← Di Depanmu Aku Waras

Chapter Fourteen

Sama-Sama Nggak Normal

POV Monica

Monica nggak tidur nyenyak.

Setiap kali memejamkan mata, dia melihat Reiga berdiri di depan museum kecilnya sambil memegang payung Bram. Lalu otaknya memutar ulang semua barang yang mungkin sempat terlihat.

Spreadsheet. Nota. Screenshot. Undangan latihan.

Penilaian ciuman.

Ya Tuhan.

Pukul dua pagi, Monica sempat mempertimbangkan pindah ke luar kota. Pukul tiga, dia mencari tiket ke Bali. Pukul empat, dia sadar proyek Luméra belum selesai dan membatalkan rencana kabur demi profesionalisme.

Atau karena kunci apartemen Reiga masih tergeletak di samping laptop.

Senin malam, Monica berdiri di depan pintu apartemen itu selama hampir lima menit. Dia sudah menyusun penjelasan, permintaan maaf, dan satu kalimat perpisahan kalau Reiga memang ingin mengakhiri hubungan mereka.

Kunci berputar. Pintu terbuka.

Reiga menunggunya di ruang tamu.

“Aku kira kamu nggak datang.”

“Aku juga.”

Monica masuk, menutup pintu, lalu meletakkan kunci di meja.

“Aku mau jelasin dulu.”

Reiga mengangguk dan duduk di sofa. Monica memilih berdiri karena kalau duduk, dia takut lututnya nggak mau membawanya pulang.

“Aku tahu koleksiku kelihatan nggak sehat.”

“Aku nggak bilang begitu.”

“Tapi memang aneh.” Monica meremas jemarinya. “Aku suka menyimpan sesuatu kalau punya kenangan. Bukan cuma tentang kamu. Aku masih punya karcis bioskop sama Naya waktu kuliah dan bungkus hadiah dari ibuku.”

Reiga menunggu tanpa memotong.

“Kalau soal kamu memang lebih… banyak. Tapi aku nggak pernah ngikutin kamu. Nggak pernah buka ponselmu, cari alamat keluargamu, atau menyimpan sesuatu yang kamu nggak kasih. Aku cuma terlalu senang setiap ada hal kecil yang berhubungan sama kamu.”

Suaranya mulai goyah. Monica menarik napas.

“Dulu catatan pribadiku pernah dibaca orang. Isinya tentang laki-laki yang kusuka. Mereka ngetawain karena aku menulis terlalu detail. Sejak itu aku belajar kelihatan biasa aja.”

“Makanya kamu lebih gampang ngomong nakal daripada bilang takut?”

Monica tertawa kecil. “Kalau ngomong nakal terus ditolak, aku bisa bilang bercanda. Kalau bilang aku sayang banget terus ditolak, nggak ada tempat buat sembunyi.”

Reiga berdiri.

Monica mengangkat tangan. “Belum selesai.”

Dia berhenti.

“Aku minta maaf kalau bikin kamu nggak nyaman. Kalau ada yang harus dibuang, aku buang. Kalau kamu butuh jarak…” Monica menelan ludah. “Aku terima.”

Reiga berjalan melewatinya menuju lemari di dekat ruang kerja.

“Ikut.”

“Kamu mau tunjukin apa?”

“Alasan kenapa aku bilang jangan ambil keputusan dulu.”

Di dalam ruang kerja, ada rak tertutup yang selalu Monica kira berisi dokumen. Reiga membuka pintunya.

Kotak-kotak abu-abu berbaris di dalam. Semuanya punya label putih dengan tanggal dan nama kategori.

Luméra — Minggu Pertama.

Monica — Catatan Kecil.

Monica — Foto dan Audio.

Monica mendekat tanpa berkedip.

Reiga membuka kotak pertama. Di dalamnya ada nota makan siang pertama mereka lengkap dengan doodle wajah Reiga. Ada bungkus kopi dengan tulisan Monica, sticky note ancaman pengacara, tiket pameran, kartu parkir dari kencan pertama, dan salinan poster ilustrasi.

“Kenapa kamu simpan sampah?” tanya Monica.

“Pertanyaan yang berani dari perempuan yang menyimpan bungkus permen.”

“Itu beda.”

“Bedanya?”

Monica nggak punya jawaban.

Kotak kedua berisi beberapa foto candid dirinya di kantor. Bukan foto diam-diam dari Reiga; ada nama Dion di percakapan yang tercetak di belakangnya.

Dion: Teman lo senyum sendiri habis dikasih kopi.

Reiga: Kirim foto aslinya. Jangan disebar.

“Kamu menyuruh Dion motret aku?”

“Sekali. Setelah itu aku bilang jangan lagi karena terasa nggak benar.”

“Bagus.” Monica menunjuknya. “Itu batas.”

“Aku tahu.”

Reiga mengambil foto tersebut, membukanya dari ponsel, lalu menghapus file aslinya dan percakapan yang berisi kiriman Dion.

“Yang cetak juga?” tanyanya.

Monica memandangi foto dirinya yang sedang tersenyum pada kopi. Dia tahu foto itu diambil tanpa pengetahuannya, tetapi momennya bukan sesuatu yang ingin dia buang.

“Simpan satu. Jangan tunjukin ke orang lain.”

“Oke.”

“Dan jangan minta Dion motret lagi.”

“Sudah nggak pernah.”

Cara Reiga langsung bertanya dan menerima batas membuat Monica merasa koleksi ini bukan jebakan. Mereka bisa menyimpan kenangan tanpa memperlakukan satu sama lain sebagai benda.

Reiga membuka laptop dan memperlihatkan folder audio. Di dalamnya ada voice note Monica tertawa karena salah menyebut nama klien dan rekaman pesan saat dia setengah mengantuk.

“Kamu simpan suara ketawaku?”

“Aku suka dengar.”

Monica menatap rak, lalu lemari miliknya dalam ingatan.

“Kenapa punyamu rapi banget?”

“Aku suka label.”

“Jadi koleksiku kelihatan amatiran.”

Reiga akhirnya tersenyum. “Kita sedang membahas batas sehat dan kamu malah tersinggung soal pengarsipan.”

“Aku kompetitif.”

Reiga mengeluarkan satu buku catatan tipis dari bagian bawah kotak. Di halaman pertama tertulis beberapa hal sederhana:

Vanilla latte, gula setengah.

Makan acar kalau gugup.

Nggak suka orang menyentuh tabletnya tanpa izin.

Diam kalau capek, terlalu banyak bicara kalau malu.

Monica membalik halaman. Ada tanggal setiap kali Reiga menambahkan sesuatu, termasuk hari pertama dia memakai anting emas dan hari ketika dia memanggil Reiga tanpa “Mas”.

“Ini profil target market atau pacar?”

“Awalnya supaya aku nggak salah pesan kopi.”

“Terus kenapa ada catatan soal aku menggigit sedotan kalau kesal?”

“Data berkembang.”

Monica menutup buku itu sambil menahan senyum. Reiga ternyata mengamati dirinya sedetail dia mengamati lelaki itu. Bedanya, catatan Reiga punya tanggal, indeks, dan tulisan tangan yang jauh lebih rapi.

Rasa takut yang menekan dada Monica sejak kemarin mulai lepas sedikit demi sedikit. Reiga bukan sedang menoleransi dirinya dari jarak aman. Lelaki itu memahami dorongan untuk menyimpan, mengulang, dan memberi nilai pada sesuatu karena dia juga melakukannya.

Mereka duduk di lantai di depan rak dan membuat aturan.

Boleh menyimpan benda yang diberikan atau memang mau dibuang. Boleh menyimpan chat pribadi untuk diri sendiri. Harus bertanya sebelum menggunakan suara atau foto sebagai sesuatu yang bisa didengar orang lain. Nggak boleh membuka perangkat, melacak lokasi tanpa alasan keselamatan, atau meminta orang lain mengambil foto diam-diam.

“Daftar fantasi?” tanya Reiga.

“Privat.”

“Kalau aku ada di dalamnya?”

“Tetap privat sampai aku mau kasih lihat.”

“Adil.”

Monica menatapnya. “Jadi daftar tempat yang pengin aku cium itu nggak bikin kamu takut?”

“Aku cuma keberatan karena beberapa bagiannya belum kamu praktikkan.”

“Kamu belum tahu isinya.”

“Bisa mulai dari yang aman.”

Monica berdiri, lalu duduk menyamping di pangkuan Reiga. Tangannya melingkar ke leher lelaki itu.

“Contohnya?”

Reiga menunjuk pipi. Monica menciumnya.

Dia menunjuk rahang. Monica mengikuti.

Ketika Reiga menunjuk bibir, Monica menahannya.

“Yang itu ada tarifnya.”

“Bayar pakai apa?”

Monica nggak langsung bercanda. Dia menarik napas dan mengatakan bagian yang sejak tadi lebih sulit daripada seluruh pengakuan soal koleksi.

“Aku pengin dicintai waktu aku rapi, cantik, dan gampang dibawa ketemu orang. Tapi aku juga pengin kamu tetap sayang waktu aku berantakan, terlalu heboh, atau punya perasaan yang kebanyakan.”

Reiga menyentuh pipinya.

“Aku jatuh cinta waktu kamu kelihatan paling anggun,” katanya. “Tapi aku bertahan karena ternyata di baliknya ada Monica yang ngomong sama payung, muter di ruang fotokopi, dan bikin statistik ciuman.”

Mata Monica terasa panas.

“Di depan orang lain aku masih bisa pura-pura normal.”

“Di depanku nggak usah.”

“Kalau aku benar-benar nggak waras?”

“Aku punya kotak penyimpanan. Kita arsipkan.”

Monica tertawa sambil menangis sedikit. Reiga menghapus air matanya dengan ibu jari, lalu menciumnya pelan.

“Tapi aku nggak mau kamu merasa harus memperlihatkan semua hal pribadi hanya karena aku sudah melihat lemarimu,” kata Reiga. “Kamu tetap boleh punya ruang sendiri.”

“Termasuk daftar?”

“Termasuk daftar.”

“Kalau suatu hari aku kasih lihat?”

“Berarti kamu memilih berbagi. Bukan karena aku menuntut.”

Monica menyandarkan dahinya ke dahi Reiga. Untuk pertama kalinya, diterima nggak terasa seperti seluruh dirinya diserahkan tanpa pelindung. Dia tetap punya pintu, dan Reiga memilih mengetuk.

“Aku sayang kamu,” katanya.

Itu jauh lebih menakutkan daripada seluruh godaan vulgar yang pernah keluar dari mulutnya.

Reiga nggak membuatnya menunggu.

“Aku juga sayang kamu.”

Monica akhirnya membiarkan kalimat itu tinggal tanpa dibedah, dicurigai, atau dimasukkan ke tabel. Untuk sekali ini, dia cuma percaya dan memeluk Reiga lebih erat.

Malam itu, ketika bersiap pulang, Monica membuka lemari pakaian Reiga dan mengambil satu kemeja putih.

“Itu pencurian,” kata Reiga.

“Barang bukti.”

“Mau dibawa ke mana?”

Monica melipatnya di lengan, lalu tersenyum.

“Besok malam jangan bikin rencana. Aku mau menyelesaikan beberapa poin di daftar.”