Chapter Ten
Yang Menyambut di Teras
POV: Alfa
Akadnya kecil.
Shafira yang minta. Nggak usah gedung, katanya di atap, seminggu setelah basement B2, sambil membagi roti lapis menjadi dua potong yang sama besar. Nggak usah tiga ratus tamu. Nggak usah pelaminan. Aku cuma mau orang-orang yang dulu duduk di teras.
Jadi kami mengadakannya di rumah Tebet.
Di ruang tengah, dengan karpet yang digelar sampai teras. Seperti tahlilan. Seperti haul. Tapi kali ini, kata Bu Yati sambil menata kue di meja panjang, kali ini karpetnya buat yang bahagia, Mas.
Pagi itu aku bangun pukul lima lewat empat.
Aku tidak membuka repo. Tidak hari ini.
Aku berjalan ke ruang tengah. Berdiri di depan dinding di atas televisi.
Bingkai kayu cokelat sudah kembali di tempatnya. Paku baru. Lebih kuat. Aku memasangnya sendiri minggu lalu, dengan palu pinjaman Bu Yati, palu yang sama yang dulu dipinjam Celine.
TARGET: Celine Aurelia
Catatan: Rumah.
Di sampingnya, foto baru. Aku yang memasangnya juga, semalam, ketika Melody sudah tidur.
Foto dari jembatan Meguro. Yang diambil nenek dengan topi rajut merah muda. Yang disukai empat ribu orang. Celine dengan hoodie abu-abu, rambut berantakan penuh kelopak sakura, tertawa sampai matanya hilang, di tengah ciuman.
Mama Celine yang memberikannya. Sudah dicetak dan dibingkai. Pasang, katanya. Di rumah itu. Biar dia lihat.
Aku menatap foto itu.
“Cel,” kataku pelan. Ke foto. Ke bingkai. Ke ruang tengah yang sepi pukul lima pagi. “Hari ini.”
Foto itu tidak menjawab.
Tapi di luar, di teras, dahan pohon mangga tetangga bergoyang, dan satu daun jatuh di atas bangku putih kecil yang dicat oleh tangannya.
Pukul delapan, rumah Tebet penuh.
Bukan tiga ratus orang. Tiga puluh.
Bang Togar dan istrinya dan anak perempuan mereka, yang sekarang lima belas tahun dan sangat malu karena ayahnya membawa gitar. Bayu dan Laras, yang tunangan bulan lalu, dengan kemeja yang lagi-lagi disamakan warnanya. Pak Udin, dengan peci dan seragam satpam lama, karena katanya ini acara basement, Mas, Bapak harus resmi. Bu Ratna, dengan kebaya ungu. Haruto Mori, yang terbang dari Tokyo dan duduk bersila di karpet dengan kemeja batik pilihan Bayu yang, kali ini, motifnya sedikit lebih tenang.
Papa dan Mama Celine. Duduk di sofa. Papa dengan kemeja putih yang dimasukkan ke celana. Mama dengan kebaya hijau dan pot anggrek bulan putih di pangkuannya. Anggrek yang dulu kubawa ke Cipete. Yang sekarang sudah berbunga empat kali, karena ia akhirnya berhenti menyiramnya terlalu sering.
Alea dan Raka. Dan Bintang, yang sudah satu tahun dan bisa berjalan, dan yang tidak mau lepas dari Melody, berjalan di belakangnya ke mana pun Melody pergi seperti anak bebek.
Dan keluarga Shafira. Ibunya, perempuan kecil yang tertawa sangat keras, persis seperti anaknya. Dan Om Hasan, adik almarhum ayahnya, yang akan menjadi wali.
Aku duduk di depan meja kecil berlapis kain putih. Di ruang tengah. Di bawah bingkai TARGET_SELAMANYA dan foto jembatan Meguro.
Kemeja putih. Celana bahan hitam. Peci hitam.
Dan dasi biru tua. Simpul Windsor.
Shafira yang mengikatnya pagi ini. Ia datang pukul tujuh, sebelum siapa pun, dengan gamis putih dan kerudung putih yang belum dirapikan, dan berdiri di depanku di teras dan mengikat dasi itu tanpa bicara. Ia tidak menghitung denyut nadiku kali ini. Aku tahu, karena ia tidak menyentuh leherku.
Kenapa nggak dihitung? tanyaku.
Nanti, katanya. Nanti malam aku hitung semuanya.
Lalu ia pergi ke kamar Melody untuk dirias, dan meninggalkanku di teras dengan dasi biru tua dan jantung yang tidak akan kucatat di log mana pun.
Penghulu datang pukul delapan lewat lima belas.
Om Hasan duduk di seberangku. Laki-laki enam puluhan dengan kumis tebal dan tangan yang besar. Ia menatapku lama sebelum penghulu mulai. Tatapan seorang paman yang menilai laki-laki yang akan mengambil keponakannya.
Lalu ia mencondongkan tubuh sedikit.
“Nak Alfa,” katanya pelan. “Almarhum kakak saya, ayah Shafira, pernah cerita.”
“Cerita apa, Om?”
“Waktu dia stroke. Tangannya nggak bisa gerak. Tiap pagi, anak perempuannya yang SMA itu ngiket dasinya.” Om Hasan menatap dasi biru tua di leherku. “Simpul Windsor.”
Aku diam.
“Kakak saya bilang, suatu hari nanti, ada laki-laki yang dasinya diiket anak saya dengan simpul itu.” Om Hasan tersenyum. Matanya merah. “Dia bilang, Han, kalau aku udah nggak ada, kamu yang jadi wali. Tapi kamu lihat dasinya dulu. Kalau simpulnya Windsor, nikahin.”
Ia menatap dasi di leherku lama.
“Windsor,” katanya.
“Iya, Om.”
“Rapi sekali.”
“Shafira yang ikat, Om. Tadi pagi.”
Om Hasan mengangguk pelan. Lalu duduk tegak. Mengulurkan tangannya ke atas meja kecil berlapis kain putih.
“Ayo,” katanya. “Sebelum saya nangis.”
Shafira tidak di balik tirai.
Tidak ada tirai. Rumah Tebet terlalu kecil.
Ia duduk di sofa. Di samping Mama Celine. Gamis putih. Kerudung putih yang sekarang sudah dirapikan oleh Alea. Riasan tipis. Dan lipstik merah.
Melody duduk di pangkuannya.
Gaun putih kecil. Hoodie abu-abu di atasnya. Lengan terlipat tiga kali. Melody menolak melepas hoodie itu, bahkan untuk hari ini. Mama harus ikut, katanya. Dan tidak ada yang membantah.
Shafira menatapku dari sofa.
Melody menatapku dari pangkuan Shafira.
Mama Celine menatapku dari samping mereka, dengan pot anggrek bulan putih di pangkuannya.
Penghulu membacakan khotbah nikah. Pendek. Tentang rumah yang dibangun bukan dari batu, tapi dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.
Kalimat yang sama. Penghulu yang berbeda. Masjid yang berbeda. Enam tahun kemudian.
Aku mendengarnya, dan untuk sesaat, aku tidak di ruang tengah rumah Tebet. Aku di masjid kecil berkubah hijau di Cipete, dengan keris yang menusuk pinggang dan sepasang mata yang mengintip dari celah tirai putih.
Aku di sini. Dia nggak. Aku yang dapat kamu.
Lalu aku menatap sofa.
Shafira menatapku. Dengan lipstik merah. Dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan anak sahabatnya di pangkuannya, yang memakai hoodie abu-abu dengan lengan terlipat tiga kali.
Ia tidak mengintip. Ia menatap langsung.
Ia selalu menatap langsung.
“Silakan, Pak,” kata penghulu.
Om Hasan menggenggam tanganku. Tangannya besar dan hangat.
“Alfa Danuarta,” katanya. “Bin Suryadi.”
Nama itu jatuh di udara ruang tengah.
Aku tidak menatap Om Hasan.
Aku menatap sofa. Shafira. Melody.
Dan di belakang mereka, di dinding, foto jembatan Meguro.
Celine tertawa di foto itu. Di tengah ciuman. Dengan kelopak sakura di rambutnya.
Dia nggak dapat apa-apa. Dia rugi.
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau,” kata Om Hasan, “dengan keponakan saya, Shafira Nadine binti Darmawan, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas seberat dua puluh satu gram, dibayar tunai.”
Dua puluh satu gram.
Shafira yang memilih angkanya. Ia tidak bilang kenapa. Tapi aku tahu.
Hari kedua puluh satu. Hari ia melihat Alea menangis di toilet lantai 19 dan Celine bersinar setiap pulang dari atap, dan memilih diam.
Hari ia mulai menyimpan.
Hari ini ia berhenti.
Om Hasan menghentak tanganku.
Aku menarik napas.
“Saya terima nikah dan kawinnya Shafira Nadine binti Darmawan dengan mas kawin tersebut, tunai.”
Satu napas. Tidak ada yang salah.
Penghulu menoleh ke kiri dan ke kanan.
“Sah?”
“SAH!”
Bang Togar. Tentu saja Bang Togar yang paling keras. Diikuti Papa Celine, yang menjadi saksi kedua, dengan suara yang lebih keras dari yang pernah kudengar darinya. Diikuti semua orang. Diikuti Haruto, setengah detik terlambat, saah, dengan aksen yang sama seperti lima tahun lalu.
Dan diikuti satu suara kecil dari sofa.
“SAH!”
Melody. Berdiri di pangkuan Shafira. Tangan terangkat ke udara. Hoodie abu-abu yang lengannya menjuntai melewati jarinya.
“SAH, PAPA! SAH, BUNDA!”
Ruang tengah meledak dalam tawa dan tangis.
Papa Celine yang pertama memelukku setelah akad.
Ia berdiri dari kursi saksi. Berjalan memutari meja kecil. Memelukku. Kaku, seperti orang yang tidak terbiasa memeluk. Tangannya menepuk punggungku dua kali.
“Kamu tetap anak saya,” katanya pelan di bahuku. “Itu nggak berubah.”
“Iya, Om.”
“Papa.”
Aku membeku.
“Enam tahun kamu panggil saya Om,” katanya. “Celine sudah marah soal itu sejak kalian nikah. Dia bilang, Pa, suruh dia panggil Papa. Saya bilang biar dia yang mutusin sendiri.”
Ia melepaskan pelukannya. Menatapku. Kacamatanya berembun.
“Sekarang saya yang suruh,” katanya. “Papa.”
Aku menatapnya.
“Papa,” kataku.
Papa Celine melepas kacamatanya. Mengelapnya dengan ujung kemeja putih. Lama. Lebih lama dari yang dibutuhkan kacamata mana pun.
Lalu ia berbalik ke sofa. Ke Shafira.
Shafira berdiri. Melody masih di gendongannya.
Papa Celine menatapnya lama.
“Shafira,” katanya.
“Om.”
“Dulu kamu datang ke pemakaman pakai kerudung hitam. Nggak nangis. Sampai cucu saya nanya Papanya kenapa nggak nangis.”
Shafira menunduk.
“Saya lihat,” kata Papa Celine. “Saya lihat kamu nangis waktu itu. Kamu pikir nggak ada yang lihat. Saya lihat.”
Ia mengulurkan tangannya. Meletakkannya di kepala Shafira. Di atas kerudung putih. Seperti seorang ayah memberkati anak perempuannya.
“Jaga mereka,” katanya. “Itu aja.”
Shafira menangis. Tanpa suara. Mengangguk berkali-kali.
Lalu Mama Celine berdiri. Dengan pot anggrek bulan putih. Menyerahkannya pada Shafira.
“Dari Celine,” katanya. Suaranya pecah. “Siram seminggu sekali. Jangan lebih. Dia nggak suka diperhatiin berlebihan.”
Shafira menerima anggrek itu. Menatap kertas kecil yang masih tertempel di potnya. Tulisanku. Enam tahun lalu.
Ia memeluk Mama Celine. Lama. Anggrek di antara mereka.
Bang Togar naik ke kursi plastik pukul sembilan pagi dengan gitar kayunya.
“Hadirin,” katanya. “Aku mau nyanyi.”
Shafira, yang sedang duduk di sofa dengan Melody di pangkuannya, mengangkat tangan.
“Bang,” katanya. “Tunggu.”
Bang Togar berhenti.
Shafira mengambil sesuatu dari tas kecilnya. Kertas HVS. Dilipat tiga. Tulisan bulat dengan tinta biru.
Ia membuka halaman terakhir.
“Celine nulis P.S. di suratku,” katanya. Ia menatap Bang Togar. Lalu membacanya keras-keras. “P.S. Kalau kalian nikah, jangan undang Bang Togar nyanyi. Sekali aja cukup.”
Ruang tengah sunyi.
Bang Togar berdiri di atas kursi plastik dengan gitar di tangan dan wajah yang perlahan-lahan berubah.
“Dia... dia nulis itu?”
“Dia nulis itu, Bang.”
Bang Togar menatap kertas di tangan Shafira. Lalu menatap foto jembatan Meguro di dinding.
Lalu ia turun dari kursi plastik. Pelan. Meletakkan gitarnya.
“Celine,” katanya ke foto. Suaranya pecah. “Kau ini. Kau ini sampai sekarang masih ngelarang aku nyanyi.”
Ia mengusap matanya dengan punggung tangan.
“Oke,” katanya. “Oke. Aku nggak nyanyi.”
Ia duduk di karpet. Memeluk gitarnya.
Lalu, sangat pelan, hampir tidak terdengar, ia mulai bersenandung.
Bukan bernyanyi. Bersenandung. Lagu Batak yang sama, yang dulu ia nyanyikan dengan fals di atap lantai 32 dan di gedung pertemuan di Kemang. Tapi kali ini pelan. Dengan mulut tertutup. Dengan mata yang berkaca-kaca.
Istrinya ikut bersenandung. Lalu anaknya. Lalu Pak Udin. Lalu Bu Ratna.
Lalu Haruto, yang tidak tahu lagunya tapi bersenandung dengan nada yang salah dengan sangat serius.
Lalu semua orang.
Ruang tengah rumah Tebet dipenuhi senandung pelan. Tanpa kata. Tanpa gitar.
Shafira menatap kertas di tangannya. Lalu menatap foto di dinding.
“Dia bilang jangan nyanyi,” bisiknya. “Dia nggak bilang jangan bersenandung.”
Aku menatapnya.
“Celine selalu ninggalin celah,” kataku.
“Kayak sistem,” bisiknya.
“Kayak sistem.”
Malam itu, kami tidak tidur di rumah Tebet.
Alea yang mengatur semuanya. Melody menginap di rumah Alea dan Raka, dengan Bintang, untuk pertama kalinya. Melody setuju dengan satu syarat: hoodie abu-abu ikut. Biar Mama juga nginep, katanya.
Dan Shafira yang memilih tempatnya.
Bukan hotel. Bukan villa. Bukan apartemen Senopati.
Kalibata.
Apartemen lamaku. Yang kujual setelah menikah dengan Celine, dan yang, entah bagaimana, Shafira beli kembali tiga bulan lalu tanpa memberitahuku.
“Kenapa?” tanyaku di depan pintu. Pukul delapan malam. Kunci di tangannya.
“Karena di sini kamu pertama kali ketawa,” katanya. “Di dapur. Celine yang cerita. Di depan bak cuci piring. Dia minta kamu teriak, dan yang keluar malah ketawa.”
Ia membuka pintu.
“Rumah Tebet punya Celine,” katanya. “Teras, bangku putih, dapur, kamar. Semua punya dia. Aku nggak mau ngambil.”
Ia menatapku.
“Apartemen ini punya kamu,” katanya. “Sebelum siapa pun. Sebelum Celine. Sebelum aku. Kamu yang tinggal di sini empat tahun, sendirian, baca log tiap pagi jam lima lewat empat.”
Ia melangkah masuk.
“Aku mau mulai dari tempat yang punya kamu,” katanya. “Bukan punya dia. Bukan punya aku. Punya kamu. Biar adil.”
Aku berdiri di ambang pintu.
Apartemen kecil. Satu ruangan dengan dapur sempit. Jendela yang menghadap ke jalur kereta. Rak buku di dinding, yang sekarang kosong.
Kecuali satu buku.
Hujan Bulan Juni.
Sedikit miring. Di posisi yang sama seperti ketika Celine mengembalikannya, bertahun-tahun lalu.
Aku menatap buku itu.
“Kamu taruh itu?” tanyaku.
“Alea yang kasih tahu,” kata Shafira. “Celine pernah cerita ke dia. Buku itu miring dan kamu nggak pernah lurusin.”
Aku menatap Shafira.
Ia berdiri di tengah apartemen kecilku. Gamis putih. Kerudung putih yang sekarang sudah ia lepas, rambut panjang bergelombang yang tergerai di punggungnya. Lipstik merah.
Cincin dengan ukiran C-14 di jari manisnya.
“Kamu nggak marah?” tanyanya. Suaranya sedikit ragu. Pertama kalinya hari ini ia terdengar ragu. “Aku beli apartemen ini tanpa bilang?”
Aku melangkah masuk. Menutup pintu di belakangku.
“Shafira,” kataku.
“Hmm?”
“Kamu beli apartemen yang aku jual. Kamu taruh buku yang miring di rak yang sama. Kamu pilih tempat ini karena kamu nggak mau ngambil apa pun dari Celine.”
Aku berhenti di depannya.
“Kenapa aku harus marah?”
Ia menatapku. Matanya berkaca-kaca.
“Karena aku agresif,” katanya. “Kamu tahu aku. Aku selalu kebanyakan. Aku duduk di mejamu tanpa izin. Aku cium pipimu di basement tanpa izin. Aku beli apartemenmu tanpa izin.”
“Kamu nggak berubah,” kataku.
“Kamu keberatan?”
Aku mengangkat tangan. Menyentuh sudut bibirnya. Lipstik merah.
“Kamu tahu apa yang aku pikirin waktu pertama kali kamu duduk di mejaku?” tanyaku. “Hari ketiga. Pakai lipstik ini.”
Ia menggeleng pelan.
“Aku pikir,” kataku, “perempuan ini nggak takut sama apa pun.”
Ibu jariku bergerak. Dari sudut bibirnya ke tengah.
“Aku salah,” kataku. “Kamu takut sama banyak hal. Kamu cuma nggak pernah biarin orang lihat.”
Ia menahan napas.
“Malam ini,” kataku pelan, “kamu boleh takut. Aku lihat. Nggak apa-apa.”
Ia tidak menangis.
Ia tersenyum.
Senyum yang berbahaya. Senyum Shafira yang dulu, yang membuat direktur PT Sumber Makmur tanda tangan kontrak. Tapi di matanya, sesuatu yang baru. Sesuatu yang lembut, yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
“Fa,” katanya.
“Hmm.”
“Pagi tadi aku bilang aku bakal ngitung semuanya. Nanti malam.”
Ia mengangkat tangannya. Ke dasi biru tua di leherku. Simpul Windsor yang ia ikat pagi tadi.
Jari-jarinya menemukan simpul itu. Menariknya. Pelan.
Simpul itu terurai.
“Kamu bilang biar aku yang buka,” bisiknya. “Kalau udah sah.”
“Udah sah.”
“Udah sah,” ulangnya. Dasi biru tua menjuntai di antara jari-jarinya. Ia tidak menjatuhkannya. Ia melilitkannya di pergelangan tangannya sendiri. Satu kali. Dua kali. Lalu mengikatnya. Simpul Windsor. Di pergelangan tangan.
Seperti dulu. Di lampu merah perempatan Semanggi.
“Dulu aku pakai ini di pergelangan tangan karena aku nggak bisa pegang kamu,” bisiknya. “Sekarang aku pakai karena aku bisa.”
Lalu tangannya, yang terlilit dasi biru tua, naik ke kerah kemeja putihku. Ke kancing pertama.
Ia tidak membukanya.
Ia meletakkan telapak tangannya di dadaku. Di atas jantung.
Diam.
Menghitung.
Aku membiarkannya.
“Berapa?” tanyaku.
Ia tidak menjawab langsung. Matanya terpejam. Bibirnya bergerak tanpa suara. Menghitung.
Lalu ia membuka mata.
“Aku nggak tahu,” bisiknya. “Aku kehilangan hitungan.”
“Kenapa?”
“Karena kamu liatin bibirku,” bisiknya. “Dari tadi. Dari waktu aku buka dasimu.”
Aku menatapnya.
Aku memang menatap bibirnya. Lipstik merah. Yang dulu membuat laki-laki menunduk di lift. Yang ia pakai lagi karena sahabatnya memintanya. Yang ia pakai di pemakaman, di atap, di dapur, di basement B2.
“Kamu mau cium aku?” bisiknya.
Kalimat yang dulu. Dari Celine. Dari dirinya sendiri, di atap tiga bulan lalu. Kalimat yang sekarang entah milik siapa.
“Mau,” kataku.
Ia menunggu.
Seperti di atap. Seperti di dapur Tebet. Menunggu aku bilang belum atau sini atau apa pun yang membuatnya harus menunggu lagi.
Aku tidak bilang apa-apa.
Aku menciumnya.
Di apartemen kecil di Kalibata. Di depan rak buku yang hanya berisi satu buku miring. Dengan jendela yang menghadap jalur kereta, dan kereta yang lewat setiap sepuluh menit, membuat lantai bergetar pelan di bawah kaki kami.
Tidak pelan. Tidak hati-hati.
Ciuman yang tidak lagi menahan apa pun.
Ia membalas dengan cara yang membuatku lupa di mana aku berdiri. Tangannya, yang terlilit dasi biru tua, naik ke rambutku. Menarik. Tubuhnya menempel di tubuhku. Gamis putih yang lembut. Wangi melati dan vanila dan sesuatu yang tajam seperti jahe. Aku memeluk pinggangnya. Menariknya lebih dekat. Ia mengeluarkan suara kecil yang tertahan di tenggorokannya, dan suara itu membuat semua hitungan di kepalaku berhenti.
Kereta lewat. Lantai bergetar.
Kami tidak berhenti.
Ketika akhirnya kami berhenti, ia terengah. Dahinya di dahiku. Lipstik merahnya sekarang di bibirku, di daguku, di kerah kemeja putihku.
“Fa,” bisiknya.
“Hmm.”
“Kamu belum bilang.”
Aku tahu apa yang ia maksud.
Di dapur Tebet, aku bilang aku sayang kamu. Aku bilang aku belum bisa bilang cinta. Kata itu masih punya dia.
Ia tidak pernah memintanya lagi sejak itu. Tidak sekali pun. Di atap, di teras, di basement B2, ia tidak pernah meminta.
Sekarang ia tidak meminta juga.
Ia hanya bilang kamu belum bilang. Seperti laporan status.
Aku menatapnya.
Lalu aku memikirkan surat itu. Halaman terakhir.
Aku cinta kamu. Yang ke berapa? Kamu yang ngitung. 4.217. Yang ke-4.218 aku simpen. Buat kamu bilang balik.
Aku sudah bilang balik. Di malam itu. Tanpa tahu. Dua puluh menit sebelum titik biru berhenti bergerak.
Hitungan itu sudah selesai.
4.218.
Lengkap.
Hati bukan server. Nggak ada kapasitas maksimal.
Aku cuma geser sedikit. Biar ada tempat.
Aku menangkup wajah Shafira dengan dua tangan.
“Shafira,” kataku.
Suaraku keluar serak. Lebih serak dari yang kuinginkan.
“Aku cinta kamu.”
Ia membeku.
“Yang pertama,” kataku.
Air matanya jatuh. Ke ibu jariku.
“Yang... pertama?” bisiknya.
“Hitungan yang lama udah selesai,” kataku. “Empat ribu dua ratus delapan belas. Lengkap. Punya dia. Aku nggak pernah ngulang dari situ.”
Ibu jariku mengusap air matanya.
“Ini hitungan baru,” kataku. “Punya kamu. Mulai dari satu.”
Shafira menatapku.
Lalu ia menangis. Dan tertawa. Dan menangis lagi. Dan menciumku di tengah tangisnya, dan aku merasakan asin di bibirnya, dan lipstik merah, dan tujuh tahun yang akhirnya berhenti menunggu.
“Aku cinta kamu,” isaknya di bibirku. “Aku cinta kamu dari hari keempat belas. Aku nggak ngitung. Aku nggak pernah ngitung. Kebanyakan.”
“Aku yang ngitung,” kataku.
“Iya. Kamu yang ngitung.”
“Dua,” kataku.
Ia tertawa di tengah tangis.
“Itu barusan, kan? Kamu bilang lagi?”
“Aku cinta kamu. Tiga.”
Ia memukul dadaku pelan. Dengan tangan yang terlilit dasi biru tua.
Lalu ia meraih tanganku. Menuntunnya. Ke saklar lampu di dinding di samping pintu.
Ia meletakkan jariku di atas saklar itu.
Ia tidak menekannya.
Ia menatapku. Dari jarak yang tidak ada lagi.
“Mas,” bisiknya.
Pertama kalinya ia memanggilku begitu.
Aku berhenti bernapas.
“Aku udah nunggu tujuh tahun,” bisiknya. “Di pantry. Di parkiran. Di kursi kiri setiap restoran. Di teras setahun.”
Ia menekan jariku di atas saklar.
Pelan.
“Jangan suruh aku nunggu lagi.”
Klik.
Apartemen kecil di Kalibata menjadi gelap.
Hanya cahaya dari jendela. Lampu-lampu jalur kereta. Dan di kejauhan, ke arah Kuningan, di puncak gedung tiga puluh dua lantai, titik merah kecil di ujung antena. Berkedip pelan.
Seperti seseorang yang tidak pernah mati.
Hanya kadang dilupakan orang untuk dilihat.
Malam itu, aku melihatnya.
Lalu aku berhenti melihat apa pun selain perempuan di depanku.
Dua Tahun Kemudian
Pukul empat lewat lima puluh delapan sore.
Teras rumah Tebet.
Bangku putih kecil sudah dicat ulang. Bukan oleh tukang. Oleh Melody, dengan bantuan Shafira, bulan lalu. Catnya tidak rata. Ada tetesan putih di lantai keramik yang tidak pernah bisa dihapus. Di salah satu kakinya, Melody menulis dengan spidol permanen, dengan huruf yang besar dan miring:
BANGKU MAMA
Di kaki yang lain, dengan huruf yang sama:
TEMPAT NUNGGU BUNDA
Melody duduk di sana.
Enam tahun. Seragam SD merah putih. Rambut bergelombang yang diikat dua dengan karet rambut yang ada bolanya. Merah muda. Alea yang ikat, setiap Sabtu. Hari lain, Shafira. Kadang aku, dan hasilnya selalu miring, dan Melody tidak pernah protes.
Dan di atas seragamnya, hoodie abu-abu.
Sekarang tidak terlalu kebesaran. Masih kebesaran, tapi ujungnya tidak lagi menyapu lantai. Jatuh di bawah lututnya. Lengannya masih terlipat tiga kali. Dan dengan tiga lipatan itu, sekarang lengannya pas di pergelangan tangannya.
Tidak ada yang pernah membuka lipatan itu.
Aku duduk di lantai teras. Di sisi kanan bangku. Seperti setiap sore.
Di sisi kiri, kosong. Untuk sementara.
Melody menatap ujung gang.
“Papa,” katanya. “Bunda telat.”
“Dua menit lagi,” kataku. “Lampu merah di Pancoran.”
“Kok Papa tahu?”
“Lokasinya di HP Papa.”
Melody menatapku. Lalu menatap ujung gang lagi.
“Papa,” katanya. “Dulu Melody nunggu Mama di sini. Tiap jam lima.”
“Iya.”
“Mama nggak pernah datang.”
“Iya.”
Melody diam lama. Menatap ujung gang.
“Sekarang Melody nunggu Bunda,” katanya. “Bunda selalu datang.”
Ia menatapku.
“Tapi Melody nggak nunggu lagi,” katanya. “Melody nyambut.”
Aku menatap anakku.
“Apa bedanya?” tanyaku.
Melody berpikir. Mengerutkan dahi. Seperti juri lomba masak. Seperti Celine ketika membaca proposal yang salah ketik.
“Kalau nunggu,” katanya pelan, “Melody nggak tahu orangnya datang atau nggak. Kalau nyambut, Melody tahu orangnya pasti datang. Melody cuma duduk biar orangnya tahu ada yang seneng dia pulang.”
Ia menatap ujung gang.
“Mama juga pasti seneng,” katanya. “Kalau tahu ada yang nyambut.”
Aku tidak bisa menjawab.
Di ujung gang, sebuah mobil belok.
Mobil abu-abu. Mesinnya berisik. Mobil yang dulu dibeli Shafira setelah menjual Mini Cooper merahnya untuk dana beasiswa angkatan pertama. Mobil yang tidak pernah ia ganti, meskipun sekarang ia bisa membeli sepuluh mobil seperti itu.
Tin-tin.
Klakson dua kali.
Melody melompat dari bangku putih.
Berlari ke pagar. Hoodie abu-abu berkibar di belakangnya.
“BUNDAAAAA!”
Pagar berderit. Mobil abu-abu berhenti. Pintunya terbuka.
Shafira keluar.
Blazer merah marun. Rok pensil hitam. Rambut yang sedikit berantakan karena seharian bekerja. Lipstik merah, yang sudah luntur di bagian tengah, karena ia selalu menggigit bibirnya ketika rapat donatur.
Dan perutnya.
Tujuh bulan.
Melody menabraknya di pagar. Memeluk kakinya. Lalu, dengan sangat hati-hati, memeluk perutnya.
“Adek!” kata Melody ke perut Shafira. “Bunda pulang! Kakak nyambut!”
Shafira tertawa. Keras. Tawa yang dulu memenuhi pantry lantai 19. Sekarang memenuhi gang kecil di Tebet, membuat Bu Yati di balik pagar sebelah tersenyum sambil menyiram tanaman.
Shafira menatapku. Di atas kepala Melody.
Aku masih duduk di lantai teras. Di sisi kanan bangku putih.
Ia berjalan ke teras. Dengan Melody yang masih memeluk perutnya, berjalan mundur di depannya seperti anak bebek. Ia melepas sepatu hak tingginya di sudut teras.
Lalu ia duduk. Di lantai keramik. Di sisi kiri bangku putih. Pelan, karena perutnya.
Melody naik ke bangku putih. Di tengah.
Kami bertiga. Seperti dulu. Seperti setiap sore selama tiga tahun.
Melody menatap ujung gang.
“Mama,” katanya ke ujung gang. “Bunda udah pulang. Papa udah di sini. Melody udah nyambut.”
Ia diam sebentar.
“Adek juga udah pulang,” tambahnya. Menunjuk perut Shafira. “Masih di dalem. Tapi udah pulang.”
Shafira menutup mulutnya dengan tangan.
Aku menatap ujung gang.
Di sana, tidak ada mobil lain yang belok. Tidak ada yang ditunggu. Tidak ada yang telat.
Semua orang sudah pulang.
Malam itu, setelah Melody tidur dengan hoodie abu-abu sebagai selimut, setelah Shafira tidur di sisiku dengan tangan di atas perutnya dan dasi biru tua yang masih diikat dengan simpul Windsor di pergelangan tangannya, karena ia tidak pernah melepasnya sejak malam di Kalibata, aku membuka catatan di ponselku.
Aturan-aturan.
1. Jangan bohong soal perasaan.
9. Jangan takut.
10. Sesekali, teriak.
11. Pulang. Ke mereka. Selalu.
Aku menatap nomor sebelas.
Ke mereka.
Dulu aku menulisnya untuk dua orang. Di balkon hotel di Tokyo. Celine dan biji wijen.
Sekarang mereka berarti lebih banyak orang.
Melody. Shafira. Seseorang yang masih di dalam, tapi sudah pulang.
Dan seseorang yang tidak ada lagi di rumah ini, tapi tidak pernah pergi. Yang ada di issue hijau yang tidak pernah kututup. Di bangku putih. Di jahe yang dimasukkan paling akhir. Di foto di jembatan Meguro yang tergantung di ruang tengah, di samping foto pernikahan kecil di rumah Tebet, dengan Melody di tengah memakai hoodie abu-abu.
Aku menambahkan satu baris di bawahnya.
12. Kalau ada yang nyambut di teras, pulang lebih awal.
Aku menyimpan catatan itu.
Lalu aku membuka laptop. Repo zero-guard. Tab Issues.
Di paling atas. Hijau. Open. Sejak tujuh tahun lalu, di balkon hotel di Tokyo.
Log baru. Hari ke-1.
Komentar-komentar. Ratusan. Celine, setiap minggu, selama tiga tahun. Lalu aku, setiap minggu, sejak malam martabak dan Haruto. Lalu sudah kubaca dari semua orang. Bang Togar dengan huruf kapital. Bayu dengan emoji. Alea dengan paragraf panjang. Haruto dengan dua kata dalam bahasa Indonesia yang kaku.
Dan shafira.nadine. Setiap minggu. Tanpa pernah absen. Sudah kubaca.
Aku menggulir ke paling bawah. Kotak komentar.
Aku mengetik.
Minggu ke-367.
Melody bilang dia nggak nunggu lagi. Dia nyambut.
Dia bilang bedanya: kalau nunggu, nggak tahu orangnya datang atau nggak. Kalau nyambut, tahu orangnya pasti datang.
Dia belajar itu dari kamu, Cel. Kamu yang selalu klakson dua kali. Tin-tin. Biar dia tahu kamu udah sampai.
Shafira klakson dua kali juga sekarang. Melody yang minta.
Adeknya perempuan. Tujuh bulan. Shafira mau namain dia Aurelia. Namamu yang kedua. Aku tanya kenapa. Dia bilang, biar di rumah ini selalu ada satu Aurelia.
Melody setuju. Dia bilang, “Kalau adek lahir, Melody kasih tahu dia soal Mama. Biar adek juga tahu ada yang dulu duduk di bangku ini duluan.”
Aku cinta kamu, Cel. Hitungan yang lama. Udah lengkap. Nggak akan nambah.
Tapi juga nggak akan pernah hilang.
Issue ini tetap Open.
Selamanya.
Aku menekan tombol hijau.
Lalu aku menutup laptop, dan berbaring di samping istriku, yang dalam tidurnya langsung bergeser mendekat, meletakkan kepalanya di dadaku, seperti sudah hafal di mana tempatnya.
Aku meletakkan tanganku di atas tangannya. Di atas perutnya. Di atas dasi biru tua di pergelangan tangannya.
“Aku cinta kamu,” bisikku.
Ia tidak bangun. Tapi bibirnya bergerak.
“Yang ke berapa?” gumamnya dalam tidur.
Aku tersenyum dalam gelap.
“Tujuh ratus dua puluh tiga,” bisikku.
Ia tersenyum. Mata masih tertutup.
“Kamu masih ngitung,” gumamnya.
“Aku masih ngitung.”
“Jangan berhenti.”
“Nggak akan.”
Pukul lima lewat empat pagi berikutnya, ketika alarm berbunyi dan aku membuka laptop, ada satu komentar baru di bawah komentarku.
Bukan dari Shafira. Bukan dari Bang Togar. Bukan dari siapa pun yang kukenal.
Dari akun yang baru dibuat. Semalam. Pukul sebelas lewat empat puluh.
melody.danuarta
Satu baris. Dengan huruf yang semuanya kapital, karena ia belum tahu cara mengetik huruf kecil di keyboard laptop Shafira yang ia pinjam diam-diam.
SUDAH KUBACA PAPA. MAMA JUGA PASTI SUDAH BACA. DI LANGIT ADA WIFI KAN?
Aku menatap kalimat itu lama.
Lalu aku tertawa. Sendirian. Di meja kerja kecil di sudut kamar, pukul lima lewat empat pagi.
Tertawa sampai mataku berair.
Di kasur, Shafira membuka satu mata. Menatapku.
“Kenapa?” gumamnya.
Aku memutar laptop. Menunjukkannya.
Ia membaca. Lalu tertawa juga. Pelan. Dengan tangan di atas perutnya.
“Anakmu,” katanya.
“Anak kita,” kataku.
Ia menatapku. Lama.
“Anak kita,” ulangnya.
Di luar jendela, langit Jakarta berubah dari abu-abu ke biru pucat. Di teras, bangku putih kecil menunggu sore.
Bukan untuk ditunggu.
Untuk menyambut.
— AFTER EPISODE TAMAT —