Chapter Nine
Simpul Windsor
POV: Shafira
Aku memutuskan untuk berhenti pura-pura lunas.
Dua minggu setelah makam. Satu minggu setelah meja di lantai 16, setelah seratus dua puluh denyut di bawah telapak tanganku, setelah Bayu menjatuhkan bakwan dan bersumpah menulis panduan v10.
Setiap pagi pukul delapan kurang dua menit, aku duduk di mejanya.
Setiap siang pukul dua belas, aku naik ke atap dengan dua roti lapis. Bukan satu.
Setiap sore pukul empat lewat lima puluh, aku duduk di lantai teras di sisi kiri bangku putih.
Dan setiap kali, aku tidak diam.
Senin. Meja di lantai 16.
“Kamu pakai parfum baru,” katanya tanpa mengangkat kepala dari log.
“Kok tahu?”
“Wanginya beda dari Jumat. Jumat melati. Hari ini...” Ia berhenti mengetik. Menarik napas pelan. “Melati sama sesuatu yang manis.”
“Vanila.”
“Kenapa ganti?”
Aku mencondongkan tubuh dari atas mejanya. Sampai rambutku jatuh ke keyboard-nya. Sampai ia harus mengangkat kepala.
“Biar kamu nanya,” bisikku.
Ia menatapku. Dari jarak sejengkal.
“Aku nanya,” katanya.
“Terus?”
“Terus sekarang aku nggak bisa baca log.” Ia menatap rambutku di atas keyboard-nya. “Rambutmu di tombol Enter.”
Aku tidak menyingkirkan rambutku.
“Pencet aja,” bisikku. “Aku nggak keberatan.”
Ia menatapku lama. Lalu, dengan sangat pelan, ia mengangkat tangannya, menyelipkan rambutku ke belakang telingaku. Jarinya berhenti di sana. Di belakang telingaku. Di kulit di bawah anting.
“Kalau aku pencet,” katanya, sangat datar, “kamu nggak bakal turun dari meja ini sampai jam sembilan dua puluh.”
Aku berhenti bernapas.
“Dan Bayu datang jam sembilan dua puluh,” katanya. “Kamu mau Bayu jatuhin bakwan lagi?”
Aku turun dari mejanya.
Dengan wajah merah sampai ke telinga.
Di ambang pintu kaca, aku menoleh. Ia sudah kembali membaca log. Wajah datar.
Tapi telinganya merah.
Aku tersenyum sepanjang jalan ke lift.
Selasa. Atap.
Aku duduk di ujung kiri bangku miring. Ia di ujung kanan. Dua roti lapis.
Aku makan setengah. Lalu meletakkan sisanya di pangkuan. Lalu bergeser.
Ke tengah bangku. Ke bagian kayu yang sedikit lebih terang warnanya.
Lalu bergeser lagi.
Sampai bahuku menempel di bahunya.
Ia berhenti mengunyah.
“Bangkunya miring,” kataku. “Aku kepeleset.”
“Bangkunya miring ke kanan,” katanya. “Kamu di kiri. Kalau kepeleset, kamu jatuhnya ke kiri. Ke lantai.”
“Fisika di atap beda.”
“Fisika di atap sama.”
“Fisika di sebelah kamu beda.”
Ia menoleh. Menatapku. Dari jarak yang tidak sampai sejengkal.
Aku menatap bibirnya.
Aku tidak menyembunyikannya. Aku menatap bibirnya lama, terang-terangan, di atap lantai 32 di bawah langit Jakarta yang putih, dengan roti lapis setengah dimakan di pangkuanku.
“Shafira,” katanya pelan. “Kamu liatin bibirku.”
“Iya.”
“Dari tadi.”
“Dari hari ketiga,” kataku. “Kamu baru sadar sekarang?”
Ia diam.
“Kamu mau aku cium?” tanyaku. Terang-terangan. Tanpa suara rendah, tanpa bisikan. Suara Shafira yang dulu, yang menantang klien di depan meja rapat.
Ia menatapku. Lama sekali. Matanya turun ke bibirku. Ke lipstik merah.
Lalu kembali ke mataku.
“Mau,” katanya.
Jantungku berhenti.
“Tapi belum,” katanya.
“Kenapa?”
Ia menatap ujung kanan bangku. Tempatnya. Lalu ujung kiri, yang sekarang kosong karena aku sudah bergeser ke tengah.
“Karena kalau aku cium kamu di sini,” katanya, “di bangku ini, aku mau itu bukan karena aku sedih. Bukan karena aku kangen dia. Bukan karena kamu ada di tempat yang dulu dia ada.”
Ia menatapku lagi.
“Aku mau cium kamu karena kamu Shafira,” katanya. “Dan aku belum yakin aku udah bisa misahin itu.”
Aku menatapnya.
Aku tidak tersinggung. Aku seharusnya tersinggung. Tapi yang kurasakan bukan itu.
Yang kurasakan adalah sesuatu yang sangat hangat, di tempat yang sangat dalam.
Karena ia tidak bohong. Karena ia bisa saja menciumku sekarang, di bangku ini, dan aku akan membiarkannya, dan ia tahu aku akan membiarkannya.
Tapi ia tidak mau menciumku dengan alasan yang salah.
“Oke,” kataku.
“Oke?”
“Aku tunggu.” Aku mengambil roti lapis dari pangkuanku. Menggigitnya. “Tapi aku nggak geser balik ke kiri.”
Ia menatap bahu kami yang menempel.
“Oke,” katanya.
Kami makan roti lapis dengan bahu yang menempel sampai jam istirahat habis.
Rabu. Teras.
Melody tidur di pangkuanku di tengah buku gajah. Ia di sisi kanan bangku putih. Aku di sisi kiri.
Aku menatapnya di atas kepala Melody.
“Fa.”
“Hmm.”
“Kamu tahu aku dulu pacaran sama Danu dua tahun.”
“Tahu.”
“Danu pernah nanya, kenapa aku selalu duduk di sebelah kiri kalau makan di restoran.”
Ia menatapku.
“Aku nggak bisa jawab,” kataku. “Aku sendiri nggak tahu kenapa. Aku pikir kebiasaan.”
“Terus?”
“Tadi malam aku sadar.” Aku menatap ujung gang. “Di atap. Dulu. Bangku miring. Kamu selalu duduk di ujung kanan. Jadi kalau ada yang mau duduk sama kamu, dia harus di kiri.”
Aku menatapnya lagi.
“Aku duduk di kiri di setiap restoran selama tujuh tahun,” kataku, “karena aku nunggu kamu duduk di kananku.”
Ia tidak bergerak.
Wajahnya tidak datar.
Ia mengulurkan tangan. Di atas kepala Melody yang tertidur. Dan menyentuh pipiku. Dengan punggung jarinya. Pelan. Dari tulang pipi turun ke dagu.
“Kamu bilang hal kayak gitu,” katanya, sangat pelan, “di depan anakku yang lagi tidur.”
“Dia tidur.”
“Dia bisa denger.”
“Biar dia denger,” kataku. “Mamanya yang suruh aku jangan diem.”
Punggung jarinya berhenti di daguku. Diam di sana.
“Shafira,” katanya. “Kamu tahu kamu bikin aku susah?”
“Susah kenapa?”
“Susah nunggu.”
Aku tersenyum.
“Bagus,” kataku. “Tujuh tahun aku nunggu. Gantian.”
Kamis malam, Alea menelepon.
“Kak,” katanya. “Kakak ngapain Kak Alfa?”
“Nggak ngapa-ngapain.”
“Bang Togar bilang Kak Alfa salah ketik di laporan Haruto tiga kali minggu ini. Bayu bilang Kak Alfa senyum-senyum sendiri di depan monitor. Pak Udin, yang udah pensiun, telepon Raka buat nanya apakah Kak Alfa sakit, soalnya kemarin Kak Alfa lewat basement B2 dan berhenti di pilar C-14 lima menit nggak ngapa-ngapain.”
Aku diam.
“Kak,” kata Alea. “Pilar C-14.”
“Le...”
“Itu tempat Kakak bilang ke dia pergi, dia nunggu di atap. Enam tahun lalu. Kakak cerita ke aku minggu lalu.”
Aku menutup mata.
“Le,” kataku. “Dia belum mau cium aku.”
Diam di ujung telepon.
“Hah?”
“Di atap. Aku tanya. Dia bilang mau. Tapi belum. Dia bilang dia mau cium aku karena aku Shafira, bukan karena aku duduk di tempat yang dulu Celine duduk.” Aku menarik napas. “Dia bilang dia belum yakin bisa misahin.”
Alea diam lama.
Lalu ia tertawa. Keras. Sampai Bintang menangis di latar belakang.
“Le!”
“Maaf, Kak, maaf,” kata Alea di antara tawa. “Tapi Kak... itu romantis banget. Itu Kak Alfa banget. Dia nolak cium Kakak karena dia terlalu menghargai Kakak.”
“Aku tahu.”
“Kakak nggak kesel?”
“Nggak,” kataku. “Itu yang bikin aku jatuh cinta sama dia dari awal. Dia nggak pernah ngambil apa pun yang bukan haknya.”
Alea berhenti tertawa.
“Kak,” katanya. Pelan. “Kakak sadar nggak, Kakak barusan bilang jatuh cinta tanpa mikir?”
Aku membeku.
“Sepuluh tahun aku kenal Kakak,” kata Alea. “Kakak nggak pernah bilang kata itu. Nggak sekali pun. Nggak buat Danu. Nggak buat siapa-siapa.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Kak Cel bakal seneng banget,” bisik Alea.
Jumat sore, hujan turun.
Hujan Jakarta di bulan Februari. Deras, tiba-tiba, tanpa gerimis. Petir di kejauhan.
Pukul empat lewat empat puluh, aku sampai di Tebet dengan payung yang tidak berguna dan blazer yang setengah basah.
Melody tidak di teras.
Bu Yati memanggil dari balik pagar sebelah: Neng, Melody di dalam! Hujan! Mas Alfa yang larang!
Aku masuk ke rumah. Melepas sepatu yang basah di ambang pintu.
Melody di ruang tengah. Duduk di karpet. Hoodie abu-abu. Menatap jendela yang dipukuli hujan. Menatap teras yang kosong.
“Tante Fila,” katanya. Lega. “Melody nggak boleh di teras. Hujan.”
“Iya, Sayang. Bagus. Nanti kamu sakit.”
“Tapi kalau Tante Fila datang, Tante Fila nggak tahu Melody nunggu di dalam.”
“Tante tahu,” kataku. Aku duduk di karpet di sampingnya. “Tante selalu tahu Melody nunggu.”
Melody menatapku. Lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.
Dari dapur, wangi sesuatu.
Bawang putih yang ditumis. Kaldu ayam.
Dan jahe.
Aku menoleh.
Di ambang pintu dapur, ia berdiri. Kaos abu-abu. Celemek bergambar ayam, yang kukenali sebagai celemek Mama Alea, yang entah bagaimana sampai di dapur ini. Sendok kayu di tangan.
“Sup ayam,” katanya. “Hujan.”
“Dua mangkuk?”
Ia menatapku lama.
“Tiga,” katanya.
Melody tertidur setelah makan. Di sofa. Dengan hoodie abu-abu sebagai selimut dan perut yang kenyang sup ayam.
Hujan belum berhenti. Malah makin deras. Air mengalir dari atap seng di halaman belakang seperti air terjun kecil.
Aku di dapur. Mencuci tiga mangkuk.
Ia di sampingku. Mengeringkannya.
Dapur sempit. Bahu kami bertabrakan setiap kali salah satu dari kami bergerak.
Aku mencuci mangkuk pertama. Ia mengeringkannya. Mangkuk kedua. Mangkuk ketiga.
Lalu tidak ada lagi yang dicuci.
Aku mematikan keran. Mengeringkan tanganku di celemek ayam yang sekarang kupakai, karena ia melepasnya dan memakaikannya padaku sebelum aku mulai mencuci, dengan mengikat talinya di belakang pinggangku, pelan, lebih lama dari yang dibutuhkan tali celemek mana pun.
Aku berbalik.
Ia berdiri sangat dekat. Kain lap di tangannya. Menatapku.
“Jahenya,” kataku. “Tadi. Kamu masukin paling akhir.”
“Iya.”
“Kamu masih pakai resep itu.”
“Resep Ibu,” katanya. “Terus resep Celine. Sekarang...” Ia berhenti. “Sekarang aku nggak tahu resep siapa.”
Aku menatapnya.
“Resep kamu,” kataku. “Kamu yang masak.”
Ia meletakkan kain lap di meja dapur.
Hujan memukul jendela dapur. Lampu dapur yang kuning dan sedikit berkedip. Wangi jahe yang belum hilang.
“Shafira,” katanya.
“Hmm.”
“Tadi di ruang tengah. Waktu Melody bilang kamu nggak tahu dia nunggu di dalam. Kamu bilang kamu selalu tahu.”
“Iya.”
“Aku denger dari dapur.”
Ia melangkah mendekat. Sekarang tidak ada jarak. Punggungku menempel di tepi bak cuci piring. Tepat di tempat yang sama dengan Celine dulu, kata Alea, di dapur Kalibata, di depan bak cuci piring, ketika semuanya dimulai.
Aku tidak tahu apakah ia memikirkan itu.
Aku tidak mau bertanya.
“Aku selama ini mikir,” katanya pelan, “gimana caranya misahin. Kamu sama dia. Bangku yang sama. Teras yang sama. Dapur yang sama.”
Ia menatapku.
“Tadi aku sadar,” katanya. “Aku nggak perlu misahin.”
Aku menahan napas.
“Celine nulis, hati bukan server,” katanya. “Nggak perlu hapus data lama buat nyimpen yang baru.”
Ia mengangkat tangannya. Menyentuh sisi wajahku. Telapak tangannya yang hangat karena air panas dari cucian. Ibu jarinya di tulang pipiku.
“Dia tetep di sini,” katanya. Menyentuh dadanya sendiri dengan tangan yang lain. “Di issue hijau. Di bangku putih. Di jahe.”
Ibu jarinya bergerak. Pelan. Dari tulang pipi ke sudut bibirku.
“Dan kamu juga di sini,” katanya. “Bukan di tempatnya. Di tempat yang lain. Yang dari dulu kosong. Yang aku nggak tahu ada, sampai kamu duduk di mejaku dan ngitung denyut nadiku lagi.”
Air mataku jatuh.
Ke ibu jarinya.
“Kamu liatin bibirku,” bisikku. Suaraku pecah.
“Iya.”
“Kamu bilang mau. Di atap.”
“Iya.”
“Kamu bilang belum.”
Ia menatapku. Dari jarak yang sudah tidak ada.
“Sekarang,” katanya.
Ia menciumku.
Di dapur rumah Tebet. Di depan bak cuci piring. Dengan hujan Februari yang memukul jendela dan wangi jahe yang dimasukkan paling akhir.
Pelan. Sangat pelan. Seperti seseorang yang membaca kalimat paling penting dalam hidupnya dan tidak mau melewatkan satu huruf pun.
Bibirnya di bibirku. Lipstik merah. Aku memakainya pagi ini, seperti setiap hari sejak surat itu.
Aku tidak bergerak. Satu detik. Dua detik.
Tujuh tahun.
Tujuh tahun aku menunggu ini. Dari pantry lantai 17. Dari hari keempat belas. Dari dasi biru tua di depan lift restoran lantai empat puluh enam.
Aku tidak pernah membayangkan akan seperti ini. Di dapur sempit, dengan celemek bergambar ayam, dengan mangkuk-mangkuk yang baru dicuci.
Aku membalas.
Tanganku naik ke dadanya. Lalu ke lehernya. Lalu ke belakang kepalanya, jari-jariku tenggelam di rambutnya. Aku menariknya lebih dekat. Lebih dalam.
Ia mengerang pelan. Suara yang belum pernah kudengar darinya. Tangannya di pinggangku, di atas tali celemek yang ia ikat sendiri, menarikku lepas dari bak cuci piring. Menempelkan tubuhku ke tubuhnya.
Ciuman itu berubah.
Tidak pelan lagi. Tidak hati-hati lagi. Ciuman yang menyimpan tujuh tahun dan satu tahun dan dua minggu. Yang menyimpan utangnya lunas di basement B2. Yang menyimpan tiket yang dibatalkan dan pidato di pernikahan dan bingkai foto kosong. Ia menciumku seperti orang yang akhirnya mengizinkan dirinya menginginkan sesuatu, dan tidak mau lagi menahan.
Aku tidak bisa bernapas. Aku tidak mau bernapas.
Punggungku menempel di tepi meja dapur. Tangannya di rahangku, memiringkan wajahku, memperdalam ciuman itu sampai lututku hampir tidak bisa menahan berat tubuhku sendiri. Aku mencengkeram kaosnya. Ia menciumku lebih dalam. Lipstik merahku pindah ke bibirnya, ke sudut mulutnya, ke dagunya.
Petir menyambar di kejauhan. Lampu dapur berkedip. Sekali. Dua kali.
Kami tidak berhenti.
Ketika akhirnya kami berhenti, napasku patah. Napasnya juga. Dahinya menempel di dahiku. Matanya terpejam.
Bibirnya merah. Merah lipstikku.
“Shafira,” bisiknya. Terengah.
“Hmm.”
“Lipstikmu.”
“Biarin.”
“Di mukaku semua.”
“Biarin,” bisikku. “Biar kamu tahu kamu punya siapa.”
Ia membuka mata.
Menatapku dari jarak yang tidak ada lagi.
Dan tersenyum.
Senyum penuh. Senyum yang membuat matanya menyipit dan memperlihatkan gigi depannya yang sedikit tidak rata. Senyum yang dulu hanya diberikan untuk satu orang. Yang dulu kulihat dari jauh, di foto di jembatan Meguro, di layar ponselku, di apartemen dengan bingkai foto kosong.
Sekarang untukku.
Dari jarak satu senti.
“Aku sayang kamu,” katanya.
Aku membeku.
“Aku belum bisa bilang cinta,” katanya pelan. “Belum. Kata itu masih punya dia. Nanti. Kalau udah waktunya.”
Ibu jarinya mengusap air mataku.
“Tapi aku sayang kamu, Shafira,” katanya. “Itu jujur. Aturan nomor satu.”
Aku tidak bisa bicara.
Aku hanya menangis. Dan tertawa. Dan menangis lagi. Dan ia memelukku. Erat. Di dapur sempit. Dengan celemek ayam yang talinya sudah lepas entah kapan.
“Tujuh tahun,” isakku ke dadanya. “Kamu tahu tujuh tahun aku nunggu kamu bilang itu?”
“Aku tahu.”
“Kamu nggak tahu!”
“Aku tahu,” katanya ke rambutku. “Aku tahu dari pantry. Aku cuma nggak pernah berhak dengar.”
Ia melepaskan pelukannya sedikit. Menatapku.
“Sekarang aku berhak?” tanyanya.
Aku menatapnya. Lipstik merah di seluruh mulutnya. Mata yang tidak datar. Senyum yang masih tersisa di sudut bibirnya.
“Dari dulu,” bisikku. “Kamu yang nggak mau ambil.”
“Sekarang aku ambil.”
“Ambil.”
Ia menciumku lagi.
Kali ini aku yang tidak berhenti.
“Papa?”
Suara kecil. Dari ambang pintu dapur.
Kami membeku.
Melody. Berdiri di ambang pintu. Hoodie abu-abu yang terseret di lantai. Mata setengah tertutup. Rambut kusut. Menatap kami.
Menatap ayahnya, dengan lipstik merah di seluruh mulutnya.
Menatapku, dengan lipstik yang sudah hilang dan wajah yang merah sampai ke leher.
Melody mengerjap.
“Papa,” katanya. Sangat serius. “Papa pakai lipstik Tante Fila?”
Aku menutup wajahku dengan dua tangan.
Ia, di sampingku, tidak bergerak selama tiga detik.
Lalu ia berlutut di lantai dapur. Di depan anaknya.
“Iya,” katanya.
Melody menatap bibir ayahnya. Lalu menatapku. Lalu menatap ayahnya lagi.
“Papa cium Tante Fila?”
Aturan nomor satu.
“Iya,” katanya.
Melody diam lama. Matanya, yang tadi setengah tertutup, sekarang terbuka lebar. Ia menatap ayahnya dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
Lalu, perlahan, wajahnya berubah.
Bukan menangis. Bukan marah.
Ia tersenyum.
Senyum lebar. Yang memperlihatkan gigi depannya yang kecil-kecil. Senyum Celine. Persis.
“Mama pasti seneng,” katanya.
Lalu ia berbalik, berlari ke ruang tengah dengan hoodie abu-abu yang menyapu lantai, dan aku mendengarnya mengambil ponsel ayahnya dari meja.
“MELODY!” panggil ayahnya.
Terlambat.
Dari ruang tengah, suara Melody. Keras. Bersemangat.
“TANTE LEA! PAPA CIUM TANTE FILA! DI DAPUR! PAPA PAKAI LIPSTIK!”
Dalam sepuluh menit, grup Tim Melody meledak.
Alea: KAK SHAF!!!!!!!!!!!!!
Alea: KAK ALFA!!!!!!!!!!!!!
Alea: MELODY TELEPON AKU!!!!!!
Alea: AKU NANGIS!!!!! BINTANG IKUT NANGIS!!!!!! RAKA BINGUNG!!!!!
Bang Togar: APA. APA YANG TERJADI.
Bang Togar: AKU KETINGGALAN LAGI???
Bang Togar: KENAPA AKU SELALU KETINGGALAN BAGIAN PALING PENTING
Bayu: Bang Togar, panduan v10 ternyata berhasil.
Bayu: Bab satu: biarin dia duduk di meja Abang.
Bayu: Bab dua: masak sup ayam waktu hujan.
Bayu: Bab tiga (masih berlaku): bawa tisu.
Laras: Bayu, kamu nggak nulis bab dua. Aku yang nulis.
Bayu: Iya, Sayang. Laras yang nulis.
Bang Togar: AKU MAU KE TEBET SEKARANG.
Bang Togar: ISTRIKU BILANG JANGAN. HUJAN. AKU NGGAK PEDULI.
Bang Togar: ISTRIKU NGAMBIL KUNCI MOBIL.
Bang Togar: ...aku ke sana besok.
Bang Togar: BAWA GITAR.
Lalu satu pesan lagi. Dari nomor yang sudah lama tidak mengirim apa pun ke grup ini.
Nomor yang kusimpan dengan nama Pak Udin (basement).
Pak Udin: Mas Alfa, Neng Shafira.
Pak Udin: Bapak sudah pensiun, tapi Bapak masih punya kunci pos basement B2.
Pak Udin: Kalau suatu hari butuh pilar C-14, kabarin Bapak.
Pak Udin: Bapak bawa teh manis dua.
Aku menatap pesan itu.
Di sampingku, di sofa ruang tengah, ia menatap pesan yang sama di ponselnya. Lipstik merah masih di sudut bibirnya. Ia tidak menghapusnya.
Ia menatap pesan Pak Udin lama.
Lalu ia menatapku.
Dan aku tidak tahu kenapa, tapi tatapan itu membuatku berhenti bernapas.
Tiga minggu kemudian, Minggu sore, rumah Cipete.
Aku tidak ada di sana.
Tapi Alea yang menceritakannya padaku, malam itu, lewat telepon, karena Mama Celine meneleponnya sambil menangis, dan Alea meneleponku sambil menangis, dan rantai tangisan itu sampai padaku pukul sembilan malam.
Ia datang ke Cipete dengan Melody. Seperti setiap Minggu.
Ia main catur dengan Papa Celine. Seperti setiap Minggu.
Papa Celine kalah. Seperti setiap Minggu.
Lalu, setelah bidak terakhir dirapikan, ia tidak berdiri.
Ia duduk di sisi putih papan catur. Menatap Papa Celine di sisi hitam.
Om, katanya. Saya mau minta izin.
Papa Celine menatapnya.
Izin apa?
Shafira, katanya.
Ruang tengah rumah Cipete sunyi. Mama Celine, yang sedang menyiram anggrek di teras belakang, berhenti menyiram.
Papa Celine diam lama.
Lalu ia melepas kacamatanya. Kacamata yang ia pakai lagi sejak mulai main catur lagi. Mengelapnya dengan ujung kemeja putih. Lama. Sangat lama.
Kamu tahu, kata Papa Celine akhirnya, anak saya pernah bilang sesuatu ke saya.
Apa, Om?
Waktu kalian baru nikah. Dia telepon saya malam-malam. Bilang dia bahagia. Bilang dia nggak pernah sebahagia ini. Terus dia bilang, kalau suatu hari dia pergi duluan, saya nggak boleh larang kamu bahagia lagi.
Ia memakai kacamatanya lagi.
Saya marah waktu itu. Saya bilang jangan ngomong yang aneh-aneh. Dia ketawa. Dia bilang, “Pa, aku cuma jaga-jaga. Papa kan selalu ngajarin aku jaga-jaga.”
Papa Celine menatap papan catur.
Shafira itu sahabatnya, katanya. Yang dateng ke pemakaman pakai kerudung hitam dan nggak nangis sampai Melody nanya Papa kenapa nggak nangis. Yang cuci gelas di tahlilan sampai jam satu. Yang duduk di teras cucu saya setahun.
Ia mengangkat kepalanya. Menatap menantunya.
Kamu nggak perlu izin saya, Alfa, katanya. Tapi kalau kamu mau, kamu punya.
Lalu ia menyusun bidak-bidak catur kembali ke posisi awal.
Satu lagi, katanya. Sebelum kamu pulang.
Iya, Om.
Kali ini, biarin saya menang.
Alea bilang ia membiarkan Papa Celine menang. Dalam tiga puluh dua langkah. Papa Celine tahu. Papa Celine tidak bilang apa-apa. Ia hanya menatap papan catur dengan mata yang merah, lalu memanggil istrinya dari teras belakang.
Ma. Anggreknya jangan disiram lagi. Udah kebanyakan.
Mama Celine masuk dengan gembor di tangan, menangis, dan memeluk menantunya dari belakang.
Pakai anggrek, bisiknya ke punggungnya. Nanti. Waktu kamu ngelamar dia. Bawa anggrek. Bilang dari Celine.
Sabtu berikutnya, ia mengirim pesan.
Alfa: Besok jam sepuluh. Trista Tower. Basement B2.
Alfa: Bawa dasi biru tua.
Aku menatap pesan itu lama.
Dasi biru tua. Di atas meja rias. Di samping bingkai foto kosong. Di tempat yang sama sejak empat bulan lalu, ketika aku mengeluarkannya dari laci.
Aku tidak pernah bilang ke siapa pun bahwa aku mengeluarkannya.
Aku: Kamu tahu dasinya udah nggak di laci?
Alfa: Aku tahu.
Aku: Dari mana?
Alfa: Melody. Dia main ke apartemenmu dua minggu lalu sama Alea. Dia bilang ada dasi di sebelah foto kosong.
Alfa: Dia tanya kenapa fotonya kosong.
Aku: Kamu jawab apa?
Tiga titik. Lama.
Alfa: Aku bilang, nanti diisi.
Basement B2 Trista Tower. Minggu pagi, pukul sepuluh.
Sepi. Hari Minggu, tidak ada yang bekerja. Lampu neon yang berkedip. Bau oli dan beton basah. Pilar-pilar beton bernomor.
Pilar C-14.
Pak Udin di posnya. Pos yang sudah tidak ia jaga sejak pensiun. Dengan seragam satpam lama yang sedikit kesempitan di bagian perut. Koran di tangan. Terbalik.
Dan dua gelas teh manis di atas meja posnya.
Ia menatapku keluar dari mobil abu-abu yang mesinnya berisik. Lalu mengangkat korannya lebih tinggi. Menutupi wajahnya.
Aku berjalan ke pilar C-14.
Ia berdiri di sana.
Bukan kaos abu-abu. Bukan kemeja flanel hijau. Kemeja putih. Celana bahan hitam. Rambut yang disisir rapi, untuk pertama kalinya sejak pernikahan dulu. Lehernya kosong. Tanpa dasi.
Di sampingnya, Melody.
Gaun putih kecil. Dan di atasnya, hoodie abu-abu. Lengannya terlipat tiga kali. Di tangannya, pot kecil.
Anggrek bulan putih.
Aku berhenti tiga langkah di depan mereka.
“Fa,” kataku. “Ini apa?”
Ia tidak menjawab.
Ia menatap tanganku. Dasi biru tua yang kugenggam, tergulung rapi.
“Ikat,” katanya.
Aku menatapnya.
“Simpul Windsor,” katanya. “Kayak hari ketiga. Di depan lift lantai empat puluh enam.”
Ia melangkah mendekat. Berhenti di depanku. Mengangkat kerah kemeja putihnya.
Menunggu.
Aku membuka gulungan dasi biru tua. Kainnya sedikit kusut karena bertahun-tahun di laci. Aku melingkarkannya di lehernya. Di bawah kerah.
Ujung yang lebar di kanan. Lebih panjang. Yang kecil di kiri.
Tanganku gemetar.
Ujung lebar lewat atas, ke kiri. Naik lewat tengah. Lewat lubang di lehernya.
Jari-jariku menyentuh lehernya. Di sana. Di nadi di bawah rahangnya.
Aku menghitung. Tanpa sadar. Kebiasaan.
Satu. Dua. Tiga.
“Berapa?” tanyanya pelan.
Aku membeku. Menatapnya.
“Kamu ngitung,” katanya. “Kayak hari ketiga. Berapa?”
Aku menatap nadinya di bawah jari-jariku. Berdenyut cepat. Sangat cepat.
“Seratus tiga puluh,” bisikku.
“Hari ketiga seratus dua belas,” katanya.
“Iya.”
“Kamu tahu kenapa sekarang seratus tiga puluh?”
Aku tidak bisa menjawab.
“Karena hari ketiga, aku takut ketahuan,” katanya. “Sekarang aku takut kamu bilang nggak.”
Tanganku berhenti di tengah simpul.
Ia meletakkan tangannya di atas tanganku. Di lehernya. Di dasi yang belum selesai.
“Selesaiin dulu,” katanya. “Dasinya.”
Aku menyelesaikannya. Dengan tangan yang gemetar sangat hebat. Turun ke kanan. Putar ke depan. Ke kiri. Naik lewat tengah. Masukkan ke lubang depan.
Tarik.
Simpul Windsor. Rapi. Sempurna. Lebih rapi dari hari ketiga.
Aku merapikannya. Dua kali. Tiga kali. Supaya aku tidak harus menatap wajahnya.
Lalu tangan kecil menarik ujung blazerku.
Melody.
Ia berdiri di sampingku. Menengadah. Dengan pot anggrek bulan putih di tangan.
“Tante Fila,” katanya. Sangat serius. Seperti di depan aula PAUD di Hari Ayah. “Melody mau nanya.”
Aku menatapnya.
Di belakangku, aku mendengar ia berlutut. Di lantai beton basement B2. Di depan pilar C-14.
Aku tidak menoleh. Aku tidak bisa menoleh.
“Tante Fila,” kata Melody. “Mama bilang di surat, Melody yang pilih nama.”
Ia menarik napas. Dalam. Seperti sudah latihan berkali-kali.
“Melody udah pilih,” katanya. “Bukan Mama. Mama cuma satu.”
Ia mengulurkan pot anggrek ke arahku.
“Bunda,” katanya. “Tante Fila mau jadi Bunda Melody?”
Basement B2 menjadi sangat sunyi.
Lampu neon berhenti berkedip. Atau mungkin aku yang berhenti melihat.
Aku menatap anak empat tahun di depanku. Hoodie abu-abu. Anggrek bulan putih. Mata datar yang persis mata ayahnya, yang sekarang berkaca-kaca.
Biar Melody yang pilih namanya. Dia pinter. Dia bakal nemu nama yang pas.
Celine.
Celine, kamu benar.
Dia menemukan nama yang pas.
Aku berlutut. Di lantai beton. Di depan Melody. Mengambil pot anggrek dari tangannya. Memeluknya. Anggrek dan semuanya.
“Mau,” isakku ke hoodie abu-abu. “Mau, Sayang. Mau banget.”
Melody memelukku balik. Erat.
“Bunda,” bisiknya. Mencoba. Seperti mencoba sepatu.
Muat.
Lalu ia melepaskan pelukannya. Menatap ke belakangku.
“Papa,” katanya. “Sekarang Papa.”
Aku berbalik.
Ia masih berlutut di lantai beton. Di depan pilar C-14. Dasi biru tua dengan simpul Windsor yang sempurna di lehernya.
Di tangannya, kotak kecil. Beludru. Bukan biru tua. Merah.
Merah seperti lipstikku.
Ia membukanya.
Cincin sederhana. Emas putih. Tanpa batu. Hanya lingkaran polos, dengan ukiran kecil di bagian luar, bukan di dalam. Supaya terlihat.
Aku mendekat. Membacanya.
C-14
“Pilar ini,” katanya. Suaranya serak. “Enam tahun lalu, kamu berdiri di sini dan nyuruh aku pergi. Ke atap. Ke dia. Kamu bilang jaga dia.”
Ia menatapku.
“Aku jaga dia,” katanya. “Sampai aku nggak bisa jaga lagi.”
Suaranya pecah.
“Sekarang aku minta kamu yang tinggal,” katanya. “Di sini. Di pilar yang sama. Jangan suruh aku pergi lagi.”
Aku menangis. Keras. Di basement B2.
“Shafira Nadine,” katanya. “Aku belum bisa bilang cinta. Kamu tahu kenapa. Tapi aku sayang kamu. Aku sayang kamu waktu kamu duduk di mejaku. Waktu kamu bilang kamu duduk di kiri tujuh tahun. Waktu kamu meluk aku dari belakang di depan makam dia.”
Ia mengangkat kotak itu sedikit lebih tinggi.
“Aku nggak minta kamu gantiin dia,” katanya. “Nggak ada yang bisa. Dia juga nggak mau.”
“Aku tahu,” isakku.
“Aku minta kamu duduk di kananku,” katanya. “Di sisa umur kita. Biar kamu nggak perlu duduk di kiri di restoran mana pun lagi sambil nunggu.”
Aku tidak bisa bicara.
Melody menarik ujung blazerku lagi.
“Bunda,” bisiknya. “Bilang iya. Papa udah latihan tiga hari. Di depan Pak Bambang Junior.”
Aku tertawa. Di tengah tangis. Keras. Sampai Pak Udin di posnya menurunkan koran terbaliknya dan mengusap matanya dengan lengan seragamnya.
“Iya,” kataku.
Ke Melody. Ke dia. Ke pilar C-14. Ke Celine, di mana pun ia sekarang.
“Iya. Iya. Iya.”
Ia memasangkan cincin itu di jari manisku. Tangannya gemetar. Tanganku juga. Butuh dua kali percobaan.
Ketika akhirnya terpasang, ia tidak melepaskan tanganku. Ia menatap cincin itu. Lalu menatapku.
Lalu, di lantai beton basement B2, di depan pilar C-14, di depan Melody dan Pak Udin dan dua gelas teh manis, ia menciumku.
Pelan. Tidak ragu. Seperti seseorang yang sudah tahu caranya, dan memilih untuk melakukannya dengan hati-hati karena ia ingin, bukan karena ia takut.
Melody bertepuk tangan.
Pak Udin keluar dari posnya. Dengan dua gelas teh manis. Berjalan ke arah kami. Menyerahkan satu ke masing-masing.
“Mas, Neng,” katanya. Suaranya serak. “Teh manisnya dua. Selalu dua.”
Ia menatap kami. Lalu menatap pilar C-14.
“Enam tahun lalu, Neng berdiri di sini sendirian,” katanya. “Bapak tanya kenapa Neng nggak bilang. Neng bilang diem itu hadiah.”
Ia mengusap matanya.
“Bapak seneng Neng berhenti ngasih hadiah itu,” katanya. “Kadang yang paling bagus itu yang diomongin.”
Malam itu, di apartemen Senopati, aku mengisi bingkai foto yang kosong.
Bukan dengan foto kami berdua. Belum.
Dengan foto yang Pak Udin ambil di basement B2, dengan ponsel tuanya yang kameranya buram. Foto Melody, dengan hoodie abu-abu dan gaun putih, memegang pot anggrek bulan putih, menengadah ke arahku. Mulutnya terbuka. Mengucapkan sesuatu.
Bunda.
Aku meletakkan bingkai itu di atas meja rias. Di samping dasi biru tua. Yang tidak kugulung lagi. Yang kugantung di sandaran kursi rias, dengan simpul Windsor yang masih terikat, karena ia menolak melepasnya ketika kami pulang. Biar kamu yang buka, katanya. Nanti. Kalau udah sah.
Pukul lima lewat empat pagi berikutnya, alarm berbunyi.
Aku membuka repo zero-guard. Issue hijau.
Komentar terbaru. Dari pemilik repo.
Minggu ke-263.
Dia bilang iya.
Melody yang ngelamar duluan. Dia pilih “Bunda”. Kamu benar. Dia nemu nama yang pas.
Papamu kasih izin. Mamamu suruh bawa anggrek. Bilang dari kamu. Aku bilang.
Aku belum bisa bilang cinta ke dia. Kata itu masih punya kamu.
Tapi aku sayang dia, Cel. Aku pikir kamu udah tahu itu sebelum aku.
Kamu selalu tahu duluan.
Di bawahnya, aku mengetik.
Sudah kubaca.
Lalu, untuk pertama kalinya, aku menambahkan satu kalimat lagi.
Makasih udah geser sedikit, Cel. Aku janji nggak ngambil tempatmu. Aku cuma duduk di sebelahnya.
Aku menekan tombol hijau.
Lalu menatap cincin di jari manisku. C-14. Di bawah cahaya subuh yang masuk lewat jendela apartemen.
Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku tidak merasa sedang menunggu.