← Yang Menunggu di Teras

Chapter Seven

Untuk Shaf

POV: Shafira


Aku membukanya pukul lima lewat empat pagi.

Bukan karena aku sengaja. Aku tidak tidur sama sekali malam itu. Aku pulang dari Tebet pukul satu, duduk di lantai apartemen Senopati dengan punggung bersandar ke kasur, dan menatap amplop putih di pangkuanku selama empat jam.

Untuk Shaf. Kalau-kalau.

Pukul lima lewat empat, alarm di ponselku berbunyi. Alarm yang kupasang seminggu lalu tanpa tahu kenapa, setelah membaca komentar Alfa di repo dan menyadari bahwa ia menulis semuanya pada jam yang sama setiap pagi.

Aku tidak mematikannya.

Aku merobek ujung amplop itu.


Kertas HVS. Dilipat tiga. Tulisan bulat dengan tinta biru. Huruf a yang seperti angka 2.

Tiga halaman. Lebih panjang dari surat Alea.

Shaf,

Aku tahu kamu nggak mau baca ini. Aku tahu kamu udah natap amplopnya lama banget. Mungkin berjam-jam. Mungkin kamu duduk di lantai, bukan di kasur, karena kamu selalu duduk di lantai kalau lagi mikir. Aku tahu kamu. Aku kenal kamu sebelas tahun.

Jadi baca. Pelan-pelan. Sambil napas.

Pertama. Aku tahu.

Aku tahu sejak Tokyo, waktu kamu ngasih tiket bulan madu. Tapi sebenarnya aku curiga dari jauh sebelum itu. Dari hari kedua puluh satu, waktu kamu tiba-tiba teriak “Jepang masih punyaku” di grup sehari sesudah Alea nangis di toilet. Kamu nggak pernah teriak soal hadiah. Kamu orang yang paling nggak peduli hadiah di antara kita bertiga. Kamu bikin taruhan itu bukan buat Jepang. Kamu bikin buat sesuatu yang lain, yang aku baru ngerti bertahun-tahun kemudian.

Aku curiga waktu kamu batalin tiket kamu dan kasih uangnya ke dua puluh perempuan. Kamu bilang buat nebus. Iya. Tapi aku lihat kolom nama tengahnya, Shaf. Di tiket yang kamu batalin. Kamu tulis nama dia. Terus kamu kosongin nama tengahnya karena kamu nggak tahu. Kamu yang cerita ke aku sendiri, sambil ketawa, kayak itu lelucon. Itu bukan lelucon. Kamu nggak pernah nulis nama laki-laki di tiket mana pun.

Dan aku yakin waktu kamu pidato di nikahanku. “Setahun lalu aku bikin taruhan. Hadiahnya Jepang. Malam ini aku bayar taruhan itu.” Semua orang tepuk tangan. Aku lihat matamu. Kamu nggak nangis. Kamu selalu nangis di nikahan orang. Kamu nangis di nikahan sepupumu yang kamu benci. Di nikahanku kamu nggak nangis sama sekali.

Itu mata orang yang ngelepas. Aku tahu, karena aku pernah lihat mata itu di cermin. Hari ketiga puluh. Waktu aku nyangkal dia di depan semua orang dan malamnya dia hapus akunnya.

Aku berhenti membaca.

Tanganku gemetar sangat hebat sampai kertas itu bergetar seperti daun.

Aku menarik napas. Seperti yang ia minta. Pelan-pelan.

Aku melanjutkan.

Kedua. Aku nggak marah.

Aku tahu kamu pikir aku bakal marah. Aku tahu kamu diem bertahun-tahun karena kamu pikir diem itu hadiah. Buat aku. Buat Alea.

Shaf, itu hadiah paling besar yang pernah dikasih orang ke aku. Dan itu juga hadiah paling bodoh.

Kamu nggak perlu diem demi aku. Aku nggak pernah takut kehilangan dia ke kamu. Bukan karena kamu nggak cukup. Kamu lebih dari cukup. Kamu yang paling berani di antara kita bertiga, paling cantik kalau ketawa, paling setia sampai bikin orang kesel. Aku nggak takut karena aku tahu kamu. Kamu nggak akan pernah ngambil sesuatu dari orang yang kamu sayang. Kamu lebih milih ngasih semuanya dan pulang sendirian ke apartemen dengan bingkai foto kosong.

Iya, aku tahu bingkainya kosong sejak kamu putus sama Danu. Aku main ke apartemenmu bulan lalu. Kamu kira aku nggak lihat.

Aku menatap dinding apartemen. Bingkai foto kosong di atas meja rias. Di sampingnya, dasi biru tua yang kukeluarkan dari laci empat bulan lalu.

Aku menangis tanpa suara.

Ketiga. Ini yang paling susah aku tulis.

Kalau kamu baca ini, berarti aku udah pergi. Dan Mas sendirian. Dan Melody.

Mas bakal nggak nangis. Kamu tahu itu. Mas bakal berfungsi kayak mesin. Mas bakal bangun jam lima lewat empat dan bikin bekal dan ngiket rambut Melody dengan jelek banget dan nggak ngeluh sama sekali. Mas bakal masak sup ayam dua mangkuk karena kebiasaan. Mas bakal duduk di ruang kerja tiap jam lima sore karena nggak sanggup lihat Melody nunggu di teras.

Aku tahu, karena dia udah cerita soal teras di Purwokerto. Soal motor bebek merah. Soal satu tahun nunggu.

Shaf, aku nggak minta kamu gantiin aku.

Aku minta kamu jangan diem lagi.

Kalau suatu hari kamu masih sayang dia, bilang. Ke dia. Pakai kata-kata. Jangan lewat tiket yang dibatalin, jangan lewat pidato di nikahan, jangan lewat diam di basement B2 yang kamu kira nggak ada yang tahu.

Kalau dia belum siap, tunggu. Tapi tunggunya jangan di laci. Tunggunya di teras. Di tempat dia bisa lihat kamu.

Dan kalau dia siap

Tulisannya berhenti sebentar di sana. Ada noda kecil di kertas. Bulat. Seperti tetes air yang sudah lama kering, yang membuat tinta di sekitarnya sedikit luntur.

Ia menangis waktu menulis ini.

Kalau dia siap, Shaf, kamu boleh.

Kamu boleh.

Aku izinin. Bukan karena aku harus. Karena aku mau. Karena kalau aku harus milih siapa yang duduk di teras sama Melody waktu aku nggak ada, aku milih kamu. Dari semua orang di dunia, aku milih kamu.

Kamu tahu kenapa?

Karena kamu satu-satunya orang yang pernah sayang dia sebelum dia jadi siapa-siapa. Sebelum mr_zero. Sebelum Kaizen. Sebelum dia jadi Principal Security Engineer yang fotonya ada di majalah Jepang. Kamu sayang dia waktu dia masih Mr. Aman di pantry. Waktu dia masih pakai kaos tiga warna. Waktu semua orang termasuk aku masih ketawa.

Aku butuh enam bulan dan seratus delapan puluh issue buat sampai ke sana. Kamu udah di sana dari hari ketiga.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Empat hal terakhir.

Satu. Jangan mau dipanggil Mama kalau kamu belum siap. Biar Melody yang pilih namanya. Dia pinter. Dia bakal nemu nama yang pas.

Dua. Jangan buka lipatan hoodie-nya. Itu punya dia. Terus punya aku. Sekarang punya Melody. Nanti mungkin punya kamu. Lipatannya tetep tiga.

Tiga. Pakai lipstik merah lagi. Aku tahu kamu berhenti pakai sejak hari ketiga puluh, terus pakai lagi pas pacaran sama Danu, terus berhenti lagi. Kamu paling cantik pakai merah. Dia juga tahu. Dia pernah bilang ke aku, waktu kita lagi ngomongin kamu: “Shafira itu kayak lampu merah di antena atap. Nggak pernah mati, cuma kadang orang lupa lihat ke atas.”

Aku cemburu banget waktu dia bilang itu. Aku nggak bilang.

Empat.

Aku sayang kamu, Shaf. Kamu sahabat paling bodoh, paling berisik, paling setia yang pernah aku punya.

Sekarang berhenti nangis. Pakai lipstik merah. Naik ke atap jam dua belas.

Dia pasti di sana. Dia selalu di sana.

— C.

P.S. Kalau kalian nikah, jangan undang Bang Togar nyanyi. Sekali aja cukup.


Aku membaca surat itu tiga kali.

Lalu aku meletakkannya di atas meja rias. Di samping dasi biru tua. Di samping bingkai foto kosong.

Lalu aku menangis sampai matahari terbit.

Bukan tangis yang tertahan. Bukan tangis di mobil di lampu merah Semanggi. Tangis yang keluar dari tempat yang sudah lama sekali dikunci, sejak toilet gedung rektorat lantai lima lima belas tahun lalu, sejak taruhan sekelompok cowok kampus yang membuatku berhenti percaya bahwa ada laki-laki yang melihat perempuan sebagai sesuatu selain hadiah.

Ada.

Satu.

Dan sahabatku menikah dengannya, dan sekarang sahabatku sudah tidak ada, dan sahabatku meninggalkan surat yang bilang kamu boleh.

Aku menangis sampai tidak ada lagi yang bisa keluar.

Lalu aku berdiri.

Pergi ke kamar mandi. Mencuci wajah. Menatap cermin. Mata bengkak. Hidung merah. Rambut berantakan.

Aku membuka laci meja rias. Laci yang paling bawah. Di bawah palet-palet bedak yang tidak pernah kupakai lagi.

Lipstik merah.

Merah yang dulu kupakai setiap hari di Trista Tower. Merah yang membuat laki-laki menunduk di lift. Merah yang kupakai di pantry lantai 17 waktu aku menulis nomorku di telapak tangannya.

Aku memakainya.

Pelan. Satu lapis. Lalu dua.

Aku menatap cermin.

Perempuan dengan mata bengkak dan bibir merah.

Bukan Shafira yang dulu. Shafira yang dulu tidak akan pernah memakai lipstik merah di atas mata yang bengkak karena menangis. Shafira yang dulu menyembunyikan semua yang retak.

Ini Shafira yang lain.

Yang tidak mau diam lagi.


Pukul sebelas lewat lima puluh, aku sampai di Trista Tower.

Bu Ratna masih di meja resepsionis. Rambutnya sudah memutih seluruhnya. Ia menatapku masuk, menatap lipstik merahku, dan menjatuhkan pulpennya.

“Nak Shafira,” katanya. “Kamu...”

“Pagi, Bu.”

“Ini sudah siang, Nak.”

“Iya, Bu.” Aku tersenyum. “Bu Ratna masih nonton CCTV?”

Bu Ratna menatapku lama. Lalu, perlahan, wajahnya berubah. Matanya berkaca-kaca.

“Masih, Nak,” katanya. “Mas Alfa naik ke atap jam sebelas empat puluh. Kayak biasa. Tiap hari, sejak Mbak Celine...”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Ia menekan sesuatu di bawah mejanya. Lalu mengangguk ke arah lift.

“Lift tiga,” katanya. “Bu Ratna udah buka aksesnya ke lantai 32. Pakai kartu tamu, Nak. Biasanya nggak bisa. Hari ini bisa.”

Aku menatapnya.

“Bu Ratna kok tahu?”

“Nak,” kata Bu Ratna pelan. “Bu Ratna udah lima belas tahun duduk di sini. Bu Ratna lihat semua orang yang lewat lobi. Bu Ratna tahu siapa yang naik ke mana dan kenapa.”

Ia mengusap matanya.

“Enam tahun lalu, waktu Mas Alfa balik dari Tokyo, Nak Shafira duduk di mobil di depan lobi dua jam. Nggak keluar. Terus pergi.” Ia tersenyum. Senyum yang sedih. “Bu Ratna nggak pernah bilang ke siapa-siapa.”

Aku tidak bisa bicara.

“Naik, Nak,” kata Bu Ratna. “Kali ini jangan duduk di mobil.”


Tangga darurat lantai 32. Pengap. Lampu neon yang berkedip.

Pintu besi di ujung tangga. Terbuka sedikit. Ditahan dengan sepotong kayu kecil.

Aku tahu kayu itu. Semua orang di Trista tahu kayu itu. Celine yang menaruhnya di sana, enam tahun lalu, setiap hari selama enam bulan, supaya pintunya tidak tertutup kalau-kalau seseorang kembali.

Kayunya masih di sana.

Aku membuka pintu.


Atap lantai 32, pukul dua belas tepat.

Langit Jakarta yang putih karena panas. Unit AC raksasa yang berdengung. Antena tipis dengan lampu merah kecil di ujungnya, berkedip pelan bahkan di siang hari.

Dan bangku papan kayu yang miring.

Ia duduk di sana.

Di ujung kanan bangku. Tempat yang dulu ia duduki setiap jam dua belas, bertahun-tahun, sendirian. Kaos abu-abu. Kemeja flanel hijau yang dilipat di sampingnya, karena panas. Satu kantong kertas cokelat dengan stiker bunga matahari. Roti lapis. Satu. Bukan dua.

Ujung kiri bangku kosong.

Sudah setahun kosong.

Ia mendengar pintu besi. Menoleh.

Lalu berhenti.

Ia menatapku. Dari wajah. Ke bibir. Ke lipstik merah.

Lama.

Aku berjalan ke arahnya. Di atas lantai beton yang panas. Sepatu hak tinggi di tangan, bukan di kaki, karena aku melepasnya di tangga darurat, karena aku tidak mau ada yang terdengar selain langkahku sendiri.

Aku berhenti di depan bangku. Di depan ujung kiri yang kosong.

Aku tidak duduk.

“Aku udah baca,” kataku.

Ia diam.

“Suratnya,” kataku. “Punyaku. Tadi pagi. Jam lima lewat empat.”

Ia masih diam. Tapi tangannya, di atas lututnya, berhenti bergerak.

“Kamu udah baca punyamu?”

“Belum,” katanya.

“Kenapa?”

“Aku nunggu,” katanya. “Aku nggak tahu nunggu apa.”

Aku menatapnya. Laki-laki di bangku miring. Dengan roti lapis yang cuma satu. Dengan ujung kiri bangku yang kosong selama setahun.

Lalu aku menarik napas.

Pelan-pelan. Seperti yang diminta Celine.


“Alfa Danuarta,” kataku.

Suaraku tidak gemetar. Aku memastikan suaraku tidak gemetar. Suara Shafira yang tidak pernah kalah di depan klien. Suara yang dulu kupakai di pantry untuk membuat orang menunduk.

Tapi kali ini aku tidak memakainya untuk membuat siapa pun menunduk.

“Hari ketiga,” kataku. “Di depan lift restoran lantai empat puluh enam. Aku ngiket dasimu. Simpul Windsor. Aku ngitung denyut nadimu diam-diam. Seratus dua belas. Aku pikir kamu gugup karena aku cantik.”

Aku menelan ludah.

“Kamu nggak gugup karena aku cantik. Kamu gugup karena kamu tahu aku lagi ngitung. Kamu tahu dari awal. Kamu cuma biarin aku ngitung.”

Ia menatapku.

“Hari keempat belas,” kataku. “Di pantry lantai 17. Aku ngehina Bayu. Aku bilang dia nggak bakal pernah punya pacar. Kamu berdiri di depan Bayu. Nggak teriak. Nggak marah. Kamu cuma bilang Mbak, Bayu teman saya.”

Suaraku mulai bergetar. Aku tidak berhenti.

“Lima belas tahun lalu, di kampus, ada sekelompok cowok yang bikin aku target taruhan. Seluruh kantin ketawa. Nggak ada satu pun yang berdiri. Nggak satu pun. Aku nunggu bertahun-tahun ada orang yang berdiri. Buat siapa pun. Bukan buat aku.”

Air mataku jatuh.

“Kamu berdiri buat Bayu. Hari keempat belas. Dan aku jatuh cinta sama kamu di detik itu.”

Atap sunyi. Hanya dengung AC raksasa.

“Aku sayang kamu,” kataku.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Keras-keras. Dengan kata-kata. Bukan ke boneka beruang di lantai 21. Bukan lewat tiket yang dibatalkan. Bukan lewat pidato di pernikahan.

Ke dia.

“Aku sayang kamu dari hari keempat belas,” kataku. “Aku sayang kamu waktu kamu pergi ke Tokyo. Aku sayang kamu waktu kamu balik buat Celine. Aku sayang kamu waktu aku nyuruh kamu naik ke atap ke dia. Aku sayang kamu waktu kamu nikah sama sahabatku dan aku pidato dan aku nggak nangis.”

Aku menghapus air mataku. Lipstik merah tertinggal di punggung tanganku.

“Aku nggak pernah berhenti,” kataku. “Aku coba. Enam tahun. Aku pacaran sama Danu. Danu orang paling baik di dunia. Aku tetep nggak bisa. Danu bilang dia nggak mau jadi orang yang aku pilih karena aku nggak bisa milih yang aku simpen.”

Aku menatapnya.

“Ini yang aku simpen,” kataku. “Kamu.”


Ia tidak bergerak.

Ia duduk di ujung kanan bangku miring, menatapku, dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

Lalu, sangat pelan, ia berkata:

“Aku tahu.”

“Aku tahu kamu tahu.”

“Dari pantry,” katanya. “Hari keempat belas. Waktu aku berdiri buat Bayu, kamu lihat aku. Bukan kayak cewek lihat target. Kayak orang yang lihat sesuatu yang dia tunggu lama banget.”

Ia menunduk. Menatap roti lapis di sampingnya.

“Aku nggak pernah bilang apa-apa,” katanya. “Karena itu bukan rahasiaku.”

“Celine juga bilang gitu. Di suratnya.”

Ia mengangkat kepalanya.

“Celine tahu?”

“Dari Tokyo.”

Ia diam lama. Wajahnya berubah. Sesuatu di sana. Seperti orang yang baru sadar bahwa log yang ia kira hanya ia sendiri yang membaca, ternyata ada pembaca lain.

“Shafira,” katanya.

“Hmm.”

“Aku nggak bisa jawab.”

“Aku tahu.”

“Bukan karena...” Ia berhenti. “Aku nggak tahu apa yang aku rasain. Setahun ini aku nggak ngerasain apa-apa. Aku berfungsi. Aku masak, aku kerja, aku ikat rambut Melody. Aku duduk di teras. Tapi aku nggak...”

Ia menatap tangannya sendiri.

“Aku belum nangis, Shafira,” katanya. Suaranya pecah sedikit. “Setahun. Aku belum nangis buat dia. Gimana aku bisa ngerasain hal lain kalau aku belum...”

“Aku nggak minta kamu jawab,” kataku.

Ia menatapku.

“Aku nggak naik ke sini buat dijawab,” kataku. “Aku naik ke sini karena enam tahun aku diem, dan sahabatku nulis surat yang bilang aku harus berhenti diem. Itu aja. Aku udah bilang. Sekarang kamu tahu bukan karena kamu baca. Kamu tahu karena aku yang bilang.”

Aku menghapus air mataku lagi. Lebih banyak lipstik merah di punggung tanganku.

“Kamu nggak perlu jawab hari ini,” kataku. “Besok juga nggak. Tahun depan juga nggak apa-apa.”

“Shafira...”

“Tapi aku nggak pergi,” kataku. “Aku nggak ke Surabaya. Aku nggak ke mana-mana. Aku duduk di teras tiap jam lima. Kayak kemarin. Kayak setahun ini. Bedanya, sekarang kamu tahu kenapa.”

Aku menatap ujung kiri bangku yang kosong.

“Celine bilang tunggunya jangan di laci,” kataku. “Tunggunya di teras. Di tempat kamu bisa lihat aku.”

Aku memakai sepatu hak tinggiku lagi. Satu. Lalu yang lain.

“Udah,” kataku. “Itu aja. Aku turun.”

Aku berbalik.


“Jangan.”

Satu kata. Di belakangku.

Aku berhenti.

“Jangan turun,” katanya.

Aku tidak berbalik.

Aku mendengar ia berdiri dari bangku. Langkahnya di atas lantai beton. Pelan. Satu langkah. Dua.

Ia berhenti di belakangku.

“Aku belum bisa,” katanya. Suaranya sangat dekat. “Aku belum bisa bilang apa-apa. Aku belum bisa ngerasain apa-apa. Aku belum nangis buat dia.”

Aku memejamkan mata.

“Tapi jangan pergi,” katanya.

Tangannya menyentuh tanganku. Di sisi tubuhku. Jari-jarinya, yang dingin meski matahari jam dua belas membakar atap, menyentuh jari-jariku.

Seperti di teras. Di punggung Melody. Empat bulan lalu.

Kali ini tidak ada Melody di antara kami.

Kali ini tidak ada kebetulan.

Jari-jarinya menekuk. Pelan. Menyusup di antara jari-jariku. Dengan cara yang dulu ia pelajari dalam satu malam, di umur dua puluh delapan, dari sahabatku.

Aku tidak menarik tanganku.

“Duduk,” katanya. “Di ujung kiri. Setahun kosong.”

Aku membuka mata.

Aku berbalik.

Ia menatapku. Wajahnya tidak datar. Matanya merah, tapi kering. Seperti orang yang ingin menangis dan sudah lupa caranya.

“Kamu yakin?” tanyaku. “Itu tempat Celine.”

“Itu tempat buat orang yang nunggu,” katanya. “Celine yang bilang. Di suratmu, kan?”

Aku menatapnya.

“Kamu nggak baca suratku.”

“Nggak,” katanya. “Tapi aku kenal dia.”

Ia menarik tanganku. Pelan. Ke bangku miring.

Aku duduk di ujung kiri.

Ia duduk di ujung kanan.

Bangku papan kayu yang miring berderit di bawah berat kami berdua. Seperti dulu. Seperti setiap hari selama empat minggu terakhir sebelum ia pergi ke Tokyo, ketika ada dua orang yang duduk di atasnya, bukan satu.

Tangannya masih menggenggam tanganku. Di tengah bangku. Di bagian kayu yang sedikit lebih terang warnanya.

Kami tidak bicara.

Ia mengambil roti lapis dari kantong kertas cokelat. Membuka bungkusnya. Membaginya jadi dua. Tidak rapi. Satu potong lebih besar.

Ia memberikan potongan yang lebih besar padaku.

Aku menerimanya.

Kami makan dalam diam. Di bawah langit putih Jakarta. Dengan tangan yang masih bertaut di tengah bangku miring dan lampu merah di ujung antena yang berkedip pelan, seperti orang yang tidak pernah mati, hanya kadang dilupakan orang untuk dilihat.


Pukul satu lewat sepuluh, ia mengantarku ke tangga darurat.

Di pintu besi, ia berhenti. Menatap sepotong kayu kecil yang menahan pintu tetap terbuka.

“Celine yang taruh ini,” katanya.

“Aku tahu.”

“Enam bulan. Tiap hari.”

“Aku tahu.”

Ia menatap kayu itu lama.

Lalu ia membungkuk. Mengambilnya. Menimbangnya di telapak tangannya.

Lalu meletakkannya kembali. Di tempat yang sama. Menahan pintu.

“Biar tetep di sini,” katanya.

Aku menatapnya.

“Buat siapa?”

“Buat siapa pun yang mau balik,” katanya.

Ia menatapku.

“Besok jam dua belas,” katanya. “Kamu naik?”

Aku menatap kayu kecil di bawah pintu besi. Lalu menatapnya.

“Aku di teras jam lima,” kataku. “Di atap jam dua belas. Di mana pun kamu nengok.”

Ia mengangguk. Satu kali.

Lalu ia mengangkat tangan. Pelan. Ibu jarinya menyentuh sudut bibirku. Mengusap noda lipstik merah yang luntur karena aku menangis dan menghapusnya dengan punggung tangan.

“Lampu merah di antena,” katanya pelan. “Celine cerita?”

Aku tidak bisa bernapas.

“Dia cerita,” bisikku.

“Aku bilang itu tiga tahun lalu,” katanya. “Dia cemburu. Dia bilang nggak. Dia bohong.”

“Dia bilang di suratnya. Dia cemburu.”

Sudut bibirnya bergerak. Hampir senyum. Pertama kalinya dalam setahun aku melihatnya hampir tersenyum.

“Dia selalu ngaku di surat,” katanya. “Nggak pernah langsung.”

“Aku juga,” kataku. “Dulu.”

“Sekarang?”

Aku menatapnya.

“Sekarang aku ngaku langsung,” kataku. “Di atap. Pakai lipstik merah.”

Ibu jarinya masih di sudut bibirku. Diam.

“Cocok,” katanya.

Lalu ia menarik tangannya. Berbalik. Berjalan kembali ke bangku miring.

Aku turun tangga darurat. Tiga puluh dua lantai. Aku tidak naik lift. Aku tidak mau ada yang melihat wajahku.

Di lantai satu, di lobi, Bu Ratna menatapku keluar dari pintu tangga darurat. Menatap lipstik merahku yang luntur di sudut bibir. Menatap mataku.

Lalu ia mengangkat ibu jarinya. Diam-diam. Di balik meja resepsionis.

Aku tertawa. Di lobi Trista Tower. Dengan maskara luntur dan lipstik yang berantakan.

Aku tertawa keras, seperti dulu di pantry lantai 19, tapi kali ini tanpa ada siapa pun yang harus menunduk.


Sore itu, pukul empat lewat lima puluh, aku sampai di Tebet.

Melody sudah di bangku putih. Hoodie abu-abu.

Ia menatapku membuka pagar. Lalu menatap bibirku.

“Tante Fila,” katanya. “Bibirnya merah.”

“Iya, Sayang.”

“Kenapa?”

Aku melepas sepatu di sudut teras. Duduk di lantai keramik di sisi kiri bangku putih.

“Mama kamu yang suruh,” kataku.

Melody menatapku. Matanya lebar.

“Mama ngomong sama Tante?”

“Lewat surat.”

Melody diam. Lalu menatap ujung gang. Lalu menatapku lagi.

“Mama bilang apa lagi?”

Aku menatap anak ini. Anak sahabatku. Dengan rambut bergelombang seperti Celine dan mata datar seperti ayahnya.

Jangan mau dipanggil Mama kalau kamu belum siap. Biar Melody yang pilih namanya.

“Mama bilang,” kataku pelan, “Tante nggak boleh diem lagi.”

Melody mengangguk. Serius.

“Tante Fila emang suka diem,” katanya. “Kalau Papa lihat Tante, Tante diem. Kalau Tante lihat Papa, Tante diem juga. Melody tahu.”

Aku membeku.

Pintu rumah terbuka di belakang kami.

Ia keluar. Duduk di lantai keramik di sisi kanan bangku putih. Seperti setiap sore.

Melody menatap ayahnya. Lalu menatapku. Lalu menatap ayahnya lagi.

“Papa,” katanya. “Bibir Tante Fila merah.”

Ia menatapku. Menatap bibirku. Lama.

“Papa tahu,” katanya.

“Papa suka?”

Aku berhenti bernapas.

Ia diam lama. Melody menunggu. Sabar. Dengan mata yang persis mata ayahnya.

“Suka,” katanya.

Melody mengangguk puas. Lalu menatap ujung gang.

“Mama,” katanya ke ujung gang. “Papa suka.”

Lalu ia menatapku.

“Tante Fila, kucing oranye. Dari awal.”

Aku membuka buku cerita itu dengan tangan yang gemetar.

Di halaman tujuh, ketika kucing oranye berdiri di depan pintu yang tertutup dan tidak tahu harus mengetuk atau pergi, aku tidak berhenti membaca.

Untuk pertama kalinya dalam setahun, aku tidak tersandung di halaman tujuh.

Kucing itu mengetuk.