← Yang Menunggu di Teras

Chapter Three

Telur Dadar

POV: Alea


Aku membuat jadwal.

Itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan dengan baik setelah pemakaman. Aku tidak bisa berhenti menangis. Aku tidak bisa tidur lebih dari tiga jam. Aku tidak bisa menatap foto-foto di grup Baca Log yang sekarang hanya punya dua anggota yang masih membalas, karena anggota ketiga tidak akan pernah mengetik lagi.

Tapi aku bisa membuat jadwal. Aku orang HR. Membuat jadwal adalah keahlianku.

Jadi aku membuatnya. Di Excel. Dengan warna.

JADWAL PIKET TANTE — RUMAH TEBET

Senin–Jumat, 16.50–19.00: Kak Shaf (teras, buku cerita, makan malam)
Sabtu: Alea (telur dadar, mandi sore, ikat rambut)
Minggu: Alea + Raka (pagi), Oma & Opa Cipete (siang)
Darurat: Bu Yati (sebelah), Bayu & Laras (24 jam, kata Bayu)

Aku mengirimkannya ke grup. Grup baru. Bukan Baca Log. Aku tidak sanggup mengirim apa pun ke grup itu lagi.

Grup baru namanya Tim Melody. Anggotanya aku, Kak Shaf, Bayu, Laras, Bang Togar, dan Kak Alfa.

Kak Alfa tidak pernah membalas di grup itu. Tapi ia selalu membaca. Dua centang biru, dalam sepuluh detik, setiap kali.

Kak Shaf membalas jadwalku dengan satu kata.

Kak Shaf: Oke.

Lalu, lima menit kemudian:

Kak Shaf: Le. Kamu hamil. Sabtu biar aku aja juga.

Aku: Nggak, Kak. Sabtu punyaku. Telur dadar punyaku.

Kak Shaf: …

Kak Shaf: Oke. Tapi Raka yang nyetir.

Aku: Iya, Kak.

Bayu: Aku juga mau piket! Hari apa aku?

Bang Togar: Kau darurat, Bayu. Kau selalu darurat.

Bayu: Siap, Opung!

Bang Togar: JANGAN PANGGIL AKU OPUNG DI GRUP INI. Itu cuma buat Melody.

Bayu: Siap, Bang Togar!

Bang Togar: Bagus.

Bang Togar: Opung kalau Melody yang panggil.

Aku tertawa. Pertama kalinya dalam tiga bulan. Lalu aku menangis karena aku tertawa. Lalu Raka memelukku dari belakang di sofa apartemen kami dan bilang nggak apa-apa, Le, ketawa juga boleh.


Sabtu pagi. Rumah Tebet.

Aku datang pukul sembilan dengan Raka dan satu kantong belanja. Telur ayam kampung. Daun bawang. Garam, yang kali ini kutakar dengan sendok teh, karena Raka bilang aku selalu menaburnya dengan perasaan dan perasaanku selalu terlalu banyak.

Kak Alfa yang membuka pintu.

Ia memakai kaos abu-abu dan celana training. Rambutnya masih tidak dipotong. Janggutnya masih tidak dicukur. Tapi matanya, aku perhatikan, sedikit kurang kosong dari minggu lalu.

“Alea,” katanya. “Raka.”

“Pagi, Kak.”

“Pagi, Bang,” kata Raka.

Kak Alfa mengangguk. Lalu menatap perutku. Lima bulan. Sudah mulai terlihat di balik daster longgar.

“Duduk,” katanya. “Jangan berdiri lama.”

“Aku mau masak, Kak.”

“Duduk dulu.” Ia mengambil kantong belanja dari tanganku. “Masaknya nanti. Aku siapin bahannya.”

Aku menatapnya.

Laki-laki yang istrinya baru meninggal tiga bulan lalu. Yang anaknya duduk di teras setiap jam lima sore menunggu mobil yang tidak pernah belok. Yang belum menangis, kata Kak Shaf. Sekali pun.

Dan ia menyuruhku duduk karena aku hamil.

Aku duduk di sofa ruang tengah dan menangis lagi. Raka menghela napas, duduk di sampingku, dan memberiku tisu dari tasnya. Ia selalu membawa tisu sekarang. Satu bungkus besar. Ia bilang ia belajar dari panduan Bayu.


Melody bangun pukul sembilan lewat dua puluh.

Ia keluar dari kamarnya dengan hoodie abu-abu, menyeret ujungnya di lantai. Rambutnya kusut. Matanya masih setengah tertutup.

Ia melihatku di sofa.

“Tante Lea,” katanya.

“Halo, Sayang.”

Ia berjalan ke arahku. Lalu berhenti. Menatap perutku.

“Tante Lea gendut,” katanya.

Raka tersedak kopinya.

“Ada adek bayi di sini,” kataku, menuntun tangan kecilnya ke perutku. “Nanti adek bayinya keluar, jadi temen main Melody.”

Melody meletakkan tangannya di perutku. Lama. Matanya yang datar, persis mata Kak Alfa, menatap tangannya sendiri.

“Adek bayinya nendang,” katanya.

“Iya. Dia bilang halo.”

Melody menatapku. Lalu menatap perutku lagi.

“Adek bayi,” katanya ke perutku. Pelan. Serius. “Nanti kalau kamu keluar, Mamamu jangan pergi ya.”

Ruang tengah sunyi.

Di dapur, suara pisau di talenan berhenti.

Aku memeluk Melody. Erat. Wajahku di rambutnya yang kusut, wangi stroberi, wangi sampo yang dulu dibeli Kak Cel di supermarket dekat kantor setiap dua minggu sekali, dan yang sekarang, kata Kak Shaf, dibeli Kak Alfa dengan merek dan ukuran yang persis sama.

“Iya, Sayang,” bisikku ke rambutnya. “Iya.”

Aku tidak tahu apakah itu bohong atau janji.


Aku memasak telur dadar.

Di dapur sempit rumah Tebet. Di depan kompor yang dulu dipakai Kak Cel memasak sup ayam dengan jahe yang dimasukkan paling akhir. Kak Alfa sudah menyiapkan semuanya: telur di mangkuk, daun bawang yang sudah diiris, garam di sendok teh. Persis. Seperti ia tahu aku akan menakar garam dengan sendok teh hari ini.

Melody duduk di kursi makan, menonton. Kakinya berayun. Hoodie abu-abu.

“Tante Lea,” katanya. “Telur dadar Tante keasinan?”

Aku berhenti mengocok telur.

“Siapa yang bilang?”

“Papa.” Melody menatap ayahnya, yang berdiri di ambang pintu dapur. “Papa bilang, dulu Tante Lea bawain telur dadar keasinan. Terus Papa bilang keasinan. Terus Tante Lea marah.”

Aku menoleh ke Kak Alfa.

Ia menatap lantai.

“Kamu cerita itu ke dia?” tanyaku.

“Dia tanya kenapa kamu selalu bikin telur dadar,” katanya. “Aku jawab jujur.”

“Kak...”

“Aturan nomor satu.”

Aku menatapnya. Lalu, entah kenapa, aku tertawa. Tawa yang keluar dari tempat yang sangat jauh, enam tahun lalu, dari dapur rumah orang tuaku di Rawamangun, dengan celemek bergambar ayam milik Mama dan sosis yang dipotong bentuk gurita.

“Melody,” kataku. “Mau tahu rahasia?”

Melody mengangguk.

“Telur dadar Tante keasinan,” kataku, “karena dulu Tante nggak tahu cara masak. Tante cuma mau Papa kamu suka sama Tante.”

Melody menatapku dengan mata lebar.

“Papa suka?”

“Nggak,” kataku. “Papa kamu bilang keasinan. Di depan Tante. Nggak pakai bohong. Itu pertama kalinya ada orang yang jujur sama Tante.”

Melody menatap ayahnya. Lalu menatapku lagi.

“Terus Tante nangis?”

“Iya.”

“Terus?”

“Terus Tante belajar masak,” kataku. “Biar nggak keasinan lagi. Sampai sekarang.”

Aku menuang telur ke wajan. Mendesis. Wangi daun bawang dan mentega memenuhi dapur sempit.

“Terus Papa suka sama siapa?” tanya Melody.

Dapur menjadi sunyi.

Aku menatap wajan. Telur yang mulai mengeras di pinggirnya.

“Sama Mama kamu,” kataku pelan.

“Mama,” kata Melody. Seperti mengulang sesuatu yang ingin ia hafalkan.

“Iya. Papa kamu suka banget sama Mama kamu. Sampai Papa kamu pulang dari Jepang cuma buat ketemu Mama kamu di atap.”

“Atap?”

“Atap kantor. Tinggi banget. Ada bangku miring.”

Melody menatap ayahnya lagi.

Kak Alfa tidak bergerak dari ambang pintu dapur. Ia menatap anaknya. Wajahnya datar. Tapi tangannya, di sisi tubuhnya, mengepal.

“Papa,” kata Melody. “Bangkunya masih ada?”

“Masih.”

“Melody mau lihat.”

Kak Alfa diam lama.

“Nanti,” katanya.

Itu pertama kalinya aku mendengar Kak Alfa mengucapkan kata nanti dengan suara yang terdengar seperti tidak bisa.


Telur dadarnya tidak keasinan.

Melody memakannya dengan nasi hangat dan kecap manis, duduk di pangkuanku di meja makan, dan bilang itu telur dadar paling enak di dunia.

Kak Alfa memakan bagiannya tanpa bicara. Habis. Ia mengambil satu potong lagi.

Raka menatapnya, lalu menatapku, lalu mengangkat alis. Itu tanda bagus, kata alisnya.

Aku mengangguk.


Sore itu, aku tinggal sampai jam lima.

Tidak ada di jadwal. Jadwalku hari Sabtu sampai jam dua. Tapi aku tidak mau pulang.

Pukul empat lewat lima puluh, Kak Shaf datang.

Bukan dengan blazer dan rok pensil seperti hari kerja. Hari Sabtu ia memakai kaos putih longgar dan celana jins, rambut diikat asal, tanpa riasan kecuali sedikit warna di bibir. Bukan merah. Merah muda pucat. Ia tidak pernah memakai merah lagi sejak pemakaman.

Ia membawa kantong kertas dari toko roti. Roti sobek isi cokelat. Kesukaan Melody.

“Kak Shaf,” kataku. “Hari ini Sabtu. Bukan jadwalmu.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Ia meletakkan kantong roti di meja teras. Melepas sandalnya. Duduk di lantai keramik di samping bangku putih kecil, di sisi kiri, tempat ia selalu duduk.

“Teras nggak punya jadwal, Le,” katanya.

Melody keluar dari rumah dengan hoodie abu-abu. Naik ke bangku putihnya. Menatap ujung gang.

Lalu menatap Kak Shaf di sisi kirinya.

Lalu menatap aku, yang berdiri di ambang pintu.

Lalu menatap ayahnya, yang keluar dari rumah dan duduk di lantai keramik di sisi kanan bangku, seperti yang ia lakukan setiap hari selama dua minggu terakhir, kata Kak Shaf.

Melody tersenyum.

Kecil. Sangat kecil. Senyum pertama yang kulihat darinya sejak pemakaman.

“Semua nunggu,” katanya.

Aku duduk di kursi rotan di sudut teras. Raka berdiri di belakangku, tangannya di bahuku.

Kami menunggu.

Pukul lima. Tidak ada mobil yang belok.

Kak Shaf membuka buku cerita kucing oranye. Membacanya. Suaranya, yang dulu memenuhi pantry lantai 19 dengan tawa keras dan ejekan yang membuat orang menunduk, sekarang pelan dan sabar, seperti air yang mengalir di sungai yang tenang.

Aku menatapnya.

Lalu aku menatap Kak Alfa.

Ia tidak menatap ujung gang.

Ia menatap Kak Shaf. Hanya sebentar. Dua detik, mungkin tiga. Dengan wajah yang tidak bisa kubaca, karena aku tidak pernah bisa membaca wajah Kak Alfa, hanya Kak Cel yang bisa.

Lalu ia kembali menatap ujung gang.

Dan Kak Shaf, di halaman ketujuh, ketika kucing oranye itu berdiri di depan pintu rumah yang tertutup dan tidak tahu harus mengetuk atau pergi, berhenti membaca.

Sebentar. Satu detik. Seperti tersandung kata.

Lalu melanjutkan.

Aku tidak tahu kenapa, tapi sesuatu di dadaku berdetak aneh.


Pukul lima lewat dua puluh, Melody turun dari bangku putihnya.

Ia tidak masuk ke rumah. Ia berjalan ke Kak Shaf, yang masih duduk di lantai dengan buku cerita di pangkuan.

Lalu, tanpa peringatan, ia naik ke pangkuan Kak Shaf. Duduk di sana. Menyandarkan punggungnya di dada Kak Shaf. Hoodie abu-abu yang kebesaran menutupi pangkuan Kak Shaf seperti selimut.

Kak Shaf membeku.

“Lagi,” kata Melody. “Dari halaman tujuh.”

Kak Shaf menatap anak di pangkuannya. Tangannya, yang memegang buku, gemetar.

Lalu ia melingkarkan satu lengannya di tubuh kecil itu. Pelan. Seperti memegang sesuatu yang bisa pecah.

Dan membaca lagi dari halaman tujuh.

Melody menyimak. Matanya menatap gambar kucing oranye di depan pintu yang tertutup.

Di halaman terakhir, kucing itu pulang. Pintunya dibuka dari dalam oleh seseorang yang sudah lama menunggu.

Melody menengadah. Menatap Kak Shaf dari bawah.

“Mama,” katanya.


Teras membeku.

Bu Yati, yang sedang menyiram tanaman di balik pagar sebelah, menjatuhkan selangnya. Air menyembur ke mana-mana.

Raka mencengkeram bahuku.

Kak Shaf tidak bergerak. Wajahnya putih. Sangat putih. Seperti seseorang yang baru saja ditampar dan belum merasakan sakitnya.

Melody menatapnya. Bingung. Seperti ia sendiri tidak tahu kenapa kata itu keluar.

“Mama,” ulangnya. Pelan. Mencoba. Seperti mencoba sepatu yang mungkin muat.

“Melody.”

Suara Kak Alfa.

Keras.

Aku belum pernah mendengar Kak Alfa bersuara keras. Tidak sekali pun. Tidak di pantry lantai 17 ketika kami menertawakannya. Tidak di town hall. Tidak di hari ketiga puluh ketika seluruh kantor membaca kata aman. Kak Alfa tidak pernah menaikkan suaranya, kepada siapa pun, untuk alasan apa pun.

Sekarang ia berdiri. Di teras. Tangan mengepal di sisi tubuhnya.

“Itu bukan Mama kamu,” katanya.

Suaranya keras. Pecah di ujung. Seperti kaca yang retak.

Melody menatap ayahnya. Matanya melebar.

“Mama kamu udah nggak ada,” kata Kak Alfa. Lebih keras. “Mama kamu meninggal. Mama kamu nggak pulang lagi. Nggak jam lima. Nggak besok. Nggak...”

Ia berhenti.

Melody menangis.

Bukan tangis pelan. Bukan isak. Tangis anak tiga tahun yang baru saja dibentak oleh satu-satunya orang tua yang tersisa. Keras. Melengking. Wajahnya merah, mulutnya terbuka lebar, air matanya jatuh ke hoodie abu-abu, dan ia mencengkeram kaos Kak Shaf dengan dua tangan kecilnya, dan menyembunyikan wajahnya di dada Kak Shaf.

Kak Shaf memeluknya. Erat. Matanya terpejam.

Kak Alfa berdiri di sana.

Menatap anaknya yang menangis di pelukan perempuan lain.

Lalu, perlahan, aku melihatnya. Kak Alfa yang tidak pernah berubah wajah. Kak Alfa yang datar di pemakaman, di tahlilan, di tiga bulan terakhir.

Wajahnya hancur.

Bukan retak. Hancur. Seperti seseorang menarik kabel yang menahan semuanya, dan semua yang ditahan jatuh sekaligus. Rahangnya bergetar. Matanya merah. Bibirnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar.

“Melody,” bisiknya. “Maaf. Papa...”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Ia berbalik. Masuk ke rumah. Pintu ruang kerja tertutup.


Melody menangis dua puluh menit.

Kak Shaf memeluknya sepanjang waktu. Tidak bicara. Tidak menyuruhnya diam. Hanya memeluk, mengusap punggungnya lewat hoodie abu-abu, mengayunnya pelan di pangkuannya di lantai teras.

Ketika akhirnya tangisnya berhenti, Melody tertidur. Kelelahan. Pipinya masih basah. Tangannya masih mencengkeram kaos Kak Shaf.

Kak Shaf menatapku.

Matanya kering. Ia tidak menangis sama sekali selama dua puluh menit itu. Ia menahannya. Untuk Melody.

“Le,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. “Bawa dia ke kamar. Aku nggak bisa berdiri.”

Raka yang menggendong Melody. Pelan. Melepaskan jari-jari kecil itu dari kaos Kak Shaf satu per satu. Membawanya ke dalam.

Kak Shaf masih duduk di lantai teras.

Aku turun dari kursi rotan. Pelan, karena perutku. Duduk di lantai di sampingnya.

“Kak,” kataku.

“Aku nggak minta dia manggil aku itu,” katanya. Cepat. Seperti membela diri. “Aku nggak pernah. Le, sumpah, aku nggak pernah...”

“Aku tahu, Kak.”

“Aku cuma bacain buku. Aku cuma duduk. Aku nggak pernah...”

“Kak Shaf.” Aku menggenggam tangannya. Dingin. Gemetar. “Aku tahu.”

Kak Shaf menatapku.

Lalu, akhirnya, ia menangis.

Di lantai teras rumah Tebet, di samping bangku putih kecil yang kosong, Kak Shaf menangis seperti di pemakaman. Dengan seluruh tubuhnya. Membungkuk. Menutup wajah dengan dua tangan.

“Aku bukan Celine,” isaknya. “Aku nggak mau jadi Celine. Aku nggak boleh, Le. Aku nggak boleh.”

Aku memeluknya.

Aku nggak boleh.

Bukan aku nggak mau. Bukan aku nggak bisa.

Aku nggak boleh.

Aku memeluk Kak Shaf di lantai teras dan menatap pintu ruang kerja Kak Alfa yang tertutup, dan sesuatu di dadaku, yang tadi berdetak aneh di halaman tujuh, sekarang berdetak lebih keras.

Enam tahun.

Enam tahun aku mengenal Kak Shaf. Kak Shaf yang paling berisik. Yang tertawa paling keras di pantry. Yang bilang Jepang masih punyaku di grup chat, keras-keras, tepat sehari setelah aku menangis di toilet lantai 19 karena ditolak.

Yang tidak pernah, sekali pun, dalam enam tahun, bilang bahwa ia menyukai seseorang.

Yang selalu memilih restoran lantai empat puluh enam untuk membuat laki-laki merasa kecil. Yang pacaran dengan Mas Danu dua tahun dan bilang bukan apa-apa, Le, cuma makan. Yang putus dengan Mas Danu dan tidak menjelaskan kenapa, hanya bilang dia baik banget, Le. Terlalu baik buat aku yang masih nyimpen sesuatu.

Nyimpen sesuatu.

Aku menatap Kak Shaf yang menangis di pelukanku.

Aku tidak bertanya.

Aku tidak berani bertanya.


Pukul tujuh malam, setelah Kak Shaf pulang dengan mata bengkak dan Raka memanaskan mobil di depan pagar, aku mengetuk pintu ruang kerja Kak Alfa.

Tidak ada jawaban.

Aku mengetuk lagi.

“Kak,” kataku. “Aku masuk.”

Aku membuka pintu.

Ruangan gelap. Hanya cahaya dari layar laptop yang menyala di meja. Kak Alfa duduk di kursinya, membelakangi pintu, menghadap jendela yang tirainya tertutup.

Di layar laptop, aku melihatnya. Halaman GitHub. Repo zero-guard. Satu issue hijau. Log baru. Hari ke-1. Dan di bawahnya, ratusan komentar. Foto-foto Melody. Bayi merah di gendongan Kak Cel di rumah sakit. Melody belajar duduk. Melody belajar berjalan. Melody dengan kue ulang tahun pertama yang wajahnya penuh krim.

Komentar terakhir. Dari Kak Cel. Tiga bulan lalu.

Minggu ke-194. Melody bisa bilang “Papa jelek” dengan lancar. Aku yang ngajarin. Maaf, Mas. Tapi lucu.

Di bawahnya, kotak komentar terbuka. Kosong. Kursor berkedip.

Kak Alfa tidak mengetik apa pun.

“Kak,” kataku pelan.

Ia tidak menoleh.

“Aku bentak dia,” katanya. Suaranya datar lagi. Terlalu datar. “Anakku. Tiga tahun. Aku bentak dia di depan semua orang.”

“Kak...”

“Ibuku nggak pernah bentak aku,” katanya. “Waktu Bapak pergi. Waktu aku nanya tiap hari kapan Bapak pulang. Satu tahun. Ibu nggak pernah bentak. Ibu cuma bilang dua minggu lagi. Tiap hari. Satu tahun.”

Ia diam.

“Aku pikir Ibu bohong,” katanya. “Aku benci Ibu bohong. Aku bikin aturan nomor satu karena Ibu bohong.”

Ia menatap layar laptop. Kursor yang berkedip.

“Hari ini aku jujur ke Melody,” katanya. “Mama kamu meninggal. Nggak pulang lagi.”

Suaranya pecah. Sedikit. Di kata lagi.

“Dan dia nangis kayak aku nggak pernah lihat orang nangis,” katanya. “Dan aku sadar, Le. Aku sadar kenapa Ibu bohong.”

Aku berdiri di ambang pintu.

“Ibu bohong bukan buat Ibu,” katanya. “Ibu bohong buat aku. Biar aku punya sesuatu buat ditunggu. Biar aku punya alasan duduk di teras tiap sore.”

Ia menutup laptopnya.

Ruangan menjadi gelap total.

“Aku jujur,” katanya dalam gelap. “Dan aku ambil satu-satunya hal yang dia punya.”


Aku tidak tahu harus bilang apa.

Aku orang HR. Aku tahu cara bicara dengan karyawan yang kehilangan keluarga. Aku tahu kalimat-kalimat yang tepat. Kami turut berduka. Ambil cuti selama yang Anda butuhkan. Kami ada untuk Anda.

Tidak ada satu pun kalimat itu yang berguna di ruangan gelap ini.

Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang kutahu.

Aku berjalan ke dapur. Mengambil telur dari kulkas. Daun bawang. Garam, yang kutakar dengan sendok teh.

Aku memasak telur dadar.

Lalu aku membawanya ke ruang kerja, di atas piring, dengan nasi hangat dan kecap manis. Meletakkannya di meja, di samping laptop yang tertutup.

“Makan, Kak,” kataku.

Ia tidak bergerak.

“Kak Alfa.” Suaraku pecah. “Dulu kamu habisin telur dadar keasinan aku. Padahal kamu tahu aku cuma pura-pura. Kamu tahu aku cuma mau menang taruhan. Kamu habisin juga.”

Aku menghapus air mataku.

“Sekarang telurnya nggak keasinan,” kataku. “Sekarang aku nggak pura-pura. Habisin.”

Lama.

Lalu, dalam gelap, aku mendengar suara sendok yang diambil dari piring.

Aku keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya.


Di mobil, dalam perjalanan pulang ke apartemen kami, Raka menyetir pelan.

“Le,” katanya di lampu merah.

“Hmm.”

“Kak Shafira.”

Aku menatapnya.

Raka anak Finance. Orang yang membaca angka-angka di tabel dan selalu tahu kalau ada yang tidak seimbang. Orang yang tidak pernah bohong soal garam.

“Tadi waktu Melody bilang Mama,” katanya pelan. “Kak Shafira nggak kaget.”

“Dia kaget, Ka. Mukanya putih.”

“Bukan kaget.” Raka menatap lampu merah. “Takut. Itu muka orang takut. Kayak orang yang ketahuan.”

Aku diam.

“Ketahuan apa?” tanyaku.

Raka tidak menjawab.

Lampu hijau. Ia menginjak gas.

Aku menatap jalan di depan kami. Lampu-lampu Jakarta. Dan di kepalaku, satu kalimat yang terus berulang, seperti lagu yang tidak bisa dimatikan.

Aku nggak boleh, Le. Aku nggak boleh.

Aku meletakkan tanganku di perutku.

Bayiku menendang.

Seperti mengatakan sesuatu yang belum bisa kumengerti.