Chapter One
Hujan di Cipularang
POV: Alfa
Pesan terakhirnya masuk pukul delapan lewat empat puluh tujuh malam.
Celine: Udah selesai. Peluncurannya lancar banget, Mas. Klien nangis. 😭
Celine: Aku pulang sekarang. Hujan deres di Bandung.
Celine: Melody udah tidur? Bilang Mama bawa surabi. Yang oncom.
Celine: Aku sayang kamu. Yang ke berapa ribu ya. Kamu yang ngitung.
Aku membalas pukul delapan lewat empat puluh delapan.
Aku: Udah tidur. Jam tujuh. Dia nungguin kamu di teras sampai ketiduran di bangku, aku gendong ke kamar.
Aku: Hati-hati. Jangan ngebut. Kalau hujannya terlalu deras, berhenti di rest area.
Aku: Aku cinta kamu. 4.218.
Dua centang biru.
Lalu tiga titik. Lalu hilang.
Lalu tidak ada apa-apa lagi.
Aku menunggu di ruang tengah rumah Tebet.
Laptop terbuka di pangkuanku. Log server Kaizen bergulir di layar, baris demi baris, dan aku tidak membaca satu pun. Di kamar sebelah, Melody tidur dengan hoodie abu-abu yang ia pakai seperti selimut, karena katanya wangi Mama. Lengannya masih terlipat tiga kali. Tidak ada yang pernah membukanya.
Pukul sepuluh, aku mengirim pesan.
Aku: Udah sampai mana?
Satu centang.
Pukul sepuluh lewat tiga puluh.
Aku: Cel?
Satu centang.
Aku membuka aplikasi lokasi yang kami pasang di ponsel masing-masing setelah Melody lahir. Celine yang memasangnya. Biar kamu nggak cemas kalau aku pulang malem, Mas. Kamu kan suka ngitung.
Titik biru di peta. Tol Cipularang. Kilometer 97.
Tidak bergerak.
Terakhir diperbarui pukul sembilan lewat dua belas menit.
Aku menatap titik biru itu.
Kilometer 97. Tidak bergerak. Satu jam delapan belas menit.
Aku tahu cara membaca log. Aku tahu apa arti sebuah sistem yang berhenti mengirim sinyal di satu titik dan tidak pernah bergerak lagi. Aku sudah melihatnya ribuan kali. Server yang mati. Koneksi yang putus. Proses yang berhenti tanpa pesan kesalahan.
Aku tahu.
Dan aku memilih tidak tahu.
Aku menelepon. Tidak diangkat. Menelepon lagi. Tidak diangkat. Menelepon untuk ketujuh kalinya, dan kali ini ada yang mengangkat, dan suara di seberang bukan suaranya.
Suara laki-laki. Tenang. Terlatih. Suara orang yang sudah terlalu sering mengucapkan kalimat yang sama.
“Selamat malam. Dengan keluarga pemilik ponsel ini?”
Aku tidak ingat perjalanan ke Purwakarta.
Aku ingat menitipkan Melody. Aku ingat mengetuk pintu rumah tetangga sebelah, Bu Yati, jam sebelas malam, dengan Melody yang masih tidur di gendonganku, dibungkus hoodie abu-abu. Aku ingat Bu Yati menatap wajahku dan tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mengambil Melody dari tanganku, dan berkata pergi, Mas, pergi.
Aku ingat menelepon Bayu, karena tanganku gemetar terlalu hebat untuk menyetir. Aku ingat Bayu datang dalam dua puluh menit dengan kaos terbalik dan sandal yang tidak sepasang, dan menyetir mobilnya sendiri dengan kecepatan yang tidak pernah kulihat darinya.
Aku tidak ingat jalan tolnya. Aku tidak ingat hujannya. Aku tidak ingat berapa lama.
Aku ingat lampu rumah sakit. Putih. Terlalu terang.
Aku ingat dokter muda dengan mata lelah yang memanggilku ke ruangan kecil di ujung lorong. Aku ingat ia bicara pelan dan jelas, dengan kalimat-kalimat yang sudah disusun rapi seperti dokumen serah terima. Mobil tergelincir. Jalan licin. Truk dari arah berlawanan kehilangan kendali. Benturan di sisi pengemudi. Kami sudah berusaha. Pukul sembilan lewat dua puluh enam.
Pukul sembilan lewat dua puluh enam.
Empat belas menit setelah titik biru itu berhenti bergerak.
Empat belas menit, sementara aku duduk di ruang tengah dengan log server yang bergulir dan tidak membaca satu pun.
“Pak,” kata dokter itu. “Bapak mau melihat beliau?”
Aku mengangguk.
Aku tidak akan menuliskan bagian ini.
Ada log yang tidak boleh dibaca ulang.
Yang bisa kutulis hanya ini: tangannya dingin. Cincin dengan ukiran log_00:00 masih di jari manisnya. Di saku blazernya, yang diberikan perawat kepadaku dalam kantong plastik bening bersama ponselnya yang retak, ada sebungkus surabi oncom. Masih utuh. Dibungkus kertas minyak dan karet gelang.
Bilang Melody, Mama bawa surabi.
Aku duduk di kursi plastik di samping ranjang itu sampai subuh.
Aku tidak menangis.
Aku memegang tangannya yang dingin dan menatap wajahnya, yang tidak berantakan, yang entah bagaimana tetap rapi, seperti Mama-nya selalu mengajarinya. Rambutnya disisir oleh perawat. Ada luka kecil di pelipis kirinya, yang ditutup kasa putih.
Aku tidak menangis.
Anak pintar. Nggak nangis.
Pukul lima lewat empat pagi, ponselku bergetar.
Bukan pesan. Alarm. Alarm yang kupasang sejak bertahun-tahun lalu, sejak Nakameguro, yang tidak pernah kumatikan.
05:04 — Baca log.
Aku menatap alarm itu. Lalu, entah kenapa, tanganku membuka laptop yang ada di tas yang dibawakan Bayu. Membuka repo zero-guard. Tab Issues.
Di paling atas. Satu issue hijau. Open. Sejak tiga tahun lalu, di balkon hotel di Tokyo.
Log baru. Hari ke-1.
Dan di bawahnya, komentar-komentar. Ratusan komentar. Celine menambahkan satu setiap minggu sejak Melody lahir. Foto Melody. Kalimat pendek. Kadang hanya satu kata.
Komentar terakhir. Tiga hari lalu.
Minggu ke-194. Melody bisa bilang “Papa jelek” dengan lancar. Aku yang ngajarin. Maaf, Mas. Tapi lucu.
Aku membaca kalimat itu.
Lalu aku menutup laptop.
Lalu aku menatap tangan Celine yang masih ada di tanganku.
Aku tidak menangis.
Pemakaman di Cipete, sore harinya.
Pemakaman keluarga di belakang masjid kecil berkubah hijau, tempat aku mengucapkan ijab kabul empat tahun lalu dalam satu napas. Pohon kamboja. Tanah merah yang masih basah karena hujan semalam. Langit abu-abu yang belum memutuskan mau menangis lagi atau tidak.
Banyak orang.
Aku tidak menghitung. Untuk pertama kalinya, aku tidak menghitung apa pun.
Papa Celine berdiri di samping liang lahat. Kemeja putih yang dimasukkan ke celana. Ikat pinggang yang terlalu tinggi. Tangan yang tidak pernah gemetar memindahkan bidak catur sekarang gemetar di sisi tubuhnya, dan ia tidak berusaha menyembunyikannya. Ia sudah tidak memakai kacamata. Ia sudah tidak perlu melihat apa pun dengan jelas.
Mama Celine tidak bisa berdiri. Ia duduk di kursi plastik di bawah tenda, dipeluk saudara-saudaranya, dan suara tangisnya adalah satu-satunya suara di pemakaman itu yang tidak teredam.
Bang Togar menangis tanpa suara. Itu lebih menakutkan dari tangisnya yang biasa. Istrinya memegang lengannya seperti memegang orang yang bisa roboh kapan saja.
Bayu berdiri di belakangku. Ia tidak bilang apa-apa sejak semalam. Matanya bengkak. Laras di sampingnya.
Haruto Mori terbang dari Tokyo dengan penerbangan pertama. Ia berdiri di pinggir kerumunan dengan setelan hitam dan wajah yang sangat serius, dan ketika kami bertemu mata, ia membungkuk. Lama. Sangat dalam. Tidak bangun sampai aku mengangguk.
Bu Ratna. Pak Udin, dengan peci. Pak Hendra.
Dan mereka berdua.
Alea berdiri di samping Raka, perutnya belum terlihat, wajahnya basah. Ia memeluk tubuhnya sendiri, dan setiap beberapa detik, bahunya bergetar hebat, dan Raka merangkulnya lebih erat.
Shafira berdiri sendirian.
Sedikit terpisah dari yang lain. Gamis hitam. Kerudung hitam yang dililit sederhana. Tanpa lipstik merah. Wajahnya pucat dan sangat diam, terlalu diam untuk Shafira yang pernah tertawa paling keras di pantry lantai 19.
Ia tidak menangis.
Ia menatap liang lahat seperti menatap sesuatu yang tidak bisa ia mengerti. Lalu ia menatapku. Hanya sebentar. Lalu ia menunduk.
Mereka menurunkannya.
Aku ikut turun ke liang lahat, karena aku suaminya, karena itu tugasku. Tanah merah yang basah di bawah kakiku. Bau tanah. Bau melati dari kain penutup. Papa Celine dan sepupu Celine di sampingku, tangan-tangan yang menerima tubuh yang terbungkus kain putih dari atas.
Ringan.
Ia terasa sangat ringan.
Perempuan yang dulu berlari sepuluh lantai tangga darurat dengan satu sepatu untuk mendengarku bilang iya. Yang duduk di mejaku tanpa izin. Yang menulis seratus delapan puluh issue. Yang menamai anak kami Melody, karena katanya biar rumah kita selalu ada lagunya, Mas, soalnya kamu nggak bisa nyanyi.
Ringan.
Aku membaringkannya miring menghadap kiblat. Membuka ikatan kain di kepalanya, sedikit, seperti yang diajarkan. Menyentuh pipinya lewat kain. Sekali.
Hari ke berapa sekarang?
Nggak dihitung lagi.
Aku naik dari liang lahat. Tanganku kotor tanah merah.
Mereka mulai menimbunnya.
Aku tidak menangis.
Di belakangku, ada suara kecil.
“Papa.”
Aku berbalik.
Melody. Di gendongan Alea. Hoodie abu-abu yang terlalu besar, yang menelan seluruh tubuh kecilnya sampai ke mata kaki. Lengannya terlipat tiga kali, dan bahkan dengan tiga lipatan itu, lengannya masih menjuntai melewati ujung jarinya. Rambut bergelombang seperti Celine, dikuncir dua oleh tangan Alea yang gemetar.
Aku sudah bilang ke Alea untuk tidak membawanya ke sini. Alea bilang Melody menangis di rumah Bu Yati sejak pagi, memanggil-manggil Papa, dan tidak mau berhenti, dan Mama Celine bilang bawa saja, biar dia lihat, biar nanti dia nggak nyari.
Melody menatapku dengan mata yang datar. Mata yang kata semua orang persis mataku. Lalu ia menatap tanah merah yang sedang ditimbun. Lalu menatap orang-orang yang menangis.
“Papa,” katanya lagi. “Mama mana?”
Pemakaman menjadi sunyi.
Bahkan Mama Celine berhenti menangis.
Aku berjalan ke arah Alea. Mengulurkan tangan. Alea menyerahkan Melody kepadaku. Tangan Alea gemetar sangat hebat sampai aku takut ia menjatuhkannya.
Aku menggendong anakku. Tanganku yang kotor tanah merah meninggalkan bekas di hoodie abu-abu itu.
“Mama...” Aku berhenti.
Tiga puluh empat tahun aku membaca log. Aku tahu cara menjelaskan apa pun. Server yang mati. Koneksi yang putus. Proses yang berhenti.
Aku tidak tahu cara menjelaskan ini kepada anak tiga tahun.
“Mama pergi, Sayang,” kataku.
Melody menatapku. “Ke mana?”
“Jauh.”
“Kapan pulang?”
Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.
Melody menunggu. Sabar. Dengan mata datar yang persis mataku. Seperti aku di umur lima tahun, di teras rumah di Purwokerto, menatap Ibu dan bertanya kapan Bapak pulang dari Cilacap.
Dua minggu, kata Ibu waktu itu.
Ibu berbohong.
Aturan nomor satu. Jangan bohong soal perasaan.
“Mama nggak pulang lagi, Sayang,” kataku.
Suaraku tidak pecah. Aku memastikan suaraku tidak pecah. Wajahku datar. Aku memastikan wajahku datar.
Melody menatapku lama.
Lalu ia meletakkan tangan kecilnya di pipiku. Tangan yang terbungkus lengan hoodie abu-abu yang kebesaran.
“Papa nggak nangis,” katanya.
Itu bukan pertanyaan. Itu laporan status. Seperti aku.
“Nggak,” kataku.
“Kenapa?”
Aku tidak bisa menjawab.
Di belakang Alea, Shafira menutup mulutnya dengan dua tangan. Dan untuk pertama kalinya sejak pemakaman dimulai, aku melihat Shafira Nadine menangis. Bukan pelan. Bukan tertahan. Ia menangis dengan seluruh tubuhnya, membungkuk, seperti seseorang yang baru saja dipukul di perut, dan Alea berbalik dan memeluknya, dan mereka berdua menangis di bawah pohon kamboja, dan bunga-bunga putih jatuh di kerudung hitam mereka.
Melody menatap mereka. Lalu menatapku lagi.
“Tante Fila nangis,” katanya. “Tante Lea nangis. Oma nangis. Opa nangis. Om Bayu nangis. Opung Togar nangis.”
Ia menghitung. Ia menghitung seperti aku.
“Papa nggak,” katanya.
Aku memeluknya. Erat. Wajahnya di bahuku, supaya ia tidak bisa melihat wajahku lagi.
Aku tidak menangis.
Tapi tanganku, yang memeluk punggung kecilnya lewat hoodie abu-abu, gemetar begitu hebat sampai Melody bertanya apakah Papa kedinginan.
“Iya,” kataku.
Itu bohong.
Itu kebohongan pertamaku kepadanya.
Malam itu, rumah Tebet penuh orang.
Tahlilan. Tetangga, saudara Celine, teman-teman kantor. Suara doa yang dibacakan bersama di ruang tengah. Karpet digelar sampai ke teras. Kotak-kotak nasi dan kue yang dibawa Bu Yati dan ibu-ibu kompleks. Wangi kopi dan teh manis.
Aku duduk di ruang tengah dengan peci yang dipinjamkan Pak Udin. Membaca Yasin dengan suara yang tidak keluar. Menerima jabat tangan, pelukan, tepukan di bahu. Yang sabar, Mas. Yang kuat, Mas. Ikhlas, Mas.
Aku mengangguk. Aku mengucapkan terima kasih. Aku tidak menangis.
Alea di dapur, mengatur kue. Shafira di dapur juga, mencuci gelas, tanpa bicara, satu demi satu, seperti orang yang takut kalau tangannya berhenti bergerak, ia akan berhenti bernapas.
Melody tidak di mana-mana.
Pukul lima sore tadi, sebelum tahlilan dimulai, ia menghilang.
Aku mencarinya di kamar. Di kamar mandi. Di bawah meja makan. Di halaman belakang, di bawah pohon mangga tetangga.
Lalu aku menemukannya.
Di teras depan.
Duduk di bangku kayu kecil yang dulu dibeli Celine di pasar loak, yang dicat putih oleh Celine sendiri, yang setiap sore pukul lima menjadi tempat Melody duduk menunggu mobil mamanya belok ke gang.
Hoodie abu-abu. Kakinya tidak sampai ke lantai, berayun pelan. Matanya menatap ujung gang. Ke tikungan tempat mobil Celine biasanya muncul, pukul lima lewat sedikit, dengan klakson dua kali, tin-tin, yang selalu membuat Melody melompat dari bangku dan berlari ke pagar sambil berteriak MAMAAA.
Ia duduk di sana. Menunggu.
Aku berdiri di ambang pintu dan tidak bisa bergerak.
Anak lima tahun di teras rumah di Purwokerto. Menatap ujung gang. Menunggu motor bebek merah yang tidak pernah belok.
Aku pernah berjanji. Di kamar hotel di Tokyo, dengan tanganku di perut Celine, di depan biji wijen yang belum punya nama.
Aku janji satu hal. Aku nggak bakal bikin kamu nunggu di teras.
Melody menoleh. Menatapku di ambang pintu.
“Papa,” katanya. “Mama pulang jam lima.”
“Sayang...”
“Mama selalu pulang jam lima.” Ia menatap ujung gang lagi. “Tin-tin.”
Ia menunggu.
Aku berjalan ke teras. Duduk di lantai di samping bangku kayu kecilnya, karena bangku itu terlalu kecil untukku. Bahuku sejajar dengan lututnya yang terbungkus hoodie.
Kami menatap ujung gang bersama.
Pukul lima lewat lima. Lewat sepuluh. Lewat dua puluh.
Tidak ada mobil yang belok.
Tidak ada tin-tin.
Pukul enam, azan magrib berkumandang dari masjid di ujung kompleks. Langit berubah ungu. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu.
Melody masih menatap ujung gang.
“Papa,” katanya pelan.
“Hmm.”
“Mama telat.”
Aku tidak menjawab.
Ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Dari atas bangku. Rambut bergelombangnya, wangi sampo stroberi yang Celine belikan, jatuh di leherku.
“Besok Mama pulang jam lima,” katanya. Bukan pertanyaan. Keputusan. “Melody tunggu lagi.”
Aku menatap ujung gang.
Di belakang kami, di ruang tengah, suara doa tahlilan dimulai. Ratusan suara yang membaca bersama. Laa ilaaha illallah. Laa ilaaha illallah.
Di dapur, suara gelas yang pecah. Lalu suara Shafira, sangat pelan: maaf, maaf, aku beresin.
Aku tidak menangis.
Aku duduk di lantai teras rumah Tebet, dengan anakku yang bersandar di bahuku dan menunggu mobil yang tidak akan pernah belok ke gang, dan aku menatap ujung gang itu bersamanya sampai ia tertidur.
Pukul satu pagi. Semua orang sudah pulang.
Melody tidur di kamarnya. Di kasurnya sendiri, dengan hoodie abu-abu sebagai selimut.
Aku berdiri di dapur.
Aku tidak tahu kenapa aku di dapur. Tanganku bergerak sendiri. Mengambil panci. Mengisi air. Menyalakan kompor. Mengambil ayam dari kulkas, yang dibeli Celine hari Minggu lalu di Pasar Tebet, bersama wortel dan kentang dan jahe.
Jahe yang paling tua.
Aku memotong ayam. Ukuran yang sama. Memotong wortel dadu. Menumis bawang putih sampai harum.
Lalu jahe.
Aku mengupasnya dengan sendok. Mengambil ulekan batu kecil yang dibawa Celine dari dapur di Kalibata.
Satu pukulan.
Jahe itu pecah. Tidak hancur. Wangi tajam memenuhi dapur.
Masukin di akhir. Biar wanginya nggak hilang.
Aku memasukkannya di akhir.
Sup ayam itu matang pukul dua lewat sepuluh. Aku mematikan kompor. Mengambil mangkuk dari rak.
Dua mangkuk.
Aku menuang sup ke mangkuk pertama. Lalu ke mangkuk kedua.
Lalu aku berhenti.
Aku berdiri di depan meja dapur, menatap dua mangkuk sup ayam yang mengepul. Dua sendok di samping masing-masing. Seperti setiap malam selama empat tahun, ketika ia pulang terlambat dari kantor dan aku memanaskan sup dan kami makan berdua di meja makan kecil sambil ia bercerita soal kliennya yang aneh dan aku pura-pura tidak mendengarkan padahal aku menghafal setiap kata.
Dua mangkuk.
Aku menatap mangkuk kedua.
Tidak ada yang akan memakannya.
Aku berdiri di sana lama. Sangat lama. Sup di mangkuk kedua berhenti mengepul. Lalu mendingin. Lalu lemak ayamnya mulai membeku di permukaan, membentuk lingkaran-lingkaran kecil berwarna kuning pucat.
Aku tidak menangis.
Aku mengambil ponselku. Membuka catatan. Aturan-aturan yang tersisa.
1. Jangan bohong soal perasaan.
9. Jangan takut.
10. Sesekali, teriak.
11. Pulang. Ke mereka. Selalu.
Aku menatap nomor sebelas.
Ke mereka.
Mereka.
Aku menatap kata itu sampai layarnya meredup. Lalu mati. Lalu aku melihat pantulan wajahku sendiri di layar hitam itu. Wajah datar. Mata kering.
Anak pintar. Nggak nangis.
Aku meletakkan ponsel di meja dapur. Di samping mangkuk kedua.
Lalu aku membuang sup di mangkuk kedua ke bak cuci. Mencuci mangkuknya. Mengeringkannya. Meletakkannya kembali di rak.
Dan memakan sup di mangkuk pertama, sendirian, di meja makan kecil, sampai habis. Karena Melody harus sekolah PAUD hari Senin. Karena seseorang harus bangun jam enam untuk menyiapkan bekalnya. Karena seseorang harus mengikat rambutnya dua, dan ia hanya mau diikat oleh Mama, dan sekarang tidak ada Mama.
Karena seseorang harus tetap berfungsi.
Di teras, bangku kayu kecil yang dicat putih menunggu dalam gelap.
Besok pukul lima, akan ada yang duduk di sana lagi.
Dan aku, yang pernah berjanji, tidak tahu bagaimana cara menepatinya.