← Di Depanmu Aku Waras

Chapter Six

Jangan Gulung Lengan Bajumu

POV Monica

Ada banyak cara mati karena malu.

Monica hampir yakin salah satunya adalah ketahuan memberi nama payung lelaki yang disukai, lalu mengatakan benda itu tidur bersamanya.

Kalimat balasan Reiga terus terputar di kepalanya sejak kemarin.

Berarti dia lebih beruntung daripada pemiliknya.

Siapa yang memberi izin kepada lelaki itu untuk bicara begitu dengan wajah tenang?

Lebih menyebalkan lagi, Monica nggak bisa berhenti membayangkan versi kejadian saat Reiga benar-benar menjadi pihak yang tidur bersamanya. Setiap kali pikirannya sampai ke sana, dia harus memukul pipi pelan dan mengingat bahwa mereka bahkan belum pernah berkencan secara resmi.

Makan siang berdua nggak dihitung. Menurut Monica.

Menurut Naya, itu jelas kencan dan Monica cuma pengecut.

Selasa pagi, Monica datang ke kantor dengan satu misi: mengambil kembali kendali.

Dia memakai blus hijau gelap yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah, anting emas kecil, dan lipstik yang biasanya disimpan untuk bertemu klien penting. Kalau Reiga mau bermain, Monica juga bisa.

Rencana itu berjalan baik sampai lelaki tersebut masuk dengan kemeja hitam dan lengan tergulung sampai tepat di bawah siku.

Monica menatap dua detik terlalu lama.

Reiga berhenti di samping mejanya. “Pagi.”

“Pagi.”

“Warnanya bagus.”

Monica melihat layar. “Palet Luméra?”

“Bajumu.”

Oh.

“Makasih.” Monica berhasil mengucapkannya tanpa tersedak.

Reiga belum pergi. Tatapannya turun sebentar ke telinga Monica.

“Antingnya juga.”

“Kamu sengaja?”

“Sengaja apa?”

“Nggak ada.”

Reiga berjalan ke mejanya seolah baru memberi dua pujian biasa. Monica menatap punggungnya dengan curiga.

Lelaki itu pasti sedang membalas kejadian payung.

Sepanjang pagi, serangannya datang sedikit-sedikit. Reiga memuji revisi ilustrasi Monica secara spesifik. Lima belas menit kemudian, dia bilang suara Monica cocok untuk mempresentasikan konsep kepada klien. Saat Monica membungkuk mengambil kabel, Reiga menahan sudut meja supaya kepalanya nggak terbentur dan berkata, “Pelan. Aku masih butuh kamu.”

Kalimat biasa. Nada biasa.

Efeknya sama sekali nggak biasa.

Puncaknya datang setelah klien menyetujui sketsa utama tanpa revisi. Semua orang memberi selamat, tetapi Reiga menunggu sampai meja Monica sepi.

“Aku tahu mereka bakal pilih punyamu,” katanya.

“Karena kamu partner yang suportif?”

“Karena kamu memang sebagus itu.”

Monica mencoba mencari nada bercanda dan nggak menemukannya. Pujian yang tulus ternyata jauh lebih berbahaya daripada godaan. Dia sampai lupa cara memegang mouse selama beberapa detik.

Reiga melihat tangannya yang diam. “Kenapa?”

“Aku lagi menikmati validasi.”

“Mau lebih banyak?”

Monica mendongak. “Nanti kamu capek.”

“Aku kuat.”

Jawaban itu bisa berarti apa saja. Masalahnya, pikiran Monica memilih arti yang paling nggak sopan.

Monica berhasil bertahan sampai jam makan siang. Dia bahkan sempat membalas dengan mengatakan aroma parfum Reiga hari itu terlalu mengganggu konsentrasinya.

Reiga cuma mendekatkan pergelangan tangan ke hidung Monica.

“Yang ini?”

Monica mundur begitu cepat sampai kursinya berdecit.

Reiga menurunkan tangan dengan senyum tipis. “Kirain mau memastikan.”

Kurang ajar.

Sore harinya Monica membawa setumpuk proof cetak ke ruang fotokopi. Dia butuh lima menit sendirian untuk mengatur napas dan mengingatkan diri bahwa Reiga cuma manusia biasa.

Manusia biasa dengan tangan yang sama sekali nggak biasa.

Pintu ruang fotokopi terbuka sebelum mesin selesai memuntahkan halaman ketiga. Reiga masuk sambil membawa flashdisk.

“Aku butuh cetak laporan.”

“Lima menit.”

“Aku tunggu.”

Ruangan itu sempit. Reiga berdiri di belakang Monica, cukup dekat sampai aroma parfumnya kembali mengganggu pikiran. Monica memandangi lampu mesin fotokopi dan berusaha nggak memikirkan apa pun yang berada di belakangnya.

Reiga meraih kertas yang keluar. Otot di lengannya bergerak. Urat tipis terlihat dari pergelangan sampai ke bagian dalam siku.

Kesabaran Monica habis.

“Turunin lengan bajumu.”

Reiga melihat lengannya. “Kenapa?”

“Ganggu.”

“Aku nggak nyentuh apa-apa.”

“Bukan itu masalahnya.”

“Terus?”

Monica berbalik. Dia sudah berniat memberi jawaban aman, tetapi Reiga berdiri terlalu dekat dan menatapnya dengan ekspresi seolah sudah tahu persis apa yang sedang Monica pikirkan.

Baiklah.

Kalau lelaki itu mau jawaban, dia akan mendapatkannya.

“Urat tangan kamu bikin pikiranku nggak ke mana-mana dengan sopan.”

Reiga menatapnya tanpa berkedip.

Satu detik.

Dua detik.

Monica nyaris merasa menang ketika Reiga mengangkat tangan kanan dan menggulung lengannya satu kali lagi, sampai kain hitam berhenti tepat di siku.

“Kalau begini?”

Monica melihat lebih banyak kulit dan garis otot.

“Kamu sengaja pamer.”

“Kamu yang lihat.”

“Kalau kamu sengaja pamer tangan kayak gitu, jangan salahin aku kalau kepikiran dipakai buat hal lain.”

Suasana di ruang fotokopi berubah.

Reiga nggak tersenyum kali ini. Tatapannya turun ke bibir Monica, cuma sebentar, tetapi cukup untuk membuat tengkuknya panas.

“Hal lain seperti apa?” tanyanya pelan.

Monica punya banyak jawaban.

Semuanya vulgar.

Hebatnya, dia masih berhasil tersenyum lembut. “Katanya kamu mau jadi objek penelitian. Masa semua harus aku jelasin?”

Reiga mendekat setengah langkah.

“Aku cuma mau tahu risetnya aman atau nggak.”

“Buat aku aman.”

“Buat aku?”

Monica membiarkan tatapannya turun ke tangan Reiga sekali lagi. “Belum tentu.”

Mesin fotokopi berbunyi nyaring, membuat keduanya menoleh. Monica buru-buru mengumpulkan hasil cetak sebelum keberaniannya habis.

“Sudah selesai,” katanya.

“Sayang banget.”

Monica hampir menjatuhkan seluruh kertas.

Reiga berjalan keluar. Flashdisknya masih tergeletak di sudut mesin ketika pintu menutup pelan di belakangnya.

Monica menunggu tiga detik.

Lalu lima.

Begitu yakin sendirian, dia menutup wajah dengan tumpukan proof.

“Ya Tuhan,” bisiknya. “Kenapa aku ngomong begitu?”

Dia berjalan memutar kecil di antara mesin dan meja potong kertas. Sekali. Dua kali. Pada putaran ketiga, bahunya bergidik karena menahan jeritan.

“Dipakai buat hal lain?” Dia mengulang kalimatnya sendiri dengan suara tercekik. “Monica, kamu kerasukan apa?”

Terdengar bunyi klik kecil dari arah pintu.

Monica langsung diam.

Dia membuka pintu, menjulurkan kepala ke koridor, tetapi nggak ada siapa-siapa. Hanya suara keyboard dan percakapan tim dari ruangan utama.

Mungkin pintunya memang belum tertutup rapat.

Monica kembali ke meja fotokopi. Flashdisk Reiga yang tadi tertinggal di sudut mesin sudah nggak ada.

Berarti Reiga sempat kembali.

Pertanyaannya: sebelum atau sesudah Monica berputar sambil memaki dirinya sendiri?

Mungkin sesudah. Pasti sesudah. Monica memilih versi itu karena cuma versi tersebut yang membuatnya masih sanggup keluar dari ruangan.

Malamnya, ketika dia hampir berhasil melupakan kemungkinan itu, sebuah voice note dari Reiga masuk.

Monica memasang earphone sebelum memutarnya.

Suara Reiga terdengar lebih rendah daripada biasanya, seolah lelaki itu sengaja bicara dekat mikrofon.

Reiga: Besok duduk sebelah aku. Ada yang mau aku tes.

Monica memutar voice note itu sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

Pada pemutaran kelima, dia sudah memeluk bantal sambil menatap langit-langit.

Besok sepertinya dia akan datang ke kantor membawa harga diri cadangan.