Chapter Fifteen
Di Depanmu Aku Nggak Perlu Waras
POV Reiga
Enam minggu setelah Reiga melihat Monica di lobi, proyek Luméra akhirnya disetujui untuk diluncurkan.
Presentasi terakhir selesai tanpa revisi besar. Klien memilih ilustrasi utama Monica, mempertahankan strategi merek Reiga, dan menggunakan slogan yang dulu membuat perempuan itu bilang konsep pertamanya terdengar seperti ancaman mantan.
Tinggal Lebih Lama dari Pertemuan.
Setelah klien pergi, tim Ruang Rupa bertepuk tangan. Bu Rini masuk membawa baki kopi dan memeluk Monica paling dulu. Dion menepuk bahu Reiga sambil berbisik, “Proyek selesai. Pacarnya jangan ikut dikembalikan ke klien.”
Reiga menyikutnya.
Kepala studio mengumumkan bahwa Luméra memperpanjang kontrak untuk kampanye peluncuran. Reiga dan Monica tetap menjadi pasangan inti proyek, kali ini dengan jadwal yang lebih manusiawi dan bonus yang cukup untuk rencana liburan singkat.
Monica langsung menulis tiga hari tanpa laptop di papan tugas. Reiga menambahkan dan tanpa menginap di studio tepat di bawahnya.
“Kamu merusak citra pekerja keras,” protes Monica.
“Aku menjaga pacarku tetap hidup.”
“Romantis sekali.”
“Sama-sama.”
Monica berdiri di seberang ruangan, cantik dalam blus hijau gelap, tersenyum kepada semua orang yang memberi selamat. Di depan tim, dia masih Monica yang anggun dan tenang.
Lalu mata mereka bertemu.
Monica mengangkat ponsel dan mengirim pesan.
Monica: Malam ini. Jangan pura-pura lupa.
Reiga nggak mungkin lupa.
Semalam Monica membawa pulang kemejanya dan mengumumkan akan menyelesaikan beberapa poin dari daftar yang belum pernah diperlihatkan. Sejak itu, Reiga sudah mencoba memastikan tiga kali bahwa undangan tersebut bukan keberanian sesaat.
Monica menjawab dengan ancaman akan menggigit kalau dia terus bertanya.
Pukul sembilan malam, bel apartemennya berbunyi.
Reiga membuka pintu.
Monica berdiri memakai kemeja putihnya. Ujungnya berhenti di pertengahan paha, lengannya digulung sembarangan, dan beberapa kancing teratas dibiarkan terbuka. Rambutnya tergerai, bibirnya memakai warna merah lembut yang membuat Reiga lupa menyapa.
Monica masuk tanpa menunggu undangan.
“Jangan dilihatin terus.”
“Kamu datang pakai bajuku seperti itu. Aku harus lihat ke mana?”
“Wajahku.”
“Sedang berusaha.”
Monica tersenyum puas, tetapi Reiga melihat jemarinya meremas ujung lengan kemeja.
Di balik mulutnya yang berani, dia gugup.
Reiga sudah menyiapkan makan malam ringan. Mereka duduk di meja dekat jendela, berbicara tentang proyek yang selesai, rencana libur setelah peluncuran, dan kemungkinan Monica kembali menginap di studio saat tenggat berikutnya.
“Nggak boleh,” kata Reiga.
“Kamu bukan atasanku.”
“Aku pacarmu.”
“Justru harus dukung karier.”
“Aku dukung. Dari rumah. Setelah kamu tidur cukup.”
Monica menunjuknya dengan garpu. “Jangan sok jadi suami.”
“Kamu sudah bikin desain undangannya.”
Garpu Monica berhenti di udara. “Kita sepakat nggak membahas itu.”
“Nggak pernah ada kesepakatan begitu.”
“Mulai sekarang ada.”
Reiga tertawa. Ketegangan Monica turun sedikit, tetapi nggak menghilang.
Setelah makan, perempuan itu berdiri di depan jendela sambil melihat lampu kota. Reiga membereskan meja dan memberi waktu. Dia nggak mau malam ini berubah menjadi ujian yang harus Monica lulus.
Monica datang karena mau, bukan untuk membuktikan bahwa dirinya cukup berani.
Ketika Reiga selesai mencuci tangan, Monica sudah berdiri di ambang dapur.
“Kamu kenapa jauh-jauh?” tanyanya.
“Aku kasih waktu.”
“Aku nggak minta.”
“Kamu gugup.”
“Aku memang gugup.” Monica mendekat. “Bukan berarti aku mau berhenti.”
Reiga menyentuh ujung lengan kemeja yang kebesaran. “Kamu datang karena benar-benar pengin atau karena kemarin sudah ngomong besar?”
“Dua-duanya.”
“Mon.”
“Yang pertama lebih banyak.”
Dia menarik tangan Reiga dan menaruhnya di pinggangnya sendiri.
“Kemeja kamu nyaman,” katanya. “Tapi kayaknya lebih enak kalau kamu sendiri yang lepas.”
Napas Reiga berubah. Monica pasti merasakannya dari cara dadanya naik, tetapi kali ini perempuan itu nggak kabur atau mengalihkan suasana dengan tawa.
“Masih bisa mundur,” kata Reiga.
Monica mendekat sampai bibirnya hampir menyentuh telinga Reiga.
“Aku datang malam-malam cuma pakai ini. Menurut kamu?”
Reiga menahan pinggangnya lebih erat. “Aku nggak mau menebak.”
Monica mundur cukup untuk menatap matanya.
“Aku mau tinggal.”
“Sampai kapan?”
“Besok pagi.”
“Dan kalau kita mulai, kamu tetap boleh berhenti kapan saja.”
Monica mengangguk.
Reiga menunggu.
Dia mengembuskan napas, memahami apa yang diminta.
“Kalau aku mau berhenti, aku bilang. Kalau aku diam karena gugup, kamu tanya. Tapi tolong berhenti memperlakukan aku seperti barang pecah belah.”
“Kamu bukan barang pecah belah.”
“Bagus. Karena dari tadi aku pengin kamu nyium aku sampai kancing kemeja ini nggak ada gunanya.”
Reiga menciumnya.
Monica membalas tanpa ragu, kedua tangannya naik ke leher Reiga. Dia masih gemetar sedikit, tetapi nggak mundur saat Reiga menariknya lebih dekat.
Ciuman itu terasa berbeda dari sebelumnya. Nggak ada timer, nggak ada pintu yang siap dipakai kabur, dan nggak ada daftar aturan di antara mereka selain hal-hal yang sudah disepakati.
Monica berhenti lebih dulu untuk mengambil napas.
“Oke?” tanya Reiga.
“Oke.”
“Yakin?”
“Kalau kamu tanya sekali lagi, aku gigit.”
“Itu ancaman atau izin?”
Monica benar-benar menggigit ringan rahangnya.
“Jawab sendiri.”
Reiga tertawa, mengangkatnya, lalu membawa Monica menuju kamar. Perempuan itu melingkarkan kaki dan tangannya sambil tetap mencium sisi wajahnya.
Di depan pintu kamar, Reiga berhenti sekali lagi—bukan untuk bertanya dengan kata-kata, melainkan memberi ruang.
Monica menatapnya, lalu membuka pintu sendiri.
Lampu ruang tamu tetap menyala ketika pintu kamar tertutup.
Pagi harinya, Reiga bangun karena suara tawa.
Bukan tawa Monica yang langsung terdengar dari sampingnya. Suara itu berasal dari ponselnya di atas nakas—rekaman pendek Monica tertawa di voice note lama.
Ponsel berhenti berbunyi. Monica yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang memegang benda itu dengan tatapan menuduh.
“Kamu jadikan suaraku ringtone?”
Reiga membuka mata. “Khusus kalau kamu yang telepon.”
“Sejak kapan?”
“Minggu lalu.”
“Tanpa izin?”
“Cuma terdengar kalau ponselku nggak pakai mode senyap. Mau aku ganti?”
Monica memutar rekaman itu sekali lagi. Wajahnya berusaha galak, tetapi sudut bibirnya naik.
“Nggak. Tapi aku minta salinan.”
“Itu suaramu sendiri.”
“Tetap mau.”
Monica turun dari tempat tidur dengan memakai kemeja Reiga lagi. Rambutnya berantakan. Langkahnya santai. Nggak ada usaha menyembunyikan wajah atau berlari ke kamar mandi untuk panik sendirian.
Ketika Reiga membuat kopi, Monica membuka lemari ruang kerja untuk mencari gula dan menemukan satu kotak baru di rak paling bawah.
Monica — Tahun Pertama.
Kotak itu masih kosong, kecuali satu lembar kertas berisi tanggal hari pertama mereka bertemu.
“Reiga.”
“Hm?”
“Kita baru pacaran beberapa minggu.”
“Aku tahu.”
“Kenapa sudah ada kotak tahun pertama?”
“Biar nggak tercampur sama tahun kedua.”
Monica menatapnya seolah baru menyadari sedang berpacaran dengan orang berbahaya.
“Kamu lebih gila daripada aku.”
“Nggak.” Reiga menyerahkan secangkir kopi. “Aku cuma lebih rapi.”
Reiga mengambil kunci apartemen yang kemarin dikembalikan Monica, memasangnya pada gantungan baru, lalu menyodorkannya.
“Simpan.”
Monica nggak langsung menerima. “Ini tawaran sungguhan atau tes?”
“Sungguhan. Bukan berarti kamu harus datang tanpa bilang. Aku cuma mau kamu punya jalan masuk kalau butuh.”
“Kalau aku datang tengah malam?”
“Kabarin.”
“Kalau pakai kemeja kamu?”
“Kabarin lebih cepat.”
Monica mengambil kunci itu dan memasukkannya ke kotak Tahun Pertama, lalu berubah pikiran dan menyelipkannya ke tas.
“Yang ini dipakai. Bukan diarsipkan.”
Reiga menyukai perbedaan itu. Kotak mereka akan menyimpan kenangan, tetapi hubungan mereka harus tetap dijalani di luar kotak.
Besok mereka akan kembali ke kantor, ke jadwal rapat, kopi dingin, dan senyum sopan. Tapi sekarang, di rumah ini, nggak ada lagi bagian diri yang perlu disembunyikan.
Monica membuka tutup kotak. Dia memasukkan kartu pos pasangan yang nyaris berciuman dari pameran, lalu menambahkan satu sticky note.
Hari pertama berhenti pura-pura waras.
“Payung Bram masuk kotak ini?” tanya Reiga.
“Nggak. Dia tinggal di apartemenku.”
“Itu payungku.”
“Hak asuhnya sudah pindah.”
Reiga mengambil sticky note lain dan menulis: Sengketa payung dimulai.
Monica tertawa. Bukan tawa kecil yang ditahan supaya tetap terlihat anggun. Dia tertawa sampai membungkuk, rambut menutupi wajah, dan bahunya bergetar.
Reiga menariknya ke dalam pelukan.
“Memang orang ganteng bebas,” katanya.
“Siapa yang bilang kamu ganteng?”
“Spreadsheet-mu.”
Monica mencoba membantah, tetapi malah tertawa lagi.
Di sela tawanya, dia menunjuk kotak itu. “Kalau penuh sebelum setahun?”
“Buat kotak kedua.”
“Kalau kita sampai tahun kedua?”
Reiga memeluknya lebih erat. “Makanya labelnya sudah disiapkan.”
Monica nggak menertawakan jawaban itu. Dia menatap Reiga beberapa detik, lalu mencium pipinya dengan lembut—bukan serangan, bukan tes, cuma bentuk sederhana dari keyakinan bahwa dia ingin ada di sana saat kotak berikutnya dibuka.
Dia menatap lelaki yang selama ini dikira paling waras di antara mereka. Ternyata Monica bukan satu-satunya yang agak gila. Bedanya, Reiga punya kotak penyimpanan dan label yang lebih rapi.
- 1 Perempuan yang Kelihatan Bercahaya
- 2 Empat Detik yang Nggak Mau Hilang
- 3 Tiga Kata, Dua Puluh Tiga Balasan
- 4 Makan Siang Paling Normal
- 5 Payung Bernama Bram
- 6 Jangan Gulung Lengan Bajumu
- 7 Eksperimen Reiga Bramasta
- 8 Kencan yang Nggak Bisa Disangkal
- 9 Jadi Pacarku
- 10 Pacar Monica Sangat Tampan
- 11 Siapa yang Menyerah Dulu
- 12 Cium Aku Sampai Aku Lupa
- 13 Museum Rahasia Monica
- 14 Sama-Sama Nggak Normal
- 15 Di Depanmu Aku Nggak Perlu Waras reading