← Di Depanmu Aku Waras

Chapter Four

Makan Siang Paling Normal

POV Monica

Monica memilih restoran untuk makan siang berdasarkan tiga hal: makanannya enak, jaraknya cuma lima menit dari kantor, dan pintu keluarnya terlihat jelas dari semua meja.

Hal ketiga paling penting.

Kalau nanti dia mengatakan sesuatu yang kelewat bodoh, Monica bisa berdiri, lari ke pintu, lalu pindah negara.

“Kamu serius milih tempat ini karena tahu jalan kaburnya?” tanya Reiga saat mereka keluar dari lift.

Monica menoleh. “Kamu masih ingat?”

“Kamu ngomongnya kemarin.”

“Orang lain biasanya nggak benar-benar dengerin.”

“Aku bukan orang lain.”

Baru lima menit dan Monica sudah ingin membatalkan agenda menjadi manusia normal.

Dia mendorong pintu restoran, membiarkan hawa dingin dari pendingin ruangan menyelamatkan pipinya yang mulai panas. Pelayan mengantar mereka ke meja dekat jendela. Monica sengaja memilih kursi membelakangi pintu dan meninggalkan kursi seberangnya untuk Reiga.

Lelaki itu berhenti sebelum duduk.

“Kenapa?” tanya Monica.

“Nggak apa-apa.”

Reiga menarik kursi yang menghadap pintu, persis seperti dugaannya.

Monica menunduk ke menu sebelum senyumnya ketahuan.

Dia sudah memperhatikan kebiasaan itu sejak rapat kedua. Di ruang mana pun, Reiga selalu memilih posisi yang membuatnya bisa melihat pintu masuk. Monica nggak tahu alasannya. Mungkin lelaki itu suka mengawasi keadaan. Mungkin juga hidupnya pernah terlalu sering didatangi orang tanpa pemberitahuan.

Atau mungkin dia cuma nggak suka dikagetkan dari belakang.

Yang jelas, Monica sudah sampai pada tahap menghafal arah duduk seorang lelaki yang baru dikenalnya beberapa hari. Sedikit mengkhawatirkan, tetapi masih bisa disembunyikan.

“Kamu mau pesan apa?” tanya Reiga.

“Nasi ayam sambal matah.”

“Pedas?”

“Sedang.”

Reiga memanggil pelayan dan memesan nasi iga. Minumnya tetap kopi hitam tanpa gula, membuat Monica kembali merasa puas pada dirinya sendiri.

Begitu pelayan pergi, keheningan jatuh di antara mereka.

Monica sudah menyiapkan tujuh topik darurat semalam. Film terakhir yang ditonton. Musik saat bekerja. Alasan Reiga pindah ke Ruang Rupa. Cuaca. Makanan. Proyek Luméra. Dan, kalau semua gagal, keluhan tentang printer kantor.

Semua topik itu mendadak hilang saat Reiga menatapnya.

Bukan tatapan sambil lalu. Lelaki itu benar-benar menunggu Monica bicara, seolah nggak ada suara piring, mesin kopi, dan obrolan pengunjung lain di sekitar mereka.

“Kamu kalau ngobrol selalu lihat orang kayak gitu?” tanya Monica akhirnya.

“Kayak gimana?”

“Fokus banget.”

“Harus lihat ke mana?”

“Sesekali ke tempat lain. Biar orang yang diajak ngobrol nggak merasa lagi diwawancara.”

Reiga mengalihkan pandangan ke pot tanaman di sudut ruangan. “Begini?”

“Sekarang malah aneh.”

Dia kembali menatap Monica. “Maunya gimana?”

Monica menahan senyum. “Ya udah. Lihat aku aja.”

“Dari tadi juga itu rencananya.”

Sial.

Monica meraih gelas air supaya punya alasan menutup mulut. Reiga tetap terlihat tenang, tetapi ada senyum tipis di matanya.

Untung makanan mereka datang sebelum Monica benar-benar meneguk air terlalu banyak dan harus bolak-balik ke toilet.

Percakapan jadi lebih mudah setelah itu. Reiga bercerita bahwa dia pindah ke Ruang Rupa karena bosan menangani merek besar yang semua keputusannya harus melewati terlalu banyak meja. Monica bercerita tentang kebiasaannya menggambar orang-orang di transportasi umum dan betapa sering dia dimarahi karena dikira sedang memotret.

“Kamu mulai gambar dari kapan?” tanya Reiga.

“Sejak kecil. Dulu aku suka gambar tamu yang datang ke rumah.”

“Mereka senang?”

“Nggak selalu. Aku pernah gambar omku terlalu mirip sampai dia tersinggung.”

Reiga tertawa. “Berarti dari kecil sudah berbahaya.”

“Aku cuma jujur.”

“Katanya ilustrator bisa bikin siapa pun terlihat lebih cantik.”

“Bisa.” Monica menyandarkan dagu pada tangan. “Tapi kalau objeknya udah bagus, aku nggak perlu kerja keras.”

Tatapan mereka bertemu.

Reiga nggak langsung menjawab. Kali ini Monica melihat sendiri perubahan kecil di wajahnya—rahang yang sedikit mengeras dan tangan yang berhenti memegang sendok.

Satu poin untuk Monica.

“Kalau kamu gambar aku,” kata Reiga, “bagian mana yang paling susah?”

Monica berniat menjawab rambut atau bentuk rahang. Aman, biasa, nggak memalukan. Namun, karena lelaki itu masih menatapnya dengan fokus yang bikin gugup, jawaban jujur kembali lolos lebih dulu.

“Mata.”

“Kenapa?”

“Kamu kelihatannya tenang, tapi matamu nggak pernah benar-benar diam. Selalu lihat tangan orang, cara mereka duduk, barang yang mereka pilih.” Monica berhenti, baru sadar dia sedang menjelaskan Reiga terlalu detail. “Susah ditangkap dalam satu ekspresi.”

Reiga menyandarkan punggung. “Kamu sudah mikirin cara gambar aku?”

“Secara profesional.”

“Padahal aku bukan bagian dari proyek.”

“Semua orang bisa jadi bahan latihan.”

“Kalau butuh aku diam beberapa jam di depanmu, bilang.”

Bayangan Reiga duduk diam sementara Monica bebas menelusuri setiap garis wajah dan tubuhnya langsung muncul tanpa izin.

“Nggak perlu beberapa jam,” kata Monica. “Aku cepat kalau objeknya menarik.”

Reiga tersenyum pelan. “Bagus. Berarti aku menarik.”

Monica mengambil acar. Dia butuh sesuatu untuk dikunyah sebelum mulutnya mengakui lebih banyak.

Dia menunduk, pura-pura sibuk memisahkan irisan acar dari makanannya. Semua acar dikumpulkan di tepi piring.

“Nggak suka?” tanya Reiga.

“Apa?”

“Acar.”

“Suka.”

“Tapi dipisahin.”

Monica berhenti. “Aku makannya terakhir.”

“Nggak selalu.”

“Maksudnya?”

“Waktu makan snack rapat kemarin, kamu langsung makan acar kalau mulai gugup.”

Monica menatap tumpukan acar di piringnya. Tanpa sadar, satu irisan sudah berada di ujung garpu.

Reiga mengangguk ke arah garpu itu. “Kayak sekarang.”

Monica meletakkan garpu pelan-pelan.

Selama ini dia mengira cuma dirinya yang menghafal kebiasaan aneh orang lain. Rupanya, Reiga memperhatikan hal sekecil cara dia memakan acar.

“Jadi dari tadi kita sama-sama merhatiin?” tanyanya.

“Bedanya aku belum ketahuan.”

“Sekarang udah.” Monica menyipitkan mata. “Rasanya bikin aku pengin tahu apa lagi yang kamu lihat.”

“Banyak.”

“Contohnya?”

Reiga minum kopinya, sengaja membuat Monica menunggu. “Kalau aku kasih tahu semua sekarang, besok kita nggak punya bahan obrolan.”

“Siapa bilang besok kita makan bareng lagi?”

“Nggak ada.” Dia meletakkan cangkir. “Tapi kamu juga nggak bilang nggak.”

Monica memakan acar supaya nggak perlu menjawab.

Di akhir makan siang, dia mengambil pulpen untuk menandatangani nota pembagian pembayaran. Sambil menunggu mesin kartu, tangannya otomatis menggambar wajah kecil dengan rambut rapi dan ekspresi datar di pojok nota.

“Itu aku?” tanya Reiga.

Monica buru-buru menutup gambar dengan telapak tangan. “Bukan.”

“Mirip.”

“Geer.”

Ketika kartu Monica ditolak mesin karena gangguan koneksi, Reiga membayar seluruh tagihan lebih dulu. Monica berjanji akan mentransfer bagiannya, lalu meninggalkan nota di meja.

Ketika Monica selesai mengirim transfer dan menoleh lagi, nota bergambar itu sudah hilang dari meja. Reiga sedang menutup dompet, tetapi dia nggak sempat bertanya karena pelayan datang membawa kartu mereka.

Sore berjalan terlalu cepat setelah makan siang. Untuk pertama kalinya, Monica dan Reiga punya lelucon yang cuma mereka mengerti. Setiap Monica mengambil acar dari kotak camilan rapat, Reiga akan melirik. Setiap Reiga memilih kursi yang menghadap pintu, Monica sengaja tersenyum.

Menjelang jam pulang, langit Jakarta berubah gelap. Hujan jatuh begitu deras sampai gedung di seberang terlihat kabur.

Monica berdiri di lobi sambil memeriksa isi tas untuk ketiga kalinya.

Nggak ada payung.

“Cari ini?”

Dia menoleh. Reiga berdiri di belakangnya sambil mengangkat sebuah payung hitam.