Chapter Twelve
Cium Aku Sampai Aku Lupa
POV Monica
Monica datang ke apartemen Reiga pada Sabtu sore dengan satu keputusan bulat.
Hari ini dia akan dicium.
Nggak ada kabur. Nggak ada pura-pura mau pulang. Nggak ada mendadak mengingat kompor yang sebenarnya sudah mati.
Dia bahkan menulis tujuan itu di aplikasi catatan.
Misi Sabtu:
1. Jangan panik.
2. Bilang mau dicium.
3. Jangan mati setelahnya.
Rencana itu terdengar mudah sampai Reiga membuka pintu.
Lelaki itu memakai kaus abu-abu dan celana santai. Rambutnya sedikit berantakan, seolah baru selesai mandi dan cuma mengeringkannya dengan tangan.
“Masuk.”
Monica melangkah ke dalam sambil memegang paper bag berisi bahan makanan.
“Kita masak?” tanya Reiga.
“Biar ada kegiatan.”
“Takut kalau nggak ada kegiatan?”
“Aku takut tanganku nganggur.”
Tatapan Reiga turun ke kedua tangannya. “Memangnya mau dipakai buat apa?”
Monica langsung berjalan ke dapur. “Potong bawang.”
Dia mendengar Reiga tertawa di belakangnya.
Mereka membuat pasta sederhana. Monica bertugas memotong bahan, sementara Reiga menyiapkan saus. Seharusnya kegiatan itu membantu mengurangi ketegangan. Kenyataannya, dapur apartemen Reiga terlalu sempit untuk dua orang yang sedang memikirkan ciuman.
Setiap mereka berpindah tempat, tubuh mereka bersentuhan.
Setiap Reiga meraih sesuatu dari lemari atas, lengannya melewati bahu Monica.
Dan setiap Monica melihat mulut Reiga saat lelaki itu mencicipi saus, misi nomor dua di ponselnya terasa semakin mendesak.
“Coba,” kata Reiga sambil menyodorkan sendok.
Monica mencicipi saus dari sendok yang sama.
“Kurang garam.”
Reiga mencicipi lagi tanpa mengganti sendok.
Monica menatap mulutnya.
“Kenapa?”
“Nggak higienis.”
“Kemarin kamu duduk di pangkuanku.”
“Itu beda.”
“Bedanya?”
“Paha kamu nggak masuk mulut.”
Keheningan jatuh.
Monica memejamkan mata. “Aku mau tarik kalimat itu.”
“Nggak bisa.”
“Tolong.”
“Aku simpan.”
Reiga mematikan kompor sambil menahan tawa. Monica menaruh wajah di kedua telapak tangan.
“Kenapa setiap gugup aku jadi mesum?”
“Aku nggak keberatan.”
“Aku keberatan. Reputasiku hancur.”
“Reputasi yang mana? Yang ngobrol sama payung atau yang punya spreadsheet?”
Monica menurunkan tangan. “Kamu belum tahu apa-apa soal spreadsheet.”
“Belum.” Reiga bersandar pada meja dapur. “Aku tunggu kamu cerita.”
Jawaban itu menghilangkan sebagian rasa malu Monica. Reiga selalu begitu: bisa membuatnya kepanasan dalam satu detik, lalu merasa aman pada detik berikutnya.
Monica mengaduk saus pelan. “Kamu nggak gugup sama sekali?”
“Gugup.”
“Bohong.”
Reiga mengambil tangan Monica dan menempelkannya sebentar ke dadanya. Detak di balik kaus itu cepat, jauh dari kesan tenang yang selalu dia tunjukkan.
“Aku cuma lebih rapi,” katanya.
Monica membiarkan telapak tangannya tinggal satu detik lebih lama. “Jadi kamu juga mikirin nanti?”
“Sejak kamu pulang kemarin.”
“Mikirin cium aku?”
“Mikirin cara bikin kamu nggak kabur sebelum sempat dicium.”
Monica menarik tangannya sambil tersenyum. Pengakuan bahwa Reiga juga gugup membuat misi hari ini terasa lebih setara. Mereka sama-sama datang dengan keinginan dan ketakutan sendiri.
Mereka makan di meja kecil dekat jendela. Percakapan berlangsung biasa, tetapi kesadaran tentang janji kemarin tetap duduk bersama mereka.
Setelah piring dibawa ke wastafel, Reiga bersandar di meja dan menatap Monica.
“Sekarang?”
“Sekarang apa?”
“Katanya hari ini nggak akan lari.”
Monica menggenggam ujung bajunya. “Aku nggak lari.”
“Kamu juga belum bilang apa yang kamu mau.”
“Kamu sudah tahu.”
“Aku tetap mau dengar.”
Reiga nggak bergerak mendekat. Dia menunggu, membuat Monica memahami bahwa kendali ada di tangannya.
Itulah yang paling menakutkan.
Monica nggak bisa menyalahkan suasana, godaan Reiga, atau kecelakaan kecil. Kalau ini terjadi, itu karena dia memilihnya.
Dia berjalan mendekat.
“Aku dari tadi mikirin mulut kamu.”
“Kenapa sama mulutku?”
“Pengin tahu rasanya kalau kamu benar-benar nyium aku. Bukan aku yang nyolong dua detik terus kabur.”
Reiga masih menunggu.
Monica memegang kerah kausnya dan menarik pelan.
“Cium aku sampai aku lupa tadi mau ngomong apa.”
Tangan Reiga menyentuh pinggangnya, hangat dan mantap.
“Yakin?”
“Yakin.”
“Kalau mau berhenti?”
“Aku bilang.”
Baru setelah itu Reiga menunduk.
Ciuman pertama terasa pelan, jauh lebih lembut daripada semua hal liar yang pernah Monica bayangkan. Bibir Reiga menyentuhnya seolah memberi kesempatan terakhir untuk mundur.
Monica nggak mundur.
Dia menarik kerah Reiga lebih dekat dan membalas. Tangan di pinggangnya mengencang sedikit. Reiga memiringkan kepala, dan ciuman itu berubah—lebih dalam, lebih hangat, membuat Monica lupa pada dapur, piring kotor, bahkan cara berdiri yang benar.
Jemarinya berpindah ke rambut Reiga. Teksturnya lembut, persis seperti yang selama ini dia bayangkan saat melihat lelaki itu bekerja.
Monica pernah membayangkan ciuman ini puluhan kali. Dalam kepalanya, dia selalu terlihat ahli, tenang, dan sanggup membuat Reiga kehilangan kendali lebih dulu.
Kenyataannya jauh lebih berantakan.
Dia nggak tahu harus meletakkan tangan, kapan menarik napas, atau kenapa satu sentuhan bisa membuat seluruh tubuhnya terasa terlalu sadar. Namun, setiap kali gerakannya ragu, Reiga melambat. Setiap kali Monica mendekat lagi, Reiga menyambut tanpa mengambil lebih banyak daripada yang dia berikan.
Nggak sempurna. Justru itu yang membuatnya nyata.
Ketika napas Monica mulai habis, Reiga langsung berhenti.
Dahi mereka masih saling menyentuh.
“Oke?” tanyanya.
Monica mencoba menjawab, tetapi kata-katanya nggak keluar.
Dia melepaskan Reiga, berjalan tiga langkah, lalu menempelkan kening ke dinding.
“Jangan ajak aku ngomong lima menit.”
“Kenapa?”
“Otakku lagi restart.”
Reiga mengambil ponsel dan menyalakan timer.
“Lima menit.”
“Kamu serius?”
“Kamu yang minta.”
Monica tetap menghadap dinding. Bibirnya masih terasa hangat. Lututnya lemas, tetapi bukan karena takut. Dia baru saja meminta sesuatu, mendapatkannya, dan Reiga berhenti tepat ketika dia perlu bernapas tanpa membuatnya merasa salah.
Satu menit berlalu.
Monica menoleh.
Reiga berdiri di tempat yang sama, menunggu dengan sabar dan sedikit terlalu puas.
“Matikan timer.”
“Katanya lima menit.”
“Aku salah hitung kebutuhan.”
“Butuh apa?”
Monica berjalan kembali. Kali ini dia nggak menunggu Reiga menebak. Dia menyentuh wajah lelaki itu dan menciumnya lebih dulu.
Reiga membalas setelah satu detik, tetap memberinya ruang untuk menentukan ritme. Monica merasakan senyumnya di sela ciuman dan hampir ikut tertawa.
Saat mereka berpisah, timer masih menyisakan tiga menit dua puluh satu detik.
“Lebih efisien,” kata Monica.
“Kamu selalu begini kalau habis panik?”
“Lebih parah kalau sendirian.”
“Aku pengin lihat.”
“Nggak boleh.”
Reiga menyentuh ujung hidungnya. “Suatu hari nanti.”
Mereka pindah ke sofa dan duduk berdampingan. Kali ini Monica yang meraih tangan Reiga lebih dulu.
“Tadi aku nggak takut,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku cuma… penuh.”
“Penuh?”
“Kayak semua yang kupikirin selama ini mendadak kejadian. Otakku butuh waktu ngejar.”
Reiga mengusap punggung tangannya. “Kita nggak perlu buru-buru ke mana-mana.”
“Tapi kalau aku yang pengin buru-buru?”
“Kamu bilang. Aku jawab. Kita tetap cek satu sama lain.”
Monica mengangguk. Dia menyukai aturan itu. Bukan pagar yang membatasi, melainkan pintu yang bisa mereka buka bersama.
“Kalau sekarang aku minta satu lagi?”
“Kamu masih restart?”
“Sudah versi terbaru.”
Reiga mencium keningnya kali ini, sengaja membuat Monica mengeluh karena sasaran yang salah.
Monica nggak menjawab. Dia cuma menyandarkan kepala di dada Reiga dan mendengarkan detak jantung yang ternyata nggak setenang wajah pemiliknya.
Mereka tinggal seperti itu cukup lama sampai napas Monica kembali normal. Reiga mengambil air minum, dan Monica menertawakan dirinya sendiri karena menerima gelas dengan kedua tangan seperti baru selamat dari bencana.
“Nilainya berapa?” tanya Reiga.
Monica hampir tersedak. “Nilai apa?”
“Kamu suka mencatat. Masa ini nggak dinilai?”
“Datanya belum cukup.”
“Perlu pengujian ulang?”
Monica meletakkan gelas. “Jangan nantang. Aku baru dapat pembaruan sistem.”
Reiga tertawa, dan rasa gugup yang tersisa berubah menjadi kehangatan. Monica menyadari ciuman itu nggak membuat hubungan mereka mendadak asing. Reiga masih lelaki yang sama, dan dia masih bisa menjadi dirinya sendiri setelah menginginkannya dengan terang-terangan.
Menjelang pulang, Monica memasukkan ponsel ke tas dengan gerakan terburu-buru. Beberapa lembar kertas yang terjepit di dalam ikut jatuh ke lantai.
Reiga membungkuk membantu. Tangannya lebih cepat mengambil lembar paling atas.
Monica melihat judul yang tercetak besar di sana.
Tempat yang Pengen Kucium dari Reiga Bramasta
Reiga baru sempat membaca judul ketika Monica merebut seluruh kertas dan memeluknya ke dada.
“Itu bukan apa-apa.”
Reiga mengangkat alis. “Kelihatannya seperti daftar.”
“Salah cetak.”
“Pakai namaku?”
Monica memasukkan kertas ke tas, menutup ritsleting, lalu berdiri.
“Aku pulang.”
“Katanya nggak lari.”
“Misi hari ini sudah selesai.”
Monica berjalan ke pintu dengan pipi panas. Di belakangnya, Reiga tertawa pelan.
Daftar itu hampir terbongkar.
Dan Monica belum siap membayangkan apa yang terjadi kalau Reiga menemukan sisanya.
- 1 Perempuan yang Kelihatan Bercahaya
- 2 Empat Detik yang Nggak Mau Hilang
- 3 Tiga Kata, Dua Puluh Tiga Balasan
- 4 Makan Siang Paling Normal
- 5 Payung Bernama Bram
- 6 Jangan Gulung Lengan Bajumu
- 7 Eksperimen Reiga Bramasta
- 8 Kencan yang Nggak Bisa Disangkal
- 9 Jadi Pacarku
- 10 Pacar Monica Sangat Tampan
- 11 Siapa yang Menyerah Dulu
- 12 Cium Aku Sampai Aku Lupa reading
- 13 Museum Rahasia Monica
- 14 Sama-Sama Nggak Normal
- 15 Di Depanmu Aku Nggak Perlu Waras