Chapter Thirteen
Museum Rahasia Monica
POV Reiga
Reiga nggak berniat membaca daftar Monica.
Judulnya memang terus muncul di kepala sejak semalam—terutama bagian tempat yang pengin dicium—tetapi dia tahu bedanya sesuatu yang jatuh terbuka di depan mata dan sesuatu yang sengaja disimpan sebagai rahasia.
Monica akan bercerita kalau sudah siap.
Setidaknya itu rencana Reiga sampai dia menemukan laptop perempuan itu tertinggal di samping sofa pada Minggu pagi.
Dia mengirim pesan. Nggak dibalas. Teleponnya juga nggak diangkat.
Akhirnya Reiga menghubungi Naya untuk memastikan Monica sudah sampai dengan selamat.
Naya: Sudah. Dia lagi mandi. Laptopnya memang ketinggalan?
Reiga: Iya. Ada file presentasi buat besok.
Naya: Antar sekarang aja. Pintu unitku kebuka.
Empat puluh menit kemudian, Reiga berdiri di depan apartemen Monica sambil membawa laptop dan sekantong roti. Naya membukakan pintu dengan ekspresi orang yang sudah tahu terlalu banyak.
“Kalian berantem?” tanya Naya sebelum mempersilakannya masuk.
“Belum.”
“Belum itu jawaban yang bikin takut.”
Reiga mengangkat laptop. “Dia lupa ini.”
Naya melihat sekantong roti di tangannya. “Dan kamu beli sarapan karena?”
“Dia biasanya lupa makan kalau panik.”
Ekspresi Naya melembut sedikit. “Bagus. Berarti kamu memperhatikan.”
“Dia kenapa?”
“Sejak pulang cuma bilang ada kertas jatuh. Habis itu dia beresin kamar sampai jam dua pagi.”
Reiga menatap pintu kamar yang tertutup setengah. Jadi Monica sudah ketakutan bahkan sebelum tahu apa yang akan terjadi hari ini.
“Dia masih mandi,” katanya. “Tunggu di kamar aja. Aku harus turun ambil paket.”
“Di ruang tamu juga bisa.”
“Kamar mandi dalamnya dekat kamar. Biar dia langsung dengar.”
Naya pergi sebelum Reiga sempat berdebat.
Pintu kamar Monica terbuka. Reiga mengetuk kusennya dua kali, nggak mendapat jawaban, lalu masuk sekadar untuk meletakkan laptop di meja.
Kamarnya rapi dengan cara yang sangat Monica. Sprei warna krem tanpa kerutan, meja gambar di dekat jendela, parfum berbaris berdasarkan tinggi botol, dan beberapa bantal yang jumlahnya terlalu banyak untuk satu orang.
Reiga menaruh laptop.
Saat berbalik, siku tas rotinya menyenggol pintu lemari pajangan kecil di samping meja. Pintu itu terbuka lebih lebar.
Payung hitam bernama Bram berdiri di bagian paling depan.
Reiga berhenti.
Dia mengenali lecet kecil di gagangnya. Monica ternyata belum benar-benar mengembalikan payung itu. Yang dibawa ke kantor waktu itu payung hitam lain dengan bentuk nyaris sama.
Di samping Bram ada kotak bening berisi bungkus permen, nota kafe, kartu pos dari pameran, dan sticky note bertuliskan tangan Reiga. Masing-masing diberi tanggal kecil.
Ada juga kertas pembungkus roti yang pernah Reiga beli ketika Monica lupa makan, pita kecil dari buket meja klien, dan sedotan kopi dengan label pertama kali Reiga minum dari gelasku tanpa izin.
Reiga mengingat kejadian itu. Dia bahkan nggak tahu Monica memperhatikan, apalagi menyimpan sedotannya.
Di rak kedua, beberapa percakapan chat mereka dicetak seperti potongan jurnal. Ada foto tangan Reiga saat memegang botol Luméra, foto kemejanya, dan tabel dengan judul Durasi Kontak Fisik dan Dampaknya terhadap Stabilitas Mental.
Baris-baris tabelnya tertutup map lain, tetapi satu angka terlihat jelas: 37 menit 12 detik. Durasi mereka berpegangan tangan di pameran.
Benda-benda itu nggak terlihat seperti koleksi orang yang ingin memiliki Reiga secara sepihak. Semuanya adalah jejak pertemuan yang memang mereka alami bersama. Monica hanya memberi bobot lebih besar daripada kebanyakan orang.
Reiga seharusnya merasa terganggu.
Yang muncul justru kehangatan aneh saat menyadari hal-hal kecil yang nyaris dia lupakan ternyata penting bagi Monica.
Dia nggak menyentuh kertas-kertas itu. Tatapannya hanya bergerak cukup jauh untuk membaca judul, bukan isinya.
Lalu matanya menangkap satu halaman bertuliskan:
Ciuman pertama: 9,7/10.
Catatan: Pengujian tambahan dibutuhkan karena subjek berhenti terlalu cepat demi keselamatan peneliti.
Reiga menutup mulut, menahan tawa.
Di bawahnya ada desain undangan minimalis berwarna hijau gelap. Nama Reiga Bramasta dicetak lebih besar daripada Monica Larasati. Bagian tanggal masih kosong, dan di sudutnya tertulis kecil: Latihan tipografi. Bukan manifestasi. Mungkin sedikit.
“Kamu ngapain?”
Reiga menoleh.
Monica berdiri di ambang pintu dengan rambut basah, pakaian rumah longgar, dan wajah yang kehilangan seluruh warna.
Tatapannya jatuh ke lemari terbuka.
Lalu ke payung di tangan Reiga.
Reiga baru sadar dia mengambil Bram saat membaca tulisan di rak. Dia memegangnya seperti barang bukti.
Monica bergerak cepat, berdiri di depan lemari, lalu merentangkan kedua tangan untuk menutupinya. Lemari itu hampir dua kali lebar tubuhnya. Usahanya sama sekali nggak membantu.
“Keluar.”
“Aku cuma antar laptop.”
“Taruh. Terus keluar.”
“Mon.”
“Jangan panggil aku begitu.” Dia merebut payung dari tangannya. “Kamu baca apa?”
“Judul beberapa kertas. Aku nggak buka atau baca detail.”
“Beberapa itu berapa?”
“Cukup buat tahu ciuman pertama dapat sembilan koma tujuh.”
Monica memejamkan mata seperti berharap bumi menelannya.
Reiga berusaha meringankan suasana dengan mengangkat desain undangan yang tergeletak di rak paling luar.
“Kenapa namaku ditulis lebih besar?”
“Karena kamu kelihatan kayak pihak yang bakal lebih dominan.”
Jawaban itu keluar refleks.
Reiga mengangkat alis.
Monica baru memahami arti lain dari perkataannya. Warna wajahnya kembali, bahkan terlalu banyak.
“Bukan begitu maksudku.”
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Mukamu bilang.”
Biasanya Monica akan menyelamatkan diri dengan godaan lain. Kali ini dia nggak melakukannya. Tangannya mencengkeram gagang payung, dan napasnya mulai pendek.
Reiga meletakkan desain itu kembali.
“Aku nggak marah.”
“Kamu diam.”
“Aku lagi memproses.”
“Nah.” Monica tertawa pendek tanpa terdengar senang. “Orang memang butuh waktu buat memproses betapa anehnya aku.”
“Bukan begitu.”
“Aku kasih nama payungmu. Aku simpan bungkus permen. Aku cetak chat kita kayak orang nggak punya internet. Aku bikin spreadsheet ciuman.”
“Aku sudah lihat.”
“Itu masalahnya.”
Monica menutup pintu lemari dengan susah payah karena tubuhnya masih menghalangi. Saat akhirnya tertutup, dia berdiri membelakangi Reiga.
“Aku nggak pernah ngikutin kamu,” katanya. “Aku nggak pernah buka barangmu atau cari tahu hal yang bukan urusanku. Semua di situ cuma barang yang kamu kasih, benda yang memang mau dibuang, atau hal dari percakapan kita.”
“Aku percaya.”
“Tapi tetap aneh.”
Reiga mendekat satu langkah. Monica mundur.
Gerakan kecil itu membuatnya berhenti.
“Kamu jijik?” tanyanya.
“Nggak.”
“Takut?”
“Nggak.”
“Terus kenapa kelihatan serius?”
Reiga memilih jawabannya dengan hati-hati. “Karena aku sadar kamu sudah menyimpan semua ini sebelum kita resmi pacaran, dan kamu pasti takut aku lihat. Aku nggak mau ketawa waktu buat kamu ini bukan cuma lucu.”
“Kamu boleh bilang ini kelewatan.”
“Ada bagian yang perlu kita bicarakan. Bukan karena aku mau menghakimi, tapi karena aku juga ingin tahu batas kita.”
Monica menatapnya. “Jadi kamu memang nggak nyaman.”
“Aku nggak nyaman kalau kamu mengira harus menyembunyikan semuanya.”
“Jangan dipelintir jadi romantis.”
“Aku nggak sedang memelintir.” Reiga menunjuk lemari yang sudah tertutup. “Aku senang nota makan siang itu penting buat kamu. Aku geli karena payungku ternyata diculik dan diganti kembarannya. Aku juga perlu memastikan kamu nggak menyimpan sesuatu yang melanggar privasi. Semua perasaan itu bisa ada bersamaan.”
Monica terdiam. Kalimat itu tampaknya lebih sulit diterima daripada penolakan sederhana. Penolakan bisa membuatnya kabur. Nuansa memaksanya tetap berdiri dan bicara.
“Aku nggak siap bahas sekarang,” katanya akhirnya.
Mata Monica mulai berkilat, tetapi dia segera melihat ke tempat lain.
“Aku butuh waktu sendiri.”
Kalimat itu melukai lebih dari yang Reiga duga. Namun, meminta Monica membuka diri saat sedang malu hanya akan membuat semuanya terasa seperti interogasi.
Dia mengambil kunci apartemennya dari gantungan tas dan meletakkannya di samping laptop.
“Oke. Aku pulang.”
Monica menatap kunci itu.
“Kenapa ditinggal?”
“Besok datang ke tempatku.”
“Buat apa?”
“Lihat punyaku.”
“Punyamu apa?”
“Setelah itu baru putuskan siapa yang lebih aneh.”
Untuk pertama kalinya sejak masuk kamar, Monica terlihat bingung alih-alih malu.
Reiga berjalan ke pintu, lalu berhenti.
“Aku belum selesai bicara. Aku juga nggak sedang pergi dari hubungan ini.”
“Reiga—”
“Besok, Mon.”
Dia keluar dan menutup pintu dengan pelan.
Naya baru kembali dari lift. Dia melihat wajah Reiga, lalu pintu kamar Monica.
“Putus?” tanyanya.
“Nggak.”
“Marah?”
“Juga nggak.” Reiga menyerahkan kantong roti. “Pastikan dia makan. Besok dia datang ke tempatku.”
Naya menerima kantong itu dan mengangguk seperti baru menyetujui perjanjian penting.
Reiga meninggalkan kuncinya, tetapi membawa satu kepastian: kalau ingin Monica percaya bahwa dirinya nggak terlalu banyak, kata-kata saja nggak akan cukup.
Besok, Reiga harus membiarkan perempuan itu melihat bahwa dia juga menyimpan lebih banyak daripada yang pernah diakui.
- 1 Perempuan yang Kelihatan Bercahaya
- 2 Empat Detik yang Nggak Mau Hilang
- 3 Tiga Kata, Dua Puluh Tiga Balasan
- 4 Makan Siang Paling Normal
- 5 Payung Bernama Bram
- 6 Jangan Gulung Lengan Bajumu
- 7 Eksperimen Reiga Bramasta
- 8 Kencan yang Nggak Bisa Disangkal
- 9 Jadi Pacarku
- 10 Pacar Monica Sangat Tampan
- 11 Siapa yang Menyerah Dulu
- 12 Cium Aku Sampai Aku Lupa
- 13 Museum Rahasia Monica reading
- 14 Sama-Sama Nggak Normal
- 15 Di Depanmu Aku Nggak Perlu Waras