Chapter Two
Empat Detik yang Nggak Mau Hilang
POV Monica
Monica Larasati punya dua puluh tujuh tahun pengalaman menjadi manusia normal.
Sayangnya, semua pengalaman itu seperti nggak berguna setiap kali Reiga Bramasta berada dalam radius dua meter.
Sejak kejadian di lift kemarin, Monica sudah mengulang percakapan mereka sekitar tiga puluh kali di kepalanya. Bagian ketika dia berkata kalau Reiga masih mau melihatnya, nanti saja setelah pintu lift menutup, selalu membuatnya ingin menendang selimut.
Siapa yang bicara begitu kepada lelaki yang baru dikenal?
Monica, rupanya.
Lebih parah lagi, Reiga nggak terlihat terganggu. Lelaki itu malah mengembalikan godaannya saat rapat. Monica begitu senang sampai menjatuhkan tempat tisu di toilet, lalu mengumpat dengan suara yang mungkin terdengar sampai mesin kopi.
Hari ini dia berjanji akan lebih baik.
Datang ke kantor. Kerja. Jangan menatap Reiga seperti perempuan kelaparan.
Sederhana.
“Pagi.”
Suara Reiga terdengar tepat di belakangnya saat Monica sedang membuka file moodboard.
Dia menutup mata satu detik, menarik napas, lalu menoleh dengan senyum yang sudah dilatih di depan cermin.
“Pagi, Mas Reiga.”
Hari ini lelaki itu memakai kemeja putih. Lengannya masih terpasang rapi sampai pergelangan, tetapi jam tangan hitam di tangan kirinya entah kenapa terlihat terlalu bagus.
Monica memaksa matanya naik ke wajah.
“Nggak perlu pakai Mas,” kata Reiga sambil duduk di kursi sebelahnya.
“Kamu lebih tua.”
“Tiga tahun.”
“Tetap lebih tua.”
“Kalau aku panggil kamu Mbak Monica?”
Monica menatapnya. “Aku bisa tersinggung.”
Sudut bibir Reiga bergerak sedikit. Lelaki itu nggak tertawa penuh, tetapi Monica tetap merasa baru memenangkan sesuatu.
Mereka menghabiskan pagi dengan memilih arah visual Luméra. Meja kerja penuh potongan warna, botol sampel, kartu tekstur, dan cetakan ilustrasi. Reiga duduk dekat sekali karena layar tablet Monica cuma sepuluh inci.
Setiap dia membungkuk, aroma parfumnya sampai ke hidung Monica.
Bersih. Hangat. Sedikit woody.
Monica mempertimbangkan untuk bertanya mereknya, lalu membatalkan niat karena takut terdengar seperti ingin membelinya dan menyemprotkan ke bantal.
Padahal memang begitu rencananya.
“Menurutmu bentuk botol ini terlalu kaku?” tanya Reiga.
Monica menatap layar. Setidaknya dia berusaha. “Untuk target market-nya, iya. Luméra mau terasa personal, tapi garisnya terlalu dingin.”
“Kalau pakai lengkung yang ini?”
Reiga meraih dua sampel sekaligus. Monica melakukan hal yang sama.
Jari mereka bertemu di atas botol kaca berwarna amber.
Satu.
Monica seharusnya menarik tangan.
Dua.
Reiga juga nggak bergerak.
Tiga.
Telunjuk lelaki itu hangat. Ujung jarinya menempel tepat di sisi jari Monica.
Empat.
Reiga akhirnya mengambil sampel di sebelah kiri. Monica mengambil yang kanan, lalu melanjutkan bicara dengan nada setenang mungkin.
“Yang ini lebih lembut. Kalau ilustrasinya mengikuti lengkung botol, hasilnya bakal terasa menyatu.”
“Kamu selalu bisa langsung lanjut kerja setelah terjadi sesuatu?”
Stylus Monica berhenti.
Dia menoleh. “Terjadi apa?”
“Nggak ada.” Tatapan Reiga turun sebentar ke tangannya. “Mungkin aku salah merasa.”
Kurang ajar.
Monica tersenyum manis dan menggambar satu garis lengkung di layar. “Kalau cuma empat detik, memang belum sempat terjadi apa-apa.”
Kali ini Reiga benar-benar diam.
Monica berhasil mempertahankan ekspresi selama enam detik sebelum pura-pura mencari file di folder lain. Di dalam kepalanya, dia sudah lari keliling gedung sambil membawa spanduk kemenangan.
Mereka kembali bekerja. Beberapa menit kemudian, Reiga membuka kancing mansetnya lalu menggulung lengan kemeja satu kali.
Monica membenci kenyataan bahwa perhatiannya langsung jatuh ke tangan itu.
Jari panjang. Kuku rapi. Urat tipis terlihat saat Reiga memegang botol sampel.
Tuhan menciptakan tangan sebagus itu untuk apa?
Monica menatap terlalu lama.
“Kenapa?” tanya Reiga.
“Tangan kamu bagus.”
Kalimat itu keluar sebelum sempat dihentikan.
Reiga melihat tangannya sendiri, lalu kembali menatap Monica. “Bagus buat apa?”
Ada banyak jawaban di kepala Monica. Nggak ada satu pun yang layak diucapkan pada jam sebelas pagi di kantor.
Dia mengangkat dagu sedikit.
“Belum tahu. Aku baru punya beberapa teori.”
Untuk pertama kalinya, ketenangan Reiga retak.
Nggak banyak. Lelaki itu cuma salah menaruh tutup botol, lalu harus mengambilnya lagi. Tapi Monica melihatnya. Ujung telinga Reiga bahkan sedikit merah.
Rasa malu Monica mendadak berubah menjadi kepuasan.
Oh.
Jadi dia juga bisa membuat lelaki ini kehilangan ritme.
“Mau jelasin teorinya?” tanya Reiga setelah berhasil menutup botol.
Monica memiringkan kepala. “Di kantor?”
“Berarti ada tempat lain yang lebih cocok?”
Serangan balik itu begitu cepat sampai Monica nyaris menjatuhkan stylus.
Reiga menangkap benda itu sebelum menyentuh lantai. Lagi-lagi tangannya masuk ke dekat tangan Monica, tetapi kali ini Monica buru-buru menarik diri.
“Tadi katanya punya beberapa teori,” bisik Reiga sambil menyerahkan stylus. “Kenapa sekarang takut?”
“Aku nggak takut.”
“Bagus.”
“Aku cuma sadar riset yang baik butuh waktu.”
“Kalau butuh objek penelitian, bilang.”
Monica mengambil stylus itu pelan-pelan. Reiga bahkan nggak tersenyum setelah mengatakannya. Wajahnya tetap setenang orang yang baru menawarkan bantuan memindahkan meja.
Ini nggak adil. Seharusnya lelaki setampan itu punya sedikit belas kasihan.
Untung kepala desain datang meminta revisi. Monica berdiri terlalu cepat dan membawa tabletnya ke meja seberang tanpa berani menoleh lagi.
Sepanjang sore, dia merasakan tatapan Reiga sesekali. Bukan tatapan yang bikin nggak nyaman. Lebih seperti lelaki itu sedang mencoba memecahkan teka-teki, dan Monica adalah teka-teki yang baru saja sengaja memberikan petunjuk paling menyesatkan.
Begitu sampai di apartemen malam itu, Monica meletakkan tas, melepas sepatu, lalu berdiri di depan Naya sambil mengangkat tangan kanan.
“Jangan sentuh aku.”
Naya yang sedang makan mi menatapnya datar. “Kenapa?”
“Tangan ini habis menyentuh tangan Reiga.”
“Terus?”
Monica mendekatkan tangannya ke hidung. Aroma parfum Reiga sebenarnya sudah hampir nggak ada, tetapi dia yakin masih bisa menemukan sisanya kalau berusaha.
“Aku belum mau cuci tangan.”
Naya menurunkan garpu. “Monica.”
“Cuma satu jam.”
“Kamu pegang gagang pintu, tombol lift, sama kartu parkir pakai tangan itu.”
Monica melihat telapak tangannya.
“Kenapa kamu harus merusak suasana?”
“Karena bakteri nggak peduli sama kisah cinta.”
Monica tetap bertahan sebelas menit. Setelah Naya mengancam menyemprot tangannya dengan disinfektan, dia akhirnya masuk kamar mandi dan mencuci tangan dengan wajah seperti sedang melepas cinta pertamanya ke luar negeri.
Selesai mandi, Monica menjatuhkan diri ke kasur lalu memeluk bantal.
Dia mengingat empat detik itu.
Lalu tangan Reiga.
Lalu pertanyaan tentang tempat lain yang lebih cocok untuk membahas teorinya.
Monica berguling ke kanan, kembali ke kiri, lalu menendang selimut.
“Kenapa dia harus bisa membalas?” keluhnya ke bantal. “Kenapa nggak ganteng doang?”
Ponselnya bergetar di atas nakas.
Monica meraihnya sambil masih memeluk bantal. Begitu melihat nama pengirimnya, dia langsung duduk.
Reiga: Udah makan?
Tiga kata.
Cuma tiga kata sederhana.
Monica menatapnya selama hampir satu menit, lalu membuka aplikasi catatan untuk menyusun jawaban yang nggak membuatnya terlihat seperti sudah merencanakan nama anak mereka.
- 1 Perempuan yang Kelihatan Bercahaya
- 2 Empat Detik yang Nggak Mau Hilang reading
- 3 Tiga Kata, Dua Puluh Tiga Balasan
- 4 Makan Siang Paling Normal
- 5 Payung Bernama Bram
- 6 Jangan Gulung Lengan Bajumu
- 7 Eksperimen Reiga Bramasta
- 8 Kencan yang Nggak Bisa Disangkal
- 9 Jadi Pacarku
- 10 Pacar Monica Sangat Tampan
- 11 Siapa yang Menyerah Dulu
- 12 Cium Aku Sampai Aku Lupa
- 13 Museum Rahasia Monica
- 14 Sama-Sama Nggak Normal
- 15 Di Depanmu Aku Nggak Perlu Waras