botol sampel bocor tepat ketika Reiga memindahkan properti. Cairannya mengenai bagian depan kemeja putih lelaki itu.
“Buka,” kata Monica refleks.
Reiga mengangkat alis.
“Kemejanya,” tambah Monica. “Kena parfum. Kalau kelamaan bisa noda.”
“Di sini?”
Studio masih penuh kru. Monica tahu dia sedang dipermainkan, tetapi matanya tetap turun ke kancing kemeja Reiga.
“Ada ruang ganti.”
“Kecewa?”
“Sedikit.”
Reiga tertawa lalu mengganti pakaian dengan kaus hitam dari lemari wardrobe. Monica membawa kemejanya pulang karena tempat laundry langganannya bisa membersihkan noda parfum dalam sehari.
Rabu malam, kemeja itu sudah bersih dan tergantung di pintu lemari Monica.
Dia seharusnya memasukkannya ke garment bag.
Sebaliknya, Monica memakainya.
Kemeja Reiga jatuh sampai pertengahan pahanya. Lengannya terlalu panjang, kerahnya longgar, dan aroma lembut yang tertinggal membuat Monica beberapa kali menunduk untuk mengendus kainnya.
“Aku cuma memastikan ukurannya,” katanya kepada pantulan sendiri.
Pantulannya terlihat sama nggak percayanya dengan Naya.
Monica mengambil foto di depan cermin. Dia membiarkan dua kancing atas terbuka dan satu bahunya terlihat. Wajahnya cuma muncul setengah, tetapi siapa pun bisa mengenali kemeja itu.
Foto terkirim sebelum keberaniannya hilang.
Monica: Bajumu sudah bersih. Aku cek dulu masih nyaman atau nggak.
Balasan Reiga datang kurang dari satu menit.
Reiga: Kenapa dipakai?
Monica: Quality control.
Reiga: Kamu pakai apa di bawahnya?
Monica menatap pertanyaan itu sambil menggigit bibir.
Monica: Katanya kamu jago baca strategi. Tebak.
Tiga titik muncul.
Monica menaikkan serangan sebelum sempat takut.
Monica: Kalau penasaran, datang sendiri.
Setelah mengirimnya, Monica mematikan ponsel, memasukkannya ke laci, lalu duduk di lantai.
“Kenapa aku nantang orang datang?” bisiknya. “Kalau dia datang gimana?”
Bel apartemen berbunyi dua puluh menit kemudian.
Monica berdiri terlalu cepat sampai kepalanya pusing. Dia melihat melalui lubang pintu.
Reiga.
Tentu saja.
Monica membuka pintu selebar wajah. “Ngapain?”
“Katanya datang sendiri.”
“Aku kira kamu punya rasa takut.”
“Flashdisk-ku ada di saku kemeja.”
Monica melihat kemeja yang sedang dipakai. Tangannya meraba saku dada dan menemukan benda kecil berbentuk persegi panjang.
“Oh.”
“Aku boleh masuk?”
Monica mundur.
Reiga masuk dan menutup pintu. Tatapannya menyapu kemeja itu tanpa berusaha menyembunyikan apa pun.
“Jadi,” katanya, “kamu pakai apa di bawah?”
Monica menyerahkan flashdisk. “Katanya kamu jago baca strategi. Tebak.”
Reiga nggak mengambil benda itu. Dia mendekat sampai Monica harus mendongak.
“Kalau aku nebak dengan tangan?”
Keberanian Monica langsung berantakan.
Reiga berhenti sebelum menyentuh. Tatapannya tetap pada mata Monica, memberi ruang untuk menolak.
Monica sadar lelaki itu nggak akan bergerak tanpa jawaban. Dia juga sadar dirinya nggak ingin Reiga mundur.
Jadi Monica menggenggam kerah kausnya, menariknya, lalu menempelkan bibir mereka singkat.
Cuma satu detik. Mungkin dua.
Monica melepaskan lebih dulu dan menaruh flashdisk di telapak tangan Reiga.
“Ambil barangmu. Pulang.”
Reiga masih menatapnya. Ketenangannya akhirnya retak; napasnya terdengar sedikit lebih berat.
“Kamu yakin?”
“Sebelum aku pingsan.”
Reiga menyentuh ringan dagunya. “Aku nanya kamu yakin mau aku pulang.”
Monica berhenti bernapas lagi.
“Kalau kamu tinggal, aku nggak yakin masih bisa ngomong normal.”
“Kamu dari tadi juga nggak normal.”
“Nah. Bisa lebih parah.”
Reiga mengusap ibu jari di bawah bibirnya, tepat di tempat ciuman mereka baru terjadi. “Aku bisa tinggal tanpa melakukan apa-apa.”
“Itu justru lebih menyiksa.”
“Jadi?”
Monica mengumpulkan sisa keberaniannya. “Aku siap nyium kamu. Belum siap kalau kamu balas terlalu lama.”
“Oke.”
Nggak ada ejekan atau kekecewaan di wajah Reiga. Cuma penerimaan sederhana yang membuat Monica merasa dirinya boleh menginginkan sesuatu setengah langkah demi setengah langkah.
“Lain kali,” katanya.
“Lain kali aku balas.”
Reiga lalu pergi tanpa memaksa lebih jauh.
Begitu pintu tertutup, Monica meluncur duduk di lantai dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Bibirnya masih terasa hangat. Dua detik ternyata cukup untuk membuat seluruh apartemen terasa berbeda, seolah Reiga meninggalkan jejak di udara, di kemeja yang masih dia pakai, dan di kepalanya yang nggak bisa berhenti mengulang kejadian tadi.
Ponselnya berbunyi dari dalam laci.
Reiga: Lain kali jangan mulai kalau nggak siap aku balas.
- 1 Perempuan yang Kelihatan Bercahaya
- 2 Empat Detik yang Nggak Mau Hilang
- 3 Tiga Kata, Dua Puluh Tiga Balasan
- 4 Makan Siang Paling Normal
- 5 Payung Bernama Bram
- 6 Jangan Gulung Lengan Bajumu
- 7 Eksperimen Reiga Bramasta
- 8 Kencan yang Nggak Bisa Disangkal
- 9 Jadi Pacarku
- 10 Pacar Monica Sangat Tampan reading
- 11 Siapa yang Menyerah Dulu
- 12 Cium Aku Sampai Aku Lupa
- 13 Museum Rahasia Monica
- 14 Sama-Sama Nggak Normal
- 15 Di Depanmu Aku Nggak Perlu Waras